oleh Anis Matta
Selalu begitu. Cinta selalu membutuhkan kata. Tidak seperti perasaan-perasaan lain, cinta lebih membutuhkan kata lebih dari apapun. Maka ketika cinta terkembang dalam jiwa, tiba-tiba kita merasakan sebuah dorongan yang tak terbendung untuk menyatakannya. Sorot mata takkan sanggup menyatakan semuanya.
Tidak mungkin memang. Dua bola mata kita terlalu kecil untuk mewakili semua makna yang membuncah di laut jiwa saat badai cinta dating. Mata hanya sanggup menyampaikan sinyal pesan bahwa ada badai di laut jiwa. Hanya itu. Sebab cinta adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi; goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semuanya nyata. Indah.
Itu sebabnya ada surat cinta. Ada cerita cinta. Ada puisi cinta. Ada lagu cinta. Semuanya adalah kata. Walaupun tidak semua kata mampu mewakili gelombang makna-makna cinta, tapi badai itu harus diberi kanal; biar dia mengalir sampai jauh. Cinta membuat makna-makna itu jadi jauh lebih nyata dalam rekaman jiwa kita. Bukan hanya itu. Cinta bahkan menyadarkan kita pada wujud-wujud lain di sekitar kita; langit, laut, gunung, padang rumput, tepi pantai, gelombang, purnama, matahari, senja, gelap malam, cerah pagi, taman bunga, burung-burung… tiba-tiba semua punya arti… tiba-tiba semua wujud itu masuk ke dalam kesadaran kita… Tiba-tiba semua wujud itu menjadi bagian dari kehidupan kita… Tiba-tiba semua wujud menjadi kata yang setia menjelaskan perasaan-perasaan kita… Tiba-tiba semua wujud itu berubah menjadi metafora-metafora yang memvisualkan makna-makna cinta. Itu sebabnya para pencinta selalu berubah menjadi sastarawan atau penyair atau penyanyi…atau setidak-tidaknya menyukai karya para sastrawan, menyukai puisi, atau mau belajar melantunkan lagu.
Bukan karena ia percaya bahwa ia akan benar-benar menjadi sastrawan atau penyair atau penyanyi yang berbakat… tapi semata-mata ia tidak kuat menahan gelombang makna-makna cinta.
Cinta membuat jiwa kita menjadi halus dan lembut… maka semua yang lahir dari ketulusan dan kelembutan itu adalah juga makna-makna yang halus dan lembut… hanya katalah yang dapat mengurainya, menjamahnya perlahan-lahan sampai ia tampak terang dalam imaji kita.
Puisi “Aku Ingin”-nya Sapardi Djoko Damono mungkin bisa jadi sebuah contoh bagaimana kata mengurai dan menjamah kata-kata itu….Apakah Sapardi sedang jatuh cinta? Saya tidak tahu! Tapi begini katanya:
Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
~hmmm.... so sweet...
Aug 26, 2005
Cinta Terkembang Jadi Kata
Diposkan oleh Indra Fathiana di 8/26/2005 0 komentar
Aug 22, 2005
Aksi Pendidikan
bismillah.
PERNYATAAN SIKAP BEM UI 
Terkait dengan semakin mahalnya biaya pendidikan nasional,
dan adanya indikasi penyimpangan
dalam penyelenggaraan pendidikan,
serta kurangnya perhatian dari pemerintah kepada pendidikan,
maka kami, Badan Eksekutif Mahasiswa
Universitas Indonesia (BEM UI) menyatakan :
- Menuntut adanya transparansi penggunaan
dana pendidikan
kepada para penyelenggara pendidikan
- Menuntut pemerintah untuk lebih memperhatikan dan mengutamakan pendidikan
- Menghimbau kepada segenap elemen masyarakat agar saling bahu-membahu memajukan pendidikan nasional, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap pendidikan.
