Jul 9, 2008

Tentang Kuliah S2 (lagi-lagi...)

Bismillah.


Perbincangan saya dengan seorang teman di seberang sana yang tengah melanjutkan studi S2-nya, lagi-lagi menggelitik saya untuk memikirkan kembali isu ini. Niat saya yang timbul-tenggelam sementara waktu karena kesibukan bekerja, kembali tersulut. Kerinduan saya akan bangku kuliah dan dunia akademis memang tak pernah padam, hanya saja mungkin sedikit meredup mengingat ada hal lain yang tengah saya prioritaskan saat ini.

Saya belum tahu kapan akan kembali menekuri kampus dan segala dinamikanya. Yang pasti, begitu saya teringat akan rencana ini, satu-satunya yang memancing kehati-hatian saya adalah alasan di balik itu semua. Bagi saya, jika melanjutkan S2/profesi ‘hanya sekedar’ agar bisa diterima bekerja di perusahaan bonafit dengan posisi lumayan bagus, kok sayang sekali ya. Walau sepengamatan saya, cukup banyak orang dengan niatan seperti itu –yang tentu saja tidak bisa saya salahkan-. Pencarian ilmu dalam pandangan saya bukanlah sekedar untuk mengejar posisi, gaji tinggi, pekerjaan bonafid dan seterusnya. Tetapi lebih daripada itu, saya sudah jauh-jauh hari semenjak kelulusan S1, memikirkan hal mendasar yang mendorong saya jika di kemudian hari saya meneruskan kuliah ke jenjang S2. Benar, ini soal visi dan misi apa yang akan saya bawa ketika saya bergelar “psikolog” nantinya.

Tak lama setelah saya lulus S1, saya mengobrol ringan dengan 5 orang teman yang kebetulan sedang menjalani studi S2-profesinya. Pertanyaan saya singkat sekali.
“Punya visi apa setelah nanti jadi psikolog?”
Atau, “Habis lulus profesi mau ngapain?”
Dan mengejutkannya, 3 dari 5 rekan saya ini menjawab dengan begitu ‘ngawang-ngawang’-nya.
“Mmm…belum tau,”
“Apa ya, Ndra? Jujur gw belum kepikiran tuh, ngejalanin aja sih…”
“Duh, gak tau deh. Mikirin yang di depan mata aja sekarang. Tugas-tugas nih numpuk banget!”


Selebihnya, 2 orang yang lain, lumayan memiliki pandangan jauh ke depan.
“Mau bikin lembaga pendidikan, atau sekolah yang bagus,”
“Mmmm… belum tau juga. Tapi mungkin akan seperti Mba “X” (psikolog di kampus –red), jadi family-terapist,”

Mungkin saya sedikit perfeksionis. Menjalani sesuatu tanpa menyadari hakikat “buat apa saya melakukan hal tertentu”, adalah hal yang cukup mengganggu. Implikasinya jelas, jika tidak ada niat sungguh-sungguh di balik itu, ketika kebosanan atau kesulitan menghadang, pasti kita akan mudah jatuh. Lebih dari itu, adalah kesia-siaan ketika kita menjalani sesuatu tanpa ruh, tanpa hal yang menjiwai mengapa kita harus melakukan itu, mengapa kita harus berada disana, dst.

Mungkin ada juga beberapa orang yang menemukan hakikat sembari menjalaninya. Well, tidak salah juga. Tapi sekali lagi, saya hanya ingin memastikan bahwa saya menjalani semua dengan penuh kesungguhan, dengan penuh visi yang akan membuat saya yakin bahwa apa yang saya lakukan akan bermanfaat sebesar-besarnya. Bukankah para pemain bola selalu berusaha mengarahkan bola mereka ke gawang?

Sehingga, pertanyaan-pertanyaan inilah yang barangkali harus saya buat jawabnya se-SMART* mungkin. Buat apa saya menjadi psikolog? Apa yang akan saya lakukan jika saya sudah bergelar psikolog? Sekedar prestise sajakah? Tampak keren dan wah di mata orang? Atau apa?

Benturan saya rasakan ketika saya suatu hari secara tidak sengaja bertemu dengan dua orang ibu rumah tangga bermasalah. Yang satu, rumah tangganya kurang harmonis, sementara yang satu lagi, anaknya bermasalah. Apa yang bisa saya jawab ketika si wanita paruh baya itu mencurahkan isi hatinya tentang sang suami yang dingin dan tak pernah menjalin komunikasi yang baik? Apa yang bisa saya sarankan ketika ibu yang satu lagi membutuhkan saran mengenai anaknya yang depresi karena suatu hal?

