bismillah.
Aku seolah baru tersadar, aku kehilangan…amat sangat kehilangan teman diskusi tentang perempuan –tentu dalam kacamata yang sepaham. Ia berpulang dalam waktu yang begitu cepat, dalam usia sangat belia dan dengan potensi besar yang nyatanya kemudian harus tiada.
Aku masih ingat, suatu waktu beliau menjelaskan pertanyaan besarku tentang “perempuan sebagai fitnah”. Mengalirlah kemudian jawaban demi jawabannya, mulai dari hadits “yang disalahpersepsikan” dan dianggap menyudutkan perempuan, counter dengan hadits lain yang menegasikan hal tersebut, pandangan Islam tentang memuliakan wanita, dan seterusnya.
Selama ia menjelaskan, terlihat benar pemahaman “feminis”-nya yang kupikir cukup syar’i. Ia tahu diri serta menyadari peran dan tanggung jawab para perempuan. Tapi ia juga menolak siapapun yang mengecilkan perempuan dalam berbagai sudut pandang.
GREAT!!! Gua punya sodari yang keren banget ternyata!!!
Tapi…
Sekali lagi dia telah berpulang.
Meski mungkin itu jalan terbaiknya, aku masih saja berharap sosoknya menjelma dalam banyak muslimah dan mujahidah yang bertebaran di seluruh dunia…
Saudariku sayang…aku benar-benar kehilanganmu… :’(
In memoriam alm.Iis Nur Aisyah, 10 April 1983 - 25 Jan 2006.
Mar 6, 2006
Sodaraku Feminis
Diposkan oleh Indra Fathiana di 3/06/2006 1 komentar
Mar 2, 2006
Allah Tahu Kita Sibuk
bismillah.
taujih bagus dari buku nih...
***
Ada banyak sarana yang bisa kita jadikan sebagai pilihan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hubungan tersebut (hubungan yang kokoh –quwwa-tush-shilah- dengan Allah).
Di dalam al mustakhlash fi tazkiyatil anfus, Sa’id Hawa rahimahullah menyebutkan 13 sarana yang bisa kita jadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Swt., mulai dari sholat, zakat-infak-sedekah, puasa, haji, tilawatul quran, dzikrullah, tafakur alam, dst.
Meskipun begitu, kita masih sering merasakan kekeringan rohani. Ini karena kita sangat jarang mengalirinya dengan siraman-siraman rohani berupa sarana-sarana tersebut, atau dalam istilah tekniknya, kita jarang men-charge aki dan baterai ruhani yang kita miliki dengan sarana-sarana islamiyah tadi.
Alasan yang kita kemukakan selalu sama dan klasik, yaitu : sibuk dan repot. Hal ini terjadi karena kita susah mengatur waktu dan mendapatkan waktu senggang untuk menyiram dan mengisi rohani.
Terkadang, ketika sedang berkumpul dengan sesama kader (da’wah -peny), kita ingat bahwa ruhani kita sedang sangat kekeringan. Namun begitu keluar dari majelis ikhwah, kita kembali lagi menjadi manusia-manusia yang sibuk.
Namun, perlu diingat bahwa dengan adanya kesibukan tidak berarti kita dapat meninggalkan langkah-langkah untuk melakukan siraman dan charge ruhani kita. Mari kita renungkan bersama firman Allah swt berikut ini :
“sesunguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saj ayang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Muzzammil:20)
Ayat ini menjelaskan bahwa :
1. Allah Swt mengetahui bahwa kemampuan kita dalam ber-qiyyamullail berbeda-beda. Ada yang hampir mampu mencapai dua per tiga malam, ada yang mampu setengah malam, ada yang sepertiga malam.
2. Allah Swt.lah yang membuat ukuran-ukuran siang dan malam.
3. Allah Swt. Mengetahui bahwa kita ini lemah dan tidak akan memenuhi kewajiba itu (waktu itu qiyamullail setengah malam adalah kewajiban kaum Muslimin).
4. Allah Swt. Mengetahui bahwa ada di antara kita ada yang sakit, ada yang sibuk mencari ma’isyah, ada yang sibuk berperang fi sabilillah.
