Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Jun 4, 2014

Ketika Si Kecil Tantrum



Bismillah..

Menghadapi anak tantrum mungkin menjadi pengalaman nyaris semua orangtua di muka bumi ini, termasuk saya. Peristiwa horor ini berawal saat Farah, putri sulung saya, berusia 1 tahun 10 bulan, dan intensitas tantrumnya cenderung menjadi-jadi pada usia 2 tahun.
Farah kecil memulai aktivitas tantrum pertamanya dengan menangis saat ia tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Kabar buruknya adalah, kita sebagai orang terdekatnya sekalipun tidak selalu bisa memahami apa yang ia minta. Tangisannya mulai tak wajar : panjang, lama, penuh kemarahan, kadang juga disertai tindakan menyakiti diri sendiri. Para ahli bilang, tantrum adalah perilaku yang wajar karena anak-anak belum bisa mengekspresikan kekesalan mereka dalam cara yang tepat. Bahkan mereka sendiri juga belum tentu paham apa sebenarnya yang mereka inginkan.
Jadi, ketika Farah tantrum untuk pertama kalinya, saya hanya bilang pada diri sendiri dan ayahnya, “Oke, ini saatnya.”, dan kami mengambil ancang-ancang seperti penunggang kuda yang siap menarik pelana.  Berikut tips-tips yang pernah kami terapkan :


1)  Ilmu Dulu Sebelum (Berkata dan) Beramal
Kutipan masyhur dari ulama besar Imam Bukhari ini sangat relevan diterapkan dalam berbagai sendi kehidupan.  Menyikapi atau melakukan sesuatu memang lebih enak jika sudah punya ilmunya. Maka saya dan suami pun membekali diri dengan pengetahuan seputar tantrum: apa, bagaimana, kapan, dsb. Dengan memiliki ilmu dan informasi yang cukup, alhamdulillah kami tidak terlalu terkejut dan dapat lebih logis ketika menghadapinya.

2)  Tetap Tenang.
Tetap tenang dalam situasi itu rupanya benar-benar tidak mudah, karena anak trantrum seolah-olah menguji sejauh mana kita dapat bersabar. Beberapa cara yang saya coba lakukan agar tetap tenang antara lain, menarik nafas panjang beberapa kali,  berdzikir atau bertaawudz (berlindung dari godaan syaitan agar tak terpancing emosi/marah), minum beberapa teguk, mensugesti diri agar tenang, atau bahkan menertawai sikap tantrum anak yang tidak rasional. Pernah suatu saat putri saya mengamuk sambil menangis keras. Lalu ia meminta saya pergi menjauh, dan saya pun menjauhinya. Baru saja keluar kamar, ia berteriak lagi, “Bunda sini aja..”.
Lihat, sangat tidak rasional, bukan? :D. Justru karena sikap mereka irasional, kita mesti paham bahwa tantrum seringkali tidak perlu dihadapi dengan serius.. hehe.. :)

3) Tonton Saja
Saat anak tantrum, anggaplah ia adalah aktor yang tengah berakting dan kita adalah penontonnya yang tidak terlibat sama sekali dalam adegan tersebut. Tips yang saya dapatkan dari babycenter.org ini rupanya sangat efektif mengendalikan diri saya sendiri. Lho, bukannya yang butuh dikendalikan itu adalah anak??
Sewaktu tantrum, biasanya anak sulit untuk dibujuk, ditenangkan, apalagi diperintah. Sehingga yang perlu dilakukan di awal adalah mengendalikan diri kita sendiri sebelum kita dapat mengendalikannya. Dengan menjadi penonton dan menguasai diri, kita tidak akan terpengaruh dengan adegan  apapun yang anak lakukan. Tonton saja, tak perlu terlibat. 

