WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight!
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Terjemahan:
Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati
Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal
Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini
Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar
Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal
Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini
download lagunya di :
http://www.michaelheart.com/
*copas dari mp-nya mbak yanti. haturnuhun ya mba ;)
Jan 15, 2009
[Song for Gaza] We Will Not Go Down*
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/15/2009 4 komentar
Dec 10, 2008
Pahlawan (2)
Para pahlawan punya cara tersendiri untuk menoreh sejarah dirinya.
Ia sadar, dan tahu kapan harus menyusun kekuatan, kapan pula harus mengkontribusikan.
Tetapi pahlawan tak pernah rela kehilangan momen2 pembuktian amal,
bahkan ia menyesal ketika melewatkan episode perjuangan tanpa sengaja.
Karena mereka tahu, tak selamanya usia berdampingan dengan dunia.
Karena mereka sadar, seringkali takdir jauh dari cita-cita.
Dan itulah sebabnya, mereka tak punya kamus selain berjuang dan mengkontribusikan apapun yang ada, agar kelak waktu mencatat sosoknya sebagai sejarah,
ada atau tiada manusia lain yang mengenang jerih payahnya.
***
gambarnya diambil dari google, udah lama jg, jadi gak tau sumbernya...
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/10/2008 0 komentar
Label: Thought
Dec 5, 2008
Pembicara NATO*
Bismillah…
Kata orang, pengalaman adalah guru terbaik.
Dan sepertinya saya harus sepakat.
Dalam 2 tahun terakhir ketika mengisi pelatihan/seminar, banyak sekali peserta yang lebih senior secara usia maupun pengalaman. Dan saya berdiri di depan mereka sebagai fasilitator, pembawa materi.
“Lihat!
Usianya saja jauh lebih mudah daripada kita.
Pengalamannya pasti juga tak banyak.”
Huffffhh....
Jika bicara soal knowledge/pengetahuan, kita bisa meng-upgrade-nya lewat membaca. Tapi kalau soal pengalaman, saya angkat tangan deh.
Kok bisa sih, bicara tentang pengasuhan anak tetapi sendirinya belum berkeluarga?
Duh, Pak, Buu... ampunnn...
Jangan serang saya begitu dunk... Mati kutu nih!
Yaa...alhamdulillah belum ada sih yang secara frontal bicara seperti itu ketika saya tampil. Tapi kadang-kadang saya jadi merasa minder sendiri. Bukan soal saya lebih tahu mengenai materinya. Juga bukan soal penguasaan apa yang saya bawakan. Tetapi ini soal aplikasi.
Sudah belum, kamu tuh mengaplikasikan apa yang kamu katakan?
Sudah belum, kamu benar-benar menghadapi susahnya menangani anak di sekolah sehari-hari?
Setahun terakhir ini saya semakin merasa tak nyaman.
Persoalannya cuma karena saya merasa... kok apa yang saya katakan normatif sekali ya...
Kok yang saya kasih tau ke peserta itu, cenderung ngawang-ngawang ya...
Kok jawaban-jawaban yang saya berikan, tatarannya ideal sekali dan belum tentu mudah direalisasikan?
Lebih dari itu, saya jadi merasa cuma tau teorinya doang, tapi gak ngerti aplikasinya.
Emangnya saya tahu susahnya jadi guru... sekarang malah berani-beraninya ngajarin guru...
Ngomong mah enak... coba kamu yang ngadapin murid sehari-hari... Solusi pertama adalah tampaknya saya harus segera menikah *lho*
Maksud saya, minimal saya bisa ngerasain punya anak dan mendidiknya. Jadi kalau saya berbagi sama peserta pelatihan atau seminar, saya bisa bilang bahwa saya juga menerapkan apa yang saya katakan.
Gimana ceritanya mau jadi konsultan pernikahan/keluarga tapi belum menikah, coba... Solusi kedua, saya harus sering-sering ngobrol atau mengamati orang-orang yang sudah punya anak atau juga guru-guru. Biasanya jadi tau masalah yang suka dihadapi. Misalnya, kalau anak suka bandel gimana, kalau menghukum anak yang efektif seperti apa, menyikapi ini gimana, itu seperti apa, dst.
Akhirnya yang paling sering saya lakukan adalah menceritakan pengalaman orang lain. Real, solutif, membumi, dan tentu saja, sangat aplikatif!
Setidaknya ini menutupi ”lubang” pengalaman saya yang minim sekali.
