Oct 10, 2006

Everyday I Love You


I don't know, but I believe
That some things are meant to be
And that You'll make a better me
Everyday I love You

I never thought that dreams came true
But You showed me that they do
You know that I learn somethng new
Everyday I love You
'Cos I believe that destiny
Is out of our control (don't you know that I do)
And you'll never live until you love
With all your heart and soul
It's a touch when I feel bad
It's a smile when I get mad
All the little things I am
Everyday I love You
Everyday I love You more
Everyday I love You
'Cos I believe that destiny
Is out of our control (don't you know that I do)
And you'll never live until you love
With all your heart and soul
If I asked, would You say yes?
Together we're the very best
I know that I am truly blessed
Everyday I love You

And I'll give You my best
Everyday I love You.
(Everyday I Love You - Boyzone)
***
Allah...
lagu ini untuk-Mu.
hiks...

Lelaki sholih itu…

bismillah.

Lelaki sholih itu, berusia belia.
Tapi setiap adzan menggema, ia bergegas menunaikan sholat di masjid dekat rumah.
Romadhon ini, terlebih lagi.
Dari shubuh sampai tarawih, tak pernah ia absent tanpa alasan berarti.

Wajahnya tak terlalu tampan memang.
Setidaknya, jika dibandingkan dengan beberapa model kenamaan.
Baginya, yang penting ia berpenampilan rapi dan bersih.
Baju koko, kaos, celana katun, atau berpadu jaket dengan emblem bendera Palestine di dada kiri.

Aku tak habis pikir dengan dirinya selama ini. Mungkin lebih tepatnya, bersyukur dalam-dalam.
Ia tidak suka menghabiskan waktu di mall atau jalanan sebagaimana teman sebayanya.
Ia lebih suka menyimpan uang sakunya di kamar, untuk sewaktu-waktu dapat ia gunakan.

Suatu hari, ia menghampiriku.
“Sekolah akan membangun masjid.” Ujarnya.
Aku bertanya, “Lalu?“
“Ya...dimintai sumbangan...“
“Kamu akan kasih berapa?“
Lalu dari lisanku mengalir deras kalimat demi kalimat tentang pahala jariyah yang takkan terputus. Salah satunya, bisa berwujud sumbangan untuk pembangunan masjid sekolahnya.
Ia terdiam dan tampak tak merespon.
“Berapa yang akan kamu sumbangkan?” tanyaku.
“Hmm....dua ratus ribu.“
Mataku membelalak.
Ia masih kelas 2 SMP ketika itu. Dan ia rela menyumbangkan uang sakunya yang telah ia kumpulkan. Nyaris tanpa pertimbangan! Justru sang bunda yang malah memberatkan.
“Kamu yakin akan berinfak segitu? Dua ratus ribu terlalu besar...“
Tapi tekadnya sudah bulat. Dua ratus ribu itu ia sumbangkan untuk pembangunan masjid sekolah.

Aku menghela nafas. Aku yang baru saja memberinya semangat untuk beramal jariyah, malah tak berbuat apa-apa. Terlalu banyak urusan yang menghalangi pikiran picikku untuk mengadakan perjanjian jual-beli dengan Allah.

Dan dua ratus ribu rupiah kemudian mengalir dari tangan anak usia kelas 2 SMP, bukan untuk membeli berbagai baju, mainan, ke tempat games playstation, atau hal-hal sia-sia lainnya. Tetapi untuk infak pembangunan masjid sekolah.

Itu, sekitar 4 tahun yang lalu.
Dan sekarang, ia sudah duduk di kelas 2 SMU dan aktif dalam berbagai kegiatan.
Belakangan aku baru tahu bahwa ia diminta menjadi ketua remaja masjid dekat rumah. Belakangan lagi rekan ibunya memberitahu bahwa anak itu pernah berceramah di depan jamaah masjid tanpa teks ataupun bahan di tangan, sehari setelah ia dimarahi habis-habisan oleh bunda dan kakak pertamanya.

Tetapi sejarah seperti menjadi berulang.
Hambatan demi hambatan menahan laju fitrahnya yang tengah gemar berdekatan dengan kebaikan. Satu-dua orang rumah mulai menentang, mempertanyakan berbagai kesibukan. Berusaha menahannya dari melakukan “hal-hal tidak jelas“ di luar rumah.
Aku yang pertama kali menjadi pembelanya.
Kukatakan pada mereka, aku tahu apa yang dia lakukan.
Toh dia tidak berhura-hura, tidak mengkonsumsi narkoba, bahkan menyentuh rokok saja rasa-rasanya tidak pernah. Jadi kenapa segala kegiatan positifnya harus dihalang-halangi?

Seketika itu juga aku seperti baru sadar.
Mengapa masa laluku jadi seolah terpampang sekarang?
Haruskah sejarah benar-benar berulang?
Betapa Allah begitu sungguh-sungguh mendatangkan ujian ketika iman ingin melangkah naik ke pijak berikutnya.

Tapi ini memang jadi ujian kami.
Kami : aku dan dia. Bukan lagi aku seorang. Setidaknya tidak lagi sendirian seperti beberapa tahun silam. Ya, betapa banyak kesyukuran yang harus dilakukan. Bagaimanapun, mendapatkan teman seperjuangan adalah anugerah yang tak boleh disia-siakan. Juga menjadi satu kebahagiaan, agar semangat menjaga diri dan keluarga dari api neraka tak mudah surut ke belakang.

