Oleh : KH.Rahmat Abdullah
Ada murid dapat belajar hanya dari guru yang ber-SK, disuapi ilmu dan
didikte habis-habisan. Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau
angin yang berhembus pelan lalu berubah menjadi badai yang
memporakporandakan kota dan desa.
Ada yang belajar dari apel yang jatuh disamping bulan yang menggantung di langit tanpa tangkai itu.
Ada guru yang banyak berkata tanpa berbuat.
Ada yang lebih pandai berbuat daripada berkata.
Ada yang memadukan kata dan perbuatan.
Yang istimewa diantara mereka,
"bila melihatnya engkau langsung ingat Allah, ucapannya akan
menambah amalmu dan amalnya membuatmu semakin cinta akhirat
(khiyarukum man dzakkarakum billahi ru'yatuh wa zada fi'amalikum mantiquh wa
raggahabakum fil akhirati 'amaluh)"
Yang tak dapat belajar dari guru alam dan dinamika lingkungannya, sangat
tak berpotensi belajar dari guru manusia. Yang tak dapat mengambil ibrah
dari pelajaran orang lain, harus mengambilnya dari pengalaman sendiri, dan
untuk itu ia harus membayar mahal.
Bani Israil bergurukan nabi Musa As, salah satu Ulul Azmi para rasul dengan azam berdosis tinggi. Bahkan leluhur mereka nabi-nabi yang dikirim silih berganti.
Apa yang kurang?
Ibarat meniup tungku, bila masih ada api di bara, kayu bakar itu akan menyala,
tetapi apa yang kau hasilkan dari tumpukan abu dapur tanpa setitik api,
selain kotoran yang memenuhi wajahmu?
Murid-murid Bebal
Berbicara seputar orang-orang degil, berarti menimbun begitu banyak
kata seharusnya.
Seharusnya Bani Israil berjuang sepenuh jiwa dan raga,
bukan malah mengatakan: "Hai Musa, kami telah disakiti sebelum engkau datang
dan setelah engkau datang," (QS.7:129), karena sesungguhnya mereka tahu ia
benar-benar diutus Allah untuk memimpin mereka.
Seharusnya mereka tidak mengatakan: "Kami tak akan masuk kesana (Palestina), selama mereka masih ada disana, maka pergilah engkau dengan tuhanmu,
biar kami duduk-duduk disini," (QS.5:24) karena berita tenggelamnya Fir'aun di lautan dan
selamatnya Bani Israil, adalah energi besar yang mampu meruntuhkan
semangat orang-orang Amalek yang m enduduki bumi suci yang dijanjikan itu.
Adapun yang ditenggelamkan itu Fir'aun, mitos sejarah yang tak terbayangkan
bisa jatuh. Kemudian seharusnya mereka yang dihukum karena sikap dan ucapan
dungu tadi, pasrah saja di padang Tih, dengan jatah catering Manna dan
Salwa serta tinggal beratapkan awan pelindung dari sengatan terik matahari.
Ternyata mereka mengulangi lagi kedegilan lama mereka.
"Hai Musa, kami tak bakalan sabaran dengan jenis makanan monotype, cuma semacam ini,
karenanya berdoalah engkau kepada tuhanmu untuk kami, agar ia keluarkan untuk
kami tumbuhan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang puihnya,
kacang adasnya dan bawang merahnya." (QS.2:61)
Betul, manusia memerlukan guru manusia, tetapi apa yang dapat
dilihatnya diterik siang di bawah sorotan lampu ribuat watt, bila matanya ditutup
rapat?
Tarbiyah dzatiyah atau pendidikan mandiri untuk menguasai mata
kuliah kehidupan sangat besar perannya. Sebuah bangsa yang sudah
"merdeka" 54 tahun, namun tak peduli bagaimana menghemat cadangan energi, tak
tahu bagaimana membuang sampah, ringan tangan membakar hutan dan me-WC-kan
sungai-sungai kota mereka, tentulah bukan bangsa yang pandai mendidik
diri.
Sebuah bangsa yang tergopoh-gopoh ikutan kampanye anti AIDS, dengan
hanya menekankan aspek seks aman (dunia) saja tanpa mengingat murka Allah,
tentulah bangsa itu belum kunjung dewasa.
Bila diingat 6 dari 10 anak-anak mereka terancam flek paru-paru, lengkap sudah kebebalan itu.
Nurani yang Selalu Bergetar
Konon, Imam Syafi'ie ra sangat malu dan menyesal bila sampai ada orang
mengutarakan hajat kepadanya.
"Mestinya aku telah menangkap gejala itu cukup dari kilas wajahnya."
