Ya Allah...
Berilah aku kedalaman ilmu yang dapat menghalau syubhat...
Kematangan fiqh yang dapat meneguhkan hati menghadapi fitnah...
Ya Allah...
Berilah aku ketegaran iman yang dapat mengalahkan syahwat...
Kesabaran jiwa yang dapat mengalahkan kelemahan karakter kami...
Ya Allah...
Turunkanlah sakinah ke dalam hati kami saat kami menghadapi tantangan...
Turunkanlah cinta dan kelembutan ke dalam jiwa kami saat kami menghadapi perbedaan...
Kuatkan aku menghadapi diriku sendiri sebagaimana Kau kuatkan aku menghadapi musuh2-ku dan musuh2-Mu...
Ya Allah...
Ajarkan aku makna diam saat berkarya besar...
Ajarkan aku makna keyakinan saat kegagalan...
Ajarkan aku makna keteraturan saat kekacauan...
Ajarkan aku makna keadilan saat kemarahan...
Ajarkan aku makna iffah dalam kepapaan...
Ajarkan aku makna zuhud dalam keberhasilan. ..
Ajarkan aku makna keabadian saat godaan kesementaraan. ..
Ya Allah...
Kuserahkan jiwaku pada-Mu...
Maka bimbinglah ia hingga waktu menghadap di haribaan-Mu...
(Anis Matta)
~AllahummaAaamiin..
Sep 29, 2008
Pray
Diposkan oleh Indra Fathiana di 9/29/2008 0 komentar
Sep 25, 2008
Pada-Mu Kubersujud

Ku menatap dalam kelam
Tiada yang bisa ku lihat
Selain hanya nama-Mu Ya Allah
Esok ataukah nanti
Ampuni semua salahku
Lindungi aku dari segala fitnah
Kau tempatku meminta
Kau beriku bahagia
Jadikan aku selamanya
Hamba-Mu yang slalu bertakwa
Ampuniku Ya Allah
Yang sering melupakan-Mu
Saat Kau limpahkan karunia-Mu
Dalam sunyi aku bersujud
(Pada-Mu Kubersujud - Afghan)
-h25ramadhan1429H
"allahumma innaka 'afuwwun Kariim, tuhibbul 'afwa fa'fuanni..."
pic from www.nwce.gov.uk/bank_images/star_night.jpg
Diposkan oleh Indra Fathiana di 9/25/2008 0 komentar
Sep 22, 2008
Tumis Buncis Tempe Teri
Ini buatnya udah lama... tapi baru diposting skarang. Silakan kalo ada yang mau coba.
Simple dan sedap :)
Bahan-bahan:
Buncis, diiris miring
Teri medan (digoreng setengah matang)
Tempe (dipotong kotak2/panjang2, digoreng setengah matang juga)
Cabe hijau (diiris miring)
Cabe merah yang besar (diiris miring juga)
Cabe rawit (boleh diiris miring atau melintang biasa)
Minyak goreng secukupnya
Bumbu:
Bawang putih, cincang halus
Lada bubuk (lada bulat juga boleh, tapi dihaluskan dulu)
Daun salam 1-2 helai
Sereh 1 tangkai
Saus tiram
Garam
Gula pasir
Semua bumbu ditumis sampai wangi dengan minyak goreng secukupnya,
Campurkan dengan cabe hijau, cabe merah, rawit dan saus tiram.
Udah gitu masukkan buncis, teri dan tempenya.
Aduk-aduk terus sampai kira-kira bumbunya meresap.
Terakhir, masukkan garam dan gula pasir.
Oya, semua bumbu dan bahan-bahan, diperkirakan sendiri ya. soalnya ini semuanya cuma commonsense aja.
Selamat memasak!
Diposkan oleh Indra Fathiana di 9/22/2008 3 komentar
Label: Recipes
Sep 14, 2008
Tentang Menikah
Bismillah...
Sebenarnya saya males ngomongin isu ini.
Selain tidak banyak menguasai konsepnya, saya juga belum pengalaman. Beda halnya jika saya minimal sudah menerapkan, yang jelas gak terkesan sotoy ataupun teoritis belaka. Tapi sepertinya ide ini harus saya share deh.. jadi saya tetep nulis aja.
Yap, saya mau ngomongin soal pernikahan.
