Mar 26, 2015

Just Write


Bismillah



Kalo aja gak dipaksa-paksa nulis buat blog, kayaknya emang gak bakal jadi tulisan ini. Padahal pas jaman baheula, apa aja bisa ditulis (baca : dicurhatin) daaan ya ampun, gak semuanya penting! *tutupmuka*. Entah kenapa makin kesini rasa-rasanya gak semua hal perlu ditulis di blog. Selain memang ga sempet *alesan* dan minat menulis yang mulai meluntur *salahin sosmed*, alasan lainnya adalah s-e-g-a-n.


Rupanya, salah satu obat untuk mulai rajin menulis lagi adalah blogwalking. Baca-baca tulisan orang, daily life mereka, jurnal teman-teman tentang putra-putrinya, kehidupan di tempat baru, dan lain-lain yang bikin insight bermunculan. Abis itu jadi kepingin nulis deh. Trus update-update aktivitas yang sudah dilakukan. Yah penting gak penting sih. Tapi yang lebih daripada itu semua adalah, terrekam dalam tulisan. Jadi suatu hari bisa dibaca-baca lagi buat jadi kenangan, pelajaran, dan lelucuan aja.. hehe.


Well.. Kalau kebanyakan mikir memang tulisan remeh ini gak akan terposting. Bismillah deh ya, kepingin bisa rutin ngeblog lagi supaya latihan nulis lagi semengalir dulu. Sekalian terapi. Sekalian refleksi. Sekalian dapet banyak temen baru lagi sesama blogger. Sekalian nebar manfaat dan inspirasi. Aaamiin.


Coba kita liat seberapa serius saya mau mulai ngeblog lagi. Hihi..

Namanya juga usaha.. Niat aja dulu. Istiqomah belakangan :p






Jun 4, 2014

Ketika Si Kecil Tantrum



Bismillah..

Menghadapi anak tantrum mungkin menjadi pengalaman nyaris semua orangtua di muka bumi ini, termasuk saya. Peristiwa horor ini berawal saat Farah, putri sulung saya, berusia 1 tahun 10 bulan, dan intensitas tantrumnya cenderung menjadi-jadi pada usia 2 tahun.
Farah kecil memulai aktivitas tantrum pertamanya dengan menangis saat ia tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Kabar buruknya adalah, kita sebagai orang terdekatnya sekalipun tidak selalu bisa memahami apa yang ia minta. Tangisannya mulai tak wajar : panjang, lama, penuh kemarahan, kadang juga disertai tindakan menyakiti diri sendiri. Para ahli bilang, tantrum adalah perilaku yang wajar karena anak-anak belum bisa mengekspresikan kekesalan mereka dalam cara yang tepat. Bahkan mereka sendiri juga belum tentu paham apa sebenarnya yang mereka inginkan.
Jadi, ketika Farah tantrum untuk pertama kalinya, saya hanya bilang pada diri sendiri dan ayahnya, “Oke, ini saatnya.”, dan kami mengambil ancang-ancang seperti penunggang kuda yang siap menarik pelana.  Berikut tips-tips yang pernah kami terapkan :


1)  Ilmu Dulu Sebelum (Berkata dan) Beramal
Kutipan masyhur dari ulama besar Imam Bukhari ini sangat relevan diterapkan dalam berbagai sendi kehidupan.  Menyikapi atau melakukan sesuatu memang lebih enak jika sudah punya ilmunya. Maka saya dan suami pun membekali diri dengan pengetahuan seputar tantrum: apa, bagaimana, kapan, dsb. Dengan memiliki ilmu dan informasi yang cukup, alhamdulillah kami tidak terlalu terkejut dan dapat lebih logis ketika menghadapinya.

2)  Tetap Tenang.
Tetap tenang dalam situasi itu rupanya benar-benar tidak mudah, karena anak trantrum seolah-olah menguji sejauh mana kita dapat bersabar. Beberapa cara yang saya coba lakukan agar tetap tenang antara lain, menarik nafas panjang beberapa kali,  berdzikir atau bertaawudz (berlindung dari godaan syaitan agar tak terpancing emosi/marah), minum beberapa teguk, mensugesti diri agar tenang, atau bahkan menertawai sikap tantrum anak yang tidak rasional. Pernah suatu saat putri saya mengamuk sambil menangis keras. Lalu ia meminta saya pergi menjauh, dan saya pun menjauhinya. Baru saja keluar kamar, ia berteriak lagi, “Bunda sini aja..”.
Lihat, sangat tidak rasional, bukan? :D. Justru karena sikap mereka irasional, kita mesti paham bahwa tantrum seringkali tidak perlu dihadapi dengan serius.. hehe.. :)

3) Tonton Saja
Saat anak tantrum, anggaplah ia adalah aktor yang tengah berakting dan kita adalah penontonnya yang tidak terlibat sama sekali dalam adegan tersebut. Tips yang saya dapatkan dari babycenter.org ini rupanya sangat efektif mengendalikan diri saya sendiri. Lho, bukannya yang butuh dikendalikan itu adalah anak??
Sewaktu tantrum, biasanya anak sulit untuk dibujuk, ditenangkan, apalagi diperintah. Sehingga yang perlu dilakukan di awal adalah mengendalikan diri kita sendiri sebelum kita dapat mengendalikannya. Dengan menjadi penonton dan menguasai diri, kita tidak akan terpengaruh dengan adegan  apapun yang anak lakukan. Tonton saja, tak perlu terlibat. 