Mereka yang akrab dengan arus batin manusia, mestinya selalu dapat
menangkap isyarat muqabalah (oposit) makna ayat 2:273, "Engkau kenal
mereka dengan ciri mereka, tak pernah meminta kepada manusia dengan mendesak."
Sementara yang bukan "engkau" tak dapat membaca gelagat ini:
"Si jahil mengira mereka itu kaya, lantaran mereka berusaha menjaga diri."
Mereka yang berhasil dalam tarbiyah dzatiyah akan tampil sebagai
manusia yang jujur, ikhlas dan merdeka. Karenanya, "Hindarilah bergincu dengan
ilmu sebagaimana engkau menghindari ujub (kagum diri) dengan amal.
Jangan pula engkau meyakini bahwa aspek batin dari adab dapat diruntuhkan oleh sisi
zahir dari ilmu. Taatilah Allah dalam menentang manusia dan jangan
taati manusia dalam menentang Allah.
Jangan simpan sediktipun potensimu dari Allah dan jangan restui suatu amal kepada Allah yang bersumber dari nafsumu. Berdirilah dihadapan-Nya dalam shalatmu secara total."
(Almuhasibi, Risalatu'lmustarsyidin).
Akhirnya, semakin jauh perjalanan tarbiyah dzatiyahnya, semakin banyak
kekayaan yang diraihnya. Ungkapan berikut ini tidak ada kaitannya
dengan bid'ah atau khilafiyah fiqh. Ia lebih mewakili ibrah agar kita tak
terjebak pada aktifitas formal atau sebaliknya.
"Pada aspek zahir ada janabah yang menghalangimu masuk rumah-Nya atau
membaca kitab-Nya, dan aspek batin juga punya janabah yang
menghalangimu memasuki hadhirat keagungan-Nya dan memahami firman-Nya. Itulah ghaflah
(kelalaian)" (Ibnu Atha'illah, Taju'l Arus).
Hakikat Kematangan Ilmu
Kembali ke kematangan pribadi dan keberhasilan tarbiyah dzatiyah,
seseorang tak diukur berdasarkan kekayaan hafalannya atau keluasan
pengetahuannya, tetapi pada kemampuannya memfungsikan bashirahnya:
"Perumpamaan orang yang aktif dalam dunia ilmu namun tak punya
bashirah, seperti 100.000 orang buta berjalan dengan kebingungan.
Seandainya ada satu saja di tengah mereka yang dapat melihat walau
hanya dengan satu mata, niscaya masyarakat hanya mau mengikuti yang satu ini dan meninggalkan yang 100.000".
Rasulullah SAW meredakan kemarahan para sahabat yang sangat tersinggung
kepada seorang pemuda yang minta izin kepada beliau untuk tetap bisa berzina.
"Engkau rela ibumu dizinai orang?" tanya beliau dengan bijak.
"Demi Allah, saya tidak rela!"
"Relakah engkau jika anak perempuanmu, saudara perempuanmu dan isterimu dizinai orang?"
"Tidak, demi Allah!"
"Nah, demikianlah masyarakat...."
Demikianlah, amtsal merupakan metode pencerahan yang digunakan
Al-Qur'an dan Al-Hadist, bahkan dengan kata kunci yang patut dicermati:
"....Tak dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu" (29:43).
Citarasa yang tinggi dibangun dan sensitifitas dipertajam, mengantarkan manusia
kepada puncak pencerahan ruhani mereka.
Sebuah ungkapan kedewasaan pun "Semua manusia dari Adam dan Adam dari tanah,
tak ada perbedaan antara Arab atas Ajam dan Ajam atas Arab melainkan dngan taqwa."
Itulah zaman, saat sejarah tak lagi dimonopoli raja, puteri dan pangeran, tetapi menjadi hak
bersama yang melambungkan nama Bilal budak hitam abadi dalam adzan,
atau Zaid menjadi satu-satunya nama sahabat dalam Al-Qur'an.
Demikianlah kemudian kita kenal Ammar, Sumayyah dan banyak lagi budak
yang melampaui prestasi dan prestise para bangsawan.
Padahal 13 abad kemudian pun Eropa masih mempertanyakan perempuan makhluk apa.
Dan, para intelektualnya sampai pada kesimpulan,
"Mereka adalah iblis yang ditampilkan dalam tampilan manusia."
Justru Muhammad SAW telah memberi standar "Takkan memuliakan perempuan
kecuali seorang mulia dan takkan menghinakan mereka kecuali manusia
hina".
Sementara para perempuannya seperti dilukiskan puteri Sa'id bin Musayyab:
"Kami memperlakukan suami seperti kalian memperlakukan para pemimpin,
kami ucapkan: "Ashlahakallah, hayyakallah!"