Meskipun mengetahui kesibukan kita, Dia tetap memerintahkan kirta untuk :
1. Membaca Al Quran (bahkan diulang dua kali)s esuai dengan kemudahan kita.
2. Menegakkan shalat.
3. Membayar zakat
4. Mmeberikan pinjaman yang baik kepada Allah Swt. (sedekah dan semacamnya).
5. Banyak beristighfar
Artinya, betapapun kesibukan melanda kita, kita tidak boleh melupakan tugas menyirami ruhani kita dan men-chargenya dengan berbagai sarana yang ada.
Ada banyak cara yang ditawarkan oleh Islam agar kita tetap bisa mendapatkan kesempatan melakukan siraman dan charge ruhani kita. Diantaranya adalah :
1. Kita harus men-split waktu-waktu yang kita miliki agar menjadi berbagai macam saat, sehingga di hadapan kita akan muncul sederet waktu yang bisa kita daya gunakan.
Pada suatu hari, seorang sahabat yang bernama Hanzhalah bertemu Abu Bakar ash-SShiddiq r.a. Begitu bertemu, Hanzhalah berkata, “Nafaqa Hanzhalah” (Hanzhalah menjadi munafik). Mendengar pernyataan seperti itu, Abu Bakar kaget, lalu berkata, “Mengapa?”. Hanzhalah berkata, “Kalau kita berada di majelis Nabi saw, seakan kita melihat dengan kepala kita sendiri suasana surga dan neraka, akan tetapi begitu bertemu anak-anak, kita lupa semua yang kita rasakan tadi”. Mendengar penjelasan itu, Abu Bakar menjawab, “Kalau begitu sama dengan saya”
Singkat cerita, keduanya mendatangi Nabi saw. Setelah keduanya menceritakan apa yang dirasakannya, Nabi saw. Menjawab :
“…Akan tetapi, wahai Hanzhalah, sa-‘ah wa sa-‘ah.” Maksudnya, “Bagilah (split) waktumu agar ada saat untuk ini dan ada saat untuk itu.” (HR. Muslim).
2. Kita harus pandai memanfaatkan serpihan-serpihan waktu yang kita miliki dan mendayagunakannya untuk penyiraman dan charge ruhani kita.
Pada suatu hari, Rasulullah saw memperingatkan bahaya memaksakan diri untuk memperbanyak ibadah. Beliau bersabda :
“sesungguhnya agama in imudah dan tidak ada yang memberat diri sendiri kecuali agam itu akan mengalahkannya. Karenanya, luruskan langkah dan kokohkan, berusahalah untuk selalu mendekati (target ideal), bergembiralah (jangan pesimis), dan meminta tolonglha dengan waktu pagi, waktu sore dan sedikit malam”. (HR. Bukhari)
3. Terakhir, kita harus pandai-pandai membuat diversifikasi acara (keragaman acara) agar tidak cepat bosan. Ingatlah bahwa Rasulullah telah bersabda:
“Jangan begitu, laksanakanlah pekerjaan sesuai dengan kemampuan kalian! Maka demi Allah, Allah swt tidak bosan sehingga kalian bosan, dan agama yang paling Allah swt. Sukai adalah agama yang pemeluknya kontinue dalam melaksanakannya.” (H.R.Muttafaqun ‘alaih).
Semoga Allah Swt. mmberikan taufik , bimbingan dan kekuatan kepada kita untuk istiqomah di atas jalan agama-Nya. Amin
Disalin dari buku “Membangun Ruh Baru, Taujih Pergerakan untuk Para Kader Dakwah”, karya Musyaffa Abdurrahim (Penerbit Harakatuna, 2005).
Diposkan oleh Indra Fathiana di 3/02/2006 0 komentar
Mar 1, 2006
I'm Back!
bismillah.
assalaamu'alaykum wrwb, semesta!
alhamdulillah, senang rasanya bisa mengisi blog lagi. Waktu luang rasanya benar2 menjadi nikmat yang luar biasa ketika kesibukan demi kesibukan datang mendera.