4) Rendahkan suara
Mendengar tangisan anak yang melengking dan mengamuk, apalagi di tengah orang banyak, seringkali memancing kita untuk meluapkan emosi secara lisan. Jika kita ingin berkata-kata di tengah tantrum anak, pastikan posisi tubuh kita sejajar dengan anak dan suara kita berintonasi rendah.  Posisi tubuh yang sejajar akan memberikan rasa aman pada anak dan perasaan dihargai. Sementara nada bicara yang rendah akan memunculkan feedback emosi lebih terkuasai, dan suara kita juga terdengar lebih berwibawa di depan anak. Sebab suara yang penuh kemarahan biasanya akan dibalas dengan tangisan yang lebih kencang atau tantrum yang semakin menjadi.
Di poin ini, kita bisa bicara pada anak dengan suara yang tegas namun tetap lembut,
“Kamu mau minta apa? Bicara yang jelas, karena Bunda tidak paham jika kamu menangis.”. Dengan cara ini anak akan memahami bahwa tangisannya bukanlah cara yang efektif untuk meminta sesuatu.

4) Biarkan
Salah satu cara efektif menyikapi tantrum adalah dengan membiarkannya, begitu kata banyak ahli. Yang pernah saya lakukan adalah sebagai berikut :
a)      Membiarkan sambil menemani
“Oh.. Farah sedang marah ya. Gak papa, Bunda temani ya nangisnya.” Demikian kalimat yang acap saya katakan saat putri saya tantrum. Saat ia menangis hebat, saya hanya diam, berusaha tetap tenang sambil memperhatikannya.  Cara ini efektif selama kita bisa mengendalikan diri dan tidak terpengaruh oleh tangisannya yang bisa jadi sangat-sangat annoying.

b)      Meninggalkannya
Kadang, saya meninggalkan Farah yang sedang tantrum karena khawatir ikutan kesal atau memang ada hal lain yang harus dikerjakan. Biasanya saya katakan padanya, “Farah kalau sudah selesai nangisnya, kasih tahu Bunda ya,”. Setelah itu kita perlu menengok sesekali, memastikan apakah ia sudah selesai dengan tantrumnya atau belum. “Sudah selesai belum nangisnya? Oh.. belum ya. Ok, Bunda pergi lagi ya. Nanti kalau sudah selesai nangis, bilang ya Far.”
Begitu tangisnya sudah mulai mereda, kita bisa mendatangi sambil memberikan apresiasi berupa kalimat positif, ciuman atau pelukan. “Wah, sudah selesai ya nangisnya.. Anak Bunda pinter sekali, gak nangis lagi. Coba cerita sama Bunda, Farah maunya apa...”.


Teknik komunikasi seperti ini juga pernah saya terapkan saat Farah minta sesuatu. Ketika itu Farah minta digendong, tetapi sambil menangis. Karena saya dan ayahnya tidak ingin mengabulkan permintaan yang dilakukan sambil menangis, kami tidak mengabulkannya. Kontan saja ia tantrum hebat. Tapi kami berusaha konsisten sambil terus mengatakan, “Ayah akan gendong kalau Farah diam. Sudah belum nangisnya?”. Farah yang mulai mengerti pun berusaha menghentikan tangisnya. Seketika itu pula ayahnya menggendong Farah. Namun saat Farah mulai menangis lagi, ayahnya meletakkan lagi ke lantai. Begitu seterusnya berkali-kali sampai Farah benar-benar berhenti menangis. Saat ia berhenti dan sudah tenang, barulah ayahnya menasehati bahwa meminta digendong tidak perlu sambil menangis, tapi cukup bilang saja baik-baik. Sampai sekarang pola ini kami pakai ketika ia kumat (meminta sesuatu sambil menangis/menangis tanpa alasan yang jelas). Dan alhamdulillah Farah sudah sadar, jika kami mendiamkannya maka lama-kelamaan  ia akan berusaha mengendalikan tangisannya sambil tersengguk-sengguk dan berkata, “Sudah, Bunda... Sudah.”. Itu artinya, ia sudah selesai menangis dan siap untuk berbicara baik-baik.


5) Memastikan Keamanan Anak
Seringkali anak yang tnatrum melakukan hal-hal yang berbahaya seperti membentur-benturkan kepalanya ke lantai atau tembok, memukuli badannya sendiri, berguling-guling dll. Ketika membiarkan anak mengekspresikan diri dengan tantrumnya, kita perlu memastikan bahwa : 1) ia tidak melakukan hal yang membahayakan dirinya, 2) ia berada di tempat yang tidak membahayakan dirinya, dan 3) di sekitarnya tidak ada benda berbahaya yang bisa mencelakakan dirinya.