4) Rendahkan suara
Mendengar tangisan anak yang melengking dan mengamuk, apalagi di tengah orang banyak, seringkali memancing kita untuk meluapkan emosi secara lisan. Jika kita ingin berkata-kata di tengah tantrum anak, pastikan posisi tubuh kita sejajar dengan anak dan suara kita berintonasi rendah.  Posisi tubuh yang sejajar akan memberikan rasa aman pada anak dan perasaan dihargai. Sementara nada bicara yang rendah akan memunculkan feedback emosi lebih terkuasai, dan suara kita juga terdengar lebih berwibawa di depan anak. Sebab suara yang penuh kemarahan biasanya akan dibalas dengan tangisan yang lebih kencang atau tantrum yang semakin menjadi.
Di poin ini, kita bisa bicara pada anak dengan suara yang tegas namun tetap lembut,
“Kamu mau minta apa? Bicara yang jelas, karena Bunda tidak paham jika kamu menangis.”. Dengan cara ini anak akan memahami bahwa tangisannya bukanlah cara yang efektif untuk meminta sesuatu.

4) Biarkan
Salah satu cara efektif menyikapi tantrum adalah dengan membiarkannya, begitu kata banyak ahli. Yang pernah saya lakukan adalah sebagai berikut :
a)      Membiarkan sambil menemani
“Oh.. Farah sedang marah ya. Gak papa, Bunda temani ya nangisnya.” Demikian kalimat yang acap saya katakan saat putri saya tantrum. Saat ia menangis hebat, saya hanya diam, berusaha tetap tenang sambil memperhatikannya.  Cara ini efektif selama kita bisa mengendalikan diri dan tidak terpengaruh oleh tangisannya yang bisa jadi sangat-sangat annoying.

b)      Meninggalkannya
Kadang, saya meninggalkan Farah yang sedang tantrum karena khawatir ikutan kesal atau memang ada hal lain yang harus dikerjakan. Biasanya saya katakan padanya, “Farah kalau sudah selesai nangisnya, kasih tahu Bunda ya,”. Setelah itu kita perlu menengok sesekali, memastikan apakah ia sudah selesai dengan tantrumnya atau belum. “Sudah selesai belum nangisnya? Oh.. belum ya. Ok, Bunda pergi lagi ya. Nanti kalau sudah selesai nangis, bilang ya Far.”
Begitu tangisnya sudah mulai mereda, kita bisa mendatangi sambil memberikan apresiasi berupa kalimat positif, ciuman atau pelukan. “Wah, sudah selesai ya nangisnya.. Anak Bunda pinter sekali, gak nangis lagi. Coba cerita sama Bunda, Farah maunya apa...”.


Teknik komunikasi seperti ini juga pernah saya terapkan saat Farah minta sesuatu. Ketika itu Farah minta digendong, tetapi sambil menangis. Karena saya dan ayahnya tidak ingin mengabulkan permintaan yang dilakukan sambil menangis, kami tidak mengabulkannya. Kontan saja ia tantrum hebat. Tapi kami berusaha konsisten sambil terus mengatakan, “Ayah akan gendong kalau Farah diam. Sudah belum nangisnya?”. Farah yang mulai mengerti pun berusaha menghentikan tangisnya. Seketika itu pula ayahnya menggendong Farah. Namun saat Farah mulai menangis lagi, ayahnya meletakkan lagi ke lantai. Begitu seterusnya berkali-kali sampai Farah benar-benar berhenti menangis. Saat ia berhenti dan sudah tenang, barulah ayahnya menasehati bahwa meminta digendong tidak perlu sambil menangis, tapi cukup bilang saja baik-baik. Sampai sekarang pola ini kami pakai ketika ia kumat (meminta sesuatu sambil menangis/menangis tanpa alasan yang jelas). Dan alhamdulillah Farah sudah sadar, jika kami mendiamkannya maka lama-kelamaan  ia akan berusaha mengendalikan tangisannya sambil tersengguk-sengguk dan berkata, “Sudah, Bunda... Sudah.”. Itu artinya, ia sudah selesai menangis dan siap untuk berbicara baik-baik.


5) Memastikan Keamanan Anak
Seringkali anak yang tnatrum melakukan hal-hal yang berbahaya seperti membentur-benturkan kepalanya ke lantai atau tembok, memukuli badannya sendiri, berguling-guling dll. Ketika membiarkan anak mengekspresikan diri dengan tantrumnya, kita perlu memastikan bahwa : 1) ia tidak melakukan hal yang membahayakan dirinya, 2) ia berada di tempat yang tidak membahayakan dirinya, dan 3) di sekitarnya tidak ada benda berbahaya yang bisa mencelakakan dirinya.


