Showing posts with label Daily. Show all posts
Showing posts with label Daily. Show all posts

Mar 13, 2016

Menstruasi Berkepanjangan




Apakah di antara Anda ada yang pernah mengalami haid atau menstruasi berkepanjangan?

Masa haid normalnya berkisar antara 5-8 hari, namun ini tergantung pada siklus menstruasi masing-masing orang. Saya sendiri termasuk yang cukup lama, baru benar-benar bersih hingga 9 hari. Rasanya rugi sekali saat Ramadhan tiba, ketika saya harus bolong puasa 9 hingga 10 hari. Maasyaa Allah, saat mengganti/qadha puasa setelah Ramadhan selesai itu seperti tak selesai-selesai saking banyaknya. Tapi rupanya ada juga yang siklus menstruasinya mencapai 15 hari. Qadarullah, insya Allah ada kebaikan dalam setiap kehendak Allah :)

Saya mengalami haid berkepanjangan atau muncul flek di luar haid sejak masa gadis.  Pernah saya periksakan pada dokter kandungan, namun sang dokter tidak dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada organ vital tersebab saya belum menikah. Diagnosa pun sebatas perkiraan bahwa yang terjadi dikarenakan pengaruh hormon.

Dua bulan terakhir haid saya rupanya muncul 2x dalam sebulan. Yang pertama benar-benar haid, namun yang kedua ini meragukan. Jedanya semenjak suci hanya 5 hari saja dan munculnya di luar kebiasaan. Selain itu saya juga merasakan nyeri di perut bagian bawah yang persis sekali nyeri saat haid. Tapi kali ini karakter darahnya merah dan segar, tidak seperti darah haid yang amis dan kehitaman. Dengan karakter seperti itu, maka saya memutuskan untuk tetap shalat, karena saya yakin ia adalah darah istihadhah (darah penyakit). Alhamdulillah keputusan saya tidak keliru, karena setelah saya berkonsultasi dengan Dr. Valleria, Spog, beliau membenarkan bahwa itu adalah darah istihadhah. Meski demikian beliau menyarankan agar saya memeriksakan diri ke dokter kandungan, karena hal tersebut tergolong abnormal. Diagnosanya hanya bisa tegak setelah ada pemeriksaan langsung. Dan waktu pemeriksaan pun sebaiknya dilakukan saat darah masih keluar, ujar beliau.

Selang bersih 2 hari, rupanya darah keluar lagi seperti semula dengan volume sedang. Kali ini saya mengejar jadwal dokter supaya dapat memperoleh kepastian diagnosa. Maka berangkatlah saya diantar suami tercinta ke dr. Andi Fathimah, spog, di RS Aulia Jagakarsa. Dokter kandungan yang ternyata seangkatan dengan Dr. Valleria ini adalah dokter yang mendampingi selama proses kehamilan anak ke-2 saya. Sosoknya yang keibuan, lembut dan mau menjelaskan dengan sabar membuat saya dan suami nyaman saat berkonsultasi dengan beliau.

Namun tak ayal, berbagai pikiran berkecamuk dan rasa cemas tak juga terhindarkan, khawatir terdapat penyakit yang parah semisal kista, kanker rahim, dsb.. na’udzubillaah. Meski begitu suami menenangkan saya bahwa yang saya alami besar kemungkinan hanyalah pengaruh hormon. Rupanya ia sempat membaca beberapa sumber di internet yang menyebutkan beberapa kemungkinan dari abnormal bleeding ini.

Sampai di rumah sakit sayapun menjalani serangkaian pemeriksaan, yakni periksa dalam (VT/Vaginal Toucher) dan USG. Alhamdulillah rahim saya bersih dan tidak ditemukan kelainan yang mengkhawatirkan. Hanya saja dinding rahim saya rupanya cukup tebal/mengalami penebalan (hiperplasia). Jika dalam keadaan tidak haid ketebalan normal dinding rahim adalah sekitar 3 mm saja, dinding rahim saya saat itu mencapai 10 mm. Dr. Fathimah mengatakan bahwa penebalan dinding rahim ini terjadi karena faktor ketidakseimbangan hormonal, ketika peningkatan hormon estrogen tak diimbangi oleh peningkatan progesteron. Faktor penyebab lain bisa karena di picu oleh Ada gangguan kesehatan, seperti mengidap diabetes, obesitas, atau gangguan yang mempengaruhi kelenjar pituitary (kelenjar di otak yang mempengaruhi hormon), pemakaian obat-obatan yang mengandung estrogen dan progesterone, stres yang berat dan berkesinambungan.

Dengan kondisi seperti ini wajar saja saya mengalami pendarahan, karena dinding rahim yang tebal ini memang akan meluruh dengan sendirinya di bawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron. 
Hiperplasia sendiri memiliki beberapa level, yaitu :
  1. Simplek. Penderita dengan kondisi ini tak perlu cemas berlebihan karena Hiperplasia simplek tergolong ringan dan takkan berakhir dengan keganasan sehingga penderita tetap masih bisa hamil.
  2. Kistik. Seperti halnya simplek, kasus ini tak berbahaya.
  3. Atipik. Kondisi yang satu ini mesti diwaspadai. Atipik cenderung merupakan cikal bakal kanker.
Sementara itu, pengobatan yang bisa ditempuh pasien adalah :
  • Tindakan kuratase selain untuk menegakkan diagnosa sekaligus sebagai terapi untuk menghentikan perdarahan.
  • Terapi hormon untuk menyeimbangkan kadar hormon di dalam tubuh. Namun perlu diketahui kemungkinan efek samping yang bisa terjadi, di antaranya mual, muntah, pusing, dan lainnya. Rata-rata setelah menjalani terapi hormonal sekitar 3-4 bulan, gangguan penebalan dinding rahim sudah bisa diatasi. Jika pengobatan hormonal yang dijalani tak juga menghasilkan perbaikan, terapi akan dilanjutkan dengan obat lain.
Karena rahim saya bersih dan tidak memerlukan tindakan kuretase, maka dr. Fathimah hanya memberikan obat penormal hormon dengan dosis tertentu.

Dr. Fathimah juga menyatakan bahwa hiperplasia ini tidak perlu dikhawatirkan, namun tetap saja dapat menjadi berbahaya di kemudian hari, karena ia berpotensi menjadi kanker rahim. Tetapi, seolah menenangkan saya, dokter Fathimah buru-buru berujar bahwa kanker rahim biasanya terjadi di usia mendekati 50 tahun. Mudah-mudahan saya bisa terus menjaga kesehatan organ kewanitaan sehingga tak perlu mengidap penyakit yang parah. Dan untuk Anda, jika mengalami menstruasi berkepanjangan, ada baiknya untuk segera memeriksakan diri ke dokter agar dapat diketahui penyebabnya dan tentu saja treatment yang tepat.
referensi :
http://www.kompasiana.com/omri/apakah-yang-perlu-diketahui-wanita-mengenai-hormon_550eda9a813311b82cbc65eb
http://novalrohman.net/cara-menyembuhkan-penebalan-dinding-rahim.html
http://menstruasi.com/node/123


Jan 18, 2013

Bunda Dikuncikan Farah


Bismillah…

Ini cerita tentang Farah. Antara getir untuk dikenang, lucu untuk ditertawai, sekaligus bikin geleng-geleng. Jadi bingung mau tertawa atau sedih. Hehehe…

Ceritanya Farah umur 11 bulan waktu kejadian ini. Sedang puncak-puncaknya fase separation anxiety alias tidak mau berpisah lama-lama dari Bundanya. Menghilang dikit si Bunda dari pandangan, tangisannya meledak lalu ia akan berjalan tertatih-tatih mencari.

