Oct 11, 2005

Dari Hati untuk Hati

bismillah.

Kubuka jendela pagi di udara yang letih
Deru keram nyanyian alam
Bersama berjuta wajah kuarungi mimpi hari
Halalkan segala cara untuk hidup ini

Nafsu jiwa yang membuncah menutupi mata hati
Seperti terlupa bahwa nafas kan terhenti…

Astaghfirulloh…
Astaghfirulloh…
Astaghfirullohal ‘azhiim..

Kubuka jendela pagi di udara yang letih
Dan basah pun menghampiri
Suara jerit hati kuingkari
Nafsu jiwa yang membuncah menutupi
Seperti terlupa bahwa nafas kan terhenti…

Laa ilaaha illa Anta
Yaa Hayyu Yaa Qoyyum
Subhaanalloh wa bihamdihi…
Subhaanallohil ‘azhiim…

Laa ilaaha illa Anta
Subhaanaka inni kuntu minazhzholimiin…

***
Kenal dengan bait-bait syair di atas?
Yup! Lirik itu adalah lagu “Astaghfirulloh”-nya Mas Opick.
Senandung yang akhir-akhir ini semakin gencar terdengar di telinga.
Tidak di tv, stasiun, tempat-tempat keramaian…
Setidaknya, Alhamdulillah.
Lagu2 bernafas islam sekarang makin marak dan laku keras di pasaran.
Tapi semoga bukan pas Romadhon doang…
Setidaknya, ya Allah… Alhamdulillah.
Daripada telinga ini terus-menerus diperdengarkan lagu2 dangdut macam “penonton…mari bergoyang bersama Inul…” -_-‘

Pertama dengar lagu Mas Opick ini, jujur hatiku berdesir.
Liriknya itu… coba perhatikan lagi…

Nafsu jiwa yang membuncah menutupi mata hati
Seperti terlupa bahwa nafas kan terhenti…

Seketika aku seperti baru saja disadarkan.
“Bangun, hey! Lo bakal mati, tau!”
huhuu…jadi inget sama dosa yang gak keitung…

entah apa yang membuat aku merasa begitu.
Komposisi musik pengiringnya yang cukup menghentak-kah?
Tidak juga.
Toh lagu religius yang Gigi nyanyikan tidak sepenuhnya membuat hatiku tunduk.
Entah apa.
Namun apapun namanya, lagu ini sudah membuatku merinding…
At least, mengingat mati. Seperti juga lirik berikut ini:

Karena mata, hati, tangan, kaki akan jadi saksi
Tiada dusta diri yang tak terhakimi
Luka, sepi, airmata tak berarti lagi
Akan terlambat segala sesal di waktu nanti

Nah, yang satu ini lebih lagi. Bisa-bisa aku menangis bermuhasabah dibuatnya…

Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimanakah bila semua
Hilang dan pergi meninggalkan dirimu

Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti
Masih adakah jalan bagimu
Untuk kembali meninggalkan masa lalu

Dunia…
Dipenuhi dengan hiasan
Semua…
Dan sgala yang ada akan kembali pada-Nya

Bila waktu tlah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu tlah terhenti
Teman sejati tinggallah sepi…

Hiks… Sarat makna, ya?
Apalagi permainan pianonya juga bagus…
jadi pengen bisa main piano kayak gitu… (lho?!?! Insightnya kok gini?!?!)

Seperti yang rekanku katakan, aku sepakat bahwa lagu yang dibawakan dari hati pasti akan sampai ke hati.
Sekarang coba perhatikan lirik yang ditulis oleh Taufik Ismail :

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita

Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita kemana saja dia melangkahnya

Hmmmm…..jlebb…jlebb…jlebb gak sich?

Now, kita simak “Demi Masa”-nya Raihan:

Demi masa
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan beramal sholeh

Gunakan kesempatan yang masih diberi
Moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan
Karena ia takkan kembali

Raihan, berdasarkan penuturannya di media massa yang pernah kubaca, banyak merenung sebelum menuliskan lirik nasyid. Dan Subhaanalloh… lagi2 benar, bahwa lagu yang dibawakan dari hati pasti akan sampai ke hati!

Akhirnya, apresiasi setinggi2nya kuberikan pada Mas Opick, Raihan serta rekan2 lain yang telah memilih berda’wah lewat senandung. Semoga Allah melimpahkan rahmat atas hidayah yang Ia sampaikan lewat tangan-tangan kalian…

(Tapi kemudian aku mengangkat tangan diam-diam sambil berdoa…
Aku berlindung pada-Mu yaa Allah…agar tidak terlalai dari membaca ayat-ayat Qur’an-Mu,mendengarkan murottal dan of course mengamalkan ajaran-Mu, karena terlalu banyak mendengarkan lagu…
Hehe. Maaf ya. Bagaimanapun Al qur’an tetap harus didahulukan… n_n)