"Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina"
(Rahmat Abdullah)
Seperti tak percaya aku mendengar kabar itu: kau sudah pergi untuk selamanya. Dan kenangan demi kenangan berkelebat cepat di benakku, menyisakan satu nama : Rahmat Abdullah.
Kita memang tak banyak bertemu, tak banyak bercakap.
Tapi percayakahkau, aku menjadikanmu salah satu teladan diri.
Kau menjelma salah satu sosok yang kucinta.
Tahukah kau, hampir tak ada tulisanmu yang tak kubaca?
Dan setelahmembacanya selalu ada sinar yang menyelusup menerangi kalbu danpikiranku. Tidak sampai di situ, buku-bukumu selalu membuatku bergerak.
Ya, bergerak!
Kau mungkin tak ingat tentang senja itu.
Tapi aku tak akan pernah melupakannya.
Saat itu kau baru saja pulang dari rumah sakit untukmemeriksakan kesehatanmu.
Aku dan seorang teman menunggumu.
Kami membutuhkanmu untuk memberi masukan terhadap apa yang tengah kami kerjakan. Lalu tanpa istirahat terlebih dahulu, dengan senyuman dan kebersahajaan yang khas, kau menemui kami. Tak kau perlihatkan bahwa kau sedang tak sehat.
Bahkan kau bawa sendiri makanan dan minuman untuk kami.
Lalu dengan riang kau menyemangati kami.
"Ini kebaikan yang luar biasa," katamu.
"Bismillah. Berjuanglah denganpena-pena itu!"
Lalu kami mengundangmu untuk hadir pada acara milad organisasi kecil kami. Sekadar menyampaikan undangan, dan tak terlalu berharap kau datang, karena kami tahu kau sangat sibuk dengan begitu banyak persoalan ummat.
Hari itu, bulan Juli 2002, milad ke 5 organisasi kami: Forum LingkarPena.
Semua panitia direpotkan oleh banyak hal yang harus dikerjakan.
Aku masih sempat bertanya pada panitia: "Adakah yang menjemput PakTaufiq Ismail dan Pak Rahmat Abdullah?"Panitia menggeleng. B
anyak yang harus dikerjakan. Tak ada mobil atau tenaga untuk menjemput.
Sudahlah, pikirku. Pak Taufiq dan Pak Rahmat terlalu besar untuk hadirdi acara seperti ini.
Aku hampir melompat ketika melihat Pak Taufiq Ismail datang sendirian dengan taksi dan menyapa kami riang. Dan aku tak percaya ketika tak lamakemudian kau muncul!
"Ustadz, terimakasih sudah datang. Kami tidak menyangka?," sambutku.
Kau tersenyum. "Saya sudah agendakan untuk datang," katamu.
"Ini acaraFLP. Istimewa."Mataku berkaca.
Ini ustadz Rahmat Abdullah, ia terbiasa diundang sebagaipembicara dalam berbagai acara nasional sampai internasional.
Dan kini ia sudi hadir sebagai undangan biasa!
"Maaf ustadz tidak dijemput. Ustadz naik apa tadi?"
"Naik bis. Tempatnya mudah dicari," katamu biasa.
Kau sempat turut memberikan award dalam acara tersebut dan memimpin doa penutup.
Aku menangis mendengar doa yang kau lantunkan, Ustadz. Kau berulangkali mendoakan agar organisasi kami: FLP selalu bisa melahirkan para pemuda yang tak akan berhenti berjuang dengan pena.
Pada akhir acara, kau turut berjongkok bersama para pemuda lainnya dan menandatangani spanduk yang kami gelar bertuliskan "Sastra untukKemanusiaan."
"Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi," ceritamu.
Hari itu kehadiranmu benar-benar memberi semangat baru bagi kami.
Ustadz, aku selalu mengenangmu sebagai suami dan ayah yang baik dalam keluarga.
Sebagai guru sejati bagi ribuan da'i.
