Jun 1, 2009

I'm Wearing Hijab, Don't You...?

Bismillah...


2 tahun silam, seorang sahabat lama tiba-tiba muncul di jejaring sosial saya. Dan seperti lazimnya tertera dalam jejaring itu, testimoni-testimoni tentang diri orang lain seperti menjadi wajib untuk kita berikan. Pun saya, tak pelak menerima testimoni sahabat lama saya yang walaupun satu kampus itu, jarang sekali bersua.

Yang membuat saya terbelalak bukan segambreng pujian ini dan itu. Tetapi saya baru saja ngeh ketika ia mengatakan,
"Indra ini orang yang pertama kali nanyain gue, "Mau pake jilbab gak, F?". Dan besoknya gw mutusin untuk ngikutin dia pake jilbab juga."

Oh... Did I?
I almost forget, dan bahkan tak ingat sama sekali andai ia tak menuliskannya di kolom testimoni itu.

Kali lain, iseng saya bertanya pada wanita paruh baya rekan satu pekerjaan.
"Don't you want to wear hijab, Miss?"

Dan memang tak selalu gayung bersambut. Ujar wanita itu,
"Haha... sepertinya tidak. Aku merasa lebih bisa berdiri untuk banyak kalangan ketika aku tak mengenakan jilbab. Aku bisa mudah bergaul dengan siapapun (dengan aku tidak memakai jilbab -red)... Yeah, aku lebih menikmati diriku seperti ini saja." tukasnya dengan pendirian teguh.

Serta-merta pembicaraan pun ditutup.
Tapi akhirnya saya berpikir, ”Ah, bukankah jika kita memenangkan-Nya, Dia pasti akan beri jalan terbaik bagi kita untuk berinteraksi dengan sesama?”. Dan saya pun teringat seorang Ira Puspa Dewi yang mampu didengar sekian orang dalam forum internasional dimana ia menjadi pembicara, lengkap dengan jilbabnya.
Tapi ya sudahlah. That's your choice, Mam :)

Ada hal menarik dalam pengenaan hijab ini. Jika kita berjalan-jalan di tempat umum di Jakarta, sebut saja mall, pasar, atau tempat rekreasi, niscaya tak kan sulit kita temukan lima-enam-dan mungkin belasan- wanita yang menutup kepala mereka dengan jilbab. Mau yang menutup dada kah, sampai leher saja kah, ataupun yang menjuntai lebar, atau bahkan yang berbelit-belit dengan berbagai modelnya. (huffh...sejujurnya saya bingung memikirkan bagaimana si jilbab berbelit-belit membongkar pasang jilbabnya ketika mau berwudhu...).

Just like a trend (well, i don't hope so), jilbab menjadi booming dan tampak semakin biasa sekarang.
Seorang om saya yang hidup di Belanda sampai tak habis pikir, "Should Indonesia be an islamic country?" karena sedemikian paranoidnya ia pada "negara islam", hanya karena melihat perubahan signifikan dimana jilbab amat langka di dekade 80-90-an dan menjadi sangat lumrah di tahun 2000-an ini.
Kasihan, hanya karena seringnya ia mendapati oknum negara arab yang menjadi kriminal di negaranya, tanpa berpikir kritis ia memandang sinis perkembangan drastis itu, dan menolak mentah-mentah diberlakukannya sistem islam di negeri kelahirannya ini.

Saya yang mendengarnya hanya tersenyum. Memaklumi pola pikirnya yang agak mengherankan, menurut saya. Bagaimana bisa ia hidup di negara yang (katanya) bebas, menghargai perbedaan, tetapi sedemikian phobi terhadap agama ini, agama yang juga masih dia anut. Apakah ia juga akan sama curiganya ketika simbol palang misalnya, bertebaran dimana-mana? Apakah akan beda penerimaannya?
Anda berpikir terlalu jauh, Tuan. Kami hanya menjalankan kewajiban individual kami. Itu saja.

Dulu, di era 98-an ketika saya ingin mengenakan jilbab dengan lebih rapi, masih berkeliaran paranoism yang tak jelas asalnya.
"Kalau pakai jilbab nanti susah cari kerja.."
"Susah jodoh lho... dikiranya gak mau bergaul.."
"Kenapa musti menutup diri seperti itu...biarkan saja dunia melihat kemolekan tubuh kita.."
Dan mungkin kalimat terakhir itu masih tak sungkan digaungkan oleh -katanya- para pejuang perempuan. (hehe..perempuan yang mana? Bagaimanapun berlian tak pernah diobral, bukan?).