Judulnya kan berbagi, bukan ngajarin... Hehe... ngeles...
Eh tapinya ya, kalau di bisnis saya mah, gak bakalan boleh jadi pembicara kalau bisnisnya gak jalan. Karena pasti keliatan, antara orang yang benar-benar pengalaman berjuang, dengan orang yang sekedar NATO (no action talk only). Jadi, kejujuran dan integritas adalah fondasi utamanya. Karena kalau tidak jujur dan tidak berintegritas, pasti gak akan ada yang respek dan mau mendengarkan.
Tapi kalau disini nihhh yaa...
Dudududu...
Ah, kan udah saya bilang... saya harus resign secepatnya. Hehe...
*ngomong mulu lu, Ndra...kapan resign benerannya!!*
Peace
Thursday, 04.12.08, 07:23pm
*No Action Talk Only
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/05/2008 2 komentar
Dec 3, 2008
Menginspirasi, Bukan Memotivasi

Bismillah…
Sebagaimana manusia biasa, saya berulang kali mengalami penurunan motivasi.
Termasuk juga soal bisnis. Kalau lagi malas rasanya benar-benar tak bergairah. Ekstrimnya malah jadi ingin berhenti.
Tapi alhamdulillah saya sudah menemukan solusinya.
Kalau sedang malas, yang saya kerjakan kemudian hanyalah memaksakan diri untuk melakukan. Ternyata, energi itu saya temukan justru ketika saya berbuat. Dan motivasi itu tumbuh seiring pergerakan kita.
Jadi, bukannya menunggu motivasi dulu, baru bergerak.
Tapi bergerak dulu, hingga dorongan itu tercipta dengan sendirinya.
Kata sepatu Nike mah, “Just Do It!”.
Begitu kira-kira poin pertamanya.
Sekarang kita masuk ke poin kedua.
Ceritanya kemarin sore saya baru saja bertemu partner bisnis untuk memberikan arahan. Padahal saya lagi agak malas. Tapi demi tanggung jawab dan biar semangat lagi, akhirnya saya lakukan juga.
Benar bahwa saya menjadi energik setelah melakukan pekerjaan saya, tanpa menunggu termotivasi dulu sebelumnya. Tapi begitu selesai, saya ngos-ngosan.
Perasaan sih tadi saya gak ngomong sampai setengah jam deh...
Tapi kekuatan saya seperti terkuras…
Begitu si rekan pulang, saya langsung teringat pesan senior saya,
“Jangan menjadi motivator, tapi jadilah inspirator.”
Saya mengerti sekarang.
Saya kelelahan karena terlalu banyak bicara, memotivasi.
Yang diberi arahan sih manut-manut saja. Tapi kok saya jadi merasa ‘tersedot’ ya?? Dan seberapa lama motivasi itu akan bertahan?
Butuh banyak pengetahuan/knowledge untuk menjadi seorang motivator.
Dan biasanya harus termotivasi dulu sebelum dapat memotivasi orang lain.
Lalu apa bedanya dengan inspirator? Inspirator, tanpa banyak kata, secara otomatis menjadi motivator bagi orang lain. Jika motivator mendorong orang lain melalui lisannya dan ia dapat memotivasi orang lain sebelum ia melakukan apa yang dimotivasikan, maka seorang inspirator melakukan hal-hal yang mampu mendorong orang lain, tanpa perlu ia katakan sebelumnya. Inspirator mampu memancing insight yang membuat orang lain berpikir, kemudian terdorong melakukan sesuatu.
Contoh konkretnya nih…
Misalnya saya sedang malas membaca buku.
Lalu datang orang pertama, si motivator.
Dia bilang, “Baca buku itu nambah wawasan lho! Jadi pinter, banyak pengetahuan…”
Lain dengan si inspirator.
Tanpa banyak cincong, dia rajin baca buku minimal 1 judul sehari.
Begitu dia bicara, kata-katanya bernas semua.
Lihat perbedaannya?
Ketika didorong oleh si motivator, saya jadi rajin membaca. Tapi saat tidak dimotivasi, saya jadi malas lagi.
Lalu saya cari tahu mengapa bisa seperti itu. Begitu dapat jawabannya bahwa dia memiliki kebiasaan membaca minimal 1 judul sehari, saya meneladaninya tanpa ia minta.
Well…
Banyak bicara memang melelahkan. Apalagi kalau tujuannya memotivasi, seperti pengalaman saya di atas.
