Sep 8, 2006

Gadis Kecil di Kereta

2ismillah.

Jarum jam mungkin sudah menunjukkan pukul 7 malam lewat ketika itu. Aku berdiri di tepi peron stasiun UI menunggu kereta jurusan Bogor-Tanah Abang yang sudah terlihat dari kejauhan. Mudah-mudahan kosong dan mendapat duduk, doaku dalam hati.

Kereta tiba dan aku segera naik. Alhamdulillah, bangku-bangku banyak yang kosong. Aku duduk tepat di samping seorang gadis berusia 12 tahunan dan seorang Bapak. Di sebelah gadis itu, seorang pria berumur 27 tahunan meletakkan tangannya di jendela kereta, seolah berposisi merangkul sang gadis, walau tidak sampai menyentuh. Perhatianku seketika terganggu. Pasalnya aku akan merasa risih jika melihat tangannya sampai menyentuh tubuh si gadis, atau mungkin mengenai punggungku. Tapi aku merasa lega kemudian. Laki-laki itu hanya menyandarkan tangannya saja di jendela. Dan aku berbaik sangka sang gadis adalah saudaranya.

Kereta terus melaju dengan cepat. Merasa begitu lelah, aku hanya duduk terdiam dan mencoba melafazkan dzikir. Tapi tak lama perhatianku terganggu. Pria itu mencolek bahuku! Aku terlonjak seketika.

“Mbak, adek ini baru kabur dari rumahnya di Cilebut. Dia sendirian. Mana katanya belum makan lagi dari siang,“
Aku melupakan colekan pria itu sejenak. Perhatianku beralih ke gadis kecil di sebelahku.
“Oh... sekarang mau kemana?“
Gadis itu tetap diam dan tak merespon teguranku.
“Dia kabur dari rumah. Berantem sama mamanya. Katanya mamanya pilih kasih,“ pria itu menjadi jubir tanpa diminta.
Aku mengangguk-angguk dan bertanya ulang sekedar memastikan.
“Kenapa kabur dari rumah, dek?“
“Abis mama pilih kasih...“
“Terus, sekarang mau kemana?“
“Saya mau ajak dia ke tempat saya, Mbak,” lagi-lagi si mas-mas itu yang menjawab.
“Tapi saya nge-kos. Takutnya mau nolongin malah ntar muncul omongan macem-macem. Jadi saya mau bawa ke rumah ibu saya di Pasar Minggu. Abis kasian kan udah malem begini. Tapi dia gak mau…“

Aku berpikir keras.
Hari sudah malam begini. Tidak mungkin membiarkan gadis ini keluyuran sendirian.
“Kamu mau kemana sekarang?” tanyaku kepada gadis kecil itu.
Lagi-lagi ia hanya terdiam sambil memeluk tasnya.
“Kalau Mbak pulangnya kemana?“ si mas-mas bertanya padaku.
“Oh, saya turun di Tebet. Tinggal di Cipinang,“ ujarku.
“Tinggal sama orangtua? Soalnya saya nge-kos. Takut ada komentar gimana-gimana…“
“Mhh..iya sih. Saya ngerti. Saya mau nolongin, tapi… “ bayanganku berlari ke rumah. Bagaimana reaksi mamah kalau pulang-pulang aku membawa orang asing?
“Saya gak yakin orangtua saya bisa nerima…”
Mas-mas itu mengerti. Ia segera mengangguk.
Sebetulnya bukan hanya mamah yang menjadi konsideranku. Tapi sedikit pikiran buruk melintas seketika. Bagaimana kalau anak ini berbohong? Bagaimana kalau ia memperdayaiku? Kutengok sekeliling. Penumpang lainnya tak tampak terganggu perhatiannya melihat kami. Adakah ini tampak wajar ataukah hanya aku yang terlalu berprasangka? Bukan apa-apa. Aku pernah merasa dibohongi anak seusia gadis ini di stasiun Tebet beberapa tahun lalu.

“Saya bisa sih bawa ke tempat Ibu,“ pria itu menghentikan pikiranku.
“Ibu saya memang tinggal sendirian. Cuma masalahnya dia gak mau,”.
Aku menatapnya sekilas. “Kita bujuk aja, Mas,”.
Pikiran buruk lenyap begitu saja dan aku menoleh ke gadis itu lagi.
Mencoba membujuknya.
“Dek, kamu mau kemana sekarang? Sudah malam lho. Kamu gak takut?“
“Iya. Saya khawatir aja ni adek kenapa-napa. Udah malam begini...“ mas-mas itu menimpali.
Aku memperhatikan gadis itu baik-baik dan menyentuh tangannya, mencoba memberi rasa nyaman.
“Sekarang, kalau kamu gak mau pulang, kamu mau tidur dimana? Ini sudah malam...“
Gadis kecil itu menggeleng. Beberapa saat kami sama-sama terdiam.
“Gini deh...“ ujarku. “Daripada kamu gak tau mau kemana, mendingan ikut sama mas ini ke rumah Ibunya ya?“
Gadis kecil itu lagi-lagi terdiam.
Aku mengusap punggung tangan dan bahunya dengan lembut. Aku yakin dia hanya butuh tempat mengadu. Tapi kereta terus berjalan dan stasiun pasar Minggu semakin dekat.
“Dek, kamu boleh kesel sama Mama. Ohya, panggilnya Mama atau Ibu?“
Gadis itu berkata singkat, “Mama,“.
“Nah, sekarang pikirin deh, kamu mau tidur dimana. Ini sudah malam. Kalau ada orang jahat gimana? Serem lho. Mama di rumah pasti juga cemas banget mikirin kamu. Duh, anak perempuan saya lagi dimana ya....begitu. Sebenarnya mama sayang sama kamu. Percaya sama kakak. Sekarang gini aja, masalah sama mama entar dulu deh, kamu ikut mas ini ke rumah Ibunya, terus kamu cerita aja. Atau kalau besok mau ketemu kakak lagi juga boleh, nanti kita janjian aja. Mau ya?“ bujukku.

