Read More

ABC's of Mine

Hidup berbicara tentang segala rasa, cerita, mimpi, juga harapan, dalam masa lalu, kini dan akan datang. Tapi kematian tak bisa ditebak. Maka torehan abjadnya, semoga menjadi keabadian yang terus menerbitkan inspirasi, mengalirkan kebaikan.

Mar 19, 2012

Bergerak Meninggi

Ada kesejatian yang menggantikan luapan gairah cinta, dan rasanya itu lebih kekal. Bukan lagi sekedar 'passionate love', dimana kedekatan fisik mengalirkan endorfin yang meluap-didih dalam letup-letupnya, tapi cinta beranjak ke tempat yang lebih tinggi, dengan cita rasa memalung, juga mengakar.


Maka ketika sumbunya menerang nyala, romantisme mungkin menjelma bumbu pelengkap kemudian. Sudah kautemukan perasaan cinta yang bergetar lain dalam senyap kekaguman, dalam rembes kesyukuran, dalam kukuh keterikatan. Ia muncul di saat-saat genting juga lapang, ketika hal sepele maupun mahaberat menghinggap sesuka-suka mereka. Di kepalanya berkelindan rencana untuk terus bertahan. Di tangannya berurat pekerjaan untuk diselesaikan. Dan di hatinya ada tekad bergurat-gurat untuk mewujudkan jutaan impian.


Dan kita mungkin tidak melulu sempat berbincang sembari mendekatkan raga, mengistirahatkan jiwa. Waktu beranjak cepat, dinamis penuh tantangan dikejar zaman. Tapi disitulah cintamu dipasung bangunan agung bernama iman dan kepercayaan. Meski terkadang terbawa duga yang dirajut manis para durjana, engkau akan paham ketika ia pulang dalam kerut lelah yang membadainya seharian. Pun begitu, masih cukup tenaganya untuk terbangun malam-malam; sekedar menghangatkan susu atau turut menenangkan tangisan.


Benar. Cinta bergerak dari romantika menuju komitmen yang kuat. Dan kuatnya komitmen teruji dari pengorbanan keseharian, dalam perbuatan yang hanya perlu dilakukan.

Disitulah kita semakin memaknai kesejatian cinta dalam bakti dan amal, bukan lagi fase mengurai kata semata. Karena jika engkau mengaku cinta, maka pekerjaanmu selanjutnya adalah memberi sebanyak-banyaknya.




Rabu, 02.11.2011 - 13:08 wib.

~untukmu, yang slalu sigap menafkahi kami, menggendong, menggantikan popok dan memandikan putri kita : terima kasih telah menjadi suami & ayah yang kami banggakan...

Selamatkan ia, yaa Alloh.. Aku telah menyaksikan.

»»  Selengkapnya...

Ghadhul Bashar, Oh.. Ghadhul Bashar...


Bismillah..


Hari ini saya bertatap muka dengan seorang ustadz yang berkantor di DPR-MPR. Biasa disapa ‘ustadz’ karena memang beliau sering mengisi ceramah atau qiyamullail berjamaah di banyak tempat. Wawancara ini eksklusif untuk membantu kepentingan tesis teman saya yang tak bisa pulang kampung karena kuliah di negeri sakura.


Sepanjang wawancara itu hati saya tak enak.

Yang pertama, saya dadakan ‘nodong’ beliau; ketuk pintu ruangannya, menyerahkan abstrak tesis untuk beliau baca sembari menyelesaikan makan siangnya, dan tak lama langsung memberondong dengan sekian banyak pertanyaan.


Saya berulang-ulang membuat janji dengan anggota legislatif yang lain dan sulitnya minta ampun karena padatnya jadwal sidang, rapat, dan sebagainya. Tapi beliau, ujug-ujug saya datangi dan bersedia saya wawancara saat itu juga. Oh, thanks Allah, he’s so kind.


Ketidakenakhatian kedua adalah, sepanjang wawancara mata beliau hanya mengarah ke kertas yang beliau pegang. Maksud saya, saya-nya yang jadi tak enak karena malah lekat-lekat memperhatikan beliau.


Saya nyaris lupa dengan kebiasaan itu.

Ghadhul bashar, atau menundukkan pandangan, (memang seharusnya) dilakukan ketika kita bertatapan dengan sesuatu yang berpotensi menyebabkan karat hati.


Jadi.. saya ini bikin hati berkarat??

Yaa.. mana saya tahu. Tapi pandang-memandang antarlawan jenis baisanya memang rentan menimbulkan penyakit hati. Dan saya yakin sang ustadz berusaha menjaga pandangannya terhadap perempuan nonmahram yang mewawancarainya ini.


