Sep 14, 2007

Sebelum Cahaya

Kuteringat hati
Yang bertabur mimpi

Kemana kau pergi, cinta?

Perjalanan sunyi
Yang kau tempuh sendiri

Kuatkanlah hati!, cinta...

Ingatkah engkau kepada
Embun pagi bersahaja

Yang menemanimu
Sebelum cahaya

Ingatkah engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu, cinta

Kekuatan hati
Yang berpegang janji
Genggamlah tanganku, cinta

Ku tak akan pergi
Meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu, cinta

(Letto - Sebelum Cahaya)


Bismillah...

Kali ini berjalan di tengah keramaian, tetapi tetap saja tak bisa menghadirkan rasa nyaman. Riuh celoteh manusia, seperti dunia berbeda yang terpisah oleh dinding kukuh berkaca.

Terlihat, tapi tak bersuara.

Kadang harus teraduk-aduk lagi, dan sungguh tidak bisa menahan titik-titik mutiara yang tiba-tiba saja bergulir. Deras. Hanya tak tahan saja ia menahan bendungan rasa yang gejolaknya membentur-bentur dinding jiwa.
Rindu luar biasa...
Tapi tak bisa, atau tak boleh, berbuat apa-apa.

Barangkali memang beginilah jalan yang Ia tetapkan.
Seringkali disergap keterasingan.
Kesunyian.
Dan pada akhirnya mengubur sejuta harap yang, untuk dirasakan saja tak berani, apalagi ditanamkan dalam hati dan doa yang terlantunkan.

Benar.
Bukan lagi masanya membayangkan bagian bahagianya saja atau cuplik demi cuplik kenikmatan.
Tapi juga ba
gaimana memadupadankan beda, atau kebiasaan-kebiasaan yang saling bertentangan. Belum lagi berhadapan dengan derivat yang sama sekali tak dikenal, dengan segala karakteristik dan norma-norma.

Idealisme individu, haruskah terhambat jika kelak tak mendapat restunya? Dengan berbagai hal melekat yang belum tentu dapat diterima, harus ada pertimbangan-pertimbangan yang tidak lagi layak dipikirkan seorang diri saja.
Demi cita dan rencana masa depan yang telah dipersiapkan sedemikian rupa, rasa-rasanya tak sanggup membayangkan jika segalanya harus berhenti tiba-tiba.

Allaahumma...
Mengapa takut itu kini semakin membesar dan menghantui jiwa?
Siapkah?

Harus tunduk segala rupa selama itu berada dalam rel kebaikan dan taat pada-Nya. Tetapi, jika keras berbenturan dengan tegasnya, haruskah terkorbankan apa yang selama ini diperjuangkan sepenuh jiwa?

Gelisah ini harus hilang.
Tapi semakin kuat usaha menghapusnya, semakin kuat ia kembali datang.
Menjalin elektron di simpul-simpul saraf ingatan, menebar tanda tanya mahabesar:
Akankah merealita?

Gelap.
Gelap.
Gelap.

Terlalu dini menerka apa yang akan terjadi keesokan harinya, sementara baru memikirkan bagaimana jalannya saja sudah menaburkan gundah luar biasa.

***

Dan malam ini semakin hitam.
Sementara gerimis baru saja merintikkan basah.
Menyertai jiwa yang tersaruk
dalam langkah.

Meski binar lampu ibukota berkerlip seperti berusaha tersenyum membawa ceria,
gedung-gedung menjulang di antara hentian kendaraan di malam yang padat, mematung tanpa suara; sunyiku terpaku pula, masih, menatap langit yang kelam tanpa gemintang penghibur resah...

Harus berapa lama lagikah hamba menunggu jawab-Mu, Cinta?

...Jika Allah akan memberikan yang terbaik, maka mengapa harus takut kecewa?”
(Pak GH, 7Sept
‘07,diTemaramSoreYangSemakinMelahirkanCemasTakBerdasar...)

Perjalanan sunyi
Yang kau tempuh sendiri
KUATKANLAH HATI!!!!, cinta...”
~
Letto,makasihBanyakYaUntukLagunya...Cantik!~
Ahad,09.09.07,2
3:17wib


gbr dari web.mit.edu/cjoye/www/pics/,
http://frnchkisss0.tripod.com/
http://www.boolsite.net/images/wallpapers/Nature_Paysages/Fleurs/purple-flowers-10.html
www.artorganic.co.uk/gallery2.cfm


2 komentar:

anugerah perdana said...

mudah2an ngga sok tau,
soalnya takut dimarahin lagi :)

kalo pengalaman saya ya mba, biasanya muncul gejala yang kayak gini kalo udah mulai "terlalu sering" bergaul dgn diri sendiri (lupa silaturahim, lupa dakwah, lupa berbagi, dan kawan2nya)

mudah2an kongkrit...

Indra Fathiana said...

hmm...
begitu ya gah.
mungkin benar, mungkin pula keliru.
sy tampung aja kalo gitu ya.
satu aja dari saya (ngikutin abu bakar ni ceritanya...):
"semoga Allah memperbagus saya dari apa yang saudara2 saya sangkakan".
cheers! :)

thx 4 comment ya :)