Aku mendengar kata-kataku sendiri dengan jelas. Seolah menjadi manusia paling bodoh yang tengah menasehati dirinya sendiri. Aku juga pernah menjadi adik kecil ini. Tidak separah ia, memang. Tapi mungkin mamah pernah merasakan apa yang mama sang gadis ini rasakan sekarang. Dan sekarang aku yang sok menceramahi.
“Indra,“ aku berujar dalam hati, menekan jiwaku sendiri. “Pegang baik-baik kata-katamu ya.“.

Lantas aku terus memperhatikan gadis itu.
Akhirnya ia mengangguk. Mas-mas di sebelahnya ikut lega. Pun aku, yang tak bisa berbuat banyak.

Kereta mulai berjalan perlahan karena mendekati stasiun. Mas-mas itu berdiri dan membimbing si gadis kecil bangun dari duduknya.
“Maaf ya dek, kakak ga bisa temenin...“ ucapku penuh rasa bersalah.
“Yuk, Mba. Saya duluan...“ mas-mas itu pamit sambil menggamit tangan gadis itu.
“Iya. Titip ya, Mas. Hati-hati,” balasku penuh harap.

Aku menatap mereka turun dari kereta.
Hmhhhhhh......
Beruntung ada mas itu yang mau membantunya. Tak ada rasa curiga padanya, walau pada akhirnya aku berdoa juga semoga ia benar-benar berniat baik.

Tapi... Sebentar.
Bagaimana kalau ia ternyata jahat? Dan aku membiarkan gadis itu dibawa oleh pria yang aku juga belum mengenalnya? Seharusnya aku yang lebih wajib membawa gadis itu bersamaku… karena aku perempuan dan pria itu laki-laki!

Argh!
Aku singkirkan pikiran burukku.
Mereka sudah turun. Tak ada gunanya aku berpikir macam-macam.
Sekarang waktunya berdoa semoga Allah menjaga mereka dengan sebaik-baik penjagaan.

Kereta terus berjalan, seperti merayapi malam yang kian kelam.
Dan aku terus merenungi kejadian barusan. Mencoba menarik hikmah agar jiwa terus belajar.
maafkan, ya Allah... :'(

Sep 4, 2006

Jalan-jalan: Ke Toko Buku

Bismillah.

2 hari ini aku jalan-jalan ke toko buku, Gramedia Matraman dan Kwitang. Keliyengan nyari buku “Assalamu’alaikum: Islam itu Agama Perlawanan“ buat kado temen (btw, Aresto, dikau beli dimana sih???).
Waktu itu udah cari ke Gramed Depok, tapi kata mba-mbanya dah ditarik dari peredaran, entah kenapa. Di toko emperan kampus juga gak ada. Di Gramedia Matraman, dah kosong sejak bulan Juni. Duh! Kalo di Gramed yang gede gini aja gak ada, musti nyari kemana lagi nih!

Di Gramed sempet baca-baca beberapa buku. Mumpung belum ada larangan membaca disana…hehe…

Tapi parah betul ya, sekarang banyak banget buku-buku keren! (Kok parah betul sih…ya bagus donk…-_-‘). Maksudnya parah banget karena aku cuma bisa ngeliatin tu buku dan gak bisa beli…hehe…^_^
Apalagi buku2 manajemen, motivasi dan self-development. Dah kaya jamur gitu, keluar gak berenti-berenti. Buku-buku training dalam dan luar negeri juga banyak. Hmmm....trainer sekarang banyak juga ya. Dari manajemen dan psikologi, agak (atau sangat?!) beririsan. So, how to be a good trainer with my psychology background?!?! Hmh…Yang ini dibahas kapan-kapan ajalah.

Buku-buku semi-ilmiah macam Da Vinci Code, Malaikat dan Iblis, Injil Yudas, dan sejenisnya itu juga semakin banyak. Penelanjangan agama? Hehe…bahasa yang cukup ekstrim. Apapun itu, buku-buku macam ini laris maniiiiss....kayak gorengan. Tapi aku kok gak tertarik ya?!

