Apr 20, 2008

Stagnan


Bismillah...

Sejujurnya saya tidak suka terjebak pada situasi itu. Tidak ada kemajuan, dan mundur malah lebih tidak memungkinkan. Pertanyaannya, sudahkah kita coba beranjak dari kondisi yang kita tidak sukai tersebut?

Saya jawab, saya mencoba.
Tapi kenyataannya saya hanya berputar-putar, terjebak pada kesemrawutan yang saya ciptakan. Benar. Jika saya mau, maka saya bisa saja mengubah dan menjadikan hal itu bukan permasalahan. Jika saya berkeinginan, maka saya bisa saja menjadikannya bukan sebagai beban. Tinggal klik gelombang di otak persepsi saya, dan “blass…”, segalanya menjadi lebih ringan.

Tapi ternyata tidak sesederhana itu pula. Saya tidak sedang berbicara tentang diri saya. Melainkan juga kaitannya dengan berbagai macam unsur yang terlibat disana. Ada konsekuensi di balik setiap langkah yang saya ambil, tentu saja. Tapi bahkan saya sendiri tidak bisa, atau katakanlah, belum bisa memastikan, apa yang sesungguhnya saya inginkan.

Gamang.
Dan pandangan saya berkali-kali menjadi hampa, menerawang sambil memikirkan, “bagaimana, bagaimana…”

Sementara ada sekelumit tanya yang tengah menunggu jawabannya, berharap kepastian segera terbuka. Dan membiarkan waktu terus berjalan tanpa tanda-tanda, sama saja memberikan peluang untuk menjadikan luka –jika harus terluka- kian membesar; demikian nasihat seorang teman.

Saya hanya tidak berani, ujarnya.
Saya hanya takut menanggung konsekuensi, tambahnya lagi.
Mungkin benar demikian. Tapi sungguh, jika saja syaraf ini bisa terbelah, akan kaulihat simpul-simpulnya begitu menegang, nyaris terbakar. Karenanya saya lebih suka membiarkan perjalanan itu menemukan ujungnya sendiri, tanpa intervensi. Dan seketika ketegangan membeku, walau berpotensi memanas sewaktu-waktu.

Dan tidak ada kemajuan sedikitpun, tidak ada kecerahan, tidak ada keputusan, tidak ada apapun yang saya hasilkan.

Saya hanya berharap suatu saat akan terbuka jalan…
Suatu kondisi dimana tak ada lagi beban dan segala keputusan yang arif dapat dimenangkan. Tapi mungkin tidak sekarang.


Friday, April 18, 2008.
Kpd seorang sahabat: kali ini, bolehkah aku yang mengharapkan keajaiban?


gbr dari snailstales.blogspot.com
kali ini udah ijin. thx, sir :)

Alhamdulillah, Masih Hidup…

Bismillah.


Lama tak mengisi blog ini, kukabarkan pada kalian, wahai dunia, aku masih hidup! :)

Ya. Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan hidup. Setelah sebelumnya harus "simulasi kematian" dengan metode ‘learning by doing’, pembelajaran terbaik yang lebih terserap karena melibatkan semua unsur; fisik, pikiran, dan hati.

Jumat lalu, empat puluh lima menit lepas dari maghrib, aku bergegas memacu sepeda motor dari rumah menuju RSCM, tempat dimana aku akan bertemu seseorang untuk urusan pekerjaan.

Tidak ada feeling apa-apa sebelum berangkat. Aku hanya meyakinkan diri untuk lebih berhati-hati karena hari sudah malam, dan biasanya jalanan akan terlihat lebih remang; apalagi di mataku yang sensitif debu dan mudah teriritasi.

Dan akupun berangkatlah. Berusaha memenuhi janji dan membuat temanku itu tak lama menunggu. SMS temanku : “Cepet ya, kalau bisa sekarang. Soalnya mau pergi lagi.
Saat itu pikiranku hanya satu: sesegera mungkin sampai ke tujuan.

Hingga tiba di lampu merah Slamet Riyadi, Jatinegara, semua masih lancar. Begitu lampu hijau menyala, arus lalu lintas yang padat jadi mengencang, dan otomatis membuatku yang berada 3 baris dari depan ikut lebih kuat menggas kendaraan.

