Jan 18, 2013

Bunda Dikuncikan Farah


Bismillah…

Ini cerita tentang Farah. Antara getir untuk dikenang, lucu untuk ditertawai, sekaligus bikin geleng-geleng. Jadi bingung mau tertawa atau sedih. Hehehe…

Ceritanya Farah umur 11 bulan waktu kejadian ini. Sedang puncak-puncaknya fase separation anxiety alias tidak mau berpisah lama-lama dari Bundanya. Menghilang dikit si Bunda dari pandangan, tangisannya meledak lalu ia akan berjalan tertatih-tatih mencari.

Sore itu Bunda kepingin pipis. Gak mungkin donk bawa-bawa si Farah ke toilet.. jadi Bunda tinggalkan Farah di ruang tengah sambil mengendap-endap. Sebab kalau diberitahu, sama aja dia akan nangis juga.

Dan benar, belum ada 1 menit Bunda di kamar mandi, Farah nangis dan menyusul ke toilet. Awalnya hanya merengek. Tapi karena tidak kunjung dibukakan pintu, dia menggedor-gedor sambil menangis kencang.

And the story starts…

Pintu kamar mandi itu ada selot kunci di luar dan dalam. Dan Farah yang cerdas meraih selot luar, menggesernya sehingga… “srettt!”, pintu terkunci.

Bunda sama sekali gak nyangka Farah bisa menggeser selot kunci itu sehingga Bunda terperangkap di dalam. Sambil memanggil-manggil nama Farah, Bunda menahan sedih mendengar tangisannya yang semakin kencang. Ya Allah, anakkuu… apa yang kamu lakukan?

Sambil coba mengendalikan diri, Bunda bicara pada Farah. “Farah tenang ya.. buka kuncinya, Sayang. Ayo digeser lagi seperti tadi. Pegang selotnya ya…”

Tentu saja Farah yang masih 11 bulan itu tidak mengerti bagaimana menggeser selot yang terkunci. Jadi dia hanya menangis, meraung-raung karena tidak kunjung melihat Bundanya.

Kehabisan akal, Bunda juga mulai terserang panik.  Gak mungkin ini selot terbuka kalau tidak dibuka dari luar. Dan tidak ada orang sama sekali di rumah. Tapi.. ada tetangga! Barangkali mereka dengar…
Berteriaklah Bunda melolong di tengah tangisan Farah yang super kencang.
“Tolooooooonggg….. Tolooonggg…..”

Sekali, dua kali, tiga kali, enam kali… sepuluh kali…
Ya Robb, tidak ada orang yang dengar… sakitnya tenggorokanku berteriak.. padahal suara mereka di luar rumah sekilas terdengar dari dalam WC.

Bunda pun berusaha menarik pintu kamar mandi yang terbuat dari stainless. Tapi terlalu kuat, tidak bisa ditarik!

“Dindaaaaaa….. toloooongg….. Divaaaaaaa…. Tooo..loooongggg!!” Bunda berusaha lagi memanggil nama anak-anak sebelah.
“TOOOOOOLOOOOOOOONGGGGG…. DINDAAAAA…… DIVAAAA…… OM SONIIIIIIII….. TOOOLOOOOONGGGGG!!!!”

Nama tetangga Bunda sebut satu-persatu. Tetap tidak ada respon.
Hujan mengguyur dan menerbitkan suara menderu.

Ya Allah bagaimana ini… Farah semakin keras tangisnya. Dan bunda semakin panik karena hopeless berteriak tanpa hasil.

Akhirnya Bunda coba selipkan tangan Bunda ke luar pintu lewat daun pintu yang atas. Farah sedikit tenang dalam sesenggukan.  “Tenang ya Farah, Bunda sedang berusaha…”

Tapi… tangan Bunda tidak sampai!  Selot kuncinya terlalu jauh. Tangan Bunda terjepit!

Ya Robb… hopeless lagi. Komat-kamit hati Bunda berdoa pada Allah minta diberikan cara atau pertolongan. Lalu Bunda teriak lagi sekencang-kencangnya, “TOOOO…LOOOOOONGGGG!!!!”, ditemani suara Farah yang tak kalah kencang menangis dalam kepanikan. Tak terasa mata ini ikut berkaca-kaca saking bingungnya.