(Semoga Allah memperbaiki/melindungimu, semoga Allah memuliakanmu)."
Aug 15, 2005
Guru Kehidupan
Diposkan oleh Indra Fathiana di 8/15/2005 0 komentar
Aug 9, 2005
Stop KDRT!
bismillah.
Dra. Dharmayati Utoyo Lubis, Phd, dekan sekaligus dosenku yang akrab dipanggil Mbak Yati, membagi sedikit pengalamannya ketika kuliah Psikoterapi. Saat itu kami sedang membahas An Integrative Perspective dan beliau bercerita tentang kliennya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sang klien adalah seorang dokter wanita berusia 30 tahunan, telah berumah tangga selama 18 tahun dan telah memiliki anak.
Awalnya, wanita ini menikah dengan pria pilihannya. Orangtuanya sebenarnya kurang sreg menikahkan putrinya dengan pria tersebut, namun akhirnya mereka menyerahkan urusan tersebut kepada putri mereka. Satu tahun menikah, tidak ada masalah berarti. Dua tahun kemudian, suaminya mulai sering memukul dan sangat membatasi aktivitas sang dokter. Memang sejak mereka pacaran, pria ini bisa dikatakan cukup possessive. Ia tidak senang ketika tahu si wanita meminta tolong apapun kepada orang lain. “Kan ada saya, kenapa harus dengan orang lain?”, kira-kira begitu ujarnya.
Sehari-hari dalam kehidupan mereka, suaminya seringkali memukuli dan mengata-ngatainya ketika ia tidak melakukan sesuatu dengan baik. Suaminya berkata bahwa inilah cara ia mendidik dan mengajari istrinya. Ia juga mengatakan bahwa ini semua untuk kebaikan istrinya juga. Sang dokter pun mencoba berpikir positif, mungkin ini ujiannya dalam berkeluarga. Apalagi setelah bertengkar pun suaminya terlihat menyesal dan meminta maaf, serta berjanji untuk tidak mengulangi lagi.
Hari-hari berjalan dan kekerasan demi kekerasan terus terjadi.
Namun wanita ini berusaha bersabar dan tidak menceritakannya kepada orang lain, termasuk keluarga dan orangtuanya sendiri. Mungkin ada sedikit rasa gengsi, karena toh dulu ia menikah dengan pria pilihannya sendiri. Ketika ditanya penyebab biru dan memar di badan dan kepalanya, ia berusaha menyembunyikan dan berkilah bahwa itu semua akibat terjatuh. Sampai kemudian adik iparnya (adik kandung suaminya) mengetahui dan bersama-sama anaknya meminta tolong kepada Mbak Yati untuk menangani masalah ini. Dan untuk kesekian kalinya wanita itu memohon agar masalah ini jangan sampai terdengar ke telinga keluarganya.
Mbak Yati pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menasehati wanita itu agar mau berontak ketika berhadapan dengan suaminya. Alasan yang membuat ia “bertahan” selama 18 tahun adalah karena setiap kali ia dipukul, suaminya selalu mengatakan bahwa hal ini adalah untuk mengajari dirinya dan untuk kebaikannya juga, sehingga ia menerima saja.
Ketika itu Mbak Yati bercerita bahwa ia sangat gemas menghadapi kasus ini dan berkata kepada kliennya, “Kamu itu dokter! Kamu itu cerdas dan seharusnya bisa membela diri ketika suami menyakiti kamu!”. Sayangnya, ia tentu tidak bisa mengintervensi kasus ini terlalu jauh dan hanya bisa memberikan masukan serta saran-saran kepada kliennya tersebut. Dan kami yang mendengarkannya pun hanya bisa menahan geram.
Namun karena kata-kata suaminya sudah demikian kuat mempengaruhi kognitif wanita ini, ia pun tetap “nrimo” ketika suaminya terus memukulinya : menbenturkan kepala istrinya ke tembok, ataupun perlakuan kasar secara fisik dan verbal lainnya.
Pernah suatu hari ketika malam takbiran, peristiwa itu terjadi. Keluarga besar istrinya sedang berkumpul di rumahnya dan ia kembali mengalami perlakuan kasar sang suami. Dibawanya sang istri ke kamar mandi, dan dinyalakannya air keran serta kaset rekaman suara takbir sekencang-kencangnya. Lalu istrinya dipukuli habis-habisan, lagi-lagi dengan alasan, beginilah caranya mendidik sang istri karena ia memang harus diajari!
Sebulan lamanya sang klien tidak muncul ke tempat Mbak Yati, dan Mbak Yati mulai cemas. Adakah sang wanita tetap menderita disana, ataukah ia sudah baik-baik saja?