Kira-kira begitulah tips yang saya dan suami lakukan. Yang agak sulit adalah jika Farah tantrum di tempat selain rumahnya, karena orang lain seringkali tidak tega atau cenderung memberikan saja apa yang diminta karena  terganggu mendengar tangisan anak. Kalau sudah begini, orangtuanya harus cukup tegas menegakkan prinsip atau membawa pergi si anak dari TKP.

Ohya, sehebat apapun teknik menghadapi tantrum yang dibagikan para ahli, saya kira semuanya mutlak membutuhkan kesabaran seluas samudra dari kita para orangtuanya. Dan biasanya, kesabaran menghadapi dinamika pada anak berasal dari bagaimana kualitas hubungan kita dengan Allah.

Okay, selamat menghadapi tantrum dengan bahagia ya, Ayah-Bunda. Pasti BISA! J


Rabu, 04.06.2014 - 15:45 wib
~di hari ke-40 adiknya Farah

Jan 18, 2013

Bunda Dikuncikan Farah


Bismillah…

Ini cerita tentang Farah. Antara getir untuk dikenang, lucu untuk ditertawai, sekaligus bikin geleng-geleng. Jadi bingung mau tertawa atau sedih. Hehehe…

Ceritanya Farah umur 11 bulan waktu kejadian ini. Sedang puncak-puncaknya fase separation anxiety alias tidak mau berpisah lama-lama dari Bundanya. Menghilang dikit si Bunda dari pandangan, tangisannya meledak lalu ia akan berjalan tertatih-tatih mencari.

Sore itu Bunda kepingin pipis. Gak mungkin donk bawa-bawa si Farah ke toilet.. jadi Bunda tinggalkan Farah di ruang tengah sambil mengendap-endap. Sebab kalau diberitahu, sama aja dia akan nangis juga.

Dan benar, belum ada 1 menit Bunda di kamar mandi, Farah nangis dan menyusul ke toilet. Awalnya hanya merengek. Tapi karena tidak kunjung dibukakan pintu, dia menggedor-gedor sambil menangis kencang.

And the story starts…

Pintu kamar mandi itu ada selot kunci di luar dan dalam. Dan Farah yang cerdas meraih selot luar, menggesernya sehingga… “srettt!”, pintu terkunci.

Bunda sama sekali gak nyangka Farah bisa menggeser selot kunci itu sehingga Bunda terperangkap di dalam. Sambil memanggil-manggil nama Farah, Bunda menahan sedih mendengar tangisannya yang semakin kencang. Ya Allah, anakkuu… apa yang kamu lakukan?

Sambil coba mengendalikan diri, Bunda bicara pada Farah. “Farah tenang ya.. buka kuncinya, Sayang. Ayo digeser lagi seperti tadi. Pegang selotnya ya…”

Tentu saja Farah yang masih 11 bulan itu tidak mengerti bagaimana menggeser selot yang terkunci. Jadi dia hanya menangis, meraung-raung karena tidak kunjung melihat Bundanya.

Kehabisan akal, Bunda juga mulai terserang panik.  Gak mungkin ini selot terbuka kalau tidak dibuka dari luar. Dan tidak ada orang sama sekali di rumah. Tapi.. ada tetangga! Barangkali mereka dengar…
Berteriaklah Bunda melolong di tengah tangisan Farah yang super kencang.
“Tolooooooonggg….. Tolooonggg…..”

Sekali, dua kali, tiga kali, enam kali… sepuluh kali…
Ya Robb, tidak ada orang yang dengar… sakitnya tenggorokanku berteriak.. padahal suara mereka di luar rumah sekilas terdengar dari dalam WC.

Bunda pun berusaha menarik pintu kamar mandi yang terbuat dari stainless. Tapi terlalu kuat, tidak bisa ditarik!

“Dindaaaaaa….. toloooongg….. Divaaaaaaa…. Tooo..loooongggg!!” Bunda berusaha lagi memanggil nama anak-anak sebelah.
“TOOOOOOLOOOOOOOONGGGGG…. DINDAAAAA…… DIVAAAA…… OM SONIIIIIIII….. TOOOLOOOOONGGGGG!!!!”

Nama tetangga Bunda sebut satu-persatu. Tetap tidak ada respon.
Hujan mengguyur dan menerbitkan suara menderu.

