Jun 1, 2009
I'm Wearing Hijab, Don't You...?
Diposkan oleh Indra Fathiana di 6/01/2009 2 komentar
Apr 17, 2009
Terminal Kampung Melayu, Suatu Senja
Bismillah…
Selasa sore di terminal Kampung Melayu, senja menjelang malam.
Jakarta diguyur hujan badai.
Berlebihan?
Ah, tidak. Benar-benar badai.
Hujan mendera tanpa ampun, ditingkahi guntur yang susul-menyusul. Pukul 14.15 wib hari itu langit benar-benar hitam, bukan lagi kelabu. Sama persis dengan kondisi langit pukul 18.00 dalam keadaan normal. Bayangkan!
Beruntung, saat aku pulang pukul 17.00, hujan sudah menyusut.
Sudah sampai terminal Kampung Melayu.
Berjingkat aku melangkah, menghindari masuknya air ke dalam sepatu. Mengapa kerumunan orang begitu banyak menyemut di tengah-tengah?
Kuedarkan pandang ke sekeliling. Arus kendaraan menuju Cawang begitu padat. Rupanya tak banyak angkot yang stand by di terminal. Bukan tak mau, tapi tak sampai. Sepertinya macet luar biasa karena kemungkinan besar banjir dimana-mana.
Aku mematung. Angkotku mana, ya?
Tiba-tiba seorang pengamen kecil mendekatiku. Perempuan. Kutebak usianya baru 8-9 tahun.
”Mbak minta Mbak...”
Refleks aku mengatupkan tangan dan berucap maaf, sembari mengalihkan perhatianku pada kendaraan yang ditunggu.
Tapi ternyata ia tak menyerah.
”Mbak...... minta Mbak...”
Aku menoleh. Kali ini memperhatikan dengan lebih seksama.
Oke... *gak tega 
”Nyanyi dulu...” pintaku. Tidak ada yang gratis di dunia ini, nak...
”Minta mbak...”
”Yah nyanyi dulu. Gak mau ngasih kalau gak nyanyi...”
*maksa mode : on. Lah dia juga maksa... Lo dapet gw dapet donk... haha... 
Akhirnya gadis kecil itu bersiap menyanyi.
”Eh! Jangan nyanyi deh! Ngaji aja!” potongku.
”Ngaji apa Mbak....”
”Umm...apa ya... hafalnya apa?”
”Doa makan aja Mbak??” matanya berbinar.
Seorang bocah kecil lain menghampiri kami. Kali ini jauh lebih muda usianya. 4-5 tahun mungkin? Seketika sejumput perih tiba-tiba hadir bertandang...
”Iya Mbak...Allahumma baariklana fiima rozaqtana waqinaa ’adzaabannaar...” si kecil berteriak tanpa diminta. Wajah polosnya seolah haus pujian.
Aku tersenyum. ”Al Fatihah coba gimana...”
Lalu mereka berlomba melafalkan, berbalap-balapan.
”Allahumma baariklana fiima rozaqtana...”
”Lho... Al Fatihah... kok jadi doa makan terus... Gak mau... coba ulang...”
Aku membantu mengarahkan. ”Bismillaahirrohmaanirrohiim...”
Lalu mereka melanjutkan. Dan aku menyimpul senyum senang. Enak ya ngerjain anak-anak... *lho?! 
Tidak ada yang gratis di dunia ini. Semua perlu harganya sendiri. Jika kamu ingin mendapatkan apa yang kamu inginkan, berusahalah sekuat tenaga.
Hina. Betul-betul hina.
Siapa yang mengajari mereka meminta-minta???
Tak sanggup kubayangkan apa jadinya mereka yang sejak dini diajari menengadahkan tangan; meminta dan meminta!
Seorang bapak paruh baya mendekat dan mengamati mereka. Pertunjukkan mereka usai, dan imbalan yang kujanjikan segera berpindah tangan.
”Ditabung ya...” pesanku sebelum mereka berlari. Cerewet kaali kakak ini, mungkin begitu mereka pikir... 
”Anak seperti itu aja bisa ngaji... banyak anak orang kaya malah hancur hidupnya...” si bapak berkomentar tanpa ditanya.
”Hehe... begitu ya Pak...”
