“Mereka menaklukkan hati. Bukan meruntuhkan tembok.”
notes : waktu itu aku pernah ngeliat film ttg fathul Makkah di tivi. aku inget banget, ada salah satu musuh muslimin yang berkata seperti ini ketika Makkah jatuh ke tangan Umat Islam.
Jan 22, 2006
In Memoriam Fathul Makkah
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/22/2006 1 komentar
Jan 15, 2006
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwwah
oleh KH. Rahmat Abdullah (alm)
bismillah.
AlDakwah.org--Mungkin terjadi seseorang yang dahulunya saling mencintai
akhirnya saling memusuhi dan sebaliknya yang sebelumnya saling
bermusuhan akhirnya saling berkasih sayang. Sangat dalam pesan yang
disampaikan Kanjeng Nabi SAW :
"Cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan
menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara
proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kaucintai."
(Hadist Sahih Riwayat Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi,
Bukhari). Ini dalam kaitan interpersonal.
Dalam hubungan kejamaahan, jangan ada reserve kecuali reserve syar'i
yang menggariskan aqidah "La tha'ata limakhluqin fi ma'shiati'l Khaliq".
Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluq dalam berma'siat kepada
Alkhaliq. (Hadist Sahih Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim).
Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya
pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu
adalah : "Level terendah ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah
garis rahabatus'shadr (lapang hati) dan batas tertinggi (upper) tidak
melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan diri).
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah
Karena bersaudara di jalan ALLAH telah menjadi kepentingan dakwah-Nya,
maka "kerugian apapun" yang diderita saudara-saudara dalam iman dan
da'wah, yang ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan
oleh mereka yang tak tahan beramal jama'i, akan mendapatkan ganti yang
lebih baik. "Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan
kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu" (Qs. 47: 38).
Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da'wah ini. Ada yang
sejak 20 tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah
terganggu oleh kunjungan yang berbenturan dengan jadwal da'wah atau oleh
urusan yang merugikan da'wah. Mengapa ? Karena sejak awal yang bersangkutan
telah tegar dalam mengutamakan kepentingan da'wah dan
menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari fikiran nekad yang membuat
seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga.
Ada seorang ikhwah, Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari
kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan
lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman
menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak
sederhana. "Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung menggantung
di wajah pengantinku tercinta", tuturnya.
Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung,
seakan doktrin da'wah telah mengelupas. Kala itu jarang da'i dan murabbi
yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi
hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sang abid yang
kebingungan karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu.
"Ummi au shalati : Ibuku atau shalatku?"
Sekarang yang membingungkan justru "Zauji au da'wati" : Isteriku atau
da'wahku ?".
Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu
nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang
pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00.
Dia katakan pada istrinya : "Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita
menemukan cinta dalam da'wah. Apa pantas sesudah da'wah mempertemukan
kita lalu kita meninggalkan da'wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya
tapi kita pun cinta Allah". Dia pergi menerobos segala hambatan dan
pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun
membaik setelah beberapa hari.
Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan
menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa
tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da'wah
tersebut sudah menikmati berkah da'wah.
Lain lagi kisah sepasang suami istri yang juga dari masyarakat da'wah.
Kisahnya mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap
ditinggalkan untuk da'wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absent
dalam pertemuan rutin. Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai
menangis-menangis, ia sudah kalah oleh penyakit "syaghalatna amwaluna
waahluna": "kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga" (Qs. 48:11).
Ia berjanji pada dirinya : "Meskipun terjadi hujan, petir dan gempa saya
harus hadir dalam tugas-tugas da'wah". Pada giliran berangkat keesokan
harinya ada ketukan kecil dipintu, ternyata mertua datang. "Wah ia yang
sudah memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?".
Maka ia pun absen lagi dan di muhasabah lagi sampai dan menangis-nangis
lagi. Saat tugas da'wah besok apapun yang terjadi, mau hujan, badai,
mertua datang dll pokoknya saya harus datang. Dan begitu pula ketika
harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang kembali dan iapun tak
hadir lagi dalam tugas-tugas dakwah.
Sampai hari ini pun saya melihat jenis akh tersebut belum memiliki
komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah merasakan memiliki
kelezatan duduk cukup lama dalam forum da'wah, yang penuh berkah.
Sebenarnya adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain
pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh ikhwah berwajah jernih berhati
ikhlas ? Saya tak tahu apakah mereka menemukan sesuatu yang lain, "in
lam takun bihim falan takuna bighoirihim".
Di Titik Lemah Ujian Datang
Akhirnya dari beberapa kisah ini saya temukan jawabannya dalam satu
simpul.
Simpul ini ada dalam kajian tematik ayat QS Al-A'raf Ayat 163:
"Tanyakan pada mereka tentang negeri di tepi pantai, ketika mereka
melampaui batas aturan Allah di (tentang) hari Sabtu, ketika ikan-ikan
buruan mereka datang melimpah-limpah pada Sabtu dan di hari mereka tidak
ber-sabtu ikan-ikan itu tiada datang. Demikianlah kami uji mereka karena
kefasikan mereka".
Secara langsung tema ayat tentang sikap dan kewajiban amar ma'ruf nahyi
munkar. Tetapi ada nuansa lain yang menambah kekayaan wawasan kita. Ini
terkait dengan ujian.
Waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar,
tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hari
hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan,
keteguhan dalam berda'wah lebih sedikit waktunya dibanding berbagai
kenikmatan hidup yang kita rasakan.