Baru menyeberang perempatan beberapa detik dalam keadaan motor yang berlari kencang, kulihat 2 lubang di hadapanku, dan refleks aku menghindar.

Stang kubelokkan ke arah kiri, dan detik itu pula…
dari arah kiri belakang sebuah motor menabrakku tanpa kendali!

ALLAHU AKBAR!

Panik, aku bertakbir berulang kali. Sudah tidak ingat aku dimana rem, dimana segala macam pijak gigi, dan seterusnya. Badan motorku menyangkut di motor si penabrak, terseret miring sekian meter selama beberapa detik mengikuti dia, dan selama itu pula aku hanya bisa menyebut asma-Nya dalam pasrah…

Akhirnya motor itu menghantam sesuatu dan aku ikut terjatuh.

Kurasakan punggung dan bahu kananku membentur jalan yang keras. Kakiku terjepit tertimpa sepeda motor yang kukendarai. Si penabrak sendiri, tak tahu pasti aku bagaimana kondisi dan posisinya. Tiba-tiba orang-orang berkerumun, mengangkat sepeda motorku dan membantuku bangun.

Kepalaku terasa berat. Tapi kupaksakan diri untuk bangkit dan masih sempat berkata pada orang yang menolongku bahwa aku baik-baik saja, sembari meyakinkan diri sendiri. Walau pada kenyataannya kacamataku patah, motor tergeletak begitu saja entah bagaimana nasibnya, kubuka penutup mulut dan helmku, meraih tas dan menyingkir ke tepian.

Tiba-tiba sesuatu menetes menodai jaket yang kupakai.
Darah!!!
Apa yang berdarah???

Spontan kuraba sumber tetesan di dahi kiri dan mendapati kedua telapak tanganku berlumuran banyak cairan merah.

“Berdarah!” seru seseorang dengan lantang.
Kukuatkan hati yang mendadak gemetar. Gapapa, indra… kamu gapapa… kamu gak apa-apa…

Kubiarkan motorku dikerubungi orang, sambil mengelap dahiku dengan sapu tangan penutup mulut yang semakin banyak terkena darahnya. Sederas inikah?

Seorang polisi menuntun sepeda motorku diiringi yang lain. Dan beberapa orang lainnya mengamatiku baik-baik.

“Mbak gapapa?” tanya pemuda yang kuduga si penabrakku.
“Ini tissue mbak…” ujar seorang yang lain.
“Gak…gak papa…Ini cuma berdarah…Parah gak ya?” kataku tidak yakin.
Kusingkap sedikit jilbab di pelipisku, dan mas-mas yang menabrakku memperhatikan lebih seksama.
“Lukanya kecil, tapi agak dalam…”
Dan aku meringis nyeri.
“Mas gak papa?” kutanya pria yang tampak baik-baik saja itu. Wajahnya pias, entah mengkhawatirkan aku atau apa.
“Gak…saya gak papa…”

Pak polisi menghampiriku lagi.
“Anda sendirian?”
“Iya, Pak…”.
“Anda…” ia menoleh ke pria yang menabrakku. “Gimana, ada tuntutan gak?”
“Enggak… gak ada…”
“Kalo gak ada ya sudah, selesai disini. Lain kali hati-hati…”

Panikku belum selesai, darahku belum berhenti mengucur, tiba-tiba sarafku dipaksa menegang. Aku terluka, dan… tuntutan apa??

“Minum dulu, Mbak…” ulur seorang bapak tua. Dan orang-orang kemudian perlahan meninggalkan. Pria itu juga kembali pada motornya yang diparkir agak di depan.

Kuhubungi temanku segera. Mengabarkan bahwa pertemuan hari itu terpaksa dibatalkan karena musibah yang menimpa. Kukabarkan orang dekat yang lain, berharap mendapat bantuan. Setidaknya ada yang tahu bahwa aku kecelakaan. Dan tentu saja, aku hanya ingin segera pulang.

Seorang pemuda pengatur lalu-lintas informal mendekatiku yang masih sibuk mengelap luka di dahi. Masih bertanya hal yang sama, “Gimana Mbak, gak papa?”
Sampai akhirnya ia menawari tuk mengantarkanku ke apotek seberang, tapi kutolak halus dan hanya minta bantuan membelikan betadine. Pemuda yang baik sekali…

Begitu ia datang lagi, langsung kuobati bocor di atas alis kiri, juga kulit yang terkelupas di dekat mata kaki kanan dan di bawah lutut kiri.