”Iya... ada yang narkoba lah... sekolah gak bener lah... tapi anak-anak kaya mereka bisa ngaji...”
”Hehe... saya iseng aja tadi Pak. Daripada mereka minta-minta, saya suruh ngaji aja dulu...”
”Ya bagus mereka bisa...”
Akhirnya kami malah berbincang ringan. Sampai tak lama kemudian angkot yang ditunggu oleh bapak itu datang. Sementara mobil yang kutunggu masih tak kunjung datang, kuputuskan untuk meminta orang rumah menjemput saja.
Dan terminal Kampung Melayu semakin diselimuti malam. Sekelebat peristiwa, mungkin mengandung begitu banyak pembelajaran...
Jadi sebenarnya tema tulisan ini apa ya? 
Tuesday, 14.04.2009, 09.30 am.
http://direy.blogspot.com/2007/11/suasana-terminal-kampung-melayu.html
haturnuhun..maaf belum ijin..
Diposkan oleh Indra Fathiana di 4/17/2009 1 komentar
Label: Daily
Bersyukur, Berpuas dan Qana'ah

Apakah kebahagiaan itu dan betulkah ia ada?
Pertanyaan ini , kata Mihaly Csikszentmihalyi dalam buku Good Business, telah berabad-abad diperdebatkan. Tapi ia belum juga terjawab. Barangkali ia hanyalah nama yang kita sematkan pada kondisi tak tergapai, ketika tiada lagi hal yang kita hasrati. Tetapi ketika tiada lagi hal yang dihasrati, adakah yang membahagiakan?
Begitu menurutnya.
Mari kita koreksi Mihaly Csikszentmihalyi. Apa yang disampaikannya bukanlah konsep tentang kebahagiaan. Melainkan tentang kepuasan.
Kondisi tak tergapai, ketika tiada lagi hal yang kita hasrati adalah kepuasan. Bukan kebahagiaan. Kebahagiaan seorang mukmin memang tidak terletak pada kepuasan, tapi pada rasa syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Dan wahai sahabat, tahukah engkau apa bedanya bersyukur dengan berpuas?
Berpuas, bukan kepuasan itu sendiri, adalah kondisi dimana seseorang merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya. Lalu tak ada lagi gairah untuk menggapai yang lebih tinggi. Seringkali orang mengidentifikasi berpuas sebagai bersyukur. Kalimat mereka berbunyi, ”Wah Mas, saya sudah bersyukur kok seperti ini.”
Tetapi betulkah yang demikian disebut sebagai kesyukuran?
”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibraahiim, 14 : 7)
Kita yakin dan mengimani bahwa ketika kita bersyukur pada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Ia yang Maha Kaya menambahkan lagi nikmat-nikmatNya untuk kita. Tapi pernahkah kita renungkan sebuah pemahaman terbalik dari ayat ini? Begini. Ajukanlah sebuah pertanyaan. ”Apa yang harus dilakukan oleh seorang yang ingin mendapatkan tambahan nikmat dari Allah?”
Jawabnya, ”Bersyukur.”
Nah, kalau begitu, siapakah orang yang paling bersemangat dalam mensyukuri nikmat Allah? Mereka adalah orang-orang yang ingin menggapai lebih tinggi, meloncat lebih jauh, dan menghambur ke pangkuan Allah. Mereka ini, bukanlah orang-orang yang puas hati. Orang yang paling menghayati syukurnya, adalah orang yang paling merasa membutuhkanNya, menghajatkan nikmat-nikmatNya, lebih tinggi dan makin tinggi lagi.
Tentu kita tak boleh merancukan makna bersyukur dengan makna qana’ah. Bersyukur adalah ’amal shalih untuk mendayagunakan segenap nikmat yang telah Allah karuniakan untuk menggapai yang lebih tinggi. Maka karunia harta menggegas kita untuk berderma. Agar Allah tambahkan nikmat. Agrar kita berinfak lebih banyak. Begitu seterusnya. Maka karunia ilmu menggegas kita untuk beramal dan mengajar. Agar kita lebih memahami. Lalu ilmu semakin tinggi, pemahaman makin berbobot. Dan lagi. Dan lagi. Tanpa henti, hingga Allah memanggil kita kembali.