Buku-buku islam apalagi. Dari yang untuk anak-anak, remaja, ibu-ibu, orangtua… dari yang ringan, berat,
perihal doa-doa, motivasi diri, nikah, kiamat, laa tahzan, dan “laa-laa…” lainnya, siroh sahabat, fiqih, shalahuddin al ayubi (oh…my hero!)

Haaahh...*geleng-geleng*...
Ampun dah...
Banyak amatttt….
Beneran cuma bisa megang-megang dan pengen doang!

Akhirnya cuma window shopping ke bagian stationery dan beli satu buku :
“Menuju Puncak Teladan Jihad Generasi Pertama Islam” karya Dr. Aidh Al Qarni.
Subhaanalloh deh penulis yang satu ini, produktif nian…ck..ck..ck…
Berhubung pengen memotivasi jiwa supaya ruhul jihadnya tidak melemah, jadinya kubeli buku ini (disamping harganya juga relatif lebih murah dibanding yang lain *_* ).

Oya, disana juga ketemu beberapa anak kecil yang lagi jalan-jalan sama mama-papanya. Wah, jadi inget kebiasaan masa kecil dulu. Tiap minggu aku diajak Bapak jalan-jalan ke Gramed sini untuk baca-baca. Dan Bapak pasti membawa aku ke rak cerita-cerita rakyat Indonesia. Gak tau kenapa, Bapak demen banget sama cerita-cerita rakyat itu. Dan palllllling anttttiii sama yang namanya komik. Gak mendidik, katanya. Padahal aku dulu juga pengen ikutan baca Candy-candy, serial si cantik, dan lain-lain, seperti kebanyakan anak seusiaku. Kalau aku ketahuan baca komik, wahhh…beliau langsung mengerutkan kening, mengambilnya dari tanganku dan berkata, “Buku apa sih ini, Indra?” dengan raut muka tak suka. So, koleksiku waktu kecil gak jauh-jauh dari kisah si Timun Emas, Roro Jonggrang, Danau Toba, Sangkuriang, dan sebagainya. Ada kali satu kardus, tapi sekarang udah gak tau kemana.
Kalo inget masa kecil ini...hmmmh....bahagia sekali. Makanya pas kemarin jalan ke Gramedia sendirian, aku tiba-tiba kangen gandengan sama Bapak :’(

Oya, dulu aku dan kakakku juga buka perpustakaan kecil di depan rumah. Kami waktu itu kerjasama sama anak tetangga yang seumuran. Tepat dibawah pohon jambu nan rindang, kami menggelar tikar di halaman rumah dan menata buku-buku yang kami punya. Biasanya habis pulang sekolah kami membuka perpustakaan kecil. Kalau haus, kami tinggal ambil minum dan makanan kecil di rumah. Jadi mirip pesta kebun ^_^.
Tapi biasanya mamah suka teriak dari salon (mamah buka salon di rumah, di garasi. Jadi kalau kami nyewain buku di depan rumah, keliatan dari salonnya dan mamah mengawasi dari sana). Peringatannya berkisar antara “hati-hati ulat bulu,“, atau “Ayo pada tidur siang“ dan semacamnya. Hahaha...jadi lucu kalo inget itu. Soalnya aku sebel banget kalo disuruh tidur siang. Jelas-jelas lagi asyik main. Anak-anak yang lain aja gak disuruh tidur siang... Denger-denger sih tidur siang supaya gemuk dan gak capek. Kenapa ya, orangtua seneng banget sama anak yang gendut?

Tapi aku juga suka siiih.... Anak yang gendut itu soalnya lucu...pipinya gembilll... jadi ketika aku ketemu sama anak kecil yang gendut, biasanya aku belai kepalanya dan pipinya kucuwil, “Iiih....kamu lucu banget siiiihhh....“.
Sama kayak kemarin di Gramed pas ketemu anak kecil yang gendut. Aku cuwil ajah pipinya yang montok. Untung gak diomelin mamanya. Kalo boleh juga udah mau kubawa pulang tuh... Hehe ^_^

Setelah agak desperate karena gak nemu buku yang kucari, akhirnya Ahad siang aku jalan ke Kwitang. Alternatif yang bagus untuk yang kantongnya pas-pasan. Disini kita bisa beli buku-buku baru dengan harga miring. Mau buku pelajaran, buku kuliah, sampe buku-buku umum dan agama, semuanya ada. Asal pinter nawar aja, insya allah bisa dapet buku baru nan kinclong dengan diskon 10-20%. Tapi kalo nyari yang bekas juga ada sih...

Sampe sana, mataku langsung tertumbuk pada buku “For God and Country, James Yee“. Waa....mauuu!
Tapi harganya 60 ribuan. Beli gak ya... tidak mendesak siih... tapi...
Ah, liat-liat aja dulu. Ayo Indra, kamu harus cari yang lebih dibutuhkan.

