Rabu, 04.06.2014 - 15:45 wib
~di hari ke-40 adiknya Farah
...Menuangkan pikiran, memetik hikmah, menata langkah...
Diposkan oleh Indra Fathiana di 6/04/2014 1 komentar
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/18/2013 5 komentar

Bismillah…
Desember 2007, hingga Agustus 2008.
Perjalanan waktu di bulan demi bulan ternyata belum mampu mengusir hangat airmata yang selalu mengucur begitu ingatan ini melayang pada sosoknya. Senyumnya, tawa renyahnya, nasihatnya, juga kasih serta amarahnya. Keriput kulit yang membalut tubuh ringkihnya, juga usapan lembut di saat-saat manja ini meminta belaian sayang, tak kan sekalipun dapat terulang. Begitu kuat kenangan ini menorehkan jejak memorinya di dalam kalbu, membuatnya perih setiap kali kognisi merajut-rajut.
Masih terngiang lamat-lamat lafaz lirihnya mengucap ayat dan tasbih dalam shalat dan dzikir-dzikirnya. Masih terdengar jelas bagaimana ia memaparkan ide meski tak seluruhnya dapat terpahami dengan baik. Masih pula tergambar bagaimana ia terbahak, terpingkal dan tertawa bahagia, meski tubuhnya tak lagi dapat berfungsi sempurna.
Sedang apakah ia, wahai Tuhan?
Masih terang-kah kuburnya sebagaimana aku kerap meminta?
Masih nyaman-kah ia berteman sepi dan gelimang tanah yang kini menjadi persinggahannya?
Masih dapatkah ia merasakan apa yang kami rasakan di dunia?
Sesak dada ini terus meraung menahan rindu-dendam yang tak pernah terpuaskan.
Gumpalan airmata tak henti-henti mengalir saat perasaan tak lagi dapat disembunyikan.
Rinduku, ya Tuhan… akankah Kau tebus dengan sebuah perjumpaan?
Di hari ketika hubungan darah tak lagi menjadi jaminan, pada masa dimana setiap jiwa melontarkan pertanggungjawaban, sudikah kiranya Engkau pertemukan kami yang telah tercerai?
Masihkah surga, serta taman-taman hijau yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, menanti tuk menjadi tempat bersua yang akan melebur segala kehilangan?
Sekian banyak doa sudah terlantun meski tak pasti kutahu ia sampai…
Bagaimana aku bisa membuat jaminan, sementara kadar sholihku tak pernah terukur dalam logika matematika dan hitung-hitungan biasa?
Bagaimana aku bisa yakin, bahwa sekian banyak kebaikan pasti mendapat balasan, sementara keburukanku juga tak kalah membumbung berlomba mengalahkan?
Maka jadikan aku sholihah, wahai Ar Rahman…
Agar tenang jiwa lusuhku di saat menghadap-Mu, dan lebih dari itu, ada yang berhak menikmati doa-doa sebagai jariyah yang tak kan pernah habis kapanpun jua.
Jika tak ada lagi yang dapat kulakukan untuk membalas segala jerih-payahnya semasa hidup, seluruh peluh keringatnya, pengorbanannya, tangis, juga kerja keras serta keteladanan yang ia wariskan, dengan cara bagaimana aku menebus itu semua agar menjadi ganjarannya yang setimpal?
Doaku, yaa Ghaffar… kumohon dengarkan…
Untuk terang kubur yang kini menjadi kediaman…
Untuk ampunan atas dosa dan kesalahan yang pernah ia lakukan…
Untuk penerimaan atas kebaikan yang pernah ia kerjakan…
Untuk rahmat dan kasih sayang-Mu agar menyelamatkan…
Juga untuk keridhoan-Mu agar berkumpul lagi kami di hari kemudian…
Aamiiin.
Ku hulur doa buatmu
Abadilah di sana
Sejarahmu yang gemilang
Bersamaku
~Papa, cinta ini selalu untukmu :’(
Monday, 030808; 10:19 pm.
gbr dari http://prissyperfection.wordpress.com/
maaf gak ijin..
Diposkan oleh Indra Fathiana di 8/20/2008 2 komentar
Label: Family
“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang”
(HR Tirmidzi)
“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?”
(HR Bukhari)
“Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
(Ka’b al-Ahbar, sahabat Rasulullah saw)
gbr dari http://earthobservatory.nasa.gov/Newsroom/NasaNews/2005/2005011118157.html
maaf ga ijin...
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/17/2007 4 komentar
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/15/2007 14 komentar
Label: Family
Bismillah…
Oktober 2007. Pagi itu aku menemani mamah pergi ke bank syariah di bilangan Matraman. Setelah lama menunggu antrian, aku segera menemui petugas frontline-nya. Sambil mengurus ini-itu untuk mengambil sejumlah uang, si petugas tiba-tiba bertanya pada mamahku.
“Ibu E, ya?”
Mamahku yang tengah melamun, terkejut. Pasalnya ibuku tidak menunjukkan identitas apapun.
Sambil mengamati sang petugas, beliau menjawab,
“Iya… Mas siapa ya…”
“Saya Ri, anaknya Pak Z…”
Seperti adegan film yang dihentikan tiba-tiba, selama beberapa detik mamahku mematung. Aku juga terkejut, tetapi masih bisa mengendalikan diri. Aura tak enak segera memenuhi segitiga itu: aku, mamah dan mas Ri tadi.
