Bismillah…
Menakjubkan. Benar-benar menakjubkan.
Negeri yang katanya berpenduduk muslim terbesar di seluruh dunia ini, rupanya masih belum bisa melindungi hak muslim itu sendiri.
Sementara sejumlah kalangan berteriak bahwa minoritas senantiasa tertindas di negeri ini, mari kita bertanya, apakah yang sesungguhnya tengah dilakukan oleh banyak perusahaan yang melarang para muslimah menunaikan kewajibannya untuk berjilbab, sekali lagi, di negeri yang katanya mayoritas penduduknya adalah umat Islam!
Saya pikir itu isu basi. Hal yang tak semestinya muncul lagi. Tapi beberapa pagi lalu, sebuah televisi swasta menayangkan kasus baru lagi.
Beberapa tahun silam, dalam sebuah demonstrasi memberi dukungan pada rekan-rekan mahasiswi sekolah tinggi kedinasan yang dilarang berjilbab, saya sekilas melihat debat seorang expatriate yang mengamati aksi kami di pinggir jalan, dengan rekan saya.
Ujarnya, “Jilbab itu tak lebih dari simbol!”.
Muntab, rekan saya yang diajak bicara oleh orang asing itu marah dan berteriak menegasikannya.
Ya. Jilbab itu simbol. Tapi tentu saja lebih dari sekedar itu, Tuan.
Jilbab kami adalah identitas kami.
Harga diri kami.
Kehormatan kami.
Dan sebagaimana para wanita mempertahankan dirinya saat ingin diperkosa, maka seperti itulah kami mempertahankan jilbab ini saat ada orang lain yang ingin menanggalkannya.
Jilbab kami memang simbol keislaman kami.
Simbol ketundukan kami pada aturan Tuhan bahwa sudah sepantasnya perhiasan kami, tubuh kami, kemolekan kami, hanya boleh dinikmati oleh yang halal menikmatinya.
Biarlah mereka yang melenggak-lenggokan tubuhnya, melucuti sebagian besar pakaian dan menyisakan sedikit saja kain untuk menutupi bagian-bagian vitalnya, menjadi seperti apa yang mereka inginkan.
Menjadi seperti apa yang orang lain harapkan; kehilangan identitas dan konsep diri yang matang.
Tapi kami tak mau kehilangan identitas kami.
Bahwa kami betul perempuan, dan kami selayaknya merdeka dari tatap laki-laki jalang. Kami bukan himpunan daging yang bisa dinikmati begitu saja, atau bahkan menyodorkan diri disentuh lalat-lalat yang menjadikan ia cemar.
Dan saya masih saja terbelalak mendengar berita ini.
Pekan kemarin seorang perawat wanita di sebuah rumah sakit swasta di Bekasi harus menunjuk seorang pengacara hanya untuk memperjuangkan haknya karena ia dilarang mengenakan jilbab pada saat bekerja.
Di Bekasi! Indonesia!
Saya tak akan heran jika itu terjadi di Prancis sana, misalnya, atau negara-negara dimana Islam menjadi minoritas.
Tidak adakah hal lebih penting lainnya yang bisa mereka urus daripada sepotong kain yang menutupi tubuh kami?
Dan, oh… ternyata muslimah itu tak sekedar dilarang. Pihak rumah sakit belum puas sampai ia mendapat ancaman setiap saat atas jilbabnya, dan juga memotong tunjangan hingga tak utuh seperti yang biasa ia terima.
Lain lagi kisah muslimah di Surabaya yang juga mengalami kasus serupa. Ia diperkenankan tetap memakai jilbabnya, tapi harus memakai rok mini yang memang menjadi seragam di kantornya.
Wow!
Pelecehan macam apa lagi yang akan diterima atas jilbab kami, kehormatan kami?
Dan jujur saja saya jadi ingin bertanya.
Jika Anda seorang artis penyanyi wanita, dan Anda sudah memakai kostum rok mini serta tank top sebagaimana demikianlah trend yang ada saat ini, apa sikap Anda saat produser Anda berkata, “Ya, boleh pakai baju seperti itu. Tapi tolong tidak usah memakai roknya” ???