Kening saya pun berkerut, mengindikasikan kognisi yang sibuk mencari jalan. Minimal ada hal yang bisa saya berikan terhadap mereka; entah saran, masukan, apapun itu. Tapi saya gagap, dan menjawab dengan asumsi-asumsi ditambah bumbu pengalaman yang minim sekali. Dan saya merasa bersalah sekali tidak bisa membantu dengan optimal karena bekal yang kurang.

Disitulah gap itu terasa.
Ada
ekspektasi yang besar ketika orang tahu bahwa saya sudah belajar psikologi, walau baru bergelar S.Psi alias sarjana psikologi. Padahal harapan itu tak sebanding dengan kapasitas yang saya punya. Tapi lagi-lagi, apa iya harus dengan menempuh profesi dan menjadi psikolog dulu?

Untuk pertanyaan terakhir, saya berkaca pada rekan senior saya. Berlatar belakang sarjana pendidikan dan master di bidang sastra inggris (catat : bukan psikologi), beliau sering sekali ‘menerima klien’ untuk dimintai nasihat dan saran. Sejumlah pasangan nyaris cerai datang kepada beliau dan berkonsultasi, dan hasilnya, alhamdulillah mereka rukun kembali dan mengurungkan niat untuk berpisah.

Rahasia beliau, ‘hanya’ rajin membaca literatur psikologi populer, mengikuti sekian banyak seminar pengembangan diri di dalam dan luar negeri, dan dengan sendirinya menjadi manfaat begitu banyak.
Jadi, apakah harus menjadi psikolog? :)

Dunia nyata pasca kampus menggiring saya bertemu dengan begitu banyak fragmen kehidupan. Dan semakin saya berhadapan dengannya, semakin saya merasa begitu minim bekal yang saya punya. Bagaimana bisa kita berhadapan dengan seorang anak depresi sementara kita tidak tahu cara menanganinya? Bagaimana bisa kita menjiwai permasalahan rumah tangga, sementara pengalaman belum ada, dan secara keilmuan juga tak seberapa? Bagaimana kita dapat menangani korban-korban pasca trauma, entah karena musibah bencana, atau kekerasan yang menimpa, dengan ilmu yang alakadarnya dan hanya sekedar mencoba-coba tanpa metodologi yang baik dan kemampuan analisa-saran rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan?

Kesenjangan itu, yang saya harap bisa saya reduksi ketika saya sudah diberi anugerah mencicip pembelaran di jenjang S-2 profesi psikologi. Menjadi manfaat adalah kenikmatan tak terhingga yang bukan lagi sekedar pemuasan kebahagiaan batiniah semata, tetapi juga asset untuk berjumpa dengan-Nya di akhir masa. Mungkin belum saatnya saja kesempatan itu datang sekarang. Dan seperti keajaiban, Mario Teguh menanggapi perasaan saya di televisi semalam. Ujar beliau, tidak mungkin kita naik tangga dan sekaligus juga maju ke depan. Meraih posisi tinggi dan berjalan maju adalah hal yang aneh, kecuali melakukan salah satunya saja.
Mungkin saja yang harus saya lakukan sekarang ini adalah melakukan gerak horizontal –bukan vertikal- yaitu dengan memperkaya pengalaman, memperbanyak kenalan serta memperluas relasi dan jaringan. Dan syukurnya, di LSM tempat saya bekerja sekarang, pengalaman dan jaringan merupakan suatu keniscayaan :)

Saya percaya, akan ada waktu yang tepat nantinya jika saya harus belajar lagi di S2. Sebagaimana hal lainnya, selalu ada waktu terbaik dimana kita layak berada disana.
Lagi-lagi Allah memberi saya hikmah itu : saya mendapat apa yang saat ini saya butuhkan, dan bukan apa yang saya inginkan :)

By the way, doakan saja semoga rizqinya dimudahkan ya :)


Friday, July 04, 2008. 2:23pm.
~belumSaatnyaMenikmatiZonaNyaman…



*SMART = specific, measurable, attainable, realistic, time limit. Ini adalah panduan membuat goal/target yang biasa dipakai dalam ilmu manajemen/psikologi.


gbr dari taufik79.wordpress.com/2008/05/
dan
http://zulfikri.wordpress.com/2007/06/11/peran-atap-dalam-arsitektur-sebagai-simbol-martabat-bangunan/
sudah ijiin! makasih banyak..