Demikian pernyataan sikap ini kami buat,
untuk selanjutnya kita sikapi bersama,
demi kemajuan pendidikan nasional yang merupakan
modal kemajuan bangsa.
Salam Perjuangan…
BEM UI 2005/2006
"Sinergis & Berkontribusi"
Diposkan oleh Indra Fathiana di 8/22/2005 0 komentar
Aug 15, 2005
Guru Kehidupan
Oleh : KH.Rahmat Abdullah
Ada murid dapat belajar hanya dari guru yang ber-SK, disuapi ilmu dan
didikte habis-habisan. Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau
angin yang berhembus pelan lalu berubah menjadi badai yang
memporakporandakan kota dan desa.
Ada yang belajar dari apel yang jatuh disamping bulan yang menggantung di langit tanpa tangkai itu.
Ada guru yang banyak berkata tanpa berbuat.
Ada yang lebih pandai berbuat daripada berkata.
Ada yang memadukan kata dan perbuatan.
Yang istimewa diantara mereka,
"bila melihatnya engkau langsung ingat Allah, ucapannya akan
menambah amalmu dan amalnya membuatmu semakin cinta akhirat
(khiyarukum man dzakkarakum billahi ru'yatuh wa zada fi'amalikum mantiquh wa
raggahabakum fil akhirati 'amaluh)"
Yang tak dapat belajar dari guru alam dan dinamika lingkungannya, sangat
tak berpotensi belajar dari guru manusia. Yang tak dapat mengambil ibrah
dari pelajaran orang lain, harus mengambilnya dari pengalaman sendiri, dan
untuk itu ia harus membayar mahal.
Bani Israil bergurukan nabi Musa As, salah satu Ulul Azmi para rasul dengan azam berdosis tinggi. Bahkan leluhur mereka nabi-nabi yang dikirim silih berganti.
Apa yang kurang?
Ibarat meniup tungku, bila masih ada api di bara, kayu bakar itu akan menyala,
tetapi apa yang kau hasilkan dari tumpukan abu dapur tanpa setitik api,
selain kotoran yang memenuhi wajahmu?
Murid-murid Bebal
Berbicara seputar orang-orang degil, berarti menimbun begitu banyak
kata seharusnya.
Seharusnya Bani Israil berjuang sepenuh jiwa dan raga,
bukan malah mengatakan: "Hai Musa, kami telah disakiti sebelum engkau datang
dan setelah engkau datang," (QS.7:129), karena sesungguhnya mereka tahu ia
benar-benar diutus Allah untuk memimpin mereka.
Seharusnya mereka tidak mengatakan: "Kami tak akan masuk kesana (Palestina), selama mereka masih ada disana, maka pergilah engkau dengan tuhanmu,
biar kami duduk-duduk disini," (QS.5:24) karena berita tenggelamnya Fir'aun di lautan dan
selamatnya Bani Israil, adalah energi besar yang mampu meruntuhkan
semangat orang-orang Amalek yang m enduduki bumi suci yang dijanjikan itu.
Adapun yang ditenggelamkan itu Fir'aun, mitos sejarah yang tak terbayangkan
bisa jatuh. Kemudian seharusnya mereka yang dihukum karena sikap dan ucapan
dungu tadi, pasrah saja di padang Tih, dengan jatah catering Manna dan
Salwa serta tinggal beratapkan awan pelindung dari sengatan terik matahari.
Ternyata mereka mengulangi lagi kedegilan lama mereka.
"Hai Musa, kami tak bakalan sabaran dengan jenis makanan monotype, cuma semacam ini,
karenanya berdoalah engkau kepada tuhanmu untuk kami, agar ia keluarkan untuk
kami tumbuhan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang puihnya,
kacang adasnya dan bawang merahnya." (QS.2:61)
Betul, manusia memerlukan guru manusia, tetapi apa yang dapat
dilihatnya diterik siang di bawah sorotan lampu ribuat watt, bila matanya ditutup
rapat?