Sepertinya sekarang tak separah dulu, meski masih ada sekian kasus pelarangan jilbab di sejumlah instansi *masih tak mengerti mengapa isi otak harus dikebiri hanya karena bungkus luar semacam jilbab-rok mini-dan busana-busana itu -_-’

Tapi meski demikian, kemauan tetap tak dapat dipaksakan. Mengenakan jilbab saat ini bisa jadi masih sebatas pada ”suka-suka”, atau ”biar nge-trend”, atau ”ikutan temen”, atau ”malu...abis yang lain pada pake... masa aku gak pake”, dsb, dsb.
Dan jika alasan mereka seperti itu, kamu bisa apa?

Rindu sekali saya pada masa dimana sekian anak muda itu memasangkan kain lebar di atas kepalanya dengan berujar mantap, ”Inilah aku. Ini jalanku. Ini aku dengan segenap pribadi kukuh yang tak mampu dibeli oleh komentar dan cibiran atas hijab yang kupakai.”
Belia-belia yang tumbuh dalam atmosfer kebaikan, yang memberontak tatkala perintah-Nya dipertentangkan, yang mampu berujar tegar, ”Jikalah aku menjalankan apa yang Ia pinta, tentu pertolongan akan jua turut serta!”.
Keyakinan yang terpatri dan tumbuh kuat dalam lurusnya niat, insya Allah.

Namun walau masih juga saya temukan sekian banyak pemudi yang tersentuh hatinya karena cahaya iman, setidaknya saya tak bisa sama sekali menggerakkan. Upaya saya, Anda, atau kalian yang mencoba mengajak hijab itu dikenakan, hanyalah sedikit pintu pembuka. Total, sepenuhnya hanya Dia yang memiliki hak menurunkan hidayah atau tidak. Memberi petunjuk atau membiarkan sesat. Menunjukkan cahaya dan ketentraman batin sejati, atau menyemaikan kilau semu yang menyisakan kekosongan jiwa.

Seperti yang saya hadapi baru-baru ini.
Satu adik di SMA almamater saya, masih juga kekeuh dalam ’baju adek’nya, meski sempat ia utarakan keinginannya mengenakan jilbab. Keluarganya mendukung, lho. Abang pertamanya bahkan berujar, ”Kalo lo make jilbab hari ini juga, gw ajak lo ke toko R (toko muslimah –red), dan lo boleh pilih apapun yang lo mau, gw bayarin!”.

Nyaris habis akal teman-temannya satu lingkar pengajian menyerunya memakai hijab, mengajaknya ke pertokoan muslimah ini dan itu, memberikannya ciput (daleman jilbab yang dikenakan di kepala agar jilbab tak licin di rambut -red), mengusahakan meminjam seragam batik lengan panjang dari kakak alumni, dan sekian banyak ajakan lisan yang tak terhitung jumlahnya.

Dan dia masih saja bergeming. Lalu kami, tentu saja terus meyakini bahwa hidayah Allah mungkin belum turun padanya. Jika Rasulullah saw saja tak mampu mengislamkan Abu Thalib, sang paman tersayang, untuk masuk Islam, apalagi kami, yang barangkali sentuhan da’wahnya terhalang maksiat sehari-hari.

So, tak heran ketika beberapa waktu lalu seorang India yang duduk di sebelah saya dalam pesawat ke Solo masih saja bertanya.
”Does your scarf related to your religion?” ujarnya sambil menunjuk jilbab yang saya pakai. Lalu saya mengangguk dengan kuat. ”Yes. Why?”.
”No…Just wondering…. Jika memang berkaitan dengan agama, mengapa kebanyakan wanita Indonesia tidak memakai scarf sepertimu?”.
Menghela nafas, saya menjawab. “Well… actually it’s an obligation. But when they are not obey, it’s all about choices.”.

