Feb 6, 2016
Jurnal Harian Anak
Diposkan oleh Indra Fathiana di 2/06/2016 0 komentar
Label: Parenting
Jul 7, 2015
Menanamkan Tauhid pada Anak
Kuliah Akademi Keluarga Parenting Nabawiyah Angk. 3 Pertemuan ke-3
👨🏻 Ust. Rofiq Hidayat, Lc
✏ Resume : Indra Fathiana
🌾Tema ini sangat penting ketika kita sudah sepakat bahwa standar kebahagiaan hidup yang kekal nan tidak fana adalah menjalani ketetapan dan ridho Allah. Hidup sesuai dengan aturan Allah, tidak peduli dengan celaan dan pujian manusia.
🌾manusia ditempatkan di dunia karena kesalahan, tapi dunia adalah fase penentuan apakah kita akan kembali ke surga atau malah ke neraka karena kita durhaka
🌾Misi hidup seorang muslim adalah BERIBADAH (qs. Adz Dzariyat 56)
Ibadah di sini berbentuk kata kerja, mewakili aktivitas yg hari ini sedang berlangsung dan akan terus berlangsung di masa depan sampai waktu yg tak ditentukan. Ia BERKESINAMBUNGAN sejak manusia ditaklif (saat bersaksi di alam ruh) sampai ia wafat nanti.
So seorang muslim seharusnya tidak menyisakan sedikitpun aktivitas di dunia ini melainkan untuk ibadah. Sehingga apapun yg dilakukan manusia berpotensi menjadi ibadah, jika kita PAHAM ILMUnya. (kecuali maksiat pada Allah). Dan ibadah itu bukan sekedar shalat, mengaji dan hal2 lain yang mengalami penyempitan makna.
🌾Tugas dalam hidup : menjadi KHALIFAH
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (Qs. Al Baqarah : 30)
🌾Tugas ini dibagi menjadi 2 :
1) hubungan dengan Allah (hablumminallah)
2) hubungan dengan manusia (hablumminannas)
🌾Jalan Takdir Kehidupan🌾
Qs. Asy Syams 7-10
➡ ayat 7-8 adlh wilayah ketuhanan, dan ayat 9-10 adlh wilayah manusia
Allah hanya memberikan kecenderungan pada manusia untuk memilih, namun manusialah yang memutuskan dan selayaknya tidak menjadikan takdir sebagai legitimasi atas pilihan buruk yang kita ambil.
🌾Dari paparan ini sejatinya kita memahami bahwa konsep hidup seorang muslim telah ada dan tak perlu dirumuskan lagi, yakni yang tertuang dalam syariat. Begitu juga dengan konsep masa depan di akhirat, jalan utk meraih kebahagiaan hidup, serta jalan untuk menuju kehidupan abadi yang diridhoi.
✨ "Hai orang2 yang beriman, bertakwalah pada Allah dengan sebenar2 taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali2 kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam" Qs. Ali Imron :102
➡ tetaplah dalam fitrah sejak janji tauhid itu diikrarkan.. Qoolu balaa syahidna
🌾Asas Pendidikan Islam 🌾
Qs. Al Baqarah 1-5
➡ Allah menyebut Al Qur'an sebagai kitab yang tiada keraguan padanya dan menjadi petunjuk.
Jangan pernah sama sekali meragukan apa yang terdapat dalam kitab.
➡ Visi pendidikan adalah menjadi orang yang muttaqin/bertaqwa. Sedangkan pelajarannya adalah tentang keimanan (al ghoib), syariat, islam, konsep bermuamalah sesama manusia.
➡ Yang diajarkan pertama pada anak adalah keimanan, kemudian syariat (sholat dll). Bangun keimanan anak dan hak-hak yang harus ditunaikan kepada-Nya, atau dengan kata lain, membangun keshalihan pribadi. Setelah itu baru membangun keshalihan sosial dengan menafkahkan sebagian rejeki.