Akhirnya ia lega. Dokter wanita yang tegar itu datang mengucapkan terima kasih dan memberitahukan bahwa ia tengah mengurus gugatan cerai dengan suaminya di pengadilan. Akhirnya ia sadar dan berani berkata tidak terhadap perlakuan suaminya, lalu dengan kesadaran penuh ia mengambil keputusan itu.
***
Mungkin ada banyak kasus serupa, bahkan lebih parah, yang menimpa ratusan wanita di luar sana. Haruskah membuat perjanjian bermaterai saat menikah, yang berisi ketentuan untuk tidak menyakiti istri dalam bentuk apapun, sebagaimana dilakukan Rieke Diah Pitaloka beberapa waktu lalu? :(
"Tidaklah memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, dan tidaklah menghinakan wanita, kecuali ia orang yang hina pula."
(hadits Rasulullah saw, -gak tau shahih apa enggak-)
Diposkan oleh Indra Fathiana di 8/09/2005 1 komentar
Jul 15, 2005
Kenalin...Saudara/i Baruku BPH BEM UI '05-'06
bismillah..
dari blognya nuyi nih...
dari kiri ke kanan, atas: angga fkm, adi fauzan fisip, victa fkm, indah fmipa, anisa a.k.a. icha fik, yuwanita a.k.a yuwa fisip, indra fpsikologi, nuri a.k.a nuy fpsikologi, fachri fhukum, purwa udiotomo a.k.a purwo fteknikbawah: yusuf a.k.a ucup fmipa, iwan a.k.a ustadz fmipa, azman fteknik, oskar a.k.a ocha fekonomi, suryana a.k.a bang sur/ucha/cuya fteknik
angga: staf ahli kemahasiswaan, adi fauzan: korbid poltik, sosial, kemasyarakatan, victa:staf ahli pendidikan, indah:kabiro danus, icha:kabiro kestari, yuwa: kabiro pengabdian masyarakat(pengmas), indra:bendum, nuy:kabiro human resource and organization development center (hro-dc), fachri: staf ahli hukum, purwo: sekum, ucup:kabid sosial politik (sospol), iwan:kabid advokasi dan kesejahteraan mahasiswa (adkesma), azman: ketua bem, ocha:staf ahli ekonomi, cuya:korbid kemahasiswaan...yang ngga ada di foto: wandi (koord.staf ahli), adri a.k.a q-bho (humas), dayat (kabid. kreasi dan edukasi mahasiswa)...

deskripsi karakter (versi nuy and indra ^_^) :
angga: gaul 'n kebapakan, kadang2 sangat emosional, panikan, suaranya gede kayak geledek, doyan becanda.
adi fauzan: ceplas-ceplos kayak orang betawi, sensitif juga, suka ngasal, lucu... the winner of piala oscar dalam drama simulasi tender okk.. (hehe...puas banget gw bisa bentak2 adi waktu itu...)
victa: lucu, suka cengar-cengir, tapi galak, kayak kucing... rajin, care, tapi suka ga mau kalah, satu2nya staf ahli yang paling cantik (ya iyalah.. orang yg lainnya cowok semua...)
indah: straight 2 d'point, profesional, perfeksionis, hard-worker , insting danusnya sangat peka, pejuang danus yang tangguh dan berpengalaman.
icha: putri solo, kongkrit dan tegas, polossss... ibu rumah tangga banget deh. pas banget jadi kabiro kestarinya bem! ingat cha, jangan mau diperintah2 sama purwo!
indra: suka ilang dan suka dicariin, tiada kata boros dalam perjuangan (maklum...bendum), rapih, pandai menulis, galak kalo udah masalah duit...uhuhuhu . hmm.... no comment-lah. tapi katanya purwo, indra itu adalah orang yang mukanya paling enak buat dizholimi. parah kan??????
nuy: inspirator, provokator, lady aristokrat (begitu yg dia tulis di bolgnya sendiri), agak berantakan (kontras banget ama indra-lah pokoknya), insomnia (masih ga sih, nuy?), doyan ke video ezy buat nyewa film, 'feminist' yang sangat mendambakan seorang bayi... (huhuhu....)
fachri: lucu, cupu, suka musik2 tradisional, kayak mojacko, pintar berkelit (maklum anak hukum...), habib-nya bem, suka bersenandung gak jelas, dan cukup berisi ^_^
purwo: penolong, cupu sekaligus lucu, ngayom, kadang2 careless tapi bisa berkorban juga, tong sampah!! tukang nyela, nyolot, cerewet...wet...wet..., bawel, de el el.
ucup: diem tapi (katanya) jago orasi, ngintrik, kadang2 penolong, kadang2 malesss, ngga tegaan, rela berkorban buat aksi (hehe...piss, pak. duitnya saya ganti kapan2 aja yak?)