Jul 4, 2008

Get Sick


Diagnosa
Typoid : positif

Formula
Enakur, Metoclopramide HCl 10 mg
Alpara kaplet
Ottoprim Sulfametoxa
Bufantacid
Bed rest 1 week

Innalillaahi wa inna ilayhi rooji’uun…
Semoga menjadi penggugur dosa. Aaamiiin.




note: yang belum pernah kena tipes, jangan sampe deh. na'udzubillah..
jaga makanan dan istirahat!


gbrnya dari sini nih:
http://www.kapanlagi.com/a/0000003810.html

iya, ga ijin.. maap...

Jun 26, 2008

Cerita Temanku tentang Kepercayaan

Bismillah…

Salah satu karunia terbesar seorang manusia adalah ia dikaruniai akal untuk berpikir dan mengambil insight dari apa yang tengah terjadi di sekelilingnya.

Kali ini saya belajar banyak hal mengenai “kepercayaan/trust”, sesuatu yang katanya, tak terbayar, saking mahalnya.

Dalam berhubungan dengan banyak pihak sebagai partner kerja, contohnya, atasan saya berkali-kali menekankan, hati-hati menjaga kepercayaan orang lain, karena sekali saja kita tidak dipercaya, maka disitulah integritas kita jatuh di mata mereka. Lepas dari penilaian manusia yang tidak selamanya bisa diharapkan (buat apa juga mengharap penilaian manusia), saya sendiri (agak) sepakat dengan statement bos saya itu (soalnya, kadang ada orang yang cuma gara-gara 1 kasus aja, dia jadi gak percaya selamanya. Akhirnya, yang terjadi adalah blaming, labeling, dan ujung-ujungnya jadi gak positif lagi. Nah, yang kayak gini jatuh-jatuhnya jadi kurang bijak juga, menurut saya).
Tetapi apapun itu, saya termasuk orang yang percaya bahwa trust itu mahal harganya.

Mari kita bayangkan sejenak kehidupan Makkah ketika Rasulullah Muhammad saw bertumbuh disana. Tak pernah sedikitpun masyarakat Makkah saat itu yang tidak sepakat bahwa Muhammad tidak jujur, yang karenanya ia mendapat gelar “Al Amin”(yang dipercaya). Dari situ ia mendapat keberkahan: banyak orang yang senang menjalin relasi dengannya, bisnisnya berkembang pesat, dan masyarakat menjadi begitu respek terhadap dirinya. Kejujuran berkembang menjadi integritas, dan berbuah kepercayaan yang nilainya begitu besar.

Saya kemudian berkaca pada peristiwa-peristiwa di sekitar saya. Seorang teman merasa dikhianati oleh temannya sendiri yang sudah begitu ia percaya, hanya karena membocorkan rahasia. Mungkin content rahasia itu terkesan sepele. Tetapi saya dapat memahami perasaan teman saya tersebut bahwa poinnya bukan terletak pada sepele atau tidaknya content rahasia yang ia pegang.

Apakah Anda mengerti?

Yap, poinnya terletak pada pelanggaran janji.
Bukankah sepele-tidaknya suatu persoalan tergantung paradigma?
Benar. Dan paradigma seseorang terhadap suatu hal tentu saja tidak selalu sama dengan yang lainnya. Jadi memang tepat, poinnya bukan pada content rahasia itu, tetapi pada “perjanjian” yang seringkali tak tertulis, yang jika disuratkan akan berbunyi : saya percaya padamu, itu sebabnya saya ceritakan hal ini. Dan jika saya bercerita padamu, artinya, kamu harus menyimpannya baik-baik.

Seorang teman lain menceritakan kisah ‘pembocoran’ yang sama, dalam content yang berbeda. Kali ini contentnya jauh lebih private, jauh lebih rahasia untuk diumbar-umbar. Dan naasnya, orang yang ia percaya menceritakan hal itu kepada orang lain, dan orang lain menceritakannya pada orang lain lagi, begitu seterusnya sampai kisah itu tersiar dan tentu saja tidak lagi utuh; penuh bumbu disana-sini dan berbeda dari versi aslinya.

Si teman kedua misuh-misuh kepada saya dengan begitu kecewa. Apalagi ia tahu bahwa temannya yang tidak amanah itu adalah pembelajar yang intens menyerap ilmu keislaman.

Sambil menghibur dan mencoba memetik hikmah bersama-sama, sekali lagi saya bercermin. Betapa mudahnya lisan ini mengatakan apa-apa yang tidak semestinya. Betapa mudahnya hati ini menggampangkan kepercayaan orang lain, dan seringkali tanpa merasa bersalah pula.

