Oct 6, 2008

Kerjaan oh Kerjaan...

Bismillahh…



Again.

Pikiran ini tidak henti-hentinya berputar di benak saya. Soal kerjaan! Lagi!


Jadi masih kerja aja, Ndra?


Blah…

Kerisauan ini muncul lagi setelah permasalahan sebelumnya memang belum tuntas.

Pelajaran satu : tuntaskan masalahmu agar ia tidak berbuntut panjang!

Tak lain tak bukan, masih juga soal pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan saya tentu saja. Yahh… salah sendiri juga sih. Masak kerja di lembaga sosial ngarepin banyak. Mbok ya ngono… kerja di perusahaan… *huk*

Apalah yang bisa diharap dari yang selama ini saya jalani. Ini bukan soal bersyukur atau tidak, saya tegaskan. Tapi kita bicara kebutuhan yang ternyata melebihi pendapatan. Ya memang wajar, kerja dengan waktu yang relatif ‘semaunya’ (baca: fleksibel), dan bobot kerja yang tak terlampau berat, amatlah sepadan dengan apa yang saya terima.


Nah. Masalah muncul ketika harapan tak bersesuaian dengan kenyataan, bukan?


Itu dia.

Dengan menyambi berbisnis, pengeluaran saya untuk operasional tentu saja tak hanya seputar makan siang, sumbangan kebutuhan dapur dan rumah tangga, keperluan bulanan perempuan serta berangkat-pulang kantor semata-mata. Tetapi juga biaya tetek bengek ongkos unpredictable kesana-kemari bertemu partner/klien yang membengkak, pulsa yang cepat habisnya (karena memang sering banget dipakai), plus, biaya makan (selain lunch) kalau terpaksa makan sore atau malam di luar rumah. Maklum… awal-awal berbisnis kan butuh modal.

Bisa ditebaklah…

Besar pasak daripada tiangnya.


Saya kemudian berpikir untuk mencari sumber penghasilan selain kantor tempat saya mengabdi saat ini. Pindah kerjalah, intinya. Tapi saya masih menganalisa ini-itu.


Ternyata, lowongan di el-es-em tidak sebanyak yang saya duga. Mengingat saya masih merasa “gak gue banget” untuk bekerja di company -khususnya bidang HR dimana lulusan psikologi banyak berkecimpung disana- maka saya berfokus pada lembaga-lembaga sos-masy dulu, sesuai dengan minat saya.


Begitu ketemu yang sepertinya menarik…

Oalah… tempatnya jauh bener yak… bisa-bisa tua di jalan sayah kalau beginih caranyah… minimal 2,5 jam perjalanan, maannn… Itu kalau tidak macet. Kalau macet tentu saja bisa lebih lama lagi.

Dan berdasarkan informasi beberapa rekan yang lebih paham, pekerjaannya ternyata jauh tak sebanding dengan penghasilan yang diterima. Ya eyyalaahh… el-es-em gitu lokh…

Tapi saya juga butuh duit, Tuan… bukan sekedar aktualisasi diri *mengenaskan banget kesannya*


Well… saya pun melupakan lowongan di tempat tersebut. Gimanapun saya mencari yang lebih baik. Soal memberi, dimana aja juga bisalah, tidak harus disana…


Kemudian lowongan di company mulai berdatangan.

BUMN. Recruiter.

Saya abaikan email itu. Tapi masih kepikiran juga.

Ambil gak ya… coba-enggak….coba-enggak…

Dan hari-hari berlalu begitu saja tanpa keputusan.

Please, tolong, boleh kan saya merasa tidak klik untuk bekerja di company?

Dengan jam kerjanya, kulturnya, basic keilmuannya, bener-bener bukan jiwa saya untuk ituuu…

“Tapi gak ada salahnya dicoba lagi, Mbak…” ujar salah seorang rekan kantor.

“Begitu ya?”

Dan keraguan saya masih saja mengawang-ngawang dengan mata menerawang bimbang.