Apa kabar ya, blog bro n sist yang lain? Baik-baikkah kalian disana, wahai ikhwati fillah?
well...smg kedepan bisa nampilin tulisan2 yang lebih baik dan bermanfaat.
Yuks, terus semangat mencahayakan dunia dengan segala potensi kita! ^_^
"Dahulu, Islam dibebaskan dengan pedang. Kini, Islam akan dibebaskan dengan pena dan tinta, Insya Allah..." ( Yusuf Qaradhawi)
Diposkan oleh Indra Fathiana di 3/01/2006 3 komentar
Jan 26, 2006
Musma dan manusia
bismillah.
hari ini adalah hari pertama musyawarah ikm (ikatan keluarga mahasiswa) ui.
katanya sih, dibatasin sampe 2 minggu doank...
tapi aku gak yakin nih, seharian ini aja cuma ribut masalah tata tertib sidang. dan itu baru sampe pasal no.2, sodara-sodara... padahal ada sekitar 20-an pasal dalam tatib.
Baru ta-tib! undang2nya sendiri belum kesentuh!
kalo anak teknik, katanya sih dari pagi ampe pagi lagi tiap hari...(hiyy, teknik bangget!)
duduk di ruangan ber-ac bukannya mampu mendinginkan kepalaku. malah sepanjang hari itu kepalaku cenut-cenut. entah karena efek lapar, dingin, atau gak betah.
ya iyalah, orang masuk ke situ 'hanya' untuk mendengarkan orang mengoceh dan berargumen panjang lebar... bersuara mah kalo emang pengen bersuara ajah.
itu juga kudu ngacung tangan tinggi2 dan sampe ditunjuk sama pimpinan sidangnya...
tapi, duduk diam dan menyimak setiap orang berbicara rasanya asyik juga. lucu aja, merhatiin si ini ngotot, yang satu bicara dengan santai, yang lain bicaranya kemana-mana, ada yang kemukakan argumen dari yang logis sederhana sampe logis yang muter-muter..ada juga yang...duh, kebanyakan nyeletuk and becandanya!
dan aku berhasil nyemprot salah satu dari gerombolan di baris paling belakang yang always ngomentarin setiap omongan orang yang lagi bicara kepada floor...
"ssstttt, oknum S! berisik banget sih! bawel..."
dan oknum itu mingkem seketika, sambil mengkeret diledek temen sebelahnya,
"dimarahin tuh, S...hahaha..."
"waduh. iya nih, malu. sama akhwat pula."
Ugh. Puas... (",)v
ah, tapi aku gak mau cerita tentang musyawarahnya. lammmma. si ini usul, si itu balas, si pimpinan gak tegas...debat lagi, balas lagi... pegel deh.
jadi, sekarang aku lebih tertarik mencermati manusia-manusianya.
dalam forum seperti ini, kadang orang jadi keliatan aslinya.
hey, everyone wear mask, u know...
beberapa (katanya) berakting dengan berargumen secara garang.
suara dikeraskan, nada meninggi, gaya kasar...
beberapa lagi tampil secara alamiah. tapi tetep aja berusaha menampilkan ketegasannya.
ataukah semua orang selalu berusaha tampil tegas (dan cenderung galak) dalam momen2 seperti ini ya?
musyawarah mahasiswa, gitu lho...
katanya sih banyak kepentingan yang mau disuarakan...
tapi kenapa harus barbar begitu ya?!?
kalo akting, ya kenapa harus begitu?
kadang orang bisa menundukkan lawannya hanya dengan kata-kata lembut tapi tajam.
dan bukan gak mungkin orang lain justru mengerti kata-kata yang diucapkan tanpa terlihat sok garang.
atau...
apakah supaya ada efek psikologisnya kalo denger orang bicara dengan gaya preman?
pasti ada sih. bisa jadi takut, segan, atau malah gak simpatik.
kata seorang anak teknik, "itu biasa, kok. keliatan di forum aja galak. tapi sebenarnya ya biasa aja. namanya juga akting, biar keliatan garang..."
mmm...begitu ya.
kalo misalnya...disampaikan dengan cara yang lembut emangnya kenapa?
