Sep 17, 2006

Tim Keuangan, How I Miss U So...


Bismillah..

Sekarang ini lagi kangeeen... bangetttt sama temen-temen keuangan...

Tahun lalu, aku berempat Anis, Fajar dan Oskar merupakan tim keuangan di BEM UI 0506. Dari kesemua tim keuangan itu, cuma aku satu-satunya yang bukan anak FE (fakultas ekonomi), sementara Anis, Fajar dan Oskar semuanya kuliah di ekonomi. Anis, aku dan Oskar kebetulan sama-sama angkatan 2001, dan Fajar angkatan 2002. Inget banget deh waktu di awal-awal kita bersusah-payah bikin SOP keuangan (standard operational procedures –red) yang ajeg, adil dan bisa meminimalisir penyelewengan.

Dipandu Oskar sebagai Staf Ahli Ekonomi dan Keuangan, kami pun merumuskan poin-poin yang kiranya harus menjadi perhatian utama. Pokoknya setiap aliran uang yang keluar-masuk harus diketahui sama aku sebagai bendum (bendahara umum), serta Anis dan Fajar sebagai staf keuanganku sekaligus auditor. Caranya, dengan mengaudit anggaran yang diajukan kepanitiaan/bidang/biro, mengontrol penggunaannya saat kegiatan berjalan, plus memeriksa kembali laporan keuangannya ketika kegiatan sudah berakhir.

Awal yang cukup menegangkan.
Usulan SOP keuangan kami agak deadlock di rapat BPH.
Si Mr.Biggy, leader of our BEM, cuma mau tau bahwa kita bikin peraturan yang baik. Baik itu, menurut dia, bisa meminimalisir penyelewengan tadi, dan diterima semua pihak. Untuk poin kedua ini, kami pasang badan. Masalahnya ada peraturan yang gak bisa diterima sama beberapa pihak. Menurut mereka, uang yang sepenuhnya dipegang sama Bendum akan mempersulit prosedur penggunaan, in-efisiensi dan in-efektivitas, serta ber-bla-bla alasan lainnya. Otomatis kami serentak mengerutkan kening. Rasa-rasanya gak bakal segitunya deh. Masalahnya uang yang dipegang oleh bidang nantinya akan sulit terkontrol. Iya kalau setiap uang keluar-masuk dilaporkan. Kalau enggak? Dan tetep aja, perputaran uang tanpa sepengetahuan kami sangat mungkin terjadi.

Di masa itu, deadlock menghadang. Aku akhirnya bicara sama beberapa BPH. Sambil menahan bingung dan gemas, aku tekankan bahwa pertanggungjawaban keuangan ada padaku. Jadi kalau ada apa-apa di kemudian hari, yang dipanggil duluan di persidangan akhirat sama Allah tuh aku. Bukan si A, si B, si C. Tapi Mr. Biggy kekeuh menyanggah. Gimana-gimana pimpinan tertinggi ada pada dirinya. Jadi kalau ada apa-apa, yang pertama dipanggil Allah untuk bertanggung jawab ya dia.
Huh. Tapi kan yang megang keuangan langsung tuh aku, Biggyyy…

Akhirnya si Biggy ambil jalan tengah.
Dia mau peraturan tegak, tapi dia juga gak kepingin ada yang terluka. Anis bahkan sampai terperangah. Dimana-mana bikin peraturan kan gak harus minta pertimbangan si objek hukum dulu, begitu katanya.
Fajar dan Oskar mengangguk dengan kuat, "Sepakat!!!".

Ok, ok. Aku mengalah pada putusan pimpinan. Yang penting aku sudah perjuangkan semaksimal yang aku bisa. Kalau ada apa-apa, tanggung jawab ya. Aku sudah mengingatkan.

Di awal tahun itu, Oskar lebih banyak berperan. Walau cuma muncul di 3 bulan pertama, dia cukup konkret menuangkan konsep dan mengajari banyak hal. Aku gitu lho. Anak psikologi yang tiba-tiba harus berurusan dengan reimburs-reimbursan, laporan keuangan, neraca dan sebagainya. "Jaka sembung naik ojek, gak nyambung, Jack!", kan?


Saat itu Anis harus magang. Fajar, masih malu-malu main ke ruangan Bem di pusgiwa.
"Males saya kalau gak kenal anak-anaknya, Ndra." Begitu dia beralasan.
Dan akhirnya kerja-kerja yang diniatkan di awal menjadi tidak begitu optimal. Sempet juga aku kesal sama Oskar yang gak pernah nongol. Masalahnya dia gak pernah ngasih kabar. Pun Fajar yang suka lambretta kalau didelegasiin tugas ke rektorat dan nyebar laporan keuangan ke fakultas-fakultas. Jadi gemeeesss...banget kalo udah begini.
(Hehehe...Maap-maap ya Oskar dan Fajar ^_^)


Tengah tahun kedua, kami berbenah. Anis sudah selesai dari magangnya, dan Fajar sudah cukup akrab dengan pusgiwa. Kerja-kerja mulai membaik dan kinerja semua orang meningkat. Kalau bidang-biro lain rapat koordinasinya di pusgiwa, terkadang kami memilih rapat di Medina Burger di Jl. Margonda, atau bahkan sampai ke Paparon’s Pizza segala. Bukan apa-apa, Anis yang waktu itu udah kerja baru bisa ke Depok setelah pekerjaannya selesai. Dan itu diatas jam 17.00, sodara-sodara. Maka jadilah kami berrapat-rapat di luar daerah pusgiwa. Oya, semuanya dibayar pake uang sendiri koq, bukan uang Bem lah... Hehehe...


