Aug 7, 2008

Jogja yang Ramah (1)

bismillah...


Malam ini saya sedang berada di Jogja, kota yang ramah
sekali. Berhubung kantor menugaskan saya dan seorang rekan untuk mengurus proyek disini, maka saya pun melanconglah, sekaligus juga berjalan-jalan tentunya. Lumayan, sejenak lepas dari penatnya kota Jakarta. Beberapa bulan lalu saya juga mampir ke kota ini, untuk pertama kalinya. Rekan-rekan peneliti yang waktu itu menjadi partner saya, terbelalak begitu mendengar saya baru menginjakkan kaki di Jogja kali itu. Segitu tertinggalnya saya ya? Duh... -_-'

Kesan yang timbul pertama kali ketika bertandang kesini adalah... ternyata Jogja itu lumayan padat ya. Sepeda motor berseliweran dimana-mana. Barangkali karena motor merupakan kendaraan yang luwes dan relatif terjangkau harganya, jadilah banyak yang memakai. Buat saya yang sudah puyeng menghadapi keruwetan lalu lintas di Jakarta, suasana ini menjadi tidak cukup nyaman. Ngomong-ngomong, iseng-iseng saya perhatikan di jalan-jalan rayanya, jarang-jarang lho yang memakai motor bebek Honda yang logonya besar dan jelas (ada kan motor Honda yang tulisannya HONDA gituh?!).
Yang lebih banyak malah motor Honda dengan logo yang samar, seperti Honda supra-x. Seketika pikiran iseng saya muncul. Apakah ada kaitannya dengan karakter orang Jogja yang tawadhu dan tidak suka menonjolkan diri? Hehe...
Bagus juga tuh kalau jadi tema penelitian. Judulnya, "Hubungan antara karakter pemalu masyarakat Jogja dengan pemilihan kendaraan bermotor dengan logo yang jelas atau samar". Hasilnya bisa menjadi masukan bagi para produsen motor dalam mendesain atau memasarkan produknya di Jogja *dasar otak bisnis*. Hehehe... ;)


Ohya, selain suasana yang ramai dan padat, ada satu hal yang cukup berkesan buat saya selama di Jogja, yaitu soal keramahan penduduknya. Ketika dulu saya pertama kali datang untuk meneliti di beberapa sekolah, tanggapannya sangat terbuka. Orang Jogja juga tak segan tersenyum dan menyapa orang lain yang tak dikenal. Begitu berbeda dengan cerita dosen saya yang pernah berlibur ke Paris. Ujar beliau, di Paris, atau di negeri-negeri Eropa, jangan harap kalau misalnya kita sedang kesusahan di jalan umum, akan ada yang serta-merta langsung membantu kita. Itu bukan karena mereka tidak mau menolong sih, tetapi lebih karena khawatir mencampuri. Jadi, mereka baru akan merespon jika memang dimintai bantuan. Lain dengan Jogja yang saya amati. Penduduknya sangat ramah dan altruis (suka menolong). Mereka memiliki perasaan yang halus dan peka, serta peduli terhadap orang lain.
Wah, mendengar cerita itu, saya jadi bangga sendiri deh.


Di kedatangan kedua ini, dari bandara Adi Sutjipto, saya menuju hotel Puri Artha yang terletak di Jalan Cendrawasih. Meski terlihat tidak terlalu besar dari luarnya, ternyata begitu masuk ke dalam, tempatnya lumayan besar. Ada resto dan cafe, kolam renang, fasilitas spa, dan yang unik, ada nyanyian gending jawa secara live di ruang dekat lobby-nya. Para karyawannya juga ramah dan sangat melayani. So, kalau ada yang mau ke Jogja, coba aja menginap disini. Dengan biaya Rp. 350.000,-/malam, kita bisa dapat fasilitas yang cukup nyaman *promosi* :D