“Farah… Farah keluar yaa.. ke pintu, Nak.. Farah panggil Kakak Dinda, atau Kakak Diva…”
Tapi Farah tidak mengerti sama sekali.

Dalam kepasrahan Bunda coba ambil gayung, lalu menyelipkannya di antara daun pintu supaya celah yang terbuka semakin lebar sehingga tangan ini bisa masuk. Lumayan sakit juga tangan ini terjepit. Ayo, ayo sedikit lagi…

Arghh… gak bisa!

Farah terus menangis.. dan Bunda semakin panik.

Gayung diselipkan lagi, kali ini didorong terus ke arah bawah, terjepit di pintu dan… “Grombyaanggg….!”

PINTU TERBUKA!!! Slot kuncinya terlepas bersama sekrup-sekrupnya.
Alhamdulillaaahh….

“FARAAAAAAHHH….!!!!!”
Seperti ibu dan anak yang sudah berpuluh tahun berpisah tak pernah jumpa, Bunda langsung memeluk Farah yang menangis hebat. Membelainya dalam pelukan sembari menenangkannya.   Dan Farah kecil yang tadinya menangis kencang langsung terdiam dalam dekapan Bunda.

“Are you oke, Farah? Sudah gak papa ya Sayang… Bunda disini… Farah peluk Bunda ya…”
Sore itu haru sekali… gak tega dengar tangisan Farah yang begitu sedih dan memeluk Bunda begitu kencang seolah tidak ingin berpisah.

Bunda langsung susui Farah supaya dia semakin nyaman. Matanya menatap Bunda dengan kesedihan. Merasa bersalah sekaligus kehilangan amat-sangat. Sesekali nafasnya masih tersengal di antara tenggorokan yang menelan ASI.
“Ssssh… tenang ya Sayang.. kan Bunda sudah disini sama Farah… J”

Begitu terkendali semua, Bunda keluar menemui tetangga di depan rumah, mamanya Diva. Mau laporan.

“Mbak, aku baru aja dikunciin Farah di kamar mandi…”
“Hah, saya gak dengar apa-apa…” kata mama Diva.
“Iya saya teriak kenceng banget , mbaak…” hiks… sedih bener gak ada yang denger, keluh Bunda dalam hati.
“Ooo jadi itu tadi kakak yang teriak kenceng-kenceng? Pantesan Diva tadi kayak dengar suara orang minta tolong… tapi gak jelas, soalnya kan ketutup suara hujan, Diva pikir suara darimana…” kali ini Diva angkat suara.
“Tapi Alhamdulillah udah bisa keluar.. Kasian Farah nangis kenceng tadi.. Gak kedengeran sama sekali??”
“Enggak, kak Inda.. gak kedengeran. Orang ujan deres banget…”
Hufftt… yasudahlah. Nasipnya Bunda deh.
“Makanya Kakak lain kali kalo mau ke WC bilang Diva dulu.. nanti Diva jagain Farahnya.”
Owh so sweet Diva yang baik.. tapi tawarananya rada telat yak? -_-‘
“Baiklah lain kali kakak titip Farah yah…”

Bunda bawa Farah masuk ke dalam lagi.. menyusui lagi sambil menatapnya penuh kasih.
“Farah sayang, tadi hebat banget bisa kunci pintu kamar mandi… Tapi Bunda kan jadi terkunci di dalam.. Lain kali tidak usah main kunci lagi ya Nak.. kan kasian jadinya Farah nangis di luar.. Ya?”
Mata Farah menatap Bunda lekat-lekat. Sesenggukannya mulai terdengar lagi, seperti merasa bersalah dan bilang, “Maafin Farah ya Bunda…”. Lalu Bunda peluk bidadari Bunda ini sambil menenangkannya lagi.

See… harus tertawa bangga, atau mengurut dada bersedih ya karena kejadian ini?
Oh, Farahku sayang… tak habis pikir Bunda dibuatmu, Nak… Semoga gak terulang lagi ya...



18 Januari 2013, 00:33 wib.
Ditulis Bunda saat Farah sudah berumur 14 bulan.

May 11, 2012

Farah Goes to Mall


May 8, 2012

Rindu

 Tahukah engkau, apa yang aku rindu melebihi rindu dalam setiap definisinya yang kita cerna melalui jutaan aksara?