Berulang kali aku menyodorkan kertas bertuliskan judul buku “Assalamu’alaikum: Islam itu Agama Perlawanan“. Tapi tiap kali abang-abang itu ditanya, jawabannya selalu “Gak ada, Neng...“ atau gelengan kepala.
Yang lebih unik lagi pas nanya ke salah satu abang.
Komentarnya...
“Ini buku kiri ya?“
“Mm...sepertinya begitu...Gak tau juga sih...“
“Wah, saya gak jual buku beginian. Merusak. Enggak deh.”
Aku cuma tersenyum dan menggumam dalam hati.
Merusak?
How can you judge something even you don’t ever see and know how the cover is? (bener ga ya, grammarnya?!)
Ada-ada aja si Abang. Lagian namanya buku kan ilmu, pengetahuan. Masalah ideology mah kalo gak suka ya terserah aja. Justru, mengutip Anis Matta, kita perlu tahu pemikiran orang lain supaya bisa melihat bagaimana kekurangan kita, kelebihan mereka, meng-compare-nya kemudian menyarikan hal-hal yang kita anggap baik-baik saja.

Tapi mungkin abang itu khawatir menyebarkan pemikiran yang ia kurang sreg dengannya. It’s oke… aku cari lagi ke tempat lain. Cuma agak geli aja tadi. Pasalnya aku yakin tu abang bahkan belum liat covernya, tapi dah bilang kalo buku itu merusak. Hehehe…

20 menit pertama gak ketemu, akhirnya mampir ke Gunung Agung. Langsung cek di katalog. Data tidak ada! Hahhh....ini buku ajaib amat ya. Dicari kemana-mana kagak ada!
Aku bersikukuh nyari buku itu dari kemarin-kemarin, soalnya aku yakin temenku itu dah membaca banyak literatur islam, jadi ada baiknya aku berikan buku lain yang bisa memperluas wacana pemikirannya.

1 jam berkeliling. Akhirnya ku telepon.
“lagi di Kwitang neh... Bukunya gak ada...kemarin di Gramed juga gak ada. Gimana donk?? Buku yang lain aja?“
Sebenarnya beliau tidak memaksa. Dan tidak ingin aku memaksakan diri. Tapi kupikir aku sudah berjanji. Jadi yasudah lah...
Akhirnya pilihan jatuh pada “Untukmu Kader Dakwah“, Rahmat Abdullah.
(Halahh....gak jauh-jauh juga akhirnya... >_<)
Tapi gapapa. Ini juga buku bagus. Sarat makna dan hikmah. Mudah-mudahan kapan-kapan bisa share sebagian isinya disini.

Dua jam berkutat di antara buku-buku, aku memutuskan untuk pulang.
Lapar dan haus sekali. Tapi...mataku mengerling sesuatu.
Buku itu lagi! James Yee!

Beli....enggak....beli....enggak...
Beli!

“45 ribu ya Mba...“
“Pas modal, Mba...tambahin 2 ribu deh...“
“Yah....nanggung amat...45 aja. Saya beli deh, beneran...“
“Ya udah..“

Yeahh....I got you, Mr. James Yee! eh salah...buku ttg James Yee maksudnya :)
Alhamdulillah... Semoga bukan investasi yang sia-sia. Karena aku selalu yakin, buku itu adalah harta yang sangat bernilai.

jadilah hari ini aku memborong 5 bukuuuu....
kemaruk amat yah...
tapi gapapa. soalnya aku baru aja nemu quotes keren dari milis komunitas antimalas. begini bunyinya:

"Ketika kamu menjual buku kepada seseorang, kamu tak menjual sebuah
benda seberat 12 ons yang terdiri atas kertas, tinta, dan lem. Kamu
telah menjual untuknya sebuah hidup baru." (Morley).

Nah, kan.
Makanya, gak rugi deh punya buku banyak-banyak. Asal dibaca aja yah. Jangan dikoleksi doank.
Oke deh, selamat membaca! ^_^

Aug 28, 2006

Modelling di Kereta


Bismillah.

Kereta memang gak pernah kehabisan kisah. Ada aja yang bisa diceritain dari kejadian sehari-hari disana (maap ya, Awan Diga. Bukannya mau nyaingin dikau crita2 soal kereta =P).

Kali ini aku mau bahas soal modelling di kereta. Bukan modelling yang jalan-jalan di atas catwalk ituuu! (btw kebayang gak sih, ada peragawati/wan lenggak-lenggok di atas kereta?!?!?).
No, no...
Tapi modelling disini artinya meniru, imitasi, dan sejenisnya.

Jadi gini.
Beberapa kali aku sempat menyaksikan pemandangan itu. Seorang ibu dengan bayi dalam gendongannya, asyik menyapu lantai kereta (lantai atau apa namanya ya?!). Lain hari, seorang bapak digelayuti 3 anaknya yang masih sangat kecil-kecil, sibuk menyenandungkan sholawat sambil mengacungkan kantong uang. Hari berikutnya, ibu-ibu menggendong anak kecil, mengemis tanpa melakukan apapun.