Ya Allah bagaimana ini… Farah semakin keras tangisnya. Dan bunda semakin panik karena hopeless berteriak tanpa hasil.

Akhirnya Bunda coba selipkan tangan Bunda ke luar pintu lewat daun pintu yang atas. Farah sedikit tenang dalam sesenggukan.  “Tenang ya Farah, Bunda sedang berusaha…”

Tapi… tangan Bunda tidak sampai!  Selot kuncinya terlalu jauh. Tangan Bunda terjepit!

Ya Robb… hopeless lagi. Komat-kamit hati Bunda berdoa pada Allah minta diberikan cara atau pertolongan. Lalu Bunda teriak lagi sekencang-kencangnya, “TOOOO…LOOOOOONGGGG!!!!”, ditemani suara Farah yang tak kalah kencang menangis dalam kepanikan. Tak terasa mata ini ikut berkaca-kaca saking bingungnya.

“Farah… Farah keluar yaa.. ke pintu, Nak.. Farah panggil Kakak Dinda, atau Kakak Diva…”
Tapi Farah tidak mengerti sama sekali.

Dalam kepasrahan Bunda coba ambil gayung, lalu menyelipkannya di antara daun pintu supaya celah yang terbuka semakin lebar sehingga tangan ini bisa masuk. Lumayan sakit juga tangan ini terjepit. Ayo, ayo sedikit lagi…

Arghh… gak bisa!

Farah terus menangis.. dan Bunda semakin panik.

Gayung diselipkan lagi, kali ini didorong terus ke arah bawah, terjepit di pintu dan… “Grombyaanggg….!”

PINTU TERBUKA!!! Slot kuncinya terlepas bersama sekrup-sekrupnya.
Alhamdulillaaahh….

“FARAAAAAAHHH….!!!!!”
Seperti ibu dan anak yang sudah berpuluh tahun berpisah tak pernah jumpa, Bunda langsung memeluk Farah yang menangis hebat. Membelainya dalam pelukan sembari menenangkannya.   Dan Farah kecil yang tadinya menangis kencang langsung terdiam dalam dekapan Bunda.

“Are you oke, Farah? Sudah gak papa ya Sayang… Bunda disini… Farah peluk Bunda ya…”
Sore itu haru sekali… gak tega dengar tangisan Farah yang begitu sedih dan memeluk Bunda begitu kencang seolah tidak ingin berpisah.

Bunda langsung susui Farah supaya dia semakin nyaman. Matanya menatap Bunda dengan kesedihan. Merasa bersalah sekaligus kehilangan amat-sangat. Sesekali nafasnya masih tersengal di antara tenggorokan yang menelan ASI.
“Ssssh… tenang ya Sayang.. kan Bunda sudah disini sama Farah… J

Begitu terkendali semua, Bunda keluar menemui tetangga di depan rumah, mamanya Diva. Mau laporan.

“Mbak, aku baru aja dikunciin Farah di kamar mandi…”
“Hah, saya gak dengar apa-apa…” kata mama Diva.
“Iya saya teriak kenceng banget , mbaak…” hiks… sedih bener gak ada yang denger, keluh Bunda dalam hati.
“Ooo jadi itu tadi kakak yang teriak kenceng-kenceng? Pantesan Diva tadi kayak dengar suara orang minta tolong… tapi gak jelas, soalnya kan ketutup suara hujan, Diva pikir suara darimana…” kali ini Diva angkat suara.
“Tapi Alhamdulillah udah bisa keluar.. Kasian Farah nangis kenceng tadi.. Gak kedengeran sama sekali??”
“Enggak, kak Inda.. gak kedengeran. Orang ujan deres banget…”
Hufftt… yasudahlah. Nasipnya Bunda deh.
“Makanya Kakak lain kali kalo mau ke WC bilang Diva dulu.. nanti Diva jagain Farahnya.”
Owh so sweet Diva yang baik.. tapi tawarananya rada telat yak? -_-‘
“Baiklah lain kali kakak titip Farah yah…”

Bunda bawa Farah masuk ke dalam lagi.. menyusui lagi sambil menatapnya penuh kasih.
“Farah sayang, tadi hebat banget bisa kunci pintu kamar mandi… Tapi Bunda kan jadi terkunci di dalam.. Lain kali tidak usah main kunci lagi ya Nak.. kan kasian jadinya Farah nangis di luar.. Ya?”
Mata Farah menatap Bunda lekat-lekat. Sesenggukannya mulai terdengar lagi, seperti merasa bersalah dan bilang, “Maafin Farah ya Bunda…”. Lalu Bunda peluk bidadari Bunda ini sambil menenangkannya lagi.