Tarbiyah dzatiyah atau pendidikan mandiri untuk menguasai mata
kuliah kehidupan sangat besar perannya. Sebuah bangsa yang sudah
"merdeka" 54 tahun, namun tak peduli bagaimana menghemat cadangan energi, tak
tahu bagaimana membuang sampah, ringan tangan membakar hutan dan me-WC-kan
sungai-sungai kota mereka, tentulah bukan bangsa yang pandai mendidik
diri.
Sebuah bangsa yang tergopoh-gopoh ikutan kampanye anti AIDS, dengan
hanya menekankan aspek seks aman (dunia) saja tanpa mengingat murka Allah,
tentulah bangsa itu belum kunjung dewasa.
Bila diingat 6 dari 10 anak-anak mereka terancam flek paru-paru, lengkap sudah kebebalan itu.
Nurani yang Selalu Bergetar
Konon, Imam Syafi'ie ra sangat malu dan menyesal bila sampai ada orang
mengutarakan hajat kepadanya.
"Mestinya aku telah menangkap gejala itu cukup dari kilas wajahnya."
Mereka yang akrab dengan arus batin manusia, mestinya selalu dapat
menangkap isyarat muqabalah (oposit) makna ayat 2:273, "Engkau kenal
mereka dengan ciri mereka, tak pernah meminta kepada manusia dengan mendesak."
Sementara yang bukan "engkau" tak dapat membaca gelagat ini:
"Si jahil mengira mereka itu kaya, lantaran mereka berusaha menjaga diri."
Mereka yang berhasil dalam tarbiyah dzatiyah akan tampil sebagai
manusia yang jujur, ikhlas dan merdeka. Karenanya, "Hindarilah bergincu dengan
ilmu sebagaimana engkau menghindari ujub (kagum diri) dengan amal.
Jangan pula engkau meyakini bahwa aspek batin dari adab dapat diruntuhkan oleh sisi
zahir dari ilmu. Taatilah Allah dalam menentang manusia dan jangan
taati manusia dalam menentang Allah.
Jangan simpan sediktipun potensimu dari Allah dan jangan restui suatu amal kepada Allah yang bersumber dari nafsumu. Berdirilah dihadapan-Nya dalam shalatmu secara total."
(Almuhasibi, Risalatu'lmustarsyidin).
Akhirnya, semakin jauh perjalanan tarbiyah dzatiyahnya, semakin banyak
kekayaan yang diraihnya. Ungkapan berikut ini tidak ada kaitannya
dengan bid'ah atau khilafiyah fiqh. Ia lebih mewakili ibrah agar kita tak
terjebak pada aktifitas formal atau sebaliknya.
"Pada aspek zahir ada janabah yang menghalangimu masuk rumah-Nya atau
membaca kitab-Nya, dan aspek batin juga punya janabah yang
menghalangimu memasuki hadhirat keagungan-Nya dan memahami firman-Nya. Itulah ghaflah
(kelalaian)" (Ibnu Atha'illah, Taju'l Arus).
Hakikat Kematangan Ilmu
Kembali ke kematangan pribadi dan keberhasilan tarbiyah dzatiyah,
seseorang tak diukur berdasarkan kekayaan hafalannya atau keluasan
pengetahuannya, tetapi pada kemampuannya memfungsikan bashirahnya:
"Perumpamaan orang yang aktif dalam dunia ilmu namun tak punya
bashirah, seperti 100.000 orang buta berjalan dengan kebingungan.
Seandainya ada satu saja di tengah mereka yang dapat melihat walau
hanya dengan satu mata, niscaya masyarakat hanya mau mengikuti yang satu ini dan meninggalkan yang 100.000".
Rasulullah SAW meredakan kemarahan para sahabat yang sangat tersinggung
kepada seorang pemuda yang minta izin kepada beliau untuk tetap bisa berzina.
"Engkau rela ibumu dizinai orang?" tanya beliau dengan bijak.
"Demi Allah, saya tidak rela!"