Ada satu kejadian lucu waktu di Medina Burger.
Waktu itu, kami sudah mau memesan menu.
Sampai di meja pesan, aku mengusulkan sesuatu.
"Eh...eh...gini-gini. Si Fajar bayarin Oskar, Oskar bayarin Anis, Anis bayarin aku, aku bayarin Fajar."
Fajar : "Aduh, ribet kalo kaya gitu. Udah sih, bayar sendiri-sendiri aja."
Oskar : "Iya, Ndra...Susah..."
Aku, yang anak psikologi, menjawab dengan sedikit mengotot : "Yahhh.... Biarin. Kan secara psikologis, akan terasa bahwa kita sedang saling mentraktir, walau sebenarnya bayar sendiri-sendiri juga..."
Oskar, karena dia anak ekonomi, menjawab : "Tapi secara ekonomi, itu gak ekonomis, Ndra!!!"
Fajar : "Iya betuuu!!!l!! Sepakat gua sama lu, Kar!"
Indra : "Iih... tapi kan kalo kaya gitu gak asiiikk... udah saling ngebayarin aja!"

Selama kita berdebat itu, mas-mas penjualnya ngeliatin kita aja.
Sampai si Anis menengahi, baru deh kita diam.
"Eh, udah-udah. Cepetan mau pesen apa. Tuh mas-masnya bingung...Maaf ya, Mas..."
Hahaha.... ^_^

Abis itu kita makan dengan menggabungkan dua meja (terkadang sampai 3, kalau lagi rame-rame sama anak-anak lainnya), dan ngobrol-ketawa panjang lebar sampe tu ruangan Medina berasa milik kita. Si mas-mas Medina seperti biasa cuma bisa ngeliatin. Mungkin sambil berpikir, "Ni anak-anaknya siapa sih, ilang disini? Rusuh amat..."
Hehehe....

Hal-hal lucu lainnya, terjadi antara aku dan Anis.
Anis bilang, aku tuh mirip banget sama dia waktu dia jadi bendahara di Senat FE dulu.
Yang belibet-libet sama laporan-lah, yang bon-bon suka keselip-seliplah, sampai yang suka bingung sendiri kalau mau mengerjakan suatu hal.
Dan ternyata, dinamika keluarga Anis juga mirip-mirip sama keluargaku. Yang gak boleh nginep-ngineplah, yang overprotected-lah, dan lain-lain yang hampir-hampir sama.
Kalau inget-inget itu aku jadi pengen ketawa sendiri.
Asal bukan twin ble’e aja deh, Nis...

Ada lagi hal yang konyol terjadi pada salah satu oknum tim keuangan ini.
Jadi waktu itu, si Fajar lagi turun tangga Bem, sambil nyanyi-nyanyi lagu SMS yang doctrinize itu.
"Bang....sms siapa ini , Bang... dst".

waktu itu masih awal2 banget lagu itu keluar. jadi kita masih belum akrab sama lagunya. dan selalu menunjukkan mimik seperti ini --> -_-' kalau lagu itu terdengar (eh, ampe skarang jg masih siih...)

Si Anis sampe ngakak tergelak. Aku yang diceritain juga ketawa gak kalah lebar.
Ya ampuun...Fajar! Bisa-bisanya nyanyiin gituan! Kagak ada yang elit-an dikit apa???
Sampe sekarang, kalau aku dan anis mendengarkan lagu ini dimanapun kami berada, pasti keingetan sama Fajar. Dan abis itu pasti kita gak bisa nahan ketawa ^_^

Tapi selain hal-hal lucu di atas, ada juga kejadian yang bikin kita megap-megap susah bernapas. Waktu itu kita kerepotan nanganin salah satu kepanitiaan yang anggaran keuangannya bermasalah.
Udah deket hari H, dananya yang ditargetin ratusan juta itu belum juga terkumpul. Dah gitu panitianya gak mau acaranya dikurangi atau dimodifikasi biar bisa menekan anggaran. Sementara BEM juga gak punya uang sebanyak anggaran mereka untuk nalangin.
Bener-bener deh... Mana waktu itu Anis lagi persiapan sidang. Sampe dia ditungguin (dan dimarahin) sama temen-temennya yang mau ngajarin dia. "Hare gene udah mau sidang masih ngurusin BEM, Nis???" Kira-kira begitulah omelan teman-temannya Anis.
Aku, Fajar dan beberapa BPH juga harus rela pulang agak larut karena mencari solusi yang pas buat kepanitiaan ini. What a hectic day-lah ketika itu...

Yahh...begitulah kenangan-kenangan tim keuangan.
Mulai dari yang nyebelin, sampe yang malu-maluin. Dan sekarang kami udah misah-misah.
Si Anis sampe sekarang masih kerja di redaksi majalah ekonomi syariahnya.
Oskar terakhir dengar kabarnya, akan melanjutkan S2 di Australia.
Dan Fajar, kemarin2 dia ngirim sms begini...
"doakan ya, Insya Allah saya besok mau umroh. Kapan tim keuangan kumpul lagi? Kangen nie..."
Waaa...Fajaaaar....umroh....!
Sms-nya bikin tambah kangen aja sama semuanyaaaa....
Iya. Rencananya suatu saat kami akan jalan-jalan ke Taman Safari. Tapi entah kapan, soalnya semua udah pada sibuk sekarang :(

Duh, tim keuangan-ku....how i miss u so-lah pokoknyaaa! :(

Sep 10, 2006

Bukan Hariku

Bismillah.


Hari ini bukan hariku, Allah.
Maka, jika sesak menyeruak ke relung-relung jiwa, mohon maafkan ia.
Sebab tertinggal dari kereta perjalanan berarti menunda sekian banyak agenda
Dan upaya pun bertambah demi kejaran waktu yang kian melama.

Ya. Hari ini bukan milikku.
Kalaupun aku harus menunduk, semoga itu bukan karena menolak kehendak-Mu.
Kalaupun aku harus mengusap titik-titik bening yang kian menyusut,
semoga itu bukan karena tak mau menerima keinginan-Mu.
Engkau pasti tahu bahwa jejak-jejak mereka senantiasa berjajar denganku.
Engkau pasti melihat bahwa kemarin kami berhimpitan dengan waktu
Dan jika sekarang kami tak bersama-sama menyongsong gerbang itu, yakinkan aku bahwa ini yang terbaik untukku.

Aku tahu ini bukan hariku, ya Allah.
Maka sadarkan jiwaku bahwa lara tak akan menghentikan takdir-Mu.
Kuatkan ikhlashku bahwa mentari pasti muncul setelah malam meredup.
Dan kesunyian malam serta lenguhan burung hantu
Akan segera pergi ketika sang fajar menguak pagi yang baru.