Dan…

Malam ini saya membaca ulang Laskar Pelangi.

Menelusur ulang kisah seorang guru sejati bernama Bu Mus yang terlampau langit bagi saya yang palung ini. Sejumlah orang dengan background psikologi memang menjadi guru (BK, pada umumnya. Atau dikenal dengan bimbingan konseling).


Tapi saya berkaca. Rasa-rasanya saya tidak punya cukup kepiawaian untuk menghadapi siswa-siswa. Dan cermin saya itu adalah Bu Mus, seorang guru muslimah langitan dengan trilyunan kesabaran menghadapi tingkah-polah 10 murid-muridnya yang ‘aneh tapi nyata’; dan juga seorang rekan saya yang lebih dulu menjadi guru BK tingkat SMA.


Kalau bercermin dengan Bu Mus, tewaslah saya. Betul-betul palung dan langit!

Maka cermin yang satunya masih cukup membuat saya sadar dari bahan apa dia diciptakan *peace, Mir! :D*.

Maksudnya, dulu saya dan rekan saya ini sama-sama belajar psikologi di kampus yang sama, angkatan yang sama, dan, kantor yang sama pula. Jadi saya rasa, bekal saya dan dia gak beda jauhlahh... Yang mungkin lumayan berbeda adalah pembawaan dan sifatnya.

Dari dia ini saya acap mendengar keseharian seorang guru BK yang cukup membuat saya berpikir, “kayaknya gua gak bisa kayak elu deh Mir kalo jadi guru…”.


Tau dong… tugas guru itu bukan sekedar menyampaikan materi, tapi juga mendidik.

Tau apa arti mendidik? Transfer nilai. Dan transfer nilai itu bicara soal bagaimana menjadi teladan. Menjadi teladan haruslah menampilkan sosok yang lebih mature (menurut saya), dalam berbagai hal. Dan dalam hemat saya, selain integritas, kesabaran dan ketulusan adalah dua hal yang mutlak harus dimiliki seorang guru yang ingin sukses, disamping poin-poin sekunder lainnya. Mau jadi guru macam apa kalau tidak mengajar dengan hati, coba???

Maka, blasss…. Hilanglah kepercayaan diri saya seketika.


Ditambah satu hal lagi, saya masih merasa… gimanaa gitu, dengan keharusan jadwal yang fullday bagi seorang guru, apalagi guru BK yang idealnya musti stand by setiap saat di sekolah.

Udah dibilang saya gak bakat kali ya, jadi karyawan office hour… rasanya gak merdeka aja gitu… dan tentu saja, yang paling fundamental adalah ini persoalan mengajar dengan hati, yang masih harus dipertanyakan dari seorang saya :(

Barangkali, kalaupun mengajar, mungkin saya lebih memilih menjadi dosen, yang jam kerjanya relatif tidak penuh seharian.

Dan weelll, sodara-sodara…

Menjadi dosen di Jakarta dan entah mungkin daerah lainnya, mensyaratkan pendidikan minimal strata 2!

Selamat! Anda tidak qualified!


Lalu sedikit cahaya atau entah godaan selanjutnya, muncul dari Bandung.

Lintasan pikiran ini bermula ketika saya berkunjung ke satu sekolah di Bandung dalam rangka pekerjaan kantor, dan saya bekerjasama dengan sejumlah orang dari satu perusahaan penerbitan terkenal berinisial G.

Pertama, ketemu sama Mbak N, sang editor sekaligus wartawan yang dinamis sekali kerjanya.

Kedua, ketemu sama Kang D dan Kang R, manager dan staf marketing yang subhanallah welcome dan baik hati sekali.

Ketiga, ketemu sama Pak G sang bos area penerbitan Jabar dan Jateng, yang begitu humble dan berbaur dengan para bawahannya.

Otak saya langsung nguing-nguing (kalau saya jadi lebah, pasti antenanya udah kelip-kelip deh).