Tolong koreksi saya : dimana relevansi antara suara yang menjadi keunggulan Anda (dan memang itulah yang seharusnya ditonjolkan ketika Anda memilih menjadi pe-nya-nyi), dengan kostum yang harus menampakkan, maaf, organ kesucian Anda?
Dan kemudian saya jadi ingin membedah kepala para penentu kebijakan rasialis ini, tak habis pikir dengan pemikirannya.
Apakah jilbab kami bau busuk, Tuan?
Apakah jilbab kami kotor atau lusuh?
Apakah kain yang menutup kepala kami ini mengandung zat atau bakteri yang mematikan?
Apakah kami merugikan orang lain dengan kerudung yang kami pakai?
Benar-benar menakjubkan.
Sementara sebagian besar orang mengelu-elukan kemenangan Obama yang dianggap merepresentasikan terhapusnya diskriminasi bagi ras tertentu, disini, di negeri yang 80% penduduknya muslim mayoritas ini, kami menjadi terdakwa karena menunaikan apa yang menjadi kewajiban bagi kami.
Sementara Prancis bersemboyan Liberte, Egalite, Fraternite, di saat yang sama muslimah disana menjadi bulan-bulanan polisi karena tak boleh mengenakan jilbab saat bersekolah.
Sementara Amerika memasang badan paling depan untuk menjadi simbol penegakan HAM, penjajahan mereka atas Irak dan Afghanistan terus berlangsung dan menyisakan jutaan anak yatim-piatu dan janda-janda papa nan terlantar.
Sementara Yahudi menjadi penyokong terkuat Amerika sang penegak demokrasi, pada waktu yang sama, peluru-peluru tentara mereka memecahkan kepala ribuan bayi, anak-anak, orangtua, dan membuat tempat tinggal rakyat Palestina rata dengan tanah!
Demokrasi untuk apa?
Keadilan yang bagaimana?
Kesetaraan untuk siapa saja?
Dan kita, detik ini, di Indonesia, Palestina, Chechnya, Pattani, Moro, masih terpasung hanya karena bertuhankan Allah, bertauhid dan memegang teguh keyakinan serta mengamalkan ajaran Islam.
Phobia akut.
Menjalar menjadi penyakit kejiwaan yang berteriak lantang-lantang :
Apapun bentuknya, Islam adalah musuh dan ancaman!
Betapa kerdilnya.
Betapa memprihatinkannya.
Tidakkah mereka butuh terapi atau pengobatan?
Monday, 17.11.08, 11:45 pm
Nov 17, 2008
Jilbab Kami, Kemerdekaan Kami
Diposkan oleh Indra Fathiana di 11/17/2008 3 komentar
Nov 10, 2008
Berilah Kasih Lebih Banyak!
Bismillah…
Baru-baru ini saya sedang menghadapi ujian.
Standar ya? Namanya juga hidup. Kalau hidup gak mau dapet ujian, ke laut aja… Hehe…
Dibilang ringan... yaa…sebenarnya memang tidak terlalu berat. Tapi dibilang menyebalkan, lumayan. Semacam kerikil di sepatu kita gitulah. Masih bisa buat jalan sih, tapi mengganggu.
Nah, syukurnya kemarin itu saya mendapat ‘taushiyah’ dari Andrian, seorang nasrani yang merupakan mentor bisnis saya nan ganteng tapi udah punya istri *lho*. Kqkqkqkq… (hush!)
Berhubung Andrian ini sibuk banget dan saya jarang ketemunya, jadilah hari itu saya menyimak baik-baik setiap kata yang keluar dari lisannya. Pria berusia 29 tahun ini mengawalinya dengan berkisah,
“Dulu, ada seorang agen asuransi yang jatuh terpuruk karena terlilit hutang. Rumahnya sampai disita dan ia harus menggelandang di pinggir jalan. Bertemulah dia dengan para gelandangan lainnya dan hidup bersama mereka beberapa lama. Sampai suatu ketika, si penghutang berbaik hati memberinya penangguhan dan mengembalikan rumahnya selama beberapa waktu, sampai ia bisa melunasi hutang-hutangnya.