iwan: lurus kayak jalan tol, kalem, kebapakan, rapih, kongkrit dan tak banyak cakap, target bakal diracuni anak2 (ya tapi gitu2 suka nyela2 juga... apa udah tershibghoh anak2 ya, ustadz?)
azman: gagah, polos, lugu, pandai berkata2 layaknya birokrat, punya beberapa koleksi baju batik yang bagus, rada2 careless, tapi kalo lagi fokus kongkrit abisss... tegas, komit, dan agak puitis (jzk sms taushiyahnya.. bagus lho...)
ocha: fokus, ambisius, penolong, suka kadang2, tegas, ekonom berbakat, dan kalo udah ngomongin peraturan keuangan, tidak ada kata kasihan.
cuya: tua, ngebanyol, betawi abiss padahal bukan, anaknya asik...kayak bapak2 tapi berjiwa muda... (eh, sur, waktu pertama kali liat, kukira dikau angkatan 99an lho...maap yak!)
Posted at 09:31 pm by nuy_the_haidar
Diposkan oleh Indra Fathiana di 7/15/2005 1 komentar
Jul 11, 2005
Mari, Berhenti Sejenak...
Kematian Hati
oleh: Alm. KH. Rahmat Abdullah
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.
Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih.
Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.
Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.
Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama.
Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan.
Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.
Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan.
Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap
ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam,
lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur,
sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.
Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih.
Bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid,
lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang.
"Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka.
Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka", ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,
lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi.
Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak.
Ada juga orang yang sama sekali tak pernah beramal tetapi merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.
Dimana kau letakkan dirimu ?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing.
begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar.
Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu
sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan.
Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi.
Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?
Di luar sana rasa malu tak punya harga.
Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah,
atau bahkan melalui penawaran langsung.
Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau.
Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.
Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak diperlukan
sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh".
Betapa jamaknya 'dosa-2 kecil' itu dalam hatimu.
Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu,
saat 'TV Thaghut'menyiarkan segala 'kesombongan jahiliyah dan maksiat' ?
Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan,
karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan,
"Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?"
Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang
"Ini tidak islami" berarti ia paling islami.
Sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana ?
Sekarang kau telah jadi kader hebat.
Tidak lagi malu-malu tampil.
Justru engkau akan dihadang tantangan sangat malu untuk menahan
tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar.
Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.
Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada
kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik
yang kau miliki.
Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter,
maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ?
Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya
telah salah melangkah lebih dulu.
Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu
kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya
ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang.
Lalu dengan enteng mengatakan,
"Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku",
dan sesudah itu segalanya selesai.
Berlalu tanpa rasa bersalah?
Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat
dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan,
"Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah,
bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua".
Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat
lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)?
Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari
kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinahi teman sekolahnya
dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya?
Akankah kauandalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu
lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir?
Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini?
Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.
Tengoklah langkah mereka di mall.
Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak
mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya".
Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "Lihatlah, betapa Amerikanya aku".
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika,
melainkan apakah engkau punya harga diri.
~Astaghfirullah... ~
Diposkan oleh Indra Fathiana di 7/11/2005 0 komentar
Jul 6, 2005
Orang Baik
Oleh: Zaim Uchrowi
Seorang baik seringkali hanya kita sadari keberadaannya saat maut telah menjemput. Mereka umumnya bukan orang-orang panggung. Bukan pula orang yang biasa disanjung-sanjung.
Dalam keseharian, mereka seperti tak berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Padahal, mereka sungguh pribadi berbeda, yang nama baik dan auranya justru memancar deras setelah jasadnya dikuburkan.Dalam dua pekan ini, empat orang baik meninggal dunia. Mereka Ustadz Rahmat Abdullah, Eki Syachruddin, Saleh Afiff, dan Roeslan Abdulgani. Saya, alhamdulillah, sempat bertakziah dan shalat jenazah untuk tiga orang di antaranya selain Roeslan Abdulgani sang tokoh sejarah.
Saya bersyukur berkesempatan melihat wajah-wajah yang begitu damai, yang tak hanya seperti berada di puncak kelelapannya namun juga''bercahaya''.Wajah demikian yang tampak pada jasad Ustadz Rahmat Abdullah, yang saya menyesal tak berkesempatan mengenalnya langsung semasa ia masih punya hayat.
