
Aku membenci rindu
Seperti benciku pada detak jam dinding yang lambat berlalu
Memamah tunggu dalam sunyi tergugu
Kosong di kalbu bertalu-talu.
Pulanglah.
Aku lelah berseteru dengan waktu.
091210. 19:40wib
~sabaaar..sabaarrr....
Jan 28, 2011
:: Tak Ada Judul (1) ::
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/28/2011 6 komentar
Panggil Kami
Panggil kami
Dalam deru nafas suci
Dan biarkan lautan pinta berputar
Dalam syahdu yang terdengar
Panggil kami
Dalam gebu rindu yang tersulam
Di tengadah dan dongak kepapaan
Siang-malam memahat jurang
Tertawan dosa berjuta bergelinjang
Panggillah kami
Dengan selautan kecintaan
Dengan semesta belas-kasihan
Karena kami yakin dan paham
Kemurkaan telak kalah oleh ketakterhinggaan sayang
Di belantara memabukkan
Di persinggahan kefanaan
Kami mengacung keberanian
Adakah kehinaan kami pantas mendapat giliran? :'(
~Labbaik, Allaahumma labbaik! T.T
Awal Dzulhijjah, 07.11.2010, 12:51
note for my husband: kita harus berangkat!
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/28/2011 0 komentar
Sep 2, 2010
Aku Menyapamu

Aku menyapamu
Dalam hening
Dalam doa-doa penenang jiwa
Purnama sudah berpijar sekian lama
Lupa sudah kuhitung berapa kali putarannya
Aku memanggilmu
Dalam rinding sunyi
Dalam ramai yang riuh-rendah berlari-lari
Menggesa-gesa hari yang pasrah
Bergumul resah bersama gulana
Dan aku menyebutmu
Dalam nama yang tiada
Dalam sosok yang belum terkira
Tapi kita sama-sama melihat purnama
Berkejaran bersama angin
Berlarian mengikuti rotasi bumi
Jadi biarkan saja ruh-ruh kita yang menghadap-Nya
Menikmati terka demi terka
Bersama tekad tuk saling menjaga
Dari kerendahhinaan rasa
Meski belum dapat kueja nama
Kulangitkan doa tak jera-jera:
Semoga jumpa dalam barakah
dan bersama hingga ke surga.
Untuknya, yang belum juga bernama.
19 Ramadhan 1431 H selepas shubuh
gbr dari http://www.le.ac.uk/ph/faulkes/web/stars/r_st_overview.html
Diposkan oleh Indra Fathiana di 9/02/2010 0 komentar
Jul 20, 2010
Lagi, Encouragement vs Discouragement

Bismillah.
Membaca tulisan Rhenald Kasali, “Encouragement”, membuat saya teringat pada pengalaman beberapa tahun silam.
Jelang akhir perkuliahan, selayaknya para calon sarjana, saya mengikuti sidang skripsi. Tak tanggung-tanggung, 2 kali! Bagi mahasiswa pada umumnya, barangkali tak pernah terbayang jika mereka harus menjalani ujian akhir yang menjadi syarat kelulusan itu, lebih dari 1 kali. Once is more than enough. Yap, pengalaman saya memang un-usual. Aneh mungkin. Atau yaa… sedikit nyeleneh barangkali.
Jangankan mereka, saya pun tak menyangka harus sidang sampai 2 kali begitu. Skripsi saya yang pertama, hubungan persepsi dan stereotip peran gender pria terhadap kecenderungan melakukan pelecehan seksual, dianggap tak valid alat tesnya. Bab 1-nya saja dianggap ‘emosional’: bahwa saya tampak bertekad membuktikan kalau pria adalah tersangka utama pelaku pelecehan seksual yang pantas diwaspadai (lihat fakta lah, kebanyakan pelaku pelecehan memang pria, bukan?). Jadi ketika itu penguji saya menganggap saya terlalu berprasangka buruk pada para pria, dan lalu menganggap dasar pemikiran saya yang merembet hingga ke alat ukurnya kurang memenuhi standar untuk disebut sebagai penelitian yang benar-benar memenuhi kaidah keilmiahan.