Begitu kita tidak memotivasi, objek yang kita tuju kehilangan gairahnya. Sebab motivasi yang tumbuh pada dirinya berasal dari luar alias motivasi eksternal.
Terlebih lagi kalau yang kita motivasi ternyata tidak termotivasi. Makin merasa lelahlah kita…
Berbeda dengan menjadi inspirasi.
Tanpa banyak bicara, perbuatan kita mampu membuat orang di sekitar kita tergugah.
Lebih dari itu, contoh yang kita berikan melalui perilaku, mampu menimbulkan perubahan yang lebih maksimal : menggerakkan!
Inilah yang disebut motivasi intrinsik, dorongan yang berasal dari dalam diri sendiri. Dalam banyak literatur psikologi, motivasi intrinsik disebut-sebut terbukti lebih mampu membuat suatu perilaku bertahan.
Tambahan lagi dari rekan senior saya, inspirasi juga akan lebih (mudah) diingat ketimbang motivasi karena real, nyata terlihat.
Disini peran si inspirator hanyalah trigger, pemicu. Tak lebih dari itu.
Dan jangan lupa, integritas merupakan modal utamanya.
Jadi, pelajaran yang bisa dipetik hari ini adalah:
1. Jangan tunggu motivasi muncul baru kita mau bergerak. Tapi bergeraklah, lalu lihat apa yang terjadi *dengan gaya Mario Teguh*. Hehehe…
Maksud saya, bergeraklah, lalu rasakan bahwa motivasi itu tumbuh dengan sendirinya. Makin banyak kita bergerak, semangatnya juga makin membesar. Setidaknya itu yang saya rasakan.
(Btw saya sudah mencoba dan berhasil. Kalau gak percaya, cobain deh sendiri
2. Jadilah inspirator, bukan motivator.
Selain melelahkan, menjadi motivator terkadang tak selalu membuat orang tergerak. Kalaupun ia tergerak, kemungkinan hanya sementara waktu. Sedangkan inspirator, tanpa banyak bicara, mampu membuat orang lain terdorong lalu bergerak dengan motivasi yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.
Ayo SMANGATTT.... :D
~NyemangatinDiriSendiri...
Tuesday, 02.12.08, 10:30pm
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/03/2008 0 komentar
Ibu 40 Hari (2)
Sayur asem
Sayur sop bakso
Tumis kacang panjang
Pecel
Sayur labu santan plus tahu
Lauk :
Ikan lele goreng
Balado kentang
Perkedel jagung
Ikan lele 7.000
Bahan sayur asem 3.000
Jagung manis 6.000an
Bumbu dapur 1.000
Cabe hijau 2.000
Cabe merah 3.000
Cabe rawit 1000
Ceker ayam 3.000
Bahan sayur sop 2.000
Bakso 4.000
Kentang 5.000
Tauge 1.000
Daun bawang-seledri 1.000
Kacang panjang 1.500
Bumbu pecel 3.000
Tahu pong 3.000
Labu
Belanja begituan doank abis 50 ribu!!!
Padahal itu gak ada ayam atau daging…
PARRAHHHH……………
~sutris! >_<>
Diposkan oleh Indra Fathiana di 12/03/2008 0 komentar
Label: Daily
Nov 21, 2008
Ibu 40 Hari
Bismillah…
Ternyata jadi ibu itu tidak mudah, ya.
Baru saja saya ditinggal si mamah selama 40 hari karena beliau berangkat haji. Rencananya sih beliau baru akan kembali pada Desember awal nanti.
Berhubung saya menjadi the only woman di rumah, maka urusan dapur dan rumah tangga pun segera beralih ke tangan saya. So saya bertanggung jawab terhadap urusan perut abang dan adik saya yang keduanya laki-laki itu.
Dan wow…
Uang belanja Rp. 300 ribuan yang mamah bekalin buat 40 hari itu ternyata kurang, sodara-sodara! Beras Rp. 50 ribuan, gas Rp. 80 ribuan, gula pasir, telur ayam, mie instant, minyak sayur, kecap, wah wah…
Terpaksa saya nombokin pakai duit tabungan.
Baru ngerasain deh berempati sama rakyat jelata. Sembako itu ternyata mahal euy.
Dan uang 50 ribu itu sudah menurun nilainya ketika dipakai untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Akhirnya untuk menyiasati, saya terpaksa masak menu tanpa daging atau ayam. Paling banter cuma beli ceker ayam buat kaldu. Mau beli ikan aja mikir-mikir pengiritan.