Di usia rawan nikah seperti sekarang ini, rasa-rasanya membicarakan hal ini bukan aib juga. Toh secara psikologis, 'tugas' kita memang sudah seharusnya seperti itu. Dalam usia 20-30an, menikah, berkeluarga dan memikirkan kemantapan karier adalah hal lumrah yang dalam bahasa psikologi perkembangan, menjadi tugas yang sepantasnya diselesaikan.
Kalau kita bicara soal calon yang akan kita pilih, pasti udah banyak yang hafal hadits nabi saw yang bilang,
“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena kehormatannya, hartanya, kecantikannya, dan agamanya, maka pilihlah yang mempunyai agama niscaya kamu akan bahagia.”
(HR. Al Bukhari).
Jadi, tentu saja parameter kriteria kita sebaiknya mengacu pada hal di atas.
Tapi fakta ternyata tidak semudah bayangan kita.
Kalau kita memilih calon pendamping yang baik agamanya, parameternya apa?
Ibadahnya yang rajinkah?
Ini perlu di-break down lagi. Apakah shalatnya yang kenceng, atau tahajjudnya yang tidak pernah terlewat, atau tilawah Qur'annya yang berjuz-juz dalam satu hari, puasa sunnahnya yang tak pernah putus, hafalan Qur'an yang berjubel, dsb.
Nah, kalau sudah ketemu dengan orang yang seperti itu, pasti keren donk..
Hmm... sekilas, iya. Tapi bentar dulu. Disini ini nih rahasia yang mau saya bagi.
Dalam perbincangan di YM beberapa waktu lalu, ternyata, seorang teman saya bercerita bahwa pengalamannya membuktikan bahwa tidak semua yang ibadahnya baik itu bisa diandalkan.
Nah lho... gimana nih?
Sederhana sih, taruh aja contoh banyaknya orang sholat yang masih mencuri.
Jadi, kalau konteksnya pernikahan, gak semua yang ibadahnya baik, keluarganya juga berhasil.
Ini kata temen saya lho.
Dia bilang, dia menemukan fakta bahwa pernikahan seseorang yang ibadahnya rajin, ternyata kandas di tengah jalan. Ternyata si suami yang rajin ibadah ini kurang bertanggung jawab terhadap anak istrinya. Pengangguran pemalas, ujar rekan saya itu. Akhirnya berujung pada perceraian deh. Mengenaskan ya...
Waktu ngobrol sama temen saya ini, saya sampe berujar... "Masa sih... Masa sih..." berkali-kali.
"Wallahi, Ndra..." (nah, sampai bersumpah dengan nama Allah segala dia...)
"Sholat gak jamin. Ngaji gak jamin. Ibadah gak jamin!" tegas beliau.
Saya yang belum pengalaman ini akhirnya mikir. Ohh, begitu ya.
Jadi, gimana donk kita menentukan calon yang benar-benar tepat buat kita, kalau ternyata parameter ibadah tidak menjamin?
"Kuncinya..." lanjut teman saya ini, "cuma kedekatan kita dengan Allah. Biasanya kita akan diberi mata hati yang jernih ketika kita dekat dengan Allah. Disitu kita bisa melihat lebih dalam dan memutuskan, apakah orang yang mau kita nikahi/mau menikahi kita benar-benar 'baik'/tidak untuk kita jadikan pasangan hidup".
Nah, dalem banget kan..
Tidak usah dipungkiri, kadang kita suka terpukau dengan si anu yang ibadahnya rajin.
Atau si itu yang anak orang kaya.
Atau si dia yang tampangnya keren, cantik, ganteng, dsb.
Atau si ini yang kepribadiannya menarik, dan kayaknya pantes deh jadi ibu/ayah dari anak-anak kita kelak.
Keinginan-keinginan itu manusiawi sekali, menurut saya. Bagaimanapun sebagai manusia, tentu saja hati ini punya kecenderungan pada yang secara kasat mata dianggap baik. Tapi ya itu tadi, saya jadi disadarkan sama nasihat rekan saya itu, bahwa... PUN, ibadah saja tidak menjamin kebaikan yang ada pada seseorang.
So, kiranya memang perlu kita luruskan niat lagi, bahwa menikah itu untuk mencari keridhoan-Nya semata. Dan tentu saja, berhubung ini adalah isu yang sangat krusial dan keputusannya akan berpengaruh seumur hidup dunia-akhirat, adalah terlalu angkuh untuk kita putuskan hanya dengan mengikuti keinginan sendiri, tanpa campur tangan Yang Maha Tahu segala yang terbaik bagi kita. Campur tangan itu, insya Allah akan kita dapatkan dari mata hati yang jernih, yang telah dipengaruhi oleh kedekatan kita dengan-Nya.