Si penabrakku sendiri baik-baik saja, hanya terdengar bahwa motornya rusak dan sampai aku pamit, belum dapat dipastikan apakah kendaraannya itu bisa kembali berjalan normal. Maafkan saya ya… kita sama-sama mendapatkan kerugian :’(

Akhirnya kupaksakan meneruskan perjalanan pulang sendirian karena mustahil menunggu bantuan datang. Kali ini, dengan kecepatan minimal sambil merasakan perih yang tertahan…

Ya Allah, terima kasih banyak sudah mengingatkan banyak hal…

***

Pelajaran 1 :
Persiapkan segala sesuatu baik-baik sebelum berangkat. Termasuk meresapi doa “bismillahi tawakkaltu ‘alallaahi laa hawla walaa quwwata illa billah…”. Dengan nama Allah aku bertawakkal, tiada daya dan kekuatan selain dari Allah. Well, everythings can happen begitu kita keluar dari rumah…

Pelajaran 2 :
Bersikap tenang dalam keteburu-buruan tetap penting tuk dilakukan. Ketergesaan berpotensi menimbulkan ketidakberesan. Bergerak cepat boleh, tapi tetap harus tenang.

Pelajaran 3 :
Bagi para pengendara kendaraan roda dua, better gunakan helm yang menutupi semua bagian kepala karena kalo kita jatoh (na'udzubillahh...), kepala terlindung dari benturan. Jangan lupa, baik-baik perhatikan lubang yang semakin banyak bertebaran di jalan raya. Walaupun ngebut itu asyik (teteup…), slogan “Ngebut berarti Maut” kurasa masih terus relevan. Apalagi kalau udah kejeblos di lubang itu, atau ngerem mendadak dan bikin yang ada di belakang jadi nabrak…
Btw kabarnya, yang kecelakaan gara-gara lubang di jalanan itu gak sedikit… Ehm, wahai pemerintahku yang solih dan bertanggung jawab, harus menunggu berapa ratus korban lagi? >:(

Pelajaran 4 :
Kalimat “belum kapok naik motor kalau belum jatuh”, buatku kurang berlaku. Kapok mah enggak… hehe. Yang jelas, naik motor akan aman kalau kitanya hati-hati. So, berhati-hatilah. (intinya, jangan kapok naek motor ya. Hehe…)

Pelajaran 5 :
Pastikan di setiap momen, kita selalu dalam keadaan mengingat Allah. Berdzikir sambil berkendara merupakan hal yang sangat mungkin tuk dilakukan. Kematian baru terasa dekat ketika peristiwa mengerikan menghampiri kita. Tapi sesungguhnya, ia bisa menghampiri kita kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun…

Pelajaran 6 : (silakan ditambahkan…)

Ahad, April 20, 2008. 10:52 pm.
-dilarangNaekMotorLagiSamaMamah:(


gbr dari http://myfloridalegal.com/kids/acci_ans.html
dan
myfloridalegal.com/kids/accident.html
trimakasihh, maaf ga ijin...

Feb 22, 2008

Aku Malu...


Bismillah...

Bekerja di sebuah lembaga yang mengusung suatu issue universal, agaknya menarik beberapa kalangan untuk bekerjasama dengan kami; aku dan teman2ku di kantor. Kali ini kami berkesempatan bekerjasama dengan (salah satunya) orang2 dari dunia entertainment, dengan segala keunikannya.

Kali pertama bertemu dalam ramah-tamah perkenalan (dimana aku berhalangan hadir), seorang temanku langsung mengeluarkan keluh-kesahnya begitu aku bertanya.

“Lu kebayang donk, Ndra... gw, dengan jilbab panjang gw, masih ‘nongkrong’ di kafe jam 11 malem! Mana amit-amit bau asep rokoknya... bener2 tersiksa...”

Aku mendengarkan ceritanya dengan muka prihatin, walau sebenarnya agak geli membayangkan dia disana ketika itu (hehe...jahat banget ya. Maap ya Mirce... ^_^).