Lalu apakah saya juga ber-ghadhul bashar?

Tentu tidak! *koq jadi bangga.. -_-‘


Seperti yang saya katakan tadi, mata saya memandangi beliau. Memperhatikan gesture dan jawaban-jawabannya sambil sesekali menimpali, menyetujui, atau sekedar menggumam kecil. Mungkin karena terbiasa berhadapan dengan anak-anak dan orangtuanya dimana eye contact sering saya lakukan, saya jadi lebih biasa menatap mata mereka lekat-lekat. Kalau saya menatap ke arah lain, bisa-bisa dianggap tak sopan. Walau sebenarnya ghadhul bashar justru lebih besar maknanya untuk memuliakan dan menghormati lawan jenis kita, karena kita menjaga penglihatan terhadap dirinya. (waktu di kampus dulu, seringkali ghadul bashar jadi bahan ledekan.. "woi..ngomong ama orang apa sama tembok!" gara-gara ngomong sambil ngeliatin tembok, bukan menghadap lawan bicara. atau bisa juga.."nyari duit ya? matanya ngliat ke bawah mulu..." Ckckk.. >.<


Jadi begitu saya mewawancara, ustadz ini hanya tampak memasang telinganya baik-baik, lalu menjawab dengan seperlunya, padat tak bertele, dan selama itu pula matanya tak lepas dari melihat kertas, tembok, langit-langit, meja, sofa...

Hellooo, ustadz... i am heeere! *minta digaplok :D


Tapi yaa..saya tidak badung-badung amat sih.. 30 menit bertemu dengannya tentu cukup membuat saya berkaca.

Saya tidak tahu kadar shalih beliau. Dan saya sama sekali tak punya hak menilai-nilai. Tapi berjumpa dengannya, berhadapan dengan sosoknya, sudah mampu mengingatkan saya pada Allah. Ya untuk menjaga pandangan tadi. Persis seperti sebuah kalimat hikmah yang acap saya dengar, “Teman yang shalih adalah yang apabila kamu melihatnya, kamu menjadi ingat Allah.”


Baiklah...

Besok-besok kalau ketemu ustadz-ustadz, saya bakalan ghadhul bashar juga deh.. *lho*

Eh maksudnya kalau lagi ngobrol sama lawan jenis atau ngeliat yang berpotensi ngotorin hati :D

Ohya, hampir lupa. Nama ustadznya, Drs. Almuzammil Yusuf, dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera.



Kamis, 160111, 20:05wib

»»  Selengkapnya...

Feb 26, 2012

Sosok Seorang Ayah bagi Anak Perempuannya

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja....

Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti....
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa :)

Ketika kamu menjadi gadis dewasa....

Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana..
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu.....
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya....
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....
Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....
Papa telah menyelesaikan tugasnya....

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal.

(dari milis ke milis. thanks for the writer)
»»  Selengkapnya...

Jan 28, 2011

:: Tak Ada Judul (1) ::



Aku membenci rindu
Seperti benciku pada detak jam dinding yang lambat berlalu
Memamah tunggu dalam sunyi tergugu
Kosong di kalbu bertalu-talu.

Pulanglah.

Aku lelah berseteru dengan waktu.


091210. 19:40wib

~sabaaar..sabaarrr....

»»  Selengkapnya...

Panggil Kami

Panggil kami

Dalam deru nafas suci

Dan biarkan lautan pinta berputar

Dalam syahdu yang terdengar

Panggil kami

Dalam gebu rindu yang tersulam

Di tengadah dan dongak kepapaan

Siang-malam memahat jurang

Tertawan dosa berjuta bergelinjang

Panggillah kami

Dengan selautan kecintaan

Dengan semesta belas-kasihan

Karena kami yakin dan paham

Kemurkaan telak kalah oleh ketakterhinggaan sayang

Di belantara memabukkan

Di persinggahan kefanaan

Kami mengacung keberanian

Adakah kehinaan kami pantas mendapat giliran? :'(

~Labbaik, Allaahumma labbaik! T.T

Awal Dzulhijjah, 07.11.2010, 12:51

note for my husband: kita harus berangkat!

»»  Selengkapnya...

