Bismillah…
Mau cerita nyesek ya. No complain anymore, please.
Blog juga punya gua gitu lho.
Fuh…
Nyeseknya gara-gara denger si Ikyu membatalkan proyeknya sama aku.
“Dilarang sama MR, Mba indra. Afwan ni ikyu gak bisa bantu. Bukan apa-apa sih, bukan karena proyeknya. Tapi cuma disuruh milih salah satu supaya fokus. Soalnya ikyu disuruh ke depera.”
“Nah, kan. Aku bilang juga apa, Kyu. Kamu sibuk sih...“
Hmhhh...
Kalo gitu kudu nyari orang lain lagi nih. Masalahnya ni proyek bukan hal main-main yang bisa dikerjain sembarang orang. Dan gak bisa dikerjain sendirian juga, mengingat bukan proyek yang ringan. Pilihan kemarin jatuh kepada si Ikyu karena kupikir dia memang cukup kompeten dan punya banyak akses ke pihak-pihak yang dibutuhkan.
Waktu discuss dan wawancara si Winwin juga, dia mendukung.
“Jalan aja terus... Bagus kok,“, katanya.
Sekarang stag sama sekali deh. Sebenarnya ada beberapa orang yang bisa diajakin juga.
Ngajak 1 orang, jawabannya, “Afwan, ana lagi fokus bikin TA,“
Hiyyah.... kaya aku gak lagi bikin TA ajah.
Yang 1 lagi, bisa-bisa aja sih. Tapi aku agak kurang cocok sama beliau. Mungkin karena karakter yang sama-sama keras. Orang kerja bareng juga berantem mulu. Tau dah kenapa. Addda aja yang jadi sumber keributan kalo kita lagi barengan. Lagian kalo gak yang sama sekampus, agak gimanaa...gitu. Ya gak kenapa-napa juga sih.. Sebenernya fine-fine aja. Tapi bekerjasama dengan orang yang frame berpikirnya udah sama (background pola pikir psikologi), akan lebih enak. Lain hal kalo jalan sama anak fakultas lain, kudu penyesuaian lagi.
Apalagi kalau sama orang yang satu itu. Kemarin2 sih udah diskusi dan ternyata nyambung-nyambung aja. Beliau kan jago nulis juga tuh. Analisanya juga bagus. Tapi rasa-rasanya aku punya barrier psikologis sama beliau...
Fiuuu....
So...
Jadi mikir-mikir lagi.
Aseli ni proyek agak berat juga. Eh, enggak deng. Sangat berat.
Serius gak ya mau dibuat?
Yah, positif ajalah.
Mungkin ni saatnya aku ngublek2 TA only.
Kalo Ikyu mundur, emang kudu cari orang lain.
Entah siapa.
Aku sih emang lagi fokus ke skripsi saat ini. Tapi gak pengen yang ini jadi stag sama sekali.
Ya, bagi-bagi proporsi dan skala prioritas juga.
Selinganlah.
Walau udah diomel-omelin sama si Panpan.
Mau minjem Siroh Nabawiyah aja pake diomelin segala. Ntar gak fokus ngerjain skripsinya, katanya.
Huu...
Tau ah.
Ngalir aja. Ntar kalo udah dapet orang lagi, baru dikerjain.
Yuhuu...
Semangat terus, Neng! ^_^v
Oct 30, 2006
Proyek Gatot Gak Ya...
Diposkan oleh Indra Fathiana di 10/30/2006 1 komentar
Oct 27, 2006
Sekali Lagi tentang TTM
Bismillah…
I’ve never been met a woman like her before... (bener ga english-nya?!?)
Ia seorang ibu berusia 40 tahunan. Suaminya –seorang ekspatriat- jauh lebih muda sekitar 8 tahun, dan mereka mengadopsi anak yang sekarang berumur 14 tahun.
Aku mengenalnya sebagai sosok wanita karier yang berhasil. Y, sebut saja begitu, sempat menetap beberapa lama di Inggris untuk menempuh pendidikan S-2 bahasa Inggrisnya. Disana pula ia bertemu suaminya. Mereka, kini sudah menetap belasan tahun di Indonesia, mengembangkan perusahaan training serta satu LSM milik pribadi yang bergerak di bidang pendidikan.