Dan ketika kau terpilih menjadi anggota DPR RI tahun 2004 lalu, tak ada yang berubah darimu, kecuali usaha yang lebih keras untuk membuat rakyat tersenyum.
Dalam keadaanmu yang sederhana, kau tak berhenti memberi zakat dan infaq dari
gajimu.
Kau satu dari sedikit orang yang pernah kutemui, yang sangat
berhati-hati dengan amanah dan berjuang untuk menunaikannya tanpa cacat.
Ah, pernahkah kau meminta tarif untuk mengisi ceramah? Tak ada.
Kau bahkan pernah berkata: "Alhamdulillah ada lagi orang yang mau mendengarkan taushiyah dari hamba Allah yang lemah ini."
Terakhir kali kita bertemu, Ustadz, di sebuah jalan raya, sekitar akhir tahun lalu. Dan aku tak percaya, kau --anggota dewan yang terhormat---masih saja menyetop kopaja.
Kini kau telah kembali untuk selamanya.
Ribuan orang, tak terhingga orang, datang mengiringi untuk terakhir kali, sambil tak henti bersaksi tentang keindahanmu.
Selamat jalan, Ustadz.
Jalan kebaikan dan cinta yang selalu kau tempuhdi dunia,
semoga mengantarkanmu ke gerbang yang paling indah di sisiNya.Amiin.
(Helvy Tiana Rosa)
bismillah.
aku tidak pernah mengenalnya.
hanya tahu saja dari berbagai tulisan yang tersebar di Tarbawi, dan sejumlah buku karya-karyanya. Berhenti Sejenak, adalah satu-satunya buku beliau yang kumiliki saat ini.
aku sama sekali tidak pernah mengenalnya.
andai, waktu itu aku dan teman-temanku memilih beliau menjadi muwajjih untuk bekal perjuangan kami ke depan, tentu aku akan lebih mema'rifahi beliau semakin dalam.
ada setitik semangat yang selalu mencuat begitu selesai membaca coret-coretan rutinnya di Tarbawi.
ada sindirian pedas yang menghujam ulu hati, menggedor jiwa yang tak banyak berbuat.
ada banyak lemah yang berganti kekuatan untuk kembali bangkit dan tersenyum menyongsong hari.
ada bermilyar insight yang mampu membuat diri ini melakukan perubahan.
dan semburat hikmah demi hikmah selalu terpancar dari dirinya.
mbak Helvy benar.
Ustadz Rahmat Abdullah mampu membuat orang lain bergerak.
berubah.
dan tidak hanya diam dalam keterpakuan, kebimbangan, apatah lagi kevakuman perjuangan.
tapi aku tidak pernah mengenalnya.
yang kutahu hanyalah tajamnya analisa, pedasnya kecaman pada orang-orang zholim, santunnya nasihat, dan lembutnya sinar mata beliau.
wajah orang-orang beriman, yang senantiasa memancarkan aura cahaya-Nya,
yang selalu menyejukkan bila dipandang,
yang mampu membuat aku berkaca akan kekurangan diri.
selamat jalan, Ustadz.
berkah dan maghfirah Allah semoga senantiasa tercurah untukmu.
meski aku belum sempat mengenal dan menemuimu di dunia, sungguh, aku berharap bisa berjumpa denganmu di surga-Nya.
~inMemoriamAlm.Ust.RahmatAbdullah~
Jun 17, 2005
In Memoriam Alm. Ust. Rahmat Abdullah
Diposkan oleh Indra Fathiana di 6/17/2005 2 komentar
Jun 15, 2005
Pancake Nyammy
bismillah.
eh... eh...
kemarin aku bikin pancake duonk... enak deh... bikinnya sore-sore...
apalagi kalo maemnya pake teh anget...
aku cuma liat dari majalah di perpus kampus. trus aku copy deh resepnya.
ada yang mau ikutan masak?
ni resepnya.....