"Relakah engkau jika anak perempuanmu, saudara perempuanmu dan isterimu dizinai orang?"
"Tidak, demi Allah!"
"Nah, demikianlah masyarakat...."
Demikianlah, amtsal merupakan metode pencerahan yang digunakan
Al-Qur'an dan Al-Hadist, bahkan dengan kata kunci yang patut dicermati:
"....Tak dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu" (29:43).
Citarasa yang tinggi dibangun dan sensitifitas dipertajam, mengantarkan manusia
kepada puncak pencerahan ruhani mereka.
Sebuah ungkapan kedewasaan pun "Semua manusia dari Adam dan Adam dari tanah,
tak ada perbedaan antara Arab atas Ajam dan Ajam atas Arab melainkan dngan taqwa."
Itulah zaman, saat sejarah tak lagi dimonopoli raja, puteri dan pangeran, tetapi menjadi hak
bersama yang melambungkan nama Bilal budak hitam abadi dalam adzan,
atau Zaid menjadi satu-satunya nama sahabat dalam Al-Qur'an.
Demikianlah kemudian kita kenal Ammar, Sumayyah dan banyak lagi budak
yang melampaui prestasi dan prestise para bangsawan.
Padahal 13 abad kemudian pun Eropa masih mempertanyakan perempuan makhluk apa.
Dan, para intelektualnya sampai pada kesimpulan,
"Mereka adalah iblis yang ditampilkan dalam tampilan manusia."
Justru Muhammad SAW telah memberi standar "Takkan memuliakan perempuan
kecuali seorang mulia dan takkan menghinakan mereka kecuali manusia
hina".
Sementara para perempuannya seperti dilukiskan puteri Sa'id bin Musayyab:
"Kami memperlakukan suami seperti kalian memperlakukan para pemimpin,
kami ucapkan: "Ashlahakallah, hayyakallah!"
(Semoga Allah memperbaiki/melindungimu, semoga Allah memuliakanmu)."
Diposkan oleh Indra Fathiana di 8/15/2005 0 komentar
Aug 9, 2005
Stop KDRT!
bismillah.
Dra. Dharmayati Utoyo Lubis, Phd, dekan sekaligus dosenku yang akrab dipanggil Mbak Yati, membagi sedikit pengalamannya ketika kuliah Psikoterapi. Saat itu kami sedang membahas An Integrative Perspective dan beliau bercerita tentang kliennya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sang klien adalah seorang dokter wanita berusia 30 tahunan, telah berumah tangga selama 18 tahun dan telah memiliki anak.
Awalnya, wanita ini menikah dengan pria pilihannya. Orangtuanya sebenarnya kurang sreg menikahkan putrinya dengan pria tersebut, namun akhirnya mereka menyerahkan urusan tersebut kepada putri mereka. Satu tahun menikah, tidak ada masalah berarti. Dua tahun kemudian, suaminya mulai sering memukul dan sangat membatasi aktivitas sang dokter. Memang sejak mereka pacaran, pria ini bisa dikatakan cukup possessive. Ia tidak senang ketika tahu si wanita meminta tolong apapun kepada orang lain. “Kan ada saya, kenapa harus dengan orang lain?”, kira-kira begitu ujarnya.
Sehari-hari dalam kehidupan mereka, suaminya seringkali memukuli dan mengata-ngatainya ketika ia tidak melakukan sesuatu dengan baik. Suaminya berkata bahwa inilah cara ia mendidik dan mengajari istrinya. Ia juga mengatakan bahwa ini semua untuk kebaikan istrinya juga. Sang dokter pun mencoba berpikir positif, mungkin ini ujiannya dalam berkeluarga. Apalagi setelah bertengkar pun suaminya terlihat menyesal dan meminta maaf, serta berjanji untuk tidak mengulangi lagi.
Hari-hari berjalan dan kekerasan demi kekerasan terus terjadi.