Kalau ada sekolah yang waktu ujiannya lebih banyak dari hari belajarnya,
maka sekolah tersebut dianggap sekolah gila. Selebih dari ujian-ujian
kesulitan, kenikmatan itu sendiri adalah ujian. Bahkan, alhamdulillah
rata-rata kader da'wah sekarang secara ekonomi semakin lebih baik. Ini
tidak menafikan (sedikit) mereka yang roda ekonominya sedang dibawah.
Seorang Ustadz, ketika selesai menamatkan pendidikannya di Madinah,
mengajak rekannya untuk mulai aktif berda'wah. Diajak menolak, dengan
alasan ingin kaya dulu, karena orang kaya suaranya didengar orang dan
kalau berda'wah, da'wahnya diterima. Beberapa tahun kemudian mereka
bertemu. "Ternyata kayanya kaya begitu saja", ujar Ustadz tersebut.
Ternyata kita temukan kuncinya, "Demikianlah kami uji mereka karena
sebab kefasikan mereka". Nampaknya Allah hanya menguji kita mulai pada
titik yang paling lemah. Mereka malas karena pada hari Sabtu yang
seharusnya dipakai ibadah justru ikan datang, pada hari Jum'at jam 11.50
datang pelanggan ke toko. Pada saat-saat jam da'wah datang orang
menyibukkan mereka dengan berbagai cara.
Tapi kalau mereka bisa melewatinya dengan azam yang kuat, akan seperti
kapal pemecah es. Bila diam salju itu tak akan menyingkir, tetapi ketika
kapal itu maju, sang salju membiarkannya berlalu. Kita harus menerobos
segala hal yang pahit seperti anak kecil yang belajar puasa, mau minum
tahan dulu sampai maghrib. Kelezatan, kesenangan dan kepuasan yang tiada
tara, karena sudah berhasil melewati ujian dan cobaan sepanjang hari.
Karena itu mari melihat dimana titik lemah kita. Yang lemah dalam
berukhuwah, yang gerah dan segera ingin pergi meninggalkan kewajiban
liqa', syuro atau jaulah. Bila mereka bersabar melawan rasa gerah itu,
pertarungan mungkin hanya satu dua kali, sesudah itu tinggal hari-hari
kenikmatan yang luar biasa yang tak tergantikan.
Bahkan orang-orang salih dimasa dahulu mengatakan: "Seandainya para raja
dan anak-anak raja mengetahui kelezatan yang kita rasakan dalam dzikir
dan majlis ilmu, niscaya mereka akan merampasnya dan memerangi kita
dengan pedang". Sayang hal ini tidak bisa dirampas, melainkan diikuti,
dihayati dan diperjuangkan. Berda'wah adalah nikmat, berukhuwah adalah
nikmat, saling menopang dan memecahkan problematika da'wah bersama
ikhwah adalah nikmat, andai saja bisa dikhayalkan oleh mereka
menelantarkan modal usia yang ALLAH berikan dalam kemilau dunia yang
menipu dan impian yang tak kunjung putus.
Ayat ini mengajarkan kita, ujian datang di titik lemah. Siapa yang lemah
di bidang lawan jenis, seks dan segala yang sensual tidak diuji di
bidang keuangan, kecuali ia juga lemah disitu. Yang lemah dibidang
keuangan, jangan berani-berani memegang amanah keuangan kalau kamu lemah
di uang hati-hati dengan uang. Yang lemah dalam gengsi, hobi
popularitas, riya' mungkin -dimasa ujian- akan menemukan orang yang
terkesan tidak menghormatinya. Yang lidahnya tajam dan berbisa mungkin
diuji dengan jebakan-jebakan berkomentar sebelum tabayun
(klarifikasi).Yang lemah dalam kejujuran mungkin selalu terjebak perkara
yang membuat dia hanya 'selamat' dengan berdusta lagi. Dan itu arti
pembesaran bencana.
Kalau saja Abdullah bin Ubay bin Salul, nominator pemimpin Madinah
(dahulu Yatsrib) ikhlas menerima Islam sepenuh hati dan realistis bahwa dia
tidak sekaliber Rasulullah SAW, niscaya tidak semalang itu nasibnya.
Bukankah tokoh-tokoh Madinah makin tinggi dan terhormat, dunia dan
akhirat dengan meletakkan diri mereka dibawah kepemimpinan Rasulullah
SAW ? Ternyata banyak orang yang bukan hanya bakhil dengan harta yang
ALLAH berikan, tetapi juga bakhil dengan ilmu, waktu, gagasan dan
kesehatan yang seluruhnya akan menjadi beban tanggungjawab dan
penyesalan.
Seni Membuat Alasan
Perlu kehati-hatian -sesudah syukur- karena kita hidup di masyarakat
Da'wah dengan tingkat husnuzzhan yang sangat tinggi. Mereka yang cerdas
tidak akan membodohi diri mereka sendiri dengan percaya kepada sangkaan
baik orang kepada dirinya, sementara sang diri sangat faham bahwa ia tak
berhak atas kemuliaan itu.
Gemetar tubuh Abu Bakar RA bila disanjung. "Ya ALLAH, jadikan daku lebih
baik dari yang mereka sangka, jangan hukum daku lantaran ucapan mereka
dan ampuni daku karena ketidaktahuan mereka", demikian ujarnya lirih.
Dimana posisi kita dari kebajikan Abu Bakr Shiddiq RA ?
"Alangkah bodoh kamu, percaya kepada sangka baik orang kepadamu, padahal
engkau tahu betapa diri kamu jauh dari kebaikan itu", demikian kecaman
Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai'Llah.