Singkat cerita, rumah itu ia tempati lagi dan ia menjalani kehidupan normal seperti sedia kala. Suatu hari, datang seorang gelandangan yang ingin menumpang di rumahnya. Dan si agen asuransi ini mempersilakannya dengan senang hati. Toh ia hidup sendirian di rumah itu, pikirnya,”.
Sampai situ Andrian berhenti dan mengajukan pertanyaan,
”Nah, kalau Anda jadi si agen asuransi tadi, apakah ada di antara Anda yang mau begitu saja mempersilakan gelandangan masuk ke rumah Anda?”
Lalu ia melanjutkan lagi,
“Hari-hari terus berjalan dan agen asuransi ini terus bekerja keras. Tak disangka-sangka, suatu hari ia bertemu dengan seseorang, yang ingin membeli asuransinya yang termahal!”
Mata Andrian berbinar-binar. Dan saya mulai merasakan darah saya berdesir di dalam.
“Kisah kedua…” lanjut Andrian.
“Ada sebuah toko yang menjual barang mebel. Lalu datanglah seorang nenek berkunjung ke sana. Melihat penampilan nenek yang tampak bersahaja ini, seorang pelayan hanya bertanya singkat, “Cari apa?” sambil bersikap acuh tak acuh dan cuek.
Akhirnya pindahlah nenek tersebut ke toko lainnya. Di toko ini, sang pelayan melayani nenek ini dengan begitu ramah dan santun. Disapanya nenek itu, lalu ditanyainya, kira-kira apa yang perlu dibantu. Dengan sangat melayani, pelayan itu mengambilkan barang yang dibutuhkan. Waktu terus berjalan dan suatu hari, ada seorang pengusaha kaya-raya yang ingin membeli mebel dalam jumlah besar. Ternyata pengusaha ini merupakan cucu si nenek tadi. Tanpa pikir panjang, nenek itu meminta cucunya membeli mebel di toko tempat ia berbelanja dulu yang melayaninya dengan sangat baik!”
Masih dengan bersemangat, Andrian bercerita.
“Kisah ketiga…” ujarnya.
“……….”
Uh, saya lupa bagaimana cerita ketiganya itu. :D
Intinya, Andrian rekan saya ini ingin menyampaikan pesan, “Berilah kasih lebih banyak!!! Dan Tuhan pasti akan membalasnya dengan lebih banyak lagi!”
Lalu tentu saja ada yang bergemuruh di dalam hati saya.
Ah, kalau saja tak banyak orang di situ, airmata saya pasti sudah tumpah.
Pasalnya, baru-baru ini saya merasa kesal sekali dengan seorang rekan yang saya sudah bantu pun, masih tak mau bergerak sendiri di atas kakinya. Seperti mendorong kerbau yang tak bergeming sedikitpun dari kubangan lumpur tempat ia berpijak! Padahal saya ingin mendorongnya ke padang rumput yang hijau dan subur, dan ia tahu itu!
Tapi Andrian mengingatkan saya.
Apakah saya sudah memberi kasih dengan tulus? Apakah saya sudah benar-benar berniat membantunya? Apakah saya sudah melakukan semuanya tanpa pamrih dan hanya benar-benar ingin menolongnya?
“Beri kasih lebih banyak dan buang egoismu! Karena kita tidak akan bisa sukses jika egois dan tidak membantu orang lain!”
Sore itu, saya memungut hikmah yang tercecer dari seorang nasrani bernama Andrian.
Dan seringkali ia membawakan nasihat yang kalau saya tafsirkan dalam bahasa saya, intinya tentang meluruskan niat.
Saya jadi berkaca.
Perasaan saya hari itu memang cukup negatif. Kesal, gemas, geregetan, campur aduk semuanya. Bayangkan!