Sore itu Bunda kepingin pipis. Gak mungkin donk bawa-bawa si Farah ke toilet.. jadi Bunda tinggalkan Farah di ruang tengah sambil mengendap-endap. Sebab kalau diberitahu, sama aja dia akan nangis juga.

Dan benar, belum ada 1 menit Bunda di kamar mandi, Farah nangis dan menyusul ke toilet. Awalnya hanya merengek. Tapi karena tidak kunjung dibukakan pintu, dia menggedor-gedor sambil menangis kencang.

And the story starts…

Pintu kamar mandi itu ada selot kunci di luar dan dalam. Dan Farah yang cerdas meraih selot luar, menggesernya sehingga… “srettt!”, pintu terkunci.

Bunda sama sekali gak nyangka Farah bisa menggeser selot kunci itu sehingga Bunda terperangkap di dalam. Sambil memanggil-manggil nama Farah, Bunda menahan sedih mendengar tangisannya yang semakin kencang. Ya Allah, anakkuu… apa yang kamu lakukan?

Sambil coba mengendalikan diri, Bunda bicara pada Farah. “Farah tenang ya.. buka kuncinya, Sayang. Ayo digeser lagi seperti tadi. Pegang selotnya ya…”

Tentu saja Farah yang masih 11 bulan itu tidak mengerti bagaimana menggeser selot yang terkunci. Jadi dia hanya menangis, meraung-raung karena tidak kunjung melihat Bundanya.

Kehabisan akal, Bunda juga mulai terserang panik.  Gak mungkin ini selot terbuka kalau tidak dibuka dari luar. Dan tidak ada orang sama sekali di rumah. Tapi.. ada tetangga! Barangkali mereka dengar…
Berteriaklah Bunda melolong di tengah tangisan Farah yang super kencang.
“Tolooooooonggg….. Tolooonggg…..”

Sekali, dua kali, tiga kali, enam kali… sepuluh kali…
Ya Robb, tidak ada orang yang dengar… sakitnya tenggorokanku berteriak.. padahal suara mereka di luar rumah sekilas terdengar dari dalam WC.

Bunda pun berusaha menarik pintu kamar mandi yang terbuat dari stainless. Tapi terlalu kuat, tidak bisa ditarik!

“Dindaaaaaa….. toloooongg….. Divaaaaaaa…. Tooo..loooongggg!!” Bunda berusaha lagi memanggil nama anak-anak sebelah.
“TOOOOOOLOOOOOOOONGGGGG…. DINDAAAAA…… DIVAAAA…… OM SONIIIIIIII….. TOOOLOOOOONGGGGG!!!!”

Nama tetangga Bunda sebut satu-persatu. Tetap tidak ada respon.
Hujan mengguyur dan menerbitkan suara menderu.

Ya Allah bagaimana ini… Farah semakin keras tangisnya. Dan bunda semakin panik karena hopeless berteriak tanpa hasil.

Akhirnya Bunda coba selipkan tangan Bunda ke luar pintu lewat daun pintu yang atas. Farah sedikit tenang dalam sesenggukan.  “Tenang ya Farah, Bunda sedang berusaha…”

Tapi… tangan Bunda tidak sampai!  Selot kuncinya terlalu jauh. Tangan Bunda terjepit!

Ya Robb… hopeless lagi. Komat-kamit hati Bunda berdoa pada Allah minta diberikan cara atau pertolongan. Lalu Bunda teriak lagi sekencang-kencangnya, “TOOOO…LOOOOOONGGGG!!!!”, ditemani suara Farah yang tak kalah kencang menangis dalam kepanikan. Tak terasa mata ini ikut berkaca-kaca saking bingungnya.

“Farah… Farah keluar yaa.. ke pintu, Nak.. Farah panggil Kakak Dinda, atau Kakak Diva…”
Tapi Farah tidak mengerti sama sekali.

Dalam kepasrahan Bunda coba ambil gayung, lalu menyelipkannya di antara daun pintu supaya celah yang terbuka semakin lebar sehingga tangan ini bisa masuk. Lumayan sakit juga tangan ini terjepit. Ayo, ayo sedikit lagi…

Arghh… gak bisa!

Farah terus menangis.. dan Bunda semakin panik.

Gayung diselipkan lagi, kali ini didorong terus ke arah bawah, terjepit di pintu dan… “Grombyaanggg….!”

PINTU TERBUKA!!! Slot kuncinya terlepas bersama sekrup-sekrupnya.
Alhamdulillaaahh….

“FARAAAAAAHHH….!!!!!”
Seperti ibu dan anak yang sudah berpuluh tahun berpisah tak pernah jumpa, Bunda langsung memeluk Farah yang menangis hebat. Membelainya dalam pelukan sembari menenangkannya.   Dan Farah kecil yang tadinya menangis kencang langsung terdiam dalam dekapan Bunda.

“Are you oke, Farah? Sudah gak papa ya Sayang… Bunda disini… Farah peluk Bunda ya…”
Sore itu haru sekali… gak tega dengar tangisan Farah yang begitu sedih dan memeluk Bunda begitu kencang seolah tidak ingin berpisah.

Bunda langsung susui Farah supaya dia semakin nyaman. Matanya menatap Bunda dengan kesedihan. Merasa bersalah sekaligus kehilangan amat-sangat. Sesekali nafasnya masih tersengal di antara tenggorokan yang menelan ASI.
“Ssssh… tenang ya Sayang.. kan Bunda sudah disini sama Farah… J

Begitu terkendali semua, Bunda keluar menemui tetangga di depan rumah, mamanya Diva. Mau laporan.

“Mbak, aku baru aja dikunciin Farah di kamar mandi…”
“Hah, saya gak dengar apa-apa…” kata mama Diva.
“Iya saya teriak kenceng banget , mbaak…” hiks… sedih bener gak ada yang denger, keluh Bunda dalam hati.
“Ooo jadi itu tadi kakak yang teriak kenceng-kenceng? Pantesan Diva tadi kayak dengar suara orang minta tolong… tapi gak jelas, soalnya kan ketutup suara hujan, Diva pikir suara darimana…” kali ini Diva angkat suara.
“Tapi Alhamdulillah udah bisa keluar.. Kasian Farah nangis kenceng tadi.. Gak kedengeran sama sekali??”
“Enggak, kak Inda.. gak kedengeran. Orang ujan deres banget…”
Hufftt… yasudahlah. Nasipnya Bunda deh.
“Makanya Kakak lain kali kalo mau ke WC bilang Diva dulu.. nanti Diva jagain Farahnya.”
Owh so sweet Diva yang baik.. tapi tawarananya rada telat yak? -_-‘
“Baiklah lain kali kakak titip Farah yah…”

Bunda bawa Farah masuk ke dalam lagi.. menyusui lagi sambil menatapnya penuh kasih.
“Farah sayang, tadi hebat banget bisa kunci pintu kamar mandi… Tapi Bunda kan jadi terkunci di dalam.. Lain kali tidak usah main kunci lagi ya Nak.. kan kasian jadinya Farah nangis di luar.. Ya?”
Mata Farah menatap Bunda lekat-lekat. Sesenggukannya mulai terdengar lagi, seperti merasa bersalah dan bilang, “Maafin Farah ya Bunda…”. Lalu Bunda peluk bidadari Bunda ini sambil menenangkannya lagi.