🌾 Konsep Pendidikan Al Qur'an 🌾
🔹Asas : Al Qur'an sebagai referensi utama
🔹Paradigma berpikir : keyakinan tanpa ragu sedikitpun ttg seluruh isi Al Qur'an
🔹Misi : menjadikan Al Qur'an sebagaj petunjuk hidup
🔹Visi : melahirkan generasi yang bertaqwa
🌱Rousseau mengatakan bahwa anak tidak layak dikenalkan dengan ketuhanan kecuali jika telah mencapai usia 18 tahun. Kita mungkin tidak terima. Yang dikhawatirkan adlh kalau kalimat ini dimodif dan dikemas dengan penelitian, kemudian disodorkan dg sangat logis. Anak2 tidak boleh dikenalkan dengan konsep yang abstrak, yang celakanya sering disamakan dengan hal goib.
Padahal mengimani yang ghoib dalam Islam merupakan hal penting dan berbeda dengan konsep abstrak yang dimaksud Rousseau.
🌱 Penanaman tauhid mrpkn pondasi terpenting di dunia pendidikan Islam, pondasi semua kebesaran Islam dan muslimin. Jangan sampai terbalik, kita sibuk mengajarkan semua permainan edukasi sejak usia dini, dunia IT, baca tulis hitung bahkan bahasa asing, tetapi tidak mengajarkan tauhid.
🌾Urutan Menanamkan Tauhid 🌾
Menurut Al Ghazali, tahapan menanamkan tauhid pd anak adalah:
1. Al Hifdz - dihafal ➡ 2. Al Fahm - difahami ➡ 3. Al I'tiqod - ikatan ➡ 4. Al Iqon - keyakinan ➡ 5. At Tashdiq - pembenaran
"Jundub bin Junadah –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Kami telah bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari IMAN sebelum belajar AL QUR'AN, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (HR. Ibn Majah dan disahihkan oleh al-Albani)
1⃣Al Hifdz : Menghafal
Yaitu membacakan berulang-ulang hingga anak2 hafal dan bisa mengucapkannya.
"Siapa Tuhanmu? >> "Allah"
📗📗 cek metode tanya-jawab mengajarkan tauhid sejak dini di buku Ta'limush Shibyan at Tauhid - Muhammad bin Abdul Wahhab
❗Ajari anak menghafal konsep2 keimanan meski mereka belum paham benar arti dan kandungannya, karena akal mereka belum sampai. Di masa ini kita belum perlu memaparkan dalil, nanti akan ada waktunya.
Dalam kitab Ihya' Ulumiddin, Al Ghazali memulainya dengan menjelaskan tentang sifat sempurna Allah. Kemudian dilanjutkan dengan rukun iman; kehidupan setelah kematian, adzab kubur, mizan, shirath, hisab, surga dan neraka, syafaat. Selanjutnya tengang keutamaan para sahabat Nabi, urutan sahabat setelah Nabi secara kemuliaan dll.
✨ Teknis tahap Menghafal (Al Hifdz)
1. Mulai dengan TALQIN (membacakan berulang2 hingga anak hafal dan bisa mengucapkannya)
2. PENGUATAN dengan pemahaman ilmu tauhid dari Qur'an dan Hadits, sibukkan dengan ibadah dan duduk dengan orang2 shalih, takut kepada-Nya, tenang bersama-Nya
3. Jauhi pengajaran tauhid versi filsafat.
Allah melapangkan awal pertumbuhan anak-anak untuk masuknya iman tanpa ada kebutuhan dan bukti. Namun hal ini membutuhkan penguatan dan penetapan dalam jiwa anak dan juga orang awam agar teguh dan tidak guncang.
❓Bagaimana caranya??
➡ dengan tilawah Qur'an dan tafsirnya, membaca hadits dan memahami maknanya, sibuk dengan tugas ibadah.
🌾Agar Anak Berinteraksi Baik dengan Allah 🌾
(Dari tesis DR. Adnan Baharits)
1⃣Menghidupkan Fitrah
🔹yaitu menjaga dan menyirami fitrah anak agar ia terus tumbuh subur.
🔹Fasilitasi anak dengan hal2 yang mendekatkan mereka pada fitrahnya
2⃣ Mengenalkan nikmat-nikmat Allah
🔹ajak anak mengamati/mentadabburi ciptaan2 Allah (lihat, perhatikan, analisa, simpulkan, bersyukur)
"Allah-lah yang menurunkan hujan dan menumbuhkan biji-bijian.."