Sepertinya menarik juga kerja di penerbitan, terutama marketingnya. Target sudah pasti ada, tapi yang saya amati dalam dunia marketing adalah dimana proses learning by doing menjadi salah satu hal terbesar yang menjadikan mereka semakin menyempurna.


Jadi, dalam pandangan saya yang awam tapi sotoy ini, orang-orang marketing itu tidak cukup hanya dengan membaca buku, ilmu atau teorinya berjilid-jilid, untuk menjadi pintar. Tapi harus action, action dan action. Dan dalam action itulah seringkali ilmu atau teori kalah benarnya. Atau dengan kata lain, pembelajaran/hikmah yang didapatkan ketika action, melebihi sekedar teori belaka. Menantang, bukan?


Ditambah lagi, waktu kerjanya relatif bisa dikendalikan. Mau sambil makan-makan, libur sekarang atau nanti, asalkan target tercapai, bereslah pekerjaan kita, ujar Kang D, si bos marketing penerbit G area Jabar.

Dan buat saya, pekerjaan ini punya nilai tambah tersendiri. Sebagai orang yang belajar ilmu perilaku manusia, marketing menjadi lahan belajar yang subhaanalloh luaaaaaaas… sekali, untuk mempelajari setiap saat, bagaimana memahami manusia sebagai subyek, dimana hablumminannas berlaku dengan segala rambu dan ketentuan-Nya. Otomatis, kualitas diri dalam berinteraksi dengan sesama manusia pasti ter-upgrade karena banyak learning by action tadi.


Lalu apakah kemudian saya mengajukan diri untuk bekerja sebagai staf marketing dari penerbit G?

Hehe. Belum, ternyata.


Pertama, saya masih menimbang-nimbang apakah cukup menenangkan bekerja di perusahaan yang punya stereotip kurang baik dalam konteks aqidah. Saya belum menemukan kebenarannya (karena yang namanya stereotip belum tentu benar, kan?). Walaupun banyak orang menjadi karyawan perusahaan ini-itu yang jelas-jelas menikam ummat, itu urusan mereka lah. Kalo sekarang kan saya sedang bicara tentang saya thok, bukan orang lain. Yang jelas ini PR buat saya cari tahu faktanya seperti apa, dan merupakan hal yang berkaitan dengan nurani. So, tidak usah ditanya seperti apa mendasar/tidaknya.


Kedua, jika saya ingin bekerja di tempat mereka, maka saya harus menimbang untuk hidup di Bandung, meninggalkan Jakarta. Dan ini berarti saya harus berhadapan dengan keluarga yang dari dulu selalu memberatkan jarak dan waktu bagi saya dalam bekerja. Okelah kalau hanya beberapa lama keluar kota. Tapi kalau sampai bekerja tetap di kota lain, dalam waktu berbulan-bulan, sepertinya saya pesimis akan mendapatkan ijin.

“Emang di Jakarta gak ada kerjaan bagus apa, sampe harus ke luar kota segala???”

Kira-kira demikianlah potensi ‘nyap-nyap’ dari 3 significant person di rumah.

Kecuali… ya, kecuali, ada mahram yang mendampingi disana.


Ketiga, ini juga tak kalah penting. Memangnya mereka sedang buka lowongan?

Hehe… gubrak deh.


Tapi entah kenapa saya seperti punya dorongan kuat untuk menindaklanjuti ladang terakhir ini. Pasalnya saya di-support sekali oleh sahabat saya yang tahu benar bagaimana linglungnya saya akhir-akhir ini untuk soal pendapatan.

Katanya, “Ya udah coba aja. Kamu kan minat. Kerja di penerbitan asyik lho, bisa kenal penulis-penulis ternama. Relasimu juga jadi lebih luas. Bisa kembangkan bisnismu juga. Selain itu kamu juga suka menulis. Siapa tahu bisa jadi editor J

Walau dia sama sekali belum berpengalaman di dunia penerbitan, hati kecil saya bersorak memberi dorongan yang sama positifnya. Entah kenapa.


