bismillah...
pukul 17.20 wib sekarang.
masih tersisa sekitar 5 jam lagi.
dan akan segera terdengar kabar:
selesai tanpa penjelasan,
atau damai menjadi jawaban semua pertanyaan.
ya Allah...
saksikanlah bahwa aku telah berusaha.
-LunakkanlahHatinyaYaLathiif...
Dec 20, 2006
Waiting...
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/20/2006 3 komentar
Can Not Understand...
Bismillah…
Sebenarnya aku sudah beberapa kali berhadapan dengan situasi seperti ini.
Dan seharusnya the situation is under my control now, mengingat aku sudah berpengalaman. Pun, seharusnya, aku sudah lebih mengerti bagaimana bersikap terhadap tipikal-tipikal seperti itu.
Tapi nyatanya tidak.
Tetap saja aku tidak tahu harus bagaimana, musti ngapain, dst.
Aduuhh…
Gimana doooonnnkkkkk……………
Aku sudah minta maaf kalau ada yang salah.
Belum cukupkah???
Kupikir semua kembali pada itikad baik masing-masing pihak.
Andai saja bersedia menjernihkan pikiran dan bicara dengan kepala dingin, niscaya masalah ini akan selesai.
Kita tidak sedang bicara bagaimana ‘akhirnya’, tapi proses yang damai dan menentramkan semua, kurasa itu yang jauh lebih penting.
Kita tidak sedang membahas cocok-tidaknya karakter yang satu dengan karakter yang lain. Tapi berdialog untuk mencari titik temu ‘ada apa, anda maunya apa, saya maunya apa’, adalah jauh lebih fair.
Ah…
Paling gak bisa tenang deh kalau lagi punya interpersonal problem.
Obatnya cuma satu : selesaikan. Hadapi masalahnya, cari solusinya. Selesai.
Tapi sekarang, diam dalam situasi mengambang begini sama sekali tak menguntungkan siapapun.
Please, I just need an explain…
Aku tau mungkin dibutuhkan beberapa saat untuk menenangkan diri.
Tapi sampai kapan?
Setidaknya beritahu aku waktu yang jelas, supaya perasaan ini lebih tenang.
Masing-masing kita masih punya niat yang baik itu, bukan?
Kalaupun akhirnya diketahui ada unmatching personality, character, or anything, it’s not a problem, I think.
Aku dan seorang teman yang menurut beliau tidak match pun nyatanya sampai detik ini masih berhubungan baik. Dan kami bisa mempertemukan hal-hal yang match saja.
Lantas kenapa harus merajut airmata jika kita dapat menyulam ceria?
Well…
I’ll be waiting till everything’s alright.
Ok?
Hope you understand there…
“…and I know that it's not easy,
to be calm when you've found something going on.
But take your time, think a lot,
Think of everything you've got…”
(Father and Son – Cat Steven)
-C’mon…keepThinkingClearly,honey…:)
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/20/2006 5 komentar
Dec 19, 2006
Ngambil Data -- Lagi!!!! (1)
Bismillah.
Sabtu,16 Des 2006 @ kampus.
Aku : Iya, pak. Saya udah ambil datanya, tapi baru dapet 23-an buah. Masih kurang gitu… Insya Allah ntar bisa dicari lagi.
Pembimbing Skripsi-ku (PS) : Oiya. Tapi itu udah dimasukkan semuanya kan?
Aku : Maksudnya, pak?
PS : Ya.. semua variable…sama yang dulu itu…
Aku : Stereotip peran gender?
PS : Ya…
Aku : *hue??? – membelalak- *
Lho… Bapak bilang waktu itu gak usah dimasukin karena udah dapet hasilnya pas sebelum sidang kemarin…
PS : gimana…gimana…agak kurang jelas?
Aku : Iya, sebenarnya saya gak bisa mencerna sampe sekarang, kenapa variable itu tidak dimasukkan ke dalam kuesioner yang sekarang. Karena kan ada 5 variabel yang diteliti, ada kontrol diri dan stereotip peran gender pelaku, sama situasi dan kondisi korban, dan sejauh mana peran variabel2 tersebut berpengaruh terhadap kecenderungan melakukan pelecehan seksual… makanya saya bingung pas Bapak bilang stereotip peran gender gak usah dimasukin. Kan kita neliti dalam satu inidvidu itu gambaran semua variable bagaimana…
PS : Jadi… tidak kamu ikutsertakan???