Hmm... jadi ngaca deh saya.
~nampolBangettt..makasihYa,Adzan...
Sun, 14.09.08, 02:59pm
Diposkan oleh Indra Fathiana di 9/14/2008 13 komentar
Sep 1, 2008
Di Sepertiga Terakhir

Bismillah…
Tidak ada satupun fragmen pengganti yang menandingi tunduknya angkuh hati di saat semua makhluk merapati mimpi-mimpi. Terpasung dalam untaian tangis merintih, dan terjerembab dalam bentangan sajadah beraromakan kesturi. Pada lusuh yang mengalas, bercermin pula khouf dan roja’ dalam kucuran bulir-bulir yang memanas.
Tak perlu berlama-lama menunggu titik balik, karena Cahaya memantulkan selisiknya pada tiap-tiap rongga yang masih sadar, atas tujuan apa ia diciptakan.
Maka terpuruknya, tersungkurnya, dan tergugunya ia adalah keadaan yang dipahami sebagai keterbalikan: karena ada masa dimana penawar baru terasa saat sudah mengalami kesakitan. Ada saat dimana segar baru terpulihkan ketika panas dirasakan sebagai bara yang membakar.

Parah. Rasuk dosa selalu terlihat indah dalam pandangan para pemuja nafsu jiwa.
Beruntung, senantiasa masih ada kasih di setiap gelegar murka.

Beranjak, senyap kemudian mulai pergi dan fajar berganti mengawali hari. Desir angin yang bertiup tenang, membalut jiwa ringkih yang tertatih menyusun diri. Adakah yang lebih damai dari menyendiri bersama Sang Maha Kasih seperti ini? Niscaya kenikmatan manapun takkan mampu menggantikan kedudukannya di kesat hati yang selalu haus memulih...
Fri, 12.10.07; 00:41am; backsounded by Gloria, OST H2.
~KetikaBersamaMuSelaluSegalanya... :'(
Diposkan oleh Indra Fathiana di 9/01/2008 4 komentar
Label: Soul
Aug 30, 2008
Triggering Traumas

bismillah.
Di warnet.
Baru duduk beberapa menit, tiba2 datang seorang bapak.
Lalu berteriak memanggil nama anaknya...
"ABCDEEEEEEEEE............PULAAAAAAAAANG!!!!!"
Kencang menggelegar seperti petir.
Aku terkesiap. Tersentak.
Kaget. Bingung.
Dan si anak 7 tahunan yang dipanggil namanya itu menghampiri ayahnya dengan takut-takut. Sampai di luar, sang ayah masih berteriak penuh marah.
"BERANI LU SAMA GW YA!!!"
Nyaris menempeleng sang bocah dengan tangannya.
Memori berkelebat seketika di benakku.
Berputar. Mencuat-cuat. Menari dalam trauma yang tak tertahankan.
Seperti cermin, kejadian itu memantul-mantul. Sama!
Amarahnya. Emosinya. Luapan kemurkaannya.
Arrrggghh............!
***
Masih di warnet. Beberapa puluh menit kemudian.
Duduk seorang anak perempuan, 15 tahun. Putri si pemilik warnet rupanya.
Dan sang ayah duduk tak jauh dari tempat duduknya, mengamati putrinya yang beranjak remaja memainkan games online.
"Yahhh....gitu aja kalahh... Hehe...." ledek sang ayah, menggoda.
"Iya entar dulu niiihhh..... susahh... dikit lagii..." sang putri tertawa malu.
Dan aku terpasung dalam diam lagi.
Juga seperti cermin, memantul-mantul tanpa diminta sedikitpun tuk muncul kembali.
Memori mengencangkan daya, amat serupa.
Sayangnya, candanya, tawanya.
Membesut degup-degup kerinduan yang memancar tiba-tiba.
Rindu. Hanya rindu.
***
Tuhan, aku bertanya.
Adakah patuh juga diharuskan terhadap salahnya asuhan???
Atas teriakan? Amarah? Ledakan emosi berlebihan? Kata-kata kasar? Umpatan?
Berlindung di balik ayat-ayat penghormatan?
Haruskah???
~isThereAnyShelterOutThere,God?!iDon'tWannaGoHome:'(
Saturday, 30.08.08, 10:04pm
maaf gak ijin...