"itu bukan teknik namanya," kata Mr.Biggy.
ooh. jadi begitu toh.
aku jadi inget sama seorang teman yang complain sama masalah pembawaan sikap ini.
katanya, "rosulullah tuh da'wahnya dengan lemah lembut. gimana orang mau simpati kalo nyampein islam yang indah ini dengan bungkus yang menyeramkan?" kira-kira begitu dia bilang.
dan si "pura-pura garang" berkata lagi,
"ya itu kan cuma di luar. jangan melihat orang dari luarnyalah..."
aku sih diem aja waktu melihat mereka saling berargumen.
rosululloh emang top banget. tapi, menafikan adanya berbagai karakter manusia rasa-rasanya juga mustahil. emang bawaan oroknya kali ya, mereka garang-garang.
toh umar bin khothtob juga garang, kan?
tapi mungkin yang patut diperhatikan adalah menempatkan karakter yang sesuai pada tempat yang tepat.
hmmmmmmm...
betul kan?
manusia itu emang gak abis-abis buat dipelajarin deh...
kadang terasa sulit dimengerti juga...
btw...
waks! musyawarah ikm-nya masih berhari-hari lagi!
selamat deh... -_-'
ayo..ayo..semangattt!!!
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/26/2006 2 komentar
Jan 22, 2006
Rokok, Si Biang Kerok

Bismillah.
Kenapa sih, harus ada rokok di bumi ini?
Menyebalkan sekali, menghirup udara beracun yang perlahan keluar dari sebatang benda itu. Ngisap batangnya juga enggak, keracunan iya. Heran. Dimana-mana ada rokok. Gak di jalan, di rumah, di angkot, kampus, kereta, apalagi di stasiun. Belum jalan semeter dah ketemu rokok lagi. Jalan lagi, ketemu lagi. apalagi di kampus. mana ruangannya ber-AC lagi. Ni dunia kenapa gak bisa beraroma seger gitu ya. Bau asapnya… ampuuuunnn! Muntah-muntah dah gua…
Entah kenapa sampai detik ini aku jadi begitu antipati sama rokok. No rokok forever! Sampe idungku dah sangat sensitif membaui aromanya yang menusuk itu. Kenapa ya?
Mungkin karena aku dah tau betapa rokok itu amat sangat berbahaya. Dan semakin benci ketika tau bahwa perokok pasif (orang yang tidak merokok tapi menghisap asapnya) justru menderita penyakit yang paling parah dibandingkan perokok aktifnya! Bayangin aja, kita yang gak melakukan apa-apa malah jadi korban!!! Zholim nian…
Kadang aku merutuki diri karena gak berani menegur orang agar menyudahi rokoknya. Hhhh…Sapa suruh jadi orang yang submissif… Tertindaslah dikau, sampai kamu sendiri yang berani memperjuangkan hak-hakmu.
Makanya, begitu suatu hari aku berani menegur orang yang merokok karena terganggu dengan asapnya (yes! Finally!), dengan serta merta aku bersorak dalam hati…berhasil, man!!! Berhasillll!!! Dan sampe kampus dengan senang-gembira-bersorak ria aku bilang ke teman2 bahwa aku berhasil menegur orang yang merokok!
Padahal tinggal negur doang apa susahnya ya…-_-‘
Eh tapi beneran susah lho. Suka ada perasaan gak enak aja. Itupun aku dah baca doa berulang kali dulu semoga Allah menyadarkan si perokok supaya sadar sendiri tanpa harus ditegur (ya mana bisa kalo gak usaha ya?!?). Dah gitu, aku malah deg-degan sendiri, mikirin berulang kali…gimana ya, kalimat yang pantas…
belum lagi memvisualisasikannya dalam imajinasi. Halahhh….lama betul deh.
Ada juga orangnya keburu pergi.
Mungkin itu karena aktivitas merokok juga dah lazim dilihat. Dan karena itu pula, si penegur bisa jadi malah dianggap membatasi kesukaan orang lain. Lho, kenapa jadi kebolak begini seh?!?!?!?