Sejujurnya, ketika menghadapi orang-orang yang menghancurkan kepercayaan seperti yang dialami 2 rekan saya, saya jadi lebih hati-hati memilih teman bercerita. Tentu saja kemudian memilih untuk tidak lagi mudah percaya pada si pembocor rahasia.

Tak usahlah kita bicara soal kode etik psikolog yang harus memegang teguh rahasia kliennya, Islam sudah jauh-jauh hari membicarakan konsep agung dalam berinteraksi dengan sesama manusia: bagaimana kita mendoakannya ketika saling bertemu, ketika ia bersin, menjenguknya ketika sakit, menutupi aib-aibnya, melapangkan urusannya dan tentu juga menjaga rahasianya, serta lain sebagainya.

Alangkah saya bisa memaklumi rekan saya itu, ketika ia begitu kecewa mengapa sang teman yang dipercaya menjaga rahasia malah sesumbar, apalagi turut melengkapinya tanpa rasa bersalah juga. Saya rasa, kali ini saya banyak belajar betapa kepercayaan itu cukup sulit diraih tetapi amat mudah dihancurkan dalam sekejap mata…

Ya Allah, jadikan kami orang yang jujur dan mampu menjaga kepercayaan orang lain…



~bercermin...
Thursday 27th June 08, 9:08pm



May 30, 2008

Jenuh

Bismillah…


Sepertinya ini sudah masuk masa-masa jengah.
Baru terasa sekarang ya? 1 tahun lebih berjalan, pastinya. Pantas, sejumlah orang serentak mundur begitu merasa tidak ada lagi jalan keluar selain benar-benar permisi dan keluar. Satu-satunya alasan dibalik semua ini akhirnya baru kami mengerti kemudian. Dan kabar yang sempat kami ragukan itu malah kami rasakan sendiri sekarang. Sebagai new comers yang baik saat itu, tentu saja yang kami lakukan hanyalah mendengar, diam, menganalisa, dan mengerjakan apa yang memang harus kami kerjakan. Tidak lebih.

Tadinya kami tidak ingin mempercayai alasan itu.
“Ah, masa sih, beliau...?” tanya kami lugu di awal dulu.
“Yah… setiap orang punya kekurangan…” jawab golongan lama, masih berusaha menetralisir suasana.
Maka kami jalani saja hari demi harinya. Berharap lembaran baru akan kami mulai dengan lebih baik, tentu saja.

Tapi lama-kelamaan, satu-persatu kami mulai gelisah. Sedikit banyak kemudian membenarkan argumentasi kawan-kawan lama. Dan sulit sekali mulut ini terbuka. Hingga yang terjadi selanjutnya adalah mencari solusi di belakang yang sama sekali tidak menyentuh sasaran. Bagaimana bisa, sebab mungkin sang fokus perhatian tidak merasakan itu sebagai masalah ataupun kesalahan yang melukai kita.

Dua hari ini aku semakin berempati pada sejawat yang ada. Dan pastinya, juga semakin memahami alasan dibalik hengkangnya kawan-kawan lama. Semua, semua merasakan hal yang sama! Maka bagaimana tidak, kami bersepakat bahwa memang begitulah, dan benar-benar itulah penyebabnya!

Aku ingin sekali terus mencoba positif saja. Dan syukurnya, kita semua selalu berusaha belajar untuk mengais hikmah yang ada.

Dari mulai…
“Bersabar, ya…”,
“Positif… Ayo positiff…”,
Sampai…
“Gue mah cukup tau aja…”
“Capek deh…”

Dan bahkan…
“Tahun depan mungkin sudah di tempat yang lainnya…”
Menghiasi hari-hari kita.

Sayangnya, tak satupun dari kami punya keberanian untuk mengatakan apa adanya. Apakah aku, kita, bisa bertahan menghadapi integritas yang tak tertegakkan?

1-2 hari, mungkin bisa.
4-6 bulan, hmm…dipertimbangkan.
1 tahun kemudian? Ah ya, kami rasa sudah waktunya kita berpisah!

Maka, setelah kualami peristiwa itu, kukatakan kepada seorang rekan, “Sekarang aku memilih untuk skeptis saja,” sambil tertawa menanggapi segala kata-kata yang meluncur dari lisannya.
Yang benar saja, teori tanpa aplikasi membuat telingaku mual seketika!

Salah satu cara membuat sadar dirinya adalah dengan memberikan masukan. Tapi sulitnya, masukan itu akan ia anggap sebagai penyerangan, seperti yang terjadi 2 tahun lalu ketika teman-teman lama melakukannya.

Aku berpikir keras.

