Jul 15, 2005

Kenalin...Saudara/i Baruku BPH BEM UI '05-'06

bismillah..

dari blognya nuyi nih...

dari kiri ke kanan, atas: angga fkm, adi fauzan fisip, victa fkm, indah fmipa, anisa a.k.a. icha fik, yuwanita a.k.a yuwa fisip, indra fpsikologi, nuri a.k.a nuy fpsikologi, fachri fhukum, purwa udiotomo a.k.a purwo fteknikbawah: yusuf a.k.a ucup fmipa, iwan a.k.a ustadz fmipa, azman fteknik, oskar a.k.a ocha fekonomi, suryana a.k.a bang sur/ucha/cuya fteknik



angga: staf ahli kemahasiswaan, adi fauzan: korbid poltik, sosial, kemasyarakatan, victa:staf ahli pendidikan, indah:kabiro danus, icha:kabiro kestari, yuwa: kabiro pengabdian masyarakat(pengmas), indra:bendum, nuy:kabiro human resource and organization development center (hro-dc), fachri: staf ahli hukum, purwo: sekum, ucup:kabid sosial politik (sospol), iwan:kabid advokasi dan kesejahteraan mahasiswa (adkesma), azman: ketua bem, ocha:staf ahli ekonomi, cuya:korbid kemahasiswaan...yang ngga ada di foto: wandi (koord.staf ahli), adri a.k.a q-bho (humas), dayat (kabid. kreasi dan edukasi mahasiswa)...




deskripsi karakter (versi nuy and indra ^_^) :

angga: gaul 'n kebapakan, kadang2 sangat emosional, panikan, suaranya gede kayak geledek, doyan becanda.

adi fauzan: ceplas-ceplos kayak orang betawi, sensitif juga, suka ngasal, lucu... the winner of piala oscar dalam drama simulasi tender okk.. (hehe...puas banget gw bisa bentak2 adi waktu itu...)

victa: lucu, suka cengar-cengir, tapi galak, kayak kucing... rajin, care, tapi suka ga mau kalah, satu2nya staf ahli yang paling cantik (ya iyalah.. orang yg lainnya cowok semua...)

indah: straight 2 d'point, profesional, perfeksionis, hard-worker , insting danusnya sangat peka, pejuang danus yang tangguh dan berpengalaman.

icha: putri solo, kongkrit dan tegas, polossss... ibu rumah tangga banget deh. pas banget jadi kabiro kestarinya bem! ingat cha, jangan mau diperintah2 sama purwo!

indra: suka ilang dan suka dicariin, tiada kata boros dalam perjuangan (maklum...bendum), rapih, pandai menulis, galak kalo udah masalah duit...uhuhuhu . hmm.... no comment-lah. tapi katanya purwo, indra itu adalah orang yang mukanya paling enak buat dizholimi. parah kan??????

nuy: inspirator, provokator, lady aristokrat (begitu yg dia tulis di bolgnya sendiri), agak berantakan (kontras banget ama indra-lah pokoknya), insomnia (masih ga sih, nuy?), doyan ke video ezy buat nyewa film, 'feminist' yang sangat mendambakan seorang bayi... (huhuhu....)

fachri: lucu, cupu, suka musik2 tradisional, kayak mojacko, pintar berkelit (maklum anak hukum...), habib-nya bem, suka bersenandung gak jelas, dan cukup berisi ^_^

purwo: penolong, cupu sekaligus lucu, ngayom, kadang2 careless tapi bisa berkorban juga, tong sampah!! tukang nyela, nyolot, cerewet...wet...wet..., bawel, de el el.

ucup: diem tapi (katanya) jago orasi, ngintrik, kadang2 penolong, kadang2 malesss, ngga tegaan, rela berkorban buat aksi (hehe...piss, pak. duitnya saya ganti kapan2 aja yak?)

iwan: lurus kayak jalan tol, kalem, kebapakan, rapih, kongkrit dan tak banyak cakap, target bakal diracuni anak2 (ya tapi gitu2 suka nyela2 juga... apa udah tershibghoh anak2 ya, ustadz?)

azman: gagah, polos, lugu, pandai berkata2 layaknya birokrat, punya beberapa koleksi baju batik yang bagus, rada2 careless, tapi kalo lagi fokus kongkrit abisss... tegas, komit, dan agak puitis (jzk sms taushiyahnya.. bagus lho...)

ocha: fokus, ambisius, penolong, suka kadang2, tegas, ekonom berbakat, dan kalo udah ngomongin peraturan keuangan, tidak ada kata kasihan.

cuya: tua, ngebanyol, betawi abiss padahal bukan, anaknya asik...kayak bapak2 tapi berjiwa muda... (eh, sur, waktu pertama kali liat, kukira dikau angkatan 99an lho...maap yak!)