Rekan saya itu bermasalah, lalu ia mengadu pada saya. Lalu saya coba menawarkan solusi. Tapi ternyata ia malah memilih untuk berkubang dengan masalahnya dan tak mau bertindak!! Ugggghhh… gemesssss! >_<
Makanya, kata-kata Andrian hari itu seperti siraman ruhani buat saya. Dan saya paham betul, ia sudah mengalami tempaan yang mengharuskan ia melakukan nasihatnya terlebih dahulu, sebelum menyampaikannya pada saya dan rekan-rekan lain.
Maksud saya, saya tahu benar bahwa Andrian punya integritas; tidak lagi sekedar cuap-cuap berteori, apatah lagi ‘ngemeng’ dalam konsepsi-konsepsi yang hebat tapi kosong implementasi.
Dan tak jarang saya teringat pada kata-kata Ali bin Abi Thalib,
“Lihat apa yang dikatakan. Jangan lihat siapa yang mengatakan”.
Dalam pengamatan saya, terkadang Andrian yang nasrani itu jaaauh lebih konkret mengaplikasikan teori sikap positif daripada saya yang notabene muslim ini, yang kesemua konsepnya sudah tercakup dalam ajaran Islam, terdokumentasikan dalam Al Qur’an, dan juga sudah dicontohkan lebih dulu oleh Rasulullah saw, sang teladan sepanjang zaman.
Sayangnya, saya pribadi terkadang masih sulit bersikap positif, dan naasnya, banyak muslim yang saya temui sehari-hari, juga demikian! Jago bicara soal konsep ukhuwah, tapi bergesekan sedikit dengan saudaranya, jadi sangat mudah kecewa. Pandai menyitir ayat tentang mengubah keadaan diri sendiri, tapi amat sangat minim aksi.
Jika Mario Teguh mengibaratkan Islam sebagai tipe komputer tercanggih dengan software terlengkap, dan agama lainnya sebagai tipe komputer yang tidak selengkap dan secanggih Islam, maka tak lebih, saya hari ini belajar dari Andrian yang nasrani dengan segenap kemanusiaan saya.
Ceceran hikmah itu ada pada fithrah Andrian yang hanif.
Lurus. Bening. Dan cahayanya tak padam-padam, malah akan terus bersinar.
Mengomentari hal ini, rekan bisnis saya yang lain malah berkata,
“Itulah bedanya. Andrian itu seperti mutiara. Sayangnya, ia masih berada di lumpur dan belum menyadarinya.”
Kita yang muslim, mungkin memang berlian.
Tapi coba pikirkan. Betapa seringnya kita sibuk menggores diri sendiri, membiarkannya cacat dengan perilaku negatif dan bukannya malah memancarkan cahaya…
Big thanx to Pak Andrian atas nasihat dan inspirasinya :)
~Monday, 10.11.08, 08:24am.
thx soo much. maaf ndak ijin yo..
Diposkan oleh Indra Fathiana di 11/10/2008 0 komentar
Nov 7, 2008
Buat Apa Nge-blog???
Bismillah.
Pertanyaan itu sudah terpikirkan sejak lama sebenarnya. Buat
apa nge-blog? Tapi kemudian mencuat lagi setelah perbincangan saya dengan seorang teman beberapa waktu lalu. Saya bukan pemantau rutin blog beliau. Ketika saya menanyakan perkembangan blognya, dengan mimik serius dia mengatakan, ”Blog saya sudah saya hapus,”.
Lho, mengapa?
”Blog jadi menimbulkan banyak fitnah... gak ikhlas, takut riya’ dan merasa bagus...” demikian ujarnya.
Alasan dibalik itu yang kemudian membuat saya berpikir.
Saya sudah gelisah sejak lama. Apakah saya harus berhenti menulis? Apakah secara ekstrim saya hapus saja jejak-jejak eksistensi saya dalam bentuk tulisan yang ada? Apakah saya lebih baik tidak usah menuangkan pikiran dan mengenyahkan aktualisasi diri serta turunannya?