Jika semua orang menilai orang lain dan memberi penekanan di titik mana masing-masing individu harus melakukan perbaikan, aku rasa itu akan jauh lebih halus, tak mematikan, namun juga sekaligus tepat sasaran.

Ya! Kami belum melakukan itu, memang. Tapi sayang bukan kepalang, sebelum kami semua sempat meluangkan waktu untuk membuat instrumennya, segunung agenda segera mempersempit ruang gerak dan pikir kami, bahkan sekedar untuk menyelonjorkan kaki!

Arggh…

Harus bagaimana???

***

Berbicara tentang bekerja dengan status karyawan, maka bersiaplah dengan berbagai konsekuensinya. Kali ini aku tengah membincangkan kami –aku dan teman-temanku- serta beliau; kalian tahulah beliau siapa.

1 tahun berjalan adalah waktu yang cukup untuk mengetahui pola dan gaya kerja masing-masing orang. Lucunya, kami menemukan benang merah yang sama pada beliau, satu individu yang menjadi fokus perhatian kami saat ini, yaitu sikapnya yang suka menyalahkan.

Si A sudah pernah mengalami sekian banyak kejadian. Si B pontang-panting bekerja tetapi masih harus bersitegang untuk hal-hal teknis di lapangan. Si C, menerima sms berisi teguran, yang seharusnya tak datang kepadanya. Si D, E, F, G, juga sama saja. Masing-masing menggerundel tanpa tahu harus berbuat apa untuk mengatasinya.

Aku sendiri?

Haha… awal tahun ini ceramahnya terpaksa kutelan bulat-bulat. Terlepas dari evaluasi yang harus segera diperbaiki, kesimpulanku setelah itu adalah: mbok ya kalau ndak tau bagaimana isi, jangan sembarangan menilai dari kulitnya… Kekurangan informasi membuat salah persepsi. Dan sudah kurang info, masih sok tahu lagi. Ck…ck…ck… kacaunya…

Jelas, setelah itu aku menjaga jarak aman agar benar-benar merasa nyaman. Dan demikian pula yang dilakukan para rekan. Bukan karena feedback yang beliau berikan ya, tetapi sikap beliau yang gak sesuai sama perkataannya aja...

Ah iya. Aku tidak hendak ngrasani orang disini. Yang jelas, aku hanya sedang mencari cara menumbuhkan semangat untuk memberi dengan optimal, bekerja dengan maksimal.
Menghadapi atasan yang sulit sepertinya sudah basi ya?
Siapa suruh jadi karyawan dan bekerja pada orang lain… -_-'

Ya. Aku hanya sedang memompa energi yang semakin berkurang. Memfokuskan perhatian dan perasaan pada hal itu hanya akan membuat produktivitas kerja justru menurun. Proaktif salah, tidak inisiatif juga salah. Susah kan?

So……..

Yang bisa kulakukan sekarang adalah benar-benar meresapi arti keikhlasan; untuk siapa aku bekerja, demi apa aku berusaha.

Untuk gaji semata-mata kah?
Untuk menyenangkan dan mengambil hati si bos-kah?
Untuk kemanusiaan dan kepedulianku pada sesama-kah?
Atau goal yang lebih besar dari itu: untuk Allah dan Allah semata?

Jika memang yang terakhir menjadi alasan, niscaya tak akan peduli kita pada penilaian manusia. Dan tentu saja, tak semestinya semangat bekerja turun-naik cuma gara-gara manusia!

Well…
Sepertinya tekadku semakin menguat saja. Aku rasa aku harus segera pensiun dari kerja secepatnya!


-LagiBosenDiTempatKerja…

gbrnya dari http://cio.com/special-reports/boss-and-you/index
dan dari sini jg, dg editan: www.losanjealous.com

Apr 20, 2008

Stagnan


Bismillah...

Sejujurnya saya tidak suka terjebak pada situasi itu. Tidak ada kemajuan, dan mundur malah lebih tidak memungkinkan. Pertanyaannya, sudahkah kita coba beranjak dari kondisi yang kita tidak sukai tersebut?

Saya jawab, saya mencoba.
Tapi kenyataannya saya hanya berputar-putar, terjebak pada kesemrawutan yang saya ciptakan. Benar. Jika saya mau, maka saya bisa saja mengubah dan menjadikan hal itu bukan permasalahan. Jika saya berkeinginan, maka saya bisa saja menjadikannya bukan sebagai beban. Tinggal klik gelombang di otak persepsi saya, dan “blass…”, segalanya menjadi lebih ringan.