Memperhatikan itu, aku jadi sibuk berpikir.
Bagaimanapun anak belajar dari orangtuanya. Kalo inget iklan susu anak di tivi yang punya kandungan vitamin untuk syaraf penglihatannya, dikatakan bahwa anak menyerap informasi dari dunianya kebanyakan melalui mata.
Dan biasanya anak belajar melalui proses meniru (modelling) dari sekelilingnya. Makanya gak heran, kalo anak-anak tiba-tiba jadi lancar meniru suara dari film kartun Dora The Explorer, seperti "Berhasil! Berhasil!". Atau bener-bener copy paste sampe dandanannya dimirip-miripin. Atau bisa juga tiba-tiba berlagak jadi jagoan macam Power Rangers atau Ksatria Baja Hitam (jadi inget masa kecil... Btw, Kotaro Minami-nya keren yah *_*).

Jika orangtua sadar akan hal ini, maka aku yakin mereka akan sangat berhati-hati menata perilakunya agar anak hanya meniru hal-hal baik dari mereka. Sebab perintah dengan kata-kata disinyalir tidak terlalu efektif dibandingkan teladan yang baik. Contoh konkret, kira-kira begitulah bahasanya.

So, ketika mendapati betapa banyak orangtua di kereta yang membawa serta anak-anaknya mengemis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana pembelajaran yang mereka terima sejak kecil. Jika mereka kelak besar, bersikap menolak terhadap perilaku orangtuanya kupikir sudah merupakan langkah yang bagus. Yang akan menjadi penyesalan adalah jika mereka menganggap pekerjaan mengemis merupakan hal yang baik-baik saja.

Itu masih mending, kata Awan dalam satu perbincangan di atas kereta, karena yang dibawa adalah anak sendiri alias anak kandung. Soalnya di Bandung, katanya, di jalan Pasteur sering banget ada pengemis ibu-ibu dengan gaya dan baju yang hampir sama, membawa anak-anak kecil dalam gendongan mereka. Bukan tidak mungkin memang ada yang mengkoordinir dan memberikan sewaan bayi untuk mereka bawa-bawa sebagai pajangan demi sereceh-dua receh belas kasihan! Wah...wah...parah betul ya. Masa bayi-bayi dijadiin sewaan :(

Apapun alasannya, membiasakan diri mengemis aku pikir tidak cukup mulia untuk dilakukan. Sesulit apapun kondisinya, kalau mau berusaha, insya Allah akan ada jalan untuk mendapatkan nafkah.

Well... ngomong sih emang selalu gampang...
Masalahnya, kalo aku punya lapangan pekerjaan juga bakal aku kasih deh tuh.
Tapi berhubung aku masih mencari pekerjaan juga, jadi aku baru bisa mengangkat pemikiran ini ke permukaan, supaya lebih banyak lagi yang 'ngeh' sama masalah ini.
Kalau mau, jadi loper koran tu dengar-dengar lumayan juga.
Tukang sampah, jangan salah... meski sering dipandang rendah, gitu-gitu mereka dapet duit halal yang tidak sedikit juga. Atau ngumpulin kardus bekas atau kemasan air mineral, agaknya juga bisa memenuhi kebutuhan hidup, walau mungkin tak seberapa. Tau gak, walau rumah mereka cuma bedeng-bedeng kardus atau seng gak jelas gitu, tiap bulan mereka tetap bisa kirim uang ke kampuangnya nan jauh di mato. Bahkan kata temanku, bisa mencapai di atas 500 ribuan sebulannya.

Yah...akhirnya cuma bisa berharap semoga Allah menunjuki orangtua-orangtua mereka hidayah, dan menjadikan anak-anak bangsa itu orang-orang yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
Ayo, Pak, Bu, berikan pembelajaran terbaik untuk anak-anak kita.



-thx2awan4thatDiscuss:)

Aug 23, 2006

Waduh... Nabrak!!!

Bismillah.

Jumat pekan lalu ceritanya aku pergi ke Ciputat untuk wawancara kerja sama People Power Consulting. Ciputatnya bukan daerah UIN situ, tapi dari pasar Ciputat masih teruuusss…, masuk ke daerah antah-berantah yang aku gak kenal sama sekali.
Sebelumnya memang udah pernah kesana sih, dan kalau naik kendaraan umum, makan waktu 1,5 jam lebih. Itu juga kalau gak macet dan sebagainya. Kebayang kan, 4 kali naek angkot?

Nah, kemarin itu kebetulan jam sudah menunjukkan pukul 14.20 wib. Sementara aku masih makan siang dan menyiapkan tas. Males banget jalan sendiri naik angkot. Lagipula bisa-bisa bakal telat sampai sana. Masa disuruh dateng jam 4 tapi telat? First impression-nya nanti bakal kacaww...

Akhirnya aku sms temanku, cowok, yang juga mau wawancara bareng 3 cowok lainnya. Gak mungkin aku boncengan sama mereka. Jadi aku berpikir tuk naik motor sendiri aja.
“Kalo ke Ciputat naik motor tapi gak punya SIM, aman gak?”
“Gapapa sih”. Jawab temanku. “Asal PD aja. Ntar kita bareng aja, Ndra, kalo Indra mau naik motor.“
Aku bolak-balik berpikir.
Kalau minta ijin si mamah pasti gak bakal boleh. Yang pertama, karena jauh banget. Yang kedua, karena gak punya SIM. Yang ketiga, biasalah ibu-ibu, entar kenapa-napalah, beginilah, begitulah.