Kira-kira begitulah tips yang saya dan suami lakukan. Yang agak sulit adalah jika Farah tantrum di tempat selain rumahnya, karena orang lain seringkali tidak tega atau cenderung memberikan saja apa yang diminta karena  terganggu mendengar tangisan anak. Kalau sudah begini, orangtuanya harus cukup tegas menegakkan prinsip atau membawa pergi si anak dari TKP.

Ohya, sehebat apapun teknik menghadapi tantrum yang dibagikan para ahli, saya kira semuanya mutlak membutuhkan kesabaran seluas samudra dari kita para orangtuanya. Dan biasanya, kesabaran menghadapi dinamika pada anak berasal dari bagaimana kualitas hubungan kita dengan Allah.

Okay, selamat menghadapi tantrum dengan bahagia ya, Ayah-Bunda. Pasti BISA! J


Rabu, 04.06.2014 - 15:45 wib
~di hari ke-40 adiknya Farah

Aug 15, 2013

Mutaba'ah Yaumiyah



Bismillah.

Saya menatap lembar berisi kolom-kolom yang selalu diedarkan tiap pekan itu dengan tatapan tak bergairah. Ada sederet ibadah dengan kolom kosong yang harus diisi angka. Sholat berjamaah, sholat sunnah rawatib, shalat Dhuha, tilawah Qur’an, puasa sunnah, qiyamullail, berolahraga, membaca buku, dsb.

Kami, saya dan sejumlah rekan satu pengajian diharuskan mengisi “Mutaba’ah Yaumiyah” itu, suatu form evaluasi ibadah harian yang akan dipantau oleh ustadzah kami. Tujuannya tentu baik, agar kami melakukan ibadah-ibadah harian sesuai standar yang ditetapkan, yang mengacu pada bagaimana Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya melakukan. Sebut saja, tilawah Al Qur’an sebaiknya bisa khatam dalam waktu sebulan, atau secepat-cepatnya 3 hari. Kalau targetnya sebulan khatam, berarti 1 hari minimal menamatkan 1 juz.

Begitu juga ibadah lainnya. Shalat Dhuha, Qiyamullail, Sunnah Rawatib, kalau bisa tidak ditinggalkan. Bukan bermakna mewajibkan yang sunah, tetapi mengingat betapa banyak keistimewaan yang terkandung dalam ibadah-ibadah tersebut, yang amatlah sayang jika dilewatkan. Apatah lagi dalam kamus seorang “aktivis da’wah”. Jika yang ia sampaikan adalah da’wah, dan yang mengubah hati manusia adalah hanya Rabb mereka, maka bagaimanalah mungkin kita tak berdekat-dekat pada-Nya?

Hati saya masih netral sampai disitu.

Tetapi menjadi agak lemas, kalau tidak boleh dibilang ingin memberontak, saat mengetahui prestasi ibadah saya diperbandingkan dengan yang lain.


Dalam kelas-kelas belajar di sekolah-sekolah, sistem ranking lambat-laun menjadi basi karena dinilai kontraproduktif. Setiap anak dipacu untuk saling bersaing satu sama lain. Dalam persaingannya,  ada saja anak yang iri, “Mengapa harus dia yang jadi juara?”. Dan lalu muncullah keberanian untuk berbuat curang, bahkan ada pula yang diimami sang guru atau dilakukan berjamaah. Lenyap sudah esensi belajar, yang penting angka dikejar, peringkat dikedepankan. Semangat yang terwujud kemudian adalah mengungguli orang lain, dan jika kita telisik selanjutnya akan memunculkan pertanyaan "untuk apa?". Disorientasi tujuan semakin jelas, saat kita bangga telah melampaui kemampuan orang lain, bukan mengungguli diri sendiri.

Saya tidak tahu apakah sistem seperti ini juga perlu diterapkan dalam Mutaba’ah Yaumiyah yang banyak orang lakukan bersama kelompok pengajian mereka. Yang saya tahu, urusan ibadah amatlah personal, antara ia dengan Tuhannya. Kepada manusia, perannya hanyalah sebatas pengingat, mengingati dalam kebenaran, mengingati untuk menetapi kesabaran.

Jika memang dalam soal ibadah juga perlu “buka-bukaan”, saya yakin diperlukan usaha yang lebih keras untuk menjaga keikhlasan dalam melakukan ibadah tersebut. Mengerikan sekali membayangkan syaitan membisiki kita saat melakukan sholat Tahajjud, “ayo lakukan supaya kolom sholat Tahajjud di lembar evaluasi ibadahmu tidak kosong! Dan kamu tidak perlu malu lagi pada ustadzah dan teman-temanmu karena ibadahmu sedikit…”. Na’udzubillah… Na’udzubillah…

Padahal, bukankah telah jelas haditsnya, “peperangan terbesar adalah melawan hawa nafsumu sendiri”, bukan “melawan (hawa nafsu) orang lain?”. Maka mengapa sesuatu yang sangat personal ini kemudian dibawa ke ranah perbandingan antarindividu? Bukankah seharusnya pembanding diri kita sejatinya adalah diri sendiri yang dikonteks-i waktu? “Saya kemarin, saya hari ini, dan saya esok” seyogyanya menjadi ukuran yang nyata jelasnya, apakah dalam lompatan-lompatan waktu itu kita menjadi lebih baik, stagnan atau bahkan lebih buruk.