Sebagian orang menuliskan namanya KH atau ''kiaihaji''. Tapi, ia lebih tepat disebut ustadz karena ia memang sebenar-benar ustadz. Ia telah memilih jalan dakwah sebagai jalan hidupnya. Murid kesayangan KH Abdullah Syafii ini bukan saja memiliki kedalaman ilmu agama. Ia juga memiliki kegairahan dan cinta. Sejak muda ia telah aktif berdakwah. Langkah dakwahnya lebih intensif lagi seperempat abad silam. Ia telah melangkahkan kaki ke mana-mana dengan biaya sendiri untuk mengajak orang-orang ke jalan dakwah. Ia selalu tampak bergairah dan menggembirakan orang yang bersua dengannya.
Pada murid-muridnya, ia bukan hanya memberi ilmu. Ia juga memberi cinta. Caranya melayani istri, anak-anak, kerabat, serta sahabat acap menjadi percakapan orang, sekalipun ia tak pernah mengisahkan hal itu. Hingga akhir hayatnya, ia tetap seorang yang bersahaja. Ketika orang lain berebut kursi DPR, ia berulang kali mendesak kawan-kawannya separtai agar dirinya dibebaskan dari tugas di DPR. Ia mengaku tidak cocok di DPR, dan ingin fokus ke jalan dakwah. Ia begitu mencintai dakwah sebagai wujud cintanya pada Sang Pemilik Cinta.
Tepat di usia yang sama dengan Rasulullah SAW saat berhijrah, sekitar 52 tahun,Ustadz Rahmat pun dihijrahkan Allah SWT kepangkuan-Nya.
Di saat itulah cinta yang telah ia tebarkan pun mampu menggerakkan ribuan orang untuk datang melayatnya.Ribuan orang itu gelombang demi gelombang menyalatkan jenazahnya yang disemayamkan di ruang sekolah yang dibangunnya, menjadi sebuah prosesi penghormatan kematian terindah yang pernah saya saksikan.
Eki Syachruddin adalah sosok baik lainnya. Sejak 1960-an ia telah aktif di berbagai kegiatan kebangsaan dan kemasyarakatan. Ia seorang humoris seperti UstadzRahmat, serta punya sangat banyak kawan lintas kalangan. Namun, Eki tetap seorang bersahaja. Ia lebih suka mengorbitkan kawan-kawannya ketimbang dirinya sendiri. Sukses menjadi dubes di negara besar, Kanada, Eki tetaplah seorang kasual. Pulang ke Jakarta, ia kembali ke rumahnya yang sederhana di sebuah jalan sempit di kawasan Slipi. Kini, Eki telah pergi sebagai seorang yang bahagia.
Orang baik lainnya adalah Saleh Afiff. Ia menteri yang sangat dipercaya membantu Soeharto menjalankan pemerintahan Orde Baru dahulu. Jika mau, ia bisa kaya raya serta bergaya jumawa seperti birokrat pada umumnya. Tapi, ia tidak begitu. Meskipun memegang kuasa, ia tetap guru besar yang sederhana. Setelah pensiun, ia menikmati hari tuanya bersama istri dan seorang anaknya tanpa satu pun pembantu rumah tangga di rumahnya. Kematiannya telah membuat teman-teman lamanya teringat kembali atas perselisihannya dengan Soeharto setelah ia menolak mendukung proyek mobil Timor yang diajukanTommy. Sama seperti Ustadz Rahmat dan Eki, Allah telah memberikan jalan kematian yang indah bagi Saleh Afiff: Tak perlu berlama-lama menanggung rasa sakit, koma, dan segera menghembuskan napas terakhirnya.
Mereka semua hanya sebagian dari orang baik di Indonesia. Saya percaya, masih sangat banyak orang baik yang ada di negeri ini. Keberadaan mereka semua menjadi jaminan bangsa kita untuk kian berjaya. Kita sering tidak menyadari keberadaan mereka sampai maut datang menjemputnya.
Diposkan oleh Indra Fathiana di 7/06/2005 0 komentar
Jun 17, 2005
In Memoriam Alm. Ust. Rahmat Abdullah
"Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina"
(Rahmat Abdullah)
Seperti tak percaya aku mendengar kabar itu: kau sudah pergi untuk selamanya. Dan kenangan demi kenangan berkelebat cepat di benakku, menyisakan satu nama : Rahmat Abdullah.
Kita memang tak banyak bertemu, tak banyak bercakap.
Tapi percayakahkau, aku menjadikanmu salah satu teladan diri.
Kau menjelma salah satu sosok yang kucinta.
Tahukah kau, hampir tak ada tulisanmu yang tak kubaca?
Dan setelahmembacanya selalu ada sinar yang menyelusup menerangi kalbu danpikiranku. Tidak sampai di situ, buku-bukumu selalu membuatku bergerak.
Ya, bergerak!
Kau mungkin tak ingat tentang senja itu.
Tapi aku tak akan pernah melupakannya.
Saat itu kau baru saja pulang dari rumah sakit untukmemeriksakan kesehatanmu.