Ajarkan terlebih dahulu bahwa hujan diturunkan Allah, baru ajarkan proses terjadinya.
🔹 ajak anak mengingat nikmat Allah dan sibuk mensyukurinya. Qs. Fathiir : 3
3⃣ Muraqabatullah ~ merasa diawasi Allah
❓Bagaimana cara mengajarkan pada anak?
➡ dialog iman tentang Allah Maha Melihat >> tidak boleh bohong, nanti Allah marah. Dsb.
🔹Selalu merasa dalam pengawasan Allah
🔹Takut bermaksiat walau sendirian
🔹Semua perbuatan dan perkataan pasti tercatat
🔹Takut akan datangnya hari ketika mulut terkunci dan semua anggota tubuh berbicara
Qs. Luqman : 16
cek kisah Umar bin Khattab yang menguji seorang anak penggembala domba untuk menjual dombanya dan anak ini bertanya, "Dimana Allah?"
4⃣ Membiasakan Ibadah2 Wajib
Dengan beribadah, anak berlatih langsung untuk menanamkan tauhid uluhiyyah.
🔹Iman ibarat batang pohon, ibadah seperti akar dan pondasi yang menopangnya.
➡ iman perlu tegak dengan hal2 yang tak terlihat namun kokoh dan menguatkan. Jadi ajarkan anak beribadah bukan dengan iming-iming dari kita, tapi tanamkan dengan keimanan pada Allah. Tidak apa2 jika reward hanya sekedar stimulus, tapi terus ingatkan bahwa kita beribadah untuk mendapatkan ridho Allah. Karena jika ibadah selalu kita ajarkan secara transaksional, maka imannya mudah rapuh dan hancur hanya karena ujian yang kecil-kecil. (lihat Qs. Al Fajr : 15-16).
🔹Sholat sebagai ibadah wajib
"Perintahkan anak2 kalian sholat pada usia 7 tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan di antara mereka tempat tidurnya" (HR. Ahmad dan Abu Dawud-hasan)
➡ sebelum 7 tahun sudah dikenalkan/diajak, 7 tahun diperintahkan dan dipolakan seperti orang dewasa (rapi pada rukun, syarat dan khusyu'-nya), dan di usia 10 tahun bisa jadi tak perlu ada pemukulan.
❗Perhatikan, pemukulan hanya untuk pelanggaran syariat, khususnya sholat.
➡ Jika anak terbiasa beribadah sejak kecil, di usia aqil baligh ia akan terbiasa melakukannya. Namun jika saat baligh baru diajarkan, anak akan menganalisa dan mempertanyakan alasan dan orangtua akan sibuk menyiapkan reward (otak kritis anak berkembang di usia baligh -pen). Anak akan beribadah untuk menyenangkan orangtua dan bukan karena Allah.
❗Peran orangtua :
Selalu mencontohkan apa yang benar ➡ Keteladanan ➡ Kewibawaan ➡ Perintah yang selalu ditaati
✨ Beri peringatan dan nasehat ➕beri teladan ➕ serahkan pada Ahlinya (berdoa, tawakkal 'alallah).
5⃣ Kisahkan Indahnya Keimanan
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal" (Qs. Yusuf : 111)
➡ sebagian besar isi Al Qur'an yang merupakan petunjuk hidup adalah kisah. Maka kita bisa tiru metode Qur'an ini (berkisah) dalam mendidik anak. Sampaikan kisah yang detil dan jelas targetnya untuk penaaman tauhid.
🔹kisah Qabil-Habil🔹kisah 3 orang yang terjebak di goa🔹kisah Juraij dan ibunya🔹kisah Abu Hurairah dan setan🔹kisah Bilal bin Rabbah 🔹kisah Ashabul Kahfi 🔹kisah kesabaran Nabi Ayyub🔹kisah Nabi Yusuf as.
6⃣ Kisahkan Indahnya Surga
"Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan (tinggi di surga) yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati manusia" (HR. Bukhari).
🔹Sajikan surga dan neraka secara seimbang, yang dimaksudkan untuk memunculkan harapan dan ketakutan/kewaspadaan.