Selamat berjuang, adikku sayang.
Semoga Allah menjaga fitrahmu senantiasa.
Teruslah berbuat baik, hingga kaki kananmu menginjak surga...


Sabarlah, adikku sayang.
Pertolongan Allah pasti kan datang.
Dari arah yang tak terkirakan.
Sabar dalam penantian.

(Suara Persaudaraan)

***

“Jika engkau melihat orang yang lebih muda, berpikirlah bahwa dosa-dosanya lebih sedikit daripada dirimu. Dan jika engkau bertemu dengan orang yang lebih tua, berpikirlah bahwa ilmunya lebih banyak darimu“
(Quotes-nya sahabat Nabi saw, namanya lupa)

Buka Puasa @ rumah almh. neng iis

Bismillah…

Alhamdulillah…
Jumat 2 pekan lalu berkesempatan buka puasa bersama teman-teman seperjuangan di rumah almarhumah Iis Nur ‘Aisyah. Ya, beliau adalah saudari kami yang sudah lebih dulu dijemput Allah. Demi menjaga silaturrahim dengan keluarga beliau, kami pun berbuka puasa di rumahnya. Acara ini udah lama disosialisasikan oleh Bung Parlan, someone who cares us much (uhuk…).

Seperti biasa, aku dan dia sempat bernego. Dia bilang, cewe-cewenya mabit (bermalam –red) aja sama mamanya Iis, khawatir kemaleman. Tapi aku usul gak usah mabit, karena cewe-cewe memang tidak dianjurkan untuk mabit-mabitan. Kalau mau tarawih juga gak papa, asal ada jaminan para muslimah diantarkan pulang sampai rumah ^_^. Abis rumahnya jauh sih, di daerah Kelapa Gading. Sementara most of women tersebar antara Depok, Tangerang, Cipinang, Duren Sawit, dan seterusnya. Lobi-lobi dengan bung Parlan masih berlanjut lewat sms. Berawal dari beliau yang mengingatkan hari kepastian ifthornya. Tapi aku juga ada undangan ifthor sama adik angkatan. Ini juga gak kalah penting, mengingat mereka sulit banget kalo dikumpulin buat mentoring. Kalo sekarang malah mereka yang ngajak, kan kesempatan langka tuh. So aku minta diundur deh acara ifthor di tempat si Iis. Tapi namanya juga Parlan, dia bilang, “usul Indra untuk tidak mabit yang disetujui. Ifthor tetap tanggal 29!”. Lihat, dengan tanda seru. Yahhh…begitulah beliau…bukan Parlan namanya kalau mudah mengalah (Piss, Om Gondrong!:P). Jadilah aku yang melobi adik-adikku untuk mengundurkan buka puasa barengnya. Untung berhasil dilobi! Fiuhh…alhamdulillah.

Tadinya yang diundang sekitar puluhan orang. 50-an ada-lah…Tapi sampai H-2, yang konfirm bisa ikut cuma 10 orang! Itupun panitia-panitianya juga, a.k.a orang-orang tua -_-‘ padahal aku udah kebat-kebit mau mesen konsumsinya. Kalo kebanyakan, bisa dikasih orang, bisa mubadzir juga. Kalo kurang, bisa beli lagi…tapi jadi ribet. Paling riweuh kayanya kalo jadi sie konsumsi yah?!?! Mana pas hari-H aku baru bisa dateng sore banget lagi. Nuyi pun begitu. Akhirnya tugas teknis perkonsumsian didelegasikan ke Ulfah, yang relative lebih lapang waktunya.

H-1 malam hari, aku, Nuyi, Parlan, Ulfah, Perdana, masih sibuk berkoordinasi. Gimana pesertanya? Berapa yang ikut? Konsumsinya? Es buah apa belewah? Snack-nya gimana? Acaranya apa aja?

Aku juga kebingungan mesen makanan. Masalahnya kalo warungnya jauh ngambilnya juga susah. Jadi aku menghubungi teman-teman yang rumahnya deketan sama rumah Iis, yaitu Anin dan Inka. Alhamdulillah Inka mau cariin. Padahal waktu malam itu aku telepon, dia juga baru pulang. Wah…jadi gak enak…
begitu Inka nanya sama mba-nya (pembantunya kali ye?!?!), Inka bilang, mereka bersedia memasakkan. Wah wah…jadi tambah gak enak nih….
Mesen menunya nasi, ayam, sayur capcay, lauk macam orek tempe atau apaa gitu, kerupuk, sama jeruk/semangka (ini juga kalo bisa), ditaruh di dus makanan, dengan budget 5 ribu rupiah. Sebenarnya terlalu murah sihh…tapi mau gimana lagi, daripada entar mintain infaknya juga kebanyakan…. Untungnya mba-nya Inka baek banget… Inka-nya sendiri sempet-sempetnya ngurusin aku, padahal dia mau berangkat ke Jogja hari itu. Duuuhh, inka-ku sayangg…jadi terharu… I love u much, dek! muah!