Lalu para penguji memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki konstruk, alat tes, data dan kesimpulan agar bisa dianggap lebih layak. Dengan waktu 1 pekan yang sama sekali tak realistis untuk memperbaiki, akhirnya saya putuskan untuk merombak ulang variable yang ingin saya teliti. 1 semester lagi terpaksa saya ambil demi kepuasan batin (alias balas dendam?) untuk karya yang lebih baik.
Kejadian ini menguras banyak hal, tentu saja. Bahwa saya sempat down, sedih, kecewa, adalah hal yang tak dapat dihindari. Bayangkan! Skripsi yang saya susun berbulan-bulan dengan penuh perjuangan itu luluh lantak dalam beberapa jam saja. Dan salah satu penguji saya adalah dosen yang terkenal sangat metodologic, ilmiah, serta taat asas penelitian. Pertemuan “karya tak ideal” dan “penguji sangat ideal” yang maanisss luar biasa.
Saya mulai berpikiran macam-macam ketika dosen saya yang satu itu menyatakan bahwa saya harus memperbaiki penelitian supaya bisa mengejar target lulus semester itu. Prasangka mulai berkecamuk, dan yang lebih parah saya berpikir jangan-jangan ada sentimen tertentu di balik sikap dosen tersebut. Maklum, saya memang terinspirasi dari rancangan UU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) yang sedang panas-panasnya diperdebatkan ketika itu. Dan 3 jam di ruang sidang membuat saya tak nyaman. Auranya under pressure. Mirip seperti yang dikatakan Pak Rhenald dalam tulisannya. Dosen-dosen lebih terlihat menguliti para mahasiswa daripada membuat mereka banyak belajar dari proses uji argumen tugas akhirnya. What a discouragement.
Tapi jangan percaya saya dulu sampai disini.
Hari-hari berikutnya adalah perubahan sosok ‘monster’ dosen saya menjadi guru yang cukup suportif. Agaknya mereka kasihan jika saya bertahan lebih lama di kampus, meski seorang dosen lainnya juga kerap bergurau, “masuk UI susah-susah, keluarnya jangan cepat-cepatlah…”.
Maka selanjutnya saya jumpai email-email bimbingan mereka dengan komentar yang cukup membangun. Kalimat motivasi mereka saat itu juga saya rasakan lebih indah daripada kata mutiara manapun (sampai sekarang email-email out of topic juga masih sering saya dapati dari beliau). Begitu juga dengan dosen lain yang kebetulan menjabat sebagai manajer pendidikan fakultas. Dalam stres yang kerap, senyum dan kalimat ramahnya saja saya rasa sudah lebih dari cukup untuk membuat negativity saya berkurang.
Waktu berjalan dan saya berjibaku dengan perombakan beberapa konsep dalam skripsi, yang dalam prosesnya masih juga menantang ketangguhan. Kali ini saya beruntung, bisa bertemu dengan beberapa dosen yang memandang tema penelitian saya sangat menarik bagi mereka, dan mereka cukup antusias meluangkan waktu menjadi teman diskusi. Dalam sidang, kebetulan mereka pula yang menjadi penguji saya.
Sampai kemudian sidang kedua pun digelarlah. Terlepas dari kesiapan saya, hari itu ruang sidang berubah menjadi arena diskusi yang cukup menyenangkan, setidaknya begitu yang saya rasakan. Para penguji membahas dengan penguasaan mereka atas bidang yang saya ambil (psikologi sosial), dan mereka bersikap begitu terbuka serta mengevaluasi lalu memberi tahu mana yang salah dan bagaimana arah jawaban yang sebenarnya. Terasa benar encouragement-nya. “Jika yang kamu maksud begini, maka sebaiknya kamu seperti ini. Dan kamu bisa kembangkan lagi ke arah ini, sehingga penelitian kamu yang menarik ini akan semakin berkualitas dan bermanfaat”. Begitu kira-kira.
Tanpa bermaksud membandingkan dengan proses sidang pertama, dalam perkuliahan, secara subyektif saya melihat adanya korelasi antara sikap dosen terhadap performance mahasiswa. Coba rasakan bedanya antara dosen yang tampak “membantai” mahasiswa, dengan dosen yang berparadigma ‘proses belajar adalah pencapaian pemahaman atas ilmu, pembentukan karakter dalam perjalanan menempuhnya, juga tanggung jawab untuk bisa menerapkan ilmu itu dalam kerangka manfaat’. Meski tujuannya mungkin sama, tetapi cara seringkali turut menentukan bagaimana hasilnya.