See… harus tertawa bangga, atau mengurut dada bersedih ya karena kejadian ini?
Oh, Farahku sayang… tak habis pikir Bunda dibuatmu, Nak… Semoga gak terulang lagi ya...



18 Januari 2013, 00:33 wib.
Ditulis Bunda saat Farah sudah berumur 14 bulan.

Aug 20, 2008

Miss You, Dad...


Bismillah…

Desember 2007, hingga Agustus 2008.
Perjalanan waktu di bulan demi bulan ternyata belum mampu mengusir hangat airmata yang selalu mengucur begitu ingatan ini melayang pada sosoknya. Senyumnya, tawa renyahnya, nasihatnya, juga kasih serta amarahnya. Keriput kulit yang membalut tubuh ringkihnya, juga usapan lembut di saat-saat manja ini meminta belaian sayang, tak kan sekalipun dapat terulang. Begitu kuat kenangan ini menorehkan jejak memorinya di dalam kalbu, membuatnya perih setiap kali kognisi merajut-rajut.

Masih terngiang lamat-lamat lafaz lirihnya mengucap ayat dan tasbih dalam shalat dan dzikir-dzikirnya. Masih terdengar jelas bagaimana ia memaparkan ide meski tak seluruhnya dapat terpahami dengan baik. Masih pula tergambar bagaimana ia terbahak, terpingkal dan tertawa bahagia, meski tubuhnya tak lagi dapat berfungsi sempurna.

Sedang apakah ia, wahai Tuhan?
Masih terang-kah kuburnya sebagaimana aku kerap meminta?
Masih nyaman-kah ia berteman sepi dan gelimang tanah yang kini menjadi persinggahannya?
Masih dapatkah ia merasakan apa yang kami rasakan di dunia?

Sesak dada ini terus meraung menahan rindu-dendam yang tak pernah terpuaskan.
Gumpalan airmata tak henti-henti mengalir saat perasaan tak lagi dapat disembunyikan.
Rinduku, ya Tuhan… akankah Kau tebus dengan sebuah perjumpaan?
Di hari ketika hubungan darah tak lagi menjadi jaminan, pada masa dimana setiap jiwa melontarkan pertanggungjawaban, sudikah kiranya Engkau pertemukan kami yang telah tercerai?
Masihkah surga, serta taman-taman hijau yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, menanti tuk menjadi tempat bersua yang akan melebur segala kehilangan?

Sekian banyak doa sudah terlantun meski tak pasti kutahu ia sampai…
Bagaimana aku bisa membuat jaminan, sementara kadar sholihku tak pernah terukur dalam logika matematika dan hitung-hitungan biasa?
Bagaimana aku bisa yakin, bahwa sekian banyak kebaikan pasti mendapat balasan, sementara keburukanku juga tak kalah membumbung berlomba mengalahkan?

Maka jadikan aku sholihah, wahai Ar Rahman…
Agar tenang jiwa lusuhku di saat menghadap-Mu, dan lebih dari itu, ada yang berhak menikmati doa-doa sebagai jariyah yang tak kan pernah habis kapanpun jua.
Jika tak ada lagi yang dapat kulakukan untuk membalas segala jerih-payahnya semasa hidup, seluruh peluh keringatnya, pengorbanannya, tangis, juga kerja keras serta keteladanan yang ia wariskan, dengan cara bagaimana aku menebus itu semua agar menjadi ganjarannya yang setimpal?

Doaku, yaa Ghaffar… kumohon dengarkan…
Untuk terang kubur yang kini menjadi kediaman…
Untuk ampunan atas dosa dan kesalahan yang pernah ia lakukan…
Untuk penerimaan atas kebaikan yang pernah ia kerjakan…
Untuk rahmat dan kasih sayang-Mu agar menyelamatkan…
Juga untuk keridhoan-Mu agar berkumpul lagi kami di hari kemudian…
Aamiiin.