Begitu janjian sama Indah Jayko, nungguin bisnya lamaaa….pisan. Berhubung aku dan indah tidak bisa janjian di satu tempat yang sama, so Indah bilang akan miskol aku begitu dia udah naik bisnya. Jadi nanti bis yang dia naikkin akan ngelewatin aku, dan aku langsung naik. Tapi masya allah…tu bis aseli langka banget. Sampe resah-jengah-gelisah nunggu di halte. Bukan apa-apa, khawatir sampe sana telat maghribnya. Belum macetnya. Depok-Gading kan jauhnya amit-amit.Aku berulang kali melototin rute bis yang lewat. Kata Indah sih naik 84. tapi ada 82 lewat nih...rutenya ke Priok. Eh, sapa tau lewat. Priok sama Gading kan ga terlalu jauh. Si Indah juga udah miskol... Maybe dia bete juga nunggu 84 ga lewat-lewat, trus naik yang ini.

Sampe di dalam bis....Mana si Indah? Kok gak keliatan batang idungnya...Tapi ni ke Priok kan? Pasti deketlah ke Gading. Aku santai aja mengingat dah biasa naik bis dan nyari-nyari alamat yang aku belum tahu.Tapi… Sms aja deh.

“ Ndah, lo dimana? Gw udah naek 82 neh.“
Sms berbalas.
“Ndra, naek 84, bukan 82. kayanya lo salah naek bis deh...“
Waaa....
Sms bunyi lagi. Kali ini dari Bung Parlan.
“eh, rumahnya Inka donk. Alamatnya dimana yang lengkap. Plis dong, plis..”
Dooh…ni gw lagi nyasar malah ditanya alamatnya inka. Mana gw tau…
“telpon aja rumahnya bla..bla..bla…blg, temennya Indra yang mau ambil makanan. Atau ama Nuyi aja, dia tau kok rumahnya…btw sy msh di depok ni…bisnya lama bgt..”

Aku menghubungi Pras segera, karena dia tinggal di daerah Priok, jadi aku berharap dia bisa nunjukin jalan. Tapi poor I am… dia juga gak tau daerah rumahnya Iis dilewatin mobil apa.
Akhirnya nanya ibu-ibu di sebelahku.“kalo ini mah gak lewat. Tapi lewat tol atas terus sampe terminal Priok sana. Saya aja harus balik arah lagi nanti…”

Hah…yasudlah. Kayanya kudu turun aja nih. Mumpung belum jauh.
Bisnya si Indah pasti juga masih di belakangku. Daripada ambil resiko luntang-lantung gak jelas gini... khawatir gak kekejar maghribnya juga kalo pake acara nyasar.

“Ndah, gw dah di lenteng. Bis lo di belakang gw kan? Gw turun nih sekarang,“
“Ya udah turun aja. Masih di UP kok (univ. Pancasila –red)“.
Gak sampe 10 menit nungguin bis 84, akhirnya aku naik.
Masya allah...beda banget sama 82 yang barusan aku tumpangin. Kalo yang tadi bisa duduk nyaman dengan AC, yang ini penuh banget, bow...
Eh alhamdulillah ada yang ngasi tempat duduknya. Mungkin kasian ngeliat aku yang kesusahan bawa tas sambil nenteng-nenteng 2 buku tebal. Tengkyu ya, mas.

Sekarang sms indah lagi.“aku dah naik 84 niy. Di belakang.“
Indah membalas.“Gw juga di belakang. Bangku ke 4 dari belakang.“
Aku mencari-cari. Halahh...mana keliatan kalo penuh begini. Udah deh, ntar aja. kalo turun pasti juga liat.

Tau-tau dia miskol.
“Halo?“
Hlaa....anaknya nengok...
“Heh bocah...“ Seruku sambil nyengir.
Ternyata cuma beda 1 bangku doang, sodara-sodara....
Fuh...tenang deh sekarang.

***

Sampe deket rumahnya Iis, parlan sms lagi.
“udah sampe mana?“
Aku gak balas. Dikit lagi juga sampe.
Begitu kita tiba di depan pintu....
“Assalaamu’alaykum! Sudah sampe siniiii…^_^”
Perdana, Herik dan Parlan duduk manis meyambut dengan berbagai hidangan.
“Akhwat-akhwat pada kemana?“
“Lagi pada sholat... eh udah buka belum? Tasnya taruh situ aja…”
Kita pun bergegas sholat. Laper juga euy…cuma buka sama frutang tadi di jalan…Tapi sholat dululah…udah hampir setengah tujuh.

Pas aku lagi wudhu, Nuyi nongol.
“Macet gak? Aku juga telat tadi sampe sini…”
Dan kita masih sempet-sempetnya mentertawakan kekonyolanku yang pake salah naek bis segala :D

Usai sholat di masjid, kami kembali ke ruang tamu (Ayahnya Iis mengelola sebuah yayasan dan masjid. Jadi rumahnya satu komplek sama masjidnya itu).
Ternyata rame juga, walaupun bisa dihitung dengan jari.
Ada Ulfah, Ita, Fathur, Purwo, plus 3 serangkai tadi : Dana, Herik, Parlan, also Si Biggy Azman. Tumben lu bisa dateng, Man... Subhanalloh sekali... Bukan apa-apa, soalnya kalo ada acara ngumpul2 gini, yang paling jarang dateng tuh si Azman. Entah sibuk entah ada acara apaan tau...