❗Harus diberi ENDING untuk berharap surga dengan berbagai amalannya, dan menghindari neraka dengan berbagai amalannya. Jangan sampai anak ketakutan, tapi harus kita tumbuhkan sikap optimis dan waspada.
❗Jangan beritakan gambaran surga dengan detil yang tidak ada dalilnya.
Misal, apakah di surga ada es krim? Jawab saja dengan, yang penting kita berusaha agar masuk surga dulu, dan... "di dalamnya, kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta." (QS. Fushilat : 31)
🌴 Nabi mengibaratkan seorang muslim seperti pohon kurma. Akarnya kuat menghujam, gambaran aqidah yang kokoh. Batangnya besar dan kuat, yaitu ibadah. Jika akar tidak kuat, maka batang sekokoh apapun akan guncang dan hancur.
Maka inilah pentingnya menjaga kekokohan aqidah dan keimanan dengan cara :
🔸tahu bagaimana dalilnya
🔸tahu halal-haramnya
🔸responsif melaksanakan perintah-Nya
🔸 tidak transaksional dalam beribadah
🔸bersabar dalam beribadah, termasuk bersabar menunggu terijabahnya doa yang bisa saja ditangguhkan untuk diberikan di akhirat, atau ditunda sampai waktu yang tepat
☀Pertanyaan ☀
❓Bolehkah menjawab pertanyaan anak dengan "tidak tahu" jika kita mmg tdk tahu ilmunya?
✅ Jawaban : Harus.
Jawaban "tidak tahu" termasuk ilmu. Imam Malik bin Anas dan Imam Ahmad pernah menjawab "tidak tahu" saat ditanya hal yang ia tidak tahu.
Pelajaran yang diambil anak2 dari hal ini adalah
(1) jika kita tdk tahu, maka kita menjawab apa adanya, bukan sok tahu.
(2) jika kita tdk tahu, maka kita perlu belajar.
❓Bagaimana mendidik anak agar tidak terlalu menggampangkan sifat maha pengampun Allah, karena bisa saja anak melakukan kesalahan terus-menerus karena ia tahu bahwa Allah Maha Pengampun?
✅ Jawab : tabiat manusia adalah berbuat dosa, dan sebaik2 orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat. Ia salah, mengaku bersalah, dan mensucikan diri kembali.
Anak2 yang menggampangkan sifat maha Pengampun Allah dengan melakukan kesalahan berulang2, jangan2 ada yang salah dengan keimanannya. Cek ayat yang berkaitan dengan orang2 munafik, yg menyebutkan 13 karakter terkait yaitu kejujuran, komitmen, dsb. Nasehati anak agar menjauhi sifat orang munafik tsb.
-end-
Diposkan oleh Indra Fathiana di 7/07/2015 0 komentar
Jun 12, 2015
Royal Jelly Nature
bismillah..
Malam ini saya mencoba pakai Royal Jelly Nature Republic asli Korea, semacam face mask untuk perawatan wajah, khususnya wrinkle care (selanjutnya saya singkat RJNR aja ya biar gak kepanjangan).
Beli atau impor??
Hehe.. enggaklah.. mana mau saya serempong itu :D
Tau-tau pas ketemu Shely ngasih oleh-oleh berupa RJNR itu. Surprised!
Tapi itu face mask nyatanya gak buru-buru saya pakai karena entar-entaran.. yang ga sempetlah, yang nunggu malem ajalah.. trus pas malem ga kesempetan aja. Banyak alesan wkwk... Dan sebenarnya ragu juga sih kosmetik ini halal atau tidak.. hehe. Gak ada label halalnya euy.. akhirnya baca dulu ingredientsnya dan sepertinya gak ada bahan mencurigakan. Jadilah baru malam ini (baca: sebulan setelah dikasih) saya pakai.
RJNR ini bentuknya sachet-an yang pembungkusnya bisa dirobek tangan. Di dalamnya ada selembar face mask berbahan kertas tisu nan basah terlumur royal jelly-nya. Agak lengket *yaiyalah* dan sempat saya cicip sejilat. Hmm.. manis. Hihi..