Sep 2, 2010

Aku Menyapamu





Aku menyapamu

Dalam hening

Dalam doa-doa penenang jiwa

Purnama sudah berpijar sekian lama

Lupa sudah kuhitung berapa kali putarannya

Aku memanggilmu

Dalam rinding sunyi

Dalam ramai yang riuh-rendah berlari-lari

Menggesa-gesa hari yang pasrah

Bergumul resah bersama gulana

Dan aku menyebutmu

Dalam nama yang tiada

Dalam sosok yang belum terkira

Tapi kita sama-sama melihat purnama

Berkejaran bersama angin

Berlarian mengikuti rotasi bumi

Jadi biarkan saja ruh-ruh kita yang menghadap-Nya

Menikmati terka demi terka

Bersama tekad tuk saling menjaga

Dari kerendahhinaan rasa

Meski belum dapat kueja nama

Kulangitkan doa tak jera-jera:

Semoga jumpa dalam barakah

dan bersama hingga ke surga.

Untuknya, yang belum juga bernama.

19 Ramadhan 1431 H selepas shubuh


gbr dari http://www.le.ac.uk/ph/faulkes/web/stars/r_st_overview.html

»»  Selengkapnya...

Jul 20, 2010

Lagi, Encouragement vs Discouragement


Bismillah.

Membaca tulisan Rhenald Kasali, “Encouragement”, membuat saya teringat pada pengalaman beberapa tahun silam.

Jelang akhir perkuliahan, selayaknya para calon sarjana, saya mengikuti sidang skripsi. Tak tanggung-tanggung, 2 kali! Bagi mahasiswa pada umumnya, barangkali tak pernah terbayang jika mereka harus menjalani ujian akhir yang menjadi syarat kelulusan itu, lebih dari 1 kali. Once is more than enough. Yap, pengalaman saya memang un-usual. Aneh mungkin. Atau yaa… sedikit nyeleneh barangkali.

Jangankan mereka, saya pun tak menyangka harus sidang sampai 2 kali begitu. Skripsi saya yang pertama, hubungan persepsi dan stereotip peran gender pria terhadap kecenderungan melakukan pelecehan seksual, dianggap tak valid alat tesnya. Bab 1-nya saja dianggap ‘emosional’: bahwa saya tampak bertekad membuktikan kalau pria adalah tersangka utama pelaku pelecehan seksual yang pantas diwaspadai (lihat fakta lah, kebanyakan pelaku pelecehan memang pria, bukan?). Jadi ketika itu penguji saya menganggap saya terlalu berprasangka buruk pada para pria, dan lalu menganggap dasar pemikiran saya yang merembet hingga ke alat ukurnya kurang memenuhi standar untuk disebut sebagai penelitian yang benar-benar memenuhi kaidah keilmiahan.

Lalu para penguji memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki konstruk, alat tes, data dan kesimpulan agar bisa dianggap lebih layak. Dengan waktu 1 pekan yang sama sekali tak realistis untuk memperbaiki, akhirnya saya putuskan untuk merombak ulang variable yang ingin saya teliti. 1 semester lagi terpaksa saya ambil demi kepuasan batin (alias balas dendam?) untuk karya yang lebih baik.
Kejadian ini menguras banyak hal, tentu saja. Bahwa saya sempat down, sedih, kecewa, adalah hal yang tak dapat dihindari. Bayangkan! Skripsi yang saya susun berbulan-bulan dengan penuh perjuangan itu luluh lantak dalam beberapa jam saja. Dan salah satu penguji saya adalah dosen yang terkenal sangat metodologic, ilmiah, serta taat asas penelitian. Pertemuan “karya tak ideal” dan “penguji sangat ideal” yang maanisss luar biasa.

Saya mulai berpikiran macam-macam ketika dosen saya yang satu itu menyatakan bahwa saya harus memperbaiki penelitian supaya bisa mengejar target lulus semester itu. Prasangka mulai berkecamuk, dan yang lebih parah saya berpikir jangan-jangan ada sentimen tertentu di balik sikap dosen tersebut. Maklum, saya memang terinspirasi dari rancangan UU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) yang sedang panas-panasnya diperdebatkan ketika itu. Dan 3 jam di ruang sidang membuat saya tak nyaman. Auranya under pressure. Mirip seperti yang dikatakan Pak Rhenald dalam tulisannya. Dosen-dosen lebih terlihat menguliti para mahasiswa daripada membuat mereka banyak belajar dari proses uji argumen tugas akhirnya. What a discouragement.

Tapi jangan percaya saya dulu sampai disini.

Hari-hari berikutnya adalah perubahan sosok ‘monster’ dosen saya menjadi guru yang cukup suportif. Agaknya mereka kasihan jika saya bertahan lebih lama di kampus, meski seorang dosen lainnya juga kerap bergurau, “masuk UI susah-susah, keluarnya jangan cepat-cepatlah…”.