Jadi Ya Allah...
Semoga disinilah kurengkuh lebih banyak anugerah-Mu
Meski tapak-tapak ini tak lagi bersanding menyudahi perjuangan yang lalu
Dan satu-persatu mereka pergi menyongsong medan yang baru
Yakinkan saja bahwa jiwaku kan tetap bersama-Mu
Hingga aku semakin yakin,
Cukuplah Engkau yang memenuhi hari-hariku.


020906, saatWisudaSemesterGenap.



Nb :
Congratulation to Drg.Deasy Rosalina,
afwan ga bisa menuhin janji tuk ketemu di balairung ya. juga buat Nuri Sadida,S.Psi, Suryana,S.T., Indah Rachmawati,S.Si, Adie Fauzan,S.Si, Rubby Eka Saputra,S.Hum, Adri "Qyubho" Firmansyah,S.Si, Victa,S.KM, Angga Putra,S.KM, Fathurrahman,S.Sos, Iwan Kurniawan,S.Si, Herika,S.Si, Rose Handayani dan Anisa Rahmawati,S. ?? (keperawatan gelarnya apa ya?!?), Rahmi Anisah,S.E, Pandu, Winna, Anik, K'Dany dan Mira,S.Psi...selamat berjuang menyongsong medan jihad berikutnya. smg ilmunya berkah dan bermanfaat untuk sebesar2 kepentingan ummat.

Sep 8, 2006

Gadis Kecil di Kereta

2ismillah.

Jarum jam mungkin sudah menunjukkan pukul 7 malam lewat ketika itu. Aku berdiri di tepi peron stasiun UI menunggu kereta jurusan Bogor-Tanah Abang yang sudah terlihat dari kejauhan. Mudah-mudahan kosong dan mendapat duduk, doaku dalam hati.

Kereta tiba dan aku segera naik. Alhamdulillah, bangku-bangku banyak yang kosong. Aku duduk tepat di samping seorang gadis berusia 12 tahunan dan seorang Bapak. Di sebelah gadis itu, seorang pria berumur 27 tahunan meletakkan tangannya di jendela kereta, seolah berposisi merangkul sang gadis, walau tidak sampai menyentuh. Perhatianku seketika terganggu. Pasalnya aku akan merasa risih jika melihat tangannya sampai menyentuh tubuh si gadis, atau mungkin mengenai punggungku. Tapi aku merasa lega kemudian. Laki-laki itu hanya menyandarkan tangannya saja di jendela. Dan aku berbaik sangka sang gadis adalah saudaranya.

Kereta terus melaju dengan cepat. Merasa begitu lelah, aku hanya duduk terdiam dan mencoba melafazkan dzikir. Tapi tak lama perhatianku terganggu. Pria itu mencolek bahuku! Aku terlonjak seketika.

“Mbak, adek ini baru kabur dari rumahnya di Cilebut. Dia sendirian. Mana katanya belum makan lagi dari siang,“
Aku melupakan colekan pria itu sejenak. Perhatianku beralih ke gadis kecil di sebelahku.
“Oh... sekarang mau kemana?“
Gadis itu tetap diam dan tak merespon teguranku.
“Dia kabur dari rumah. Berantem sama mamanya. Katanya mamanya pilih kasih,“ pria itu menjadi jubir tanpa diminta.
Aku mengangguk-angguk dan bertanya ulang sekedar memastikan.
“Kenapa kabur dari rumah, dek?“
“Abis mama pilih kasih...“
“Terus, sekarang mau kemana?“
“Saya mau ajak dia ke tempat saya, Mbak,” lagi-lagi si mas-mas itu yang menjawab.
“Tapi saya nge-kos. Takutnya mau nolongin malah ntar muncul omongan macem-macem. Jadi saya mau bawa ke rumah ibu saya di Pasar Minggu. Abis kasian kan udah malem begini. Tapi dia gak mau…“

Aku berpikir keras.
Hari sudah malam begini. Tidak mungkin membiarkan gadis ini keluyuran sendirian.
“Kamu mau kemana sekarang?” tanyaku kepada gadis kecil itu.
Lagi-lagi ia hanya terdiam sambil memeluk tasnya.
“Kalau Mbak pulangnya kemana?“ si mas-mas bertanya padaku.
“Oh, saya turun di Tebet. Tinggal di Cipinang,“ ujarku.
“Tinggal sama orangtua? Soalnya saya nge-kos. Takut ada komentar gimana-gimana…“
“Mhh..iya sih. Saya ngerti. Saya mau nolongin, tapi… “ bayanganku berlari ke rumah. Bagaimana reaksi mamah kalau pulang-pulang aku membawa orang asing?
“Saya gak yakin orangtua saya bisa nerima…”
Mas-mas itu mengerti. Ia segera mengangguk.
Sebetulnya bukan hanya mamah yang menjadi konsideranku. Tapi sedikit pikiran buruk melintas seketika. Bagaimana kalau anak ini berbohong? Bagaimana kalau ia memperdayaiku? Kutengok sekeliling. Penumpang lainnya tak tampak terganggu perhatiannya melihat kami. Adakah ini tampak wajar ataukah hanya aku yang terlalu berprasangka? Bukan apa-apa. Aku pernah merasa dibohongi anak seusia gadis ini di stasiun Tebet beberapa tahun lalu.