See… harus tertawa bangga, atau mengurut dada bersedih ya karena kejadian ini?
Oh, Farahku sayang… tak habis pikir Bunda dibuatmu, Nak… Semoga gak terulang lagi ya...



18 Januari 2013, 00:33 wib.
Ditulis Bunda saat Farah sudah berumur 14 bulan.

Apr 17, 2009

Terminal Kampung Melayu, Suatu Senja

Bismillah…


Selasa sore di terminal Kampung Melayu, senja menjelang malam.

Jakarta diguyur hujan badai.
Berlebihan?
Ah, tidak. Benar-benar badai.
Hujan mendera tanpa ampun, ditingkahi guntur yang susul-menyusul. Pukul 14.15 wib hari itu langit benar-benar hitam, bukan lagi kelabu. Sama persis dengan kondisi langit pukul 18.00 dalam keadaan normal. Bayangkan!

Beruntung, saat aku pulang pukul 17.00, hujan sudah menyusut.
Sudah sampai terminal Kampung Melayu.
Berjingkat aku melangkah, menghindari masuknya air ke dalam sepatu. Mengapa kerumunan orang begitu banyak menyemut di tengah-tengah?

Kuedarkan pandang ke sekeliling. Arus kendaraan menuju Cawang begitu padat. Rupanya tak banyak angkot yang stand by di terminal. Bukan tak mau, tapi tak sampai. Sepertinya macet luar biasa karena kemungkinan besar banjir dimana-mana.

Aku mematung. Angkotku mana, ya?

Tiba-tiba seorang pengamen kecil mendekatiku. Perempuan. Kutebak usianya baru 8-9 tahun.

”Mbak minta Mbak...”
Refleks aku mengatupkan tangan dan berucap maaf, sembari mengalihkan perhatianku pada kendaraan yang ditunggu.

Tapi ternyata ia tak menyerah.
”Mbak...... minta Mbak...”
Aku menoleh. Kali ini memperhatikan dengan lebih seksama.
Oke... *gak tega

”Nyanyi dulu...” pintaku. Tidak ada yang gratis di dunia ini, nak...
”Minta mbak...”
”Yah nyanyi dulu. Gak mau ngasih kalau gak nyanyi...”
*maksa mode : on. Lah dia juga maksa... Lo dapet gw dapet donk... haha...

Akhirnya gadis kecil itu bersiap menyanyi.
”Eh! Jangan nyanyi deh! Ngaji aja!” potongku.
”Ngaji apa Mbak....”
”Umm...apa ya... hafalnya apa?”
”Doa makan aja Mbak??” matanya berbinar.
Seorang bocah kecil lain menghampiri kami. Kali ini jauh lebih muda usianya. 4-5 tahun mungkin? Seketika sejumput perih tiba-tiba hadir bertandang...

”Iya Mbak...Allahumma baariklana fiima rozaqtana waqinaa ’adzaabannaar...” si kecil berteriak tanpa diminta. Wajah polosnya seolah haus pujian.

Aku tersenyum. ”Al Fatihah coba gimana...”
Lalu mereka berlomba melafalkan, berbalap-balapan.
”Allahumma baariklana fiima rozaqtana...”
”Lho... Al Fatihah... kok jadi doa makan terus... Gak mau... coba ulang...”
Aku membantu mengarahkan. ”Bismillaahirrohmaanirrohiim...”
Lalu mereka melanjutkan. Dan aku menyimpul senyum senang. Enak ya ngerjain anak-anak... *lho?!

Tidak ada yang gratis di dunia ini. Semua perlu harganya sendiri. Jika kamu ingin mendapatkan apa yang kamu inginkan, berusahalah sekuat tenaga.
Hina. Betul-betul hina.
Siapa yang mengajari mereka meminta-minta???
Tak sanggup kubayangkan apa jadinya mereka yang sejak dini diajari menengadahkan tangan; meminta dan meminta!

Seorang bapak paruh baya mendekat dan mengamati mereka. Pertunjukkan mereka usai, dan imbalan yang kujanjikan segera berpindah tangan.
”Ditabung ya...” pesanku sebelum mereka berlari. Cerewet kaali kakak ini, mungkin begitu mereka pikir...

”Anak seperti itu aja bisa ngaji... banyak anak orang kaya malah hancur hidupnya...” si bapak berkomentar tanpa ditanya.
”Hehe... begitu ya Pak...”
”Iya... ada yang narkoba lah... sekolah gak bener lah... tapi anak-anak kaya mereka bisa ngaji...”
”Hehe... saya iseng aja tadi Pak. Daripada mereka minta-minta, saya suruh ngaji aja dulu...”
”Ya bagus mereka bisa...”

Akhirnya kami malah berbincang ringan. Sampai tak lama kemudian angkot yang ditunggu oleh bapak itu datang. Sementara mobil yang kutunggu masih tak kunjung datang, kuputuskan untuk meminta orang rumah menjemput saja.

Dan terminal Kampung Melayu semakin diselimuti malam. Sekelebat peristiwa, mungkin mengandung begitu banyak pembelajaran...

Jadi sebenarnya tema tulisan ini apa ya?


Tuesday, 14.04.2009, 09.30 am.


Mar 10, 2009

Di Pintu Kereta


Baru kali ini aku berdiri di tepi pintu kereta

Memandang peron berjalan
Juga orang yang duduk hendak menumpang
Hilir mudik datang-pulang

Menjalani hidup yang tak pernah selesai.


Baru sekarang ini aku melongok pintu kereta
Menatap langit membentang

Menghirup udara nan menyejukkan
Bebaskan mata bagi cakrawala
Luas,
Seluas mahakarya Sang Pencipta

Baru kali ini kuberdiri di pintu kereta
Meresapi perjalanan
Memaknai kehidupan

Di suatu masa

Akan jua berpulang.


13.10.2008
10.10 wib


note : diketik di hp waktu bnr2 berdiri di pinggir pintu kereta. ternyata asyik banget bediri di deket pintu kereta...adem dan bisa liat pemandangan. pantesan byk yg seneng gelantungan ya...



pic from : http://www.flickr.com/photos/jsampsonak/2752173296/
makasih dan maaf ga ijin..

Dec 3, 2008

Menginspirasi, Bukan Memotivasi


Bismillah…

Sebagaimana manusia biasa, saya berulang kali mengalami
penurunan motivasi.
Termasuk juga soal bisnis. Kalau lagi malas rasanya benar-benar tak bergairah. Ekstrimnya malah jadi ingin berhenti.

Tapi alhamdulillah saya sudah menemukan solusinya.
Kalau sedang malas, yang saya kerjakan kemudian hanyalah memaksakan diri untuk melakukan. Ternyata, energi itu saya temukan justru ketika saya berbuat. Dan motivasi itu tumbuh seiring pergerakan kita.