Ya. Pilihan sadar yang juga terengkuh karena usaha memahami Diri-Nya, memahami bahwa segala konsekuensi yang mungkin terjadi adalah dengan sepengetahuan-Nya, dan dengan keyakinan sungguh, bahwa Ia tak abai.
Ia menjaga mereka yang berusaha mematuhi-Nya.
Di saat itu, dunia, atau pandangan dan penilaian manusia, menjadi tak lagi pantas tuk diperbandingkan dengan karunia mahal bernama hidayah.
Priceless. Tak terbayarkan.
Persoalannya sekarang semata hanya : mau atau tidak.
Itu saja.


Friday, 29.05.09, 01:46 pm.

Apr 17, 2009

Terminal Kampung Melayu, Suatu Senja

Bismillah…


Selasa sore di terminal Kampung Melayu, senja menjelang malam.

Jakarta diguyur hujan badai.
Berlebihan?
Ah, tidak. Benar-benar badai.
Hujan mendera tanpa ampun, ditingkahi guntur yang susul-menyusul. Pukul 14.15 wib hari itu langit benar-benar hitam, bukan lagi kelabu. Sama persis dengan kondisi langit pukul 18.00 dalam keadaan normal. Bayangkan!

Beruntung, saat aku pulang pukul 17.00, hujan sudah menyusut.
Sudah sampai terminal Kampung Melayu.
Berjingkat aku melangkah, menghindari masuknya air ke dalam sepatu. Mengapa kerumunan orang begitu banyak menyemut di tengah-tengah?

Kuedarkan pandang ke sekeliling. Arus kendaraan menuju Cawang begitu padat. Rupanya tak banyak angkot yang stand by di terminal. Bukan tak mau, tapi tak sampai. Sepertinya macet luar biasa karena kemungkinan besar banjir dimana-mana.

Aku mematung. Angkotku mana, ya?

Tiba-tiba seorang pengamen kecil mendekatiku. Perempuan. Kutebak usianya baru 8-9 tahun.

”Mbak minta Mbak...”
Refleks aku mengatupkan tangan dan berucap maaf, sembari mengalihkan perhatianku pada kendaraan yang ditunggu.

Tapi ternyata ia tak menyerah.
”Mbak...... minta Mbak...”
Aku menoleh. Kali ini memperhatikan dengan lebih seksama.
Oke... *gak tega

”Nyanyi dulu...” pintaku. Tidak ada yang gratis di dunia ini, nak...
”Minta mbak...”
”Yah nyanyi dulu. Gak mau ngasih kalau gak nyanyi...”
*maksa mode : on. Lah dia juga maksa... Lo dapet gw dapet donk... haha...

Akhirnya gadis kecil itu bersiap menyanyi.
”Eh! Jangan nyanyi deh! Ngaji aja!” potongku.
”Ngaji apa Mbak....”
”Umm...apa ya... hafalnya apa?”
”Doa makan aja Mbak??” matanya berbinar.
Seorang bocah kecil lain menghampiri kami. Kali ini jauh lebih muda usianya. 4-5 tahun mungkin? Seketika sejumput perih tiba-tiba hadir bertandang...

”Iya Mbak...Allahumma baariklana fiima rozaqtana waqinaa ’adzaabannaar...” si kecil berteriak tanpa diminta. Wajah polosnya seolah haus pujian.

Aku tersenyum. ”Al Fatihah coba gimana...”
Lalu mereka berlomba melafalkan, berbalap-balapan.
”Allahumma baariklana fiima rozaqtana...”
”Lho... Al Fatihah... kok jadi doa makan terus... Gak mau... coba ulang...”
Aku membantu mengarahkan. ”Bismillaahirrohmaanirrohiim...”
Lalu mereka melanjutkan. Dan aku menyimpul senyum senang. Enak ya ngerjain anak-anak... *lho?!

Tidak ada yang gratis di dunia ini. Semua perlu harganya sendiri. Jika kamu ingin mendapatkan apa yang kamu inginkan, berusahalah sekuat tenaga.
Hina. Betul-betul hina.
Siapa yang mengajari mereka meminta-minta???
Tak sanggup kubayangkan apa jadinya mereka yang sejak dini diajari menengadahkan tangan; meminta dan meminta!