Ia.
Membentang pertemuan dengan-Nya, membuka tabir dan kemudian menatap Wajah-Nya tanpa pemisah.

Dan setidaknya di dunia ini, kita singgah di rumah-Nya yang agung. Bersama-sama duduk menyembah. Melafazkan asma-asma-Nya yang menyemesta bersama selautan hamba.

Sampai suatu hari, engkau katakan inginmu untuk datang ke sana. Tahun ini. Di Ramadhan istimewa. Kita berdua.
Oh tidak, bertiga bersama buah cinta kita agar ia resapi pengalaman bertamu pada-Nya meski paham belum bisa ia telaah.

Lalu entah mengapa 2 pekan terakhir keharuan itu hadir. Terselip usai shalat berakhir.
Ada cekat-cekat yang menyesak tiba-tiba. Ada rindu yang hanya bisa tunai dalam jumpa.

Apakah kita telah terpanggil?

Bahkan kita pun tak tahu bagaimana ia akan menjadi nyata. Dunia jauh dari genggaman, bahkan bisa jadi sekarang layak dirasa beban. Seperti panggulan besar yang memayahkan meski ditanggung bersama; kerap menguras fikiran dan membuat asmamu kambuh seketika.
Keinginan ini benar-benar tidak logis. Tampak mustahil dan seolah khayalan.

Tapi Ia telah ajarkan kita untuk beriman. Untuk percaya. Untuk berserah.
“Jika tekadmu telah bulat, maka bertawakkallah kepada Allah.”
Maka, seperti yang sering kauucap, “seorang juara akan selalu berpikir tentang ‘bagaimana caranya’.. bukan berhenti menyerah atas keadaan atau kesulitan.”, engkaupun merajut ikhtiar sambil berharap-harap.

Dan ba’da isya berjama’ah tadi, setelah kuungkapkan cita yang sama, jiwa kita saling menerawang rencana. Bila Ia berkehendak, dunia kita yang getir itu akan tertaklukkan, untuk kemudian kita dapat berjalan beriringan menuju Rumah yang dirindukan.

Jangan salahkan jika mata ini mengabur.  Jiwa letih ini ingin menyungkur syukur di tengah hiruk-pikuk persinggahan yang amat singkat tetapi mampu mencipta kufur. Biarlah serambi-Nya dulu yang kali ini kita sentuh. Karena Firdaus masih teramat jauh, walau kita tak pernah tahu siapa yang lebih dulu melabuh sauh.



Jadi... apakah kita telah benar terpanggil?

Kali ini aku tetap ingin merasa yakin.
Karena bagi-Nya segalanya mungkin.

***

Senin 070512. 23:27 wib. Di tengah kesibukanmu menyongsong Jayakarta.

MPASI Pertama Farah



6 Bulan, saatnya Farah makan!!

Yeah..akhirnya tiba juga masa-masa MPASI. Saat-saat yang Bunda tunggu-tunggu dengan deg-degan..hoho. Bingung-bingung deh, banyak browsing malah tambah pusing.  “Buah dulu atau serealia dulu ya.. trus kalo buah, buah apa dulu sebaiknya. Trus jam brapa dikasih makannya. Berapa banyak..dst dst.”
Tentu saja google jadi andalan di tengah kebingungan ini. Bolak-balik search di grup, lacak sana-sini, sampai akhirnya memilih untuk ngasih makan buah dulu di MPASI perdananya Farah. Puree alpukat!

Secara garis besar sih katanya ada 2 mainstream MPASI awal. Ada yang berpendapat buah dulu, dengan alasan buah lebih ‘ramah lambung’, mengingat usia 6 bulan masih fase adaptasi dari makan hanya ASI saja, menjadi campur dengan makanan lainnya. Mainstream lainnya adalah yang memberikan makanan pokok daerah setempat, seperti tepung beras putih/merah, atau dengan kata lain biasa disebut ‘serealia’. Serealia diberikan pertama kali karena meminimalisir resiko alergi. Dan katanya kalau bayi sudah kenal rasa manis dari buah, ia berpotensi menjadi picky-eater (pemilih) ß case ini mungkin kasuistik ya. Sebab ada juga bayi yang tetap doyan makan apapun meski di awal MPASI-nya makan buah2an.