Aku : ya abis bapak bilang waktu itu gak usah…walaupun saya jadi bingung. Pas saya tanya ke Bang Noel (dosen pembimbing informal –red), katanya mungkin yang dikorelasikan nanti variabelnya… saya pikir maksud bapak begitu juga kali ya…
PS : Oh my God!!! *menepuk dahi*
Saya pikir waktu itu kan alatnya memang sudah diuji. Jadi gak perlu diuji lagi. Tapi untuk pengambilan datanya tetap diikutkan. Lagipula waktu itu kita sedang dalam proses try-out kan?
Aku : iya siih…
PS : hmmm..hmm..hmm…kalau ditambahkan saja kuesioner yang kurang itu, gimana?
Aku : Ha? Mana bisa, Pak? Saya kan gak tau siapa aja yang ngisi kuesioner yang ini, ini atau ini. Kan anonym…gak ada identitasnya.
PS : Oiya ya…
Hening sejenak…
Aku : Mmm…berarti data yang diambil kemarin… gak terpakai donk, Pak?
PS : ya…. Atau bisa juga kita korelasikan variabelnya. Tapi itu nanti hasilnya teoritis saja. Tidak menggambarkan kenyataan. Atau kecuali kalau variable stereotip peran gender itu kita hilangkan…
Aku : wah, kalau seperti itu kok jadi seperti tidak menggambarkan apa yang terjadi di lapangan ya, Pak… Dan kalau dihilangkan, sejujurnya penelitian saya jadi gak bagus. Lagipula yang banyak dibahas dalam teori sexual harassment itu ya stereotip pria terhadap wanita tadi. Itu yang justru banyak dibahas… kalau dihilangkan, saya gak tau deh *idealis*.
Tapi penelitian saya jadi gak bagus aja. Dan sayang banget kalau jadi tidak komprehensif…Kalau harus ambil data ulang… saya gak yakin sama waktunya juga. Gak cukup realistis untuk ngejar sampe tanggal 22… kalau kemungkinan diperpanjang waktunya bisa gak, Pak? *ketar-ketir*
PS : coba kita tanya Ibu Tia ya (dosen akademik –red)
Lobi berlangsung di telepon.
PS : Ok, indra… Ibu Tia bilang, usahakan saja kumpulkan tanggal 22, gak papa sampai sore. Karena bentrok dengan liburan, jadi sulit diperpanjang lagi waktunya.
Aku : *straight face – speechless – God, help me please!*
PS : Ok. Kita coba aja. Saya optimis kita bisa kejar. Nanti saya bantu juga sebar datanya.
Aku : nggg…. Ya udah… ya sebenarnya pas saya ambil data kemarin banyak yang jawabannya tidak sesuai harapan. Mungkin karena ngambilnya di bank syariah, jadi jawaban pelecehan seksualnya negatif semua…harusnya malah saya ngambil di diskotik dan semacamnya… tapi gak ada link dan waktunya juga mepet. Tapi yang ngambil di stasiun sih alhamdulillah sesuai harapan.
PS : Oh, begitu ya.
Aku : iya. Berarti pak… kira-kira time schedule-nya begini… mungkin butuh 2 hari ambil data… ahad dan senin. Senin baru terkumpul, selasa baru bisa diolah. Rabu-kamis analisa dan feedback. Jumat dikritisi ulang semuanya, dan dikumpul.
PS : Tapi rabu itu kamu sudah bikin format laporannya ya. Format penulisan hasilnya seperti apa…
Aku : Oh… maksudnya, hasil olah data itu? Misalnya… kalau kontrol diri subyek rendah, dengan stereotip peran gender tradisional misalnya, trus ditambah kondisi dan situasi begini, hasilnya kecenderungan melakukan pelecehan seksualnya gimana… gitu ya, Pak?
PS : Ya, begitu. Ok, bismillah ya. Kita jalan. Nanti saya bantu juga sebar kuesionernya…
Aku : *menghela napas berat dan coba tersenyum* Ok. Doakan ya pak…
PS : Insya Allah…insya Allah…
Fiuuuu….