Si Ri jadi kikuk. Untung mamah segera mengucap sepatah kata.
“Oohh… Ri ya… anak Pak Z… sudah lama disini…?”
“Lumayan, bu. Sudah 6 bulanan… Gimana kabar Bapak, Bu?”
“Bapak baik… Oh jadi Ri disini sekarang…”
Dan obrolan basa-basi pun berlanjut. Meski rumah R hanya berbeda 200an meter dari rumahku, keluargaku sama sekali tak pernah memperhatikan mereka.
Aku diam saja di tengah percakapan itu. Menunggu si Ri membereskan pekerjaannya dan memikirkan keterlambatanku tiba di tempat kerja.
Pikiranku melayang-layang ke wajah Bapak di rumah.
Lebih kurang 15-an tahun lalu ayahku bekerja sama dengan ayahnya si Ri. Mereka, yang bersahabat karib sejak masih kuliah di UII Jogja, mendirikan CV yang bergerak di bidang konsultan perencanaan pembangunan. Kebetulan Pak Z, ayah Ri, menjadi managernya dan ayahku menjadi orang lapangan.
Proyek bergulir dan ayahku berkutat dengan begitu banyak pekerjaan. Beliau yang menggambar sketsa bangunannya, memperkirakan berapa banyak baja, besi, dan bahan-bahan bangunan yang perlu dipersiapkan, dst, dst.
Aku tidak tahu persis berapa lama proyek-proyek itu berjalan, mengingat aku belum cukup dewasa untuk memahami apa yang ayahku lakukan. Aku hanya ingat bahwa dulu ayahku sering sekali bolak-balik Jakarta-Sukabumi untuk mengurusi proyek itu. Malam-malamnya habis untuk berkonsentrasi menggambar dan menggambar, menghitung angka-angka, hingga suatu ketika…
Ayahku tidak lagi mau berjabat tangan dengan Pak Z ketika mereka bertemu saat sholat berjamaah di masjid dekat rumah. Dan hampir semua jamaah bapak-bapak disana mengetahui apa yang tengah terjadi, sampai-sampai ustadz di masjid itu berkata,
“Jamaah saya yang tidak mau saling bersalaman satu sama lain adalah Pak Z dan Pak R (ayahku –red),”.
Kalian tahu apa penyebabnya?
Tidak pernah ada komisi dari proyek itu untuk ayahku, meski ayahku sudah mengerahkan seluruh energinya. Tidak ada komunikasi dari Pak Z tentang berapa besar keuntungan yang telah ia terima dan berapa banyak yang seharusnya ayahku terima, lalu semuanya terputus begitu saja. Uang hak ayahku yang tidak diberikan oleh Pak Z nilainya hampir 100 juta rupiah!
Kalian tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh sahabat sendiri? Sahabat yang bersama-sama kita ketika di bangku kuliah dulu, sudah dianggap saudara, dan kini tega menikam diri kita, salah satu orang terdekatnya, tanpa penjelasan apapun?
Tidak ada permintaan maaf, dan lebih dari sepuluh lebaran terlewati begitu saja. Tidak ada kesadaran untuk mengganti kerugian, bahkan sampai ayahku terserang stroke 7 tahun lalu dan nyaris tidak bisa bergerak seperti sekarang, Pak Z tak pernah datang!
Kami sekeluarga meradang. Tapi ayahku yang pendiam tidak melakukan apapun. Tidak ada tuntutan hukum yang akan beliau ajukan. Tidak ada tuntutan agar sahabat karibnya itu meminta maaf. Hanya satu keyakinan beliau : siapa yang menabur angin, ia akan menuai badai. Dan beliau begitu percaya pada keadilan-Nya.
Dadaku menggelegak mengingat semuanya. Tapi memendam kesumat adalah seperti memelihara pohon kaktus yang terus tumbuh di dalam hati: durinya menyakiti diriku sendiri. Adakah manfaatnya??
Kupandangi Ri hari itu sambil berusaha menetralisir sakit hati yang tiba-tiba menjalar. Adalah hal yang wajar jika tadi mamah tiba-tiba terdiam ketika ia menyebut nama ayahnya yang telah menghancurkan perasaan kami sekeluarga. Beruntung ibuku masih bisa bersikap baik padanya saat itu. Masih berusaha menanyakan kabar nenek dan ibunya yang pernah akrab di pengajian bersamanya di masjid dekat rumah, dan bermanis-manis tanpa sedikitpun memperlihatkan rasa tidak suka.
Sementara aku duduk diam mendengar, sambil berusaha menasihati jiwaku sendiri.
“Allahumma… Aku paham... Tidak semestinya dendam itu diwariskan…”.
-maybeForgiven,butNotForgotten.
ikhlashkanKami,yaAllah…
Tues, 27.11.07; 12.40 pm.
gbr dari http://www.allposters.com/-sp/Dark-Sky-Oregon-Posters_i1002815_.htm
maap ga ijin...
Diposkan oleh Indra Fathiana di 11/27/2007 4 komentar
Label: Family
Original by the undersigned | Adapted to Blogger by Blog and Web