Latar belakang Mba Y bukan psikologi. Dan tentu, ia bukan pula seorang psikolog. Tapi pemahamannya mengenai kejiwaan manusia dan bagaimana ia memperlakukan manusia, rasa-rasanya jauh lebih baik dari seorang psikolog. Jujur aku mengagumi cara hubungan interpersonalnya yang begitu anggun dan hangat.
Baru-baru ini ia mendekatiku.
Perlahan ia bercerita bahwa tengah terjadi perselisihan antara dirinya dan suaminya.
Aku terkejut sekali. Sepanjang 6 bulanan aku mengenal mereka, kulihat kehidupan keluarganya baik-baik saja, bahkan tampak begitu hangat dan harmonis.
Sore itu aku menyimak ceritanya baik-baik di kamar Z, putrinya semata wayang.
“Ia mempunyai TTM (teman tapi mesra –red), yang usianya masih 23 tahun. Wanita itu orang Indonesia, aku bahkan mengenal ibunya. Sekarang ia sedang kuliah di Australia,“
Dadaku bergemuruh kencang.
TTM???? Again????
“Aku gak ingin marah-marah, dan itu bukan caraku. Sama sekali bukan caraku. Aku cuma bisa menyerahkan ini semua kepada Allah. Justru aku kasihan sekali padanya. Dia tidak punya pegangan, sangat tidak beruntung sekali,“
X, suaminya, kebetulan bukan seorang muslim. Sebelumnya kupikir ia seorang Nasrani yang taat. Tapi menurut sang istri, ia lebih tampak seperti tak bertuhan.
“Di saat aku seperti ini, aku bisa sholat, bisa berdoa kepada Allah. Tapi dia tidak. Dan dia kehilangan kendali. Bayangkan, Indra, laptop di taksi bisa hilang. Alasannya karena dia lupa. Itu kan konyol sekali. Waktu di kantor juga, beberapa teman mengadu kalau X terlihat seperti orang linglung,“
Aku terus menyimak kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibirnya. Sama sekali tak terlihat nada tinggi, raut muka kesal, atau tangis selama ia bercerita. Emosinya datar dan seolah sedang membicarakan suatu hal yang tidak penting.
Malah kini mataku yang mulai berkaca-kaca.
“Masalahnya ia tidak menganggap semua ini sebagai masalah. Dia pikir adalah hal yang biasa ketika ia ingin fun dengan wanita lain, meskipun ia sudah beristri. Sementara kita di Indonesia kan tidak seperti itu. Ya sudah...sekarang aku cuma bisa menjalani episode hidup ini. Kita semua kan sedang bersandiwara. Tinggal lihat nanti, gimana Allah mengaturnya...“
Mataku semakin mengabut.
Just for fun? Menyakitkan sekali.
Mom, engkau begitu tegar...hiks...
“Hey, sudah....kenapa menangis?“
Iya ya. Kok malah jadi aku yang nangis... bodoh banget deh.
“Enggak, Mba... aku cuma terharu... Mba tegar banget ya...“ ujarku sambil mengusap lembut tubuhnya.
“Aku gak tau kalau aku yang ngalamin seperti Mba...“
“Yah...alhamdulillah. Aku gak mau stress, Ndra. Ngapain dipikirin. Aku punya banyak pekerjaan. Kalau aku jatuh, aku kalah. Sebenarnya kasihan sekali dia. X itu orang yang sangat memegang teguh kejujuran. Sekarang prinsipnya sendiri ia langgar. Sampai ia pergi dari rumah kemarin, aku tau dia sangat merasa bersalah. Tapi ya namanya setan lagi menguasai dirinya, ia belum sadar.“
Obrolan berhenti sampai di situ.
Ia hanya ingin aku lebih merangkul Z, anaknya yang belajar private bersamaku, agar tidak terlalu sedih.
Di perjalanan pulang dari rumahnya, aku tak habis berpikir.
Bagaimana bisa ia menghadapi semua ini dengan begitu tenang?
Ataukah ia sudah menghabiskan energinya tidak di hadapanku, sehingga ketika berbicara denganku ia tak lagi meluap-luap? Ataukah ini efek karena ia rajin berpuasa dan berlatih yoga? Tapi sepanjang yang aku tahu, Mba Y memang bukan seorang yang emosional. Menghadapi anaknya yang remaja dan begitu manja saja ia tak pernah marah tak terkendali. Bayangkan, teriakan-teriakan putrinya yang temperamen itu dihadapinya dengan suara lembut dan pelukan sayang!