Ambil data lagi! Parah betul dah. Dan bolak-balik Bappenas plus BSM di Sudirman jadi terasa sia-sia. Belum uang buat print, fotokopi, tenaga, beli reward yang juga tak murah…
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh……………….!!!!!!!!!!!
Enggak, enggak. Gak akan pernah tersia dalam pandangan Allah. GAK AKAN!
So, face the world, honey. Just trying hard and keep praying!
Begitu ketemu sama temen seangkatan…
Temenku : Eh, ndra… gimana?
Aku : Tau gak, Din? (dini –red) aku kan udah ambil data.. eh ternyata ada yang kurang! Jadi ambil data lagi nih besok… giling gak sih…hare gene masih ambil data. Padahal jumat dikumpul! Haha… *ketawa gak jelas*
Temenku : ha??? Serius lo ndra…
Aku : iyyya. Hhh…doain aja yak… harus semester ini.
Temenku : iya iya. Duh indra… ada-ada aja sih… Sukses deh ya. Mudah-mudahan bisa.
Aku : harus bisa!!! *berusaha tersenyum tegar*
Dari kampus aku bergegas ke rental, nyempurnain kuesioner yang ketinggalan tadi dan motokopi sekalian. Kalo di luar kampus kan copy-an mahal tuh. Jadi sekalian aja…
Kepalaku udah cenat-cenut gak jelas. Ni warnet lemot amat lagi. Makin senewen deh di depan komputer.
Tiba-tiba hp bunyi. Sms.
Manusia satu itu.
“Indra, pakabar? Gimana proses ambil datanya? Lancar?”
Aku tersenyum.
“Jawaban singkat: migren. Jawaban panjang : akan diposting di blog. Hehe. Makasih yaaa.. Doakan aja yang buanyakkkk!”
“:) SMANGAAAAAADH!”
hehe. thx, k.
Well… psychologically aku merasa…tidak baik sih.
Tapi lebih merasa hampa.
Maksudku… sepertinya sudah berada di titik kulminasi ke-fatigue-an (lelah psikis karena beban yang terlalu banyak –red) sehingga gak tau lagi gimana menghadapinya kecuali… ya sudah, jalani. Dan overload di otak merambah ke psikosomatis : migren yang dari semalam gak hilang-hilang, badan keringet dingin, pegel-pegel gak jelas dan luar biasa lelah, dst.
Sejujurnya aku lebih mengkhawatirkan fisik ini.
Kalaupun aku harus jalani yang seperti ini, yaa… mau bilang apa.
Tadi teh ketemu temen ketawa-tawa karena… merasa ni airmata gak bisa keluar lagi.
Beneran gak ada rasa mau nangis karena sedih atau gimana.
Seperti sudah kebal dengan berbagai benturan.
Hampa aja.
Kaget iya.
Shock apalagi.
Tapi....yah…sudahlah. Let the water flows…
Lagipula kalau gak begini mungkin aku gak akan ketemu senior-senior UI di BSM. Mulai Pak Lutfi FT’96, sampe ujung-ujungnya ketemu K’Peby, K’Surya… senior psikologi yang udah berapa taun gak bertatap muka.
Hlaa…dunia sempit amat dah. Dan si Kasur makin gendut ajah… :P
*Apalagi sih yang bisa dipikirin selain cari anything hidden dibalik segala kejadian? :)*
Okeh.
Besok aku berencana menyebar kuesioner di stasiun Manggarai…
Permudahkanlah, Ya Allah…
Permudahkanlah...
(to be continued)
Special “jazaakumulloh khoiron katsiir” to K’Awan dan Melly di Bappenas, juga Bang Zey di Indosat serta Pak Luthfi dan K’Peby di BSM, datanya jadi gak terpakai :(
Trust me, it's not my will!!!!!!!!!!! :'((
Mohon maafffffffff sudah merepotkan… insya Allah, gak ada yang sia-sia di mata-Nya. Makasih banyak ya. Juga untuk seseorang yang dengan amat-sangat konkret bantuin keliling Jakarta dengan segala dukungan moril, materil, waktu dan tenaga sepenuh jiwa…u r still the best :)
Kalah besar kau, om... huahaha... :))
~Fiuhhhh!Go-FIGHT-Win,Jiwa!!!