Maka rekomendasi saya, jikalah sistem pengawasan dari orang lain masih diperlukan untuk membantu capaian-capaian ibadah kita, simpan saja baik-baik formulir itu antara diri kita dengan si evaluator. Cukup. Tak perlu beredar dan kemudian dibuat resume grafiknya, siapa paling tinggi, siapa paling rendah. Karena si paling tinggi mungkin juga berjuang keras mengendalikan potensi rasa ujub atau bangga hatinya pada amal yang telah ia kerjakan.

Itu yang pertama.

Yang kedua, sejauh ini dalam 10 tahun terakhir dievaluasi secara rutin, saya belum pernah mendapatkan pertanyaan yang lebih mendalam dari sekedar torehan angka. Angka membuat saya terpasung, jika saya sudah mencapainya maka Alhamdulillah, tercapai juga standar yang harus dipenuhi. Jika tidak, ya berarti saya harus berusaha lebih giat lagi. Sebatas itu saja. Bagi saya ini memancing perasaan “cukup” dalam beribadah. Padahal orang-orang shalih terdahulu tidak pernah merasa cukup dengan ibadah yang mereka lakukan, dan amat sangat khawatir amalan mereka diterima atau tertolak.

Jadi apa kabar dengan kualitas kekhusyu’an sholat kita?

Apakah sholat Dhuha dan Tahajjud kita masih dilakukan karena tergiur fadhilah-fadhilahnya saja? Lebih parah lagi, sekedar menggugurkan target demi target?

Bagaimana tilawah Qur’an kita? Cukupkah dikejar dengan membaca berlembar-lembarnya, ataukah dengan sejauh mana kita pahami makna ayat-ayatnya?

Bagaimana olahraga kita? Sekedar menyehatkan raga atau menjaga amanah Allah agar lebih optimal mengabdi
pada-Nya?

Sekali lagi, alangkah mengerikannya jika kita terjebak pada kuantitas dan tidak terlalu memperhatikan kualitas amal ibadah. Betapa meruginya saat kita merasa “cukup” dengan target yang ditetapkan, tapi luput memperhatikan seberapa  baik kadar kekhusyu’an, kadar keikhlasan, atau kadar ketinggian orientasi pada amalan yang dilakukan.

Maka biarlah kolom-kolom mutaba’ah beredar 4 mata. Kontrol berjamaah yang saya tak pungkiri masih diperlukan, tak perlu menjadi sarana yang berbalik memfasilitasi para syaitan dalam mempermainkan keikhlasan hati, karena disanalah salah satunya, terletak syarat diterimanya amal itu sendiri.

Sesungguhnya telah jelas menjadi teladan, bahwa Ali bin Abi Thalib serta Malik bin Dinar yang kadar shalihnya melebihi kita, begitu khawatir jika amalnya tidak diterima daripada banyak beramal. Karena kita tidak pernah ingin segala rupa ibadah yang kita lakukan, menguap tak berbekas hanya karena selintas perasaan riya’ atau ujub yang berhembus, yang mungkin tanpa sadar kita perbesar peluang kemunculannya..

Wallahua’lam.


Jagakarsa, 15/8/2013, 00:59wib

Aug 12, 2013

Nasi Bebek



Bismillah.

Anda penggemar Nasi Bebek?

Dalam 2 tahun terakhir, tepatnya setelah menikah, saya jadi keranjingan nasi bebek khas Madura/Surabaya karena suami suka makan nasi bebek. Sebelum-sebelumnya, jangan tanya. Melihat bebek goreng yang kehitaman saja rasanya jijik, apalagi kalau dagingnya alot.  Tapi sekarang, wah… setiap lihat warung nasi bebek, pasti saya kepingin coba. Oya, nasi bebek yang saya maksud disini adalah yang paduannya nasi putih, bebek ungkep dan bumbu minyak yang coklat-kehitaman- biasanya disiramkan di atas daging bebeknya. Bukan nasi, bebek goreng dan sambalnya.

Nah kali ini saya mau iseng-iseng mereview beberapa nasi bebek yang pernah saya makan di beberapa tempat di Jakarta. Belum banyak, sih. Tapi barangkali bisa jadi referensi. 