Posted at 09:31 pm by nuy_the_haidar

Jul 11, 2005

Mari, Berhenti Sejenak...

Kematian Hati
oleh: Alm. KH. Rahmat Abdullah

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.
Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih.
Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.
Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.
Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama.
Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan.
Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.
Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan.
Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap
ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam,
lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur,
sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.
Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih.
Bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid,
lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang.
"Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka.
Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka", ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,
lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi.
Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak.
Ada juga orang yang sama sekali tak pernah beramal tetapi merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.

Dimana kau letakkan dirimu ?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing.
begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar.
Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu
sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan.
Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi.
Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?

Di luar sana rasa malu tak punya harga.
Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah,
atau bahkan melalui penawaran langsung.
Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau.
Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak diperlukan
sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh".
Betapa jamaknya 'dosa-2 kecil' itu dalam hatimu.

Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu,
saat 'TV Thaghut'menyiarkan segala 'kesombongan jahiliyah dan maksiat' ?
Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan,
karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan,
"Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?"
Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang
"Ini tidak islami" berarti ia paling islami.
Sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana ?

Sekarang kau telah jadi kader hebat.
Tidak lagi malu-malu tampil.
Justru engkau akan dihadang tantangan sangat malu untuk menahan
tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar.
Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.
Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada
kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik
yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter,
maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ?
Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya
telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu
kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya
ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang.
Lalu dengan enteng mengatakan,
"Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku",
dan sesudah itu segalanya selesai.
Berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat
dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan,
"Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah,
bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua".
Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat
lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)?
Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari
kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinahi teman sekolahnya
dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya?
Akankah kauandalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu
lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir?
Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini?

Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.
Tengoklah langkah mereka di mall.
Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak
mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya".
Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "Lihatlah, betapa Amerikanya aku".
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika,
melainkan apakah engkau punya harga diri.


~Astaghfirullah... ~

Jul 6, 2005

Orang Baik

Oleh: Zaim Uchrowi

Seorang baik seringkali hanya kita sadari keberadaannya saat maut telah menjemput. Mereka umumnya bukan orang-orang panggung. Bukan pula orang yang biasa disanjung-sanjung.

Dalam keseharian, mereka seperti tak berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Padahal, mereka sungguh pribadi berbeda, yang nama baik dan auranya justru memancar deras setelah jasadnya dikuburkan.Dalam dua pekan ini, empat orang baik meninggal dunia. Mereka Ustadz Rahmat Abdullah, Eki Syachruddin, Saleh Afiff, dan Roeslan Abdulgani. Saya, alhamdulillah, sempat bertakziah dan shalat jenazah untuk tiga orang di antaranya selain Roeslan Abdulgani sang tokoh sejarah.

Saya bersyukur berkesempatan melihat wajah-wajah yang begitu damai, yang tak hanya seperti berada di puncak kelelapannya namun juga''bercahaya''.Wajah demikian yang tampak pada jasad Ustadz Rahmat Abdullah, yang saya menyesal tak berkesempatan mengenalnya langsung semasa ia masih punya hayat.

Sebagian orang menuliskan namanya KH atau ''kiaihaji''. Tapi, ia lebih tepat disebut ustadz karena ia memang sebenar-benar ustadz. Ia telah memilih jalan dakwah sebagai jalan hidupnya. Murid kesayangan KH Abdullah Syafii ini bukan saja memiliki kedalaman ilmu agama. Ia juga memiliki kegairahan dan cinta. Sejak muda ia telah aktif berdakwah. Langkah dakwahnya lebih intensif lagi seperempat abad silam. Ia telah melangkahkan kaki ke mana-mana dengan biaya sendiri untuk mengajak orang-orang ke jalan dakwah. Ia selalu tampak bergairah dan menggembirakan orang yang bersua dengannya.