Seorang bapak paruh baya mendekat dan mengamati mereka. Pertunjukkan mereka usai, dan imbalan yang kujanjikan segera berpindah tangan.
”Ditabung ya...” pesanku sebelum mereka berlari. Cerewet kaali kakak ini, mungkin begitu mereka pikir...

”Anak seperti itu aja bisa ngaji... banyak anak orang kaya malah hancur hidupnya...” si bapak berkomentar tanpa ditanya.
”Hehe... begitu ya Pak...”
”Iya... ada yang narkoba lah... sekolah gak bener lah... tapi anak-anak kaya mereka bisa ngaji...”
”Hehe... saya iseng aja tadi Pak. Daripada mereka minta-minta, saya suruh ngaji aja dulu...”
”Ya bagus mereka bisa...”

Akhirnya kami malah berbincang ringan. Sampai tak lama kemudian angkot yang ditunggu oleh bapak itu datang. Sementara mobil yang kutunggu masih tak kunjung datang, kuputuskan untuk meminta orang rumah menjemput saja.

Dan terminal Kampung Melayu semakin diselimuti malam. Sekelebat peristiwa, mungkin mengandung begitu banyak pembelajaran...

Jadi sebenarnya tema tulisan ini apa ya?


Tuesday, 14.04.2009, 09.30 am.


Bersyukur, Berpuas dan Qana'ah


Apakah kebahagiaan itu dan betulkah ia ada?

Pertanyaan ini , kata Mihaly Csikszentmihalyi dalam buku Good Business, telah berabad-abad diperdebatkan. Tapi ia belum juga terjawab. Barangkali ia hanyalah nama yang kita sematkan pada kondisi tak tergapai, ketika tiada lagi hal yang kita hasrati. Tetapi ketika tiada lagi hal yang dihasrati, adakah yang membahagiakan?
Begitu menurutnya.

Mari kita koreksi Mihaly Csikszentmihalyi. Apa yang disampaikannya bukanlah konsep tentang kebahagiaan. Melainkan tentang kepuasan.

Kondisi tak tergapai, ketika tiada lagi hal yang kita hasrati adalah kepuasan. Bukan kebahagiaan. Kebahagiaan seorang mukmin memang tidak terletak pada kepuasan, tapi pada rasa syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Dan wahai sahabat, tahukah engkau apa bedanya bersyukur dengan berpuas?

Berpuas, bukan kepuasan itu sendiri, adalah kondisi dimana seseorang merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya. Lalu tak ada lagi gairah untuk menggapai yang lebih tinggi. Seringkali orang mengidentifikasi berpuas sebagai bersyukur. Kalimat mereka berbunyi, ”Wah Mas, saya sudah bersyukur kok seperti ini.”
Tetapi betulkah yang demikian disebut sebagai kesyukuran?

”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibraahiim, 14 : 7)

Kita yakin dan mengimani bahwa ketika kita bersyukur pada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Ia yang Maha Kaya menambahkan lagi nikmat-nikmatNya untuk kita. Tapi pernahkah kita renungkan sebuah pemahaman terbalik dari ayat ini? Begini. Ajukanlah sebuah pertanyaan. ”Apa yang harus dilakukan oleh seorang yang ingin mendapatkan tambahan nikmat dari Allah?”
Jawabnya, ”Bersyukur.”

Nah, kalau begitu, siapakah orang yang paling bersemangat dalam mensyukuri nikmat Allah? Mereka adalah orang-orang yang ingin menggapai lebih tinggi, meloncat lebih jauh, dan menghambur ke pangkuan Allah. Mereka ini, bukanlah orang-orang yang puas hati. Orang yang paling menghayati syukurnya, adalah orang yang paling merasa membutuhkanNya, menghajatkan nikmat-nikmatNya, lebih tinggi dan makin tinggi lagi.

Tentu kita tak boleh merancukan makna bersyukur dengan makna qana’ah. Bersyukur adalah ’amal shalih untuk mendayagunakan segenap nikmat yang telah Allah karuniakan untuk menggapai yang lebih tinggi. Maka karunia harta menggegas kita untuk berderma. Agar Allah tambahkan nikmat. Agrar kita berinfak lebih banyak. Begitu seterusnya. Maka karunia ilmu menggegas kita untuk beramal dan mengajar. Agar kita lebih memahami. Lalu ilmu semakin tinggi, pemahaman makin berbobot. Dan lagi. Dan lagi. Tanpa henti, hingga Allah memanggil kita kembali.