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/19/2006 10 komentar
Dec 14, 2006
Speak Good, or Be Silent.
oleh: Gede Prama
sumber : www.detik.com 
Ada sejenis kecemburuan tersendiri kalau saya melihat seorang pelukis sedang melukis.
Melalui kegiatan bercakap-cakap dengan diri sendiri, seorang pelukis kemudian mengungkapkan hasil percakapan tadi ke dalam sebuah lukisan.
Sehingga bagi siapa saja yang cukup peka untuk memaknai karya seni, ia bisa menerka percakapan apa yang terjadi di balik banyak lukisan.
Agak berbeda dengan pelukis di mana lukisanlah salah satu hasil percakapannya dengan diri sendiri, kita manusia biasa memiliki juga hasil dari percakapan panjang kita bersama diri sendiri. Dan hasil yang paling representatif adalah badan yang kita bawa kemana-mana selama hidup. Atau kalau mau lebih dalam, jiwa adalah salah satu hasil lain dari percakapan jenis terakhir ini.
Dilihat dalam bingkai berpikir seperti ini, hidup ini isinya serupa dengan kegiatan melukis. Bedanya dengan pelukis, kita sedang melukis diri kita sendiri.
Mirip dengan pelukis, ada aspek yang disengaja ada juga aspek yang tidak disengaja.
Dan percakapan adalah kuas, kertas, warna yang menjadi bahan-bahan kita dalam melukis. Dalam tingkat penyederhanaan tertentu, apapun yang kita percakapkan dengan diri sendiri akan memberikan warna terhadap lukisan (baca : wajah) kita sendiri.
Coba Anda perhatikan orang-orang yang suka sekali bicara negatif.
Dari ngerumpi kejelekan orang lain, iri, dengki, menempatkan orang lain dalam posisi tidak pernah benar, sampai dengan suka berkelahi dengan banyak orang.
Perhatikan badan dan sinar mukanya, bukankah berbeda sekali dengan orang lain yang percapakannya lebih banyak berisi hal-hal yang positif ?
Lebih dari sekadar memiliki wajah berbeda, orang yang isi percakapannya hanya dan hanya negatif, juga berhobi memproduksi penyakit yang akan dihadiahkan pada tubuhnya sendiri. Berbagai jenis penyakit siap menawarkan diri secara amat suka rela kepada orang-orang jenis ini. Dari penyakit fisik sampai dengan penyakit psikis.
Di luar kesengajaan mereka, atau bersembunyi di balik ‘kesenangan’ sesaat, orang-orang seperti ini sedang memukul, menusuk dan bahkan menghancurkan badan dan jiwanya. Kalau kemudian lukisan kehidupannya berwajah hancur lebur, tentu bukan karena sengaja dihancurkan orang lain.
Dalam bingkai renungan seperti ini, layak dicermati kembali bagaimana persisnya kita bercakap-cakap dengan diri sendiri setiap harinya.
Entah ketika di depan cermin, entah tatkala berhadapan dengan banyak perkara, entah di manapun kita selalu bercakap-cakap dengan diri sendiri.
Tidak hanya sejak bangun pagi sampai tidur malam kita melakukan percakapan, bahkan ketika tidurpun kita bercakap-cakap dengan diri sendiri.
Kalau semuanya bisa digerakkan dari tataran kesadaran semata, semua orang hanya mau bercakap-cakap yang positif saja.
Sayangnya, kekuatan di balik percakapan tidak saja berada di wilayah kesadaran.
Ia juga berakar dalam pada wilayah-wilayah di luar kesadaran.
Di sinilah letak tantangannya.
Orang-orang yang terlalu lama memformat lukisannya dengan percakapan-percakapan negatif, tentu dihadang tantangan yang lebih besar. Demikian juga sebaliknya.
Akan tetapi, seberapa besarpun tantangannya, pilihan diserahkan ke kita, akankah kita membuat lukisan diri sendiri yang berwajah indah, atau bopeng mengerikan di sana-sini. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, percakapan memang kendaraan yang amat menentukan dalam hal ini.