Nasi bebek pertama yang saya makan bersama suami adalah nasi bebek Kampung Melayu. Warung tendanya sederhana sekali, khas warung nasi bebek pada umumnya, tapi pengunjungnya cukup ramai. Letaknya tak jauh dari terminal Kampung Melayu arah Cawang, di sudut jalan dekat sekolah Cahaya Sakti. Komentar saya tentang nasi bebek yang pertama kali saya makan ini adalah “wah, bumbunya enak!”. Komentar berikutnya adalah pertanyaan pada tukang warungnya, “Mas, ada sambal tidak?”, dan sukses membuat suami geleng-geleng.

Hei. Jangan tertawakan saya :D

Nasi bebek dengan bumbu minyak biasanya memang tidak memerlukan sambal lagi karena rasanya yang pedas. Seingat saya nasi bebek Kampung Melayu yang saya makan pertama kali tidak pedas. Makanya saya minta sambal sama penjualnya. Tapi kali kedua saya makan, kok pedas ya..  *merasaaneh*
Untuk Kampung Melayu, saya beri skor 7,5. Bumbunya lumayan gurih. Tapi bebeknya kecil dan agak alot. Hehe… Yah overall masih lumayan lah. Boleh dicoba ;)

Review kedua jatuh kepada Nasi Bebek Mak Isah di Cipinang, arah terminal Pulogadung. Saya tertarik mencoba karena teman saya bilang nasi bebek ini enak dan sudah diliput TV beberapa kali. Maka dengan rasa penasaran, saya dan suamipun membeli untuk dimakan di rumah *soalnya sudah mau tutup.
Hmm… kalau boleh jujur, saya bilang nasi bebek ini sebenarnya tidak terlalu special. Bumbunya tidak terlalu gurih. Legit tapi masih kurang berani rasanya. Saya agak heran sih dengan komentar “enak” dari orang-orang.. hehe.. *padahal mah namanya rasa kan subyektif pisan ya..peace* :D

Tapi baiklah, karena suami saya bilang rasa dan bumbunya lumayan serta daging bebeknya lembut dan besar, saya beri nilai 7,4. Beda 0,1 point dengan Kampung Melayu :D

Review ketiga adalah nasi bebek di Kalibata. Lokasinya di pinggiran jalan arah Kalibata Mall, dekat komplek Kalibata Indah. Yang ini masuk kategori “terfavorit” versi suami saya, karena sambalnya tidak terlalu pedas (versi saya sih gak pedes sama sekali). Dagingnya lumayan besar, tidak alot, bumbu minyaknya gurih dan buat pecinta makanan yang sedang pedasnya, Nasi Bebek ini kami rekomendasikan. Nilainya 8 :D

Next. Nasi Bebek Kukusan Kelurahan, Depok.

Kok dari Cipinang bisa ke Depok segala?

Iyah, soalnya ibu saya tinggalnya di Cipinang Muara, kalo saya di deket Depok :D #gakpenting #abaikan.

Nasi Bebek yang ini letaknya di perempatan Jl. Palakali Raya, seberang Jl. Bungur, warungan sederhana juga. Selama tinggal di Jagakarsa akhirnya saya bersyukur bisa nemu Nasi Bebek yang lumayan enak (daripada gak ada pilihan). Bumbunya lumayan gurih dan bebeknya tidak terlalu alot, walau sayang sekali dagingnya kecil. Nilainya berapa ya.. 7,5 saja deh, mirip dengan yang di Kampung Melayu.
(selebihnya saya udah nyobain Nasi Bebek di sekitaran Jagakarsa, Jl. Jagakarsa lebih tepatnya. Ada 2 warung Nasi Bebek yang tidak jauh dari Masjid Al Wiqoyah. Yang 1 saya merasa makan minyak + nasi dan bebek; kebanyakan minyaknya daripada bumbunya. Sementara yang 1 lagi, tulisannya Nasi  Bebek tapi sajiannya bukan dengan bumbu minyak siram seperti yang saya maksud, tapi dengan sambal terpisah)

Okey, selanjutnya ada Nasi Bebek Lenteng Agung. Lokasinya di seberang IISIP, di pinggir jalan arah Depok. Yang ini skornya 8,5! Yeay!

Untuk yang tidak suka cabe, saya tidak rekomendasikan karena bumbu minyaknya di warung sini PEDES GILA!  Ibu penjualnya sih bilang pake cabe rawit merah, dan pas saya makan itu katanya cabenya udah dikurangin karena harganya mahal. HAH! Jadi normalnya lebih pedes lagi donk! Sebagai perbandingan, Nasi Bebek Mak Isah tidak pedas buat lidah saya. Kalo yang di Lenteng Agung ini, ampuuuunn.... 5 level pedas di atas Mak Isah kali ya.

Oya, si ibu penjualnya bilang sama suami saya, kalau dia belum pernah makan nasi bebeknya. What??
“Gak berani, Mas. Pedes banget. Heheheh… ”
Gubrak.