Diantara nikmat ALLAH ialah sitr (penutup) yang ALLAH berikan para
hamba-Nya, sehingga aibnya tak dilihat orang. Namun pelamun selalu
mengkhayal tanpa mau merubah diri. Demikian mereka yang memanfaatkan
lapang hati komunitas da'wah tumbuh dan menjadi tua sebagai seniman
maaf, "Afwan ya Akhi".
Tetapi ALLAH-lah Yang Memberi Mereka Karunia Besar
Kelengkapan Amal Jama'i tempat kita 'menyumbangkan' karya kecil kita,
memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan ini telah melahirkan
kebesaran bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal jama'i kita,
tanpa harus mengklaim telah berjasa kepada Islam dan da'wah. "Mereka
membangkit-bangkitkan (jasa) keislaman mereka kepadamu. Katakan :
'Janganlah bangkit-bangkitkan keislamanmu (sebagai sumbangan bagi
kekuatan Islam, (sebaliknya hayatilah) bahwa ALLAH telah memberi kamu
karunia besar dengan membimbing kamu ke arah Iman, jika kamu memang
jujur" (Qs. 49;17).
ALLAH telah menggiring kita kepada keimanan dan da'wah. Ini adalah
karunia besar. Sebaliknya, mereka yang merasa telah berjasa, lalu
-karena ketidakpuasan yang lahir dari konsekwensi bergaul dengan manusia
yang tidak maksum dan sempurna- menunggu musibah dan kegagalan, untuk
kemudian mengatakan : "Nah, rasain !" Sepantasnya bayangkan, bagaimana
rasanya bila saya tidak bersama kafilah kebahagiaan ini?.
Saling mendo'akan sesama ikhwah telah menjadi ciri kemuliaan pribadi
mereka, terlebih doa dari jauh. Selain ikhlas dan cinta tak nampak
motivasi lain bagi saudara yang berdoa itu. ALLAH akan mengabulkannya
dan malaikat akan mengamininya, seraya berkata : "Untukmu pun hak
seperti itu", seperti pesan Rasulullah SAW. Cukuplah kemuliaan ukhuwah
dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada mereka yang saling
mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, semata-mata iman dan
cinta fi'Llah.
Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan
cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/15/2006 1 komentar
Jan 10, 2006
Tarbiyah Ruhiyah
bismillah.
Tatkala kita ditimpa musibah
Atau tertipu oleh kepalsuan
Kala tergiur bunga kehidupan
Terbujuk rayu godan syetan
Tergelincir dalam jurang nifaq dan riya’
Jika hati hampa nilai ruhaniyah
Tiada kekuatan untuk memberi
Hampa dari cahaya petunjuk-Nya, keikhlasan, muroqobah, dan ketaqwaan
Berhentilah di terminal ruhiyah
Agar kalah nafsu amarah
Tipu daya yang perindah kemungkaran
Selamat dari jurang ujub, nifak dan riya’
Berhentilah di terminal ruhiyah
Agar sadar bahwa dunia fana
Agar selalu ingat kematian
Dikala dunia mencengkeram jiwa
Bermujahadah dalam beribadah
Bermu’aqobah pada kekhilafan
Bermuhasabah dari penyakitjiwa
Bermuroqobah dengan keagungan-Nya
Bermu’ahadah dalam syari’ah
~Nasyid Suara Persaudaraan~
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/10/2006 1 komentar
Happy Idul Adha
bismillah.
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah..."
(QS. Al Kautsar : 1-2)
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al Hajj : 22)
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1426 H
Semoga Allah senantiasa membimbing kita menuju taqwa
Mari perbarui semangat berkurban kita!
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/10/2006 0 komentar
Jan 2, 2006
kapan donk?!
bismillah.
banyak banget yang mau ditumpahin disini. tapi kerjaan lain juga banyak. mau nulis...mau nulis...mau nulis....tapi gak sempat :(
kalaupun ada waktu lowong sedikit, aku-nya yang harus disiplin untuk tidak bandel menghabiskan waktu tuk menulis ketimbang ngerjain kewajiban lain yang lumayan banyak. abis kalo idenya lagi banyak, bisa berjam-jam duduk di depan komputer. dan kalo udah keasyikan nulis, kewajiban yang lain jadi terlantar. ni juga katarsis bentaran doang...
nah, sekarang, giliran ide banyak, kewajiban lain juga pas lagi banyak. akhirnya emosi tentang peristiwa yang terjadi udah menurun karena gak ditulis saat itu juga. penghayatannya juga jadi berkurang, sehingga tulisannya seolah gak ber-ruh. gak seru deh pokoknya kalo nulis tanpa seluruh jiwa dan pikiran ini tercurah.
hhh...
kenapa sih, waktu 24 jam itu serasa kurang?
mau nulis! mau nulis! mau nulis!
tapi kapan donk ya?!
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/02/2006 2 komentar
Dec 16, 2005
Ujian Skripsi 3
Bismillah.
Again.
Skripsiku mentah.
Mari kita lihat judul tulisan ini.
O-ooww…
Jadi… ternyata sudah masuk ujian ke-3 ya?!
Ceritanya berawal dari bertemunya aku dengan mbak Fit, seniorku yang dah lulus. Aku ceritakan bla..bla...bla...dari proses awal pemilihan tema „ketenangan dan tahajud“, sampai akhirnya mentok di kematangan emosi. Do u know what she said?