Jadi, bukannya menunggu motivasi dulu, baru bergerak.
Tapi bergerak dulu, hingga dorongan itu tercipta dengan sendirinya.

Kata sepatu Nike mah, “Just Do It!”.
Begitu kira-kira poin pertamanya.

Sekarang kita masuk ke poin kedua.

Ceritanya kemarin sore saya baru saja bertemu partner bisnis untuk memberikan arahan. Padahal saya lagi agak malas. Tapi demi tanggung jawab dan biar semangat lagi, akhirnya saya lakukan juga.

Benar bahwa saya menjadi energik setelah melakukan pekerjaan saya, tanpa menunggu termotivasi dulu sebelumnya. Tapi begitu selesai, saya ngos-ngosan.
Perasaan sih tadi saya gak ngomong sampai setengah jam deh...
Tapi kekuatan saya seperti terkuras…


Begitu si rekan pulang, saya langsung teringat pesan senior saya,

“Jangan menjadi motivator, tapi jadilah inspirator.”


Saya mengerti sekarang.

Saya kelelahan karena terlalu banyak bicara, memotivasi.
Yang diberi arahan sih manut-manut saja. Tapi kok saya jadi merasa ‘tersedot’ ya?? Dan seberapa lama motivasi itu akan bertahan?


Butuh banyak pengetahuan/knowledge untuk menjadi seorang motivator.
Dan biasanya harus termotivasi dulu sebelum dapat memotivasi orang lain.

Lalu apa bedanya dengan inspirator?
Inspirator, tanpa banyak kata, secara otomatis menjadi motivator bagi orang lain. Jika motivator mendorong orang lain melalui lisannya dan ia dapat memotivasi orang lain sebelum ia melakukan apa yang dimotivasikan, maka seorang inspirator melakukan hal-hal yang mampu mendorong orang lain, tanpa perlu ia katakan sebelumnya. Inspirator mampu memancing insight yang membuat orang lain berpikir, kemudian terdorong melakukan sesuatu.

Contoh konkretnya nih…

Misalnya saya sedang malas membaca buku.

Lalu datang orang pertama, si motivator.

Dia bilang, “Baca buku itu nambah wawasan lho! Jadi pinter, banyak pengetahuan…”


Lain dengan si inspirator.

Tanpa banyak cincong, dia rajin baca buku minimal 1 judul sehari.
Begitu dia bicara, kata-katanya bernas semua.


Lihat perbedaannya?


Ketika didorong oleh si motivator, saya jadi rajin membaca. Tapi saat tidak dimotivasi, saya jadi malas lagi.

Beda dengan si inspirator. Dengan melihatnya saja, saya jadi kagum dan berpikir, kok kalimat yang keluar dari mulutnya meaningful semua ya.
Lalu saya cari tahu mengapa bisa seperti itu.
Begitu dapat jawabannya bahwa dia memiliki kebiasaan membaca minimal 1 judul sehari, saya meneladaninya tanpa ia minta.

Well…

Banyak bicara memang melelahkan. Apalagi kalau tujuannya memotivasi, seperti pengalaman saya di atas.
Begitu kita tidak memotivasi, objek yang kita tuju kehilangan gairahnya. Sebab motivasi yang tumbuh pada dirinya berasal dari luar alias motivasi eksternal.
Terlebih lagi kalau yang kita motivasi ternyata tidak termotivasi. Makin merasa lelahlah kita…

Berbeda dengan menjadi inspirasi.
Tanpa banyak bicara, perbuatan kita mampu membuat orang di sekitar kita tergugah.
Lebih dari itu, contoh yang kita berikan melalui perilaku, mampu menimbulkan perubahan yang lebih maksimal : menggerakkan!

Inilah yang disebut motivasi intrinsik, dorongan yang berasal dari dalam diri sendiri. Dalam banyak literatur psikologi, motivasi intrinsik disebut-sebut terbukti lebih mampu membuat suatu perilaku bertahan.
Tambahan lagi dari rekan senior saya, inspirasi juga akan lebih (mudah) diingat ketimbang motivasi karena real, nyata terlihat.

Disini peran si inspirator hanyalah trigger, pemicu. Tak lebih dari itu.

Dan jangan lupa, integritas merupakan modal utamanya.


Jadi, pelajaran yang bisa dipetik hari ini adalah:
1. Jangan tunggu motivasi muncul baru kita mau bergerak. Tapi bergeraklah, lalu lihat apa yang terjadi *dengan gaya Mario Teguh*. Hehehe…
Maksud saya, bergeraklah, lalu rasakan bahwa motivasi itu tumbuh dengan sendirinya. Makin banyak kita bergerak, semangatnya juga makin membesar. Setidaknya itu yang saya rasakan.

(Btw saya sudah mencoba dan berhasil. Kalau gak percaya, cobain deh sendiri )

2. Jadilah inspirator, bukan motivator.
Selain melelahkan, menjadi motivator terkadang tak selalu membuat orang tergerak. Kalaupun ia tergerak, kemungkinan hanya sementara waktu. Sedangkan inspirator, tanpa banyak bicara, mampu membuat orang lain terdorong lalu bergerak dengan motivasi yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

Kesimpulan umumnya, kalau dipikir-pikir mah, kuncinya lagi-lagi mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang juga... hehehe...
Ayo SMANGATTT....
:D

~NyemangatinDiriSendiri...
Tuesday, 02.12.08, 10:30pm



Ibu 40 Hari (2)

Sayur:

Sayur asem
Sayur sop bakso
Tumis kacang panjang
Pecel
Sayur labu santan plus tahu


Lauk :
Ikan lele goreng
Balado kentang
Tempe goreng biasa/tepung
Perkedel jagung


Daftar belanja :
Ikan lele 7.000
Bahan sayur asem 3.000
Tempe 2 lonjor 4.000
Jagung manis 6.000an
Bumbu dapur 1.000
Cabe hijau 2.000
Cabe merah 3.000
Cabe rawit 1000
Ceker ayam 3.000
Bahan sayur sop 2.000
Bakso 4.000
Kentang 5.000
Tauge 1.000
Daun bawang-seledri 1.000
Kacang panjang 1.500
Bumbu pecel 3.000
Tahu pong 3.000
Labu siam 4.000….


HAH
Belanja begituan doank abis 50 ribu!!!
Padahal itu gak ada ayam atau daging…
PARRAHHHH……………

~sutris! >_<>

pic from : http://portugues.istockphoto.com/file_closeup/food-and-drink/
fruits-and-vegetables/5966189-vegetable-cartoon-collection.php?id=5966189

Nov 10, 2008

Berilah Kasih Lebih Banyak!




Bismillah…



Baru-baru ini saya sedang menghadapi ujian.

Standar ya? Namanya juga hidup. Kalau hidup gak mau dapet ujian, ke laut aja… Hehe…

Dibilang ringan... yaa…sebenarnya memang tidak terlalu berat. Tapi dibilang menyebalkan, lumayan. Semacam kerikil di sepatu kita gitulah. Masih bisa buat jalan sih, tapi mengganggu.

Nah, syukurnya kemarin itu saya mendapat ‘taushiyah’ dari Andrian, seorang nasrani yang merupakan mentor bisnis saya nan ganteng tapi udah punya istri *lho*. Kqkqkqkq… (hush!)