Alhamdulillah... bisa silaturrahim lagi sama semuanya.
Walau cuma sedikit, tapi rasanya nikmat sekali bisa kumpul sama sodara2 yang dah lama gak ketemu.
Sambil menikmati es buah, aku nanyain kabar makanannya Inka.
“Gimana tadi, ketemu kan rumahnya?“
“Ketemu... sama kandang soang... Kandang soang apaan...gak keliatan gitu..“
Anak-anak serentak tertawa mendengar jawaban Parlan. Tapi aku bingung.
“Lho.....kok kandang soang?“
“Kan nelpon rumah Inka... trus orang rumahnya bilang, rumahnya yang ada kandang soangnya. Ya kita nyari-nyari, nanya sama orang, rumah yang ada kandang soangnya. Gak ada yang tau...“
“Oooh...“ aku jadi ikutan ketawa. “Kirain tadi bareng Nuri,“
“Orang aku juga sampe sini jam setengah enam gitu...“ kata Nuy.

Belakangan Anis dan Angga datang. Anis sampe bela-belain naik taksi dari Pasar Rebo untuk menghindari kelamaan di jalan.Celakanya, Fajar baru aja aku kasih tau jam setengah 5 tadi. Sebenarnya dari kemarin aku inget banget mau ngasih tau dia, tapi kelupaan mulu mau sms. Mana si Indah bilang, Fajar merasa tidak dianggap lagi sebagai karena jarang dikasi tau kalo ada acara ngumpul-ngumpul gini!
Wah...wah...wah...bisa kacaww ini...
Akhirnya Fajar nelpon. Tapi putus-putus. Trus dia sms, ngasitau kalo ga bisa dateng. Yah....Fajar.... Nasibmu, nak...

Selama itu, kami makan-makan, foto-foto dan ngobrol sama orangtuanya Iis.
Dan berhasil (lho?!) ngecengin Fathur yang didoain supaya cepet dapet jodoh.
Dasar anak-anak jomblo -_-'

Pas pulang, spt sudah disepakati di awal, yg bawa mobil harus bersedia mengantarkan para akhwat pulang ke rumah masing-masing. dan seperti biasa, Dana jadi sopir semalaman ;)
Selama perjalanan itu kami ketawa-tawa dan ngobrol macem-macem. Herik tetap dengan gayanya yang cool, kalo gak ditanya gak akan ngomong.dan wanita-wanita di belakang : aku, anis, nuyi dan indah jayko, berbincang panjang lebar mengenai apa saja yang bisa kami obrolkan. begitulah, namanya juga melepas kerinduan :)

gak lama Fajar nelpon dan berbicara satu-persatu dengan para akhwat.
pake ngambek segala dia... sapa juga yang gak nganggap elu sebagai Bem-ers? kan emang bukan Bem-ers lagi karena udah lengser ;p
Lha wong aku aja jarang dapet info kalo ada ngumpul-ngumpul. gimana aku mau jarkom ke dia, coba... (i know u read this, Jar. Gak usah ketawa-tawa lu yeh... Awas aja ngambek lagi...)

sesekali perbincangan kami diselingi istighfar dan takbir karena Dana ngebut gak inget-inget bawa penumpang. bukan Perdana namanya kalo gak ngebut, kata Nuy.
Aku jadi terkenang saat pergi ke satu daerah bertiga Nuy dan Iis, dengan disopiri Dana juga. selama beberapa jam perjalanan waktu itu, isinya mulai dari tebak-tebakan, diskusi, debat, sampe rapat yang dibuka dengan basmallah dan diakhiri doa penutup majelis.
huuhuu.... jadi kangenn....

Well...Malam itu aku benar-benar merasakan nikmatnya bertemu saudara-saudara seiman.
Jika bukan karena Allah yang begitu Penyayang, niscaya tak kan dapat kami satukan hati-hati ini dalam perjuangan di jalan-Nya.

Kekalkanlah ya Allah, ikatannya...
Alhamdulillaahirobbil 'aalamin.

***

bukankah rosul telah bersabda
sesungguhnya mukmin bersaudara
mari bersama kita membinanya
agar teguh umat yang mulia

(Persaudaraan-Uswah)

Sep 26, 2006

Ramadhan is Coming...



Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan, semuanya...
Mohon maaf lahir bathin atas pikiran, perasaan, sikap,
kata-kata maupun perbuatan yang tidak berkenan.
Semoga Romadhon tahun ini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Aaamiiin....

Sep 21, 2006

Yang Terlupakan

bismillah.

Ini bukan bahasan tentang "Yang Terlupakan"-nya Iwan Fals :)
Tapi emang pas sih buat judul postingan kali ini... jadi aku pinjem judul lagunya ya, Om Iwan..

Waktu kemaghriban di tebet (udah masuk waktu maghrib maksudnya), aku terpaksa sholat di musholla kecil di stasiun situ. daripada gak kekejar dan tidak ingin mengambil resiko terlambat sholat, aku akhirnya memutuskan sholat segera.

Gak senyaman di rumah, memang. atau di masjid2 lain yang lebih besar.
Tapi alhamdulillah, wc-nya bersih. setidaknya untuk ukuran stasiun yang kerap dicap jorok, bau pesing, kotor, dan sebagainya. mushollanya juga cuma sepetak ruangan sejajar kantor pegawai PT. KAI, dan disekat dengan gorden untuk membatasi bagian pria dan wanitanya.