Ah...
Aku tetap tak menemukan jawabnya.
Cuma ada segunung lagi kekaguman yang tiba-tiba meraja.
***
Beberapa hari berikutnya, perbincangan kami berlanjut lagi saat makan malam setelah berbuka.
Sore itu suaminya pulang ke rumah dan mengambil suatu barang. Begitu berpapasan dengan Mba Y yang baru saja pulang kantor, kulihat mereka berdebat di dekat mobilnya.
Ketika Mba Y sudah masuk rumah dan X sudah pergi, aku bertanya padanya dengan sangat hati-hati.
“Is it better now, Mom?“
Ia hanya menghela nafas dan menggeleng.
“Tadi, dia sampai rebutan mobil... aku kan harus pakai karena aku ke kantor. Sementara Z setiap pagi juga harus diantar. Aku tanya, atau aku naik taksi saja? Tapi dia tidak mau begitu... Dia bilang dia juga berhak atas mobil itu. Ya memang kan itu milik bersama-sama. Sekarang hal-hal sepele saja bisa jadi besar...“
Aku jadi ikut-ikutan menghela nafas.
“Duh... gak tau deh. Kemarin dia juga mempermasalahkan rumah ini. Katanya dia berhak tinggal disini. Sekali-kalinya kemarin itu aku berteriak. Yang menyuruhnya pergi itu siapa? Apa dia mau aku dan Z pergi dari sini? Tapi aku akan bertahan. Aku tidak pernah menyuruh dia pergi, itu keinginan dia sendiri. Pembantu kami juga tahu hal itu,“
“Hmm... Mba... tidakkah Z menjadi alasan yang dapat membuatnya sadar?“
“Dia tetap memperhatikan Z. Dia sayang pada Z. Sesekali dia datang, mengunjungi Z. Aku sih fine-fine aja. Ya namanya orang lagi gak sadar, gimana sih Ndra? Hal terpenting dalam pernikahan itu kan komitmen. Aku sendiri berkomitmen. Tapi entah dia...“
“It means, dia tidak berkomitmen?“
“Yah, dia gak sadar sama sekali dengan kesalahannya. Dia pikir, ’aku sekarang mau senang-senang dengan wanita lain, so what?’, begitu.“
Astaghfirullah.... Menyebalkan sekali....
“Mmm....Mba, kupikir suami itu milik kita lho Mba...tapi ga tau sih...kupikir adalah hak kita untuk mempertahankannya. Mungkin kebanyakan orang akan berkata pada si perempuan, please, jangan ganggu suami orang...Mba gak mau coba lakukan itu?“ aku berkata agak gemas.
“Ya...aku tahu itu. Tapi buat apa? Aku bisa aja menghubungi cewek itu, orang aku kenal juga sama ibunya kok. Tapi bagiku, sudahlah…aku gak mau nyamperin atau apa. Aku masih punya harga diri. Dan aku harus pertahankan integritasku. Bisa habis energiku. Tinggal si X-nya ini yang harus dibenahi… Bayangin aja. Dia sms-an di depan aku! aku bilang aja, Tolong donk, hargai aku...”
“Agak sulit ya Mba, untuk memperbaiki orang yang ia sendiri tidak menyadari kesalahannya…”
“Ya, memang. Tapi ya sudahlah. Aku tinggal menjalani sandiwara hidupku saja. Terserah, maunya Allah seperti apa… Yang terpenting dalam hidup kita adalah hubungan kita dengan Allah, ya kan? Manusia tidak ada apa-apanya…”
***
Waktu terus beranjak dalam minggu-minggu yang padat.
Ramadhan kali ini dinikmatinya tanpa kehadiran sang suami yang kini tinggal di apartement.
Tapi apa komentarnya?
“Aku merasa jauh lebih tenang... Luar biasa... Allah sudah kasih aku nikmat seperti ini. Kalau ada dia, aku tidak bisa mengadakan momen buka puasa bersama sesering mungkin bersama teman-teman di rumah. Dia juga selalu komplain dengan bunyi-bunyian dari masjid.... Alhamdulillah...“
Tak sedikitpun ada gurat duka di wajahnya.