Teringat saya tiba-tiba pada perkataan Fudhail bin Iyadh. Ujarnya, "Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya', sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan. Adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya," (Maksud beliau adalah apabila ada seseorang meninggalkan amal kebaikan karena takut riya', seperti dia tak mau shalat sunnah karena takut riya', berarti dia sudah terjatuh pada riya' itu sendiri. Yang seharusnya dilakukan adalah tetap melaksanakan shalat sunnah walaupun di sekitarnya ada orang, dengan tetap berusaha untuk ikhlash dalam amalnya tersebut.Lihat Tazkiyatun Nufuus karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid, hlm.17, dengan beberapa perubahan).
Saya tahu blog memang berpotensi menimbulkan fitnah (keburukan –red). Bentuknya bisa macam-macam. Mulai dari fans lawan jenis, musuh, penyakit hati, dan lain-lain. Tapi, blog juga berpotensi bessssarrr sekali dalam menyebarkan pemikiran, me-leading kognisi, dan bahkan juga menciptakan budaya menulis yang kreatif, segar, imaginatif, yang kesemuanya saya maksudkan dalam bingkai yang positif. Setuju apa setujuuu...? :)
Nah, ujian berikutnya muncul dari komen para pembaca tulisan kita. Katanya, blog yang bagus pasti banyak pengunjungnya. Logika ini juga berlaku dalam seberapa banyak jumlah komentator tulisan-tulisan yang kita posting.
Pertanyaan saya, apakah benar banyaknya komentar mengindikasikan bahwa tulisan kita bagus? Dan sebaliknya, apakah sedikit atau tidak adanya komentar juga menandakan bahwa tulisan kita buruk?
Ah, kalau parameternya sesederhana itu, betapa kasihannya saya dan mereka yang menulis hanya untuk mengharapkan komentar dari orang-orang :)
Lagi-lagi saya teringat pada hadits yang tak pernah usang dibahas ini. "Sesungguhnya amal itu tergantung niat.....” (Hadits Bukhari Muslim dengan sanad yang shahih).
Nah, sebagai muslim, tentu saja kita ingin apapun yang kita lakukan bernilai ibadah. Berwujud amal sholih. Wong aktivitas mandi yang sesepele itu juga bisa bernilai ibadah kok. Kan menjaga kebersihan merupakan sebagian dari iman... (wah, kalau selama ini kita mandi cuma begitu aja gak pake diniatin buat ibadah, sayang banget ya..).
Apalagi menulis yang niatnya menyebarkan nilai-nilai positif dan berbagi pada sesama.
Yang sangat memprihatinkan buat saya, sejak awal ngeblog, saya tidak pernah habis melihat postingan-postingan yang isinya hujatan dan caci-maki. Rasanya kalau masuk ke blog itu, energi saya terserap begitu banyak. Pulang dari sana, hati saya mendadak jadi capek luar biasa.
Dulu saya juga pernah komplain dengan seseorang sambil menyebut namanya di blog saya. Berharap dia membaca, malu karena keburukannya saya kupas, dan kemudian saya berharap para pembaca berpihak pada saya. Saya sungguh puas!! Tapi saya sudah menyakiti orang lain dan juga menyebarkan kebencian padanya.
Adalah aman bagi saya jika ia adalah orang yang pemaaf. Tapi bagaimana jika tidak? Bagaimana jika di hari kemudian ia menuntut saya, lantas amal kebaikan saya berpindah kepadanya?
Tak sedikit pula yang mengomentari fenomena sehari-hari, lalu menuangkan opini negatifnya atas fenomena tersebut, lalu memancing sekian banyak komentator yang tak kalah negatifnya. Duhhh... rasanya dada saya jadi sesak setelah berkunjung ke blog itu.
Apalagi kalau isi maupun komen-komennya diimbuhi dengan hujatan, caci-maki, perasaan tak suka, atau kata-kata kotor, yang terekspos sedemikian rupa. Jengah!!
Jika kita memang tulus untuk mengingatkan, mengapa tak langsung saja menyampaikannya kepada yang bersangkutan? Apakah kita juga suka jika orang lain mengingatkan atau membuka aib dan kesalahan kita di depan khalayak ramai?
Rasa-rasanya saya tak yakin ada di antara kita yang menyukainya.