Secara umum Nasi Bebek Lenteng Agung lumayan bikin puas. Rasa bumbunya gurih, bumbu minyaknya super-duper pedas, daging bebeknya berukuran sedang dan tidak alot. High recommended deh buat penyuka pedas. HA-RUS CO-BA ;)

Nah, yang terakhir adalah Nasi Bebek Klender dengan skor 9!!! Wooohoo...…

Dari sekian banyak Nasi Bebek yang saya makan, Nasi Bebek Klender adalah yang bumbunya paling gurih dan paaaling spicy. Posisi warungnya di Jl. I Gusti Ngurah Rai dekat SPBU (kalau dari arah Penjara Cipinang, posisi SPBU-nya sebelum SMAN 12). Saya penasaran banget itu bumbu dipakein apa… tapi kalo saya rasa-rasa sih, sepertinya menggunakan ketumbar dan bawang putih yang cukup banyak. Ulekan ketumbar dan bawang putih itu kalau digoreng, aroma dan rasanya hmmm… menggugah sekali.
Untuk level pedasnya, tergolong lumayan pedas (2 level di bawah Nasi Bebek Lenteng Agung). Dagingnya tidak terlalu alot, besarnya sedang dan porsi nasinya lumayan buanyak. Buat saya, inilah Nasi Bebek terenak yang pernah saya makan ^_^ Hayuk, sila dicoba…

Yakkk… demikian review sotoy saya tentang Nasi Bebek. Saya baru nyobain beberapa titik saja di Jakarta Timur dan Selatan. Tentu saja sangat subyektif ya, karena soal rasa adalah selera yang setiap orang tidak selalu sama. Buat saya, Nasi Bebek yang enak dilihat terutama dari bumbunya, kemudian alot-lembut  bebeknya, dan besar-kecil dagingnya. Kalau kata teman saya yang juragan Nasi Bebek, soal rasa selalu yang utama. Hehe…

Selamat menikmati Nasi Bebek. Jangan lupa cuci tangan dan berdoa sebelum makan, ya ;)


Cipedak, Senin 12082013, 23:36 wib

Jun 27, 2013

Bergerak Meninggi




Ada kesejatian yang menggantikan luapan gairah cinta, dan rasanya itu lebih kekal. Bukan lagi sekedar 'passionate love', dimana kedekatan fisik mengalirkan endorfin yang meluap-didih dalam letup-letupnya, tapi cinta beranjak ke tempat yang lebih tinggi, dengan cita rasa memalung, juga mengakar.

Maka ketika sumbunya menerang nyala, romantisme mungkin menjelma bumbu pelengkap kemudian. Sudah kautemukan perasaan cinta yang bergetar lain dalam senyap kekaguman, dalam rembes kesyukuran, dalam kukuh keterikatan. Ia muncul di saat-saat genting juga lapang, ketika hal sepele maupun mahaberat menghinggap sesuka-suka mereka. Di kepalanya berkelindan rencana untuk terus bertahan. Di tangannya berurat pekerjaan untuk diselesaikan. Dan di hatinya ada tekad bergurat-gurat untuk mewujudkan jutaan impian.

Dan kita mungkin tidak melulu sempat berbincang sembari mendekatkan raga, mengistirahatkan jiwa. Waktu beranjak cepat, dinamis penuh tantangan dikejar zaman. Tapi disitulah cintamu dipasung bangunan agung bernama iman dan kepercayaan. Meski terkadang terbawa duga yang dirajut manis para durjana, engkau akan paham ketika ia pulang dalam kerut lelah yang membadainya seharian. Pun begitu, masih cukup tenaganya untuk terbangun malam-malam; sekedar menghangatkan susu atau turut menenangkan tangisan.

Benar. Cinta bergerak dari romantika menuju komitmen yang kuat. Dan kuatnya komitmen teruji dari pengorbanan keseharian, dalam perbuatan yang hanya perlu dilakukan.

Disitulah kita semakin memaknai kesejatian cinta dalam bakti dan amal, bukan lagi fase mengurai kata semata. Karena jika engkau mengaku cinta, maka pekerjaanmu selanjutnya adalah memberi sebanyak-banyaknya.


Rabu, 02.11.2011 - 13:08 wib.

~untukmu, yang slalu sigap menafkahi kami, menggendong, menggantikan popok dan memandikan putri kita : terima kasih telah menjadi suami & ayah yang kami banggakan...
Selamatkan ia, yaa Alloh.. Aku telah menyaksikan.

Jun 20, 2013

Aku Ingin





Aku ingin.. anakku kelak mengagumi kami, bukan karena luasnya ilmu yang kami miliki, namun karena kami bersadar diri untuk menjawab “tidak tahu” ketika memang kami tidak mengetahui apa yang ia ingin ketahui…
Aku ingin… anakku kelak mengagumi kami, bukan karena  kecukupan harta yang kami miliki, tetapi karena kami mau tetap hidup sederhana di saat kami mampu bermewah-mewah…

Aku ingin… anakku kelak mengagumi kami, bukan karena kami selalu berusaha memenuhi kebutuhan mereka, tetapi karena bekerja keras dengan penuh kesungguhan dalam mendapatkan sesuatu yang terbaik, telah mengkristal dalam diri kami…