Bisa jadi dampak pola/sikap didik pertama dan kedua itu positif, tergantung pada bagaimana subyek peserta didik menyikapi. Namun proses yang terjadi secara tidak langsung memberi efek yang berbeda terhadap perkembangan karakter para pembelajar. Masih perlukah mencela anak agar mereka melesat lebih tinggi setelah ditekan, atau sesungguhnya kita bisa menggunakan cara yang lebih ramah namun juga melejitkan?
Dalam hemat saya, mengembangkan konsep diri dan self-efficacy (perasaan mampu) para peserta didik jauh lebih penting dibandingkan berfokus pada bagaimana mereka bisa memperoleh nilai A, lulus cumlaude, dan semacamnya. Ada penerimaan terhadap apa adanya diri mereka. Ada penghargaan yang lebih menumbuhkan. Dan pasti, ada kepercayaan bahwa mereka “bisa!”, sehingga terus menggugah perbaikan.
Maka saya kagum benar dengan sikap para pendidik yang menghargai sekecil apapun usaha para siswanya, meski itu tak memenuhi standar prestasi, IPK, nilai, kaidah ilmu, dan seterusnya. Berkebalikan dengan itu, saya juga begitu herannya mengamati sekian juta perusahaan yang menjadikan angka IPK sebagai standar screening layak-tidaknya seorang fresh graduate bergabung untuk bekerja bersama mereka. Well, bisa jadi ini sakit hati saya karena IPK saya yang tak cukup memenuhi standar. Tapi sense keadilan yang terusik itu jauh lebih dominan, mengingat kecerdasan rasanya terlalu sempit untuk didefinisikan dalam 2-3 digit angka.
Sebagai penutup, ijinkan saya membayangkan anak-anak dan generasi yang tak hanya cerdas otaknya, tetapi juga matang kepribadiannya, di Indonesia kita. Sudah cukup mimpi-mimpi dan kekaguman saya pada sikap para pengajar di belahan negeri seberang yang tampak lebih ideal dan memanusiakan. Sebelum menuntut orang lain, tugas saya kini adalah berusaha menjadi bagian dari mereka yang mendidik (minimal putra-putri saya kelak) dengan perpaduan ilmu, teladan, juga sikap positif yang menggugah-memberdayakan. Semoga dimampukan.
Dengan Anda, dapatkah kita bergandengan tangan juga? :)
Senin, 19 Juli 2010
Diposkan oleh Indra Fathiana di 7/20/2010 1 komentar
Label: Thought
Nov 19, 2009
Serambi Kami
Bismillah
Kami junjung asma-Nya tinggi, dan mereka memberi janji-janji
Tapi kami bergeming saja, tak ingin tampak mengemis iba
Walau tentu sambil berharap-harap juga
Tapi tak lama kami benar celaka
Tuan besar si pemimpin negara itu memang besar mulutnya
Mana pembangunan, mana bagi hasil bumi yang dikeruk suka-suka
Kami menjerit ingin pisah
Tapi sungguh, demikian besar cinta kami pada tanah yang kami bela
Rencong kami patah-patah menolak penjajah
Karena melawan kezhaliman adalah jihad kami untuk-Nya
Tanah kami, memang sudah lama ada disini
Kami pegang teguh syariat dan nilai para nabi
Surau kami berdiri di setiap pelosok
Dan lantunan ayat suci terdengar dari tiap pojok
Lalu tahun demi tahun berganti
Tanah kami memang masih subur dan layak ditanami
Tapi kefakiran juga masih senang menemani
Apa yang salah pada kami?
Surau-surau juga masih kokoh berdiri
Tapi sungguh sepi dari isi
Anak muda lebih senang pergi ke kedai kopi
Menghabiskan berbungkus-bungkus tembakau laknat yang merusak jasad
Tak beda pula para putrinya
Meski kerudung membalut kepala mereka
Rambut masih saja terjuntai bak ekor kuda, berbaju tipis atau mungkin tak punya ruang untuk daging tubuhnya
Ah ah ah...
Malu kami duduk di depan Allah Yang Maha Tinggi
Apa balas budi kami atas segala anugerah di tanah ini?