Lagi-lagi saya mengurut dada. Semua kembali pada niat masing-masing. Jika tidak bisa menebar manfaat, semoga kita tak perlu menjadi mudharat. Jika tak bisa menyemai kebaikan, semoga kita juga tak perlu menjadi sumber munculnya keburukan.
Dan barangkali kita juga perlu waspada. Jangan-jangan, perbuatan yang selama ini kita anggap baik, ternyata sama sekali tak bernilai!
Alih-alih merasa bangga bersinar di hadapan manusia, ternyata kita tak lebih dari seonggok sampah di hadapan-Nya...
Dan merugilah kita... merugilah kita...
~mengingatkanDiriSendiri...
Mohon maaf buat yang sudah terzhalimi selama saya ngeblog ya :’(
Thursday, 6.11.08, siang2 gitu deh ngetiknya...
thx to : http://ghuroba.blogsome.com/2007/05/23/ikhlas-betapa-sulitnya/
pic from http://www.latinonutrition.org/Resources-LinkstoOtherOrganizations.htm
Diposkan oleh Indra Fathiana di 11/07/2008 3 komentar
Nov 3, 2008
Through The Rain
When you get caught in the rain with no where to run
When you're distraught and in pain without anyone
When you keep crying out to be saved
But nobody comes and you feel so far away
That you just can't find your way home
You can get there alone
It's okay, what you say is
I can make it through the rain
I can stand up once again on my own
And I know that I'm strong enough to mend
And every time I feel afraid I hold tighter to my faith
And I live one more day and I make it through the rain
And if you keep falling down don't you dare give in
You will arise safe and sound, so keep pressing on steadfastly
And you'll find what you need to prevail
What you say is
I can make it through the rain
I can stand up once again on my own
And I know that I'm strong enough to mend
And every time I feel afraid I hold tighter to my faith
And I live one more day and I make it through the rain
And when the rain blows, as shadows grow close don't be afraid
There's nothing you can't face
And should they tell you you'll never pull through
Don't hesitate, stand tall and say
I can make it through the rain
I can stand up once again on my own
And I know that I'm strong enough to mend
And every time I feel afraid I hold tighter to my faith
And I live one more day and I make it through the rain
I can make it through the rain
And I live once again
And I live one more day
And I can make it through the rain
(Yes you can)
You will make it through the rain
(Through The Rain - Mariah Carey)
-----------------------------------------------------------------------------
Sebenarnya udah lama tau lagu ini... Tapi akhir2 ini dengerin lagi. Dan baru mencerna liriknya, ternyata bagus!
hmmm....
gbr dari http://duajuta.com/category/keajaiban-al-quran/
Diposkan oleh Indra Fathiana di 11/03/2008 0 komentar
Oct 24, 2008
Jilbab Panjang atau Pendek, Hayoo...
bismillah...
Jilbab?
Pake yang panjang atau yang pendek ya...
Yang panjang aja deh.
Hayo...niat pake yang panjang buat apa nih...
Biar dibilang 'akhwat solehah'-kah...
atau biar gak keliatan bentuk tubuhnya...
atau biar keliatan lebih anggun, lebih santun, lebih cewek...
atau biar dibilang lebih pinter agamanya daripada yang jilbabnya pendek...
atau biar lebih cantik...
atau biar apa hayoo...
***
Sesungguhnya yang paling saya takutkan pada kalian adalah syirik paling kecil” Para sahabat bertanya : “Apa yang dimaksud syirik paling kecil itu?”
Beliau menawab : “Riya`”
(HR Ahmad no 22742 dan Al Baghawi.
Syekh al Albani berkata : sanadnya baik (jayyid) (lihat Silsilah Hadits Shahihah no 951)
~jeweranBuatDiriSendiri
Friday, 24.10.08, 10:09pm
http://astynich.multiply.com/journal/item/18?&item_id=18&view:replies=reverse
udah ijin donk...
Diposkan oleh Indra Fathiana di 10/24/2008 10 komentar
Oct 19, 2008
[no title]
Diposkan oleh Indra Fathiana di 10/19/2008 0 komentar
Label: Hearts
Oct 9, 2008
Syahid
Bismillah…
Anda tahu raket listrik untuk mematikan nyamuk?