Dan sore itu, kami berkumpul di rumah bosku untuk membincangkan kerjasama kami selanjutnya. Tak banyak orang. Hanya ada aku, bosku, 3 temanku, dan 3 orang dari mereka. Just like usual, tak ada formalitas dalam acara bincang-bincang kami. 2 dari mereka, laki-laki, mengenakan baju kasual, t-shirt dan celana jeans. Sementara satu lagi, si Mbak yang cantik, mengenakan kaus dan (ehm...) celana pendek setinggi ± 25 cm dari atas lututnya. Begitu ia duduk, tangannya langsung meraih bantal dan refleks menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu.

Kami membincangkan banyak hal.
Namun ketika tengah asyik ngobrol kesana-kemari, adzan maghrib dari musholla dekat rumah berkumandang. Bosku yang sedang mengungkapkan pikirannya terus saja berbicara dan kami mendengarkannya dengan seksama. Sampai akhirnya, di bait kedua adzan itu, si Mbak yang cantik memotong...

“Eh, lagi adzan. Gimana kalau kita dengerin dulu?”

Dan semua yang ada di ruangan itu langsung terdiam khusyuk. Hening, dan hanya terdengar adzan yang syahdu memanggil-manggil.

Tiba-tiba aku merasa malu. Maluuu sekali.

note: dulu waktu masih di kampus, dalam rapat2 organisasi yang aku ikuti, tiap kali adzan berkumandang di tengah rapat kami yang belum selesai, selalu saja kami berhenti untuk mendengarkan panggilan itu. tapi sekarang...kenapa gak pernah coba mengusahakan dan membiasakan, malah merasa gak enak sama makhluk bernama manusia... hiks...astaghfirullah...
tapi ini baru soal adzan. seringkali di rapat2 para petinggi yang aku amati, sholat menjadi urusan yang dinomorsekiankan. naudzubillahh...


Jan 2, 2008

Ramalan 2008


bismillah...

nyetel tipi di awal2 tahun masehi ini, yang muncul kebanyakan pasti para peramal.
yakin deh, setiap awal taun pasti kocek mereka tambah tebel... saking banyaknya yang minta dibocorin soal jodoh, rejeki, bencana... anything.
gak ketinggalan juga rasa penasaran apakah tren nikah-cerai masih menjamur.
udah nikah, lalu cerai, nikah lagi, cerai lagi, eh bangga pulak...
heran gw... -_-'

daripada pusing ngedengerin ramalan dan bingung mau percaya apa enggak, better ganti channel tivi ke saluran berita aja. atau matiin tu tipi sekalian. beres dah...


Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang, dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, kecuali syaitan yang mencuri-curi yang dapat didengar lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (QS. Al-Hijr : 16-18)

Dari Aisyah ra bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Para malaikat ketika turun ke awan membacakan urusan-urusan yang telah ditetapkan di langit, datanglah setan mencuri dengar dan disampaikan kepada para dukun dengan membohonginya dengan 100 kebohongan dari diri mereka sendiri. (HR. Bukhari)




-gaPerluMusinginApaYangGakPerluDipusingin...
2 Feb 2008

gbr dari www.freerepublic.com/focus/f-news/1931854/posts

Dec 17, 2007

Sakaratul Maut



Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.
"Maafkanlah, ayahku sedang demam",kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,

"Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah.

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?", tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
"Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?", tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangankhawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
"Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku" "peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii,ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi.

***
bismillah...

aku bersyukur sekali bisa menyerupai Fathimah kala ia mendampingi detik-detik terakhir ayahnya SAW sebelum berpisah dengan dunia...

ayahku...
aku mendampinginya sampai ia menutup mata...

aku mentayamuminya dan membimbingnya sholat Isya'... untuk yang terakhir kalinya.
aku memperhatikan dengan seksama saat hidungnya berubah sedingin es walau kening dan pipinya demam dan menghangat...
aku menyaksikan penderitaannya menarik nafas dengan tersengal sejak 24 jam sebelum kematiannya...
aku juga mentalqikannnya dengan kalimat syahadat...
dan aku melihat dengan mata-kepalaku sendiri bagaimana ia menghadapi sakaratul maut, meregang nyawa dalam rasa sakit yang tak bisa ia katakan..

demi Zat Yang Nyawa-nyawa kita berada dalam Genggaman-Nya...
mari bersiap sekarang juga...