Aku ingin… anakku kelak mengagumi kami, bukan karena banyaknya ibadah yang kami lakukan, namun karena dalamnya rasa tak pantas menyombong diri dan kemestian bersyukur, lagi memohon ampun untuk setiap mili dosa dan salah…

Aku ingin… anakku kelak mencintai kami, bukan karena kedermawanan yang kami persembahkan, namun karena berbagi adalah darah yang mengaliri kehidupan kami…

Aku ingin… anakku  kelak menyayangi kami, bukan karena kebesaran hati memberi maaf pada yang alpa dan menyakiti kami, tetapi karena kepahaman kami bahwa Rabb Yang Mahabesar lagi Maha Mengasihi tak pernah bosan mengampuni…

Aku sangat ingin… anakku kelak menghargai kami, bukan karena harta warisan yang mencukupi, namun karena nilai-nilai yang kami alirkan dalam jiwa mereka, sehingga mereka berdiri layaknya pepohonan yang menghidupi kota, meneduhkan jalan, dan memancang teguh dalam kebenaran…

Aku ingin…
anakku kelak mengenang kami sebagai orangtua yang tak lekang ia doakan…
untuk Firdaus dan Ridho-Nya yang kami rindukan…
di setiap akhir shalatnya..
di setiap ingatannya..
di seluruh relung hatinya…
sampai ia mati,
dan mengalirkan kelebihbaikkan pada anak-cucunya nanti.

Aku ingin…
Engkau kabulkan ingin kami.
Aaamiin…


WAMY building, Rabu 20 Juni 2013
Untuk Khadeeja Fateha Gifara Dewandaru, dan adik-adiknya.
 

Jan 18, 2013

Bunda Dikuncikan Farah


Bismillah…

Ini cerita tentang Farah. Antara getir untuk dikenang, lucu untuk ditertawai, sekaligus bikin geleng-geleng. Jadi bingung mau tertawa atau sedih. Hehehe…

Ceritanya Farah umur 11 bulan waktu kejadian ini. Sedang puncak-puncaknya fase separation anxiety alias tidak mau berpisah lama-lama dari Bundanya. Menghilang dikit si Bunda dari pandangan, tangisannya meledak lalu ia akan berjalan tertatih-tatih mencari.

Sore itu Bunda kepingin pipis. Gak mungkin donk bawa-bawa si Farah ke toilet.. jadi Bunda tinggalkan Farah di ruang tengah sambil mengendap-endap. Sebab kalau diberitahu, sama aja dia akan nangis juga.

Dan benar, belum ada 1 menit Bunda di kamar mandi, Farah nangis dan menyusul ke toilet. Awalnya hanya merengek. Tapi karena tidak kunjung dibukakan pintu, dia menggedor-gedor sambil menangis kencang.

And the story starts…

Pintu kamar mandi itu ada selot kunci di luar dan dalam. Dan Farah yang cerdas meraih selot luar, menggesernya sehingga… “srettt!”, pintu terkunci.

Bunda sama sekali gak nyangka Farah bisa menggeser selot kunci itu sehingga Bunda terperangkap di dalam. Sambil memanggil-manggil nama Farah, Bunda menahan sedih mendengar tangisannya yang semakin kencang. Ya Allah, anakkuu… apa yang kamu lakukan?

Sambil coba mengendalikan diri, Bunda bicara pada Farah. “Farah tenang ya.. buka kuncinya, Sayang. Ayo digeser lagi seperti tadi. Pegang selotnya ya…”

Tentu saja Farah yang masih 11 bulan itu tidak mengerti bagaimana menggeser selot yang terkunci. Jadi dia hanya menangis, meraung-raung karena tidak kunjung melihat Bundanya.

Kehabisan akal, Bunda juga mulai terserang panik.  Gak mungkin ini selot terbuka kalau tidak dibuka dari luar. Dan tidak ada orang sama sekali di rumah. Tapi.. ada tetangga! Barangkali mereka dengar…
Berteriaklah Bunda melolong di tengah tangisan Farah yang super kencang.
“Tolooooooonggg….. Tolooonggg…..”

Sekali, dua kali, tiga kali, enam kali… sepuluh kali…
Ya Robb, tidak ada orang yang dengar… sakitnya tenggorokanku berteriak.. padahal suara mereka di luar rumah sekilas terdengar dari dalam WC.

Bunda pun berusaha menarik pintu kamar mandi yang terbuat dari stainless. Tapi terlalu kuat, tidak bisa ditarik!

“Dindaaaaaa….. toloooongg….. Divaaaaaaa…. Tooo..loooongggg!!” Bunda berusaha lagi memanggil nama anak-anak sebelah.
“TOOOOOOLOOOOOOOONGGGGG…. DINDAAAAA…… DIVAAAA…… OM SONIIIIIIII….. TOOOLOOOOONGGGGG!!!!”

Nama tetangga Bunda sebut satu-persatu. Tetap tidak ada respon.
Hujan mengguyur dan menerbitkan suara menderu.