Bersyukur mengajarkan kita untuk tak berpuas hati dalam meminta pada Ilahi. Terus dan terus. Lagi dan lagi. Lebih banyak dan lebih tinggi. Sang Nabi mengajarkan agar tak tanggung. ”Jika kalian berharap surga,” kata beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, ”Pintalah Firdaus yang paling tinggi!”

Sementara qana’ah adalah perasaan sadar akan kedudukan; siapa Allah dan siapa kita ketika menerima karuniaNya. Qana’ah adalah perasaan yang menuntun kita untuk bersyukur. Saat menerima anugerah Allah kita qana’ah; kita terima dengan penerimaan terbaik, kita dekap dengan erat dan akrab, kita peluk, dan kita cium sepenuh jiwa. Sesudah itu, kita ingin lagi dan lagi; menerima dengan lapang dada, dengan tangan terbuka, dengan segenap hati yang meluapkan cinta. Secara lebih kuat. Secara lebih dahsyat. Lebih. Dan lebih lagi. Maka itulah bersyukur.
Maka kita pun lalu bersyukur.

Di jalan cinta para pejuang, terjebak pada kepuasan hingga tak ada gairah untuk meloncat lebih tinggi adalah perangkap gawat.

Maka bersyukur bukanlah berpuas!
Syukur adalah mendayagunakan segenap nikmat yang telah Allah karuniakan untuk menggapai yang lebih tinggi. Yang berharta, janganlah puas dengan shadaqahnya. Yang berilmu, janganlah berpuas dengan amal dan da’wahnya. Yang bernafas, jangan puas sekedar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah. Berlarilah.

Di jalan cinta para pejuang, bersabarlah, bersyukurlah...
***

(Dikutip dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, karya Salim A. Fillah, hlm. 279-282.)


~kado kecil untuk seorang sahabat. Bersyukur bukanlah berpuas dg apa yg ada...
Tuesday, 14.04.2009, 08:30am



gbrnya dari http://amsyulisbad.blogspot.com/2007/12/alhamdulillah.html
haturnuhun..maap ga ijin..

Mar 10, 2009

Di Pintu Kereta


Baru kali ini aku berdiri di tepi pintu kereta

Memandang peron berjalan
Juga orang yang duduk hendak menumpang
Hilir mudik datang-pulang

Menjalani hidup yang tak pernah selesai.


Baru sekarang ini aku melongok pintu kereta
Menatap langit membentang

Menghirup udara nan menyejukkan
Bebaskan mata bagi cakrawala
Luas,
Seluas mahakarya Sang Pencipta

Baru kali ini kuberdiri di pintu kereta
Meresapi perjalanan
Memaknai kehidupan

Di suatu masa

Akan jua berpulang.


13.10.2008
10.10 wib


note : diketik di hp waktu bnr2 berdiri di pinggir pintu kereta. ternyata asyik banget bediri di deket pintu kereta...adem dan bisa liat pemandangan. pantesan byk yg seneng gelantungan ya...



pic from : http://www.flickr.com/photos/jsampsonak/2752173296/
makasih dan maaf ga ijin..

Jan 15, 2009

[Song for Gaza] We Will Not Go Down*

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight!
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight


Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight


Terjemahan:

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini


download lagunya di :
http://www.michaelheart.com/sfg/downloads/a22685d/dl.php?file=we_will_not_go_down.mp3



*copas dari mp-nya mbak yanti. haturnuhun ya mba ;)

Dec 10, 2008

Pahlawan (2)



Para pahlawan punya cara tersendiri untuk menoreh sejarah dirinya.
Ia sadar, dan tahu kapan harus menyusun kekuatan, kapan pula harus mengkontribusikan.

Tetapi pahlawan tak pernah rela kehilangan momen2 pembuktian amal,
bahkan ia menyesal ketika melewatkan episode perjuangan tanpa sengaja.

Karena mereka tahu, tak selamanya usia berdampingan dengan dunia.
Karena mereka sadar, seringkali takdir jauh dari cita-cita.

Dan itulah sebabnya, mereka tak punya kamus selain berjuang dan mengkontribusikan apapun yang ada, agar kelak waktu mencatat sosoknya sebagai sejarah,
ada atau tiada manusia lain yang mengenang jerih payahnya.