PANCAKE
275 gr tepung terigu
375 ml susu kental
2 btr telur
1/2 sd teh garam
1/2 sdt backing powder
(aku tambahin vanila dikit biar wangi)
CARA MEMBUAT:
terigu, garam dan backing powder dicampur jadi satu.
trus tambahin telur sambil dikocok pake kocokan tangan (yg kayak spiral gitu lho).
nah, udah gitu masukin susunya dikit-dikit,
trus diaduk deh sampe rata.
kalo udah, siapin wajan teflon berdiameter 12 cm.
panaskan, tuang sedikit minyak, trus dimasak deh.
jadi, kan?
sekarang, siapin isinya.
tuangin susu kental (boleh coklat, vanila, atau strawberry)
trus ditaburin parutan keju, atau meses.
trus dilipat, dipotong-potong, dan...
dimakan deh.
gampang, kan?
memasak itu gampang, lho, teman2...
asal kita tau resepnya dan yg terpenting, punya ke-mau-an.
sepakat?
kemarin, waktu aku lagi ngopi resep dari majalah, seorang ikhwan senior gak sengaja ngeliat. dan dia tersenyum simpul sambil berkomentar,
"nah, gitu donk. akhwat harus bisa masak. jangan pas udah mau "itu" baru belajar"
aku mengeryitkan dahi. maksud?!
dan dia beranjak pergi sambil meninggalkan pesan.
"bilangin tuh sama ibu-ibu yang laen, belajar masak dari sekarang. jangan udah "itu" baru mau masak".
dahiku semakin berkerut.
yey..... gender....
fitrahnya wanita emang ke dapur dan urusan rumah tangga.
tapi siapa juga yg ngelarang kalo ikhwan bisa masak? ya gak sih?
aku jadi inget temenku, ikhwan di fak lain yang jago bikin bolu coklat.
atau seniorku di psiko yg gape bikin capcay.
atau om-ku yang megang mixer sendiri waktu mau bikin ice cream.
atau seorang ikhwan yg menjelang nikahnya mau belajar masak sayur asem.
sayangnya, ikhwan yg jago bikin bolu coklat ini sempet minder gara2 doyan masak dan jadi mirip kayak akhwat.
so what gitu lho??? ujarku padanya.
justru antum harus bangga punya kelebihan dibanding ikhwan lain. ya, kan?
so, (calon) ibu-ibu dan bapak-bapak, belajarlah memasak dari sekarang.
ntar kita tukeran resep yach!
selamat memasak! ^_^
Diposkan oleh Indra Fathiana di 6/15/2005 1 komentar
Apr 21, 2005
Yang Terbaik Bagimu
Teringat masa kecilku
kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayahdengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati
(ADA Band - Yang Terbaik Bagimu-Jangan Lupakan Ayah)
when the 1st time i heard this song, aku cuma mendengarnya sepintas lalu. terdengar suara cowok-cewek nyanyi.... dan.... ah, palingan juga lagu cinta...
tapi kali kedua mendengarnya dari senandung kecil temanku, aku mulai pasang kuping baik2. "eh...eh...itu lagunya sapa sih?"
the 3rd one dari kamar mas-ku... "waa....musiknya enak..!"
dan begitu aku menyimak liriknya dengan sangat baik, what a great song, sodara-sodara!
lagu ini bagus. menurutku lho ya. kalo yg laen complain, that's your choice. gak maksa ^_^
aku biasa meresapi sebuah lagu dari liriknya. kalau liriknya bagus (=memiliki makna yg dalam), maka aku akan menyukai lagu itu. terlepas dari barat-indo-pop-nasyid, whatever-lah... sebut aja Hero-nya Mariah Carey, u raise me up-nya.... saha etaaa... lupa... trus stay the same-nya Joe (apa Joey?!) McEntyre... nasyid2 Raihan... (yg ini daleemm...), Ramadhan-nya Izis, and so on...