Malam pertama kami tiba di Jogja, saya segera teringat makanan iga bakar di jalan Gejayan. Dulu ketika pertama kali ke sini, saya sudah sempat ke kafe-nya. Tetapi sayang sekali menu iga bakar sedang habis. Berhubung rekan saya agak malas mencari tempat itu, akhirnya kami makan di warung tenda saja. Menunya ketika itu adalah soto daging sapi bakar. Saya pikir, mungkin mirip-mirip kali ya seperti sup iga (karena saya lagi 'ngidam' sup iga). Tapi ternyata beda, sodara-sodara. Ya iyalah, yang satu judulnya 'sup', yang satu lagi 'soto' :D.
Rasa soto daging sapi bakar ini sebenarnya sama saja dengan soto-soto daging yang lain, hanya saja, daging sapinya dibakar terlebih dahulu. Yang agak mengecewakan, kuahnya ternyata jauh lebih banyak daripada dagingnya. Dengan kata lain, soto itu kurang berisi. Selain itu, sate kambing yang kami pesan juga terasa alot (keras). Tapi berhubung sudah seharian perut saya belum terisi makanan, soto dan sate itu tetap saja saya syukuri. Namanya juga orang kelaparan, makanan apapun pasti terasa enak. Intinya malam itu saya tidur dengan perut kenyanggg...
Alhamdulillah...


Begitulah hari pertama saya di Jogja kali ini. insya Allah disambung lagi kapan-kapan. Sampai jumpa di cerita-cerita tentang Jogja berikutnya, ya :)



nb: besok rencananya saya mau main ke borobudur dan pantai parangtritis. dan tadi saya baru aja chat dengan seorang teman. katanya, sy harus mencoba gudeg pawon, kopi di angkringan tugu, serta mie Mbah Mo di daerah Bantul. Hmm... jadi penasaran deh ;)



~Thursday, 070808; 10:54pm



pic from www.serbajogja.com/peta_jogja.php
tidak ijiiin..maaf ya.

Jul 23, 2008

Berdamai dengan Masa Lalu


Bismillah…


Banyak orang bijak bilang, hiduplah di masa kini, sekarang ini, agar terbebas dari kungkungan trauma masa lalu dan kecemasan akan masa depan yang belum menentu. Tak mudah berdamai dengan masa lalu yang acap terisi kenangan buruk. Dan mungkin begitu pula halnya dengan masa depan yang seringkali memunculkan kejutan-kejutan tak menyenangkan.
Tapi sungguh, terjebak di situasi itu membuat kita maju tak bisa, diam di tempat pun tak menghasilkan apa-apa. Maka demikian memprihatinkannya kisah saya, dan mungkin juga Anda, tatkala tiba-tiba tertarik ke memori suram masa lalu, terpaku diam disitu, dan sekonyong-konyong tak bisa keluar dari trauma menyakitkan yang mungkin cukup menekan. Apalagi memikirkan masa depan yang jauh sekali dari jangkauan.

Miris dan mengiris, kadang-kadang.
Tapi sayangnya kita tak dapat lupa, tak dapat begitu saja membuang jejak-jejak ingatan yang sudah demikian kuat tertanam. Lebih kacau lagi, pada saya yang pemikir-perasa komplit ini. Logika hilang kemana, dan yang muncul adalah kecemasan-kecemasan berlebihan yang apabila diperturutkan, jangan-jangan anxiety disorder¹lah akibatnya.

Seorang psikolog rekan saya bilang, trauma itu bukan dihilangkan, tapi kita berdamai dengannya. Dan saya terbelalak. Ohya? Bagaimana bisa?
Bisa, ujarnya. Namun butuh proses dan kesabaran menjalaninya.
Dalam kebuntuan yang didominasi perasaan tak menyenangkan, saya berpikir. Tetapi makin saya pikirkan, makin kejam pula demon-demon² itu menghujamkan duri-duri ingatannya. Tepat sekali, makin depresilah saya pada akhirnya.

Tak menemukan jawaban, saya membiarkan waktu terus berjalan dan mengalir begitu saja. Hari-hari saya terisi banyak pengalaman baru; dan laiknya dinamika kehidupan, tentu, positif-negatif, senang-sedih, susah-mudah dan berbagai pasangan rasa bertebaran disana. Jawaban sederhana untuk semua itu ternyata ada disini, di hati ini. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa ‘sembuh’, tetapi yang jauh lebih penting daripada itu semua adalah perasaan ikhlash dan berserah kepada-Nya. Itu sebabnya, ketika saya berfokus pada keinginan untuk pulih, justru saya semakin merasa tertekan. Maka hal yang lebih nyaman daripada itu adalah berserah saja, titik. Tidak ada yang lain.

Pertanyaan saya, memangnya apalagi yang bisa kita lakukan untuk mengubah?
Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyibukkan diri pada sebanyak mungkin agenda kebaikan yang akan melebur keburukan, serta bertawakkal. Toh tidak ada sehelai daunpun yang jatuh tanpa seijin-Nya. Dan apalagi segala macam peristiwa-peristiwa besar yang menyelimuti kita. Pasti, pasti ada hikmahnya.