Tapi ternyata tidak sesederhana itu pula. Saya tidak sedang berbicara tentang diri saya. Melainkan juga kaitannya dengan berbagai macam unsur yang terlibat disana. Ada konsekuensi di balik setiap langkah yang saya ambil, tentu saja. Tapi bahkan saya sendiri tidak bisa, atau katakanlah, belum bisa memastikan, apa yang sesungguhnya saya inginkan.

Gamang.
Dan pandangan saya berkali-kali menjadi hampa, menerawang sambil memikirkan, “bagaimana, bagaimana…”

Sementara ada sekelumit tanya yang tengah menunggu jawabannya, berharap kepastian segera terbuka. Dan membiarkan waktu terus berjalan tanpa tanda-tanda, sama saja memberikan peluang untuk menjadikan luka –jika harus terluka- kian membesar; demikian nasihat seorang teman.

Saya hanya tidak berani, ujarnya.
Saya hanya takut menanggung konsekuensi, tambahnya lagi.
Mungkin benar demikian. Tapi sungguh, jika saja syaraf ini bisa terbelah, akan kaulihat simpul-simpulnya begitu menegang, nyaris terbakar. Karenanya saya lebih suka membiarkan perjalanan itu menemukan ujungnya sendiri, tanpa intervensi. Dan seketika ketegangan membeku, walau berpotensi memanas sewaktu-waktu.

Dan tidak ada kemajuan sedikitpun, tidak ada kecerahan, tidak ada keputusan, tidak ada apapun yang saya hasilkan.

Saya hanya berharap suatu saat akan terbuka jalan…
Suatu kondisi dimana tak ada lagi beban dan segala keputusan yang arif dapat dimenangkan. Tapi mungkin tidak sekarang.


Friday, April 18, 2008.
Kpd seorang sahabat: kali ini, bolehkah aku yang mengharapkan keajaiban?


gbr dari snailstales.blogspot.com
kali ini udah ijin. thx, sir :)

Alhamdulillah, Masih Hidup…

Bismillah.


Lama tak mengisi blog ini, kukabarkan pada kalian, wahai dunia, aku masih hidup! :)

Ya. Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan hidup. Setelah sebelumnya harus "simulasi kematian" dengan metode ‘learning by doing’, pembelajaran terbaik yang lebih terserap karena melibatkan semua unsur; fisik, pikiran, dan hati.

Jumat lalu, empat puluh lima menit lepas dari maghrib, aku bergegas memacu sepeda motor dari rumah menuju RSCM, tempat dimana aku akan bertemu seseorang untuk urusan pekerjaan.

Tidak ada feeling apa-apa sebelum berangkat. Aku hanya meyakinkan diri untuk lebih berhati-hati karena hari sudah malam, dan biasanya jalanan akan terlihat lebih remang; apalagi di mataku yang sensitif debu dan mudah teriritasi.

Dan akupun berangkatlah. Berusaha memenuhi janji dan membuat temanku itu tak lama menunggu. SMS temanku : “Cepet ya, kalau bisa sekarang. Soalnya mau pergi lagi.
Saat itu pikiranku hanya satu: sesegera mungkin sampai ke tujuan.

Hingga tiba di lampu merah Slamet Riyadi, Jatinegara, semua masih lancar. Begitu lampu hijau menyala, arus lalu lintas yang padat jadi mengencang, dan otomatis membuatku yang berada 3 baris dari depan ikut lebih kuat menggas kendaraan.

Baru menyeberang perempatan beberapa detik dalam keadaan motor yang berlari kencang, kulihat 2 lubang di hadapanku, dan refleks aku menghindar.

Stang kubelokkan ke arah kiri, dan detik itu pula…
dari arah kiri belakang sebuah motor menabrakku tanpa kendali!

ALLAHU AKBAR!

Panik, aku bertakbir berulang kali. Sudah tidak ingat aku dimana rem, dimana segala macam pijak gigi, dan seterusnya. Badan motorku menyangkut di motor si penabrak, terseret miring sekian meter selama beberapa detik mengikuti dia, dan selama itu pula aku hanya bisa menyebut asma-Nya dalam pasrah…

Akhirnya motor itu menghantam sesuatu dan aku ikut terjatuh.

Kurasakan punggung dan bahu kananku membentur jalan yang keras. Kakiku terjepit tertimpa sepeda motor yang kukendarai. Si penabrak sendiri, tak tahu pasti aku bagaimana kondisi dan posisinya. Tiba-tiba orang-orang berkerumun, mengangkat sepeda motorku dan membantuku bangun.