„sayang sekali kalau kamu Cuma mau membandingkan antara tahajud dan sholat wajib biasa. Itu pseudo-science. Secara commonsense aja, orang sekilas akan menebak, yang „plus“ pastinya punya nilai lebih. Ibarat makan tempe dibandingkan makan tempe plus sayur, pastinya yang plus sayur jelas memiliki nilai gizi lebih tinggi. Lagipula, nanti di penguji kamu akan liat...perbandingan doang, terus diitung pake t-tes, selesai. Lantas apa? Kalau Cuma ngitung perbandingan doang mah...keciiil.. paling banter kamu dapet B.“
Aku melongo. Sebegitunya-kah?
„mba Fit bukannya mau melemahkan kamu ya Ndra. Tapi kasian kamunya juga. Effort yang kamu keluarkan pasti besar. Sangat besar. Mba Fit tau itu. Tapi kalau kemudian kamu mendapat nilai yang...istilahnya gak sesuai dengan effort yang kamu keluarkan, sayang sekali. Okelah, mba Fit pragmatis aja sekarang. Mba Fit itu tipikal orang yang punya prinsip, hasil harus sebanding dengan apa yang kita keluarkan. Jadi ketika skripsi, Mba Fit juga gak mau dapet nilai jelek padahal Mba Fit bersusah payah dalam prosesnya. Tau apa dosen2 itu? Mereka gak tau gimana kerja keras kita. Gak mau kan, ketika sidang nanti segala jerih payah kamu cuma dihargai dengan nilai yang gak setara?“
Kognitifku mengolah kata demi kata dari mulut Mba Fit...
„Jadi, waktu bikin skripsi Mba Fit tuh detil sekali, ini dijelasin, itu dideskripsikan... Nah, ketika dosen liat kan...wihh....sekilas aja mereka tuh ngeliat yang ruwet2 udah punya kesan berbeda. Sampe waktu sidang, pengujinya tuh geleng-geleng, ‚Saya gak tau deh mau nanyain apa lagi...’ Giiituh. Dan alhamdulillah...akhirnya dapet A.
Bukan apa2 yah. Mba Fit tuh bener2 berjuang keras lulus dengan IPK minimal 3. banyak ikhwah yang... duh, ironis sekali melihatnya. Sedih! Jagoan di kampus, tapi gak bisa bersaing di dunia kerja. Lihat mas D, karena IP nya kurang dari standar, beliau gak bisa nerusin ke Profesi. Padahal kan...mas D akan lebih berdaya guna buat ummat kalo misalnya jadi psikolog.. ya kan? Mba Fit tuh orangnya idealis, Ndra. Tapi kalau udah akademis, hmm...udah deh. Ikutin aja apa mau mereka (dosen2 –red). Bukannya gak idealis lagi ya. Tapi...gak papalah nurunin sedikit standar demi capaian yang lebih besar.“
Aku mengawang jauh dalam keluh.
Oh, idealisme….sebegitu tingginya-kah dikau sehingga teramat sulit kuraih? :(
Lalu Mba Fit bicara lagi...
„Nah, udah gitu, kalo ngejawab soal tuh harus komprehensif. Misal, ditanya, kenapa kamu pake validitas konstruk? Kita jawabnya, validitas itu ada 3 jenis..ini..ini...ini. validitas A itu begini...kelebihannya ini, kekurangannya ini. Validitas B...dst. nah, saya memilih Validitas A karena begini..begini...“ . Jadi keliatan banget kalo kita menguasai apa yang kita kerjakan.“
Sidang? Bab 1 pun belum, Mba...
„Nah....menurut Mba Fit nih, Indra tambahin aja variabelnya. Jadi kamu gak cuma ngebandingin, tapi menghubungkan. Variabel yang mau diketahui pengaruhnya itu 2.“
„Mmm... kalo dikaitkan sama resiliency gimana, Mba?“ (resiliency adalah daya tahan menghadapi stress –red)
„Oiya...bagus itu. Resiliency itu ada 4 unsur. Pertama, ..bla..bla..bla... Kedua... bla..bla..bla...ketiga... dst“
„Lalu variabel ketiganya apa ya mba?“
„nah, kalo itu musti tanya2 lagi sama dosen klinis. Coba cari second opinion. Cari lagi teorinya. Psikologi itu kan arogansi teorinya besar banget. Jadi, skripsi itu terutama musti kuat bab 1 dan 2 nya. Masalah metodologi, insya allah bisa ngikutin aja. Kalo gak bisa yang ini, bisa pake yang ini...macem2. banyak solusi. Nah, dicoba aja...“
Hmhhh. Kuhela nafas berat.
„Gimana? Indra jadi tambah pusing, gak?“
„Euuh...iya sih... Mba Fit tuh jadi ngeberantakin semuanya.. Hehe.. tapi aku malah dapet insight baru...Gak papa sih..“
„Ya...maaf deh. Tapi mba Fit pikir...sayang aja kalo kamu cuma ngebandingin sholat wajib sama tahajud doang...trus udah. Coba deh masukin variabel lain. Ini kalo indra tetep mau kuantitatif ya, karena Mba Fit gak pernah bikin penelitian kuali.“
„Oke“. Sepertinya harus dibicarakan lagi dengan Pak Gagan. Sepertinya lagi, akan ada banyak perubahan.
Well...well...well.
Beberapa hari kemudian, aku bertemu Pak Gagan dan kuceritakan semua kejadian. Dan Pak Gagan lebih setuju dengan coping religius dan hubungannya dengan resiliency.
Jadi, skripsiku akan berjudul, „Hubungan Coping Religius dengan Resiliency dan .....“ Masalah variabel ketiga... Pak Gagan berujar.