Kupikir begitu aku masuk ke ruang kecil itu akan segera tercium aroma pengap dan bau.
Ruangan sekecil ini digunakan banyak orang, gitu lho...
Tapi nyatanya tidak.
Aku menghirup bau pewangi ruangan yang digantung di kipas anginnya.
Dan tentu saja, bisa sholat dengan cukup nyaman (walau sempit-sempitan).

Begitu selesai, aku mengeluarkan selembar uang ribuan dan memasukkannya ke kotak infak.
Mana ada yang gratis di jakarta, man?
Hehe...

Tapi begitu aku melangkah ingin pergi, mataku menangkap kelebat seseorang.
Tukang pel wc stasiun!

Tahu tidak...
Dia itu, setiap ada orang keluar WC dan meninggalkan jejak-jejak sepatu/sandal yang kotor, dengan serta-merta langsung membersihkan lantainya.
Pun ubin di depan musholla yang berulang kali diinjak-injak sama orang yang lalu-lalang dari wc ke musholla.
Berulang kali, setiap mereka habis lewat!

Aku gak membayangkan betapa lelahnya dia, karena aku tahu, dia pasti lelah.
Aku cuma berpikir, betapa mungkin ia terlupakan oleh sekian banyak orang yang menggunakan wc atau musholla di staisun Tebet itu.
Siapa dia? Cuma tukang pel yang gak ada urusannya sama kita.
Cuma petugas yang memang wajar melakukan hal itu karena itu memang tugasnya.
Menengok pun kita tak pernah.
Atau bahkan mengucap terima kasih untuk menghargai perbuatannya.

Padahal ia yang berjasa membuat para pengunjungnya merasa nyaman karena keadaan ruang yang bersih dan jauh dari kesan jorok atau bau.
Dia, yang berulang kali mengepel lantai agar tiada lagi jejak-jejak kotor kaki pengunjung yang membekas dan meninggalkan noda.
Dia, yang tidak pernah menagih sepeser pun uang atas pekerjaan yang telah dilakukan.
Dia, yang tidak berkeluh-kesah karena lantai yang baru ia bersihkan harus kotor lagi-kotor lagi, karena berulang kali diinjak-injak.
Dia...

Ah...
Allah...
Bagaimana aku bisa begitu lengah? :'(

***

Beranjak dari situ, hatiku hanya bisa lirih berdoa.
"Semoga Allah membalas jasa-jasamu, Pak...
Walau engkau sering terlupakan, tapi Allah tak kan pernah melupakanmu."



untuk sekian ratus jiwa yang terlupakan di sudut-sudut kota: Allah tak pernah melupakanmu.
note: gambar pel-nya diambil dari
sini. thx a lot!

Sep 20, 2006

Novel oh Novel...

bismillah.

sejujurnya ini inspired by ceritanya Nuyi.
sebenarnya udah lama sih, pengen mengungkapkan kegundahan tentang novel-novel "itu", yang hari gini udah makin menjamur di toko buku, saingan sama teenlit (teenage literature) laennya.
fiuh...

yeah... sekarang aku mau bahas novel2 dengan label islami di belakangnya.

suatu hari, seorang teman bertanya dengan mimik serius.
temanku : "Udah pernah baca novel-novel islami belum?"
aku : "Udah."
temanku : "saya lagi bingung nih. punya binaan kok jadi begitu ya??!?"
aku : "begitu gimana maksudnya?!?!?" *penasaran*
temanku : "intinya... ghiroh juangnya melemah. udah kemana tau deh tuh, harokinya. yg ada jadi sendu, mellow ga jelas..."
aku : !?!?!
temanku : "tau gak, efeknya baca novel islami?"
aku : "mmm.... novel itu... bisa mengharu-biru perasaan pembacanya..."
temanku : "nah! itu yang saya khawatirkan! jadi, 2 orang binaan saya ini ceritanya lagi rebutan akhwat!"
aku : "haa?". It sounds like a silly things, isn't it?
aku : " terus?"
temanku : "yaa... saya agak khawatir aja dengan bacaan2 jaman sekarang. sepertinya jadi agak membuai... dan membentuk karakter pemuda yang tidak sesemangat generasi-generasi sebelumnya."
aku : "hmmm...."

that's it.

aku gak mukul rata semua novel berlabel islami itu buruk. novel2 mba Helvy cukup menggugah dan pastinya sarat makna. tapi ada juga beberapa yang bikin novel dengan tokoh manusia super tiada cacat cela.

well... ide2 memang harus dihargai. tapi kalau efeknya malah buruk, udah dipikirin belum tuh?!

beribu-ribu novel berlabel islami bergeletakan di toko buku sekarang.
di satu sisi, fenomena ini patut disyukuri.
di sisi lain, akibatnya mungkin belum banyak yang mencermati.

satu kasus, seperti yang dialami temenku di atas.
aku ga tau dia baca novel apa. dan aku ga berani bilang kalau mereka jadi rebutan akhwat gara-gara kebanyakan baca novel "itu" apa enggak (aku belum explore temenku lebih jauh untuk hal ini. dan mungkin gak bisa digeneralisir juga).
Tapi aku memang pernah baca novel yang setelah dibaca jadi bikin imaginasi berandai-andai.