Kepalaku terasa berat. Tapi kupaksakan diri untuk bangkit dan masih sempat berkata pada orang yang menolongku bahwa aku baik-baik saja, sembari meyakinkan diri sendiri. Walau pada kenyataannya kacamataku patah, motor tergeletak begitu saja entah bagaimana nasibnya, kubuka penutup mulut dan helmku, meraih tas dan menyingkir ke tepian.

Tiba-tiba sesuatu menetes menodai jaket yang kupakai.
Darah!!!
Apa yang berdarah???

Spontan kuraba sumber tetesan di dahi kiri dan mendapati kedua telapak tanganku berlumuran banyak cairan merah.

“Berdarah!” seru seseorang dengan lantang.
Kukuatkan hati yang mendadak gemetar. Gapapa, indra… kamu gapapa… kamu gak apa-apa…

Kubiarkan motorku dikerubungi orang, sambil mengelap dahiku dengan sapu tangan penutup mulut yang semakin banyak terkena darahnya. Sederas inikah?

Seorang polisi menuntun sepeda motorku diiringi yang lain. Dan beberapa orang lainnya mengamatiku baik-baik.

“Mbak gapapa?” tanya pemuda yang kuduga si penabrakku.
“Ini tissue mbak…” ujar seorang yang lain.
“Gak…gak papa…Ini cuma berdarah…Parah gak ya?” kataku tidak yakin.
Kusingkap sedikit jilbab di pelipisku, dan mas-mas yang menabrakku memperhatikan lebih seksama.
“Lukanya kecil, tapi agak dalam…”
Dan aku meringis nyeri.
“Mas gak papa?” kutanya pria yang tampak baik-baik saja itu. Wajahnya pias, entah mengkhawatirkan aku atau apa.
“Gak…saya gak papa…”

Pak polisi menghampiriku lagi.
“Anda sendirian?”
“Iya, Pak…”.
“Anda…” ia menoleh ke pria yang menabrakku. “Gimana, ada tuntutan gak?”
“Enggak… gak ada…”
“Kalo gak ada ya sudah, selesai disini. Lain kali hati-hati…”

Panikku belum selesai, darahku belum berhenti mengucur, tiba-tiba sarafku dipaksa menegang. Aku terluka, dan… tuntutan apa??

“Minum dulu, Mbak…” ulur seorang bapak tua. Dan orang-orang kemudian perlahan meninggalkan. Pria itu juga kembali pada motornya yang diparkir agak di depan.

Kuhubungi temanku segera. Mengabarkan bahwa pertemuan hari itu terpaksa dibatalkan karena musibah yang menimpa. Kukabarkan orang dekat yang lain, berharap mendapat bantuan. Setidaknya ada yang tahu bahwa aku kecelakaan. Dan tentu saja, aku hanya ingin segera pulang.

Seorang pemuda pengatur lalu-lintas informal mendekatiku yang masih sibuk mengelap luka di dahi. Masih bertanya hal yang sama, “Gimana Mbak, gak papa?”
Sampai akhirnya ia menawari tuk mengantarkanku ke apotek seberang, tapi kutolak halus dan hanya minta bantuan membelikan betadine. Pemuda yang baik sekali…

Begitu ia datang lagi, langsung kuobati bocor di atas alis kiri, juga kulit yang terkelupas di dekat mata kaki kanan dan di bawah lutut kiri.

Si penabrakku sendiri baik-baik saja, hanya terdengar bahwa motornya rusak dan sampai aku pamit, belum dapat dipastikan apakah kendaraannya itu bisa kembali berjalan normal. Maafkan saya ya… kita sama-sama mendapatkan kerugian :’(

Akhirnya kupaksakan meneruskan perjalanan pulang sendirian karena mustahil menunggu bantuan datang. Kali ini, dengan kecepatan minimal sambil merasakan perih yang tertahan…

Ya Allah, terima kasih banyak sudah mengingatkan banyak hal…

***

Pelajaran 1 :
Persiapkan segala sesuatu baik-baik sebelum berangkat. Termasuk meresapi doa “bismillahi tawakkaltu ‘alallaahi laa hawla walaa quwwata illa billah…”. Dengan nama Allah aku bertawakkal, tiada daya dan kekuatan selain dari Allah. Well, everythings can happen begitu kita keluar dari rumah…

Pelajaran 2 :
Bersikap tenang dalam keteburu-buruan tetap penting tuk dilakukan. Ketergesaan berpotensi menimbulkan ketidakberesan. Bergerak cepat boleh, tapi tetap harus tenang.