Jadilah selama ditinggal mamah, orang rumah pada kekurangan gizi. Kqkqkq…
Biasanya si mamah bisa masak opor ayam, ayam goreng, semur ayam, semur daging, sambal goreng tempe-ati-jantung, dsb. Tapi yang ada sekarang cuma tempe goreng, tempe goreng tepung, tahu goreng, tahu goreng tepung, telur dadar, mie goreng, sambal goreng tempe, sambal goreng tahu, pokoknya gak jauh-jauh dari tempe sama tahu.
Yah… masih bersyukur sih karena toh masih bisa makan dengan nasi, sayur dan lauknya.
Tapi sayangnya saya pun tak pandai-pandai amat memasak.
Jadi daripada rasanya kacau, saya lebih suka menyerahkannya pada si Yani, orang yang bantu nyuci-nyetrika di rumah. Untuk urusan belanja saya minta bantuan pada Mas Ki, orang yang kami minta bantuan untuk menjaga rumah ketika kami semua beraktivitas dari pagi hingga malam di luar rumah.
Pernah suatu hari, saya minta tolong Yani untuk masak sayur asem. Dan rasanya benar-benar nikmat. Pas saya tanya bumbunya apa saja, Yani menjawab,
“Ya itu…paling cabe, terasi, bawang merah… gitu-gitu dah...”
Dan mikirlah saya.
Perasaan saya kalau masak sayur asem juga seperti itu bumbunya. Tapi kenapa rasanya tak seenak buatan Yani ya :( *minder*
Tapi Yani itu kalau masak gak bisa lepas dari vetsin dan bumbu penyedap. Walau saya sudah berulang kali mengingatkan dia untuk tidak usah memakainya, tetap saja, sayur yang dimasak berasa banget bumbu penyedapnya -_-‘
Jangan-jangan jadi tumpul semua dah ni otak…
Beberapa kali saya pun turun ke dapur.
Baru tadi siang saya masak tumis buncis dan balado telur plus tahu.
Semua bahan sudah tersedia di kulkas, cuma cabe merah aja yang menipis persediaannya. Akhirnya Mas Ki saya mintai tolong membelinya di warung sebelah.
Tapi ternyata cabe merah habis dan hanya ada cabe giling.
Ya sudahlah, pake yang ada aja.
Begitu saya buka bungkusan cabe giling itu…
Mhhhh…baunya aneh! Agak asam dan sedikit bau busuk gitu.
“Emang begitu baunya cabe giling…” kata Yani.
“Hiyhh… jangan-jangan cabe busuk dicampur juga ya, Yan…” kata saya.
“Iya kali..”
Lalu saya pun menumis buncis dan wortel, kemudian dilanjutkan dengan memasak balado telur dan tahu. Tumis buncisnya enak, walau tidak memakai bumbu masak! :D
Tapi ketika balado telur tahunya sudah jadi dan saya cicipi…
“Set dah… Yan! Pedes banget! Amit-amit pedesnya!”
Si Yani cuma nyengir-nyengir gak jelas.
Dan tidak hanya pedas rasanya, tapi balado itu juga agak-agak terasa asam.
Alamak…
Macam mana pulak aku ngasi makan anak-anakku kelak nih… -_-‘
Sejak saat itu saya bertekad untuk tidak memakai cabe giling lagi!
Biarin deh cape-cape ngulek cabe merah biasa, yang penting rasanya lebih nikmat!
Nah, kali lainnya saya sudah berangkat kerja, tapi makanan belum disiapkan.
Akhirnya saya menelepon dari jalan untuk memberitahu Mas Ki supaya menyiapkan masakan.
Di wartel stasiun kereta Tebet pukul 10 pagi, saya menelpon ke rumah.
“Mas Ki, sayur yang di kulkas masih ada apa aja?
Lodeh, sop? Lauknya tempe sama tahu? Yaudah nanti minta tolong Yani untuk masak sayur lodeh aja ya. Sama pepes tahu. Si Yani bisa gak masak pepes tahu? Daun pisangnya tinggal ngambil di depan rumah, kan ada banyak tuh. Sama teri yang kemarin, tolong digoreng ya.
Atau…….. eh, sayur sop aja deh!! Kemarin masih ada bahan perkedel jagung kan? Yaudah sama perkedel aja ya. Gak jadi sayur lodeh sama pepes tahu. Okeh…
Sama Mas Ki tolongini beresin ini..dan bersihin itu.. ya. Blablabla…bliblibli…”
Begitu keluar dari box telepon umum, saya pun menuju kasir dan membayar.