Bersyukur mengajarkan kita untuk tak berpuas hati dalam meminta pada Ilahi. Terus dan terus. Lagi dan lagi. Lebih banyak dan lebih tinggi. Sang Nabi mengajarkan agar tak tanggung. ”Jika kalian berharap surga,” kata beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, ”Pintalah Firdaus yang paling tinggi!”
Sementara qana’ah adalah perasaan sadar akan kedudukan; siapa Allah dan siapa kita ketika menerima karuniaNya. Qana’ah adalah perasaan yang menuntun kita untuk bersyukur. Saat menerima anugerah Allah kita qana’ah; kita terima dengan penerimaan terbaik, kita dekap dengan erat dan akrab, kita peluk, dan kita cium sepenuh jiwa. Sesudah itu, kita ingin lagi dan lagi; menerima dengan lapang dada, dengan tangan terbuka, dengan segenap hati yang meluapkan cinta. Secara lebih kuat. Secara lebih dahsyat. Lebih. Dan lebih lagi. Maka itulah bersyukur.
Maka kita pun lalu bersyukur.
Di jalan cinta para pejuang, terjebak pada kepuasan hingga tak ada gairah untuk meloncat lebih tinggi adalah perangkap gawat.
Maka bersyukur bukanlah berpuas!
Syukur adalah mendayagunakan segenap nikmat yang telah Allah karuniakan untuk menggapai yang lebih tinggi. Yang berharta, janganlah puas dengan shadaqahnya. Yang berilmu, janganlah berpuas dengan amal dan da’wahnya. Yang bernafas, jangan puas sekedar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah. Berlarilah.
Di jalan cinta para pejuang, bersabarlah, bersyukurlah...
***
(Dikutip dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, karya Salim A. Fillah, hlm. 279-282.)
~kado kecil untuk seorang sahabat. Bersyukur bukanlah berpuas dg apa yg ada...
Tuesday, 14.04.2009, 08:30am
haturnuhun..maap ga ijin..
Diposkan oleh Indra Fathiana di 4/17/2009 1 komentar
Label: Islam
Mar 10, 2009
Di Pintu Kereta

Baru kali ini aku berdiri di tepi pintu kereta
Juga orang yang duduk hendak menumpang
Hilir mudik datang-pulang
Menjalani hidup yang tak pernah selesai.
Baru sekarang ini aku melongok pintu kereta
Menatap langit membentang
Menghirup udara nan menyejukkan
Bebaskan mata bagi cakrawala
Luas,
Seluas mahakarya Sang Pencipta
Baru kali ini kuberdiri di pintu kereta
Meresapi perjalanan
Memaknai kehidupan
Di suatu masa
Akan jua berpulang.
13.10.2008
10.10 wib
note : diketik di hp waktu bnr2 berdiri di pinggir pintu kereta. ternyata asyik banget bediri di deket pintu kereta...adem dan bisa liat pemandangan. pantesan byk yg seneng gelantungan ya...
makasih dan maaf ga ijin..
Diposkan oleh Indra Fathiana di 3/10/2009 6 komentar
Jan 15, 2009
[Song for Gaza] We Will Not Go Down*
WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight!
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Terjemahan:
Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati
Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal
Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini
Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar
Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal
Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini
download lagunya di :
http://www.michaelheart.com/
*copas dari mp-nya mbak yanti. haturnuhun ya mba ;)
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/15/2009 4 komentar
Dec 10, 2008
Pahlawan (2)

Para pahlawan punya cara tersendiri untuk menoreh sejarah dirinya.
Ia sadar, dan tahu kapan harus menyusun kekuatan, kapan pula harus mengkontribusikan.
Tetapi pahlawan tak pernah rela kehilangan momen2 pembuktian amal,
bahkan ia menyesal ketika melewatkan episode perjuangan tanpa sengaja.
Karena mereka tahu, tak selamanya usia berdampingan dengan dunia.
Karena mereka sadar, seringkali takdir jauh dari cita-cita.
Dan itulah sebabnya, mereka tak punya kamus selain berjuang dan mengkontribusikan apapun yang ada, agar kelak waktu mencatat sosoknya sebagai sejarah,
ada atau tiada manusia lain yang mengenang jerih payahnya.