Pelajaran 3 :
Bagi para pengendara kendaraan roda dua, better gunakan helm yang menutupi semua bagian kepala karena kalo kita jatoh (na'udzubillahh...), kepala terlindung dari benturan. Jangan lupa, baik-baik perhatikan lubang yang semakin banyak bertebaran di jalan raya. Walaupun ngebut itu asyik (teteup…), slogan “Ngebut berarti Maut” kurasa masih terus relevan. Apalagi kalau udah kejeblos di lubang itu, atau ngerem mendadak dan bikin yang ada di belakang jadi nabrak…
Btw kabarnya, yang kecelakaan gara-gara lubang di jalanan itu gak sedikit… Ehm, wahai pemerintahku yang solih dan bertanggung jawab, harus menunggu berapa ratus korban lagi? >:(

Pelajaran 4 :
Kalimat “belum kapok naik motor kalau belum jatuh”, buatku kurang berlaku. Kapok mah enggak… hehe. Yang jelas, naik motor akan aman kalau kitanya hati-hati. So, berhati-hatilah. (intinya, jangan kapok naek motor ya. Hehe…)

Pelajaran 5 :
Pastikan di setiap momen, kita selalu dalam keadaan mengingat Allah. Berdzikir sambil berkendara merupakan hal yang sangat mungkin tuk dilakukan. Kematian baru terasa dekat ketika peristiwa mengerikan menghampiri kita. Tapi sesungguhnya, ia bisa menghampiri kita kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun…

Pelajaran 6 : (silakan ditambahkan…)

Ahad, April 20, 2008. 10:52 pm.
-dilarangNaekMotorLagiSamaMamah:(


gbr dari http://myfloridalegal.com/kids/acci_ans.html
dan
myfloridalegal.com/kids/accident.html
trimakasihh, maaf ga ijin...

Feb 22, 2008

Aku Malu...


Bismillah...

Bekerja di sebuah lembaga yang mengusung suatu issue universal, agaknya menarik beberapa kalangan untuk bekerjasama dengan kami; aku dan teman2ku di kantor. Kali ini kami berkesempatan bekerjasama dengan (salah satunya) orang2 dari dunia entertainment, dengan segala keunikannya.

Kali pertama bertemu dalam ramah-tamah perkenalan (dimana aku berhalangan hadir), seorang temanku langsung mengeluarkan keluh-kesahnya begitu aku bertanya.

“Lu kebayang donk, Ndra... gw, dengan jilbab panjang gw, masih ‘nongkrong’ di kafe jam 11 malem! Mana amit-amit bau asep rokoknya... bener2 tersiksa...”

Aku mendengarkan ceritanya dengan muka prihatin, walau sebenarnya agak geli membayangkan dia disana ketika itu (hehe...jahat banget ya. Maap ya Mirce... ^_^).

Dan sore itu, kami berkumpul di rumah bosku untuk membincangkan kerjasama kami selanjutnya. Tak banyak orang. Hanya ada aku, bosku, 3 temanku, dan 3 orang dari mereka. Just like usual, tak ada formalitas dalam acara bincang-bincang kami. 2 dari mereka, laki-laki, mengenakan baju kasual, t-shirt dan celana jeans. Sementara satu lagi, si Mbak yang cantik, mengenakan kaus dan (ehm...) celana pendek setinggi ± 25 cm dari atas lututnya. Begitu ia duduk, tangannya langsung meraih bantal dan refleks menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu.

Kami membincangkan banyak hal.
Namun ketika tengah asyik ngobrol kesana-kemari, adzan maghrib dari musholla dekat rumah berkumandang. Bosku yang sedang mengungkapkan pikirannya terus saja berbicara dan kami mendengarkannya dengan seksama. Sampai akhirnya, di bait kedua adzan itu, si Mbak yang cantik memotong...

“Eh, lagi adzan. Gimana kalau kita dengerin dulu?”

Dan semua yang ada di ruangan itu langsung terdiam khusyuk. Hening, dan hanya terdengar adzan yang syahdu memanggil-manggil.

Tiba-tiba aku merasa malu. Maluuu sekali.

note: dulu waktu masih di kampus, dalam rapat2 organisasi yang aku ikuti, tiap kali adzan berkumandang di tengah rapat kami yang belum selesai, selalu saja kami berhenti untuk mendengarkan panggilan itu. tapi sekarang...kenapa gak pernah coba mengusahakan dan membiasakan, malah merasa gak enak sama makhluk bernama manusia... hiks...astaghfirullah...
tapi ini baru soal adzan. seringkali di rapat2 para petinggi yang aku amati, sholat menjadi urusan yang dinomorsekiankan. naudzubillahh...