„coba kamu baca-baca dulu yah. Ntar saya feedback aja.“
Sementara...
Mira melaju dengan verbatimnya.
Tika dengan analisa hasil wawancaranya.
Winna dengan ketikan-ketikannya.
Dan mereka bersiap mengajukan draft untuk sidang.
Tapi gak papa.
Aku sudah memilih.
Inilah jalanku.
Dan aku yang akan berjuang disini.
Sendiri.
Eh, gak deng.
Bersama Allah.
Semoga, selamanya.
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/16/2005 3 komentar
Dec 12, 2005
9 Jam Bersama Khemul -_-‘
Bismillah.
Waaw…baru kali ini aku keliling Jakarta selama 9 jam! Bener-bener keliling lho...gara-gara si khemul sok ngerti jalanan di Jakarta.
---stop press-----------------
Nuy, dikau nulis hal yang sama neh? Gpp lah ya? Kan bahasanya beda ;p
***
Jadi sebenernya aku cuma diminta Nuyi nemenin dia pergi ke suatu lembaga di Sudirman. Nah, karena lembaga ini sepertinya ngajakin BEM kerjasama dalam bidang training2an, maka bapak ketua alias Mr.Biggy mendelegasikan hal ini kepada HRO DC (Human Resources and Organizational Development Center –biro PSDM-nya BEM yang dimandori oleh Nuyi). Dan Khemul –deputi HRO DC- dipaksa Nuy nyopirin kita jalan kesana pake mobilnya R (big thanks 4 u, R…kalo ada kerusakan dengan your red Honda jazz, silakan berurusan sama Khemul yak!). Parahnya…si Nuyi nge-sms Khemul dengan bahasa, “Ikut gw ke Sudirman. Gak pake tapi-tapian.” Dan berhubung si Khemul adalah anak baik yang seringkali tidak kuasa menolak perintah kakak2nya di kampus, dia pun nurut aja. Huahahahaha… =))
And u know, sodara2…
Si Nuy janjian jam 9.45 di perpus. Aku dah jalan cepat berkeringat dengan terpaksa ninggalin temen2 yang masih deadlock dalam rapatnya. Tapi dia sms bilang bakal telat gara2 air di kosannya macet, jadi dia berargumen kalo mandinya bakal lama.
OMGPDA* , girl -_-‘.
Telat2…nunggu Khemul balik dari teknik, akhirnya kita baru jalan jam 11.35-an.
So, jalanlah kita.
Yeah. Jalan juga.
Finally.
Pasar minggu…Buncit….Mampang… ….lancar, gak macet-macet amat. Pas di bawah tol Kuningan, dah mulai merambat. Nuy berulang kali diteleponin sama mba-mba dari lembaga itu. Dah sampe mana? Sekarang lagi dimana? Berapa menit lagi nyampenya? Khemul masih cool di belakang kemudi. Dan aku mulai memegangi kepala yang kumat migrainnya. Kok perjalanan terasa begitu lama ya?! Apakah cuma karena efek pusingku?
Siang merangkak menuju jam 1. Mobil kami masih saja berputar-putar.
“Mul, lo sebenarnya tau jalan gak sih?” aku mulai gak sabar.
“Ya tau…Sudirman kan? Tapi Sudirmannya sebelah mana gua gak tau…”
“Nuy…telpon deh mba-mbanya…Tanya alamat jelasnya. Gedung apa. Ancar-ancarnya apa,” Nyut-nyut di kepalaku memaksakan kesegeraan.
“Nut…nut…nut…Ya mba? Masih di jalan nih. Jalan KH. Mas Mansyur…gedung Batavia…Makan siang?? Ummhh…kayaknya kita masih lama nih, Mbak…duluan aja kali…Iya gapapa…”
“Gimana, Nuy?”
“Katanya daerah Sudirman. Deket Shangri-La. Si mba-mbanya pengen makan gitu…nungguin kita...”
“Jadi kita bakal dapet makan? Waahh….” ujarku penuh harap.
“Iya…tapi tadi gua tolak karena kita masih di jalan…biar mereka duluan..”
“Yahhh….elu Nuy…kenapa ditolak….laper niiih…” Khemul bersuara juga.
“Iya….Aku belum makan dari pagi….” Ucapku lirih.
“Ya ampuun! Makan dulu sana…” Nuy agak histeris.
Makan dari Hongkong, batinku. Makan dimanee, Mpok?
“Tadi tuh aku bawa bekal, tapi karena kupikir kita bakal balik jam 2 jam 3, jadi tuh makanan aku tinggal di perpus sama hp lagi di-charge…” jawabku.
Suasana hening lagi. Nuy dan Khemul kembali mengoceh, sementara aku lebih memilih banyak diam, ngurut-ngurut sakit di pelipis kiriku sambil sesekali menimpali. Ngobrolin apapun yang bisa diobrolin. Dari berantemnya “2 oknum” yang bikin Khemul ngetawain sambil geleng-geleng prihatin, sampe sms taushiyah si “boy” yang diterima barengan di hp khemul and nuy…sambil Honda merah itu terus berjalan. Kami juga bicara tentang akhlaq di BEM. Nuy mengaku gak punya konsep apapun selain “berbicara dengan bahasa kaumnya”. Aku sangat sepakat dengan itu, tapi dengan menggarisbawahi “tidak terbawa berperilaku seperti kaumnya”. Intinya kan, berbaur tapi tak lebur… Tapi yah…semua orang punya pilihan sikap dan perilaku. Gak masalah buatku, asal tetep damai aja. Khemul malah cerita tentang orang-orang di masa lalu alias para pendahulu. Beberapa orang yang begitu berkesan buatnya adalah orang yang gak saklek, tapi tetap menjaga.