Untungnya si Mamah mau pergi juga waktu itu. Dan beliau jalan duluan. Jadilah aku jalan belakangan dan naek motor! Yiiiiihhuuu...! ^_^ v

Pas aku nyari STNK... Waks! Gak ada, man! Gimana niyy?
Aduh, bodo amat deh. Udah mau telat.

Jaket dan kacamata kupakai, tas dislepang, dan helm mas-ku jadi teman.
Oiya, setel MP3 dulu biar gak bengong.
Aduh, tapi slayer buat nutup hidungnya ketinggalan… terpaksa deh menghirup asap-asap knalpot nan kotor dan bau itu :(.

Kami lantas jalan berendengan. Dan ni bakal jadi perjalanan terpanjang pertamaku, soalnya kemarin2 paling jauh cuma sampe Duren Sawit-Klender.
kami mengambil rute Otista, Dewi Sartika, Kalibata, Pasar Minggu, Pejaten, Buncit, terus langsung ke Ciputat. Satu motor temanku di depan dan satu lagi mengawalku di belakang. Sepanjang itu, MP3-ku memutar nasyid-nasyid haroki, mulai dari Izis sampe Shoutul Harokah. Jadi semangat deh. Tapi di tengah jalan, aku mulai pegal-pegal. Ternyata bener-bener jauh ya, dari Cipinang Muara ke Ciputat itu *keluh*.

Sampe di kantornya, kami langsung sholat asar dan mengantri diwawancara. Tapi nyatanya kami gak diwawancara. Cuma langsung nandatangani kontrak kerja selama 3 tahun dan dikasih starter kit perusahaan aja. Soalnya sebenarnya kami udah menjalani masa percobaan selama beberapa bulan kemarin. Akhirnya jam 17.10 wib kami langsung cabut, mau ngejar maghrib di rumah.
Si Wiwit, temanku yang tadi naik motor di depanku, berujar. “Indra, naik motornya bisa cepetan dikit gak?“. Soalnya dia dari tadi harus nungguin aku dulu yang selalu ketinggalan di belakang. “Ohhhh...begitu ya. Iya, iya. Padahal tadi udah cepet lho...“

Kami pun pulang. Jalan yang tadinya jauh jadi terasa agak ringan karena sudah kami lewati sebelumnya. Tapi, sampai di daerah mana gitu, aku lupa...
Sebuah motor mengambil arah ke kiri tiba-tiba.
Udah gitu dia berhenti dan aku yang lagi jalan kenceng di belakangnya terpaksa ngerem mendadak.
Aku teriak panik, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!“.

Nabrak, sodara-sodara!!!
Gak nabrak motornya, tapi nabrak kaki orang yang bonceng di belakang!
Waduh...gimana nih!
Teman-temanku udah jalan duluan dan gak keliatan lagi! Plus langsung kebayang aku gak bawa SIM dan STNK!
Aku langsung minta maaf. “Maaf ya Mas!“
Tapi si mas-masnya malah bilang...
“Aduh...maaf Mba...Iya gapapa...maaf ya Mba...“
Mendengar begitu, aku jadi serasa dapet angin.
Jadi aku omelin aja itu orang.
“Lagian sih berenti mendadak.“
“Iya Mba...maaf....maaf...“
Lalu aku langsung ngeloyor pergi dan meng-gas motorku kencang-kencang.
Yeahhh...... Aku menaaaaaaaaaaaanggg!!! ^_^

Aku gak salah donk. Orang mereka tiba-tiba ngambil kiri gak pake lampu sen. Mana aku tau. Dah gitu malah berenti mendadak lagi. Padahal tadi udah takut juga sih…Soalnya aku yang nabrak. Bagaimanapun mereka korban dan aku pelaku. Fiuhhh… Untung gak kenapa-napa… kalau misalnya sampai berurusan sama polisi dan ditanya-tanya surat-suratnya, bisa gawat aku…

Akhirnya sampai juga di Cawang. Kami berbelok ke kiri, menuju Kebon Nanas. Jarak ke rumah tinggal beberapa ratus meter lagi. Waktu berhenti di lampu merah depan gedung Otorita Batam, aku menghembus nafas lega dan berhamdallah. Tapi...
Lho...kok tiba-tiba motorku mati...
Duh, kenapa nih... Jangan-jangan bensinnya abis…
Gak bisa distarter!
Lampu hijau menyala dan mobil-mobil di belakangku sudah mulai mengklakson.
Tiiiiin.....Tiiiin....!!!
Panik menyergap lagi. Untung teman-temanku gak jauh dari aku. Secara psikologis aku jadi lebih tenang ketimbang pas nabrak tadi sendirian. Kami pun menepi dan menuntun motorku ke seberang, ke tempat yang lebih aman.