So sembari deg-degan Bunda bikinin Farah puree alpukat deh. Gak nyangka banget maemnya lahap. Horeee...!!! Alhamdulillaah..lega banget rasanya.

Hari pertama disarankan 3 sdt aja. Tapi berhubung Bunda sayang liat puree-nya nyisa, jadi Bunda suapin aja terus. Lagian Farahnya juga keliatan masih lapar. Hohoho..
Tiba-tiba sore hari Farah pup, padahal biasanya pagi. Cair dan ada serat2nya gitu. Keliatannya sih normal sebagai reaksi zat baru yang masuk ke tubuh.
Hari kedua sampai keempat masih puree alpukat. Semuanya alhamdulillah lancar jaya dan tidak ada tanda-tanda Farah alergi. Berarti alpukat aman deh buat Farah ^_^

Hari kelima, Farah mulai coba puree pepaya. Doyan juga :DDasar anaknya doyan makan kali ya..hehehe.. mudah-mudahan lancar juga sampai 3 hari ke depan, karena menunya baru boleh ganti setiap 3-4 hari untuk cek ada alergi atau tidak.

Ternyata benar apa yang teman-teman Bunda bilang. Kalau MPASI awal justru masih relatif mudah dan gak terlalu membingungkan. Nanti kalau sudah 8 bulan ke atas, biasanya akan lebih bingung karena harus bikin menu MPASI yang variatif supaya anaknya gak bosan.

Wah seru juga ternyata.. Semoga Farah sehat selalu ya, dan Bunda juga semangat menjaga asupan bergizi buat Farah. All the best for you, cinta :)


***

260412. 22:55 wib

Apr 26, 2012

Menjemput Esok



Bismillah.

Ada harapan besar ketika gayung bersambut hari itu : untuk dia dan dia. Setidaknya ikhtiar ini bisa memulai langkahnya. 

Dan mereka berjalan. Bertatap muka kemudian. 

Tapi entah. Langkah itu ternyata hanya diayunkan sekali lalu berhenti dan bahkan bisa jadi mundur lagi. Tidak ada penjelasan kecuali sebaris kalimat yang tak tepat konteksnya, kurasa. Bahwa benar, masa lalu kadang membunuh kita, membuat ketegapan berubah menjadi keraguan : sadar bahwa kita pernah terluka, lalu kita begitu waspada agar tak terjatuh lalu kembali lara. Tapi sungguh, serpihan kerikil itu hanya terlihat bak bongkah batu besar, padahal nyata-nyata ia sekedar ketakutan, serta kehati-hatian yang terlalu berlebihan. Dan ia benar jatuh. Lagi. Celakanya, apakah ia kerikil ataukah karang itu yang tak jelas, karena tak diraba apa bentuknya.

Lalu aku bertanya ‘mengapa?’ serta ‘bagaimana kalau..., apakah bisa?’

Tapi jawaban pertanyaanku adalah awan yang meliuk mengikuti angin yang membawanya. Tampak pasrah. Di permukaan terlihat berserah, tapi ditelisik tersembul menyerah. Tipis memang bedanya.


Bagaimana bisa, kaumemiliki cita tetapi bahkan kau tak mulai dengan rasa ingin tahu seperti apakah cita itu akan dapat dicapai? Tidak ada pertanyaan untuk menjaring kejelasan, setidaknya gairah yang menunjukkan bahwa benar kau ingin mencapainya, atau setidak-tidaknya, tunjukkan bahwa kau benar-benar memiliki cita-cita itu. 

Ada ribuan hati yang menyalahkaprahi perjalanan singkat di dunia ini. Bahwa kemauan tidaklah cukup untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Bahwa keinginan saja tidaklah sebanding dengan harapan yang kita langitkan tinggi-tinggi menggapai andromeda. Itu sebabnya takdir seringkali memihak mereka yang bersungguh-sungguh berupaya, untuk kemudian total berserah pada yang Maha Mengaturnya. Bukan yang menyerahkannya pada alir demi alir, hembus demi hembus, hingga air serta angin menjadi kambing hitam yang tak semestinya dalam filosofi ini : hidupku mengalir seperti air, dan biarkan angin membawanya kemana ia ingin.