lagu ini... aku suka aja. ya nadanya, ya liriknya. ringan, enak didengar, tapi maknanya dalam. gak kacangan. dan bait demi baitnya membuatku menerawang pada sesosok manusia bernama : ayah.
dulu... duluuuuu...banget.. jaman masih TK dan SD, tiap pekan aku pasti nongkrong di Gramedia matraman sama bapakku. ngapain lagi kalo bukan baca buku gratis disana?! aku merasa begitu beruntung punya ayah yang amat-sangat mendorongku tuk mencintai sebuah aktivitas bernama mem-ba-ca. di rumah, buku2 koleksi beliau sekarang tertata rapi dalam satu etalase kaca yang cukup besar (aku ingat, buku itu sudah aku "tek" buat aku semua kalo aku 'besar' kelak :) --> ni ngomongnya waktu masih SD). dan aku sungguh merindukan masa-masa itu...
dan lagu di atas... membuatku mengenang sluruh jasa beliau. betapa kesabarannya tak mampu kutandingi ketika kumandikan tubuhnya yang kian rapuh kini. betapa kasih-sayang dan cintanya tak mampu kusamai dan takkan pernah bisa terganti. betapa...
ah... bapaak.... (mataku mulai berkaca-kaca)
beliau tak ubahnya seperti bayi sekarang. pekerjaannya hanya makan, tidur, bangun, duduk... stroke menyerangnya sejak hampir 5 tahun yang lalu. segalanya seketika berubah. bapak yang ada sekarang bukan lagi bapak yang senyum manisnya senantiasa ada. bukan sosok gagah yang tiap kali pulang kerja kubukakan pintu, kusambut tasnya dan tak lupa pula buah tangannya. bukan sosok yang begitu setia mengantarku ke sekolah (dulu waktu smu aku masih sering dianterin naek motor). bukan pula lelaki yang siap melindungi keluarganya, ketika marabahaya datang tiba-tiba.
ah... bapaaak....
masih terkenang harapan-harapannya padaku di waktu dulu. "makanya, sekolahnya yang pinter biar dapet beasiswa ke Jerman kayak Habibie..." Dan masih terbayang senyum bangganya ketika predikat juara bertahan keras di raport-raportku.
tapi kini ia terbaring lemah. pekerjaannya tak lebih seputar kamar, ruang tengah, kamar mandi. tidak lebih dari itu. jangankan berjalan-jalan, tersenyum pun tak bisa. jangankan tertawa, menyebut nama anak-istrinya saja beliau seolah lupa.
huhuuu.....bapaaaaaaaakkk......kaangeeeeeeeeeeennnn.......... hiks hiks hiks..... :'(
"robbighfirlii waliwaalidayya...warhamhumaa kama robbayaani shoghiiroo...."
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Diposkan oleh Indra Fathiana di 4/21/2005 0 komentar
Parade Jiwa-jiwa
Sudut perkantoran di bilangan pusat Jakarta, 10.00 wib.
Sesosok gagah menenteng handphone model terbaru di tangan kanannya dan laptop di tangan kirinya. Klimis, berdasi dan berjas rapi parlente dengan kepala sedikit terangkat. Sesekali menjawab suara dari hp-nya yang tak henti berdering. Mencoba mentafakkuri segala aktivitas yang disebutnya sebagai ‘the executive life-style’. Menghabiskan waktu dari satu kafe ke kafe lainnya di tengah gemerlap malam, mencoba memborjukan diri dalam gelimang kehidupan yang tak lepas dari modernitas yang sedikit bablas.
Jalan Raya Kuningan , 12.00 wib.