Lepas musim kemarau menuju penghujan, biasanya nyamuk-nyamuk bermunculan di rumah. Dulu saya mengusir nyamuk-nyamuk itu dengan sempyok, sebutan untuk sapu lidi yang agak ceper, yang biasa digunakan untuk membersihkan kasur. Belakangan ternyata lebih mantap dengan menggunakan raket listrik. Karena sekali kibas, biasanya nyamuk itu akan menyangkut di raket karena tersetrum.
Malam itu saya memperhatikan si nyamuk tersetrum sedemikian rupa.
Seluruh tubuhnya, dari kaki, sayap hingga badan, lumat dialiri listrik sampai benar-benar gosong. Lalu dengan serta-merta pikiran saya melanglang buana, berempati terhadap si nyamuk yang
Bagaimana rasanya jika saya ada di posisi nyamuk tersebut?
Terjerat tak bisa lepas dari jaring raket yang besar, lalu tersetrum berulang kali sampai tubuh ini hangus menjadi rangka. Sempat suatu kali saya tersetrum raket itu sekilas, dan rasanya lumayan sakit.
Dan Anda tahu?
Saya sedang memikirkan daya listrik macam apa yang mungkin disediakan neraka di hari akhir nanti. Saya sedang memikirkan, mungkin seperti itu pula kondisi saya saat disiksa: tak bisa melarikan diri, meronta tapi percuma, dan sisanya hanya tinggal tulang-belulang atau mungkin debu beterbangan.
Di film Volcano, visualisasi saya tentang neraka jauh lebih tergambar. Camouran api dan batu yang dimuntahkan gunung berapi, niscaya mampu membuat rangkaian tubuh kita lumer dalam sekian puluh menit. Itu api dunia. Lalu bagaimana dengan api neraka?
Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi Saw bersabda,
"Sesungguhnya siksa dalam neraka Jahim ialah dituangkan air yang mendidih di atas kepala orang-orang yang durhaka itu, kemudian terus masuk ke dalam sehingga menembus ke dalam perut mereka, kemudian keluar segala isi yang ada dalam perut itu sehingga tampak meleleh dari kedua tapak kakinya. Ini semua cairan yang berasal dari isi perut. Selanjutnya dikembalikan lagi sebagaimana semula".
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan sahih.
Seringkali, dalam keseharian yang nampak sepele, saya membayangkan bagaimana nasib saya di akhirat kelak. Tidak usah jauh-jauh. Saat menuangkan air mendidih dari ketel ke termos, biasanya imajinasi saya langsung berlari kepada bayangan tentang neraka ketika melihat dan merasakan uap dari air di ketel yang sangat panas. Uapnya saja panas, sobat. Apalagi airnya! Dan itu baru dunia, bukan neraka!
Ketika bersinggungan dengan hal sepele macam itu, entah raket nyamuk, ataupun air mendidih, misalnya- hati saya selalu tergetar. Lalu pesimisme menyeruak tiba-tiba dan rasa takut mencuat tanpa diminta. Mengingat dosa saya yang banyaknya masya Allah, saya pesimis bisa langsung ke surga tanpa masuk neraka terlebih dahulu.
Betapa menjijikkannya saya ini…
Betapa tak terhitungnya kesalahan yang sudah saya perbuat... :’(
Saya tak merasa pantas membandingkan dengan titik-titik ekstrim lain, semisal masih ada pembunuh yang mungkin lebih berat daripada saya yang alhamdulillah belum pernah membunuh orang. Ini bukan soal perbandingan siapa yang lebih banyak dosanya. Tetapi saya sedang bicara tentang hukuman apa yang akan saya terima atas kesalahan-kesalahan yang saya anggap cukup besar bagi saya.
Bicara soal amal, benar bahwa kita mungkin juga melakukan kebaikan. Tapi yakinkah kita amal-amal itu dilakukan dengan benar dan ikhlash? Seberapa besar ia akan diterima? Seberapa banyak ia akan menjadi pemberat timbangan ?
Maka saya –selain memohon ampunan dan masih jua berharap pada kemurahan-Nya- berharap pada jalan lain yang bisa meloloskan saya dari siksa akhirat itu.