Berhubung Andrian ini sibuk banget dan saya jarang ketemunya, jadilah hari itu saya menyimak baik-baik setiap kata yang keluar dari lisannya. Pria berusia 29 tahun ini mengawalinya dengan berkisah,


“Dulu, ada seorang agen asuransi yang jatuh terpuruk karena terlilit hutang. Rumahnya sampai disita dan ia harus menggelandang di pinggir jalan. Bertemulah dia dengan para gelandangan lainnya dan hidup bersama mereka beberapa lama. Sampai suatu ketika, si penghutang berbaik hati memberinya penangguhan dan mengembalikan rumahnya selama beberapa waktu, sampai ia bisa melunasi hutang-hutangnya.
Singkat cerita, rumah itu ia tempati lagi dan ia menjalani kehidupan normal seperti sedia kala.
Suatu hari, datang seorang gelandangan yang ingin menumpang di rumahnya. Dan si agen asuransi ini mempersilakannya dengan senang hati. Toh ia hidup sendirian di rumah itu, pikirnya,”.

Sampai situ Andrian berhenti dan mengajukan pertanyaan,
”Nah, kalau Anda jadi si agen asuransi tadi, apakah ada di antara Anda yang mau begitu saja mempersilakan gelandangan masuk ke rumah Anda?”

Lalu ia melanjutkan lagi,

“Hari-hari terus berjalan dan agen asuransi ini terus bekerja keras. Tak disangka-sangka, suatu hari ia bertemu dengan seseorang, yang ingin membeli asuransinya yang termahal!”
Mata Andrian berbinar-binar. Dan saya mulai merasakan darah saya berdesir di dalam.

“Kisah kedua…” lanjut Andrian.
“Ada sebuah toko yang menjual barang mebel. Lalu datanglah seorang nenek berkunjung ke sana. Melihat penampilan nenek yang tampak bersahaja ini, seorang pelayan hanya bertanya singkat, “Cari apa?” sambil bersikap acuh tak acuh dan cuek.

Akhirnya pindahlah nenek tersebut ke toko lainnya. Di toko ini, sang pelayan melayani nenek ini dengan begitu ramah dan santun. Disapanya nenek itu, lalu ditanyainya, kira-kira apa yang perlu dibantu. Dengan sangat melayani, pelayan itu mengambilkan barang yang dibutuhkan.
Waktu terus berjalan dan suatu hari, ada seorang pengusaha kaya-raya yang ingin membeli mebel dalam jumlah besar. Ternyata pengusaha ini merupakan cucu si nenek tadi. Tanpa pikir panjang, nenek itu meminta cucunya membeli mebel di toko tempat ia berbelanja dulu yang melayaninya dengan sangat baik!”

Masih dengan bersemangat, Andrian bercerita.
“Kisah ketiga…” ujarnya.
“……….”
Uh, saya lupa bagaimana cerita ketiganya itu. :D


Intinya, Andrian rekan saya ini ingin menyampaikan pesan, “Berilah kasih lebih banyak!!! Dan Tuhan pasti akan membalasnya dengan lebih banyak lagi!”
Lalu tentu saja ada yang bergemuruh di dalam hati saya.


Ah, kalau saja tak banyak orang di situ, airmata saya pasti sudah tumpah.

Pasalnya, baru-baru ini saya merasa kesal sekali dengan seorang rekan yang saya sudah bantu pun, masih tak mau bergerak sendiri di atas kakinya. Seperti mendorong kerbau yang tak bergeming sedikitpun dari kubangan lumpur tempat ia berpijak! Padahal saya ingin mendorongnya ke padang rumput yang hijau dan subur, dan ia tahu itu!


Tapi Andrian mengingatkan saya.


Apakah saya sudah memberi kasih dengan tulus? Apakah saya sudah benar-benar berniat membantunya? Apakah saya sudah melakukan semuanya tanpa pamrih dan hanya benar-benar ingin menolongnya?


“Beri kasih lebih banyak dan buang egoismu! Karena kita tidak akan bisa sukses jika egois dan tidak membantu orang lain!”

Sore itu, saya memungut hikmah yang tercecer dari seorang nasrani bernama Andrian.
Dan seringkali ia membawakan nasihat yang kalau saya tafsirkan dalam bahasa saya, intinya tentang meluruskan niat.


Saya jadi berkaca.
Perasaan saya hari itu memang cukup negatif. Kesal, gemas, geregetan, campur aduk semuanya. Bayangkan!
Rekan saya itu bermasalah, lalu ia mengadu pada saya. Lalu saya coba menawarkan solusi. Tapi ternyata ia malah memilih untuk berkubang dengan masalahnya dan tak mau bertindak!! Ugggghhh… gemesssss! >_<


Makanya, kata-kata Andrian hari itu seperti siraman ruhani buat saya. Dan saya paham betul, ia sudah mengalami tempaan yang mengharuskan ia melakukan nasihatnya terlebih dahulu, sebelum menyampaikannya pada saya dan rekan-rekan lain.
Maksud saya, saya tahu benar bahwa Andrian punya integritas; tidak lagi sekedar cuap-cuap berteori, apatah lagi ‘ngemeng’ dalam konsepsi-konsepsi yang hebat tapi kosong implementasi.


Dan tak jarang saya teringat pada kata-kata Ali bin Abi Thalib,

“Lihat apa yang dikatakan. Jangan lihat siapa yang mengatakan”.

Dalam pengamatan saya, terkadang Andrian yang nasrani itu jaaauh lebih konkret mengaplikasikan teori sikap positif daripada saya yang notabene muslim ini, yang kesemua konsepnya sudah tercakup dalam ajaran Islam, terdokumentasikan dalam Al Qur’an, dan juga sudah dicontohkan lebih dulu oleh Rasulullah saw, sang teladan sepanjang zaman.

Sayangnya, saya pribadi terkadang masih sulit bersikap positif, dan naasnya, banyak muslim yang saya temui sehari-hari, juga demikian! Jago bicara soal konsep ukhuwah, tapi bergesekan sedikit dengan saudaranya, jadi sangat mudah kecewa. Pandai menyitir ayat tentang mengubah keadaan diri sendiri, tapi amat sangat minim aksi.


Jika Mario Teguh mengibaratkan Islam sebagai tipe komputer tercanggih dengan software terlengkap, dan agama lainnya sebagai tipe komputer yang tidak selengkap dan secanggih Islam, maka tak lebih, saya hari ini belajar dari Andrian yang nasrani dengan segenap kemanusiaan saya.

Ceceran hikmah itu ada pada fithrah Andrian yang hanif.

Lurus. Bening.
Dan cahayanya tak padam-padam, malah akan terus bersinar.

Mengomentari hal ini, rekan bisnis saya yang lain malah berkata,
“Itulah bedanya. Andrian itu seperti mutiara. Sayangnya, ia masih berada di lumpur dan belum menyadarinya.”


Kita yang muslim, mungkin memang berlian.
Tapi coba pikirkan. Betapa seringnya kita sibuk menggores diri sendiri, membiarkannya cacat dengan perilaku negatif dan bukannya malah memancarkan cahaya…




Big thanx to Pak Andrian atas nasihat dan inspirasinya :)

~Monday, 10.11.08, 08:24am.



pictures are taken from: www.cardiophile.com
thx soo much. maaf ndak ijin yo..