Kaki kecil gesit berlari menghampiri deretan kendaraan yang berhenti kala lampu merah menyala. Bibirnya mencoba melantunkan sepenggal nada tak beraturan yang dianggapnya nyanyian. Menggoyang-goyangkan kecrekan yang sejak tadi berada dalam genggaman, mengiringi suara sumbang yang lebih mirip rintihan kelaparan. Mengetuk-ketuk setiap kaca taksi, BMW, Altis, Peugeot dan beragam pameran kemewahan yang digelar gratis di jalan-jalan, berharap akan terbuka dan terulur sekeping-dua keping logam recehan.
Kembali ia ke pinggir trotoar di bawah jembatan hitam, mendekati sosok tua ringkih yang sama lusuhnya. Menyerahkan segenggam rupiah dengan wajah pias harap-harap cemas. Dan segera diterimanya caci-maki, sumpah-serapah yang tidak semestinya. Telah menguap nurani bunda yang dulu melahirkan dan kini membesarkannya dalam keras hidup yang damainya tak lagi berpihak. Telah menghilang kasih sayang yang seharusnya melimpah ruah saat usianya menginjak kanak seperti sekarang. Dan tangan berbungkus kulit keriput itu membentur permukaan halus yang dengan seketika dibanjiri air mata. Perih. Sakit. Nyaris tak percaya sang bocah menatap perempuan yang kini tak beda dengan ibu tiri yang sering ia dengar dari kisah klasik jaman dahulu kala.
Pelataran depan Gedung DPR-MPR RI, 14.49 wib.
Hilir mudik ratusan biru, merah, kuning, hijau dan abu-abu almamater berjalan di bawah sengat surya yang garang. Tetes-tetes keringat tak dihiraukan kala teriakan penuh semangat dilepaskan. “Perjuangkan nurani! Perjuangkan kebenaran!”. Menggapai idealisme yang tampak terlalu melangit dan tak mudah dibumikan.
Satu-satu bergilir di podium menajamkan hakikat perjuangan. Menggedor paksa batu-batu bertajuk hati yang kerasnya tak ubah cadas. “Apa gunanya?” tanya mereka yang tak jua paham. “Toh orang-orang di atas sana tak mau dengar,”. Peduli apa. Kami hanya berusaha ketimbang diam tak berdinamika.
Melompat-lompat semangat, berteriak-teriak menentang kezhaliman. Membakar emosi agar membumi ke dasarnya, mencoba resapi arti ketertindasan dan keteraniayaan yang menjadi makanan beratus juta jiwa Indonesia. Pahami hakikat empati dengan sebenar-benar maknanya.
“Ganyang korupsi! Hancurkan arogansi!”
Bara mentari kian didihkan darah yang terus bergejolak. Legam wajah tak dihiraukan, lelah tubuh telah direlakan. Reformasi nyaris mati dan karam kini. Dan jiwa-jiwa pengusungnya tak rela pertiwi terpuruk lagi.
Perbatasan Gaza, 23.59 waktu setempat.
Bayang seseorang tampak tunduk terpekur dalam keheningan malam. Mencoba mencari dan menyusun kekuatan pada sumber Yang Teramat Kuat, mencoba mengais iba pada Zat Tunggal Yang Maha Perkasa. Tersengguk disekanya tetes-tetes yang menggenang dipelupuk kedua mata. Bukan! Bukan tangis kedukaan! Tetapi keterharuan yang memuncak dalam impian akan perjumpaan dengan wajah Kekasih yang dirindukan. Pun pada wangi kesturi kenikmatan jannah Sang Raja Yang Maha Menundukkan.
Diucapkannya basmalah, dan ditanggalkannya berlapis-lapis riya’ yang mungkin masih terpasung di alam bawah sadarnya. Bangkit ia bergegas menyambut seruan Tuhan, dan menggumam perlahan, “Ini untuk ayah-bundaku, adik-kakak-ku, teman-teman seperjuanganku, untuk Al Aqsho, untuk Palestina, untuk Al Islam!”. Mengeras rahangnya menahan degup dendam suci atas tercabiknya tanah kehormatan. Berkilat mata elangnya menyiratkan tekad penuh kesungguhan dan keberanian tak kenal gentar.