Seorang sahabat jernih pernah memberikan pedoman amat sederhana dalam hal ini :
SPEAK GOOD, OR BE SILENT.
Bicaralah hal-hal yang baik saja, kalau tidak bisa diamlah.
Tampaknya terlalu sederhana, tetapi menangkap esensi yang paling esensi.
Sekaligus memberikan kompas, ke arah mana perjalanan percakapan sebaiknya dilakukan.
Tertawa tentu saja boleh dan bahkan sehat.
Namun tertawa dengan cara mentertawakan kekurang fisik orang lain tentu saja layak untuk dikurangi. Waspada dan hati-hati juga tidak salah, namun curiga apa lagi menuduh orang lain tanpa bukti mungkin perlu rem yang menentukan dalam hal ini.
Demikian juga ketika melihat kekurangan orang lain, atau juga kekurangan diri sendiri.
Serakah misalnya, kenapa tidak dibelokkan menjadi serakah belajar dan berusaha.
Kebiasaan mumpung sebagai contoh lain, mumpung berkuasa kenapa tidak segera menjadi contoh dari hidup yang lurus dan bersih. Iri hati juga serupa, bisa saja energi-energi iri hati digunakan sebagai mesin pendorong kemajuan yang amat menentukan. Bentuk tubuh yang tidak menarik sebagai contoh lain, kenapa tidak digunakan sebagai cambuk untuk mengembangkan kecantikan dari dalam diri.
Dari serangkaian contoh ini, yang diperlukan sebenarnya kesediaan untuk senantiasa berdisiplin di dalam diri. Terutama disiplin untuk mendidik mulut dan pikiran, serta membelokkan setiap energi negatif ke tempat-tempat yang lebih produktif. Kalau ada yang menyebutnya susah, tentu saja tidak salah. Karena mirip dengan lukisan indah yang senantiasa dihasilkan pelukis dengan penuh perjuangan, demikian juga dengan lukisan kehidupan.
Kita hanya perlu mengingat sebuah kalimat sederhana : bicaralah yang baik, atau diam sekalian. Dan atas rahmat Tuhan lukisan kehidupanpun mungkin berwajah lebih menarik.
Setidaknya, itulah yang sedang saya percakapkan dengan sang diri ketika tulisan ini dibuat.
***
mengingat sebuah teguran dari Sang Rosul Pilihan :
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam,"
shodaqorrosulullah...
gbr dari sini, sini, dan sini
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/14/2006 0 komentar
Dec 13, 2006
Musim Penghujan

“…Tidaklah kamu melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan...”
(QS. An Nuur : 43)
Sudah masuk musim penghujan…
Semoga Jakarta dan belahan bumi manapun tak mengalami banjir, longsor, dan apapun itu yang bernama musibah.
Ya Allah… berkahilah hujan yang Kau turunkan kepada kami.
Aamiiin…
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/13/2006 1 komentar
Dec 7, 2006
Pulang
Bismillah.
Resah jiwa adalah pertanda. Saatnya pulang dan meniti jalan kearifan. Longoklah lusuh dan kusammu dalam kekerdilan, luruhkan debu pun kotoran nan memudarkan.
Ada bias antara benar-salah saat kemanusian diperturutkan. Ada kekaburan makna saat pandang menjauh dari sang tuan. Sementara janji menguap bersama ingkar, melebur arti kejujuran saat parahmu merangkak di kolong kehinaan.
Apakah ini yang disebut sebagai arti kesetiaan?
Ikrar mengendap di ambang kesadaran, lalu terkubur bersama hijab yang tiba-tiba memasung diri, memaksanya dengan sepenuh kemauan untuk melupakan segala eja yang telah terucapkan. Dimana letak kesepadanan antara geligi yang bergemeletuk getir, dan wajah yang terkesiap saat segumpal daging menggelegak menahan gemetar?
Ribuan retina memang tiada pernah menatap.
Tetapi keterlaluhinaannya sangat layak menjadi pemenang atas tiadanya perhatian, karena begitu banyak urusan lain yang lebih pantas untuk tak diabaikan.
Dan dirimu semakin terpuruk dalam lorong tak berujung, larut bersama gelap yang tak seharusnya dilewati kerapuhan.