Temanku mencoba menstarter motorku. Gak bisa.
“Kayaknya bensinnya abis deh....“ ujarku. Kami memeriksa tanki bensin di balik jok.
Tapi kuncinya gak mau ngebuka.
Beruntung dekat situ ada pom bensin.
“Ke situ aja yuk. Biar isi bensin sekalian“, ajakku.
Pas tanki dibuka...
“Pantes aja, Ndra....sampe kering begini...“ kata temanku.
“Iya, sebenarnya tadi pas berangkat mau isi bensin dulu, tapi tadi kan buru-buru. Pas pulang juga gak liat ada pom bensin“.

Fiuh...Untung aja ni motor mati di tempat yang ’tepat’. Di lampu merah, udah deket rumah dan deket pom bensin pula. Gimana kalo tadi berenti di tengah jalan raya gede, dan gak ada SPBU yang dekat??? Bisa-bisa kita gempor menuntun...Bener-bener nashrullah deh...
Alhamdulillah....

Setelah bensin terisi, motor di-starter lagi dan....yeaaah....menyalaaaaaaa.....
Kami pun beranjak pulang.
Seperempat hari ini...benar-benar jadi perjalanan yang melelahkan pokonya...
Tapi alhamdulillah, motor dan badanku masih utuh pas sampe rumah ^_^. Hehehe...

Aug 18, 2006

Kita belum merdeka, Tuan...


Kita belum merdeka, Tuan…
Atas kemiskinan yang terus menggurita
Pun kebodohan yang tampak semakin biasa
Tengoklah sekelilingmu yang berdarah
Atau pelosok-pelosok hati yang senantiasa mengecap luka
Selalu airmata
Ataupun tangisan gundah
Serta duka-lara yang menanah
Bersemayam di sana.

Bukankah mata kita belum buta
Dan ia masih berfungsi dengan teramat sempurna?
Maka longoklah kolong-kolong gedung bertingkatmu
Yang mencakar langit dan menembus awan semesta
Atau ujung-ujung lorong sempit di kotamu
Yang ditempati oleh tikus got dan manusia
Hidup berdampingan berbagi ruang dan masa

Atau sapalah tangan-tangan jelaga
Di antara rimbunan sampah menggunung
Yang kita hadiahkan bagi mereka
Bahkan menengokpun kadang kita tak rela
Apatah lagi menghirup bau badannya
Padahal kita tak pernah memberi mereka apa-apa
Kecuali sampah dan sampah semata

Tuan, agaknya kita memang belum merdeka
Tapi keterbelengguan itu takkan pernah terlihat jika kita enggan menundukkan kepala yang selalu tegak
Ayo, Tuan
Lihat ratusan jiwa nestapa di bawah sana
Perut mereka sudah terbiasa untuk senantiasa lapar
Juga menahan dingin hembus angin malam
Dan hujan, panas, badai, atau mungkin gelombang pasang

Begitulah, Tuan.
Kita memang belum merdeka.
Jika sekolah-sekolah selalu kekurangan guru untuk mengajar
Dan orangtua-orangtua berhutang sana-sini untuk melunasi buku serta iuran
Adakah kemerdekaan benar-benar mewujud nyata
Ataukah ia sekedar jargon-jargon saja?
Jika di segala penjuru bertebaran satu-sepuluh-ratusan-dan bahkan jutaan manusia miskin-papa,
Dan kaki-kaki kecil yang menjejak jalan-jalan mencari uluran receh-receh milik kita
Adakah merdeka sudah membumi-merealita
Ataukah ia cuma sampai pada tulisan-tulisan semata?

Kita belum merdeka, Tuan.
Serigala-serigala berdasi itu nyatanya masih bebas berkeliaran
Tak tanggung-tanggung, Tuan!
Dari MA hingga kelurahan
Suap-menyuap masih membudaya
Pun urus KTP, masih juga kena biaya
Ini, yang kita sebut dengan merdeka?
Polisi-polisi bahkan menilang untuk mendapat uang makan
Hakim-hakim berkomplot supaya dapat uang damai
Sementara ribuan buruh tak henti menuntut hak dan kesejahteraan
Peduli, kasih dan empati semakin menguap hilang
Pun benar dan salah yang semakin samar
Argh!
Inikah, Tuan, yang kita sebut dengan merdeka???

Sudahlah, Tuan.
Tak cukup kita berbangga dengan 61 tahun perayaan.
Tak cukup teriakan-teriakan hingga nafas tersengal
Atau semangat yang membuat kerongkongan kita tercekat
Apalagi ‘cuma’ makan kerupuk, balap karung dan panjat pinang
Seharian itu gembira jadi raja
Dan berpuluh-puluh hari berikutnya, duka-lara kembali membias jiwa

Kita memang belum merdeka, Tuan.
Miskin, bodoh, fakir, adalah penjajah sebenar-benarnya
Maka merdekakan bangsa kita sekarang juga
Atau nusantara, berpuluh tahun ke muka,
Boleh jadi tinggal nama.