Itulah. Kebanyakan orang Indonesia kurang asertif. Mau aja ditindas dengan sukarela. Akibatnya ya gak heran, betah dijajah beratus-ratus taun sama kompeni. Orang dijajah kok ya malah nyembah-nyembah. Begitupun halnya dengan rokok. Seringkali jadi korban, tapi acuh aja ketika hak menghirup udara bersih dikotori oleh bergumpal-gumpal asap racun yang mematikan.
Huh…Liat asapnya yang melinting-linting di angkasa aja bikin hati bete. Apalagi kalo liat yang megang. Gak peduli sopir angkot, bapak-bapak, mas-mas, apalagi pelajar. Ya ampun, masih kecil aja udah ngerokok, gede mau jadi apaan lu, tong?
Ni lagi, baju necis. Dandanan rapi. Rambut klimis. Tapi…Alamak…merokok pula dia. Tewaslah kekerenannya di mataku.
*Subjektif atau gak adil?*
Mungkin.
Abis gimana doooonk…rokoknya gak mau dimatiin sih. Pada gak nyadar apa udah berbuat zholim? Sampe kalo keselku udah sampe ubun-ubun, aku tereak dalam hati, “Woy! Kalo mo mati jangan ngajak2 donk! Sendirian aja sana!”.
Tapi payah ah...cuma bisa dalam hati doang...
Temenku ada yang lebih kejam lho, sampe ngedoain segala supaya si perokok dikasih sakit parah sama Allah, supaya dia nyadar dan berenti ngerokoknya.
Yah…dibilang gak bijak mungkin ada benarnya. Kata seseorang di blog tetangga… “alangkah baiknya kalau kita menilai seseorang dengan 'zhon' (prasangka) yang baik. Jika dengan melihat kekurangan seseorang, maka kita dengan begitu memvonis (ghibah) jelek dan meninggalkannya (memutus tali silaturahim).... bukankah itu lebih buruk?”.
Bener banget siiiiihhhh….Tapi bukan maksud melihat kekurangan dan memvonis gituh…Mau berhusnuzhon juga susah…kan kita juga istilahnya gak boleh menimbulkan sikon yang bisa memancing munculnya suuzhon…Lagian husnuzhonya gimana…
masa husnuzhon sama perokok, mungkin dia lagi stress berat, jadi kita harus empati…(???) atau...mungkin dia lagi bete...jadi larinya ke rokok...so kita kudu ngalah sedikit...(?!?!)
Duuhhh….empati sih empati…tapi kita juga gak boleh nrimo begitu aja khan kalo dizholimi terus-terusan…
Kalo ada yang mau berhenti juga aku dukung banget kok…100% disupport deh…gak bohong…makanya ayo donk pada berenti…pokoknya jangan pernah lelah berusaha deh…
Iyyya siiii…ngomong mah emang gampang…harusnya kita kasihani mereka yang merokok, karena udah ketergantungan sama racun. Dah gitu gak sadar pula…makin lengkaplah deritamu, nak..nak…
Tapi kan merokok itu juga emang zholim bangettt…:( jadi kita impas lah ya…situ enak ngerokok…saya enak ngomong…
(lho kok jadi gini…)
Makanya, bilang baik-baik aja sama orangnya…
Udah koq… udah baik-baik…Mulai dari ngipas-ngipas…. ngomong sopan + ramah + senyum… ngelirik-lirik jutek…sampe negur dengan kata-kata yang penuh penekanan dan sinisme…
Tetep aja ada yang gak nyadar-nyadar.
Duuuhhhhh….
Kumaha ieu euyyyy….
Kesssellll…
Gerammm…..
Kasihaan…
Benciiii….
Numplek jadi satu!
Wahai para perokok…berhentilah kalian merugikan diri sendiri…lihatlah kami yang udah bete berat menghadapi kalian…kalo belum bisa berenti merokok…cobalah jangan merokok di tempat umum…kalo belum bisa juga…cobalah nguyah permen sebagai pengganti rokok dikala mulut kalian terasa asam…so many alternatives, man…c’mon…
You all have to try….Ayo donk…hiks…berenti gak…hiks…awas loh…gua aduin sama Allah baru tau rasa….huhuuuhuu….*pasrah*
Nb : maap ya kalo kasar dan ada yg tersinggung. Abisnya dah gak tahan… :(
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/22/2006 2 komentar
Kala Kamboja Luruh ke Tanah...