Seperti ini penampakannya :
Tapi tidak seperti gambar di atas, face mask RJNR ini, bagian hidungnya tidak tertutup. Saya juga penasaran, kenapa ya si hidung ga sekalian aja kena treatment. Padahal di hidung ini kulit muka saya lebih kering dibanding daerah lainnya. Hmm...
Face mask ini cara pakainya simpel banget. Setelah muka dibersihkan, tempelkan kertas face masknya dan tunggu sekitar 10-20 menit. Saya sengaja pakai waktu maksimal supaya efeknya makin maksimal hehe... Setelah 20 menit, saya lepas dan cuci muka dengan air hangat.
Hasilnya, taraa... muka terasa halus dan lembab. Face mask bekas yang sudah saya pakai, saya tawarin ke suami untuk nyoba. Masih ada royal jellynya koook.. *gak mau rugi*. Jorok ga ya..wkwk.. yang penting biar nyobain hoho..
Sensasi halus dan lembab di wajah setelah treatment ini, mirip sekali dengan memakai masker madu. Tapi menurut saya sih masih lebih bagus pakai madu asli daripada masker (face mask) RJNR ini, karena lebih lembab dan kenyal. Madu asli bisa langsung dioles di muka yang sudah dibersihkan, atau dipanaskan dulu (biasanya saya tuang di atas sendok dan panaskan di atas api kompor, lalu oleskan setelah agak dingin).
But anyway, RJNR ini lumayanlah buat percobaan. Efeknya langsung terasa, dan mungkin aja bikin wajah semakin oke jika digunakan secara rutin (saya belum bisa menilai benar-benar bagus karena baru 1x pakai).
Yang jelas, buat yang mau praktis dan gak suka ribet, RJNR sheet ini cocok banget. Apalagi untuk dibawa bepergian, kemasannya yang sekali pakai-buang sangat memudahkan.
Ohya tadi saya sempat browsing juga. Di Indo rupanya banyak yang jual. Ada juga varian tomat (untuk kulit putih dan cerah), mawar, bambu dan timun (untuk kulit lembab). Harganya ada yang jual Rp. 19.500-30.000. Ada juga yang membundling dengan isi 3 varian berbeda/paket, dengan harga Rp. 50.000 sepaketnya. Selamat berbelanja deh ya, gak perlu repot ngimpor lagi karena di Indo sini sudah tersedia.
Sekian review saya, selamat mencoba ;)
gambar dari http://www.dailymail.co.uk/femail/article-2080388/Korean-beauty-trend-Masqueology-set-US-storm.html
Diposkan oleh Indra Fathiana di 6/12/2015 0 komentar
Label: Facial Care, Kosmetik
Mar 26, 2015
Just Write
Kalo aja gak dipaksa-paksa nulis buat blog, kayaknya emang gak bakal jadi tulisan ini. Padahal pas jaman baheula, apa aja bisa ditulis (baca : dicurhatin) daaan ya ampun, gak semuanya penting! *tutupmuka*. Entah kenapa makin kesini rasa-rasanya gak semua hal perlu ditulis di blog. Selain memang ga sempet *alesan* dan minat menulis yang mulai meluntur *salahin sosmed*, alasan lainnya adalah s-e-g-a-n.
Rupanya, salah satu obat untuk mulai rajin menulis lagi adalah blogwalking. Baca-baca tulisan orang, daily life mereka, jurnal teman-teman tentang putra-putrinya, kehidupan di tempat baru, dan lain-lain yang bikin insight bermunculan. Abis itu jadi kepingin nulis deh. Trus update-update aktivitas yang sudah dilakukan. Yah penting gak penting sih. Tapi yang lebih daripada itu semua adalah, terrekam dalam tulisan. Jadi suatu hari bisa dibaca-baca lagi buat jadi kenangan, pelajaran, dan lelucuan aja.. hehe.
Well.. Kalau kebanyakan mikir memang tulisan remeh ini gak akan terposting. Bismillah deh ya, kepingin bisa rutin ngeblog lagi supaya latihan nulis lagi semengalir dulu. Sekalian terapi. Sekalian refleksi. Sekalian dapet banyak temen baru lagi sesama blogger. Sekalian nebar manfaat dan inspirasi. Aaamiin.