Aku dan seorang teman menunggumu.
Kami membutuhkanmu untuk memberi masukan terhadap apa yang tengah kami kerjakan. Lalu tanpa istirahat terlebih dahulu, dengan senyuman dan kebersahajaan yang khas, kau menemui kami. Tak kau perlihatkan bahwa kau sedang tak sehat.
Bahkan kau bawa sendiri makanan dan minuman untuk kami.
Lalu dengan riang kau menyemangati kami.
"Ini kebaikan yang luar biasa," katamu.
"Bismillah. Berjuanglah denganpena-pena itu!"
Lalu kami mengundangmu untuk hadir pada acara milad organisasi kecil kami. Sekadar menyampaikan undangan, dan tak terlalu berharap kau datang, karena kami tahu kau sangat sibuk dengan begitu banyak persoalan ummat.
Hari itu, bulan Juli 2002, milad ke 5 organisasi kami: Forum LingkarPena.
Semua panitia direpotkan oleh banyak hal yang harus dikerjakan.
Aku masih sempat bertanya pada panitia: "Adakah yang menjemput PakTaufiq Ismail dan Pak Rahmat Abdullah?"Panitia menggeleng. B
anyak yang harus dikerjakan. Tak ada mobil atau tenaga untuk menjemput.
Sudahlah, pikirku. Pak Taufiq dan Pak Rahmat terlalu besar untuk hadirdi acara seperti ini.
Aku hampir melompat ketika melihat Pak Taufiq Ismail datang sendirian dengan taksi dan menyapa kami riang. Dan aku tak percaya ketika tak lamakemudian kau muncul!
"Ustadz, terimakasih sudah datang. Kami tidak menyangka?," sambutku.
Kau tersenyum. "Saya sudah agendakan untuk datang," katamu.
"Ini acaraFLP. Istimewa."Mataku berkaca.
Ini ustadz Rahmat Abdullah, ia terbiasa diundang sebagaipembicara dalam berbagai acara nasional sampai internasional.
Dan kini ia sudi hadir sebagai undangan biasa!
"Maaf ustadz tidak dijemput. Ustadz naik apa tadi?"
"Naik bis. Tempatnya mudah dicari," katamu biasa.
Kau sempat turut memberikan award dalam acara tersebut dan memimpin doa penutup.
Aku menangis mendengar doa yang kau lantunkan, Ustadz. Kau berulangkali mendoakan agar organisasi kami: FLP selalu bisa melahirkan para pemuda yang tak akan berhenti berjuang dengan pena.
Pada akhir acara, kau turut berjongkok bersama para pemuda lainnya dan menandatangani spanduk yang kami gelar bertuliskan "Sastra untukKemanusiaan."
"Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi," ceritamu.
Hari itu kehadiranmu benar-benar memberi semangat baru bagi kami.
Ustadz, aku selalu mengenangmu sebagai suami dan ayah yang baik dalam keluarga.
Sebagai guru sejati bagi ribuan da'i.
Dan ketika kau terpilih menjadi anggota DPR RI tahun 2004 lalu, tak ada yang berubah darimu, kecuali usaha yang lebih keras untuk membuat rakyat tersenyum.
Dalam keadaanmu yang sederhana, kau tak berhenti memberi zakat dan infaq dari
gajimu.
Kau satu dari sedikit orang yang pernah kutemui, yang sangat
berhati-hati dengan amanah dan berjuang untuk menunaikannya tanpa cacat.
Ah, pernahkah kau meminta tarif untuk mengisi ceramah? Tak ada.
Kau bahkan pernah berkata: "Alhamdulillah ada lagi orang yang mau mendengarkan taushiyah dari hamba Allah yang lemah ini."
Terakhir kali kita bertemu, Ustadz, di sebuah jalan raya, sekitar akhir tahun lalu. Dan aku tak percaya, kau --anggota dewan yang terhormat---masih saja menyetop kopaja.
Kini kau telah kembali untuk selamanya.
Ribuan orang, tak terhingga orang, datang mengiringi untuk terakhir kali, sambil tak henti bersaksi tentang keindahanmu.
Selamat jalan, Ustadz.
Jalan kebaikan dan cinta yang selalu kau tempuhdi dunia,
semoga mengantarkanmu ke gerbang yang paling indah di sisiNya.Amiin.