Namun wanita ini berusaha bersabar dan tidak menceritakannya kepada orang lain, termasuk keluarga dan orangtuanya sendiri. Mungkin ada sedikit rasa gengsi, karena toh dulu ia menikah dengan pria pilihannya sendiri. Ketika ditanya penyebab biru dan memar di badan dan kepalanya, ia berusaha menyembunyikan dan berkilah bahwa itu semua akibat terjatuh. Sampai kemudian adik iparnya (adik kandung suaminya) mengetahui dan bersama-sama anaknya meminta tolong kepada Mbak Yati untuk menangani masalah ini. Dan untuk kesekian kalinya wanita itu memohon agar masalah ini jangan sampai terdengar ke telinga keluarganya.
Mbak Yati pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menasehati wanita itu agar mau berontak ketika berhadapan dengan suaminya. Alasan yang membuat ia “bertahan” selama 18 tahun adalah karena setiap kali ia dipukul, suaminya selalu mengatakan bahwa hal ini adalah untuk mengajari dirinya dan untuk kebaikannya juga, sehingga ia menerima saja.
Ketika itu Mbak Yati bercerita bahwa ia sangat gemas menghadapi kasus ini dan berkata kepada kliennya, “Kamu itu dokter! Kamu itu cerdas dan seharusnya bisa membela diri ketika suami menyakiti kamu!”. Sayangnya, ia tentu tidak bisa mengintervensi kasus ini terlalu jauh dan hanya bisa memberikan masukan serta saran-saran kepada kliennya tersebut. Dan kami yang mendengarkannya pun hanya bisa menahan geram.
Namun karena kata-kata suaminya sudah demikian kuat mempengaruhi kognitif wanita ini, ia pun tetap “nrimo” ketika suaminya terus memukulinya : menbenturkan kepala istrinya ke tembok, ataupun perlakuan kasar secara fisik dan verbal lainnya.
Pernah suatu hari ketika malam takbiran, peristiwa itu terjadi. Keluarga besar istrinya sedang berkumpul di rumahnya dan ia kembali mengalami perlakuan kasar sang suami. Dibawanya sang istri ke kamar mandi, dan dinyalakannya air keran serta kaset rekaman suara takbir sekencang-kencangnya. Lalu istrinya dipukuli habis-habisan, lagi-lagi dengan alasan, beginilah caranya mendidik sang istri karena ia memang harus diajari!
Sebulan lamanya sang klien tidak muncul ke tempat Mbak Yati, dan Mbak Yati mulai cemas. Adakah sang wanita tetap menderita disana, ataukah ia sudah baik-baik saja?
Akhirnya ia lega. Dokter wanita yang tegar itu datang mengucapkan terima kasih dan memberitahukan bahwa ia tengah mengurus gugatan cerai dengan suaminya di pengadilan. Akhirnya ia sadar dan berani berkata tidak terhadap perlakuan suaminya, lalu dengan kesadaran penuh ia mengambil keputusan itu.
***
Mungkin ada banyak kasus serupa, bahkan lebih parah, yang menimpa ratusan wanita di luar sana. Haruskah membuat perjanjian bermaterai saat menikah, yang berisi ketentuan untuk tidak menyakiti istri dalam bentuk apapun, sebagaimana dilakukan Rieke Diah Pitaloka beberapa waktu lalu? :(
"Tidaklah memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, dan tidaklah menghinakan wanita, kecuali ia orang yang hina pula."