Coba kita liat seberapa serius saya mau mulai ngeblog lagi. Hihi..
Namanya juga usaha.. Niat aja dulu. Istiqomah belakangan :p
Diposkan oleh Indra Fathiana di 3/26/2015 1 komentar
Jun 4, 2014
Ketika Si Kecil Tantrum
Rabu, 04.06.2014 - 15:45 wib
~di hari ke-40 adiknya Farah
Diposkan oleh Indra Fathiana di 6/04/2014 1 komentar
Aug 15, 2013
Mutaba'ah Yaumiyah
Bismillah.
Saya menatap lembar berisi kolom-kolom yang selalu diedarkan tiap pekan itu
dengan tatapan tak bergairah. Ada sederet ibadah dengan kolom kosong yang harus
diisi angka. Sholat berjamaah, sholat sunnah rawatib, shalat Dhuha, tilawah
Qur’an, puasa sunnah, qiyamullail, berolahraga, membaca buku, dsb.
Kami, saya dan sejumlah rekan satu pengajian diharuskan mengisi “Mutaba’ah
Yaumiyah” itu, suatu form evaluasi ibadah harian yang akan dipantau oleh
ustadzah kami. Tujuannya tentu baik, agar kami melakukan ibadah-ibadah harian
sesuai standar yang ditetapkan, yang mengacu pada bagaimana Rasulullah SAW dan
sahabat-sahabatnya melakukan. Sebut saja, tilawah Al Qur’an sebaiknya bisa
khatam dalam waktu sebulan, atau secepat-cepatnya 3 hari. Kalau targetnya
sebulan khatam, berarti 1 hari minimal menamatkan 1 juz.
Begitu juga ibadah lainnya. Shalat Dhuha, Qiyamullail, Sunnah Rawatib, kalau
bisa tidak ditinggalkan. Bukan bermakna mewajibkan yang sunah, tetapi mengingat
betapa banyak keistimewaan yang terkandung dalam ibadah-ibadah tersebut, yang
amatlah sayang jika dilewatkan. Apatah lagi dalam kamus seorang “aktivis
da’wah”. Jika yang ia sampaikan adalah da’wah, dan yang mengubah hati manusia
adalah hanya Rabb mereka, maka bagaimanalah mungkin kita tak berdekat-dekat
pada-Nya?
Hati saya masih netral sampai disitu.
Tetapi menjadi agak lemas, kalau tidak boleh dibilang ingin memberontak,
saat mengetahui prestasi ibadah saya diperbandingkan dengan yang lain.
Dalam kelas-kelas belajar di sekolah-sekolah, sistem ranking lambat-laun menjadi basi karena dinilai kontraproduktif. Setiap anak dipacu untuk saling bersaing satu sama lain. Dalam persaingannya, ada saja anak yang iri, “Mengapa harus dia yang jadi juara?”. Dan lalu muncullah keberanian untuk berbuat curang, bahkan ada pula yang diimami sang guru atau dilakukan berjamaah. Lenyap sudah esensi belajar, yang penting angka dikejar, peringkat dikedepankan. Semangat yang terwujud kemudian adalah mengungguli orang lain, dan jika kita telisik selanjutnya akan memunculkan pertanyaan "untuk apa?". Disorientasi tujuan semakin jelas, saat kita bangga telah melampaui kemampuan orang lain, bukan mengungguli diri sendiri.
Saya tidak tahu apakah sistem seperti ini juga perlu diterapkan dalam Mutaba’ah Yaumiyah yang banyak orang lakukan bersama kelompok pengajian mereka. Yang saya tahu, urusan ibadah amatlah personal, antara ia dengan Tuhannya. Kepada manusia, perannya hanyalah sebatas pengingat, mengingati dalam kebenaran, mengingati untuk menetapi kesabaran.