Ketika kutanya resep di balik ketenangannya selama ini, jawabnya cuma...
“Ikhlas aja, Ndra. Apalagi yang bisa kita lakukan?“
“Tapi ditinggalkan dan dikhianati oleh orang yang kita cintai... itu kan sangat menyakitkan, Mba?“
“Oh ya jelas. Tapi untuk apa kita berlarut-larut disana? Hidupku masih panjang. Aku harus memikirkan Z, aku harus mengurusi perusahaanku, dan masih banyak pekerjaan lain yang harus kulakukan. Jujur aja, aku nangis cuma 1 jam ketika itu. Sesudah itu alhamdulillah aku merasa sangat tenang... Aku gak boleh dikalahkan oleh masalah ini.“
“Gimana caranya biar ikhlas, Mba? Supaya bisa tenang seperti itu?”
“Aku rutin sholat tahajud. Di dalamnya aku baca surat Al Ikhlas berulang-ulang. Coba lihat artinya..."
"Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu... "
"Great. Dan itu benar-benar memberiku energi luar biasa.
Tingkatkan terus energi positif kita, dengan sholat, dzikir, dan sebagainya. Lalu posisikan diri kita berada di luar masalah kita. Meskipun orang lain melihat masalahku cukup berat, tapi i’m fine. Karena aku gak pernah mau terlalu jauh tenggelam. Kalau X harus pergi, ya sudah. Aku toh hanya menjalani sandiwaraku. Hidup ini cuma kumpulan sandiwara, kan? Aku tetap menerima dia jika dia pulang ke rumah. Aku tetap tanyakan kabarnya kalau dia menelpon, aku tetap tawarkan makan jika bertemu di rumah. Kita sekarang lebih seperti teman saja. Karena... ya bagaimana, hatinya sudah diberikan pada wanita itu. Tetap saja berbuat baik. Masalahku mau selesai atau tidak, let’s see. Biarkan Allah yang mengaturnya.”
“Kedua, sering-seringlah kamu diam, lalu tarik nafas dalam-dalam, dan katakan pada dirimu sendiri, I’m ok, I’m fine, tetap positif…dan sebagainya. Sugestilah dirimu sendiri. Nanti kamu akan dapatkan ketenangan itu. Mau masalah seperti apa beratnya, jalani saja. Yang penting kita harus pastikan bahwa kita baik-baik saja.”
Aku mengangguk kuat.
“Ya... untungnya Mba juga punya pegangan ya. Masalah nafkah gak terlalu bergantung sama dia…”
“O iya. Buat sharing aja, temanku yang tadinya bekerja dan setelah menikah dia berhenti, saat dia ribut dengan suaminya, dia gak bisa berbuat apa-apa. Makanya aku sangat menyarankan wanita itu punya penghasilan walaupun sedikit.“
Ok. Aku sangat setuju dengannya. Sesulit apapun, wanita harus kuat dan survive, walau kebanyakan orang mengecilkan perannya dalam kehidupan ini.
Well...
Secuplik kisah hidup yang mungkin bisa diambil pelajarannya buat kita.
Hmhh… jadi makin takut beranjak ke jenjang pernikahan karena sudah banyak mendegar cerita buruk dibaliknya. Tapi… lihat ajalah rencana Allah. Setidaknya aku sudah tahu apa yang harus dilakukan ketika aku menghadapi situasi berat seperti yang beliau alami.
Fiuh…
Masih adakah pria sholih nan setia di luaran sana???
Diposkan oleh Indra Fathiana di 10/27/2006 1 komentar
Ramadhan Berpulang
Bismillah.
Apa yang bisa menggantikan 30 hari Ramadhan saat takbir sudah menggemakan kebesarannya di segala penjuru dunia?
Penyesalan tidak pernah sekalipun berguna, kecuali ia membangkitkan semangat perbaikan dan tekad untuk tidak lagi-lagi mengulang kesalahan.
Cuma harapan, untuk kembali bertemu Ramadhan tahun depan.
Cuma doa-doa khusyuk, agar Allah panjangkan usia demi perbaikan berkesinambungan.