Disitulah baru saya sadar setelah bertemu si kasir yang menatap saya dengan wajah aneh.
Oh, jadi tadi kedengeran ya saya neleponnya…
Mungkin pikirnya, gak biasa-biasanya ada orang telepon ngomonginnya sayur lodeh, sop, pepes dst. Berasa ibu-ibu banget deh… -_-‘
Wehehe...
Itu baru soal dapur.
Begitu saya ke depan rumah, terhampar taman yang biasanya berbentuk rapi tapi sekarang mulai berantakan. Daun-daun melati dan kembang-kembang mulai lebat dan tak beraturan bentuknya. Padahal dulu mamah rajin banget mengambili daun kering sebelum jatuh dari tangkainya, lalu membentuk rimbunan pohon itu sedemikian rupa.
Weleh-weleh… kerajinan banget ya si mamah…
Yah, begitulah dinamika menjadi ibu rumah tangga 40 hari.
Untuk ngatur keuangan aja udah lumayan bingung. Belum lagi malem-malem saya musti mikir, besok masak apa ya, belanja apa ya yang kurang, dst, dst.
Belum lagi soal listrik, telepon, kran air yang rusak, anak kucing yang kejebak di loteng, bak kamar mandi yang bautnya gak bisa dibuka, kebersihan kamar mandi,
haduh-haduuhhh… ampun deh. Bener2 gak mudah jadi ibu rumah tangga! >_<
Tapi alhamdulillah itu udah dibantuin sm Yani dan Mas Ki. Kalau semuanya kudu saya yang ngerjain, waks... gak kebayang...
Tapi ini jadi ajang latihan juga siiih... Semoga nanti dapet suami yang bisa bantu bayar pembantu, walau tetep aja harus pinter manage rumahnya. Heheheh… ^_^v
Friday, 21.11.08, 05:43 pm.
~kangenDagingEuy!
Diposkan oleh Indra Fathiana di 11/21/2008 5 komentar
Nov 17, 2008
Jilbab Kami, Kemerdekaan Kami
Bismillah…
Menakjubkan. Benar-benar menakjubkan.
Negeri yang katanya berpenduduk muslim terbesar di seluruh dunia ini, rupanya masih belum bisa melindungi hak muslim itu sendiri.
Sementara sejumlah kalangan berteriak bahwa minoritas senantiasa tertindas di negeri ini, mari kita bertanya, apakah yang sesungguhnya tengah dilakukan oleh banyak perusahaan yang melarang para muslimah menunaikan kewajibannya untuk berjilbab, sekali lagi, di negeri yang katanya mayoritas penduduknya adalah umat Islam!
Saya pikir itu isu basi. Hal yang tak semestinya muncul lagi. Tapi beberapa pagi lalu, sebuah televisi swasta menayangkan kasus baru lagi.
Beberapa tahun silam, dalam sebuah demonstrasi memberi dukungan pada rekan-rekan mahasiswi sekolah tinggi kedinasan yang dilarang berjilbab, saya sekilas melihat debat seorang expatriate yang mengamati aksi kami di pinggir jalan, dengan rekan saya.
Ujarnya, “Jilbab itu tak lebih dari simbol!”.
Muntab, rekan saya yang diajak bicara oleh orang asing itu marah dan berteriak menegasikannya.
Ya. Jilbab itu simbol. Tapi tentu saja lebih dari sekedar itu, Tuan.
Jilbab kami adalah identitas kami.
Harga diri kami.
Kehormatan kami.
Dan sebagaimana para wanita mempertahankan dirinya saat ingin diperkosa, maka seperti itulah kami mempertahankan jilbab ini saat ada orang lain yang ingin menanggalkannya.
Jilbab kami memang simbol keislaman kami.
Simbol ketundukan kami pada aturan Tuhan bahwa sudah sepantasnya perhiasan kami, tubuh kami, kemolekan kami, hanya boleh dinikmati oleh yang halal menikmatinya.
Biarlah mereka yang melenggak-lenggokan tubuhnya, melucuti sebagian besar pakaian dan menyisakan sedikit saja kain untuk menutupi bagian-bagian vitalnya, menjadi seperti apa yang mereka inginkan.
Menjadi seperti apa yang orang lain harapkan; kehilangan identitas dan konsep diri yang matang.
