Ada kesejatian yang menggantikan luapan gairah cinta, dan rasanya itu lebih kekal. Bukan lagi sekedar 'passionate love', dimana kedekatan fisik mengalirkan endorfin yang meluap-didih dalam letup-letupnya, tapi cinta beranjak ke tempat yang lebih tinggi, dengan cita rasa memalung, juga mengakar.
Maka ketika sumbunya menerang nyala, romantisme mungkin menjelma bumbu pelengkap kemudian. Sudah kautemukan perasaan cinta yang bergetar lain dalam senyap kekaguman, dalam rembes kesyukuran, dalam kukuh keterikatan. Ia muncul di saat-saat genting juga lapang, ketika hal sepele maupun mahaberat menghinggap sesuka-suka mereka. Di kepalanya berkelindan rencana untuk terus bertahan. Di tangannya berurat pekerjaan untuk diselesaikan. Dan di hatinya ada tekad bergurat-gurat untuk mewujudkan jutaan impian.
Dan kita mungkin tidak melulu sempat berbincang sembari mendekatkan raga, mengistirahatkan jiwa. Waktu beranjak cepat, dinamis penuh tantangan dikejar zaman. Tapi disitulah cintamu dipasung bangunan agung bernama iman dan kepercayaan. Meski terkadang terbawa duga yang dirajut manis para durjana, engkau akan paham ketika ia pulang dalam kerut lelah yang membadainya seharian. Pun begitu, masih cukup tenaganya untuk terbangun malam-malam; sekedar menghangatkan susu atau turut menenangkan tangisan.
Benar. Cinta bergerak dari romantika menuju komitmen yang kuat. Dan kuatnya komitmen teruji dari pengorbanan keseharian, dalam perbuatan yang hanya perlu dilakukan.
Disitulah kita semakin memaknai kesejatian cinta dalam bakti dan amal, bukan lagi fase mengurai kata semata. Karena jika engkau mengaku cinta, maka pekerjaanmu selanjutnya adalah memberi sebanyak-banyaknya.
Rabu, 02.11.2011 - 13:08 wib.
~untukmu, yang slalu sigap menafkahi kami, menggendong, menggantikan popok dan memandikan putri kita : terima kasih telah menjadi suami & ayah yang kami banggakan...
Tiba-tiba aku bercerita begitu saja tentang dia. Dan temanku bercerita hal yang sama tentang dia-nya.
Bercermin pada kisahnya, membuatku kadang terpekur. Betapa aku seringkali bertanya-tanya, mengapa mereka –dan mungkin hampir semua orang di dunia ini- begitu mudah mencintai orang-orang seperti dia. Dan aku tidak bisa.
Atau barangkali belum mau?
Mungkin juga.
Tapi apakah aku salah?
Jauh dari dirinya seperti kali ini, menyisakan sesak tersendiri. Kadang iba, kadang tak tega. Tapi dekat kerap kali neraka. Airmata. Amarah. Kesah. Juga tanda tanya maha besar dalam putus asa: Tuhan, mengapa?
Lalu aku meraba-raba perannya. Mungkin sepi dan butuh teman bercerita.
Lalu coba merasakan jika yang diharap mendengar tak lagi ada. Atau tak mau menjadi teman duduk sembari makan camilan berteman teh hangat di waktu senja.
Perih, mungkin. Juga sunyi bertubi-tubi. Benar-benar seperti senja: remang, antara sinar matahari yang kian berkurang, dan kemunculan burung hantu yang kukuknya membuat cekam. Serta-merta senyap pun menyeruak ke bumi dalam malam yang selalu hitam.
Tapi aku masih tak bisa lupa. Menjadi tampungan serapah adalah menanggung luka seumur hidupmu: konsep diri yang tumpah-ruah-hancur-lebur-rusak-parah, dan perasaan terbuang-tak diinginkan-tertolak-tak layak ada. Maka percobaan bunuh diri barangkali menjadi episode dramatisasi hebat yang tampak berlebihan.
Namun tolong pandang mataku baik-baik, kawan. Dan juga mata mereka yang bernasib sama. Kami menanggung luka, lalu apakah kalian menawarkan obatnya? Atau kalian hanya bisa menyumpahi kami dengan norma?
Beranjak seperti ini adalah ketenangan meski mungkin terbumbui sedih dan durja. ”Banyak hal berubah”, kata seorang teman di luar sana. ”Tapi ternyata ada yang tak bisa. Dan dia termasuk yang tidak. Jadi, pergilah.”
Dan aku pergi walau tak disengaja. Dalam keadaan berjarak, mungkin lebih mudah merajut maaf, meski juga perlu usaha. Setidaknya mengembalikan kasih dan iba karena bagaimanapun, siapa bisa menolak eksistensi karena andilnya pula. Setidaknya juga menyulam pinta, menyusun gambaran di kehidupan kedua. Bisa jadi, mungkin saja, do’a-do’a yang terlantun ini meringankan bebannya nanti di akhir masa, ketika tiada lagi iba dari-Nya.