Salah satunya, sebut aja deh, Ayat-ayat Cinta. tiba-tiba aja temenku mendadak jatuh cinta sama si Yusuf, tokoh utama di novel itu. dan dia berandai-andai nemuin suami macam lelaki itu.
Semua pria yang ada di dunia ini, tewas!
Ya iyalah.
Mana ada lelaki sempurna macam si Yusuf itu?!?!? heran... -_-'

Novel lainnya, ada-lah beberapa yang juga semacam itu.
Atau mungkin banyak.

aku tau, melarang orang berkreasi sama saja dengan mengebiri hak mereka. tapi satu hal yang aku cermati, novel2 itu berpotensi (dan sudah terbukti, salah satunya kasus temanku) menurunkan semangat juang para pemuda.

entah kenapa, makin kesini kuperhatikan trend-nya makin nge-pop.
salah sih enggak... kalau kita bisa mengemas da'wah dan nilai-nilai islam dalam bentuk yang cantik dan sesuai bahasa kaumnya, kenapa enggak. tapi nge-popnya tuh agak-agak gimanaa... gitu. akhirnya goal yang mau didapat jadi malah kabur. atau salah tangkep, atau malah gak ngena sama sekali. yang gini-gini kan jadi kacaw tuh...
boro2 mikir jihad ke palestina, berjuang sepenuh jiwa-raga, berdarah-darah... wong ketemu akhwat cantik aja klepek-klepek... *mode cemen*
yang ada di pikiran cuma, "gimana supaya gw dapet jodoh yang kayak dia, si tokoh dalam novel anu..."
Hah! Lemmmmmah sekali!

ngomong gampang lu ndra... bikin tandingannya donk...

yaya.
aku belum pernah buat novel. cerpen aja gak jadi-jadi.
tepatnya, agak kurang berani mengingat pengaruh novel tadi harus benar-benar difahami juga.
eh, bukannya kurang berani juga. tapi harus mikir beribu kali untuk mikirin nilai apa yang mau disampaikan dan efeknya nanti gimana. tau kan, ada buku yang bisa bikin orang jadi semangat setelah membacanya, atau ada juga yang bikin nangis tersedu2, dst.
Yah begitulah efek bacaan.

Tergantung orangnya juga? bisa jadi sih...
dan sebenarnya semua tergantung dari sudut mana kita memandang. tapi aku pribadi lebih suka melihat efek terburuknya, karena bagaimanapun, meminimalisir keburukan harus diutamakan.

Yaa... yang jelas bikin novel (atau bacaan apapun) bukan pekerjaan main-mainlah.
Tokoh2 di dalamnya bisa jadi model atau tokoh idola yang mungkin dikagumi sepenuh hati. Iya, kalau yang ditiru adalah perilaku/akhlaq baiknya. kalo cuma mentok di kagum doank dan jadi ngayal mulu, siapa bisa menjamin?

Hmm..hmm..hmm.....
Jadi gimana donk baiknya ya?!?!?!

Yang pasti, kalo bisa bikin novel yang lebih berbobot, sok silakan bikin.
Kedua, seimbangkan dengan membaca bacaan lain yang lebih berkualitas kalo emang terpaksa baca "itu". daripada ngayal-ngayal ga jelas!
Ketiga, baca novel bisa diganti dengan baca otobiografi. contohnya baca buku James Yee :) *promosi*. eh, ternyata baca otobiografi juga kaya baca novel lho!
Keempat, ...
Kelima, ...
Dst...
Ada yang mau nambahin?!?!

Sep 19, 2006

Dicari : Suami seperti...


bismillah..

baru2 ini dapet email dari Yumna, sahabatku. dia ngirim tulisannya Zaim Uchrowi, kolumnis Republika. ini dia tulisannya...
sok, silakeun dibaca yah.

Kepemimpinan ‘Partnership’ Suami
oleh : Zaim Uchrowi

Selama Juli kemarin, saya dan anak-anak empat kali ditinggal istri. Mula-mula ia pergi ke Singapura. Dua hari di sana. Senin berikutnya, ia terbang ke Kamboja dan baru pulang Jumat malam. Seninnya lagi, ia berangkat ke Srilangka lagi-lagi pulang Jumat. Dua hari kemudian, Ahad, ia terbang ke San Fransisco, hingga Ahad berikutnya.

Situasi itu tak lazim bagi kebanyakan keluarga kita. Bagi keluarga saya yang demikian itu sudah semakin menjadi biasa. Ira, istri saya, belakangan ini semakin sering pergi. Dalam sebulan, rata-rata ia tiga kali keluar negeri. Terutama sejak ia ditunjuk sebagai manajer Divisi Vendor Compliance untuk wilayah Asia Tenggara.

Tahun lalu Ira hanya menangani 80 pabrik di Indonesia. Mulai dari Medan, Batam-Bintan hingga Pasuruan. Dengan pekerjaannya itu, Ira harus memastikan bahwa 60.000 buruh yang bekerja untuk pabrik-pabrik supplier perusahaannya-sebuah industri garmen Amerika dan kini terbesar sedunia-mendapat perlakuan secara memadai. Setidaknya agar mereka tidak diperas pabrik, mendapat haknya secara wajar, mendapat lingkungan kerja yang memadai untuk ukuran industri, serta keselamatan kerjanya pun terjamin.