Wellhh…

Panjang kaaali cerita kali ini ya?!?

Yah, pastinya saya masih harus mencari informasi kesana-kemari.

Ini memang bukan soal keyakinan bahwa rizqi sudah ada yang mengatur. Tapi ini soal kerja keras mencari pintu rizqi itu, dan soal pilihan-pilihan yang akan menentukan lukisan takdir macam apa yang akan saya jelang kedepannya.

Kalau begitu saya mohon doa (dan info2nya) ya, teman-teman… Semoga saya ditunjukkan yang terbaik :)


Kebayang deh, kalau aja saya curhat sama partner bisnis saya yang satu itu, pasti dia akan bilang….“Perasaan dari dulu udah gua bilang untuk cari yang lebih baik. Sampe sekarang belum dilaksanain juga solusinya? Yang kayak gini aja dipusingin, Iiiin… In! Fokuslah sama hal besar!”

Hahahaa… ampun dah, Bu Ap!!! ^_^



~ampeInsomniaGinihEuy..

Saturday, 04.10.08; 03.56 am



gambar2nya dari sini niiihh...

www.parentalk.co.uk/atwork/default.asp

http://homework.syosset.k12.ny.us/teachers/swrigley/extra-help.htm

http://www.istockphoto.com/file_closeup/business/business_concepts/banking/1973631_money_bag_the_cartoon_toolbox_series.php?id=1973631

http://www.school-clipart.com/_pages/0511-0710-1112-0653.html

Oct 3, 2008

Sayap Yang Tak Pernah Patah

Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang mem

buat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu di sana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.


Mari kita ikut berbela sungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.” Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu kita pada posisi kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justru melakukan pekerjaan besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang terjadi sesungguhnya hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: “apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi, kita hanyalah patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan.

Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.

(Anis Matta)


~lemahKarenaPosisiJiwaKitaYangSalah...

Friday, 03.10.08; 02:17pm

http://www.bbvancouverisland-bc.com/gallery/photos-ocean-view.html

http://www.artistwithlight.com/files/archive-jan-2008.html

http://www.oreillys.com.au/discovery-program/bird-watching/

Idul Fitri 1429 H


bismillah...


Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita di waktu yang lalu dan akan datang...
menjaga kita dari segala keburukan...
meneguhkan kita dalam berbagai kebaikan...
dan mempertemukan lagi dengan Ramadhan, bulan yang dirindukan...
Mohon maafkan segala ketidaknyamanan, kekecewaan, sakit hati atau sekecil apapun hal yang tidak mengenakkan, selama berinteraksi dengan saya.

Doa saya untuk semesta dan kalian semuanya...

Taqabbalallaahu minna wa minkum...
Selamat Idul Fitri 1429 H



pic from http://www.sacred-destinations.com/pakistan/lahore-badshahi-mosque.htm

Sep 29, 2008

Pray

Ya Allah...
Berilah aku kedalaman ilmu yang dapat menghalau syubhat...
Kematangan fiqh yang dapat meneguhkan hati menghadapi fitnah...

Ya Allah...
Berilah aku ketegaran iman yang dapat mengalahkan syahwat...
Kesabaran jiwa yang dapat mengalahkan kelemahan karakter kami...

Ya Allah...
Turunkanlah sakinah ke dalam hati kami saat kami menghadapi tantangan...
Turunkanlah cinta dan kelembutan ke dalam jiwa kami saat kami menghadapi perbedaan...
Kuatkan aku menghadapi diriku sendiri sebagaimana Kau kuatkan aku menghadapi musuh2-ku dan musuh2-Mu...

Ya Allah...
Ajarkan aku makna diam saat berkarya besar...
Ajarkan aku makna keyakinan saat kegagalan...
Ajarkan aku makna keteraturan saat kekacauan...
Ajarkan aku makna keadilan saat kemarahan...
Ajarkan aku makna iffah dalam kepapaan...
Ajarkan aku makna zuhud dalam keberhasilan. ..
Ajarkan aku makna keabadian saat godaan kesementaraan. ..