(hadits Rasulullah saw, -gak tau shahih apa enggak-)
Diposkan oleh Indra Fathiana di 8/09/2005 1 komentar
Jul 15, 2005
Kenalin...Saudara/i Baruku BPH BEM UI '05-'06
bismillah..
dari blognya nuyi nih...
dari kiri ke kanan, atas: angga fkm, adi fauzan fisip, victa fkm, indah fmipa, anisa a.k.a. icha fik, yuwanita a.k.a yuwa fisip, indra fpsikologi, nuri a.k.a nuy fpsikologi, fachri fhukum, purwa udiotomo a.k.a purwo fteknikbawah: yusuf a.k.a ucup fmipa, iwan a.k.a ustadz fmipa, azman fteknik, oskar a.k.a ocha fekonomi, suryana a.k.a bang sur/ucha/cuya fteknik
angga: staf ahli kemahasiswaan, adi fauzan: korbid poltik, sosial, kemasyarakatan, victa:staf ahli pendidikan, indah:kabiro danus, icha:kabiro kestari, yuwa: kabiro pengabdian masyarakat(pengmas), indra:bendum, nuy:kabiro human resource and organization development center (hro-dc), fachri: staf ahli hukum, purwo: sekum, ucup:kabid sosial politik (sospol), iwan:kabid advokasi dan kesejahteraan mahasiswa (adkesma), azman: ketua bem, ocha:staf ahli ekonomi, cuya:korbid kemahasiswaan...yang ngga ada di foto: wandi (koord.staf ahli), adri a.k.a q-bho (humas), dayat (kabid. kreasi dan edukasi mahasiswa)...

deskripsi karakter (versi nuy and indra ^_^) :
angga: gaul 'n kebapakan, kadang2 sangat emosional, panikan, suaranya gede kayak geledek, doyan becanda.
adi fauzan: ceplas-ceplos kayak orang betawi, sensitif juga, suka ngasal, lucu... the winner of piala oscar dalam drama simulasi tender okk.. (hehe...puas banget gw bisa bentak2 adi waktu itu...)
victa: lucu, suka cengar-cengir, tapi galak, kayak kucing... rajin, care, tapi suka ga mau kalah, satu2nya staf ahli yang paling cantik (ya iyalah.. orang yg lainnya cowok semua...)
indah: straight 2 d'point, profesional, perfeksionis, hard-worker , insting danusnya sangat peka, pejuang danus yang tangguh dan berpengalaman.
icha: putri solo, kongkrit dan tegas, polossss... ibu rumah tangga banget deh. pas banget jadi kabiro kestarinya bem! ingat cha, jangan mau diperintah2 sama purwo!
indra: suka ilang dan suka dicariin, tiada kata boros dalam perjuangan (maklum...bendum), rapih, pandai menulis, galak kalo udah masalah duit...uhuhuhu . hmm.... no comment-lah. tapi katanya purwo, indra itu adalah orang yang mukanya paling enak buat dizholimi. parah kan??????
nuy: inspirator, provokator, lady aristokrat (begitu yg dia tulis di bolgnya sendiri), agak berantakan (kontras banget ama indra-lah pokoknya), insomnia (masih ga sih, nuy?), doyan ke video ezy buat nyewa film, 'feminist' yang sangat mendambakan seorang bayi... (huhuhu....)
fachri: lucu, cupu, suka musik2 tradisional, kayak mojacko, pintar berkelit (maklum anak hukum...), habib-nya bem, suka bersenandung gak jelas, dan cukup berisi ^_^
purwo: penolong, cupu sekaligus lucu, ngayom, kadang2 careless tapi bisa berkorban juga, tong sampah!! tukang nyela, nyolot, cerewet...wet...wet..., bawel, de el el.
ucup: diem tapi (katanya) jago orasi, ngintrik, kadang2 penolong, kadang2 malesss, ngga tegaan, rela berkorban buat aksi (hehe...piss, pak. duitnya saya ganti kapan2 aja yak?)
iwan: lurus kayak jalan tol, kalem, kebapakan, rapih, kongkrit dan tak banyak cakap, target bakal diracuni anak2 (ya tapi gitu2 suka nyela2 juga... apa udah tershibghoh anak2 ya, ustadz?)
azman: gagah, polos, lugu, pandai berkata2 layaknya birokrat, punya beberapa koleksi baju batik yang bagus, rada2 careless, tapi kalo lagi fokus kongkrit abisss... tegas, komit, dan agak puitis (jzk sms taushiyahnya.. bagus lho...)
ocha: fokus, ambisius, penolong, suka kadang2, tegas, ekonom berbakat, dan kalo udah ngomongin peraturan keuangan, tidak ada kata kasihan.
cuya: tua, ngebanyol, betawi abiss padahal bukan, anaknya asik...kayak bapak2 tapi berjiwa muda... (eh, sur, waktu pertama kali liat, kukira dikau angkatan 99an lho...maap yak!)