Mengendap. Berkelibat di bawah bayang-bayang purnama yang tersaput awan.
Begitu mudah memasuki perbatasan yang dijaga ketat budak-budak hina, sosok-sosok kera berwujud manusia.
Aman sudah. Dan…, “Dduuaaaarrrrrr!!!!!”. Keping-keping usus terburai, cairan tubuh berlelehan, merah darah memuncrat, daging-daging menjadi potongan kecil serupa cincangan.
Jasad itu musnah sudah. Namun ruhnya melayang mengangkasa, djemput cantik bidadari yang tak sempat ditemuinya di dunia. Merengkuh kesucian yang lama dicita-citakan. Dan Sang Cinta Tertinggi beserta singgasana yang mengalir sungai-sungai di bawahnya telah menanti datangnya jiwa. Dunia tidaklah seberapa.
Sudut Kamar dengan Biru Aura, 24. 33 wib
Kututup lembar hari yang baru berakhir. Rebahkan kepala dan mencoba pejamkan mata. Mengenang bergilirnya episode hidup dan kehidupan yang terus berjalan. Dinamis dan tak pernah statis. Meski kadang ia pelangi, atau guntur yang menakutkan terjadi.
Parade jiwa-jiwa hari ini kusaksikan. Dan kupejamkan mata kuat-kuat, menyesali kehidupan sosok muda penuh fatamorgana, berbungkus glamour kesemuan yang memperdaya.
Meraup duka dari ratusan sosok mungil yang bertebaran di jalan-jalan karena terpaksa atau bahkan dipaksa. Menganyam empati atas rasa kehilangan ceria di masa kecil terindah yang harus tiada.
Mengencangkan semangat dan membakarnya demi tegak nurani dan sepadannya perilaku dan kata. Melantangkan kebenaran di hadapan kezholiman penguasa. Bukan menjadi sosok-sosok apatis yang sibuk berkutat di dunia mininya dengan segudang buku bermilyar halaman, atau yang masih bangga dengan klasiknya semboyan , “Buku, Pesta dan Cinta”.
Meresap azzam dan cita para syuhada yang tak pernah rela Al Quds ternoda. Mengumpulkan asa dan keberanian yang tiada terkira. Menjemput maut demi perjumpaan dengan Robb-nya semata.
Kembali kupejamkan mata. Sepenggal parade jiwa-jiwa hari ini usai sudah.
01.00dinihari, 18.11.03
Detik-detik I’tikaf dalam Ramadhan yang Begitu Cepat Melesat..
notes : tulisan ini aku buat 2 taun yg lalu --> http://www.eramuslim.com/ar/oa/3c/8542,1,v.html
Diposkan oleh Indra Fathiana di 4/21/2005 0 komentar
Apr 19, 2005
Menuju Negeri yang Diridhoi
Menuju negeri yang diridhoi negeri syuhada quwwatul iman
Berkendaraan iman kita 'kan datang
bersama keluarga seluruh generasi menuju negeri yang diridhoi
tumbangkan isme-isme jahili
kibarkan panji-panji Ilahi
Ayo pemuda harapan ummat
dengan perahu jihad kita berangkat
buang kecengengan 'tuk cita abadi
membangun sejarah manhaj Islami
Kita bukanlah budak-budak limbah pemikiran
yang buta melahap mode-mode kebinatangan
yang rela kibarkan aurat di jalan-jalan
demi mimpi mereka gadaikan iman
Kita adalah jundi-jundi generasi yang dinanti-nanti
'tuk tumbangkan kediktatoran, ideologi, dan isme jahili
'tuk tegakkan keadilan dalam keteduhan Islam
Dengan busur kesabaran kita 'kan tegak
jinakkan kemiskinan perangi keserakahan
dengan kearifan ilmu kita 'kan bersatu
memberantas kebodohan dan kemungkaran
berderap menuju negeri kemuliaan
negeri syuhada kuatul iman
Ayo pemuda harapan ummatdengan perahu jihad kita berangkat
buang kecengengan 'tuk cita abadi
membangun sejarah manhaj Islami
Kita bukanlah budak-budak limbah pemikiran
yang hidup tanpa persepsi tanpa orientasi
yang pasrah digiring ke sana ke mari
bagai kambing congek yang dikebiri
Kita adalah jundi-jundi khalifah yang dinanti-nanti
dengan ruh jihad ilmu dan izzah, serta harga diri
kita tegakkan manhaj Islamidemi kebesaran Ilahi Rabbi
Ayo pemuda harapan ummat
dengan perahu jihad kita berangkat
menuju negeri yang diridhai negeri syuhada quwwatul iman
Dari hdn.uni.cc (jazakalloh to k'hendra :)
my comments: nasyid ini bagus. menggugah. menyentak. membangkitkan semangat. makanya aku minta ijin sama k' hendra tuk taruh di blog-ku.