Ya Allah...
Kuserahkan jiwaku pada-Mu...
Maka bimbinglah ia hingga waktu menghadap di haribaan-Mu...

(Anis Matta)


~AllahummaAaamiin..



Sep 25, 2008

Pada-Mu Kubersujud



Ku menatap dalam kelam
Tiada yang bisa ku lihat
Selain hanya nama-Mu Ya Allah

Esok ataukah nanti
Ampuni semua salahku
Lindungi aku dari segala fitnah

Kau tempatku meminta
Kau beriku bahagia
Jadikan aku selamanya
Hamba-Mu yang slalu bertakwa

Ampuniku Ya Allah
Yang sering melupakan-Mu
Saat Kau limpahkan karunia-Mu
Dalam sunyi aku bersujud

(Pada-Mu Kubersujud - Afghan)



-h25ramadhan1429H
"allahumma innaka 'afuwwun Kariim, tuhibbul 'afwa fa'fuanni..."

pic from www.nwce.gov.uk/bank_images/star_night.jpg

Sep 22, 2008

Tumis Buncis Tempe Teri

Ini buatnya udah lama... tapi baru diposting skarang. Silakan kalo ada yang mau coba.
Simple dan sedap :)


Bahan-bahan:

Buncis, diiris miring

Teri medan (digoreng setengah matang)

Tempe (dipotong kotak2/panjang2, digoreng setengah matang juga)

Cabe hijau (diiris miring)

Cabe merah yang besar (diiris miring juga)

Cabe rawit (boleh diiris miring atau melintang biasa)

Minyak goreng secukupnya


Bumbu:

Bawang putih, cincang halus

Lada bubuk (lada bulat juga boleh, tapi dihaluskan dulu)

Daun salam 1-2 helai

Sereh 1 tangkai

Saus tiram

Garam

Gula pasir


Cara memasak :

Semua bumbu ditumis sampai wangi dengan minyak goreng secukupnya,

Campurkan dengan cabe hijau, cabe merah, rawit dan saus tiram.

Udah gitu masukkan buncis, teri dan tempenya.

Aduk-aduk terus sampai kira-kira bumbunya meresap.

Terakhir, masukkan garam dan gula pasir.

Oya, semua bumbu dan bahan-bahan, diperkirakan sendiri ya. soalnya ini semuanya cuma commonsense aja.

Selamat memasak!

Sep 14, 2008

Tentang Menikah

Bismillah...


Sebenarnya saya males ngomongin isu ini.
Selain tidak banyak menguasai konsepnya, saya juga belum pengalaman. Beda halnya jika saya minimal sudah menerapkan, yang jelas gak terkesan sotoy ataupun teoritis belaka. Tapi sepertinya ide ini harus saya share deh.. jadi saya tetep nulis aja.

Yap, saya mau ngomongin soal pernikahan.

Di usia rawan nikah seperti sekarang ini, rasa-rasanya membicarakan hal ini bukan aib juga. Toh secara psikologis, 'tugas' kita memang sudah seharusnya seperti itu. Dalam usia 20-30an, menikah, berkeluarga dan memikirkan kemantapan karier adalah hal lumrah yang dalam bahasa psikologi perkembangan, menjadi tugas yang sepantasnya diselesaikan.


Kalau kita bicara soal calon yang akan kita pilih, pasti udah banyak yang hafal h
adits nabi saw yang bilang,
“Wanita dini
kahi karena empat perkara: karena kehormatannya, hartanya, kecantikannya, dan agamanya, maka pilihlah yang mempunyai agama niscaya kamu akan bahagia.”
(HR. Al Bukhari).
Jadi, tentu saja parameter kriteria kita sebaiknya mengacu pada hal di atas.