Tahun ini jangkauan Ira diperluas. Kini ia harus bertanggung jawab atas kondisi pekerja sekitar 350 pabrik di Asia Tenggara. Indonesia tentu saja, Singapura, Malaysia, Kamboja, dan Brunei. Ia harus memonitor secara detil iklim kerja di seluruh pabrikt ersebut, sekaligus mempelajari undang-undang tentang ketenagakerjaan setiap Negara. Ia harus berdebat dan ‘menaklukkan’ para pengusaha yang nakal, sekaligus meyakinkan kawannya dari divisi lain yang berkepentingan menjalin bisnis dengan pengusaha tersebut.

Hampir semua mereka beretnis Tionghoa dari berbagai Negara. Tak satupun Melayu. Saya, insya Allah, tidak terganggu sama sekali dengan kesibukan Ira yang sangat padat tersebut. Setidaknya sejak saya memutuskan untuk memperistri Ira, 1987 lalu. Sedari kecil, ia bukan sosok yang ‘baik-baik’ tinggal di rumah. Mungkin karena kehilangan figure ayahnya yang meninggal, ia mencari lewat berbagai kegiatan drama di waktu SD, pramuka dan kegiatan masjid di waktu SMP, serta OSIS (ia salah seorang ketua) di SMU.

Saat menikah, ia baru kuliah tingkat satu. Saya harus hijrah kembali ke Jakarta (dari Surabaya) sedangkan ia berada di Malang, sambil harus membesarkan anak seorang diri. Ira dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu di universitas Brawijaya bahkan menjadi salah satu lulusan terbaik di fakultasnya.

Kemudian, tujuh tahun di gerakan konsumen memberinya akses yang luas pada jaringan internasional. Para aktifis gerakan yang mempromosikan ASI-dan menentang penggunaan susu formula bagi bayi-dunia terutama dari kalangan IBFAN (international Baby Food Action Network) mengenalnya dengan baik. Desember lalu ia bahkan diminta oleh IBFAN untuk mewakili Asia-kemudian bahkan dunia-untuk menerima penghargaan Right Liverhood Award yang di Swedia diistilahkan sebagai “Nobel Alternatif”.

Ira-di usianya kini 31 tahun-berpidato di depan parlemen Swedia. Lengkap dengan jilbabnya pula. Esoknya, fotonya pun muncul di beberapa surat kabar setempat. Juli, di tahun yang sama, Ira juga memberi pidato puncak pada sekitar 500-an manajer perusahaannya dari sepuruh dunia di San Fransisco. “Dari sepuluh ribu karyawan di seluruh dunia, kurang dari sepuluh yang muslim. itu pun hanya saya yang berjilbab” katanya. Ia terpilih untuk mewakili sebagai Vendor Compliance Officer terbaik di seluruh dunia.

Haruskah saya, sebagai pimpinan rumah tangga. Membunuh seluruh potensi itu dengan memaksanya untuk tinggal di rumah? Sedangkan ia terbukti mampu berbuat banyak untuk masyarakat, menyelamatkan banyak generasi mendatang dengan mempromosikan ASI, memperjuangkan nasib puluhan ribu buruh pabrik (termasuk memperjuangkan hak buruh-buruh etnis Champa untuk memperoleh mushalla di Kamboja), juga menjadi “PR Islam” untuk lingkungannya, yakni bahwa seorang muslim, baik laki-laki atau perempuan dapat menjadi seorang yang terbaik, intelektualitas maupun professionalitas.

Apakah dengan begitu kepemimpinan saya sebagai suami goyah? Apakah saya tak mampu menghidupi keluarga saya bila Ira menghentikan kariernya? Insya Allah tidak. Saya tidak menyoal sama sekali ayat popular, “Arrijalu qowwamuna’ alannisa” meskipun banyak tafsir yang berkembang soal ayat itu. Saya bertanggung jawab sepenuhnya terhadap arah dan warna keluarga saya. Hanya barangkali pola kepemimpinan saya sedikit berbeda dengan pola kepemimpinan kebanyakan suami.

Sampai sekarang pun, jika mau saya dapat menggunakan otoritas saya sebagai pemimpin keluarga tanpa Ira dapat menolaknya. Tapi saya merasa, cara kepemimpinan demikian tidaklah benar. Di masa sekarang, apalagi mendatang, gaya kepemimpinan ‘partnership’ yang lebih diperlukan adalah diskusi, dialog untuk mendapatkan format yang terbaik dalam keluarga. Dialog tersebut harus terus dikembangkan karena setiap hari kita menghadapi situasi baru. Indikator sederhana tingkat dialog tersebut adalah seberapa sering suami istri mendiskusikan situasi, keadaan, pola, hingga posisi yang dikuasai masing-masing dalam berhubungan intim.