Posted at 09:31 pm by nuy_the_haidar
Diposkan oleh Indra Fathiana di 7/15/2005 1 komentar
Jul 11, 2005
Mari, Berhenti Sejenak...
Kematian Hati
oleh: Alm. KH. Rahmat Abdullah
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.
Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih.
Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.
Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.
Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama.
Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan.
Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.
Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan.
Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap
ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam,
lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur,
sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.
Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih.
Bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid,
lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang.
"Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka.
Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka", ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,
lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi.
Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak.
Ada juga orang yang sama sekali tak pernah beramal tetapi merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.
Dimana kau letakkan dirimu ?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing.
begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar.
Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu
sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan.
Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi.
Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?
Di luar sana rasa malu tak punya harga.
Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah,
atau bahkan melalui penawaran langsung.
Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau.
Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.
Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak diperlukan
sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh".
Betapa jamaknya 'dosa-2 kecil' itu dalam hatimu.
Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu,
saat 'TV Thaghut'menyiarkan segala 'kesombongan jahiliyah dan maksiat' ?
Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan,
karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan,
"Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?"
Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang
"Ini tidak islami" berarti ia paling islami.
Sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana ?
Sekarang kau telah jadi kader hebat.
Tidak lagi malu-malu tampil.
Justru engkau akan dihadang tantangan sangat malu untuk menahan
tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar.
Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.
Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada
kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik
yang kau miliki.
Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter,
maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ?
Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya
telah salah melangkah lebih dulu.
Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu
kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya
ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang.
Lalu dengan enteng mengatakan,
"Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku",
dan sesudah itu segalanya selesai.
Berlalu tanpa rasa bersalah?
Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat
dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan,
"Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah,
bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua".
Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat
lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)?
Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari
kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinahi teman sekolahnya
dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya?
Akankah kauandalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu
lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir?
Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini?
Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.
Tengoklah langkah mereka di mall.
Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak
mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya".
Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "Lihatlah, betapa Amerikanya aku".
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika,
melainkan apakah engkau punya harga diri.
~Astaghfirullah... ~
Diposkan oleh Indra Fathiana di 7/11/2005 0 komentar
Jul 6, 2005
Orang Baik
Oleh: Zaim Uchrowi
Seorang baik seringkali hanya kita sadari keberadaannya saat maut telah menjemput. Mereka umumnya bukan orang-orang panggung. Bukan pula orang yang biasa disanjung-sanjung.
Dalam keseharian, mereka seperti tak berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Padahal, mereka sungguh pribadi berbeda, yang nama baik dan auranya justru memancar deras setelah jasadnya dikuburkan.Dalam dua pekan ini, empat orang baik meninggal dunia. Mereka Ustadz Rahmat Abdullah, Eki Syachruddin, Saleh Afiff, dan Roeslan Abdulgani. Saya, alhamdulillah, sempat bertakziah dan shalat jenazah untuk tiga orang di antaranya selain Roeslan Abdulgani sang tokoh sejarah.
Saya bersyukur berkesempatan melihat wajah-wajah yang begitu damai, yang tak hanya seperti berada di puncak kelelapannya namun juga''bercahaya''.Wajah demikian yang tampak pada jasad Ustadz Rahmat Abdullah, yang saya menyesal tak berkesempatan mengenalnya langsung semasa ia masih punya hayat.