Tapi fakta ternyata tidak semudah bayangan kita.
Kalau kita memilih calon pendamping yang baik agamanya, parameternya apa?
Ibadahnya yang rajinkah?
Ini perlu di-break down lagi. Apakah shalatnya yang kenceng, atau tahajjudnya yang tidak pernah terlewat, atau tilawah Qur'annya yang berjuz-juz dalam satu hari, puas
a sunnahnya yang tak pernah putus, hafalan Qur'an yang berjubel, dsb.

Nah, kalau sudah ketemu dengan orang yang seperti itu, pasti keren donk..
Hmm... sekilas, iya. Tapi bentar dulu. Disini ini nih rahasia yang mau saya bagi.

Dalam perbincangan di YM beberapa waktu lalu, ternyata, seorang tem
an saya bercerita bahwa pengalamannya membuktikan bahwa tidak semua yang ibadahnya baik itu bisa diandalkan.
Nah lho... gimana nih?

Sederhana sih, taruh aja contoh banyaknya orang sholat yang masih mencuri.
Jadi, kalau konteksnya pernikahan, gak semua yang ibadahnya baik, keluarganya juga berhasil.

Ini kata temen saya lho.
Dia bilang, dia menemukan fakta bahwa pernikahan seseorang yang ibadahnya rajin, ternyata kandas di tengah jalan. Ternyata si suami yang rajin ibadah ini kurang bertanggung jawab terhadap anak istrinya. Pengangguran pemalas, ujar rekan saya itu. Akhirnya berujung pada perceraian deh. Mengenaskan ya...

Waktu ngobrol sama temen saya ini, saya sampe berujar... "Masa sih... Masa sih..." berkali-kali.
"Wallahi, Ndra..." (nah, sampai bersumpah dengan nama Allah segala dia...)
"Sholat gak jamin. Ngaji gak jamin. Ibadah gak jamin!" tegas beliau.

Saya yang belum pengalaman ini akhirnya mikir. Ohh, begitu ya.

Jadi, gimana donk kita menentukan calon yang benar-benar tepat buat kita, kalau ternyata parameter ibadah tidak menjamin?

"Kuncinya..." lanjut teman saya ini, "cuma kedekatan kita dengan Allah. Biasanya kita akan diberi mata hati yang jernih ketika kita dekat dengan Allah. Disitu kita bisa melihat lebih dalam dan memutuskan, apakah orang yang mau kita nikahi/mau menikahi kita benar-benar 'baik'/tidak untuk kita jadikan pasangan hidup".

Nah, dalem banget kan..

Tidak usah dipungkiri, kadang kita suka terpukau dengan si anu yang ibadahnya rajin.
Atau si itu yang anak orang kaya.
Atau si dia yang tampangnya keren, cantik, ganteng, dsb.
Atau si ini yang kepribadiannya menarik, dan kayaknya pantes deh jadi ibu/ayah dari anak-anak kita kelak.

Keinginan-keinginan itu manusiawi sekali, menurut saya. Bagaimanapun sebagai manusia, tentu saja hati ini punya kecenderungan pada yang secara kasat mata dianggap baik. Tapi ya itu tadi, saya jadi disadarkan sama nasihat rekan saya itu, bahwa... PUN, ibadah saja tidak menjamin kebaikan yang ada pada seseorang.



So, kiranya memang perlu kita luruskan niat lagi, bahwa menikah itu untuk mencari keridhoan-Nya semata. Dan tentu saja, berhubung ini adalah isu yang sangat krusial dan keputusannya akan berpengaruh seumur hidup dunia-akhirat, adalah terlalu angkuh untuk kita putuskan hanya dengan mengikuti keinginan sendiri, tanpa campur tangan Yang Maha Tahu segala yang terbaik bagi kita. Campur tangan itu, insya Allah akan kita dapatkan dari mata hati yang jernih, yang telah dipengaruhi oleh kedekatan kita dengan-Nya.

Hmm... jadi ngaca deh saya.



~nampolBangettt..makasihYa,Adzan...
Sun, 14.09.08, 02:59pm