“Saya bisa sih bawa ke tempat Ibu,“ pria itu menghentikan pikiranku.
“Ibu saya memang tinggal sendirian. Cuma masalahnya dia gak mau,”.
Aku menatapnya sekilas. “Kita bujuk aja, Mas,”.
Pikiran buruk lenyap begitu saja dan aku menoleh ke gadis itu lagi.
Mencoba membujuknya.
“Dek, kamu mau kemana sekarang? Sudah malam lho. Kamu gak takut?“
“Iya. Saya khawatir aja ni adek kenapa-napa. Udah malam begini...“ mas-mas itu menimpali.
Aku memperhatikan gadis itu baik-baik dan menyentuh tangannya, mencoba memberi rasa nyaman.
“Sekarang, kalau kamu gak mau pulang, kamu mau tidur dimana? Ini sudah malam...“
Gadis kecil itu menggeleng. Beberapa saat kami sama-sama terdiam.
“Gini deh...“ ujarku. “Daripada kamu gak tau mau kemana, mendingan ikut sama mas ini ke rumah Ibunya ya?“
Gadis kecil itu lagi-lagi terdiam.
Aku mengusap punggung tangan dan bahunya dengan lembut. Aku yakin dia hanya butuh tempat mengadu. Tapi kereta terus berjalan dan stasiun pasar Minggu semakin dekat.
“Dek, kamu boleh kesel sama Mama. Ohya, panggilnya Mama atau Ibu?“
Gadis itu berkata singkat, “Mama,“.
“Nah, sekarang pikirin deh, kamu mau tidur dimana. Ini sudah malam. Kalau ada orang jahat gimana? Serem lho. Mama di rumah pasti juga cemas banget mikirin kamu. Duh, anak perempuan saya lagi dimana ya....begitu. Sebenarnya mama sayang sama kamu. Percaya sama kakak. Sekarang gini aja, masalah sama mama entar dulu deh, kamu ikut mas ini ke rumah Ibunya, terus kamu cerita aja. Atau kalau besok mau ketemu kakak lagi juga boleh, nanti kita janjian aja. Mau ya?“ bujukku.

Aku mendengar kata-kataku sendiri dengan jelas. Seolah menjadi manusia paling bodoh yang tengah menasehati dirinya sendiri. Aku juga pernah menjadi adik kecil ini. Tidak separah ia, memang. Tapi mungkin mamah pernah merasakan apa yang mama sang gadis ini rasakan sekarang. Dan sekarang aku yang sok menceramahi.
“Indra,“ aku berujar dalam hati, menekan jiwaku sendiri. “Pegang baik-baik kata-katamu ya.“.

Lantas aku terus memperhatikan gadis itu.
Akhirnya ia mengangguk. Mas-mas di sebelahnya ikut lega. Pun aku, yang tak bisa berbuat banyak.

Kereta mulai berjalan perlahan karena mendekati stasiun. Mas-mas itu berdiri dan membimbing si gadis kecil bangun dari duduknya.
“Maaf ya dek, kakak ga bisa temenin...“ ucapku penuh rasa bersalah.
“Yuk, Mba. Saya duluan...“ mas-mas itu pamit sambil menggamit tangan gadis itu.
“Iya. Titip ya, Mas. Hati-hati,” balasku penuh harap.

Aku menatap mereka turun dari kereta.
Hmhhhhhh......
Beruntung ada mas itu yang mau membantunya. Tak ada rasa curiga padanya, walau pada akhirnya aku berdoa juga semoga ia benar-benar berniat baik.

Tapi... Sebentar.
Bagaimana kalau ia ternyata jahat? Dan aku membiarkan gadis itu dibawa oleh pria yang aku juga belum mengenalnya? Seharusnya aku yang lebih wajib membawa gadis itu bersamaku… karena aku perempuan dan pria itu laki-laki!

Argh!
Aku singkirkan pikiran burukku.
Mereka sudah turun. Tak ada gunanya aku berpikir macam-macam.
Sekarang waktunya berdoa semoga Allah menjaga mereka dengan sebaik-baik penjagaan.

Kereta terus berjalan, seperti merayapi malam yang kian kelam.
Dan aku terus merenungi kejadian barusan. Mencoba menarik hikmah agar jiwa terus belajar.
maafkan, ya Allah... :'(

Sep 4, 2006

Jalan-jalan: Ke Toko Buku

Bismillah.

2 hari ini aku jalan-jalan ke toko buku, Gramedia Matraman dan Kwitang. Keliyengan nyari buku “Assalamu’alaikum: Islam itu Agama Perlawanan“ buat kado temen (btw, Aresto, dikau beli dimana sih???).
Waktu itu udah cari ke Gramed Depok, tapi kata mba-mbanya dah ditarik dari peredaran, entah kenapa. Di toko emperan kampus juga gak ada. Di Gramedia Matraman, dah kosong sejak bulan Juni. Duh! Kalo di Gramed yang gede gini aja gak ada, musti nyari kemana lagi nih!

Di Gramed sempet baca-baca beberapa buku. Mumpung belum ada larangan membaca disana…hehe…

Tapi parah betul ya, sekarang banyak banget buku-buku keren! (Kok parah betul sih…ya bagus donk…-_-‘). Maksudnya parah banget karena aku cuma bisa ngeliatin tu buku dan gak bisa beli…hehe…^_^
Apalagi buku2 manajemen, motivasi dan self-development. Dah kaya jamur gitu, keluar gak berenti-berenti. Buku-buku training dalam dan luar negeri juga banyak. Hmmm....trainer sekarang banyak juga ya. Dari manajemen dan psikologi, agak (atau sangat?!) beririsan. So, how to be a good trainer with my psychology background?!?! Hmh…Yang ini dibahas kapan-kapan ajalah.

Buku-buku semi-ilmiah macam Da Vinci Code, Malaikat dan Iblis, Injil Yudas, dan sejenisnya itu juga semakin banyak. Penelanjangan agama? Hehe…bahasa yang cukup ekstrim. Apapun itu, buku-buku macam ini laris maniiiiss....kayak gorengan. Tapi aku kok gak tertarik ya?!

Buku-buku islam apalagi. Dari yang untuk anak-anak, remaja, ibu-ibu, orangtua… dari yang ringan, berat,
perihal doa-doa, motivasi diri, nikah, kiamat, laa tahzan, dan “laa-laa…” lainnya, siroh sahabat, fiqih, shalahuddin al ayubi (oh…my hero!)

Haaahh...*geleng-geleng*...
Ampun dah...
Banyak amatttt….
Beneran cuma bisa megang-megang dan pengen doang!