Sebagian orang menuliskan namanya KH atau ''kiaihaji''. Tapi, ia lebih tepat disebut ustadz karena ia memang sebenar-benar ustadz. Ia telah memilih jalan dakwah sebagai jalan hidupnya. Murid kesayangan KH Abdullah Syafii ini bukan saja memiliki kedalaman ilmu agama. Ia juga memiliki kegairahan dan cinta. Sejak muda ia telah aktif berdakwah. Langkah dakwahnya lebih intensif lagi seperempat abad silam. Ia telah melangkahkan kaki ke mana-mana dengan biaya sendiri untuk mengajak orang-orang ke jalan dakwah. Ia selalu tampak bergairah dan menggembirakan orang yang bersua dengannya.
Pada murid-muridnya, ia bukan hanya memberi ilmu. Ia juga memberi cinta. Caranya melayani istri, anak-anak, kerabat, serta sahabat acap menjadi percakapan orang, sekalipun ia tak pernah mengisahkan hal itu. Hingga akhir hayatnya, ia tetap seorang yang bersahaja. Ketika orang lain berebut kursi DPR, ia berulang kali mendesak kawan-kawannya separtai agar dirinya dibebaskan dari tugas di DPR. Ia mengaku tidak cocok di DPR, dan ingin fokus ke jalan dakwah. Ia begitu mencintai dakwah sebagai wujud cintanya pada Sang Pemilik Cinta.
Tepat di usia yang sama dengan Rasulullah SAW saat berhijrah, sekitar 52 tahun,Ustadz Rahmat pun dihijrahkan Allah SWT kepangkuan-Nya.
Di saat itulah cinta yang telah ia tebarkan pun mampu menggerakkan ribuan orang untuk datang melayatnya.Ribuan orang itu gelombang demi gelombang menyalatkan jenazahnya yang disemayamkan di ruang sekolah yang dibangunnya, menjadi sebuah prosesi penghormatan kematian terindah yang pernah saya saksikan.
Eki Syachruddin adalah sosok baik lainnya. Sejak 1960-an ia telah aktif di berbagai kegiatan kebangsaan dan kemasyarakatan. Ia seorang humoris seperti UstadzRahmat, serta punya sangat banyak kawan lintas kalangan. Namun, Eki tetap seorang bersahaja. Ia lebih suka mengorbitkan kawan-kawannya ketimbang dirinya sendiri. Sukses menjadi dubes di negara besar, Kanada, Eki tetaplah seorang kasual. Pulang ke Jakarta, ia kembali ke rumahnya yang sederhana di sebuah jalan sempit di kawasan Slipi. Kini, Eki telah pergi sebagai seorang yang bahagia.
Orang baik lainnya adalah Saleh Afiff. Ia menteri yang sangat dipercaya membantu Soeharto menjalankan pemerintahan Orde Baru dahulu. Jika mau, ia bisa kaya raya serta bergaya jumawa seperti birokrat pada umumnya. Tapi, ia tidak begitu. Meskipun memegang kuasa, ia tetap guru besar yang sederhana. Setelah pensiun, ia menikmati hari tuanya bersama istri dan seorang anaknya tanpa satu pun pembantu rumah tangga di rumahnya. Kematiannya telah membuat teman-teman lamanya teringat kembali atas perselisihannya dengan Soeharto setelah ia menolak mendukung proyek mobil Timor yang diajukanTommy. Sama seperti Ustadz Rahmat dan Eki, Allah telah memberikan jalan kematian yang indah bagi Saleh Afiff: Tak perlu berlama-lama menanggung rasa sakit, koma, dan segera menghembuskan napas terakhirnya.
Mereka semua hanya sebagian dari orang baik di Indonesia. Saya percaya, masih sangat banyak orang baik yang ada di negeri ini. Keberadaan mereka semua menjadi jaminan bangsa kita untuk kian berjaya. Kita sering tidak menyadari keberadaan mereka sampai maut datang menjemputnya.
Diposkan oleh Indra Fathiana di 7/06/2005 0 komentar