(Helvy Tiana Rosa)
bismillah.
aku tidak pernah mengenalnya.
hanya tahu saja dari berbagai tulisan yang tersebar di Tarbawi, dan sejumlah buku karya-karyanya. Berhenti Sejenak, adalah satu-satunya buku beliau yang kumiliki saat ini.
aku sama sekali tidak pernah mengenalnya.
andai, waktu itu aku dan teman-temanku memilih beliau menjadi muwajjih untuk bekal perjuangan kami ke depan, tentu aku akan lebih mema'rifahi beliau semakin dalam.
ada setitik semangat yang selalu mencuat begitu selesai membaca coret-coretan rutinnya di Tarbawi.
ada sindirian pedas yang menghujam ulu hati, menggedor jiwa yang tak banyak berbuat.
ada banyak lemah yang berganti kekuatan untuk kembali bangkit dan tersenyum menyongsong hari.
ada bermilyar insight yang mampu membuat diri ini melakukan perubahan.
dan semburat hikmah demi hikmah selalu terpancar dari dirinya.
mbak Helvy benar.
Ustadz Rahmat Abdullah mampu membuat orang lain bergerak.
berubah.
dan tidak hanya diam dalam keterpakuan, kebimbangan, apatah lagi kevakuman perjuangan.
tapi aku tidak pernah mengenalnya.
yang kutahu hanyalah tajamnya analisa, pedasnya kecaman pada orang-orang zholim, santunnya nasihat, dan lembutnya sinar mata beliau.
wajah orang-orang beriman, yang senantiasa memancarkan aura cahaya-Nya,
yang selalu menyejukkan bila dipandang,
yang mampu membuat aku berkaca akan kekurangan diri.
selamat jalan, Ustadz.
berkah dan maghfirah Allah semoga senantiasa tercurah untukmu.
meski aku belum sempat mengenal dan menemuimu di dunia, sungguh, aku berharap bisa berjumpa denganmu di surga-Nya.
~inMemoriamAlm.Ust.RahmatAbdullah~
Diposkan oleh Indra Fathiana di 6/17/2005 2 komentar
Jun 15, 2005
Pancake Nyammy
bismillah.
eh... eh...
kemarin aku bikin pancake duonk... enak deh... bikinnya sore-sore...
apalagi kalo maemnya pake teh anget...
aku cuma liat dari majalah di perpus kampus. trus aku copy deh resepnya.
ada yang mau ikutan masak?
ni resepnya.....
PANCAKE
275 gr tepung terigu
375 ml susu kental
2 btr telur
1/2 sd teh garam
1/2 sdt backing powder
(aku tambahin vanila dikit biar wangi)
CARA MEMBUAT:
terigu, garam dan backing powder dicampur jadi satu.
trus tambahin telur sambil dikocok pake kocokan tangan (yg kayak spiral gitu lho).
nah, udah gitu masukin susunya dikit-dikit,
trus diaduk deh sampe rata.
kalo udah, siapin wajan teflon berdiameter 12 cm.
panaskan, tuang sedikit minyak, trus dimasak deh.
jadi, kan?
sekarang, siapin isinya.
tuangin susu kental (boleh coklat, vanila, atau strawberry)
trus ditaburin parutan keju, atau meses.
trus dilipat, dipotong-potong, dan...
dimakan deh.
gampang, kan?
memasak itu gampang, lho, teman2...
asal kita tau resepnya dan yg terpenting, punya ke-mau-an.
sepakat?
kemarin, waktu aku lagi ngopi resep dari majalah, seorang ikhwan senior gak sengaja ngeliat. dan dia tersenyum simpul sambil berkomentar,
"nah, gitu donk. akhwat harus bisa masak. jangan pas udah mau "itu" baru belajar"
aku mengeryitkan dahi. maksud?!
dan dia beranjak pergi sambil meninggalkan pesan.
"bilangin tuh sama ibu-ibu yang laen, belajar masak dari sekarang. jangan udah "itu" baru mau masak".
dahiku semakin berkerut.
yey..... gender....
fitrahnya wanita emang ke dapur dan urusan rumah tangga.
tapi siapa juga yg ngelarang kalo ikhwan bisa masak? ya gak sih?
aku jadi inget temenku, ikhwan di fak lain yang jago bikin bolu coklat.
atau seniorku di psiko yg gape bikin capcay.
atau om-ku yang megang mixer sendiri waktu mau bikin ice cream.
atau seorang ikhwan yg menjelang nikahnya mau belajar masak sayur asem.
sayangnya, ikhwan yg jago bikin bolu coklat ini sempet minder gara2 doyan masak dan jadi mirip kayak akhwat.
so what gitu lho??? ujarku padanya.
justru antum harus bangga punya kelebihan dibanding ikhwan lain. ya, kan?
so, (calon) ibu-ibu dan bapak-bapak, belajarlah memasak dari sekarang.
ntar kita tukeran resep yach!
selamat memasak! ^_^
Diposkan oleh Indra Fathiana di 6/15/2005 1 komentar