Cuma rasa takut yang menerabas segala angkuh, agar ampunan-Nya menjadi kenyataan.
Menyingkirlah, wahai jiwa-jiwa penuh sesal.
Sebenar-benar peperangan telah menyongsong di hadapan.
Target-target yang tak tercapai, segala ibadah yang terasa tak optimal,
Semoga tak membuat kita semakin lengah untuk senantiasa istiqomah.
Sesungguhnya keberhasilan Ramadhan tercermin dari konsistensi ibadah di bulan-bulan berikutnya.
Apalah arti ketercapaian targetan, jika lepas hari raya ibadah kita kembali merosot tajam?
Menyingkirlah, wahai duka dan penyesalan.
Hadapi saja sebenar-benar perjuangan di 11 bulan ke depan!
“Tidak ada jaminan diterimanya Ramadhan kita.
Sebagaimana tidak ada jaminan apakah esok kita masih melihat dunia.
Maka teruslah menghamba dengan sebaik-baik taqwa.
Agar ampunan dan ridho-Nya tak lagi jadi harapan semata.
Taqobbalallohu minna wa minkum.
Maaf lahir dan bathin…”
HAPPY EID 1427 H, ALL...
Note : makasih banyak buat temen2 yang udah sms-in aku... Banyak pisan euy... jadi terharu. Bahkan dari orang2 yang udah aku lupain juga dia masih inget ajah...(bayangin, temen satu kelompok waktu kul di ekstensi 2 tahun lalu! Pun Bem-ers yang gak pernah lupa...) aku tau kok kalian sayang sama aku... Heheheh...
Iya insya Allah dimaafkan. Maafin aku juga yaa teman-temaaaan... may Allah bless us!
Diposkan oleh Indra Fathiana di 10/27/2006 0 komentar
Oct 20, 2006
Happy Eid!
Diposkan oleh Indra Fathiana di 10/20/2006 3 komentar
Oct 18, 2006
Kembali ke Masjid
Saat langkah tersendat di kehidupan
Letih karna debu kealpaan
Wajah tak lagi pancarkan keimanan
Tertatih tiada tujuan
Lembar demi lembar hari kulewati
Namun ketenangannya tiada pasti
Mencari kini tempat yang mencukupi
Tuk susun langkah yang lebih pasti
Kembali ke masjid teduhkan hatimu
Basuhlah jiwa yang lusuh karena debu
Kembali ke masjid segarkan jiwamu
Sujudlah tawadhu di hadapan Robb-mu
Kembali ke masjid teduhkan hatimu
Basuhlah jiwa yang lusuh karena debu
Kembali ke masjid segarkan jiwamu
Tercurah hanya tuk keridhoan Robb-mu
(Kembali ke Masjid - Nuansa)
***
SELAMAT BERI'TIKAF DAN MENJELANG LAILATUL QODAR....
Saatnya kembali pada Ilahi, menuju taqwa diri.
Diposkan oleh Indra Fathiana di 10/18/2006 1 komentar
Oct 10, 2006
Everyday I Love You
I never thought that dreams came true
And I'll give You my best
Diposkan oleh Indra Fathiana di 10/10/2006 0 komentar
Lelaki sholih itu…
bismillah.
Lelaki sholih itu, berusia belia.
Tapi setiap adzan menggema, ia bergegas menunaikan sholat di masjid dekat rumah.
Romadhon ini, terlebih lagi.
Dari shubuh sampai tarawih, tak pernah ia absent tanpa alasan berarti.
Wajahnya tak terlalu tampan memang.
Setidaknya, jika dibandingkan dengan beberapa model kenamaan.
Baginya, yang penting ia berpenampilan rapi dan bersih.
Baju koko, kaos, celana katun, atau berpadu jaket dengan emblem bendera Palestine di dada kiri.
Aku tak habis pikir dengan dirinya selama ini. Mungkin lebih tepatnya, bersyukur dalam-dalam.
Ia tidak suka menghabiskan waktu di mall atau jalanan sebagaimana teman sebayanya.
Ia lebih suka menyimpan uang sakunya di kamar, untuk sewaktu-waktu dapat ia gunakan.
Suatu hari, ia menghampiriku.
“Sekolah akan membangun masjid.” Ujarnya.