***

“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang”
(HR Tirmidzi)

“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?”
(HR Bukhari)

“Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
(Ka’b al-Ahbar, sahabat Rasulullah saw)


gbr dari http://earthobservatory.nasa.gov/Newsroom/NasaNews/2005/2005011118157.html
maaf ga ijin...

Dec 15, 2007

Berita Duka

Assalaamu'alaikum WrWb,

Telah berpulang ke Rahmatullah Ayahanda dari Indra Fathiana pada hari Jum'at (14/12/2007) pukul 23.00 wib.

Mohon do'a agar almarhum diampuni dosa-dosanya oleh Yang Maha Kuasa,
Mohon dima'afkan apabila ada kesalahan almarhum semasa hidupnya, dan jika ada hutang, mohon disampaikan.

Juga mohon do'a agar keluarga dan kerabat yang ditinggalkan mampu mengikhlashkan dan diberi kesabaran serta kekuatan dalam menghadapi ujian ini.

(posted by: Nuri Sadida, based on approval of Indra Fathiana)

Wassalaamu'alaikum WrWb


-udahDieditDikitSmYgPunya.makasihYa,Nuy...

Dec 6, 2007

Semusim Berlalu, Seperti Setahun Lalu

Semusim berlalu, dan penghujan telah tiba rupanya. Trilyunan partikel CO2 beterbangan dihempas banyu yang mengguyur serta-merta, menari di tengah riuh dan berjejalnya mesin-mesin pemadat jalan raya.

Seperti jua setahun lalu di masa yang sama, awan kelabu seketika menggantung di cakrawala dan menerbitkan gundah pada degup-degup ketidakpastian yang masih saja melanda.

Seperti jua setahun lalu di masa yang sama, pada rinai hujan yang sama, pada rintik gerimis yang sama, pada saat itu, kepasrahan bermuara pada satu penyerahan total: bahwa segala hal tak lagi dapat diputuskan dengan semena jiwa.

Pada gurat abu awan yang sama, langit hitam yang sama, pada masa itu pula, kesudahan adalah ketika keinginan tiada lagi diperturutkan: karena kuasa tak pernah dapat dikendalikan seenaknya.

Tahun ini, di musim yang sama, juga pada penghujan yang sama, gulana tak jua beranjak menemukan tempat berlabuhnya. Pada pelayaran melalui karang-karang kemarau, juga buih-buih air bah yang membanjirbandangi bulan demi bulan, belum juga terlihat dimana, atau kapan jangkar itu perlu dilemparkan hingga terkait di dasar samudera.

Haruskah karam menjadi jawaban ketika sekian banyak gelombang waktu justru semakin mendekatkan pada kepastian yang selama ini dikembarakan?

Betapa angkuhnya, ketika persinggahan menjadi begitu melenakan hingga tak lagi ingat mana fatamorgana, mana pula realita. Ketika bahtera berhenti sejenak di atas ketenangan ombak kehijauan, luput sudah kesadaran bahwa palung menjorok di kedalaman telah bersiap menenggelamkan. Dan pada akhirnya, di saat bersamaan, gelombang menggulung dan badai bersahutan meluluhlantakkan semua perbekalan.

Sia-sia sudah haru-biru pasrah dan kerinduan dalam tunduk yang meleburkan segala hasrat ketika itu, hingga pertahanan demi pertahanan terkoyak-moyak dalam rasa sakit yang terus menderu.

Rapuh...

Perlu sekian waktu rupanya, menjegal dan memenjarakan semangat yang salah tempat.
Jika memang hujan membuat sayap-sayap teguh itu patah, patutkah kepayahan
ini membela diri hingga jatuhnya ke jurang tampak sebagai hal yang biasa?
Pula, belum sem
pat pulih itu kembali sedia kala, binar cahaya di dasar bumi membuat silau dan lagi-lagi, lagi-lagi!, menggeret sejuta luka yang merah darahnya menghangat tersiram cuka!
Tidakkah degil itu dapat terhenti jika memang belum tiba waktunya meregang nyawa?
Tidakkah jera mencuat saat pecut itu mengena dan meninggalkan gores-gores yang tak bisa luntur bekas sayatannya?