Bismillah.
Alloohummaghfirlahuu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu anhu..
***
Kuseka airmata yang sejak tadi tak henti mengalir. Dan sekuntum kamboja melayang dihembus bayu. Luruh. Layu. Dan mati. Melangkah kutinggalkan puluhan kamboja yang juga rebah, meresapi setiap prosesi yang pasti ‘kan dihadapi. Mati.
***
Masih terngiang ribut mama yang menggedor mandiku pagi itu. “ Dek.. cepat! Om Kuri gawat!!!”. Bergegas kusudahi ritual yang biasanya menghabiskan bermenti-menit waktu, berlari melesat memburu nafas dalam doa yang tiada terputus.
Jejak kakiku hingga di ruang tamu. Dan kusaksikan sosok itu terbujur. Kaku. Serta merta kupeluk hangat tubuh tanteku, mencoba mengalirkan energi agar ia terus bertahan dalam sabarnya. Entah bagaimana jika aku yang menghadapi musibah yang sama...
Takbir agung masih terdengar bersahut-sahutan. Di saat orang berbondong-bondong menuju sholat ‘Ied lebaran, kami berduka. Di saat orang-orang menuai gembira di hari raya, kami tersungkur dalam luka. Ya Allah.. jangan rusak fitri-Mu dalam tangis kami yang pecah....
Lidahku tak henti ber-fatihah. Kubuka kain putih yang menutup, dan tersembul wajah pucat yang siap menghadap Robb-nya. Sosok yang senantiasa menjaga sholat fardhunya di masjid. Yang menyemangatiku untuk meraih cita mempelajari ekonomi syariah, meski perahuku kini tak berlabuh di sana. Yang begitu setia mendampingi hari-hari stroke kakak kandungnya, ayahku sendiri, di Mitra Keluarga. Yang tabah memapah lumpuh sisi kanan orangtuaku dan mengusahakan berbagai pengobatan untuknya. Yang membiayai studi kami, aku dan kakakku, agar tetap dan terus berjalan meski harus tertatih-tatih. Yang menasehatiku agar senantiasa memegang teguh prinsip kejujuran dan kebenaran, sesulit apapun kondisi yang dihadapi. Yang menjadi teman diskusi pengganti saat ayah tak lagi berfungsi. Yang mendorong kami agar tetap tegar meski berjuta kesulitan hidup datang menghadang. Yang begitu kupuji ketelatenannya mencatat setiap transaksi keluarga. Yang begitu kubanggakan keteguhannya memakan apa yang hak kala rekan-rekan kerjanya berlomba-lomba menjadi kaya dengan cara yang tak semestinya. Yang begitu kukagumi keistiqomahannya menembus dingin di pagi buta demi bertemu Sang Pencipta dalam shubuh di masjid raya.
Airmataku deras mengucur. Secepat inikah? Dengan meninggalkan 3 putra yang belum semuanya genap dewasa? Astaghfirullah... Jiwaku menggelepar mengingat bait-bait suci yang sering kulantunkan. “Kullu nafsin dzaa’iqotul mauut.. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati..,” Bagaimana bisa kulupa ketika kuhadapi kematian keluargaku sendiri?
Kognisiku melayang ke beberapa waktu silam. Masih terbayang suapan demi suapan yang kumasukkan ke mulut lemahnya disaat ia terbaring dalam penyakit batu ginjalnya. Masih terbayang jerih-payahnya menemani 4 tahun sakit ayahku yang membuatnya begitu terpukul. Masih terlintas jejak-jejak nasihat bijak agar aku merawat orangtuaku baik-baik. Pun melayangkan cita setinggi langit agar kelak mampu memajukan diin ini. Dan mataku mengabur lagi untuk kesekian kali.