Ya Allah bagaimana ini… Farah semakin keras tangisnya. Dan bunda semakin panik karena hopeless berteriak tanpa hasil.

Akhirnya Bunda coba selipkan tangan Bunda ke luar pintu lewat daun pintu yang atas. Farah sedikit tenang dalam sesenggukan.  “Tenang ya Farah, Bunda sedang berusaha…”

Tapi… tangan Bunda tidak sampai!  Selot kuncinya terlalu jauh. Tangan Bunda terjepit!

Ya Robb… hopeless lagi. Komat-kamit hati Bunda berdoa pada Allah minta diberikan cara atau pertolongan. Lalu Bunda teriak lagi sekencang-kencangnya, “TOOOO…LOOOOOONGGGG!!!!”, ditemani suara Farah yang tak kalah kencang menangis dalam kepanikan. Tak terasa mata ini ikut berkaca-kaca saking bingungnya.

“Farah… Farah keluar yaa.. ke pintu, Nak.. Farah panggil Kakak Dinda, atau Kakak Diva…”
Tapi Farah tidak mengerti sama sekali.

Dalam kepasrahan Bunda coba ambil gayung, lalu menyelipkannya di antara daun pintu supaya celah yang terbuka semakin lebar sehingga tangan ini bisa masuk. Lumayan sakit juga tangan ini terjepit. Ayo, ayo sedikit lagi…

Arghh… gak bisa!

Farah terus menangis.. dan Bunda semakin panik.

Gayung diselipkan lagi, kali ini didorong terus ke arah bawah, terjepit di pintu dan… “Grombyaanggg….!”

PINTU TERBUKA!!! Slot kuncinya terlepas bersama sekrup-sekrupnya.
Alhamdulillaaahh….

“FARAAAAAAHHH….!!!!!”
Seperti ibu dan anak yang sudah berpuluh tahun berpisah tak pernah jumpa, Bunda langsung memeluk Farah yang menangis hebat. Membelainya dalam pelukan sembari menenangkannya.   Dan Farah kecil yang tadinya menangis kencang langsung terdiam dalam dekapan Bunda.

“Are you oke, Farah? Sudah gak papa ya Sayang… Bunda disini… Farah peluk Bunda ya…”
Sore itu haru sekali… gak tega dengar tangisan Farah yang begitu sedih dan memeluk Bunda begitu kencang seolah tidak ingin berpisah.

Bunda langsung susui Farah supaya dia semakin nyaman. Matanya menatap Bunda dengan kesedihan. Merasa bersalah sekaligus kehilangan amat-sangat. Sesekali nafasnya masih tersengal di antara tenggorokan yang menelan ASI.
“Ssssh… tenang ya Sayang.. kan Bunda sudah disini sama Farah… J

Begitu terkendali semua, Bunda keluar menemui tetangga di depan rumah, mamanya Diva. Mau laporan.

“Mbak, aku baru aja dikunciin Farah di kamar mandi…”
“Hah, saya gak dengar apa-apa…” kata mama Diva.
“Iya saya teriak kenceng banget , mbaak…” hiks… sedih bener gak ada yang denger, keluh Bunda dalam hati.
“Ooo jadi itu tadi kakak yang teriak kenceng-kenceng? Pantesan Diva tadi kayak dengar suara orang minta tolong… tapi gak jelas, soalnya kan ketutup suara hujan, Diva pikir suara darimana…” kali ini Diva angkat suara.
“Tapi Alhamdulillah udah bisa keluar.. Kasian Farah nangis kenceng tadi.. Gak kedengeran sama sekali??”
“Enggak, kak Inda.. gak kedengeran. Orang ujan deres banget…”
Hufftt… yasudahlah. Nasipnya Bunda deh.
“Makanya Kakak lain kali kalo mau ke WC bilang Diva dulu.. nanti Diva jagain Farahnya.”
Owh so sweet Diva yang baik.. tapi tawarananya rada telat yak? -_-‘
“Baiklah lain kali kakak titip Farah yah…”

Bunda bawa Farah masuk ke dalam lagi.. menyusui lagi sambil menatapnya penuh kasih.
“Farah sayang, tadi hebat banget bisa kunci pintu kamar mandi… Tapi Bunda kan jadi terkunci di dalam.. Lain kali tidak usah main kunci lagi ya Nak.. kan kasian jadinya Farah nangis di luar.. Ya?”
Mata Farah menatap Bunda lekat-lekat. Sesenggukannya mulai terdengar lagi, seperti merasa bersalah dan bilang, “Maafin Farah ya Bunda…”. Lalu Bunda peluk bidadari Bunda ini sambil menenangkannya lagi.

See… harus tertawa bangga, atau mengurut dada bersedih ya karena kejadian ini?
Oh, Farahku sayang… tak habis pikir Bunda dibuatmu, Nak… Semoga gak terulang lagi ya...



18 Januari 2013, 00:33 wib.
Ditulis Bunda saat Farah sudah berumur 14 bulan.