Maka hari itu, ketika seseorang bersama memori buruk yang melekat tentang dirinya, datang tiba-tiba, saya bisa dengan sumringah menyambutnya. Saya bisa memilih untuk menjadi sedih, untuk marah, atau bahkan membuang muka tak suka. Tapi lagi-lagi, buat apa? Apakah memori itu menjadi hilang kemudian dengan serta-merta?

Tidak ada yang dapat menghapus apa yang sudah terjadi. Jadi saya memutuskan untuk beranjak berdiri sembari berharap semoga apa yang pernah terjadi serta apa yang saya lakukan di hari ini dan nanti, bisa membuat saya semakin bijak menata diri.
Tidak ada yang bisa membuatnya hilang, lenyap, atau berubah seketika. Mengasihani diri sendiri sama saja dengan membunuh waktu dan membiarkannya terlewat sia-sia, sementara hari esok menunggu untuk dilukis secepatnya. Betul, sama sekali tidak mudah, tapi sama sekali tidak mustahil pula untuk dicoba. Hanya perlu itu: kemauan untuk mencoba. Berani? :)

"Face your past without regret.
Handle your present with confidence.
Prepare for the future without fear.
Keep faith and drop the fear.
Don’t believe your doubts and never doubt your beliefs.
Life is wonderful if you know how to live it."
(pravstalk.com)

Friday, July 04, 2008; 3:06 pm.
Untuk seorang sahabat lama yang muncul tiba-tiba, welcome :)


really2 thanks!!! ;)


¹anxiety disorder : gangguan kejiwaan berupa kecemasan yang berlebihan
²demon : setan. Dalam mata kuliah psikologi kognitif semester awal, ilustrasi gambar yang diberikan untuk jejak-jejak ingatan adalah gambar setan-setan kecil bertanduk yang membawa garu. Ia mencuat dimana-mana dalam kognisi kita dan muncul begitu saja sebagai representasi buah-buah pikiran.

Jul 18, 2008

Resign?!

Bismillah...


Baru kali ini aku merasakan gundah-gulananya menjadi pegawai yang ingin pindah kerja. Mengingat seorang teman sudah cabut tanpa sinyal sedikitpun, dan iklim yang tidak terlihat berubah siginifikan dengan 'kedewaan' sang pimpinan, plus, sejumlah rekan yang pada saat bersamaan ingin fokus di tempat lainnya...
Hufff....
Bagaimana ya?

Tawaran sudah digulirkan.
Tapi aku masih mencoba mengingat-ingat bagaimana aku match dengan suasana kerja tertentu. Disini, aku bisa 'sesuka hati' datang; jika ada pekerjaan besar, lakukan. Jika tidak, ya jadi pengangguran. Paling-paling hanya datang mengisi absen dan duduk di depan komputer, mengetik modul pelatihan sembari browsing kesana-kemari. Dengan waktu kerja yang relatif bisa 'kukendalikan', maka aku bisa melakukan fokusku yang lain di luar sana sewaktu-waktu, kapanpun aku mau. Yang penting pekerjaanku di kantor selesai. Kalaupun pekerjaan di kantor jauh lebih banyak dan menuntut untuk lembur, itu merupakan salah satu konsekuensi dari ketiadaan jam kerja yang saklek.

Bagaimana ya?

Ini bukan persoalan bersyukur atau tidak bersyukur. Tetapi, jika kita tidak bisa mengubah keadaan setelah mengerahkan segenap kemampuan, apalagi yang mau diharap?
Bersabar?
Sounds pasrah ya… padahal itu satu hal yang ingin aku enyahkan kuat-kuat. Lagipula, adalah hal yang wajar bukan, jika seorang karyawan mencari tempat kerja yang lebih baik?
Oh yeah... karyawan.... *duuh…kuadran kiri yang menyebbbbalkan!!!*

Apakah aku bisa mengatur waktu dengan sama fleksibelnya ketika di tempat baru itu? Jika tidak, itu berarti aku harus berjuang lebih keras dengan pulang lebih larut dan tentu saja, harus memastikan tenaga dan stamina terjaga.

Sebenarnya waktu kemarin gabung sama di forumnya S Foundation, berharap punya banyak link sambil manfaatin barangkali ada info ‘tempat untuk memberi’ yang lebih baik. Dan sejauh ini baru datang tawaran di tempat yang sepertinya menantang…

Duh, gimana ya….
(udah 3 kali ‘gimana ya’..kalo 4 kali dapet piring deh) *garing*

Wellhh…
Sepertinya harus banyak cari masukan nih. Dan yang utama, masukan dari Allah pastinya. Dari kalian, ada yang mau berkomentar?