Diposkan oleh Indra Fathiana di 8/30/2008 2 komentar
Aug 26, 2008
A Great Dad
Bismillah…
Adakah di antara kalian yang suka menonton serial Nanny 911 di Metro TV? Begitu muncul pertama kali, acara ini langsung menjadi salah satu tayangan favorit yang selalu saya usahakan untuk menontonnya. Percaya deh, untuk para calon orangtua dan bahkan yang sudah menjadi orangtua, acara ini memberikan banyak pembelajaran.
Nanny 911 di Ahad, 25 Mei lalu, menayangkan gambaran keluarga dengan tiga anak dimana sang ibu kesulitan mengurus putra-putrinya. Jika berhadapan dengan situasi sulit bersama anak-anaknya di rumah, ia selalu bergantung pada suaminya yang dianggapnya lebih bisa meng-handle polah sang anak. Tentu saja hal ini tidak sehat, karena Dad harus bekerja dan ia ingin istrinya bisa menangani masalah rumah dengan baik tanpa harus selalu bergantung padanya.
Dalam video ini, digambarkan kalau sang ibu sangat tidak tahan mendengarkan rengekan anak-anaknya, lalu ia akan melakukan apapun untuk membuat mereka diam, dan justru hal itulah yang membuat anak-anaknya selalu meminta perhatian. Sebaliknya, sang ayah digambarkan sebagai sosok yang penyabar, bisa membuat anak-anaknya menuruti perintah tanpa harus kehilangan kharisma.
Satu dialog antara suami-istri itu yang saya rekam baik-baik bunyinya seperti ini…
“Mengapa kamu tidak bisa mengatasinya sendirian?” tanya Dad.
“Engkau lihat sendiri bahwa aku memang tidak sanggup. It’s too hard for me!”
“Mengapa kamu selalu mengatakan bahwa itu berat dan berat?”
“Karena memang begitulah kenyataannya, aku tidak bisa mengatasi hal ini sendirian!”
“Jadi kamu berpikir bahwa jika aku menanganinya, itu tidak berat buatku???”
“Ya!”
“Itu juga berat untukku! Tapi mengapa kamu selalu berpikir jika aku yang menghadapinya, itu tidak berat????”
“Karena kamu tidak pernah mengeluh dalam melakukannya!”
“Mengapa aku tidak mengeluh, karena itu memang tugasku sebagai ayah untuk mendidik anak-anakku!”
Dan si Mommy terdiam.
Pelajaran pertama yang bisa dipetik adalah, Mom belajar kalau sekali-kali emang harus tega sama anak, karena dia suka gak tahan mendengar rengekan. Akhirnya kalau anak merengek, apa yang diminta anak akan diberikan supaya dia diam. Bisa ditebak, anak akhirnya merengek setiap ia minta sesuatu, dan rengekannya itu adalah senjata supaya permintaannya dituruti oleh ibunya.
Pelajaran kedua, mari lihat kalimat terakhir dari dialog Mom and Dad yang saya tulis di atas. Ketika Mommy mengeluh tidak mampu menangani permasalahan anak-anaknya, yang Dad katakan adalah…
“Aku tidak mengeluh karena itu memang tugasku sebagai ayah untuk mendidik anak-anakku!”.
What a powerful responsibility!
Saya sampai terharu di depan tivi… soalnya baru kali itu mendengar kata-kata demikian dari seorang ayah. Sayangnya sama keluarga, perhatiannya, wujud tanggung jawabnya, semua seperti tercermin di satu kalimat tadi. Nanny sendiri bahkan mengatakan bahwa Dad dalam episode kali itu adalah salah satu ayah terbaik yang pernah ia temui! Wahh...
Well, serial Nanny selalu berakhir dengan bahagia. Akhirnya Mom bisa lebih tegas terhadap anak-anaknya, dan keluarga mereka hidup dengan lebih bahagia.
Satu hal yang selalu jadi insight tiap kali nonton Nanny 911 adalah, jadi orangtua itu gak mudah... Hehehe...
Tapi kalau suami-istri bisa menjadi partner yang baik dan saling bantu dalam menjalani perannya, plus juga menjaga dengan sangat komunikasi yang baik di antara mereka, insya Allah semuanya bisa berjalan dengan lancar.
Sekian report saya untuk acara Nanny kali ini… Yang belum pada nonton, sok nonton yah. Berguna banget tuh buat bekal berkeluarga :)
pic from:
www.giggle-bug.com/
www.tvshowsondvd.com
www.epi-man.com/english/kids-e.html
Diposkan oleh Indra Fathiana di 8/26/2008 1 komentar