Akhirnya cuma window shopping ke bagian stationery dan beli satu buku :
“Menuju Puncak Teladan Jihad Generasi Pertama Islam” karya Dr. Aidh Al Qarni.
Subhaanalloh deh penulis yang satu ini, produktif nian…ck..ck..ck…
Berhubung pengen memotivasi jiwa supaya ruhul jihadnya tidak melemah, jadinya kubeli buku ini (disamping harganya juga relatif lebih murah dibanding yang lain *_* ).

Oya, disana juga ketemu beberapa anak kecil yang lagi jalan-jalan sama mama-papanya. Wah, jadi inget kebiasaan masa kecil dulu. Tiap minggu aku diajak Bapak jalan-jalan ke Gramed sini untuk baca-baca. Dan Bapak pasti membawa aku ke rak cerita-cerita rakyat Indonesia. Gak tau kenapa, Bapak demen banget sama cerita-cerita rakyat itu. Dan palllllling anttttiii sama yang namanya komik. Gak mendidik, katanya. Padahal aku dulu juga pengen ikutan baca Candy-candy, serial si cantik, dan lain-lain, seperti kebanyakan anak seusiaku. Kalau aku ketahuan baca komik, wahhh…beliau langsung mengerutkan kening, mengambilnya dari tanganku dan berkata, “Buku apa sih ini, Indra?” dengan raut muka tak suka. So, koleksiku waktu kecil gak jauh-jauh dari kisah si Timun Emas, Roro Jonggrang, Danau Toba, Sangkuriang, dan sebagainya. Ada kali satu kardus, tapi sekarang udah gak tau kemana.
Kalo inget masa kecil ini...hmmmh....bahagia sekali. Makanya pas kemarin jalan ke Gramedia sendirian, aku tiba-tiba kangen gandengan sama Bapak :’(

Oya, dulu aku dan kakakku juga buka perpustakaan kecil di depan rumah. Kami waktu itu kerjasama sama anak tetangga yang seumuran. Tepat dibawah pohon jambu nan rindang, kami menggelar tikar di halaman rumah dan menata buku-buku yang kami punya. Biasanya habis pulang sekolah kami membuka perpustakaan kecil. Kalau haus, kami tinggal ambil minum dan makanan kecil di rumah. Jadi mirip pesta kebun ^_^.
Tapi biasanya mamah suka teriak dari salon (mamah buka salon di rumah, di garasi. Jadi kalau kami nyewain buku di depan rumah, keliatan dari salonnya dan mamah mengawasi dari sana). Peringatannya berkisar antara “hati-hati ulat bulu,“, atau “Ayo pada tidur siang“ dan semacamnya. Hahaha...jadi lucu kalo inget itu. Soalnya aku sebel banget kalo disuruh tidur siang. Jelas-jelas lagi asyik main. Anak-anak yang lain aja gak disuruh tidur siang... Denger-denger sih tidur siang supaya gemuk dan gak capek. Kenapa ya, orangtua seneng banget sama anak yang gendut?

Tapi aku juga suka siiih.... Anak yang gendut itu soalnya lucu...pipinya gembilll... jadi ketika aku ketemu sama anak kecil yang gendut, biasanya aku belai kepalanya dan pipinya kucuwil, “Iiih....kamu lucu banget siiiihhh....“.
Sama kayak kemarin di Gramed pas ketemu anak kecil yang gendut. Aku cuwil ajah pipinya yang montok. Untung gak diomelin mamanya. Kalo boleh juga udah mau kubawa pulang tuh... Hehe ^_^

Setelah agak desperate karena gak nemu buku yang kucari, akhirnya Ahad siang aku jalan ke Kwitang. Alternatif yang bagus untuk yang kantongnya pas-pasan. Disini kita bisa beli buku-buku baru dengan harga miring. Mau buku pelajaran, buku kuliah, sampe buku-buku umum dan agama, semuanya ada. Asal pinter nawar aja, insya allah bisa dapet buku baru nan kinclong dengan diskon 10-20%. Tapi kalo nyari yang bekas juga ada sih...

Sampe sana, mataku langsung tertumbuk pada buku “For God and Country, James Yee“. Waa....mauuu!
Tapi harganya 60 ribuan. Beli gak ya... tidak mendesak siih... tapi...
Ah, liat-liat aja dulu. Ayo Indra, kamu harus cari yang lebih dibutuhkan.

Berulang kali aku menyodorkan kertas bertuliskan judul buku “Assalamu’alaikum: Islam itu Agama Perlawanan“. Tapi tiap kali abang-abang itu ditanya, jawabannya selalu “Gak ada, Neng...“ atau gelengan kepala.
Yang lebih unik lagi pas nanya ke salah satu abang.
Komentarnya...
“Ini buku kiri ya?“
“Mm...sepertinya begitu...Gak tau juga sih...“
“Wah, saya gak jual buku beginian. Merusak. Enggak deh.”
Aku cuma tersenyum dan menggumam dalam hati.
Merusak?
How can you judge something even you don’t ever see and know how the cover is? (bener ga ya, grammarnya?!)
Ada-ada aja si Abang. Lagian namanya buku kan ilmu, pengetahuan. Masalah ideology mah kalo gak suka ya terserah aja. Justru, mengutip Anis Matta, kita perlu tahu pemikiran orang lain supaya bisa melihat bagaimana kekurangan kita, kelebihan mereka, meng-compare-nya kemudian menyarikan hal-hal yang kita anggap baik-baik saja.

Tapi mungkin abang itu khawatir menyebarkan pemikiran yang ia kurang sreg dengannya. It’s oke… aku cari lagi ke tempat lain. Cuma agak geli aja tadi. Pasalnya aku yakin tu abang bahkan belum liat covernya, tapi dah bilang kalo buku itu merusak. Hehehe…

20 menit pertama gak ketemu, akhirnya mampir ke Gunung Agung. Langsung cek di katalog. Data tidak ada! Hahhh....ini buku ajaib amat ya. Dicari kemana-mana kagak ada!
Aku bersikukuh nyari buku itu dari kemarin-kemarin, soalnya aku yakin temenku itu dah membaca banyak literatur islam, jadi ada baiknya aku berikan buku lain yang bisa memperluas wacana pemikirannya.