Pada murid-muridnya, ia bukan hanya memberi ilmu. Ia juga memberi cinta. Caranya melayani istri, anak-anak, kerabat, serta sahabat acap menjadi percakapan orang, sekalipun ia tak pernah mengisahkan hal itu. Hingga akhir hayatnya, ia tetap seorang yang bersahaja. Ketika orang lain berebut kursi DPR, ia berulang kali mendesak kawan-kawannya separtai agar dirinya dibebaskan dari tugas di DPR. Ia mengaku tidak cocok di DPR, dan ingin fokus ke jalan dakwah. Ia begitu mencintai dakwah sebagai wujud cintanya pada Sang Pemilik Cinta.

Tepat di usia yang sama dengan Rasulullah SAW saat berhijrah, sekitar 52 tahun,Ustadz Rahmat pun dihijrahkan Allah SWT kepangkuan-Nya.
Di saat itulah cinta yang telah ia tebarkan pun mampu menggerakkan ribuan orang untuk datang melayatnya.Ribuan orang itu gelombang demi gelombang menyalatkan jenazahnya yang disemayamkan di ruang sekolah yang dibangunnya, menjadi sebuah prosesi penghormatan kematian terindah yang pernah saya saksikan.

Eki Syachruddin adalah sosok baik lainnya. Sejak 1960-an ia telah aktif di berbagai kegiatan kebangsaan dan kemasyarakatan. Ia seorang humoris seperti UstadzRahmat, serta punya sangat banyak kawan lintas kalangan. Namun, Eki tetap seorang bersahaja. Ia lebih suka mengorbitkan kawan-kawannya ketimbang dirinya sendiri. Sukses menjadi dubes di negara besar, Kanada, Eki tetaplah seorang kasual. Pulang ke Jakarta, ia kembali ke rumahnya yang sederhana di sebuah jalan sempit di kawasan Slipi. Kini, Eki telah pergi sebagai seorang yang bahagia.

Orang baik lainnya adalah Saleh Afiff. Ia menteri yang sangat dipercaya membantu Soeharto menjalankan pemerintahan Orde Baru dahulu. Jika mau, ia bisa kaya raya serta bergaya jumawa seperti birokrat pada umumnya. Tapi, ia tidak begitu. Meskipun memegang kuasa, ia tetap guru besar yang sederhana. Setelah pensiun, ia menikmati hari tuanya bersama istri dan seorang anaknya tanpa satu pun pembantu rumah tangga di rumahnya. Kematiannya telah membuat teman-teman lamanya teringat kembali atas perselisihannya dengan Soeharto setelah ia menolak mendukung proyek mobil Timor yang diajukanTommy. Sama seperti Ustadz Rahmat dan Eki, Allah telah memberikan jalan kematian yang indah bagi Saleh Afiff: Tak perlu berlama-lama menanggung rasa sakit, koma, dan segera menghembuskan napas terakhirnya.

Mereka semua hanya sebagian dari orang baik di Indonesia. Saya percaya, masih sangat banyak orang baik yang ada di negeri ini. Keberadaan mereka semua menjadi jaminan bangsa kita untuk kian berjaya. Kita sering tidak menyadari keberadaan mereka sampai maut datang menjemputnya.

Jun 17, 2005

In Memoriam Alm. Ust. Rahmat Abdullah


"Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina"
(Rahmat Abdullah)

Seperti tak percaya aku mendengar kabar itu: kau sudah pergi untuk selamanya. Dan kenangan demi kenangan berkelebat cepat di benakku, menyisakan satu nama : Rahmat Abdullah.
Kita memang tak banyak bertemu, tak banyak bercakap.
Tapi percayakahkau, aku menjadikanmu salah satu teladan diri.
Kau menjelma salah satu sosok yang kucinta.
Tahukah kau, hampir tak ada tulisanmu yang tak kubaca?
Dan setelahmembacanya selalu ada sinar yang menyelusup menerangi kalbu danpikiranku. Tidak sampai di situ, buku-bukumu selalu membuatku bergerak.
Ya, bergerak!