Aku bertanya, “Lalu?“
“Ya...dimintai sumbangan...“
“Kamu akan kasih berapa?“
Lalu dari lisanku mengalir deras kalimat demi kalimat tentang pahala jariyah yang takkan terputus. Salah satunya, bisa berwujud sumbangan untuk pembangunan masjid sekolahnya.
Ia terdiam dan tampak tak merespon.
“Berapa yang akan kamu sumbangkan?” tanyaku.
“Hmm....dua ratus ribu.“
Mataku membelalak.
Ia masih kelas 2 SMP ketika itu. Dan ia rela menyumbangkan uang sakunya yang telah ia kumpulkan. Nyaris tanpa pertimbangan! Justru sang bunda yang malah memberatkan.
“Kamu yakin akan berinfak segitu? Dua ratus ribu terlalu besar...“
Tapi tekadnya sudah bulat. Dua ratus ribu itu ia sumbangkan untuk pembangunan masjid sekolah.
Aku menghela nafas. Aku yang baru saja memberinya semangat untuk beramal jariyah, malah tak berbuat apa-apa. Terlalu banyak urusan yang menghalangi pikiran picikku untuk mengadakan perjanjian jual-beli dengan Allah.
Dan dua ratus ribu rupiah kemudian mengalir dari tangan anak usia kelas 2 SMP, bukan untuk membeli berbagai baju, mainan, ke tempat games playstation, atau hal-hal sia-sia lainnya. Tetapi untuk infak pembangunan masjid sekolah.
Itu, sekitar 4 tahun yang lalu.
Dan sekarang, ia sudah duduk di kelas 2 SMU dan aktif dalam berbagai kegiatan.
Belakangan aku baru tahu bahwa ia diminta menjadi ketua remaja masjid dekat rumah. Belakangan lagi rekan ibunya memberitahu bahwa anak itu pernah berceramah di depan jamaah masjid tanpa teks ataupun bahan di tangan, sehari setelah ia dimarahi habis-habisan oleh bunda dan kakak pertamanya.
Tetapi sejarah seperti menjadi berulang.
Hambatan demi hambatan menahan laju fitrahnya yang tengah gemar berdekatan dengan kebaikan. Satu-dua orang rumah mulai menentang, mempertanyakan berbagai kesibukan. Berusaha menahannya dari melakukan “hal-hal tidak jelas“ di luar rumah.
Aku yang pertama kali menjadi pembelanya.
Kukatakan pada mereka, aku tahu apa yang dia lakukan.
Toh dia tidak berhura-hura, tidak mengkonsumsi narkoba, bahkan menyentuh rokok saja rasa-rasanya tidak pernah. Jadi kenapa segala kegiatan positifnya harus dihalang-halangi?
Seketika itu juga aku seperti baru sadar.
Mengapa masa laluku jadi seolah terpampang sekarang?
Haruskah sejarah benar-benar berulang?
Betapa Allah begitu sungguh-sungguh mendatangkan ujian ketika iman ingin melangkah naik ke pijak berikutnya.
Tapi ini memang jadi ujian kami.
Kami : aku dan dia. Bukan lagi aku seorang. Setidaknya tidak lagi sendirian seperti beberapa tahun silam. Ya, betapa banyak kesyukuran yang harus dilakukan. Bagaimanapun, mendapatkan teman seperjuangan adalah anugerah yang tak boleh disia-siakan. Juga menjadi satu kebahagiaan, agar semangat menjaga diri dan keluarga dari api neraka tak mudah surut ke belakang.
Selamat berjuang, adikku sayang.
Semoga Allah menjaga fitrahmu senantiasa.
Teruslah berbuat baik, hingga kaki kananmu menginjak surga...
Sabarlah, adikku sayang.
Pertolongan Allah pasti kan datang.
Dari arah yang tak terkirakan.
Sabar dalam penantian.
(Suara Persaudaraan)
***
“Jika engkau melihat orang yang lebih muda, berpikirlah bahwa dosa-dosanya lebih sedikit daripada dirimu. Dan jika engkau bertemu dengan orang yang lebih tua, berpikirlah bahwa ilmunya lebih banyak darimu“
(Quotes-nya sahabat Nabi saw, namanya lupa)
Diposkan oleh Indra Fathiana di 10/10/2006 0 komentar