1 jam berkeliling. Akhirnya ku telepon.
“lagi di Kwitang neh... Bukunya gak ada...kemarin di Gramed juga gak ada. Gimana donk?? Buku yang lain aja?“
Sebenarnya beliau tidak memaksa. Dan tidak ingin aku memaksakan diri. Tapi kupikir aku sudah berjanji. Jadi yasudah lah...
Akhirnya pilihan jatuh pada “Untukmu Kader Dakwah“, Rahmat Abdullah.
(Halahh....gak jauh-jauh juga akhirnya... >_<)
Tapi gapapa. Ini juga buku bagus. Sarat makna dan hikmah. Mudah-mudahan kapan-kapan bisa share sebagian isinya disini.

Dua jam berkutat di antara buku-buku, aku memutuskan untuk pulang.
Lapar dan haus sekali. Tapi...mataku mengerling sesuatu.
Buku itu lagi! James Yee!

Beli....enggak....beli....enggak...
Beli!

“45 ribu ya Mba...“
“Pas modal, Mba...tambahin 2 ribu deh...“
“Yah....nanggung amat...45 aja. Saya beli deh, beneran...“
“Ya udah..“

Yeahh....I got you, Mr. James Yee! eh salah...buku ttg James Yee maksudnya :)
Alhamdulillah... Semoga bukan investasi yang sia-sia. Karena aku selalu yakin, buku itu adalah harta yang sangat bernilai.

jadilah hari ini aku memborong 5 bukuuuu....
kemaruk amat yah...
tapi gapapa. soalnya aku baru aja nemu quotes keren dari milis komunitas antimalas. begini bunyinya:

"Ketika kamu menjual buku kepada seseorang, kamu tak menjual sebuah
benda seberat 12 ons yang terdiri atas kertas, tinta, dan lem. Kamu
telah menjual untuknya sebuah hidup baru." (Morley).

Nah, kan.
Makanya, gak rugi deh punya buku banyak-banyak. Asal dibaca aja yah. Jangan dikoleksi doank.
Oke deh, selamat membaca! ^_^

Aug 28, 2006

Modelling di Kereta


Bismillah.

Kereta memang gak pernah kehabisan kisah. Ada aja yang bisa diceritain dari kejadian sehari-hari disana (maap ya, Awan Diga. Bukannya mau nyaingin dikau crita2 soal kereta =P).

Kali ini aku mau bahas soal modelling di kereta. Bukan modelling yang jalan-jalan di atas catwalk ituuu! (btw kebayang gak sih, ada peragawati/wan lenggak-lenggok di atas kereta?!?!?).
No, no...
Tapi modelling disini artinya meniru, imitasi, dan sejenisnya.

Jadi gini.
Beberapa kali aku sempat menyaksikan pemandangan itu. Seorang ibu dengan bayi dalam gendongannya, asyik menyapu lantai kereta (lantai atau apa namanya ya?!). Lain hari, seorang bapak digelayuti 3 anaknya yang masih sangat kecil-kecil, sibuk menyenandungkan sholawat sambil mengacungkan kantong uang. Hari berikutnya, ibu-ibu menggendong anak kecil, mengemis tanpa melakukan apapun.

Memperhatikan itu, aku jadi sibuk berpikir.
Bagaimanapun anak belajar dari orangtuanya. Kalo inget iklan susu anak di tivi yang punya kandungan vitamin untuk syaraf penglihatannya, dikatakan bahwa anak menyerap informasi dari dunianya kebanyakan melalui mata.
Dan biasanya anak belajar melalui proses meniru (modelling) dari sekelilingnya. Makanya gak heran, kalo anak-anak tiba-tiba jadi lancar meniru suara dari film kartun Dora The Explorer, seperti "Berhasil! Berhasil!". Atau bener-bener copy paste sampe dandanannya dimirip-miripin. Atau bisa juga tiba-tiba berlagak jadi jagoan macam Power Rangers atau Ksatria Baja Hitam (jadi inget masa kecil... Btw, Kotaro Minami-nya keren yah *_*).

Jika orangtua sadar akan hal ini, maka aku yakin mereka akan sangat berhati-hati menata perilakunya agar anak hanya meniru hal-hal baik dari mereka. Sebab perintah dengan kata-kata disinyalir tidak terlalu efektif dibandingkan teladan yang baik. Contoh konkret, kira-kira begitulah bahasanya.

So, ketika mendapati betapa banyak orangtua di kereta yang membawa serta anak-anaknya mengemis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana pembelajaran yang mereka terima sejak kecil. Jika mereka kelak besar, bersikap menolak terhadap perilaku orangtuanya kupikir sudah merupakan langkah yang bagus. Yang akan menjadi penyesalan adalah jika mereka menganggap pekerjaan mengemis merupakan hal yang baik-baik saja.

Itu masih mending, kata Awan dalam satu perbincangan di atas kereta, karena yang dibawa adalah anak sendiri alias anak kandung. Soalnya di Bandung, katanya, di jalan Pasteur sering banget ada pengemis ibu-ibu dengan gaya dan baju yang hampir sama, membawa anak-anak kecil dalam gendongan mereka. Bukan tidak mungkin memang ada yang mengkoordinir dan memberikan sewaan bayi untuk mereka bawa-bawa sebagai pajangan demi sereceh-dua receh belas kasihan! Wah...wah...parah betul ya. Masa bayi-bayi dijadiin sewaan :(

Apapun alasannya, membiasakan diri mengemis aku pikir tidak cukup mulia untuk dilakukan. Sesulit apapun kondisinya, kalau mau berusaha, insya Allah akan ada jalan untuk mendapatkan nafkah.

Well... ngomong sih emang selalu gampang...
Masalahnya, kalo aku punya lapangan pekerjaan juga bakal aku kasih deh tuh.
Tapi berhubung aku masih mencari pekerjaan juga, jadi aku baru bisa mengangkat pemikiran ini ke permukaan, supaya lebih banyak lagi yang 'ngeh' sama masalah ini.
Kalau mau, jadi loper koran tu dengar-dengar lumayan juga.
Tukang sampah, jangan salah... meski sering dipandang rendah, gitu-gitu mereka dapet duit halal yang tidak sedikit juga. Atau ngumpulin kardus bekas atau kemasan air mineral, agaknya juga bisa memenuhi kebutuhan hidup, walau mungkin tak seberapa. Tau gak, walau rumah mereka cuma bedeng-bedeng kardus atau seng gak jelas gitu, tiap bulan mereka tetap bisa kirim uang ke kampuangnya nan jauh di mato. Bahkan kata temanku, bisa mencapai di atas 500 ribuan sebulannya.