Dengan pola kepemimpinan ini, pemimpin tidak menempatkan diri untuk “menggurui” atau mendikte. Walaupun dilakukan secara halus. Pemimpin perlu menempatkan diri sebagai moderator yang cerdas, yang mampu mengeksplorasi seluruh gagasan dan pikiran anggota keluarga, lalu membuat sintesa yang paling baik dan diterima semua pihak. Acapkali suami “takut” untuk berdiskusi. Banyak suami tidak siap bila sang istri mengambil peran yang cukup besar di rumah tangga dan merasa “kehilangan harga diri”. Seolah tugas suami selalu mencari nafkah, sedangkan adalah tugas istri adalah menangani seluruh tugas domestic atau pekerjaan rumah tangga padahal cukup banyak variasi yang dimungkinkan dalam pola hubungan suami-istri. Semuanya tergantung dari karakter masing-masing pihak.

Pola hubungan Muhammad-Khadijah sangat berbeda dengan pola hubungan Muhammad-Aisyah. Karakter keluarga saya, kebetulan lebih dekat dengan pola pertama dibanding kedua. Tanpa banyak diskusi, saya khawatir, kebahagiaan keluarga yang diidamkan hanya akan dicapai secara semu. Perempuan dan anak-anak akan cenderung menjadi “korban”. Acapkali istri terpaksa menerima “kodratNya’, mengubur dalam-dalam potensinya untuk dapat berperan langsung dalam masyarakat, sepenuhnya menjadi “makhluk domestik”, sekedar menjalankan fungsi reproduksi (yang tdak mungkin tak merasakan kenikmatannya sebagaimana yang dirasakan sang suami), serta kehilangan identitas dirinya karena ia telah menjadi “ummu…atau umminya…”

Saya bukan penganjur wanita untuk berkarier dan saya juga bukan penganjur wanita untuk di rumah saja. Setiap orang punya kecenderungan masing-masing. Biarkan kecenderungan itu tumbuh tanpa dipatahkan. Tinggal bagaimana mengelolanya secara baik, sesuai dengan keadaan masing-masing. Khadijah adalah investor bisnis perdagangan antar bangsa pada zamannya. Barangkali sekelas George Soros atau Rupert Murdoch sekarnag. Sedangkan Aisyah mewarnai rumah tangga dengan kemanjaannya. Muhammad saw tidak memukul rata mereka untuk menjadi seragam: istri adalah penunggu dan pekerja domestic bagi suami dan anak-anak.

Bagi suami dengan pola kepemimpinan ‘partnership’ istri di rumah atau berkarier sama baik. Asalkan pilihan itu sudah dipertimbangkan secara cermat dan benar-benar menjadi pilihan hati sang istri. Pemaksaan apakah untuk tinggal di rumah atau untuk bekerja, pada dasarnya mengingkari prinsip Islam agar setiap umatnya kritis, berhati tulus dan berpikir merdeka hanya dengan mengilahkanNya. Sayang, banyak suami yang lebih banyak mengikuti naluri primitifnya male chauvinistic ketimbang menengok teladan Muhammad terutama dalam berkeluarga dengan ummul mukminin, Khadijah, meskipun sambil mengutip hadis.

Bisa saja pendapat saya ini keliru karena keterbatasan ilmu agama saya tapi saya berdoa, mudah-mudahan Allah memberi jalan yang baik bagi keluarga saya. Jalan baik itu, insya Allah hanya akan diberikan bila suami-istri saling respek. Secara lahiriah, itu kami wujudkan setiap habis shalat berjama’ah. Ira selalu mencium tangan saya dan saya ganti mencium tangan Ira. Saya akan memijat kaki Ira, bila ia capek. Ia pun akan memijat kaki saya bila saya capek. Bagi saya Ira bukan hanya istri, ia juga sahabat terbaik saya.

komentar Yumna :
"Subhanallah…adakah Zaim Uchrowi yang lain yang memberikan kesempatan dan dukungan sepenuh hati pada belahan jiwanya untuk berkembang dan berkontribusi secara totalitas pada masyarakat?"

komentarku :
"Dicari : suami dengan salah satu karakteristik spt Om Zaim Uchrowi :P"

komentar lanjutan (smg gak pegel bacanya yah^_^) :

beberapa waktu lalu temenku menikah. suaminya, katanya, rajiiin...banget. kalo nyuci piring, bisa sampe berulang kali digosok2 sampe keset supaya bisa dipastikan udah bener-bener bersih. dan suaminya berpendapat, sang istri gak perlu nyuci2, sibuk berbenah rumah, masak ini-itu, selama semua itu bisa dikerjakan orang lain. dan sang suami justru menyarankan istrinya untuk sebanyak-banyaknya menyerap ilmu : ikut kajian, belajar bahasa arab, kursus2, dan lain2.
beda banget sama beberapa lelaki yang punya kriteria calon istri bisa memasak, bisa nyuci, bisa beresin rumah.

Hey, bung...
Situ mau nyari istri apa pembantu?!?!? -_-'

aku tidak ingin mengingkari fitrah wanita disini. bahwa tugas wanita adalah mengurus rumah tangga adalah memang kewajibannya. tapi mengekangnya dan membiarkannya mendekam di rumah -hanya- untuk mengurus urusan domestik, kayanya kurang bijak deh :(

so, mudah2an ga telat untuk pasang pengumuman nih :
"Dicari suami -salah satunya- dengan karakteristik seperti Om Zaim Uchrowi!"

hehehe...
ngaco aja gue...
piss lagi ah! ^_^v


nb : to Om Zaim, nice article :) smg rumah tangganya samara senantiasa ya.