Satu–persatu tetangga melayat dan memberikan bantuan semampu yang mereka bisa. Menahan haru sedih, melapangkan dada agar mampu memaafkan segala salah. Kurasakan aura kematian yang menyerang cepat, memenuhi langit-langit rasa, menguliti kesombongan yang masih saja hidup dalam derap-derap perilaku dan kata. Menanggalkan berjuta angkuh dan menikamnya bulat-bulat, memaksa tunduk dalam kehendak Yang Maha Perkasa. Sungguh hanya Allah-lah Yang Tak Kenal Musnah.
Kulemparkan pandang ke sekeliling. Semua mata memerah. Semua jiwa menangis. Tiada lagi yang dikenang kecuali kebaikan dan kebaikan. Luluh sudah segala dendam, tinggal sudah harta dan keluarga. Berangkat dijemput Izroil dengan membawa serta semua amalan, lalu menunggu hisab di pengadilan padang mahsyar. Begitu mudah. Begitu sederhana. Mati. Lalu habis perkara.
Beratus bintang menari-nari dalam benakku. Baru kali ini kusaksikan kematian yang begitu dekat. Begitu membekas. Terefleksi segera, memantul berulang-ulang ke dinding jiwa. Entah apa yang sudah kupersiapkan jika sedetik kedepan aku menyusul. Entah sudah berapa manusia tersakiti dan terzholimi atas perilakuku. Entah sudah berapa gunung amal yang nantinya akan kupanggul. Dan entah berapa banyak yang harus luntur karena ketidakikhlasan, keriyaan, sum’ah, dan sebagainya.
Bermilyar dosa seolah terbeberkan. Menguak kemunafikan dalam jasad terbalut hijab, tapi entah hatiku terhijab atau tidak. Menelanjangi segala kepura-puraan dalam tindak-tanduk keseharian, menguraikannya satu-persatu hingga memperberat sisi kiri timbangan. Menjegal paksa karat-karat noda dalam hati, menabur beratus sembilu yang menyayat perih. Mengorek semua prasangka dan perbuatan nista, memuntahkannya bersama lumpur angkara yang menuai marah. Memberontak. Memasung jiwa agar tak lagi berlaku semaunya. Menjeruji nafsu agar tak lagi membelenggu. Memenjarakan maksiat dalam sel-sel kengerian, menghadirkan nuansa nyala panas api neraka.
Dan jiwaku tersudut. Bersusah-payah membangunkan semangat taubat yang dahulu menguap. Tertatih-tatih membanting segala bentuk egoisme yang masih bermunculan. Berkaca pada bening nurani, mengakui segala kelemahan diri.
Robbighfirlii...
***
Gundukan itu rampung sudah. Satu-satu berjalan meninggalkan areal pemakaman yang sunyi, sesunyi alam kubur itu sendiri. Hanya ditemani sejumlah amalan. Entah menerangkan. Entah menggelapkan.
Aku masih juga tertunduk menekuri bait-bait perjalanan hidup. Betapa harta, prestasi, keturunan, dan segala kenikmatan duniawi akan segera musnah begitu ajal telah tiba. Tak dapat sedtikpun ditunda. Tak ada rumusan jeda dalam takdir Sang Penguasa.
Semilir bayu berhembus gundah. Dan sekuntum kamboja luruh lagi ke tanah. Menyisakan sejuta makna.
2nd Fitri Day.
26.11.03//07.20 wib.
In memoriam my beloved uncle, Masjkuri Wasjhar: tenanglah di sisiNya...
--notes :
tulisan ini aku buat taun 2003. waktu itu pas idul fitri hari kedua. hiks...jadi sedih lagi :(
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/22/2006 0 komentar
In Memoriam Fathul Makkah
“Mereka menaklukkan hati. Bukan meruntuhkan tembok.”
notes : waktu itu aku pernah ngeliat film ttg fathul Makkah di tivi. aku inget banget, ada salah satu musuh muslimin yang berkata seperti ini ketika Makkah jatuh ke tangan Umat Islam.
Diposkan oleh Indra Fathiana di 1/22/2006 1 komentar