Jawabannya hanya satu : syahid.
Ya, meninggal dalam keadaan syahid; ridha lagi diridhai.
Hati saya merinding acap teringat kata yang satu itu.
Betapa agungnya. Betapa bahagianya. Betapa mulianya.
Siapa yang tidak ingin menemui Robb-nya dengan jalan yang mulus, dengan lapang dan gembira ria, diliputi sukacita dan haru-biru menyongsong surga?
Tapi... saya… pantaskah?
Untuk menjadi syahid, ada beberapa kemungkinan.
“Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga)" (HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi).
Dari Jabir bin Atik dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda: “Syuhada itu ada tujuh selain orang yang gugur berperang fi sabilillah ( di jalanAllah) yaitu: [1] Orang yang mati ditusuk adalah syahid, [2] mati tenggelamadalah syahid, [3] mati berkumpul dengan istri adalah syahid, [4] matisakit perut adalah syahid, [5] mati terbakar adalah syahid, [6] mati tertimpareruntuhan adalah syahid dan [7] wanita yang mati melahirkan anak adalahsyahid”. [Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, dan Hakim dalam kitab Mustadraknya dengankomentar hadits ini sanadnya shahih. Pendapat ini di setujui oleh Adh-Dhahabi]
Tak terbayang di benak saya seperti apa ketika berhadapan dengan musuh Allah, langsung wajah dengan wajah! Indonesia rupanya cukup memberikan zona nyaman yang membuat saya bahkan tak mampu merasakan hawa medan perang yang membuat mata dan hati terjaga senantiasa, insecurity yang mengharuskan kita tegang setiap saat, dan semacamnya. Walau Palestina cukup konkrit menggambarkan situasi perang, tetapi saya masih belum bisa membayangkan berada dalam suasana itu.
Begitu juga dengan wabah penyakit, kolera, dsb. Saya pikir itu musibah, sesuatu yang menimpa. Terlalu naïf rasanya jika meminta musibah. Apalagi disongsong, disambut dengan
riang-gembira. Kesempatan ini bagi saya juga lumayan kecil peluangnya.
Satu hal yang merupakan peluang besar yang bisa saya ambil adalah… meninggal saat bersalin dan melahirkan anak.
Sungguh, saya tidak tahu lagi dengan cara apa bisa terhindar dari amuk dan dahsyatnya siksa neraka atas dosa-dosa saya, jika tidak dengan mati syahid.
Bolehkah saya berharap?
Oh, rindu itu demikian menggelegak di dalam sini!
Untuk Robb-ku, apapun akan kulakukan!
Jadi bolehkah saya bersiap?
Jika benar terjadi, niscaya akan saya dorong suami saya kelak untuk mencari ibu pengganti bagi anak-anak kami.
Didiklah anak itu dengan cinta, Suamiku. Jadikan ia himpunan keshalihan yang akan menghantarkan doa agar aku dan dirimu meninggi derajatnya di hadapan Pencipta kita. Jadikan mereka benih yang akan menyuburkan bumi Allah ini, dan tumbuh-kembangkan mereka sebagai pembela-pembela agama-Nya…
Ya.
Saya tidak tahu lagi dengan jalan apa.
Tapi sungguh…
Saya juga ingin menyongsong kemuliaan sebagai penutup kehidupan saya di dunia yang fana ini… dan mungkin, meninggal saat memperjuangkan kelahiran buah hati adalah momentum serta kesempatan yang bisa saya raih!
Ya Allah, Engkau tahu luapan rindu di dalam sini…
Engkau tahu bagaimana harap dan cemas atas dosa dan amal selama ini…
Maka perkenankanlah… matikanlah kami dalam syahid… dalam keadaan ridha pada-Mu… dan Engkau pun meridhai kami. Aamiin…
Thursday, 09.10.08, 12:16pm
pics from:
en.wikibooks.org/wiki/
blog.licasdigital.com/
www.dreamstime.com/
Diposkan oleh Indra Fathiana di 10/09/2008 3 komentar