ah.... kapankah tiba wujudnya... negeri yang diridhoi Sang Penguasa?
Diposkan oleh Indra Fathiana di 4/19/2005 10 komentar
Apr 11, 2005
3 M
bismillah.
Semalam aku nonton acaranya Aa’ Gym di Anteve. Bincang2 ringan bersama sejumlah tokoh. Kebetulan kemarin lagi bahas tentang televisi dan dunia hiburan di tanah air. Tamu yang diundang, orang yang cukup kompeten di bidangnya, Mas Garin Nugroho dan Ujo. Dengan suasana santai dan mengalir, Aa’ memandu acara itu.
Sejumlah penonton yang hadir disana mengajukan sejumlah pertanyaan.
“Apa sih fungsi badan sensor? Kok lulus sensor tetep aja kayak gitu?”
“Memangnya hiburan yang islami itu seperti apa?”
Dan Mas Garin pun menjawab.
“tentang badan sensor, terus terang pekerjaan badan sensor gak bisa sampai mensensor semua acara televisi. Gak mungkin itu acara tv kita sensor satu-satu. Banyak, banyak sekali. Dan tidak bisa dipungkiri banyak produser yang nakal. Kemudian tentang hiburan islami, menurut saya, film-film yang menampilkan kebaikan pasti islami. Sayangnya di Indonesia yang lebih ditonjolkan hanya kemasannya, bukan content. Ya adegan2 sensual, kekerasan, seperti itu. sedangkan kalau di Barat itu, kekerasan sangat sedikit ditampilkan. Artinya dilihat jam tayangnya. Kalau sore, oh, ini porsinya anak-anak. Sampai jam 9 malam, keluarga. Kalau misalnya ada berita seorang anak menembak temannya, itu Cuma sekilas ditampilkan. Sebentar sekali. Selebihnya gambar anak-anak yang mendoakan bersama-sama, membantu menolong, dan sebagainya.
Kalau kita perhatikan di film-film barat, uang hasil korupsi, rampok, atau kejahatan pasti kalau gak terbakar, dibuang ke laut. Karena orang2 baik gak boleh sampai menggunakan uang haram. Tapi disini , uang korupsi dibagi-bagikan. Lalu coba kita lihat Baywatch saja. Mungkin film itu menampilkan wanita2 berbikini di pantai. Tapi tetap ada unsur kepahlawanannya. Intinya kan menolong orang di pantai, tugasnya penjaga pantai, profesionalisme, tetap ada unsur baiknya. Tapi di Indonesia, lebih banyak sensualitasnya”.
Aku manggut-manggut di depan tivi.
“Ya tapi jangan sampai begitulah di Indonesia, mas Garin....” sergah Aa’ Gym.