***
gambarnya diambil dari google, udah lama jg, jadi gak tau sumbernya...
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/10/2008 0 komentar
Label: Thought
Dec 5, 2008
Pembicara NATO*

Bismillah…
Kata orang, pengalaman adalah guru terbaik.
Dan sepertinya saya harus sepakat.
Dalam 2 tahun terakhir ketika mengisi pelatihan/seminar, banyak sekali peserta yang lebih senior secara usia maupun pengalaman. Dan saya berdiri di depan mereka sebagai fasilitator, pembawa materi.
“Lihat!
Usianya saja jauh lebih mudah daripada kita.
Pengalamannya pasti juga tak banyak.”
Huffffhh....
Jika bicara soal knowledge/pengetahuan, kita bisa meng-upgrade-nya lewat membaca. Tapi kalau soal pengalaman, saya angkat tangan deh.
Kok bisa sih, bicara tentang pengasuhan anak tetapi sendirinya belum berkeluarga?
Duh, Pak, Buu... ampunnn...
Jangan serang saya begitu dunk... Mati kutu nih!
Yaa...alhamdulillah belum ada sih yang secara frontal bicara seperti itu ketika saya tampil. Tapi kadang-kadang saya jadi merasa minder sendiri. Bukan soal saya lebih tahu mengenai materinya. Juga bukan soal penguasaan apa yang saya bawakan. Tetapi ini soal aplikasi.
Sudah belum, kamu tuh mengaplikasikan apa yang kamu katakan?
Sudah belum, kamu benar-benar menghadapi susahnya menangani anak di sekolah sehari-hari?
Setahun terakhir ini saya semakin merasa tak nyaman.
Persoalannya cuma karena saya merasa... kok apa yang saya katakan normatif sekali ya...
Kok yang saya kasih tau ke peserta itu, cenderung ngawang-ngawang ya...
Kok jawaban-jawaban yang saya berikan, tatarannya ideal sekali dan belum tentu mudah direalisasikan?
Lebih dari itu, saya jadi merasa cuma tau teorinya doang, tapi gak ngerti aplikasinya.
Emangnya saya tahu susahnya jadi guru... sekarang malah berani-beraninya ngajarin guru...
Ngomong mah enak... coba kamu yang ngadapin murid sehari-hari...
Solusi pertama adalah tampaknya saya harus segera menikah *lho*
Maksud saya, minimal saya bisa ngerasain punya anak dan mendidiknya. Jadi kalau saya berbagi sama peserta pelatihan atau seminar, saya bisa bilang bahwa saya juga menerapkan apa yang saya katakan.
Gimana ceritanya mau jadi konsultan pernikahan/keluarga tapi belum menikah, coba...
Solusi kedua, saya harus sering-sering ngobrol atau mengamati orang-orang yang sudah punya anak atau juga guru-guru. Biasanya jadi tau masalah yang suka dihadapi. Misalnya, kalau anak suka bandel gimana, kalau menghukum anak yang efektif seperti apa, menyikapi ini gimana, itu seperti apa, dst.
Akhirnya yang paling sering saya lakukan adalah menceritakan pengalaman orang lain. Real, solutif, membumi, dan tentu saja, sangat aplikatif!
Setidaknya ini menutupi ”lubang” pengalaman saya yang minim sekali.
Judulnya kan berbagi, bukan ngajarin... Hehe... ngeles... 
Eh tapinya ya, kalau di bisnis saya mah, gak bakalan boleh jadi pembicara kalau bisnisnya gak jalan. Karena pasti keliatan, antara orang yang benar-benar pengalaman berjuang, dengan orang yang sekedar NATO (no action talk only). Jadi, kejujuran dan integritas adalah fondasi utamanya. Karena kalau tidak jujur dan tidak berintegritas, pasti gak akan ada yang respek dan mau mendengarkan.
Tapi kalau disini nihhh yaa...
Dudududu... 
Ah, kan udah saya bilang... saya harus resign secepatnya. Hehe...
*ngomong mulu lu, Ndra...kapan resign benerannya!!*
Peace 
Thursday, 04.12.08, 07:23pm
*No Action Talk Only
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/05/2008 2 komentar