Kau mungkin tak ingat tentang senja itu.
Tapi aku tak akan pernah melupakannya.
Saat itu kau baru saja pulang dari rumah sakit untukmemeriksakan kesehatanmu.
Aku dan seorang teman menunggumu.
Kami membutuhkanmu untuk memberi masukan terhadap apa yang tengah kami kerjakan. Lalu tanpa istirahat terlebih dahulu, dengan senyuman dan kebersahajaan yang khas, kau menemui kami. Tak kau perlihatkan bahwa kau sedang tak sehat.
Bahkan kau bawa sendiri makanan dan minuman untuk kami.
Lalu dengan riang kau menyemangati kami.
"Ini kebaikan yang luar biasa," katamu.
"Bismillah. Berjuanglah denganpena-pena itu!"

Lalu kami mengundangmu untuk hadir pada acara milad organisasi kecil kami. Sekadar menyampaikan undangan, dan tak terlalu berharap kau datang, karena kami tahu kau sangat sibuk dengan begitu banyak persoalan ummat.

Hari itu, bulan Juli 2002, milad ke 5 organisasi kami: Forum LingkarPena.
Semua panitia direpotkan oleh banyak hal yang harus dikerjakan.
Aku masih sempat bertanya pada panitia: "Adakah yang menjemput PakTaufiq Ismail dan Pak Rahmat Abdullah?"Panitia menggeleng. B
anyak yang harus dikerjakan. Tak ada mobil atau tenaga untuk menjemput.
Sudahlah, pikirku. Pak Taufiq dan Pak Rahmat terlalu besar untuk hadirdi acara seperti ini.
Aku hampir melompat ketika melihat Pak Taufiq Ismail datang sendirian dengan taksi dan menyapa kami riang. Dan aku tak percaya ketika tak lamakemudian kau muncul!
"Ustadz, terimakasih sudah datang. Kami tidak menyangka?," sambutku.
Kau tersenyum. "Saya sudah agendakan untuk datang," katamu.
"Ini acaraFLP. Istimewa."Mataku berkaca.

Ini ustadz Rahmat Abdullah, ia terbiasa diundang sebagaipembicara dalam berbagai acara nasional sampai internasional.
Dan kini ia sudi hadir sebagai undangan biasa!
"Maaf ustadz tidak dijemput. Ustadz naik apa tadi?"
"Naik bis. Tempatnya mudah dicari," katamu biasa.
Kau sempat turut memberikan award dalam acara tersebut dan memimpin doa penutup.
Aku menangis mendengar doa yang kau lantunkan, Ustadz. Kau berulangkali mendoakan agar organisasi kami: FLP selalu bisa melahirkan para pemuda yang tak akan berhenti berjuang dengan pena.

Pada akhir acara, kau turut berjongkok bersama para pemuda lainnya dan menandatangani spanduk yang kami gelar bertuliskan "Sastra untukKemanusiaan."
"Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi," ceritamu.
Hari itu kehadiranmu benar-benar memberi semangat baru bagi kami.

Ustadz, aku selalu mengenangmu sebagai suami dan ayah yang baik dalam keluarga.
Sebagai guru sejati bagi ribuan da'i.
Dan ketika kau terpilih menjadi anggota DPR RI tahun 2004 lalu, tak ada yang berubah darimu, kecuali usaha yang lebih keras untuk membuat rakyat tersenyum.
Dalam keadaanmu yang sederhana, kau tak berhenti memberi zakat dan infaq dari
gajimu.
Kau satu dari sedikit orang yang pernah kutemui, yang sangat
berhati-hati dengan amanah dan berjuang untuk menunaikannya tanpa cacat.
Ah, pernahkah kau meminta tarif untuk mengisi ceramah? Tak ada.
Kau bahkan pernah berkata: "Alhamdulillah ada lagi orang yang mau mendengarkan taushiyah dari hamba Allah yang lemah ini."

Terakhir kali kita bertemu, Ustadz, di sebuah jalan raya, sekitar akhir tahun lalu. Dan aku tak percaya, kau --anggota dewan yang terhormat---masih saja menyetop kopaja.

Kini kau telah kembali untuk selamanya.
Ribuan orang, tak terhingga orang, datang mengiringi untuk terakhir kali, sambil tak henti bersaksi tentang keindahanmu.