Yah...akhirnya cuma bisa berharap semoga Allah menunjuki orangtua-orangtua mereka hidayah, dan menjadikan anak-anak bangsa itu orang-orang yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
Ayo, Pak, Bu, berikan pembelajaran terbaik untuk anak-anak kita.



-thx2awan4thatDiscuss:)

Aug 23, 2006

Waduh... Nabrak!!!

Bismillah.

Jumat pekan lalu ceritanya aku pergi ke Ciputat untuk wawancara kerja sama People Power Consulting. Ciputatnya bukan daerah UIN situ, tapi dari pasar Ciputat masih teruuusss…, masuk ke daerah antah-berantah yang aku gak kenal sama sekali.
Sebelumnya memang udah pernah kesana sih, dan kalau naik kendaraan umum, makan waktu 1,5 jam lebih. Itu juga kalau gak macet dan sebagainya. Kebayang kan, 4 kali naek angkot?

Nah, kemarin itu kebetulan jam sudah menunjukkan pukul 14.20 wib. Sementara aku masih makan siang dan menyiapkan tas. Males banget jalan sendiri naik angkot. Lagipula bisa-bisa bakal telat sampai sana. Masa disuruh dateng jam 4 tapi telat? First impression-nya nanti bakal kacaww...

Akhirnya aku sms temanku, cowok, yang juga mau wawancara bareng 3 cowok lainnya. Gak mungkin aku boncengan sama mereka. Jadi aku berpikir tuk naik motor sendiri aja.
“Kalo ke Ciputat naik motor tapi gak punya SIM, aman gak?”
“Gapapa sih”. Jawab temanku. “Asal PD aja. Ntar kita bareng aja, Ndra, kalo Indra mau naik motor.“
Aku bolak-balik berpikir.
Kalau minta ijin si mamah pasti gak bakal boleh. Yang pertama, karena jauh banget. Yang kedua, karena gak punya SIM. Yang ketiga, biasalah ibu-ibu, entar kenapa-napalah, beginilah, begitulah.

Untungnya si Mamah mau pergi juga waktu itu. Dan beliau jalan duluan. Jadilah aku jalan belakangan dan naek motor! Yiiiiihhuuu...! ^_^ v

Pas aku nyari STNK... Waks! Gak ada, man! Gimana niyy?
Aduh, bodo amat deh. Udah mau telat.

Jaket dan kacamata kupakai, tas dislepang, dan helm mas-ku jadi teman.
Oiya, setel MP3 dulu biar gak bengong.
Aduh, tapi slayer buat nutup hidungnya ketinggalan… terpaksa deh menghirup asap-asap knalpot nan kotor dan bau itu :(.

Kami lantas jalan berendengan. Dan ni bakal jadi perjalanan terpanjang pertamaku, soalnya kemarin2 paling jauh cuma sampe Duren Sawit-Klender.
kami mengambil rute Otista, Dewi Sartika, Kalibata, Pasar Minggu, Pejaten, Buncit, terus langsung ke Ciputat. Satu motor temanku di depan dan satu lagi mengawalku di belakang. Sepanjang itu, MP3-ku memutar nasyid-nasyid haroki, mulai dari Izis sampe Shoutul Harokah. Jadi semangat deh. Tapi di tengah jalan, aku mulai pegal-pegal. Ternyata bener-bener jauh ya, dari Cipinang Muara ke Ciputat itu *keluh*.

Sampe di kantornya, kami langsung sholat asar dan mengantri diwawancara. Tapi nyatanya kami gak diwawancara. Cuma langsung nandatangani kontrak kerja selama 3 tahun dan dikasih starter kit perusahaan aja. Soalnya sebenarnya kami udah menjalani masa percobaan selama beberapa bulan kemarin. Akhirnya jam 17.10 wib kami langsung cabut, mau ngejar maghrib di rumah.
Si Wiwit, temanku yang tadi naik motor di depanku, berujar. “Indra, naik motornya bisa cepetan dikit gak?“. Soalnya dia dari tadi harus nungguin aku dulu yang selalu ketinggalan di belakang. “Ohhhh...begitu ya. Iya, iya. Padahal tadi udah cepet lho...“

Kami pun pulang. Jalan yang tadinya jauh jadi terasa agak ringan karena sudah kami lewati sebelumnya. Tapi, sampai di daerah mana gitu, aku lupa...
Sebuah motor mengambil arah ke kiri tiba-tiba.
Udah gitu dia berhenti dan aku yang lagi jalan kenceng di belakangnya terpaksa ngerem mendadak.
Aku teriak panik, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!“.

Nabrak, sodara-sodara!!!
Gak nabrak motornya, tapi nabrak kaki orang yang bonceng di belakang!
Waduh...gimana nih!
Teman-temanku udah jalan duluan dan gak keliatan lagi! Plus langsung kebayang aku gak bawa SIM dan STNK!
Aku langsung minta maaf. “Maaf ya Mas!“
Tapi si mas-masnya malah bilang...
“Aduh...maaf Mba...Iya gapapa...maaf ya Mba...“
Mendengar begitu, aku jadi serasa dapet angin.
Jadi aku omelin aja itu orang.
“Lagian sih berenti mendadak.“
“Iya Mba...maaf....maaf...“
Lalu aku langsung ngeloyor pergi dan meng-gas motorku kencang-kencang.
Yeahhh...... Aku menaaaaaaaaaaaanggg!!! ^_^

Aku gak salah donk. Orang mereka tiba-tiba ngambil kiri gak pake lampu sen. Mana aku tau. Dah gitu malah berenti mendadak lagi. Padahal tadi udah takut juga sih…Soalnya aku yang nabrak. Bagaimanapun mereka korban dan aku pelaku. Fiuhhh… Untung gak kenapa-napa… kalau misalnya sampai berurusan sama polisi dan ditanya-tanya surat-suratnya, bisa gawat aku…