Maka selanjutnya saya jumpai email-email bimbingan mereka dengan komentar yang cukup membangun. Kalimat motivasi mereka saat itu juga saya rasakan lebih indah daripada kata mutiara manapun (sampai sekarang email-email out of topic juga masih sering saya dapati dari beliau). Begitu juga dengan dosen lain yang kebetulan menjabat sebagai manajer pendidikan fakultas. Dalam stres yang kerap, senyum dan kalimat ramahnya saja saya rasa sudah lebih dari cukup untuk membuat negativity saya berkurang.

Waktu berjalan dan saya berjibaku dengan perombakan beberapa konsep dalam skripsi, yang dalam prosesnya masih juga menantang ketangguhan. Kali ini saya beruntung, bisa bertemu dengan beberapa dosen yang memandang tema penelitian saya sangat menarik bagi mereka, dan mereka cukup antusias meluangkan waktu menjadi teman diskusi. Dalam sidang, kebetulan mereka pula yang menjadi penguji saya.

Sampai kemudian sidang kedua pun digelarlah. Terlepas dari kesiapan saya, hari itu ruang sidang berubah menjadi arena diskusi yang cukup menyenangkan, setidaknya begitu yang saya rasakan. Para penguji membahas dengan penguasaan mereka atas bidang yang saya ambil (psikologi sosial), dan mereka bersikap begitu terbuka serta mengevaluasi lalu memberi tahu mana yang salah dan bagaimana arah jawaban yang sebenarnya. Terasa benar encouragement-nya. “Jika yang kamu maksud begini, maka sebaiknya kamu seperti ini. Dan kamu bisa kembangkan lagi ke arah ini, sehingga penelitian kamu yang menarik ini akan semakin berkualitas dan bermanfaat”. Begitu kira-kira.

Tanpa bermaksud membandingkan dengan proses sidang pertama, dalam perkuliahan, secara subyektif saya melihat adanya korelasi antara sikap dosen terhadap performance mahasiswa. Coba rasakan bedanya antara dosen yang tampak “membantai” mahasiswa, dengan dosen yang berparadigma ‘proses belajar adalah pencapaian pemahaman atas ilmu, pembentukan karakter dalam perjalanan menempuhnya, juga tanggung jawab untuk bisa menerapkan ilmu itu dalam kerangka manfaat’. Meski tujuannya mungkin sama, tetapi cara seringkali turut menentukan bagaimana hasilnya.

Bisa jadi dampak pola/sikap didik pertama dan kedua itu positif, tergantung pada bagaimana subyek peserta didik menyikapi. Namun proses yang terjadi secara tidak langsung memberi efek yang berbeda terhadap perkembangan karakter para pembelajar. Masih perlukah mencela anak agar mereka melesat lebih tinggi setelah ditekan, atau sesungguhnya kita bisa menggunakan cara yang lebih ramah namun juga melejitkan?

Dalam hemat saya, mengembangkan konsep diri dan self-efficacy (perasaan mampu) para peserta didik jauh lebih penting dibandingkan berfokus pada bagaimana mereka bisa memperoleh nilai A, lulus cumlaude, dan semacamnya. Ada penerimaan terhadap apa adanya diri mereka. Ada penghargaan yang lebih menumbuhkan. Dan pasti, ada kepercayaan bahwa mereka “bisa!”, sehingga terus menggugah perbaikan.

Maka saya kagum benar dengan sikap para pendidik yang menghargai sekecil apapun usaha para siswanya, meski itu tak memenuhi standar prestasi, IPK, nilai, kaidah ilmu, dan seterusnya. Berkebalikan dengan itu, saya juga begitu herannya mengamati sekian juta perusahaan yang menjadikan angka IPK sebagai standar screening layak-tidaknya seorang fresh graduate bergabung untuk bekerja bersama mereka. Well, bisa jadi ini sakit hati saya karena IPK saya yang tak cukup memenuhi standar. Tapi sense keadilan yang terusik itu jauh lebih dominan, mengingat kecerdasan rasanya terlalu sempit untuk didefinisikan dalam 2-3 digit angka.

Sebagai penutup, ijinkan saya membayangkan anak-anak dan generasi yang tak hanya cerdas otaknya, tetapi juga matang kepribadiannya, di Indonesia kita. Sudah cukup mimpi-mimpi dan kekaguman saya pada sikap para pengajar di belahan negeri seberang yang tampak lebih ideal dan memanusiakan. Sebelum menuntut orang lain, tugas saya kini adalah berusaha menjadi bagian dari mereka yang mendidik (minimal putra-putri saya kelak) dengan perpaduan ilmu, teladan, juga sikap positif yang menggugah-memberdayakan. Semoga dimampukan.

Dengan Anda, dapatkah kita bergandengan tangan juga? :)


Senin, 19 Juli 2010
»»  Selengkapnya...