Selamat jalan, Ustadz.
Jalan kebaikan dan cinta yang selalu kau tempuhdi dunia,
semoga mengantarkanmu ke gerbang yang paling indah di sisiNya.Amiin.

(Helvy Tiana Rosa)

bismillah.

aku tidak pernah mengenalnya.
hanya tahu saja dari berbagai tulisan yang tersebar di Tarbawi, dan sejumlah buku karya-karyanya. Berhenti Sejenak, adalah satu-satunya buku beliau yang kumiliki saat ini.

aku sama sekali tidak pernah mengenalnya.
andai, waktu itu aku dan teman-temanku memilih beliau menjadi muwajjih untuk bekal perjuangan kami ke depan, tentu aku akan lebih mema'rifahi beliau semakin dalam.

ada setitik semangat yang selalu mencuat begitu selesai membaca coret-coretan rutinnya di Tarbawi.
ada sindirian pedas yang menghujam ulu hati, menggedor jiwa yang tak banyak berbuat.
ada banyak lemah yang berganti kekuatan untuk kembali bangkit dan tersenyum menyongsong hari.
ada bermilyar insight yang mampu membuat diri ini melakukan perubahan.
dan semburat hikmah demi hikmah selalu terpancar dari dirinya.

mbak Helvy benar.
Ustadz Rahmat Abdullah mampu membuat orang lain bergerak.
berubah.
dan tidak hanya diam dalam keterpakuan, kebimbangan, apatah lagi kevakuman perjuangan.

tapi aku tidak pernah mengenalnya.
yang kutahu hanyalah tajamnya analisa, pedasnya kecaman pada orang-orang zholim, santunnya nasihat, dan lembutnya sinar mata beliau.
wajah orang-orang beriman, yang senantiasa memancarkan aura cahaya-Nya,
yang selalu menyejukkan bila dipandang,
yang mampu membuat aku berkaca akan kekurangan diri.

selamat jalan, Ustadz.
berkah dan maghfirah Allah semoga senantiasa tercurah untukmu.
meski aku belum sempat mengenal dan menemuimu di dunia, sungguh, aku berharap bisa berjumpa denganmu di surga-Nya.


~inMemoriamAlm.Ust.RahmatAbdullah~

Jun 15, 2005

Pancake Nyammy

bismillah.

eh... eh...
kemarin aku bikin pancake duonk... enak deh... bikinnya sore-sore...
apalagi kalo maemnya pake teh anget...
aku cuma liat dari majalah di perpus kampus. trus aku copy deh resepnya.
ada yang mau ikutan masak?
ni resepnya.....

PANCAKE

275 gr tepung terigu
375 ml susu kental
2 btr telur
1/2 sd teh garam
1/2 sdt backing powder
(aku tambahin vanila dikit biar wangi)

CARA MEMBUAT:
terigu, garam dan backing powder dicampur jadi satu.
trus tambahin telur sambil dikocok pake kocokan tangan (yg kayak spiral gitu lho).
nah, udah gitu masukin susunya dikit-dikit,
trus diaduk deh sampe rata.
kalo udah, siapin wajan teflon berdiameter 12 cm.
panaskan, tuang sedikit minyak, trus dimasak deh.
jadi, kan?

sebenernya di resep asli itu ada sausnya. namanya saus apel.
tapi berhubung aku males bikin saus apelnya (ditambah lagi di rumah juga kagak ada apel malang) so, aku ikutin deh isi meses dan keju kayak yg dijual di kantin kampus.

sekarang, siapin isinya.

tuangin susu kental (boleh coklat, vanila, atau strawberry)
trus ditaburin parutan keju, atau meses.
trus dilipat, dipotong-potong, dan...
dimakan deh.


gampang, kan?
memasak itu gampang, lho, teman2...
asal kita tau resepnya dan yg terpenting, punya ke-mau-an.
sepakat?

kemarin, waktu aku lagi ngopi resep dari majalah, seorang ikhwan senior gak sengaja ngeliat. dan dia tersenyum simpul sambil berkomentar,
"nah, gitu donk. akhwat harus bisa masak. jangan pas udah mau "itu" baru belajar"
aku mengeryitkan dahi. maksud?!
dan dia beranjak pergi sambil meninggalkan pesan.
"bilangin tuh sama ibu-ibu yang laen, belajar masak dari sekarang. jangan udah "itu" baru mau masak".
dahiku semakin berkerut.
yey..... gender....