“makanya yang seperti itu gak usahlah diobral, diperlihatkan didepan umum. Ada yang bilang, saya punya kebebasan. Ya kalo mau bebas silakan saja di wc. Sendirian, bisa bebas. Tapi kalau sudah ke umum, dilihat orang banyak, tentu saja ada norma yang berlaku. Etikanya harus ada. Ada lagi yang bilang , privasi. Privasi itu kalau sendirian. Kalau sudah keluar ya bukan privasi lagi namanya. Bebas, di wc saja. Mau nungging, jungkalitan, bla.bla..bla..”
Qeqeqeq....aku ngakak.
Giliran Ujo bicara.
“terkadang banyak yang nakal juga. Adegannya diburamkan jadi gak keliatan pas disensor. Tapi begitu ditayangkan, diterangin. Saya pikir susah juga sih ya. Soalnya tv itu gak mau membeli produk yang tidak laku. ‘Ohya, saya mau yang ini, yang begini. Karena yang seperti ini ratingnya tinggi.’ Ya bagaimana? Tv itu kan kalau gak hidup dari iklan, dari sponsor. Kalau ratingnya tinggi, banyak sponsornya. Saya kalau lagi sama temen-temen saya suka ngobrol2, ditanya, ‘Eh kemarin nonton film ini gak, gini..gini...’ saya jawab, ‘Ngapain nonton film begituan? Kampungan. Saya gak pernah nonton film Indonesia.”
Hehe...sepakat, Bang!
Tiba-tiba aku ingat, beberapa tahun lalu, saat masih duduk di semester 3, aku ikut pelatihan jurnalistik di FHUI. Sempat aku ngobrol santai dengan salah seorang pematerinya. Namanya.... Lupa. Yang pasti beliau Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia. Katanya, “Susah kalau kita Cuma mengkritik saja. Kalian kan mahasiswa. Buatlah karya-karya yang lebih baik. Jangan bisanya mengkritik saja, tapi buat tandingannya!”
Selepas pelatihan itu, aku dapat banyak insight. Bener banget, kenapa kita gak coba buat tandingannya yang lebih baik? Kenapa hanya bisa mengkritik? Banyak koq, anak muda yang jago bikin film. Idenya gak kacangan lagi. Bukan yang ecek-ecek bak kacang goreng laris terjual tapi gak padat gizi. Ingat ‘Daun di Atas Bantal’? atau ‘Kiamat sudah Dekat’? Dan gak sedikit film-film mereka masuk festival ini-itu lalu menang.
“Seperti film-nya mas Garin yang... Rindu kami pada-Mu, ya Mas? Wah....saya belum pernah nonton film nangis terus sampai selesai. Ya Allah, begini ini wajah ummat... Pernah saya bilang sama petinggi negara ini, bapak-bapak harus lihat film ini, biar tau bagaimana kondisi rakyatnya. Ngomong-ngomong udah kemana aja tuh Mas?” Aa’ Gym semangat berkomentar.
Ganti Mas Garin menjawab dengan nada merendah, “kemarin diputar di Amerika, lalu besok akan ditonton di Rusia juga...”
Nah, kan!
Sayangnya, aku gak terlalu interest sama film-film-an. Minat aja kurang, apalagi disuruh buat. Tapi ada sih, sejumlah teman yang semangat dengan hal ini. Kalau disuruh membuat tandingan juga, paling2 aku ngisi kerjaan penulis naskah aja. Atau yang bikin cerita. Pokoknya seputar tulis-menulisnya deh. Ada yang mau ngajak?
Well... masing-masing kita, seperti kata Aa’ Gym, harus memulainya dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai sekarang juga. Abis kalau bukan kita, siapa lagi?
Diposkan oleh Indra Fathiana di 4/11/2005 0 komentar
Apr 8, 2005
Pahlawan (1)
Jiwa-jiwa pahlawan tak pernah puas bertarung
Tetapi gelora jihadnya akan haus mengarung juang yang seterusnya dilakukan.
Diposkan oleh Indra Fathiana di 4/08/2005 2 komentar
Label: Thought