Nov 7, 2008

Buat Apa Nge-blog???


Bismillah.


Pertanyaan itu sudah terpikirkan sejak lama sebenarnya. Buat

apa nge-blog? Tapi kemudian mencuat lagi setelah perbincangan saya dengan seorang teman beberapa waktu lalu. Saya bukan pemantau rutin blog beliau. Ketika saya menanyakan perkembangan blognya, dengan mimik serius dia mengatakan, ”Blog saya sudah saya hapus,”.


Lho, mengapa?

”Blog jadi menimbulkan banyak fitnah... gak ikhlas, takut riya’ dan merasa bagus...” demikian ujarnya.

Alasan dibalik itu yang kemudian membuat saya berpikir.

Saya sudah gelisah sejak lama. Apakah saya harus berhenti menulis? Apakah secara ekstrim saya hapus saja jejak-jejak eksistensi saya dalam bentuk tulisan yang ada? Apakah saya lebih baik tidak usah menuangkan pikiran dan mengenyahkan aktualisasi diri serta turunannya?


Teringat saya tiba-tiba pada perkataan Fudhail bin Iyadh. Ujarnya, "Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya', sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan. Adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya," (Maksud beliau adalah apabila ada seseorang meninggalkan amal kebaikan karena takut riya', seperti dia tak mau shalat sunnah karena takut riya', berarti dia sudah terjatuh pada riya' itu sendiri. Yang seharusnya dilakukan adalah tetap melaksanakan shalat sunnah walaupun di sekitarnya ada orang, dengan tetap berusaha untuk ikhlash dalam amalnya tersebut.Lihat Tazkiyatun Nufuus karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid, hlm.17, dengan beberapa perubahan).


Saya tahu blog memang berpotensi menimbulkan fitnah (keburukan –red). Bentuknya bisa macam-macam. Mulai dari fans lawan jenis, musuh, penyakit hati, dan lain-lain. Tapi, blog juga berpotensi bessssarrr sekali dalam menyebarkan pemikiran, me-leading kognisi, dan bahkan juga menciptakan budaya menulis yang kreatif, segar, imaginatif, yang kesemuanya saya maksudkan dalam bingkai yang positif. Setuju apa setujuuu...? :)


Nah, ujian berikutnya muncul dari komen para pembaca tulisan kita. Katanya, blog yang bagus pasti banyak pengunjungnya. Logika ini juga berlaku dalam seberapa banyak jumlah komentator tulisan-tulisan yang kita posting.


Pertanyaan saya, apakah benar banyaknya komentar mengindikasikan bahwa tulisan kita bagus? Dan sebaliknya, apakah sedikit atau tidak adanya komentar juga menandakan bahwa tulisan kita buruk?

Ah, kalau parameternya sesederhana itu, betapa kasihannya saya dan mereka yang menulis hanya untuk mengharapkan komentar dari orang-orang :)


Lagi-lagi saya teringat pada hadits yang tak pernah usang dibahas ini. "Sesungguhnya amal itu tergantung niat.....” (Hadits Bukhari Muslim dengan sanad yang shahih).


Nah, sebagai muslim, tentu saja kita ingin apapun yang kita lakukan bernilai ibadah. Berwujud amal sholih. Wong aktivitas mandi yang sesepele itu juga bisa bernilai ibadah kok. Kan menjaga kebersihan merupakan sebagian dari iman... (wah, kalau selama ini kita mandi cuma begitu aja gak pake diniatin buat ibadah, sayang banget ya..).


Apalagi menulis yang niatnya menyebarkan nilai-nilai positif dan berbagi pada sesama.

Yang sangat memprihatinkan buat saya, sejak awal ngeblog, saya tidak pernah habis melihat postingan-postingan yang isinya hujatan dan caci-maki. Rasanya kalau masuk ke blog itu, energi saya terserap begitu banyak. Pulang dari sana, hati saya mendadak jadi capek luar biasa.


Dulu saya juga pernah komplain dengan seseorang sambil menyebut namanya di blog saya. Berharap dia membaca, malu karena keburukannya saya kupas, dan kemudian saya berharap para pembaca berpihak pada saya. Saya sungguh puas!! Tapi saya sudah menyakiti orang lain dan juga menyebarkan kebencian padanya.


Adalah aman bagi saya jika ia adalah orang yang pemaaf. Tapi bagaimana jika tidak? Bagaimana jika di hari kemudian ia menuntut saya, lantas amal kebaikan saya berpindah kepadanya?


Tak sedikit pula yang mengomentari fenomena sehari-hari, lalu menuangkan opini negatifnya atas fenomena tersebut, lalu memancing sekian banyak komentator yang tak kalah negatifnya. Duhhh... rasanya dada saya jadi sesak setelah berkunjung ke blog itu.

Apalagi kalau isi maupun komen-komennya diimbuhi dengan hujatan, caci-maki, perasaan tak suka, atau kata-kata kotor, yang terekspos sedemikian rupa. Jengah!!


Jika kita memang tulus untuk mengingatkan, mengapa tak langsung saja menyampaikannya kepada yang bersangkutan? Apakah kita juga suka jika orang lain mengingatkan atau membuka aib dan kesalahan kita di depan khalayak ramai?


Rasa-rasanya saya tak yakin ada di antara kita yang menyukainya.

Lagi-lagi saya mengurut dada. Semua kembali pada niat masing-masing. Jika tidak bisa menebar manfaat, semoga kita tak perlu menjadi mudharat. Jika tak bisa menyemai kebaikan, semoga kita juga tak perlu menjadi sumber munculnya keburukan.

Dan barangkali kita juga perlu waspada. Jangan-jangan, perbuatan yang selama ini kita anggap baik, ternyata sama sekali tak bernilai!

Alih-alih merasa bangga bersinar di hadapan manusia, ternyata kita tak lebih dari seonggok sampah di hadapan-Nya...

Dan merugilah kita... merugilah kita...



~mengingatkanDiriSendiri...

Mohon maaf buat yang sudah terzhalimi selama saya ngeblog ya :’(

Thursday, 6.11.08, siang2 gitu deh ngetiknya...



thx to : http://ghuroba.blogsome.com/2007/05/23/ikhlas-betapa-sulitnya/
pic from http://www.latinonutrition.org/Resources-LinkstoOtherOrganizations.htm

Oct 24, 2008

Jilbab Panjang atau Pendek, Hayoo...


bismillah...



Jilbab?
Pake yang panjang atau yang pendek ya...
Yang panjang aja deh.
Hayo...niat pake yang panjang buat apa nih...
Biar dibilang 'akhwat solehah'-kah...
atau biar gak keliatan bentuk tubuhnya...
atau biar keliatan lebih anggun, lebih santun, lebih cewek...
atau biar dibilang lebih pinter agamanya daripada yang jilbabnya pendek...
atau biar lebih cantik...
atau biar apa hayoo...


***


Sesungguhnya yang paling saya takutkan pada kalian adalah syirik paling kecil” Para sahabat bertanya : “Apa yang dimaksud syirik paling kecil itu?”
Beliau menawab : “Riya`”

(HR Ahmad no 22742 dan Al Baghawi.
Syekh al Albani berkata : sanadnya baik (jayyid) (lihat Silsilah Hadits Shahihah no 951)




~jeweranBuatDiriSendiri
Friday, 24.10.08, 10:09pm


Aug 30, 2008

Triggering Traumas



bismillah.


