Jun 20, 2007

Nothing to Loose

Bismillah…

Baru2 aja denger berita gembira.
Seseorang akan menikah, euy.
Yang jadi bahasan menariknya adalah karena dia adalah orang yang ‘nyaris’ menginginkan aku menjadi bagian dari hidupnya.
Wuaa….
Are you sure, girl?!?!?!?
Huehehehe…
GR amat gua… :D

Gak tau siih…
Tapi sepertinya begitu.
Tapi sumpah aku gak ngorek-ngorek info apapun!
Tiba-tiba suatu hari di tengah rusuhnya masa skripsi-sidang-revisi, uma bilang bahwa seseorang datang padanya untuk mencoba mengenali aku lebih dalam.
Dan pemberitahuan via sms itu kutanggapi dengan panik :
“AAAAAAHHH…MBAAA! NOT NOW, PLEASE!!!!”

Yang bener ajalah…
Sidang skripsi tinggal hitungan hari waktu itu. Mikirin 1 hal ini aja udah bikin hidupku gak jelas juntrungannya. Eh, nambah isu yang satu itu pulak…

Berhubung di tengah suasana seperti itu aku tidak mau memikirkan hal-hal lain diluar skripsi, permohonan kuabaikan. Pokoknya pending sampai tanggal sekian. Kalo gak mau ya udah.

Sayang, pihak ‘mereka’ tidak cukup bersabar menunggu waktu yang aku inginkan.
Masya allah deh…
Udah ribet sama proses pengerjaan skripsi yang tidak mulus, revisi dikejar deadline juga, pihak pembuat perkara ini (uma dan ‘mereka’) malah mendesak supaya aku menerima data-data awal sebagai bekal panduan sebelum memulai perkenalan.
Ampuuuunnn… >_<
Jadilah malam itu aku bersitegang dengan uma di telepon, antara bergetar menahan kegemasan, lelah karena merasa tidak sedikitpun dimengerti, bergumpal-gumpal prasangka, dan tentu saja, ego yang memuncak dengan serta-merta.
“Yang butuh siapa? Yang akan menjalani siapa? Kenapa dipaksa? Kenapa harus terburu-buru? Kenapa pertimbanganku gak diberitahukan ke ‘mereka’? Masa gak ngerti ngerjain skripsi itu gimana? Kenapa begini, kenapa begitu?”
“Ya kita gak bisa terus-menerus meminta orang lain mengerti keadaan kita, tanpa kita juga mau mengerti mereka. Ikhwan itu kebanyakan gak mau bertele-tele, sementara aku paham bahwa mungkin akhwat lebih banyak pertimbangan. Tapi cobalah untuk melihat dari sisi mereka…”
“Tapi kan bla..bla…bla….bla….”
“aku bingung ya, Nda. Selama aku memfasilitasi sekian orang, kayaknya sama kamu yang paling susah…”
“ya emang belum saatnya aku begini kali…mungkin aku bukan orang yang tepat buat dia.”

Fuh. Campur aduk rasanya waktu itu.
Benakku cuma menyimpan pertanyaan: why, why, why.
Mana malam itu aku baru aja ngerusakin laptop orang. Gimana mau berpikir jernih :(

Agak menyesal sebenarnya, sampai bernada tinggi kepada beliau ketika itu.
Habis bagaimana lagi… gak suka aja menghadapi situasi demikian. Tau sendiri berurusan sama aku, makin dipaksa makin meronta.
Walau belum tahu siapa ‘mereka’, aku sama sekali tidak respek terhadap apa yang tengah berjalan. Merasa gak dihormati aja karena segala macam konsideranku yang kuharap bisa disampaikan ke ‘mereka’ ternyata tidak disampaikan sama sekali, dengan alasan yang menurutku gak masuk akal. Sekali lagi, siapa yang akan menjalani sebenarnya???

Hening sejenak.
2 hari untuk memutuskan mau atau tidak.
Akhirnya, sebelum kupikir aku melangkah terlalu jauh dengan perasaan sama sekali tak nyaman, kuputuskan menolak bahkan sebelum mengetahui siapa ‘mereka’ sebenarnya.
Ya, karena menolak setelah melihat data akan membuat subyektivitasku makin kuat.
Berhubung sekarang belum tahu apa-apa, mending kubatalkan daripada ambil resiko lebih berat.

Sedikit banyak penasaran juga...
Memang, mengetahui ‘mereka’ kusadari tidak akan memberi keuntungan apapun, selain bikin penyakit hati dan seterusnya.
Tapi entah bagaimana ceritanya, beberapa clues muncul tanpa aku minta.
Begitu mengira-ngira dan menganalisa siapa dibalik ini semua, aku ternganga…
Kalau beneran dia, betapa malunya aku ketika menyadari kemungkinan dia mengamati aku selama ini tanpa aku mengetahuinya!

Tapi itu baru perkiraanlah…
Bisa jadi bukan dia. Bisa jadi orang lain entah siapa.
Dan kalaupun benar dia adalah yang beritanya sudah akan menikah dalam waktu dekat, pada akhirnya aku mengucap hamdalah.
Bersyukuuur…sekali. Ikut bahagia aja.
Merasa rugi juga enggak…
Patah hati atau menyesal apalagi… (kayak gak ada yang lain aja. Hehe…)
Simple ajalah… berarti emang jodohnya bukan sama indra fathiana, dan berarti dia sudah bertemu sang belahan jiwa ^_^

Hmmm… ya sudah.
Barokalloh aja deh, akhina.
Semoga terwujud keluarga samara yang menjadi bagian dari batu bata penjayaan diin kita. Aamiiin…

2 komentar:

Trian Hendro A. said...

..
Tapi itu baru perkiraanlah…

wah, kebetulan sekali ada juga yg baru kuketahui mau nikah, plus kayanya 'tertaut' ke 'pihak sini' deh.
hmmm.....
*ikut nebak-nebak :D

Indra Fathiana said...

maksud lo, yan...?!?!?!

*ambil posisi mau nimpuk trian!*