***


ditulis 2 tahun lalu kalo gak salah...
gambarnya diambil dari google, udah lama jg, jadi gak tau sumbernya...


Dec 5, 2008

Pembicara NATO*



Bismillah…

Kata orang, pengalaman adalah guru terbaik.
Dan sepertinya saya harus sepakat.

Dalam 2 tahun terakhir ketika mengisi pelatihan/seminar, banyak sekali peserta yang lebih senior secara usia maupun pengalaman. Dan saya berdiri di depan mereka sebagai fasilitator, pembawa materi.

“Lihat!
Usianya saja jauh lebih mudah daripada kita.
Pengalamannya pasti juga tak banyak.”

Huffffhh....

Jika bicara soal knowledge/pengetahuan, kita bisa meng-upgrade-nya lewat membaca. Tapi kalau soal pengalaman, saya angkat tangan deh.
Kok bisa sih, bicara tentang pengasuhan anak tetapi sendirinya belum berkeluarga?

Duh, Pak, Buu... ampunnn...
Jangan serang saya begitu dunk... Mati kutu nih!

Yaa...alhamdulillah belum ada sih yang secara frontal bicara seperti itu ketika saya tampil. Tapi kadang-kadang saya jadi merasa minder sendiri. Bukan soal saya lebih tahu mengenai materinya. Juga bukan soal penguasaan apa yang saya bawakan. Tetapi ini soal aplikasi.

Sudah belum, kamu tuh mengaplikasikan apa yang kamu katakan?
Sudah belum, kamu benar-benar menghadapi susahnya menangani anak di sekolah sehari-hari?

Setahun terakhir ini saya semakin merasa tak nyaman.
Persoalannya cuma karena saya merasa... kok apa yang saya katakan normatif sekali ya...
Kok yang saya kasih tau ke peserta itu, cenderung ngawang-ngawang ya...
Kok jawaban-jawaban yang saya berikan, tatarannya ideal sekali dan belum tentu mudah direalisasikan?
Lebih dari itu, saya jadi merasa cuma tau teorinya doang, tapi gak ngerti aplikasinya.
Emangnya saya tahu susahnya jadi guru... sekarang malah berani-beraninya ngajarin guru...
Ngomong mah enak... coba kamu yang ngadapin murid sehari-hari...

Solusi pertama adalah tampaknya saya harus segera menikah *lho*
Maksud saya, minimal saya bisa ngerasain punya anak dan mendidiknya. Jadi kalau saya berbagi sama peserta pelatihan atau seminar, saya bisa bilang bahwa saya juga menerapkan apa yang saya katakan.
Gimana ceritanya mau jadi konsultan pernikahan/keluarga tapi belum menikah, coba...

Solusi kedua, saya harus sering-sering ngobrol atau mengamati orang-orang yang sudah punya anak atau juga guru-guru. Biasanya jadi tau masalah yang suka dihadapi. Misalnya, kalau anak suka bandel gimana, kalau menghukum anak yang efektif seperti apa, menyikapi ini gimana, itu seperti apa, dst.

Akhirnya yang paling sering saya lakukan adalah menceritakan pengalaman orang lain. Real, solutif, membumi, dan tentu saja, sangat aplikatif!
Setidaknya ini menutupi ”lubang” pengalaman saya yang minim sekali.
Judulnya kan berbagi, bukan ngajarin... Hehe... ngeles...

Eh tapinya ya, kalau di bisnis saya mah, gak bakalan boleh jadi pembicara kalau bisnisnya gak jalan. Karena pasti keliatan, antara orang yang benar-benar pengalaman berjuang, dengan orang yang sekedar NATO (no action talk only). Jadi, kejujuran dan integritas adalah fondasi utamanya. Karena kalau tidak jujur dan tidak berintegritas, pasti gak akan ada yang respek dan mau mendengarkan.

Tapi kalau disini nihhh yaa...
Dudududu...

Ah, kan udah saya bilang... saya harus resign secepatnya. Hehe...
*ngomong mulu lu, Ndra...kapan resign benerannya!!*
Peace



Thursday, 04.12.08, 07:23pm


*No Action Talk Only