Tapi kami tak mau kehilangan identitas kami.
Bahwa kami betul perempuan, dan kami selayaknya merdeka dari tatap laki-laki jalang. Kami bukan himpunan daging yang bisa dinikmati begitu saja, atau bahkan menyodorkan diri disentuh lalat-lalat yang menjadikan ia cemar.
Dan saya masih saja terbelalak mendengar berita ini.
Pekan kemarin seorang perawat wanita di sebuah rumah sakit swasta di Bekasi harus menunjuk seorang pengacara hanya untuk memperjuangkan haknya karena ia dilarang mengenakan jilbab pada saat bekerja.
Di Bekasi! Indonesia!
Saya tak akan heran jika itu terjadi di Prancis sana, misalnya, atau negara-negara dimana Islam menjadi minoritas.
Tidak adakah hal lebih penting lainnya yang bisa mereka urus daripada sepotong kain yang menutupi tubuh kami?
Dan, oh… ternyata muslimah itu tak sekedar dilarang. Pihak rumah sakit belum puas sampai ia mendapat ancaman setiap saat atas jilbabnya, dan juga memotong tunjangan hingga tak utuh seperti yang biasa ia terima.
Lain lagi kisah muslimah di Surabaya yang juga mengalami kasus serupa. Ia diperkenankan tetap memakai jilbabnya, tapi harus memakai rok mini yang memang menjadi seragam di kantornya.
Wow!
Pelecehan macam apa lagi yang akan diterima atas jilbab kami, kehormatan kami?
Dan jujur saja saya jadi ingin bertanya.
Jika Anda seorang artis penyanyi wanita, dan Anda sudah memakai kostum rok mini serta tank top sebagaimana demikianlah trend yang ada saat ini, apa sikap Anda saat produser Anda berkata, “Ya, boleh pakai baju seperti itu. Tapi tolong tidak usah memakai roknya” ???
Tolong koreksi saya : dimana relevansi antara suara yang menjadi keunggulan Anda (dan memang itulah yang seharusnya ditonjolkan ketika Anda memilih menjadi pe-nya-nyi), dengan kostum yang harus menampakkan, maaf, organ kesucian Anda?
Dan kemudian saya jadi ingin membedah kepala para penentu kebijakan rasialis ini, tak habis pikir dengan pemikirannya.
Apakah jilbab kami bau busuk, Tuan?
Apakah jilbab kami kotor atau lusuh?
Apakah kain yang menutup kepala kami ini mengandung zat atau bakteri yang mematikan?
Apakah kami merugikan orang lain dengan kerudung yang kami pakai?
Benar-benar menakjubkan.
Sementara sebagian besar orang mengelu-elukan kemenangan Obama yang dianggap merepresentasikan terhapusnya diskriminasi bagi ras tertentu, disini, di negeri yang 80% penduduknya muslim mayoritas ini, kami menjadi terdakwa karena menunaikan apa yang menjadi kewajiban bagi kami.
Sementara Prancis bersemboyan Liberte, Egalite, Fraternite, di saat yang sama muslimah disana menjadi bulan-bulanan polisi karena tak boleh mengenakan jilbab saat bersekolah.
Sementara Amerika memasang badan paling depan untuk menjadi simbol penegakan HAM, penjajahan mereka atas Irak dan Afghanistan terus berlangsung dan menyisakan jutaan anak yatim-piatu dan janda-janda papa nan terlantar.
Sementara Yahudi menjadi penyokong terkuat Amerika sang penegak demokrasi, pada waktu yang sama, peluru-peluru tentara mereka memecahkan kepala ribuan bayi, anak-anak, orangtua, dan membuat tempat tinggal rakyat Palestina rata dengan tanah!
Demokrasi untuk apa?
Keadilan yang bagaimana?
Kesetaraan untuk siapa saja?
Dan kita, detik ini, di Indonesia, Palestina, Chechnya, Pattani, Moro, masih terpasung hanya karena bertuhankan Allah, bertauhid dan memegang teguh keyakinan serta mengamalkan ajaran Islam.
Phobia akut.
Menjalar menjadi penyakit kejiwaan yang berteriak lantang-lantang :
Apapun bentuknya, Islam adalah musuh dan ancaman!
Betapa kerdilnya.
Betapa memprihatinkannya.
Tidakkah mereka butuh terapi atau pengobatan?
Monday, 17.11.08, 11:45 pm
Diposkan oleh Indra Fathiana di 11/17/2008 3 komentar