Pada hujan dan dingin deru angin yang sama,
Pada pergantian cuac
a yang tak pernah terkira,
Juga pada pancaroba yang menerbangk
an harap bercampur cemas luar biasa,
Disinilah kiranya karam sang bahtera.

Jikalau matahari tak menembus lapis demi lapis samudra,
Atau nafas sesak itu tak tergesa-gesa meminta haknya,

Adakah sadar itu hidup untuk kesekian kali, mencari dimana sesungguhnya tempat berpijak hakiki?

Ruang demi ruang adalah medan tak berkepastian.
Pula masa demi masa yang masih nyata dalam penglihatan.
Seandainya batas itu diproklamirkan, tentu tak lagi ada kesungguhan tuk merajut keterbaikkan. Saat garis cakrawala membaur dengan sapuan angkasa, tak akan sanggup tertebak kapan saat akan be
rhenti, kapan pula saat akan menepi.

Maka yang terus terlihat adalah biru, abu-abu, serta gelap gelombang yang menerjang kuatnya cengkeraman. Atau kelebat angin yang menampar hebat di tiap kayuhan.
Atau juga godaan karena kelelahan, hingga muncul kemenyerahan : inilah masa dimana sang pecundang menjemput kematian.

Kalah.
Jatuh.
Hina.
Dan tentu saja,

mati sebelum waktunya.


**

Semusim berlalu, seperti juga setahun yang lalu.
Hanya saja harus ada beda antara gerak kayuh hari ini dan hari itu.
Seperti juga kesadaran bahwa berhenti sama dengan menjadi rugi, begitu pula halnya bila berjalan tertatih
-tatih.

Jika faham sudah bahwa perjalanan trilyunan kilo tak dapat ditempuh dengan jiwa nan rapuh, maka sudah sepantasnya tegak itu disandang dengan terus mengukuh. Tenggelamlah jika memang menginginkan pasir-pasir hitam menjadi bangunan kehidupan yang goyah. Pada saat satu-persatu maju memberikan persembahan, ucapkan selamat tinggal pada sekian kali dungu yang tak mau belajar dari kesalahan.

Sehingga selanjutnya,
Jika terik surya harus menjadi teman, dan gelombang pasang menjalin persahabatan, lalu gulita semesta serta amukan badai merapat menjadi bagian perjalanan, haruskah karam menjadi pilihan?

Terus kayuh bahteramu meski musim demi musim juga acap berlalu. Dua kemarau dan dua penghujan seharusnya cukup menjadi kesempatan.

Walau perih kepalmu menggenggam kemudinya,
penat jiwamu menanti akhirnya,
dan nyaris pecah batinmu mengemis sejatinya cahaya,
Pada akhirnya, perjumpaan akan menjawab segala tanya.
Persuaan akan mengubur segala luka.
Dan percaya, ribuan kali ujian masih tak sebanding membayar harga mahalnya.
Ratusan badai masih tak setara dengan nikmat tak terkira.
Karena memang, kesucian tak pernah meminta kecuali teb
usan yang sama.


Semusim berlalu, seperti juga setahun yang lalu.

Masih ada gerimis yang sama.
Juga binar mentari yang tak kunjung berubah pula.
Maka tetap tegakkan kepala, dan melangkahlah lebih baik dari sekian putaran masa.
Kelak gugur dedaunan, hembusan angin kencang, serta kemarau penantian, surut menghempas gigih bangkitmu dari ketenggelaman, berganti semi yang menyemaikan kesyukuran: Dan perjalanan bahteramu menjadi usai.




August2007,diiringDentingPianoKevinKernDalamAnotherRealm-EnchantedGarden-nya.
~Allahumma,tsabbitQolbi’Aladdiinik,shorrifQolbi’alaththo’atik...


gbr dari
http://www.squirrelldesigns.co.uk/another%20rainy%20day.html
http://www.hickerphoto.com/pacific-ocean-picture-8773-pictures.htm
lifesymphony.blogfa.com/
http://www.pocketpcmag.com/SuperCD/CFreeThemesVGA.aspx
http://www.fortoldningsafdelingen.dk/fortoldninger.htm

maaf ga ijin...