fitrahnya wanita emang ke dapur dan urusan rumah tangga.
tapi siapa juga yg ngelarang kalo ikhwan bisa masak? ya gak sih?

aku jadi inget temenku, ikhwan di fak lain yang jago bikin bolu coklat.
atau seniorku di psiko yg gape bikin capcay.
atau om-ku yang megang mixer sendiri waktu mau bikin ice cream.
atau seorang ikhwan yg menjelang nikahnya mau belajar masak sayur asem.
sayangnya, ikhwan yg jago bikin bolu coklat ini sempet minder gara2 doyan masak dan jadi mirip kayak akhwat.
so what gitu lho??? ujarku padanya.
justru antum harus bangga punya kelebihan dibanding ikhwan lain. ya, kan?

so, (calon) ibu-ibu dan bapak-bapak, belajarlah memasak dari sekarang.
ntar kita tukeran resep yach!
selamat memasak! ^_^

Apr 21, 2005

Yang Terbaik Bagimu


Teringat masa kecilku
kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak


Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayahdengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

(ADA Band - Yang Terbaik Bagimu-Jangan Lupakan Ayah)



when the 1st time i heard this song, aku cuma mendengarnya sepintas lalu. terdengar suara cowok-cewek nyanyi.... dan.... ah, palingan juga lagu cinta...
tapi kali kedua mendengarnya dari senandung kecil temanku, aku mulai pasang kuping baik2. "eh...eh...itu lagunya sapa sih?"

the 3rd one dari kamar mas-ku... "waa....musiknya enak..!"
dan begitu aku menyimak liriknya dengan sangat baik, what a great song, sodara-sodara!

lagu ini bagus. menurutku lho ya. kalo yg laen complain, that's your choice. gak maksa ^_^


aku biasa meresapi sebuah lagu dari liriknya. kalau liriknya bagus (=memiliki makna yg dalam), maka aku akan menyukai lagu itu. terlepas dari barat-indo-pop-nasyid, whatever-lah... sebut aja Hero-nya Mariah Carey, u raise me up-nya.... saha etaaa... lupa... trus stay the same-nya Joe (apa Joey?!) McEntyre... nasyid2 Raihan... (yg ini daleemm...), Ramadhan-nya Izis, and so on...

lagu ini... aku suka aja. ya nadanya, ya liriknya. ringan, enak didengar, tapi maknanya dalam. gak kacangan. dan bait demi baitnya membuatku menerawang pada sesosok manusia bernama : ayah.

dulu... duluuuuu...banget.. jaman masih TK dan SD, tiap pekan aku pasti nongkrong di Gramedia matraman sama bapakku. ngapain lagi kalo bukan baca buku gratis disana?! aku merasa begitu beruntung punya ayah yang amat-sangat mendorongku tuk mencintai sebuah aktivitas bernama mem-ba-ca. di rumah, buku2 koleksi beliau sekarang tertata rapi dalam satu etalase kaca yang cukup besar (aku ingat, buku itu sudah aku "tek" buat aku semua kalo aku 'besar' kelak :) --> ni ngomongnya waktu masih SD). dan aku sungguh merindukan masa-masa itu...

dan lagu di atas... membuatku mengenang sluruh jasa beliau. betapa kesabarannya tak mampu kutandingi ketika kumandikan tubuhnya yang kian rapuh kini. betapa kasih-sayang dan cintanya tak mampu kusamai dan takkan pernah bisa terganti. betapa...

ah... bapaak.... (mataku mulai berkaca-kaca)

beliau tak ubahnya seperti bayi sekarang. pekerjaannya hanya makan, tidur, bangun, duduk... stroke menyerangnya sejak hampir 5 tahun yang lalu. segalanya seketika berubah. bapak yang ada sekarang bukan lagi bapak yang senyum manisnya senantiasa ada. bukan sosok gagah yang tiap kali pulang kerja kubukakan pintu, kusambut tasnya dan tak lupa pula buah tangannya. bukan sosok yang begitu setia mengantarku ke sekolah (dulu waktu smu aku masih sering dianterin naek motor). bukan pula lelaki yang siap melindungi keluarganya, ketika marabahaya datang tiba-tiba.