Tapi barangkali, beginilah skenario untuknya kali ini: berusaha menyenangkan hati sesama, tapi tak miliki hasrat alami yang mendorongnya melakukan pilihan-pilihan dalam hidup. Ada usaha yang terpaksa, tak bergairah, sehingga wajar jika antusiasmenya tak muncul, padahal bentang waktu sudah semakin menghimpitnya. Dan lalu muncullah prasangka baiknya yang berlonjak-lonjak, lebih mirip pembenaran yang kuharap ia tak lagi gunakan. “Dia bukan yang terbaik, dan akan datang yang terbaik suatu saat nanti.”

Sampai kapan?

Jika saja ada pembelajaran, tentu evaluasi itu tak lagi melulu penghiburan diri, tapi lebih pada perubahan sikap, kepantasan memiliki takdir yang harus direbut, bukan dihadiahkan.

Pada jiwa yang ini, bisa jadi aku tak cukup memahami. Mungkin akan datang masa dimana ia perlu menentukan sendiri bagaimana takdirnya akan ia lukis. Masalahnya, sampai kapan penantian itu dirajut, di titik ini aku hanya bisa mendoakan, semoga kesabarannya senantiasa bersemi, bermekaran.


Untuk seorang sahabat, semoga Allah mudahkan.
02042012, 19:09 wib

Rumit


Bismillah.


Sudah sering sekali nasihat itu terdengar di telinga, tertatap di mata, dan terekam dalam kelip-kelip neuron syaraf ini.
“Jangan berharap pada manusia. Jangan hiraukan penilaian manusia. Berharaplah hanya pada Allah yang tak akan pernah mengecewakanmu.”

Tapi sabar yang katanya ada pada benturan pertama, tak juga membentuk diri di kala ujian yang serupa datang menyapa-nyapa.

Ada kalanya kemanusiaan kita meminta haknya. Menagih untuk dimengerti. Meronta saat disalahpahami. Dan ia semakin menghebat berontaknya ketika godam pengujinya memukul  berulang-ulang, bertubi-tubi, berkali-kali.

Betapa rumitnya manusia.

Apa yang tampak semestinya tidak menjadi parameter cerminan apa yang terkandung jauh di lubuk hati sana. Maka godaan bagi si mata yang hanya dua itu adalah, bagaimana ia bisa membuat hati tak menafsir sesuka dirinya, dan karenanya analisa mendalam perlu dilakukan sembari memaksimalkan cara kerja otak yang divergen bercabang ke berbagai arah. Bukan seperti si ‘kacamata kuda’ yang tak pandai mempertimbangkan sekian banyak kemungkinan.

Dan semakin rumit lagi ketika figur otoritas yang bisa saja mengklaim pembenaran atas prilakunya, berperan dalam cerita ini. Lidah menjelma hakim, hakim menjelma tuhan, dan kalau sudah begitu, apa yang bisa dirimu lakukan?

Yang tampak baik sangat mungkin diterima buruk. Yang buruk semakin jadi di-cap busuk.
Lari, barangkali menjadi solusi terbaik, bukan?

Mudah-mudahan, jika bukan karena tak lulus ujian, ada putih yang menghadap di hari kemudian. Engkau memang terus diuji agar kembali dalam keadaan putih. Hanya jika sabar lagi-lagi menjadi energi tak berkesudahan.



Menggalaudimalamminggu 31032012, 22:38wib.

Harapan vs Realita




Satu tahun.

Apa yang membuat orang bertahan hidup? Atau kembali memaknai harinya, atau bangkit setelah jatuh, atau setidaknya berpikir, ‘i still have tomorrow’?

Harapan, katanya.

Tapi yang lain bilang, ‘Manusia kecewa karena memiliki keinginan. Maka berhentilah menginginkan sesuatu jika kau tak ingin kecewa.”

Rumit. Kehidupan nyatanya tak sesederhana “berkeinginan, berpengharapan, tidak berkeinginan, tidak berpengharapan, ...”

Dan aku punya sejuta ingin.
Tapi realita membenturku dan seolah bilang, “tidak mungkin.”

Hmmm.... 
Sudah satu tahun. Sudah seperti apa jembatan yang kubangun?


12.02.2012, 0:27 wib.