~kapanYaResignSelamanya..?
Friday 18.07.08, 10:09pm

pic from
www.treehugger.com/2007/09/30-week/
without permission. so sorry...

Jul 9, 2008

Tentang Kuliah S2 (lagi-lagi...)

Bismillah.


Perbincangan saya dengan seorang teman di seberang sana yang tengah melanjutkan studi S2-nya, lagi-lagi menggelitik saya untuk memikirkan kembali isu ini. Niat saya yang timbul-tenggelam sementara waktu karena kesibukan bekerja, kembali tersulut. Kerinduan saya akan bangku kuliah dan dunia akademis memang tak pernah padam, hanya saja mungkin sedikit meredup mengingat ada hal lain yang tengah saya prioritaskan saat ini.

Saya belum tahu kapan akan kembali menekuri kampus dan segala dinamikanya. Yang pasti, begitu saya teringat akan rencana ini, satu-satunya yang memancing kehati-hatian saya adalah alasan di balik itu semua. Bagi saya, jika melanjutkan S2/profesi ‘hanya sekedar’ agar bisa diterima bekerja di perusahaan bonafit dengan posisi lumayan bagus, kok sayang sekali ya. Walau sepengamatan saya, cukup banyak orang dengan niatan seperti itu –yang tentu saja tidak bisa saya salahkan-. Pencarian ilmu dalam pandangan saya bukanlah sekedar untuk mengejar posisi, gaji tinggi, pekerjaan bonafid dan seterusnya. Tetapi lebih daripada itu, saya sudah jauh-jauh hari semenjak kelulusan S1, memikirkan hal mendasar yang mendorong saya jika di kemudian hari saya meneruskan kuliah ke jenjang S2. Benar, ini soal visi dan misi apa yang akan saya bawa ketika saya bergelar “psikolog” nantinya.

Tak lama setelah saya lulus S1, saya mengobrol ringan dengan 5 orang teman yang kebetulan sedang menjalani studi S2-profesinya. Pertanyaan saya singkat sekali.
“Punya visi apa setelah nanti jadi psikolog?”
Atau, “Habis lulus profesi mau ngapain?”
Dan mengejutkannya, 3 dari 5 rekan saya ini menjawab dengan begitu ‘ngawang-ngawang’-nya.
“Mmm…belum tau,”
“Apa ya, Ndra? Jujur gw belum kepikiran tuh, ngejalanin aja sih…”
“Duh, gak tau deh. Mikirin yang di depan mata aja sekarang. Tugas-tugas nih numpuk banget!”


Selebihnya, 2 orang yang lain, lumayan memiliki pandangan jauh ke depan.
“Mau bikin lembaga pendidikan, atau sekolah yang bagus,”
“Mmmm… belum tau juga. Tapi mungkin akan seperti Mba “X” (psikolog di kampus –red), jadi family-terapist,”

Mungkin saya sedikit perfeksionis. Menjalani sesuatu tanpa menyadari hakikat “buat apa saya melakukan hal tertentu”, adalah hal yang cukup mengganggu. Implikasinya jelas, jika tidak ada niat sungguh-sungguh di balik itu, ketika kebosanan atau kesulitan menghadang, pasti kita akan mudah jatuh. Lebih dari itu, adalah kesia-siaan ketika kita menjalani sesuatu tanpa ruh, tanpa hal yang menjiwai mengapa kita harus melakukan itu, mengapa kita harus berada disana, dst.

Mungkin ada juga beberapa orang yang menemukan hakikat sembari menjalaninya. Well, tidak salah juga. Tapi sekali lagi, saya hanya ingin memastikan bahwa saya menjalani semua dengan penuh kesungguhan, dengan penuh visi yang akan membuat saya yakin bahwa apa yang saya lakukan akan bermanfaat sebesar-besarnya. Bukankah para pemain bola selalu berusaha mengarahkan bola mereka ke gawang?

Sehingga, pertanyaan-pertanyaan inilah yang barangkali harus saya buat jawabnya se-SMART* mungkin. Buat apa saya menjadi psikolog? Apa yang akan saya lakukan jika saya sudah bergelar psikolog? Sekedar prestise sajakah? Tampak keren dan wah di mata orang? Atau apa?