ah... bapaaak....

masih terkenang harapan-harapannya padaku di waktu dulu. "makanya, sekolahnya yang pinter biar dapet beasiswa ke Jerman kayak Habibie..." Dan masih terbayang senyum bangganya ketika predikat juara bertahan keras di raport-raportku.

tapi kini ia terbaring lemah. pekerjaannya tak lebih seputar kamar, ruang tengah, kamar mandi. tidak lebih dari itu. jangankan berjalan-jalan, tersenyum pun tak bisa. jangankan tertawa, menyebut nama anak-istrinya saja beliau seolah lupa.

huhuuu.....bapaaaaaaaakkk......kaangeeeeeeeeeeennnn.......... hiks hiks hiks..... :'(

"robbighfirlii waliwaalidayya...warhamhumaa kama robbayaani shoghiiroo...."

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu



Parade Jiwa-jiwa


Sudut perkantoran di bilangan pusat Jakarta, 10.00 wib.
Sesosok gagah menenteng handphone model terbaru di tangan kanannya dan laptop di tangan kirinya. Klimis, berdasi dan berjas rapi parlente dengan kepala sedikit terangkat. Sesekali menjawab suara dari hp-nya yang tak henti berdering. Mencoba mentafakkuri segala aktivitas yang disebutnya sebagai ‘the executive life-style’. Menghabiskan waktu dari satu kafe ke kafe lainnya di tengah gemerlap malam, mencoba memborjukan diri dalam gelimang kehidupan yang tak lepas dari modernitas yang sedikit bablas.

Jalan Raya Kuningan , 12.00 wib.

Kaki kecil gesit berlari menghampiri deretan kendaraan yang berhenti kala lampu merah menyala. Bibirnya mencoba melantunkan sepenggal nada tak beraturan yang dianggapnya nyanyian. Menggoyang-goyangkan kecrekan yang sejak tadi berada dalam genggaman, mengiringi suara sumbang yang lebih mirip rintihan kelaparan. Mengetuk-ketuk setiap kaca taksi, BMW, Altis, Peugeot dan beragam pameran kemewahan yang digelar gratis di jalan-jalan, berharap akan terbuka dan terulur sekeping-dua keping logam recehan.
Kembali ia ke pinggir trotoar di bawah jembatan hitam, mendekati sosok tua ringkih yang sama lusuhnya. Menyerahkan segenggam rupiah dengan wajah pias harap-harap cemas. Dan segera diterimanya caci-maki, sumpah-serapah yang tidak semestinya. Telah menguap nurani bunda yang dulu melahirkan dan kini membesarkannya dalam keras hidup yang damainya tak lagi berpihak. Telah menghilang kasih sayang yang seharusnya melimpah ruah saat usianya menginjak kanak seperti sekarang. Dan tangan berbungkus kulit keriput itu membentur permukaan halus yang dengan seketika dibanjiri air mata. Perih. Sakit. Nyaris tak percaya sang bocah menatap perempuan yang kini tak beda dengan ibu tiri yang sering ia dengar dari kisah klasik jaman dahulu kala.

Pelataran depan Gedung DPR-MPR RI, 14.49 wib.
Hilir mudik ratusan biru, merah, kuning, hijau dan abu-abu almamater berjalan di bawah sengat surya yang garang. Tetes-tetes keringat tak dihiraukan kala teriakan penuh semangat dilepaskan. “Perjuangkan nurani! Perjuangkan kebenaran!”. Menggapai idealisme yang tampak terlalu melangit dan tak mudah dibumikan.
Satu-satu bergilir di podium menajamkan hakikat perjuangan. Menggedor paksa batu-batu bertajuk hati yang kerasnya tak ubah cadas. “Apa gunanya?” tanya mereka yang tak jua paham. “Toh orang-orang di atas sana tak mau dengar,”. Peduli apa. Kami hanya berusaha ketimbang diam tak berdinamika.
Melompat-lompat semangat, berteriak-teriak menentang kezhaliman. Membakar emosi agar membumi ke dasarnya, mencoba resapi arti ketertindasan dan keteraniayaan yang menjadi makanan beratus juta jiwa Indonesia. Pahami hakikat empati dengan sebenar-benar maknanya.
“Ganyang korupsi! Hancurkan arogansi!”
Bara mentari kian didihkan darah yang terus bergejolak. Legam wajah tak dihiraukan, lelah tubuh telah direlakan. Reformasi nyaris mati dan karam kini. Dan jiwa-jiwa pengusungnya tak rela pertiwi terpuruk lagi.