Ku hulur doa buatmu
Abadilah di sana
Sejarahmu yang gemilang
Bersamaku



~Papa, cinta ini selalu untukmu :’(
Monday, 030808; 10:19 pm.



gbr dari http://prissyperfection.wordpress.com/
maaf gak ijin..

Dec 17, 2007

Sakaratul Maut



Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.
"Maafkanlah, ayahku sedang demam",kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,

"Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah.

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?", tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
"Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?", tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangankhawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
"Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku" "peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii,ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi.

***
bismillah...

aku bersyukur sekali bisa menyerupai Fathimah kala ia mendampingi detik-detik terakhir ayahnya SAW sebelum berpisah dengan dunia...

ayahku...
aku mendampinginya sampai ia menutup mata...

aku mentayamuminya dan membimbingnya sholat Isya'... untuk yang terakhir kalinya.
aku memperhatikan dengan seksama saat hidungnya berubah sedingin es walau kening dan pipinya demam dan menghangat...
aku menyaksikan penderitaannya menarik nafas dengan tersengal sejak 24 jam sebelum kematiannya...
aku juga mentalqikannnya dengan kalimat syahadat...
dan aku melihat dengan mata-kepalaku sendiri bagaimana ia menghadapi sakaratul maut, meregang nyawa dalam rasa sakit yang tak bisa ia katakan..

demi Zat Yang Nyawa-nyawa kita berada dalam Genggaman-Nya...
mari bersiap sekarang juga...

***

“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang”
(HR Tirmidzi)

“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?”
(HR Bukhari)

“Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
(Ka’b al-Ahbar, sahabat Rasulullah saw)


gbr dari http://earthobservatory.nasa.gov/Newsroom/NasaNews/2005/2005011118157.html
maaf ga ijin...

Dec 15, 2007

Berita Duka

Assalaamu'alaikum WrWb,

Telah berpulang ke Rahmatullah Ayahanda dari Indra Fathiana pada hari Jum'at (14/12/2007) pukul 23.00 wib.

Mohon do'a agar almarhum diampuni dosa-dosanya oleh Yang Maha Kuasa,
Mohon dima'afkan apabila ada kesalahan almarhum semasa hidupnya, dan jika ada hutang, mohon disampaikan.

Juga mohon do'a agar keluarga dan kerabat yang ditinggalkan mampu mengikhlashkan dan diberi kesabaran serta kekuatan dalam menghadapi ujian ini.

(posted by: Nuri Sadida, based on approval of Indra Fathiana)

Wassalaamu'alaikum WrWb


-udahDieditDikitSmYgPunya.makasihYa,Nuy...

Nov 27, 2007

Warisan Dendam

Bismillah…

Oktober 2007. Pagi itu aku menemani mamah pergi ke bank syariah di bilangan Matraman. Setelah lama menunggu antrian, aku segera menemui petugas frontline-nya. Sambil mengurus ini-itu untuk mengambil sejumlah uang, si petugas tiba-tiba bertanya pada mamahku.

“Ibu E, ya?”
Mamahku yang tengah melamun, terkejut. Pasalnya ibuku tidak menunjukkan identitas apapun.
Sambil mengamati sang petugas, beliau menjawab,
“Iya… Mas siapa ya…”
“Saya Ri, anaknya Pak Z…”

Seperti adegan film yang dihentikan tiba-tiba, selama beberapa detik mamahku mematung. Aku juga terkejut, tetapi masih bisa mengendalikan diri. Aura tak enak segera memenuhi segitiga itu: aku, mamah dan mas Ri tadi.

Si Ri jadi kikuk. Untung mamah segera mengucap sepatah kata.
“Oohh… Ri ya… anak Pak Z… sudah lama disini…?”
“Lumayan, bu. Sudah 6 bulanan… Gimana kabar Bapak, Bu?”
“Bapak baik… Oh jadi Ri disini sekarang…”
Dan obrolan basa-basi pun berlanjut. Meski rumah R hanya berbeda 200an meter dari rumahku, keluargaku sama sekali tak pernah memperhatikan mereka.

Aku diam saja di tengah percakapan itu. Menunggu si Ri membereskan pekerjaannya dan memikirkan keterlambatanku tiba di tempat kerja.