Maka lalu terjadi gempa dan tsunami
Barangkali Ia marah karena tak ditaati
Tapi tsunami sudah lewat 5 tahun lebih
Dan surau-surau masih saja berteman sunyi
Sementara anak muda kami sibuk saja di kedai kopi
Malu kami mengangkat wajah ini, Rabbi...
Tadinya kami bangga bergelar serambi tanah suci
Tapi kelakuan sungguh jauh dari islami
Masih adakah ampunan-Mu bagi kami yang bodoh ini?
Tanah ini, sudah lama kami tinggali
Semoga gempa-tsunami tak datang kembali
Atau azab apapun yang lebih lagi
Karena di tanah ini kami ingin terus mengabdi
Karena kami ingin syariat tegak disini dengan penuh kesadaran tinggi
Dan saksikanlah Wahai Tuhan kami,
Ummat-ummat-Mu khususnya di tanah ini
Lebih-lebih kami cintai
Daripada diri kami sendiri.
-Daud Beureueh in my imagination-
Calang, 18.11.2009, 15:16 wib.
Diposkan oleh Indra Fathiana di 11/19/2009 5 komentar
Nov 11, 2009
Ketika Dekat, Ketika Jauh
Bismillah… Masuk waktu isya, tadi. Tiba-tiba aku bercerita begitu saja tentang dia. Dan temanku bercerita hal yang sama tentang dia-nya. Bercermin pada kisahnya, membuatku kadang terpekur. Betapa aku seringkali bertanya-tanya, mengapa mereka –dan mungkin hampir semua orang di dunia ini- begitu mudah mencintai orang-orang seperti dia. Dan aku tidak bisa. Atau barangkali belum mau? Mungkin juga. Tapi apakah aku salah? Jauh dari dirinya seperti kali ini, menyisakan sesak tersendiri. Kadang iba, kadang tak tega. Tapi dekat kerap kali neraka. Airmata. Amarah. Kesah. Juga tanda tanya maha besar dalam putus asa: Tuhan, mengapa? Lalu aku meraba-raba perannya. Mungkin sepi dan butuh teman bercerita. Lalu coba merasakan jika yang diharap mendengar tak lagi ada. Atau tak mau menjadi teman duduk sembari makan camilan berteman teh hangat di waktu senja. Perih, mungkin. Juga sunyi bertubi-tubi. Benar-benar seperti senja: remang, antara sinar matahari yang kian berkurang, dan kemunculan burung hantu yang kukuknya membuat cekam. Serta-merta senyap pun menyeruak ke bumi dalam malam yang selalu hitam. Tapi aku masih tak bisa lupa. Menjadi tampungan serapah adalah menanggung luka seumur hidupmu: konsep diri yang tumpah-ruah-hancur-lebur-rusak-parah, dan perasaan terbuang-tak diinginkan-tertolak-tak layak ada. Maka percobaan bunuh diri barangkali menjadi episode dramatisasi hebat yang tampak berlebihan. Namun tolong pandang mataku baik-baik, kawan. Dan juga mata mereka yang bernasib sama. Kami menanggung luka, lalu apakah kalian menawarkan obatnya? Atau kalian hanya bisa menyumpahi kami dengan norma? Beranjak seperti ini adalah ketenangan meski mungkin terbumbui sedih dan durja. ”Banyak hal berubah”, kata seorang teman di luar sana. ”Tapi ternyata ada yang tak bisa. Dan dia termasuk yang tidak. Jadi, pergilah.” Dan aku pergi walau tak disengaja. Dalam keadaan berjarak, mungkin lebih mudah merajut maaf, meski juga perlu usaha. Setidaknya mengembalikan kasih dan iba karena bagaimanapun, siapa bisa menolak eksistensi karena andilnya pula. Setidaknya juga menyulam pinta, menyusun gambaran di kehidupan kedua. Bisa jadi, mungkin saja, do’a-do’a yang terlantun ini meringankan bebannya nanti di akhir masa, ketika tiada lagi iba dari-Nya. Calang, Ahad, 08.11.2009, 00:38 wib. berteman gerimis tengah malam
Diposkan oleh Indra Fathiana di 11/11/2009 0 komentar
Label: Hearts
Oct 3, 2009
Dunia Kami
Diposkan oleh Indra Fathiana di 10/03/2009 0 komentar