Benturan saya rasakan ketika saya suatu hari secara tidak sengaja bertemu dengan dua orang ibu rumah tangga bermasalah. Yang satu, rumah tangganya kurang harmonis, sementara yang satu lagi, anaknya bermasalah. Apa yang bisa saya jawab ketika si wanita paruh baya itu mencurahkan isi hatinya tentang sang suami yang dingin dan tak pernah menjalin komunikasi yang baik? Apa yang bisa saya sarankan ketika ibu yang satu lagi membutuhkan saran mengenai anaknya yang depresi karena suatu hal?

Kening saya pun berkerut, mengindikasikan kognisi yang sibuk mencari jalan. Minimal ada hal yang bisa saya berikan terhadap mereka; entah saran, masukan, apapun itu. Tapi saya gagap, dan menjawab dengan asumsi-asumsi ditambah bumbu pengalaman yang minim sekali. Dan saya merasa bersalah sekali tidak bisa membantu dengan optimal karena bekal yang kurang.

Disitulah gap itu terasa.
Ada
ekspektasi yang besar ketika orang tahu bahwa saya sudah belajar psikologi, walau baru bergelar S.Psi alias sarjana psikologi. Padahal harapan itu tak sebanding dengan kapasitas yang saya punya. Tapi lagi-lagi, apa iya harus dengan menempuh profesi dan menjadi psikolog dulu?

Untuk pertanyaan terakhir, saya berkaca pada rekan senior saya. Berlatar belakang sarjana pendidikan dan master di bidang sastra inggris (catat : bukan psikologi), beliau sering sekali ‘menerima klien’ untuk dimintai nasihat dan saran. Sejumlah pasangan nyaris cerai datang kepada beliau dan berkonsultasi, dan hasilnya, alhamdulillah mereka rukun kembali dan mengurungkan niat untuk berpisah.

Rahasia beliau, ‘hanya’ rajin membaca literatur psikologi populer, mengikuti sekian banyak seminar pengembangan diri di dalam dan luar negeri, dan dengan sendirinya menjadi manfaat begitu banyak.
Jadi, apakah harus menjadi psikolog? :)

Dunia nyata pasca kampus menggiring saya bertemu dengan begitu banyak fragmen kehidupan. Dan semakin saya berhadapan dengannya, semakin saya merasa begitu minim bekal yang saya punya. Bagaimana bisa kita berhadapan dengan seorang anak depresi sementara kita tidak tahu cara menanganinya? Bagaimana bisa kita menjiwai permasalahan rumah tangga, sementara pengalaman belum ada, dan secara keilmuan juga tak seberapa? Bagaimana kita dapat menangani korban-korban pasca trauma, entah karena musibah bencana, atau kekerasan yang menimpa, dengan ilmu yang alakadarnya dan hanya sekedar mencoba-coba tanpa metodologi yang baik dan kemampuan analisa-saran rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan?

Kesenjangan itu, yang saya harap bisa saya reduksi ketika saya sudah diberi anugerah mencicip pembelaran di jenjang S-2 profesi psikologi. Menjadi manfaat adalah kenikmatan tak terhingga yang bukan lagi sekedar pemuasan kebahagiaan batiniah semata, tetapi juga asset untuk berjumpa dengan-Nya di akhir masa. Mungkin belum saatnya saja kesempatan itu datang sekarang. Dan seperti keajaiban, Mario Teguh menanggapi perasaan saya di televisi semalam. Ujar beliau, tidak mungkin kita naik tangga dan sekaligus juga maju ke depan. Meraih posisi tinggi dan berjalan maju adalah hal yang aneh, kecuali melakukan salah satunya saja.
Mungkin saja yang harus saya lakukan sekarang ini adalah melakukan gerak horizontal –bukan vertikal- yaitu dengan memperkaya pengalaman, memperbanyak kenalan serta memperluas relasi dan jaringan. Dan syukurnya, di LSM tempat saya bekerja sekarang, pengalaman dan jaringan merupakan suatu keniscayaan :)

Saya percaya, akan ada waktu yang tepat nantinya jika saya harus belajar lagi di S2. Sebagaimana hal lainnya, selalu ada waktu terbaik dimana kita layak berada disana.
Lagi-lagi Allah memberi saya hikmah itu : saya mendapat apa yang saat ini saya butuhkan, dan bukan apa yang saya inginkan :)

By the way, doakan saja semoga rizqinya dimudahkan ya :)


Friday, July 04, 2008. 2:23pm.
~belumSaatnyaMenikmatiZonaNyaman…



*SMART = specific, measurable, attainable, realistic, time limit. Ini adalah panduan membuat goal/target yang biasa dipakai dalam ilmu manajemen/psikologi.


gbr dari taufik79.wordpress.com/2008/05/
dan
http://zulfikri.wordpress.com/2007/06/11/peran-atap-dalam-arsitektur-sebagai-simbol-martabat-bangunan/
sudah ijiin! makasih banyak..