Pikiranku melayang-layang ke wajah Bapak di rumah.
Lebih kurang 15-an tahun lalu ayahku bekerja sama dengan ayahnya si Ri. Mereka, yang bersahabat karib sejak masih kuliah di UII Jogja, mendirikan CV yang bergerak di bidang konsultan perencanaan pembangunan. Kebetulan Pak Z, ayah Ri, menjadi managernya dan ayahku menjadi orang lapangan.

Proyek bergulir dan ayahku berkutat dengan begitu banyak pekerjaan. Beliau yang menggambar sketsa bangunannya, memperkirakan berapa banyak baja, besi, dan bahan-bahan bangunan yang perlu dipersiapkan, dst, dst.

Aku tidak tahu persis berapa lama proyek-proyek itu berjalan, mengingat aku belum cukup dewasa untuk memahami apa yang ayahku lakukan. Aku hanya ingat bahwa dulu ayahku sering sekali bolak-balik Jakarta-Sukabumi untuk mengurusi proyek itu. Malam-malamnya habis untuk berkonsentrasi menggambar dan menggambar, menghitung angka-angka, hingga suatu ketika…

Ayahku tidak lagi mau berjabat tangan dengan Pak Z ketika mereka bertemu saat sholat berjamaah di masjid dekat rumah. Dan hampir semua jamaah bapak-bapak disana mengetahui apa yang tengah terjadi, sampai-sampai ustadz di masjid itu berkata,
“Jamaah saya yang tidak mau saling bersalaman satu sama lain adalah Pak Z dan Pak R (ayahku –red),”.

Kalian tahu apa penyebabnya?
Tidak pernah ada komisi dari proyek itu untuk ayahku, meski ayahku sudah mengerahkan seluruh energinya. Tidak ada komunikasi dari Pak Z tentang berapa besar keuntungan yang telah ia terima dan berapa banyak yang seharusnya ayahku terima, lalu semuanya terputus begitu saja. Uang hak ayahku yang tidak diberikan oleh Pak Z nilainya hampir 100 juta rupiah!

Kalian tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh sahabat sendiri? Sahabat yang bersama-sama kita ketika di bangku kuliah dulu, sudah dianggap saudara, dan kini tega menikam diri kita, salah satu orang terdekatnya, tanpa penjelasan apapun?

Tidak ada permintaan maaf, dan lebih dari sepuluh lebaran terlewati begitu saja. Tidak ada kesadaran untuk mengganti kerugian, bahkan sampai ayahku terserang stroke 7 tahun lalu dan nyaris tidak bisa bergerak seperti sekarang, Pak Z tak pernah datang!

Kami sekeluarga meradang. Tapi ayahku yang pendiam tidak melakukan apapun. Tidak ada tuntutan hukum yang akan beliau ajukan. Tidak ada tuntutan agar sahabat karibnya itu meminta maaf. Hanya satu keyakinan beliau : siapa yang menabur angin, ia akan menuai badai. Dan beliau begitu percaya pada keadilan-Nya.

Dadaku menggelegak mengingat semuanya. Tapi memendam kesumat adalah seperti memelihara pohon kaktus yang terus tumbuh di dalam hati: durinya menyakiti diriku sendiri. Adakah manfaatnya??

Kupandangi Ri hari itu sambil berusaha menetralisir sakit hati yang tiba-tiba menjalar. Adalah hal yang wajar jika tadi mamah tiba-tiba terdiam ketika ia menyebut nama ayahnya yang telah menghancurkan perasaan kami sekeluarga. Beruntung ibuku masih bisa bersikap baik padanya saat itu. Masih berusaha menanyakan kabar nenek dan ibunya yang pernah akrab di pengajian bersamanya di masjid dekat rumah, dan bermanis-manis tanpa sedikitpun memperlihatkan rasa tidak suka.
Sementara aku duduk diam mendengar, sambil berusaha menasihati jiwaku sendiri.
“Allahumma… Aku paham... Tidak semestinya dendam itu diwariskan…”.

-maybeForgiven,butNotForgotten.
ikhlashkanKami,yaAllah…
Tues, 27.11.07; 12.40 pm.


gbr dari http://www.allposters.com/-sp/Dark-Sky-Oregon-Posters_i1002815_.htm
maap ga ijin...