“Mereka bisa diajak gila-gilaan, tapi tetep dibatasi syari’ah,” ujarnya mengenang beberapa senior. Ya. Aku dan Nuyi sepakat bahwa mereka memang layak menjadi contoh dan teladan.
Mobil terus berputar dan berputar. Sesekali mba-mbanya nelpon nuyi.
“Waa….sate padang, boy….coto makasar….somay! pangsit!” mataku berbinar-binar demi melihat warung makanan berjejer. “eh…makan dulu yuukk…laperrr…pengen makan bakso…”
“parah betul lo Ndra…bakso lagi…” Khemul mencela.
“Iya, kamu tuh udah sakit makannya bakso lagi..” Nuy nimpalin.
“Ya kan aku cuma pengen makan yang hangat berkuah…”
“entar kita makin telat sampe sana, gak enak dah ditunggu dari tadi.” Ujar Nuyi lagi.
“lagian ni dimana sih? Menteng……... Kenapa kita jadi kesini?” ujarku lagi.
“Tau nih…gua juga bingung…” kata Khemul.
“Lha lu katanya tau jalan….gimana sih…” aku gemas.
“Gua taaaaauuuu….Sudirman khaann….”
“Ya tapi lo tau gak jalannya?”
“Sudirmannya sih gua tau…tapi jalan kesananya gua gak tau…”
Gubrrakkss….
Mobil terus setia menggelindingkan rodanya di bawah naungan awan kelabu langit Jakarta.
“Eh, tanya orang aja gih. Daripada gak jelas gini. Gih Mul, tuh polisi…tanya-tanya… menepi…” perutku udah kriuk-kriuk.
“Nanya gimana? Susah begini…Masa mo teriak, ‘Woy! Pak Polisi! Sini!’” Khemal gokil.
“Ya makanya menepi duluuuuuuuuu…Uu..uh…”
Aku memukul-mukul jendela mobil. Buk..buk…buk… Bener-bener senewen.
“Aku mau turunnn… …Keluarkan akuuuu…”
Tapi si Khemul sama Nuy diem aja. Hehe. Abis kan aku emang main-main. Biar kesannya kayak di pelem-pelem lagi diculik sama penjahat.
Mobil keluar jalan raya Kuningan lagi. Lalu Tanah Abang, dan tiba-tiba sudah sampai di bunderan HI.
“Kita udah di HI nih mbak…apa? Balik arah? Belok…jalan terus….oke…oke…Yoook... Eh, Mbanya telpon. Dari HI..katanya balik arah….trus…tadi kemana lagi yah? Eh kalian nyatet gak??”
Dengan polosnya Khemul menjawab, “ya enggaklah. Gua kan lagi nyetir, gitu lho…”
Aku bengong. “Gua pikir lo tadi nelpon sambil nyatet, Nuy…”
“Ya kan aku ngomong trus kalian yang nyatet, gituuuh…” Nuy manyun.
“Lha lo kagak bilang… mana kita tau….”
Khemul tetap santai mengendalikan mobil yang menyusuri jalan tak berujung….
“Udah…udah. Tanya orang. Mba Wina (dosen psikologi) bilang, pria2 tuh gengsi banget nanya arah jalan. Mereka lebih suka merasa bisa nemu sendiri ketimbang harus nanya sama orang. Heran gua. Turun sebesar apa sih harga diri pria kalo nanya jalan daripada nyasar2 begini? Daripada gak efisien…gua mah mending nanya deh…”
“Ya kalo mo nanya minggirnya tuh susah, Indraaaaaa…..” kata Khemul menahan gemas.
“Alaaaah….ngeles aja lu bisanya. Emang dasar kagak niat,” semprotku.
Mobil melewati gedung DPR-MPR.
“Waahh…..pagarnya ditambah! Berlapis-lapis gitu… Bakal tambah susah dah kita masuk..” kata Nuyi.
“O iya tuh…pagarnya ditembok, boy…kagak bisa didorong-dorong lagi deh…susah dirobohin” kataku.
“Ooohhh…aku kangen aksi…” Nuy mulai merintih gak jelas.
Di samping DPR-MPR….
“Udah, Mul…berenti sebentar…tanya pak polisi tuh…” Nuy menunjuk sekumpulan polisi yang lagi ngadem di bawah pohon. Khemul menghentikan laju mobil dan aku pun turun untuk menanyakan letak jalan Mas Mansyur.
Putar balik di depan, lampu merah belok kiri, trus belok kanan. Jalan aja teruus…
Sip. Dapet kan? Makanya, nanya dong, nanya.
“Fiuh… Apa kubilang. Kalo nanya kan jadi jelas.” Ujarku.
“Yaa… gua emang udah kepikiran bakal lewat situ…” balas Khemul.
Plaaakkkk.
Hehe.
Dasar sopir ble’e.
Sepuluh menit kami berjalan, jalan mas mansyur belum keliatan juga. Akhirnya, berbekal nanya2 lagi, kami –akhirnya, sekali lagi- ngeliat tu gedung Batavia. Nuy begitu excited dan berteriak tertahan. Iyalah. Kita udah berjam-jam muter-muter gitu lho…
Tapi...
“Wah! Lo salah belok, Mul! Harusnya di belokan depan baru muter..” terpaksalah kita muter lagi.
“Tau nih, si Nuyi. Ngasih taunya salah lagi…” Khemul bersungut. Tapi wajah leganya tidak bisa disembunyikan.