Rona merah terbias berpadu kuning mentari, memendarkan eksotika cahaya yang seringkali mampu menggubah hati tiba-tiba, menjelma pujangga. Tenggelam sang surya ke peraduan, membiarkan abu-abu kemudian menutup cakrawala, menyambut selimut temaram sang malam. Dan panggilan Tuhan lalu berkumandang.
Tertipu kita. Selalu muncul sangka bahwa matahari berpulang dan besok ia akan muncul lagi menjalankan tugasnya. Tapi sekali-kali tidak. Nyatanya himpunan pijar api itu tak pernah berhenti terbakar. Dan ia tak pernah memudar. Hanya saja bumi yang memutar posisi. Berkeliling tak henti. Menaklukkan retina yang tak dapat melongok lebih dalam kemana siang atau malam turun atau tenggelam. Menyuguhkan waktu yang sedemikian tertata rapi, sekedar menegaskan bahwa siangmu sudah selesai, atau pagimu baru saja dimulai.
Walau demikian, binar tajam itu tak dapat menunggu. Ia hanya peduli dengan apa yang tertera di depan mata. Perputaran buana masih setia dengan 24 jamnya, tapi tak sudi ia memikirkan kemana mentari menghilang, dari mana pula rembulan selalu datang. Ada jutaan tugas yang lebih penting dari sekedar menulis roman, melukis senja, atau berasyik-masyuk menunggu purnama.
Jika tugasnya hanyalah terbang dan terus terbang, mengapa ia harus berpikir dan duduk santai sementara ada yang menunggu dengan lapar tertahan? Secepatnya, sebelum rembulan datang, ia harus pulang membawa buruan. Tak apa jika berlelah-lelah di waktu pagi dan siang, meskipun harus berulang kali memutar haluan.
Hari itu langit berpadu dalam biru dan putih yang berkilauan. Kiranya optimisme menggetarkan angkasa dan bumi, karena atas dasar kasih ia harus pergi mencari. Lembaran demi lembaran awan yang bertebaran, memaparkan terbentangnya sekian banyak ruang berikhtiar.
Tapi sayang.
Setengah perjalanan, nalurinya mencium firasat yang membuat hati tak nyaman. Ada hitam menggulung di kejauhan. Ada bau sejuk dingin yang tercium, dan udara seketika menjadi lembab pekat, bergumul dalam resah yang kian menguat.
Dan hujan mulai berjatuhan.
Tapi ia tak punya alasan untuk kembali pulang.
Kaki kukuhnya telah melangkah. Sepasang sayapnya telah mengepak gagah. Dan pekiknya telah membahana, menebar gigih yang menerabas keraguan atas segala rintangan. Ada yang menunggu. Dan ia tak mungkin kembali tanpa hasil signifikan.
Terbang ia.
Dan tak dihiraukannya tetes demi tetes yang semakin mengair bah dari langit, juga kilat yang menyambar-nyambar tubuh hingga menembus ke kulit.
Ada yang menunggu. Ada yang menanti. Dan tak mungkin ia kembali tanpa hasil meski sedikit.
Tapi ia memang hanya mampu berusaha. Kuasa Penciptanya jauh lebih kuat dari sekelumit ikhtiar, lebih rumit dari apa yang selama ini ia rencanakan. Gempita badai hari itu terlalu sulit ditembus. Guntur yang bersahut-sahut serasa menulikan telinga yang mulai kuyup. Apakah ia harus berkeras-keras mendapatkan makan, sementara jika diperolehnya pun, belum tentu ia akan selamat kembali pulang?
Dikepaknya lagi sayap kokoh itu. Ia tahu tugasnya hanya memaksimalkan usaha. Selebihnya, biarlah Yang Maha Melihatnya hari itu yang menentukan hasilnya.
Tetapi angin mempermainkan tubuhnya yang semakin limbung, lalu gelegar guntur nyaris menyambarnya tanpa ampun, membuat ia berkelit, dan tak lama terhuyung jatuh menukik.
Ah. Barangkali kali ini ia memang harus menyerah. Adalah konyol untuk memaksakan diri memenangkan hati, tapi setelah menang ia mungkin mati. Untuk apa berarti kini, dan esok yang tersisa hanyalah penyesalan di hati?
Lunglai, tubuhnya yang kehabisan tenaga memutar arah. Jika tidak hari ini, tentu ada esok hari. Jika gemuruh petir itu sulit tertandingi kini, barangkali esok malah muncul pelangi.
Pulang, tiba ia di hadapan cintanya.
Adakah apologi yang dapat dikemukakan tanpa harus berdusta?
Seraya menahan sakit dan gemuruh rasa bersalah di dada, suara sengaunya akhirnya berkata,
Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang mem
buat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.
Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu di sana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:
O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.
Mari kita ikut berbela sungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.
Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.” Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.
Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu kita pada posisi kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justru melakukan pekerjaan besar dan agung: mencintai.
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang terjadi sesungguhnya hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: “apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.
Jadi, kita hanyalah patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan.
Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.