Jika memang dalam soal ibadah juga perlu “buka-bukaan”, saya yakin diperlukan usaha yang lebih keras untuk menjaga keikhlasan dalam melakukan ibadah tersebut. Mengerikan sekali membayangkan syaitan membisiki kita saat melakukan sholat Tahajjud, “ayo lakukan supaya kolom sholat Tahajjud di lembar evaluasi ibadahmu tidak kosong! Dan kamu tidak perlu malu lagi pada ustadzah dan teman-temanmu karena ibadahmu sedikit…”. Na’udzubillah… Na’udzubillah…
Padahal, bukankah telah jelas haditsnya, “peperangan terbesar adalah melawan hawa nafsumu sendiri”, bukan “melawan (hawa nafsu) orang lain?”. Maka mengapa sesuatu yang sangat personal ini kemudian dibawa ke ranah perbandingan antarindividu? Bukankah seharusnya pembanding diri kita sejatinya adalah diri sendiri yang dikonteks-i waktu? “Saya kemarin, saya hari ini, dan saya esok” seyogyanya menjadi ukuran yang nyata jelasnya, apakah dalam lompatan-lompatan waktu itu kita menjadi lebih baik, stagnan atau bahkan lebih buruk.
Maka rekomendasi saya, jikalah sistem pengawasan dari orang lain masih diperlukan untuk membantu capaian-capaian ibadah kita, simpan saja baik-baik formulir itu antara diri kita dengan si evaluator. Cukup. Tak perlu beredar dan kemudian dibuat resume grafiknya, siapa paling tinggi, siapa paling rendah. Karena si paling tinggi mungkin juga berjuang keras mengendalikan potensi rasa ujub atau bangga hatinya pada amal yang telah ia kerjakan.
Itu yang pertama.
Yang kedua, sejauh ini dalam 10 tahun terakhir dievaluasi secara rutin, saya belum pernah mendapatkan pertanyaan yang lebih mendalam dari sekedar torehan angka. Angka membuat saya terpasung, jika saya sudah mencapainya maka Alhamdulillah, tercapai juga standar yang harus dipenuhi. Jika tidak, ya berarti saya harus berusaha lebih giat lagi. Sebatas itu saja. Bagi saya ini memancing perasaan “cukup” dalam beribadah. Padahal orang-orang shalih terdahulu tidak pernah merasa cukup dengan ibadah yang mereka lakukan, dan amat sangat khawatir amalan mereka diterima atau tertolak.
Jadi apa kabar dengan kualitas kekhusyu’an sholat kita?
Apakah sholat Dhuha dan Tahajjud kita masih dilakukan karena tergiur fadhilah-fadhilahnya saja? Lebih parah lagi, sekedar menggugurkan target demi target?
Bagaimana tilawah Qur’an kita? Cukupkah dikejar dengan membaca berlembar-lembarnya, ataukah dengan sejauh mana kita pahami makna ayat-ayatnya?
Bagaimana olahraga kita? Sekedar menyehatkan raga atau menjaga amanah Allah agar lebih optimal mengabdi
pada-Nya?
Sekali lagi, alangkah mengerikannya jika kita terjebak pada kuantitas dan tidak terlalu memperhatikan kualitas amal ibadah. Betapa meruginya saat kita merasa “cukup” dengan target yang ditetapkan, tapi luput memperhatikan seberapa baik kadar kekhusyu’an, kadar keikhlasan, atau kadar ketinggian orientasi pada amalan yang dilakukan.
Maka biarlah kolom-kolom mutaba’ah beredar 4 mata. Kontrol berjamaah yang saya tak pungkiri masih diperlukan, tak perlu menjadi sarana yang berbalik memfasilitasi para syaitan dalam mempermainkan keikhlasan hati, karena disanalah salah satunya, terletak syarat diterimanya amal itu sendiri.
Sesungguhnya telah jelas menjadi teladan, bahwa Ali bin Abi Thalib serta Malik bin Dinar yang kadar shalihnya melebihi kita, begitu khawatir jika amalnya tidak diterima daripada banyak beramal. Karena kita tidak pernah ingin segala rupa ibadah yang kita lakukan, menguap tak berbekas hanya karena selintas perasaan riya’ atau ujub yang berhembus, yang mungkin tanpa sadar kita perbesar peluang kemunculannya..
Wallahua’lam.
Jagakarsa, 15/8/2013, 00:59wib
Diposkan oleh Indra Fathiana di 8/15/2013 2 komentar
Aug 12, 2013
Nasi Bebek
Diposkan oleh Indra Fathiana di 8/12/2013 3 komentar