“Gapapa. Yang penting kita udah nemu gedungnya.” Nuy membela diri.
“Eh, perasaan kita tadi udah lewat sini kan ya?”tanyaku heran.
“Iya. Cuma tadi harusnya belok kiri, kita malah lurus terus..”
“Ya ammmpuun! Pantes! Tuh…kan…Gedung Da Vinci ini kan udah 2 kali kita lewatin…” aku geleng-geleng.
Padahal ini dari Kuningan tinggal belok kiri aja ketemu lho. Tapi syukurlah. Udah sampe Emang takdirnya kita kudu muter2 dulu kali ya?!
Kami memarkir mobil dan bergegas mencari mushola. Zhuhur euy! Dah jam 2 lewat. Astaghfirullah…
Setelah sholat kami bergegas ke tempat yang dituju.
Lantai 5 ya, Nuy? Aku lupa.
Dan….
“Wah! Syukurlah kalian sampai juga…. Udah ditunggu dari tadi lho. Udah pada makan belum? Mau minum apa? Teh? Panas atau dingin?”
Khemul nyengir. Aku mesem. Tapi emang haus banget sih…
“Es teh juga boleh, Mbak,” kata Nuyi.
Beberapa lama mbak itu keluar. Dan akhirnya beliau kembali dengan membawa 3 gelas besar es teh, lalu mempresentasikan lembaganya.
Intinya beliau meminta kami menjadi agen promosinya. Lembaga itu bernama President Business Institutes (PBI). Di PBI ini ada kelas-kelas seperti marketing, English for business communication, … …
Fee-nya sendiri bervariasi, mulai dari Rp. 600 ribu sampai Rp….. juta. Ada juga …. USD -… Katanya sih, pake dollar karena ujiannya dari Amrik sana.
Dan kami –sebagai individu dan bukan organisasi BEM UI- selama 3 bulan berkesempatan mengajak sebanyak mungkin orang untuk join belajar disini, dan tentu saja ada reward yang akan didapat dengan kiteria-kriteria tertentu. (Ayo…cepat mendaftar lewat aku yaaa…! Lewat email aja, entar aku balas asap deh, insya Allah!)
Tapi aku jadi tidak enak. Aku kesini kan cuma kebetulan diajak Nuyi. Kupikir ini gaweannya BEM. Tapi mereka bilang, mereka meminta orang BEM karena mereka berasumsi anak BEM itu aktif dan punya banyak jaringan. Kami cuma nyengir sambil bertatapan penuh arti. (Ups… Harus ghodhul bashor sama Khemul). Emang rejekinya kita kali. Padahal ini benar-benar urusan yang sangat personal. Antara aku sebagai aku dengan PBI, bukan aku sebagai bagian dari BEM UI. Hmmm…kalau Mr. Biggy dan orang yang direkomendasikan lainnya tidak datang, salah siapa…? Abis mbaknya bilang, rekrut agennya ya lewat pertemuan ini aja. Aku melirik Nuy. Kamu yang akan menjelaskan ini semua sama Mr. Biggy kan?
Okeh. Gak sia-sia deh berjam-jam di jalan.
Setelah bincang-bincang sedikit, kami pamit pulang. Ketika naik lift, aku dengan semangat membalas lambaian tangan mba-mba yang ramah itu. Sampe lupa sama perut yang belum terisi. At least air muka dan perasaan kami berubah lebih lega.
Tapi Khemul malah heran. “Kok kalian seneng banget sih? Gua biasa aja lho…”
“Ini kesempatan tau. Jarang-jarang…”ujarku.
“Istilahnya kita cuma ngomong begini-begitu, kalo orang join, kita dapet reward. Kalo gak ada yg join, ga ada konsekuensi apapun.” tambah Nuyi. Yeah. Aku sepakat.
Turun dari lift, kami mencari mushola untuk sholat asar. Khawatir kesorean di jalan.
Tapi…
Oh my God…gedung segede gini gak punya musholla????
Ironis sekali. Padahal aku yakin yang kerja disini sebagian besar adalah muslim.
Waktu zhuhur aja kami sholat di musholla umum kecil di belakang gedung ini. Pantes tadi si mba-nya bilang, mereka biasa sholat di library atau deket tangga. Nuy langsung bingung gitu. Sholat di tangga? Gimana caranya?
Sholat Asar pun kelar. Tertunaikan di musholla yang sama dengan tadi siang. Meski aku merasa sangat tidak nyaman sholat disana, kelegaan menjalar.
Akhirnya kami bisa pulanggg!
Nuy makan somay deket situ. Aku mikir 2 kali. Abis sepiring harganya 5 ribu.
“Gak jadi, Nuy! Mahal..” kataku.
Nuy mingkem. Dia dah telanjur mesen.
Perjalanan dimulai kembali.
“Lo masih inget jalan pulang kan, Mul?”
“Ya iyalah…”
“Awas aja lo muter-muter lagi…”
Di pertigaan kalibata-pasar minggu, Khemul berkata.
“Lewat Condet apa lurus nih? Pasar minggu biasanya macet gini hari.”
“Terserah dah. Yang cepet dan gak macet.”
“Oke. Lewat condet aja yak,”
Dan…
“Khemuulllll!!!!”
Ternyata di Kalibata menuju Cawang-Dewi Sartika macet luar biasa, sodara-sodara…
Panjang dan lama!
“Tuh kan, elu sih Mul…gua bilang jangan pake feeling…apalagi feeling elu..”