Akhirnya sampai juga di Cawang. Kami berbelok ke kiri, menuju Kebon Nanas. Jarak ke rumah tinggal beberapa ratus meter lagi. Waktu berhenti di lampu merah depan gedung Otorita Batam, aku menghembus nafas lega dan berhamdallah. Tapi...
Lho...kok tiba-tiba motorku mati...
Duh, kenapa nih... Jangan-jangan bensinnya abis…
Gak bisa distarter!
Lampu hijau menyala dan mobil-mobil di belakangku sudah mulai mengklakson.
Tiiiiin.....Tiiiin....!!!
Panik menyergap lagi. Untung teman-temanku gak jauh dari aku. Secara psikologis aku jadi lebih tenang ketimbang pas nabrak tadi sendirian. Kami pun menepi dan menuntun motorku ke seberang, ke tempat yang lebih aman.

Temanku mencoba menstarter motorku. Gak bisa.
“Kayaknya bensinnya abis deh....“ ujarku. Kami memeriksa tanki bensin di balik jok.
Tapi kuncinya gak mau ngebuka.
Beruntung dekat situ ada pom bensin.
“Ke situ aja yuk. Biar isi bensin sekalian“, ajakku.
Pas tanki dibuka...
“Pantes aja, Ndra....sampe kering begini...“ kata temanku.
“Iya, sebenarnya tadi pas berangkat mau isi bensin dulu, tapi tadi kan buru-buru. Pas pulang juga gak liat ada pom bensin“.

Fiuh...Untung aja ni motor mati di tempat yang ’tepat’. Di lampu merah, udah deket rumah dan deket pom bensin pula. Gimana kalo tadi berenti di tengah jalan raya gede, dan gak ada SPBU yang dekat??? Bisa-bisa kita gempor menuntun...Bener-bener nashrullah deh...
Alhamdulillah....

Setelah bensin terisi, motor di-starter lagi dan....yeaaah....menyalaaaaaaa.....
Kami pun beranjak pulang.
Seperempat hari ini...benar-benar jadi perjalanan yang melelahkan pokonya...
Tapi alhamdulillah, motor dan badanku masih utuh pas sampe rumah ^_^. Hehehe...

Aug 18, 2006

Kita belum merdeka, Tuan...


Kita belum merdeka, Tuan…
Atas kemiskinan yang terus menggurita
Pun kebodohan yang tampak semakin biasa
Tengoklah sekelilingmu yang berdarah
Atau pelosok-pelosok hati yang senantiasa mengecap luka
Selalu airmata
Ataupun tangisan gundah
Serta duka-lara yang menanah
Bersemayam di sana.

Bukankah mata kita belum buta
Dan ia masih berfungsi dengan teramat sempurna?
Maka longoklah kolong-kolong gedung bertingkatmu
Yang mencakar langit dan menembus awan semesta
Atau ujung-ujung lorong sempit di kotamu
Yang ditempati oleh tikus got dan manusia
Hidup berdampingan berbagi ruang dan masa

Atau sapalah tangan-tangan jelaga
Di antara rimbunan sampah menggunung
Yang kita hadiahkan bagi mereka
Bahkan menengokpun kadang kita tak rela
Apatah lagi menghirup bau badannya
Padahal kita tak pernah memberi mereka apa-apa
Kecuali sampah dan sampah semata

Tuan, agaknya kita memang belum merdeka
Tapi keterbelengguan itu takkan pernah terlihat jika kita enggan menundukkan kepala yang selalu tegak
Ayo, Tuan
Lihat ratusan jiwa nestapa di bawah sana
Perut mereka sudah terbiasa untuk senantiasa lapar
Juga menahan dingin hembus angin malam
Dan hujan, panas, badai, atau mungkin gelombang pasang

Begitulah, Tuan.
Kita memang belum merdeka.
Jika sekolah-sekolah selalu kekurangan guru untuk mengajar
Dan orangtua-orangtua berhutang sana-sini untuk melunasi buku serta iuran
Adakah kemerdekaan benar-benar mewujud nyata
Ataukah ia sekedar jargon-jargon saja?
Jika di segala penjuru bertebaran satu-sepuluh-ratusan-dan bahkan jutaan manusia miskin-papa,
Dan kaki-kaki kecil yang menjejak jalan-jalan mencari uluran receh-receh milik kita
Adakah merdeka sudah membumi-merealita
Ataukah ia cuma sampai pada tulisan-tulisan semata?

Kita belum merdeka, Tuan.
Serigala-serigala berdasi itu nyatanya masih bebas berkeliaran
Tak tanggung-tanggung, Tuan!
Dari MA hingga kelurahan
Suap-menyuap masih membudaya
Pun urus KTP, masih juga kena biaya
Ini, yang kita sebut dengan merdeka?
Polisi-polisi bahkan menilang untuk mendapat uang makan
Hakim-hakim berkomplot supaya dapat uang damai
Sementara ribuan buruh tak henti menuntut hak dan kesejahteraan
Peduli, kasih dan empati semakin menguap hilang
Pun benar dan salah yang semakin samar
Argh!
Inikah, Tuan, yang kita sebut dengan merdeka???

Sudahlah, Tuan.
Tak cukup kita berbangga dengan 61 tahun perayaan.
Tak cukup teriakan-teriakan hingga nafas tersengal
Atau semangat yang membuat kerongkongan kita tercekat
Apalagi ‘cuma’ makan kerupuk, balap karung dan panjat pinang
Seharian itu gembira jadi raja
Dan berpuluh-puluh hari berikutnya, duka-lara kembali membias jiwa

Kita memang belum merdeka, Tuan.
Miskin, bodoh, fakir, adalah penjajah sebenar-benarnya
Maka merdekakan bangsa kita sekarang juga
Atau nusantara, berpuluh tahun ke muka,
Boleh jadi tinggal nama.




-Bangkitlah,Indonesiaku!



*gambarBenderanyaDiambilDariSini.terimaKasiih.