Andai lentera menerangi kelamnya yang semakin menghitam, niscaya sudah cukup busur-busur pertanyaan atas segala kejadian : dan persidangan dimulai.
Terlalu sempit ruang untuk mengelak, seperti pula terlalu keras landasan tempatmu berpijak, yang tak rela menelan seonggok busuk yang mengharapkan persembunyian.
Bahkan bumi mungkin memuntahkan mualnya saat trilyunan titik hitam bermunculan mencari perlindungan. Sebagaimana pula langit memecah ketika gempita guntur meneriakkan kekecewaan atas terangnya kehancuran saat sang potensi perusak mencoba mengambil peran.
Apa yang patut dibanggakan dari terjerembabnya keledai ke kubangan lumpur yang sama di saat ia baru saja belajar melihat berbagai lubang dan jebakan? Meski tak satupun mentertawakan, kungkungan pembelajaran mestinya menghentak lebih keras saat ia tak mampu mengendalikan pelana dalam kuasanya.
Alangkah nistanya ternoda dalam percik kotoran yang sama, karena bekasnya senantiasa mengendap selama belum hilang dan terhapuskan.
Lalu alas sujudmu menjadi basah dengan serta-merta.
Menjadi saksi sunyi atas kelengahan yang membusuk di atas luka menanah yang tak jua mengering karena selalu tersiram asam yang mengoyakkan.
Akan lari kemana pongah itu ketika bayang-bayang pertanggungjawaban mengejar dan terus mencari penjelasan? Tidaklah cukup menjadi hamba dalam sekian masa, untuk kemudian menjelma sosok raja yang terlalu asyik duduk di singgasana.
Saat fatamorgana terlihat istana, ketenangan yang dikecap sejatinya adalah perhitungan hari menunggu detik-detik penguburan mahkota kepalsuan.
Jikalah bisa, mungkin nyaris bosan kerlip cahaya yang setia menunggu dengan catatan di genggaman. Berulang-ulang menyimpan memori yang sama, kesalahan yang sama, khilaf ataupun alpa yang tak jua berubah hakikatnya.
Dimana letak pikiran yang menjadi kelebihan atas rancangan dengan kesempurnaan sebaik-baik penciptaan? Kemana akan digiring ribuan organ saat deklarasi telah jelas dinyatakan, kesesatan menjadi tugas para begundal hingga akhir zaman?
Belumkah harapan akan putih yang takkan memudar mewujudkan tombak-tombak permusuhan terhadap abadinya kutukan?
Maka gerakkanlah jiwamu pulang disaat titik-titik kabut menyamarkan kejernihan.
Meski dingin harus ditundukkan dengan keterpaksaan, atau kehangatan api menggoda untuk disinggahi barang sebentar, terus menapak adalah pembuktian pemahaman yang harus senantiasa menyelaras dengan kenyataan.
Sudah terlalu banyak masa membentangkan kesempatan, sementara bekal mungkin tak pernah cukup untuk mencapai puncak keridhoan.
Adakah jalan lain kan kau tempuh ketika cahaya mendesak-desak melalui celah apapun yang masih menjadi harapan?
Pulang…
Dan genggam saja bara itu meski kecamuk jiwamu berlarian dalam guncang,
Sebelum putih itu kembali meragu dalam bimbang.
-dalamGelapSaatJiwaMendesakkanPulang.
071206,00:40am.
gbrnya dari sini. thx..
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/07/2006 8 komentar
Dec 6, 2006
Kejernihan di Kedalaman

Sebagian penyelam pernah bertutur.
Semakin dalam lautan diselami, semakin dekat manusia dengan keheningan dan kejernihan. Seperti sedang mengajari manusia.
Menyelam dalamlah di kedalaman samudera ke dalam.
Hanya disana ada keheningan dan kejernihan.
Sayangnya, terlalu banyak manusia yang menyelam ke luar. Mencarinya pada pujian, kekaguman dan nama baik. Sebagai hasilnya, bukan keheningan dan kejernihan yang diperoleh, malah kekisruhan yang didapat.
Dalam cahaya kehidupan seperti ini,
Adakah sahabat yang berani belajar menyelami
kedalaman kehidupan di dalam?
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/06/2006 0 komentar