Perbatasan Gaza, 23.59 waktu setempat.

Bayang seseorang tampak tunduk terpekur dalam keheningan malam. Mencoba mencari dan menyusun kekuatan pada sumber Yang Teramat Kuat, mencoba mengais iba pada Zat Tunggal Yang Maha Perkasa. Tersengguk disekanya tetes-tetes yang menggenang dipelupuk kedua mata. Bukan! Bukan tangis kedukaan! Tetapi keterharuan yang memuncak dalam impian akan perjumpaan dengan wajah Kekasih yang dirindukan. Pun pada wangi kesturi kenikmatan jannah Sang Raja Yang Maha Menundukkan.
Diucapkannya basmalah, dan ditanggalkannya berlapis-lapis riya’ yang mungkin masih terpasung di alam bawah sadarnya. Bangkit ia bergegas menyambut seruan Tuhan, dan menggumam perlahan, “Ini untuk ayah-bundaku, adik-kakak-ku, teman-teman seperjuanganku, untuk Al Aqsho, untuk Palestina, untuk Al Islam!”. Mengeras rahangnya menahan degup dendam suci atas tercabiknya tanah kehormatan. Berkilat mata elangnya menyiratkan tekad penuh kesungguhan dan keberanian tak kenal gentar.
Mengendap. Berkelibat di bawah bayang-bayang purnama yang tersaput awan.
Begitu mudah memasuki perbatasan yang dijaga ketat budak-budak hina, sosok-sosok kera berwujud manusia.
Aman sudah. Dan…, “Dduuaaaarrrrrr!!!!!”. Keping-keping usus terburai, cairan tubuh berlelehan, merah darah memuncrat, daging-daging menjadi potongan kecil serupa cincangan.
Jasad itu musnah sudah. Namun ruhnya melayang mengangkasa, djemput cantik bidadari yang tak sempat ditemuinya di dunia. Merengkuh kesucian yang lama dicita-citakan. Dan Sang Cinta Tertinggi beserta singgasana yang mengalir sungai-sungai di bawahnya telah menanti datangnya jiwa. Dunia tidaklah seberapa.

Sudut Kamar dengan Biru Aura, 24. 33 wib
Kututup lembar hari yang baru berakhir. Rebahkan kepala dan mencoba pejamkan mata. Mengenang bergilirnya episode hidup dan kehidupan yang terus berjalan. Dinamis dan tak pernah statis. Meski kadang ia pelangi, atau guntur yang menakutkan terjadi.
Parade jiwa-jiwa hari ini kusaksikan. Dan kupejamkan mata kuat-kuat, menyesali kehidupan sosok muda penuh fatamorgana, berbungkus glamour kesemuan yang memperdaya.
Meraup duka dari ratusan sosok mungil yang bertebaran di jalan-jalan karena terpaksa atau bahkan dipaksa. Menganyam empati atas rasa kehilangan ceria di masa kecil terindah yang harus tiada.
Mengencangkan semangat dan membakarnya demi tegak nurani dan sepadannya perilaku dan kata. Melantangkan kebenaran di hadapan kezholiman penguasa. Bukan menjadi sosok-sosok apatis yang sibuk berkutat di dunia mininya dengan segudang buku bermilyar halaman, atau yang masih bangga dengan klasiknya semboyan , “Buku, Pesta dan Cinta”.
Meresap azzam dan cita para syuhada yang tak pernah rela Al Quds ternoda. Mengumpulkan asa dan keberanian yang tiada terkira. Menjemput maut demi perjumpaan dengan Robb-nya semata.
Kembali kupejamkan mata. Sepenggal parade jiwa-jiwa hari ini usai sudah.


01.00dinihari, 18.11.03
Detik-detik I’tikaf dalam Ramadhan yang Begitu Cepat Melesat..

notes : tulisan ini aku buat 2 taun yg lalu --> http://www.eramuslim.com/ar/oa/3c/8542,1,v.html