Jul 4, 2008

Get Sick


Diagnosa
Typoid : positif

Formula
Enakur, Metoclopramide HCl 10 mg
Alpara kaplet
Ottoprim Sulfametoxa
Bufantacid
Bed rest 1 week

Innalillaahi wa inna ilayhi rooji’uun…
Semoga menjadi penggugur dosa. Aaamiiin.




note: yang belum pernah kena tipes, jangan sampe deh. na'udzubillah..
jaga makanan dan istirahat!


gbrnya dari sini nih:
http://www.kapanlagi.com/a/0000003810.html

iya, ga ijin.. maap...

Jun 26, 2008

Cerita Temanku tentang Kepercayaan

Bismillah…

Salah satu karunia terbesar seorang manusia adalah ia dikaruniai akal untuk berpikir dan mengambil insight dari apa yang tengah terjadi di sekelilingnya.

Kali ini saya belajar banyak hal mengenai “kepercayaan/trust”, sesuatu yang katanya, tak terbayar, saking mahalnya.

Dalam berhubungan dengan banyak pihak sebagai partner kerja, contohnya, atasan saya berkali-kali menekankan, hati-hati menjaga kepercayaan orang lain, karena sekali saja kita tidak dipercaya, maka disitulah integritas kita jatuh di mata mereka. Lepas dari penilaian manusia yang tidak selamanya bisa diharapkan (buat apa juga mengharap penilaian manusia), saya sendiri (agak) sepakat dengan statement bos saya itu (soalnya, kadang ada orang yang cuma gara-gara 1 kasus aja, dia jadi gak percaya selamanya. Akhirnya, yang terjadi adalah blaming, labeling, dan ujung-ujungnya jadi gak positif lagi. Nah, yang kayak gini jatuh-jatuhnya jadi kurang bijak juga, menurut saya).
Tetapi apapun itu, saya termasuk orang yang percaya bahwa trust itu mahal harganya.

Mari kita bayangkan sejenak kehidupan Makkah ketika Rasulullah Muhammad saw bertumbuh disana. Tak pernah sedikitpun masyarakat Makkah saat itu yang tidak sepakat bahwa Muhammad tidak jujur, yang karenanya ia mendapat gelar “Al Amin”(yang dipercaya). Dari situ ia mendapat keberkahan: banyak orang yang senang menjalin relasi dengannya, bisnisnya berkembang pesat, dan masyarakat menjadi begitu respek terhadap dirinya. Kejujuran berkembang menjadi integritas, dan berbuah kepercayaan yang nilainya begitu besar.

Saya kemudian berkaca pada peristiwa-peristiwa di sekitar saya. Seorang teman merasa dikhianati oleh temannya sendiri yang sudah begitu ia percaya, hanya karena membocorkan rahasia. Mungkin content rahasia itu terkesan sepele. Tetapi saya dapat memahami perasaan teman saya tersebut bahwa poinnya bukan terletak pada sepele atau tidaknya content rahasia yang ia pegang.

Apakah Anda mengerti?

Yap, poinnya terletak pada pelanggaran janji.
Bukankah sepele-tidaknya suatu persoalan tergantung paradigma?
Benar. Dan paradigma seseorang terhadap suatu hal tentu saja tidak selalu sama dengan yang lainnya. Jadi memang tepat, poinnya bukan pada content rahasia itu, tetapi pada “perjanjian” yang seringkali tak tertulis, yang jika disuratkan akan berbunyi : saya percaya padamu, itu sebabnya saya ceritakan hal ini. Dan jika saya bercerita padamu, artinya, kamu harus menyimpannya baik-baik.

Seorang teman lain menceritakan kisah ‘pembocoran’ yang sama, dalam content yang berbeda. Kali ini contentnya jauh lebih private, jauh lebih rahasia untuk diumbar-umbar. Dan naasnya, orang yang ia percaya menceritakan hal itu kepada orang lain, dan orang lain menceritakannya pada orang lain lagi, begitu seterusnya sampai kisah itu tersiar dan tentu saja tidak lagi utuh; penuh bumbu disana-sini dan berbeda dari versi aslinya.