“Yah….gimana donk…selamat deh kejebak macet..”
“Mo sholat maghrib dimana neh? Takut gak keburu..” tanyaku. Maghrib sudah lewat beberapa menit.
“di itu aja…pasar minggu…apa namanya?” kata Nuyi.
“At taqwa.”
“iya. At Taqwa.”
Sampai di Cawang…
“Eh, apa mo sholat di PGC aja? Deket tuh. Takut masih macet…”usul Nuyi.
“tapi tempat sholatnya ada gak?” aku gak yakin. Most of mall di Jakarta kan mushollanya memprihatinkan semua.
“ada kok. Temenku pernah sholat di lantai paling atas. Katanya bagus, langsung ke langit gitu atasnya…”
“abis itu kita sekalian cari makan ya?”
“sip.”
Tapi Nuy berpikiran lain.
“Kapan-kapan kita belanja disini yuukks…”
Euuh… Ibu ini….-_-‘
Kami pun menuju lantai paling atas, lokasi dimana musholla terletak.
Untuk itu tentu kami harus berputar berkali-kali menuju tempat parkir di lantai 6.
“Waww….kayak di film2 gituh…kejar-kejaran sama penjahatnya di tempat parkir…” ujarku.
“gila! Ni tanjakannya lumayan tinggi juga!” suara Khemul.
“waaaa…..kerrrennnn!!!” kali ini Nuyi.
See…
Betapa noraknya kami. Huehuehue…
Sampai di lantai 6, kami harus naik tangga lagi untuk mencapai lantai teratas.
“Wah, ternyata bisa parkir disini, tau gitu gua bawa kesini tuh mobil…” kata Khemul.
“gih, Mul…ambil mobilnya lagi…” kataku seenaknya.
Dan kami menikmati pemandangan itu.
Melepas penglihatan dari ketinggian untuk mengawasi sekeliling kota Jakarta terkadang memang mengasyikkan. Gedung-gedung berantakan, jalanan semrawut, kemacetan, dan karena itu sudah masuk senja, lembayung orange keunguan terlukis indah di batas cakrawala.
Bertiga, kami berkali-kali mengucap tasbih. Mengagumi ciptaan-Nya yang begitu indah.
“yah…Nuy…hpku ketinggalan…”kataku sedikit menyesal tidak bisa mengabadikan pemandangan itu. Setelah puas menikmati semilir angin yang berhembus, aku bergegas mengambil wudhu dan menunaikan sholat. Yes. A better mosque than before. Nuy bahkan sampe bilang, pemilik mall ini pasti sangat tau cara menghargai umat Islam, karena sudah membangun masjid yang cukup besar dan nyaman di atas mall di tengah kota.
After sholat, kami makan malam. (atau siang? Mengingat kami belum makan sejak tadi…). Karena Nuy males cari tempat makan lagi, ia memilih makan di lantai atap itu juga. Khemul pesan pecel ayam, aku soto ayam, nuy nasi goreng. Poor Nuy, es tehnya masih berasa sabun. Jadi dia terpaksa mesen lagi dan … ternyata masih rasa sabun lagi. Yasudlah, kata nuy pasrah.
Selesai makan kami turun lagi. Masih dengan kenorakan yang sama saat mobil melaju menuruni area parkir yang beputar-putar. Sesekali Khemul –lagi-lagi- salah belok, sehingga memperlama perjalanan. Dan… hore! Sampai ke jalan raya lagi deh.
Adzan isya sudah berkumandang. Aku membayangkan kotak makan siangku yang terpaksa harus menginap di perpus kampus, juga hp-ku yang sedang di-charge. Sayang banget kalo makanannya sampai basi besok. Tapi mau gimana lagi, perpus sudah tutup. Temanku yang tadi aku mintai titipkan, ternyata baru membaca smsku setelah dia sampai di rumahnya di Tangerang. Yah, mau bagaimana lagi…semoga aja gak ada telepon/sms penting yang masuk.
Mobil kami melewati daerah Condet. Heran, kok gak nyampe-nyampe depok ya?!
“Tau nih, perasaan gua dulu lewat sini gak jauh-jauh amat..” kata Khemul.
“Tapi lo tau jalan kan, Mul?” todongku penuh penekanan.
“ya tau…”
Kami melaju lagi. Dan tepat sampai di depan stasiun kampus UI jam 8 kurang.
“Fiuuh….perjalanan yang panjang….”
“Ya jarang-jarang kan sama gua…” Khemul berkilah.
“Dasar. Entar gua tulis di blog beneran deh. 9 jam bersama Khemul… huahahaha..”
“Aduuh…ditulis di blog lagi…” dahi Khemul berkerut.
“Hehe…Yasud. Balik duluan ya. Jazaakalloh khoiron. Salam to R, makasih mobilnya, gitu.”
Khemul terus masuk ke dalam kampus menuju kost-an R untuk mengembalikan Honda Jazz merahnya. Sementara aku dan Nuy akan berpisah di stasiun. Aku naik kereta ke Tebet, dan Nuy balik ke kost-annya.
Kujabat tangan Nuyi dan berpamitan. Kepalaku masih terasa nyeri dan tulang di badan rasanya mau copot satu-satu. Tapi perjalanan panjang hari ini setidaknya membuat kami... capek!!! Heheh…gak cuma itu doank lah… tapi mudah2an kami lebih mengenal satu sama lain, disamping hikmah-hikmah lainnya yang mungkin belum kami sadari. Tetap semangat, bro n sist!!!
-end-
(*Oh My God Please Deh Ah)
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/12/2005 1 komentar