Di warnet.
Baru duduk beberapa menit, tiba2 datang seorang bapak.

Lalu berteriak memanggil nama anaknya...

"ABCDEEEEEEEEE............PULAAAAAAAAANG!!!!!"

Kencang menggelegar seperti petir.

Aku terkesiap.
Tersentak.
Kaget. Bingung.

Dan si anak 7 tahunan yang dipanggil namanya itu menghampiri ayahnya dengan takut-takut.
Sampai di luar, sang ayah masih berteriak penuh marah.
"BERANI LU SAMA GW YA!!!"
Nyaris menempeleng sang bocah dengan tangannya.


Memori berkelebat seketika di benakku.

Berputar. Mencuat-cuat. Menari dalam trauma yang tak tertahankan.

Seperti cermin, kejadian itu memantul-mantul. Sama!
Amarahnya. Emosinya. Luapan kemurkaannya.
Arrrggghh............!


***


Masih di warnet. Beberapa puluh menit kemudian.

Duduk seorang anak perempuan, 15 tahun.
Putri si pemilik warnet rupanya.
Dan sang ayah duduk tak jauh dari tempat duduknya, mengamati putrinya yang beranjak remaja memainkan games online.

"Yahhh....gitu aja kalahh... Hehe...." ledek sang ayah, menggoda.
"Iya entar dulu niiihhh..... susahh... dikit lagii..." sang putri tertawa malu.

Dan aku terpasung dalam diam lagi.

Juga seperti cermin, memantul-mantul tanpa diminta sedikitpun tuk muncul kembali.

Memori mengencangkan daya, amat serupa.
Sayangnya, candanya, tawanya.

Membesut degup-degup kerinduan yang memancar tiba-tiba.

Rindu. Hanya rindu.


***

Tuhan, aku bertanya.

Adakah patuh juga diharuskan terhadap salahnya asuhan???

Atas teriakan? Amarah? Ledakan emosi berlebihan? Kata-kata kasar? Umpatan?

Berlindung di balik ayat-ayat penghormatan?

Haruskah???




~isThereAnyShelterOutThere,God?!iDon'tWannaGoHome
:'(
Saturday, 30.08.08, 10:04pm


pic from jeffalooza.com/
maaf gak ijin...

Aug 26, 2008

A Great Dad

Bismillah…

Adakah di antara kalian yang suka menonton serial Nanny 911 di Metro TV? Begitu muncul pertama kali, acara ini langsung menjadi salah satu tayangan favorit yang selalu saya usahakan untuk menontonnya. Percaya deh, untuk para calon orangtua dan bahkan yang sudah menjadi orangtua, acara ini memberikan banyak pembelajaran.

Nanny 911 di Ahad, 25 Mei lalu, menayangkan gambaran keluarga dengan tiga anak dimana sang ibu kesulitan mengurus putra-putrinya. Jika berhadapan dengan situasi sulit bersama anak-anaknya di rumah, ia selalu bergantung pada suaminya yang dianggapnya lebih bisa meng-handle polah sang anak. Tentu saja hal ini tidak sehat, karena Dad harus bekerja dan ia ingin istrinya bisa menangani masalah rumah dengan baik tanpa harus selalu bergantung padanya.

Dalam video ini, digambarkan kalau sang ibu sangat tidak tahan mendengarkan rengekan anak-anaknya, lalu ia akan melakukan apapun untuk membuat mereka diam, dan justru hal itulah yang membuat anak-anaknya selalu meminta perhatian. Sebaliknya, sang ayah digambarkan sebagai sosok yang penyabar, bisa membuat anak-anaknya menuruti perintah tanpa harus kehilangan kharisma.

Satu dialog antara suami-istri itu yang saya rekam baik-baik bunyinya seperti ini…
“Mengapa kamu tidak bisa mengatasinya sendirian?” tanya Dad.
“Engkau lihat sendiri bahwa aku memang tidak sanggup. It’s too hard for me!”
“Mengapa kamu selalu mengatakan bahwa itu berat dan berat?”
“Karena memang begitulah kenyataannya, aku tidak bisa mengatasi hal ini sendirian!”
“Jadi kamu berpikir bahwa jika aku menanganinya, itu tidak berat buatku???”
“Ya!”
“Itu juga berat untukku! Tapi mengapa kamu selalu berpikir jika aku yang menghadapinya, itu tidak berat????”
“Karena kamu tidak pernah mengeluh dalam melakukannya!”
“Mengapa aku tidak mengeluh, karena itu memang tugasku sebagai ayah untuk mendidik anak-anakku!”
Dan si Mommy terdiam.

Pelajaran pertama yang bisa dipetik adalah, Mom belajar kalau sekali-kali emang harus tega sama anak, karena dia suka gak tahan mendengar rengekan. Akhirnya kalau anak merengek, apa yang diminta anak akan diberikan supaya dia diam. Bisa ditebak, anak akhirnya merengek setiap ia minta sesuatu, dan rengekannya itu adalah senjata supaya permintaannya dituruti oleh ibunya.

Pelajaran kedua, mari lihat kalimat terakhir dari dialog Mom and Dad yang saya tulis di atas. Ketika Mommy mengeluh tidak mampu menangani permasalahan anak-anaknya, yang Dad katakan adalah…
“Aku tidak mengeluh karena itu memang tugasku sebagai ayah untuk mendidik anak-anakku!”.

What a powerful responsibility!
Saya sampai terharu di depan tivi… soalnya baru kali itu mendengar kata-kata demikian dari seorang ayah. Sayangnya sama keluarga, perhatiannya, wujud tanggung jawabnya, semua seperti tercermin di satu kalimat tadi. Nanny sendiri bahkan mengatakan bahwa Dad dalam episode kali itu adalah salah satu ayah terbaik yang pernah ia temui! Wahh...

Well, serial Nanny selalu berakhir dengan bahagia. Akhirnya Mom bisa lebih tegas terhadap anak-anaknya, dan keluarga mereka hidup dengan lebih bahagia.

Satu hal yang selalu jadi insight tiap kali nonton Nanny 911 adalah, jadi orangtua itu gak mudah... Hehehe...
Tapi kalau suami-istri bisa menjadi partner yang baik dan saling bantu dalam menjalani perannya, plus juga menjaga dengan sangat komunikasi yang baik di antara mereka, insya Allah semuanya bisa berjalan dengan lancar.

Sekian report saya untuk acara Nanny kali ini… Yang belum pada nonton, sok nonton yah. Berguna banget tuh buat bekal berkeluarga :)


pic from:
www.giggle-bug.com/
www.tvshowsondvd.com
www.epi-man.com/english/kids-e.html

Aug 12, 2008

Pejantan Tangguh?!

Bismillah…



Ini kisah tentang perjuangan yang tak biasa. Atas nama keyakinan, untuk sebuah tujuan.

Tetapi kepala saya menggeleng kuat-kuat. Kok bisa ya?