Si teman kedua misuh-misuh kepada saya dengan begitu kecewa. Apalagi ia tahu bahwa temannya yang tidak amanah itu adalah pembelajar yang intens menyerap ilmu keislaman.

Sambil menghibur dan mencoba memetik hikmah bersama-sama, sekali lagi saya bercermin. Betapa mudahnya lisan ini mengatakan apa-apa yang tidak semestinya. Betapa mudahnya hati ini menggampangkan kepercayaan orang lain, dan seringkali tanpa merasa bersalah pula.

Sejujurnya, ketika menghadapi orang-orang yang menghancurkan kepercayaan seperti yang dialami 2 rekan saya, saya jadi lebih hati-hati memilih teman bercerita. Tentu saja kemudian memilih untuk tidak lagi mudah percaya pada si pembocor rahasia.

Tak usahlah kita bicara soal kode etik psikolog yang harus memegang teguh rahasia kliennya, Islam sudah jauh-jauh hari membicarakan konsep agung dalam berinteraksi dengan sesama manusia: bagaimana kita mendoakannya ketika saling bertemu, ketika ia bersin, menjenguknya ketika sakit, menutupi aib-aibnya, melapangkan urusannya dan tentu juga menjaga rahasianya, serta lain sebagainya.

Alangkah saya bisa memaklumi rekan saya itu, ketika ia begitu kecewa mengapa sang teman yang dipercaya menjaga rahasia malah sesumbar, apalagi turut melengkapinya tanpa rasa bersalah juga. Saya rasa, kali ini saya banyak belajar betapa kepercayaan itu cukup sulit diraih tetapi amat mudah dihancurkan dalam sekejap mata…

Ya Allah, jadikan kami orang yang jujur dan mampu menjaga kepercayaan orang lain…



~bercermin...
Thursday 27th June 08, 9:08pm



May 30, 2008

Jenuh

Bismillah…


Sepertinya ini sudah masuk masa-masa jengah.
Baru terasa sekarang ya? 1 tahun lebih berjalan, pastinya. Pantas, sejumlah orang serentak mundur begitu merasa tidak ada lagi jalan keluar selain benar-benar permisi dan keluar. Satu-satunya alasan dibalik semua ini akhirnya baru kami mengerti kemudian. Dan kabar yang sempat kami ragukan itu malah kami rasakan sendiri sekarang. Sebagai new comers yang baik saat itu, tentu saja yang kami lakukan hanyalah mendengar, diam, menganalisa, dan mengerjakan apa yang memang harus kami kerjakan. Tidak lebih.

Tadinya kami tidak ingin mempercayai alasan itu.
“Ah, masa sih, beliau...?” tanya kami lugu di awal dulu.
“Yah… setiap orang punya kekurangan…” jawab golongan lama, masih berusaha menetralisir suasana.
Maka kami jalani saja hari demi harinya. Berharap lembaran baru akan kami mulai dengan lebih baik, tentu saja.

Tapi lama-kelamaan, satu-persatu kami mulai gelisah. Sedikit banyak kemudian membenarkan argumentasi kawan-kawan lama. Dan sulit sekali mulut ini terbuka. Hingga yang terjadi selanjutnya adalah mencari solusi di belakang yang sama sekali tidak menyentuh sasaran. Bagaimana bisa, sebab mungkin sang fokus perhatian tidak merasakan itu sebagai masalah ataupun kesalahan yang melukai kita.

Dua hari ini aku semakin berempati pada sejawat yang ada. Dan pastinya, juga semakin memahami alasan dibalik hengkangnya kawan-kawan lama. Semua, semua merasakan hal yang sama! Maka bagaimana tidak, kami bersepakat bahwa memang begitulah, dan benar-benar itulah penyebabnya!

Aku ingin sekali terus mencoba positif saja. Dan syukurnya, kita semua selalu berusaha belajar untuk mengais hikmah yang ada.

Dari mulai…
“Bersabar, ya…”,
“Positif… Ayo positiff…”,
Sampai…
“Gue mah cukup tau aja…”
“Capek deh…”

Dan bahkan…
“Tahun depan mungkin sudah di tempat yang lainnya…”
Menghiasi hari-hari kita.

Sayangnya, tak satupun dari kami punya keberanian untuk mengatakan apa adanya. Apakah aku, kita, bisa bertahan menghadapi integritas yang tak tertegakkan?