-Bangkitlah,Indonesiaku!



*gambarBenderanyaDiambilDariSini.terimaKasiih.

Aug 16, 2006

Totalitas Penghambaan




Bismillah.
Alhamdulillah…seneng banget ya, kalau kita bisa selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada. Betapa beruntungnya kita berada di barisan Rosulullah saw, yang mengajarkan bahwa Islam begitu mengajarkan untuk berbaik sangka terhadap baik-buruk peristiwa.

Hari-hari berat kemarin, saat pengerjaan skripsi, ngetik-ngetik, ngumpulin bahan, sampai nyebar kuesioner, analisa dan sidang, adalah hal yang kupikir tidak bisa dikatakan ringan. Baru tau deh, kenapa orang-orang begitu bersyukur saat skripsi sudah selesai dibuat. Emang gak gampang sih.

Itu pula yang aku hadapi.
Walau susah-ringannya bisa dimaknai dengan persepsi yang beda-beda, jelas, skripsi sudah menguras banyak waktu dan tenaga. Belum lagi uang untuk print, fotokopi, rental, beli reward, beli Cadbury dan silverqueen (ups! Ada yang tersindir ga, ya? ^_^), dsb.
Tapi subhanallohnya, di masa-masa sulit itu, aku justru merasakan kenikmatan luar biasa yang sukar diungkapkan dengan kata-kata.

Bagiku, pengerjaan skripsi adalah jihad akademis terberat yang pernah kuhadapi.
Itu sebabnya ketika mentok dan suntuk abis, cuma Allah yang jadi tempat berlari. Yang lain, gak bisa diharapkan. Bukan apa-apa, karena mereka juga sedang sama sibuknya mengerjakan skripsi. Kalau dicurhatin, respon yang muncul malah curhatan juga. Bukan solusi yang keluar, tapi sharing problem dan gak ada pemecahannya :).
Ada juga yang udah minta maaf sejak awal karena gak bisa bantuin, atau bahkan ada yang jago ngomong doang atau ngangkat-ngangkat di awal tapi ngejatohin di belakang. Yang terakhir-terakhir ini, baiknya emang dianggap gak ada aja.
Siapa mereka emangnya, ya gak?

Selain itu, selama ngerjain skripsi aku juga jadi dekat dengan banyak orang yang sebelumnya tidak terlalu intens berinteraksi. Justru di saat-saat seperti ini, merekalah yang menopang kala aku sudah oleng berdiri, atau memberi dorongan untuk bangkit dan berjuang hingga batas maksimal. Yang lain, kemana tau deh...

Makanya, aku bersyukur sekali berada dalam proses yang sulit ini. Maksudnya bukan kesenengan dikasih kesulitan. Tapi aku bisa memaknainya lebih mendalam karena ternyata banyak sekali anugerah yang belum tentu aku bisa dapatkan kalo aku gak menjalani proses ini.

Jadilah,"hasbunallah wa ni'mal wakiil" itu teresap sedemikian rupa sehingga "Laa hawla walaa quwwata illa billah" makin kuat tertanam di dalam jiwa.
Bener-bener pasrah dan gak tau musti gimana.
Berasa banget gak punya kekuatan apa-apa.
Dan di puncak penyerahan itu, totalitas penghambaan mendominasi segala ruang rasa...

Dalam ketundukan terdalam...
saat kita merasa berada di jurang kejatuhan terendah...
di waktu kita tak lagi tahu harus berbuat apa
di saat kita tengah terhempas di titik nadir kehinaan...
ketika itulah aku merasakan sensasi totalitas penghambaan yang luar biasa!

Kalian tahu, adakah yang lebih nikmat daripada ketika kita dekat dengan Allah?
Bagiku, saat ini tidak ada :)



-thanksAllah,forTheAmazingProcess

Aug 15, 2006

If I could reach...

Some dreams live on in time forever
Those dreams, you want with all your heart
And I’ll do whatever it takes
Follow through with the promise I made
Put it all on the line
What I hoped for at last would be mine


If I could reach, higher
Just for one moment touch the sky

From that one moment in my life
I’m gonna be stronger
Know that I’ve tried my very best
I’d put my spirit to the test
If I could reach

Some days are meant to be remembered
Those days we rise above the stars
So I’ll go the distance this time
Seeing more the higher I climb
That the more I believe
All the more that this dream will be mine

If I could reach, higher
Just for one moment touch the sky
From that one moment in my life
I’m gonna be stronger
Know that I’ve tried my very best
I’d put my spirit to the test
If I could reach

If I could reach, higher
Just for one moment touch the sky
I’m gonna be stronger
From that one moment in my life
I’m gonna be so much stronger yes I am
Know that I’ve tried my very best
I’d put my spirit to the test
If I could reach higher
If I could, If I could
If I could reach
Reach, I’d reach, I’d reach
I’d reach I’d reach so much higher
Be stronger


(Reach - Gloria Estefan)

Lagi suka banget sama lagu ini...
Hmm... hmm... hmmm...
very nice song...