Ketika saya bertanya kepada seorang senior pria di kampus 2 tahun lalu mengenai

‘mengapa pria senang menggoda wanita’, jawabnya adalah ‘salah satunya tak lebih dari memenuhi rasa penasaran saja. Jika ia sudah mendapatkan wanita itu (entah menjadi pacar atau istri), maka ya sudah. Rasa penasaran itu tertebus dan disitulah para

pria menikmati proses petualangannya yang menantang’.

Mendengar jawaban itu, saya hanya manggut-manggut.

Begitu ya…


Tapi kebingungan saya tidak berhenti sampai disitu. Lagi-lagi saya dibuat tak habis pikir dengan polah calon suami rekan saya. Begini ceritanya.


Suatu waktu mereka berkenalan via internet dalam rangka saling bertukar informasi mengenai suasana kerja di suatu perusahaan di timur Indonesia. Rekan saya berada di Jakarta, sementara pria itu sedang bekerja di Papua.

Beberapa lama kemudian, si pria memberitahu bahwa ia sedang di Jakarta. Bertemulah mereka untuk sekedar bersilaturrahim, tidak hanya berduaan, tetapi juga dengan rekan lainnya. Dua bulan kemudian, si wanita rekan saya menerima teleponnya.


“Saya ingin meminangmu,” ujar si lelaki tanpa bisa menyembunyikan rasa gugupnya.

Bagai tersambar petir, lunglailah si wanita rekan saya ini. (sekedar informasi, menerima berita bahwa akan ada pria yang meminang, apalagi disampaikan secara langsung, adalah salah satu hal yang bikin para wanita jantungan. Yaa.. setidaknya buat saya dan teman saya inilah…).


“Mengapa saya? Mengapa tidak yang lain?” ini pertanyaan refleks yang biasanya dilontarkan wanita yang tidak menyangka bakal ‘ditembak’.

Dan si pria tidak banyak memberikan jawaban selain satu kalimat itu: insya Allah saya yakin dengan dirimu.

Hebohlah teman saya ini. Pasalnya ia tidak menyangka sama sekali akan mendengar berita itu dari mulut si pria yang bersangkutan. Ketika ia curhat ke saya, jawaban saya cuma satu : beristikharahlah.

Ya habis apalagi yang lain?


Usai beristikharah dan akhirnya memutuskan untuk memulai proses tanpa pacaran,

teman saya mulai mencari-cari informasi tentang pria ini dari rekan-rekannya. Termasuk juga menimbang-nimbang bagaimana kemungkinan-kemungkinan berkeluarga jarak jauh karena lokasi kerja sang pria terletak di ujung timur Indonesia sana.

Proses berlanjut begitu saja. Dan si perempuan mulai bercerita dan meminta masukan dari kakak-kakaknya yang sudah berpengalaman. Singkatnya, para kakak ingin agar sang pria menemui mereka.


Kisah dramatis itu dimulai disini.

Ceritanya, si pria mengambil cuti beberapa lama dari Papua sana untuk menemui kakak-kakak teman saya. Meluncurlah pria itu ke Jakarta, lalu mencari-cari alamat kakak teman saya di kota Depok yang sama sekali belum pernah ia jamah! Setelah berlelah-lelah di perjalanan, ia menyampaikan maksudnya kepada kakak sang perempuan, sambil terbata-bata. Kerongkongannya tercekat, seraya diaturnya nafas baik-baik agar sedikit tenang,


“Insya Allah saya berniat menikah dengan si A. Saya juga sadar jika memang ikhtiar saya tidak berhasil nanti….”.

Pria itu terdiam sejenak. Dan tak lama bibirnya bergerak lagi.

“Insya Allah saya ikhlas …” ujarnya sambil bergetar dan hampir menangis.


Ya. Papua-Jakarta bukanlah jarak yang dekat. Apalagi tidak ada jalan selain harus naik pesawat kesini. Bisa perhitungkan berapa ongkos yang harus ia bayar?

Di samping itu, ia harus mencari alamat rumah kakak si perempuan di daerah antah-berantah yang belum pernah sama sekali ia datangi. Sudah begitu juga, ia masih harus berpasrah seandainya Allah tidak menghendaki ia berjodoh dengan wanita yang menjadi pujaan hatinya!


Berkali-kali saya dan rekan saya itu berdiskusi tentang hal ini. Mengapa ada lelaki segigih itu, memperjuangkan sesuatu yang ia sendiri tak tahu bagaimana hasil akhirnya?? Mengorbankan sekian banyak waktu, tenaga, uang, hanya untuk berusaha merealisasikan keyakinan yang… ah, benar-benar tak habis pikir kami berdua.


Yang jelas kegigihan sang pria terus berlanjut.

Perlu lebih dari 1 kali untuk bolak-balik Papua-Jakarta mengurus urusan ini. Untuk menemui orangtua si gadis, ia meminta bantuan kepada ustadznya yang pernah membimbing ilmu keislaman selama ia di Jakarta. Entah malang atau memang demikianlah jalannya, rumah sang ustadz begitu jauh dari tengah kota Jakarta. Begitu tiba di Jakarta (dari Papua), pagi itu ia bergegas mencari rumah sang ustadz, lalu menempuh perjalanan beberapa jam menuju rumah si wanita. Bisa dipastikan, sampai di rumah teman saya itu, penampilannya sudah berkurang rapinya, dan yang tampak adalah wajah kelelahan dengan baluran keringat.

Well…saya masih saja tidak mengerti.


Begitulah. Singkat cerita, proses ini berlanjut sampai akhirnya rekan saya dipinang oleh sang pria. Keluarga besar sang pria dari Palembang jauh-jauh datang ke Jakarta dan prosesi khitbah itu saya rasakan begitu menggetarkan. Buat saya saja yang hanya mendengar kisahnya menjadi begitu terharu, apalagi bagi sang pria yang sudah berikhtiar sedemikian susah.


Bayangkan, saudara-saudara!

Bagaimana jika usahanya yang berdarah-darah itu ternyata berujung pada

kegagalan?



Kembali ke soal tantangan yang katanya disukai oleh para pria, apakah semua terhenti sampai disana? Maksud saya, jika goal sudah dicapai, apalagi yang sebenarnya para pria cari? Sekedar pemuasan batiniah semata, atau ada hal lainnya? Kalau begitu, jangan-jangan kita harus mewaspadai bahwa polah para pria yang gigih memperjuangkan keinginan mempersunting wanita idaman hanyalah sebagian dari ego ambisinya dalam menaklukkan sesuatu. Kalau sudah begitu, biar saja para wanita jual mahal dan membiarkan para pria berproses menikmati perjuangan merebut hati-hati mereka. Toh jika berhasilpun, itu hanya sekedar capaian pribadi yang memuaskan dirinya saja, bukan?


Hehe. Tulisan saya provokatif tidak ya?

Ini bukan masalah gender, lho. Jujur saya cuma sedang penasaran mengapa seorang pria, seperti calon suami rekan saya itu, bisa sedemikian gigih memperjuangkan wanita, dengan hanya berbekal sepotong keyakinan. See, keyakinan saja. Sesederhana itu, kata teman saya di Bandung sana.

So, gimana nih, para pria? Ada tanggapan? ;)



-bingungYangTakBerujung;p

Monday, August 11, 2008. 2:38pm.



pic from http://www.myflowerclipart.com/illustration/15/man_giving_flower_to_girlfriend_or_boyfriend

gossippolice.com/donations.htm