1-2 hari, mungkin bisa.
4-6 bulan, hmm…dipertimbangkan.
1 tahun kemudian? Ah ya, kami rasa sudah waktunya kita berpisah!

Maka, setelah kualami peristiwa itu, kukatakan kepada seorang rekan, “Sekarang aku memilih untuk skeptis saja,” sambil tertawa menanggapi segala kata-kata yang meluncur dari lisannya.
Yang benar saja, teori tanpa aplikasi membuat telingaku mual seketika!

Salah satu cara membuat sadar dirinya adalah dengan memberikan masukan. Tapi sulitnya, masukan itu akan ia anggap sebagai penyerangan, seperti yang terjadi 2 tahun lalu ketika teman-teman lama melakukannya.

Aku berpikir keras.

Jika semua orang menilai orang lain dan memberi penekanan di titik mana masing-masing individu harus melakukan perbaikan, aku rasa itu akan jauh lebih halus, tak mematikan, namun juga sekaligus tepat sasaran.

Ya! Kami belum melakukan itu, memang. Tapi sayang bukan kepalang, sebelum kami semua sempat meluangkan waktu untuk membuat instrumennya, segunung agenda segera mempersempit ruang gerak dan pikir kami, bahkan sekedar untuk menyelonjorkan kaki!

Arggh…

Harus bagaimana???

***

Berbicara tentang bekerja dengan status karyawan, maka bersiaplah dengan berbagai konsekuensinya. Kali ini aku tengah membincangkan kami –aku dan teman-temanku- serta beliau; kalian tahulah beliau siapa.

1 tahun berjalan adalah waktu yang cukup untuk mengetahui pola dan gaya kerja masing-masing orang. Lucunya, kami menemukan benang merah yang sama pada beliau, satu individu yang menjadi fokus perhatian kami saat ini, yaitu sikapnya yang suka menyalahkan.

Si A sudah pernah mengalami sekian banyak kejadian. Si B pontang-panting bekerja tetapi masih harus bersitegang untuk hal-hal teknis di lapangan. Si C, menerima sms berisi teguran, yang seharusnya tak datang kepadanya. Si D, E, F, G, juga sama saja. Masing-masing menggerundel tanpa tahu harus berbuat apa untuk mengatasinya.

Aku sendiri?

Haha… awal tahun ini ceramahnya terpaksa kutelan bulat-bulat. Terlepas dari evaluasi yang harus segera diperbaiki, kesimpulanku setelah itu adalah: mbok ya kalau ndak tau bagaimana isi, jangan sembarangan menilai dari kulitnya… Kekurangan informasi membuat salah persepsi. Dan sudah kurang info, masih sok tahu lagi. Ck…ck…ck… kacaunya…

Jelas, setelah itu aku menjaga jarak aman agar benar-benar merasa nyaman. Dan demikian pula yang dilakukan para rekan. Bukan karena feedback yang beliau berikan ya, tetapi sikap beliau yang gak sesuai sama perkataannya aja...

Ah iya. Aku tidak hendak ngrasani orang disini. Yang jelas, aku hanya sedang mencari cara menumbuhkan semangat untuk memberi dengan optimal, bekerja dengan maksimal.
Menghadapi atasan yang sulit sepertinya sudah basi ya?
Siapa suruh jadi karyawan dan bekerja pada orang lain… -_-'

Ya. Aku hanya sedang memompa energi yang semakin berkurang. Memfokuskan perhatian dan perasaan pada hal itu hanya akan membuat produktivitas kerja justru menurun. Proaktif salah, tidak inisiatif juga salah. Susah kan?

So……..

Yang bisa kulakukan sekarang adalah benar-benar meresapi arti keikhlasan; untuk siapa aku bekerja, demi apa aku berusaha.

Untuk gaji semata-mata kah?
Untuk menyenangkan dan mengambil hati si bos-kah?
Untuk kemanusiaan dan kepedulianku pada sesama-kah?
Atau goal yang lebih besar dari itu: untuk Allah dan Allah semata?

Jika memang yang terakhir menjadi alasan, niscaya tak akan peduli kita pada penilaian manusia. Dan tentu saja, tak semestinya semangat bekerja turun-naik cuma gara-gara manusia!

Well…
Sepertinya tekadku semakin menguat saja. Aku rasa aku harus segera pensiun dari kerja secepatnya!


-LagiBosenDiTempatKerja…

gbrnya dari http://cio.com/special-reports/boss-and-you/index
dan dari sini jg, dg editan: www.losanjealous.com